Oleh: edratna | Februari 9, 2010

Sebuah pertemuan (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan  sebelumnya

Foto rame-rame

Daus (?) mengatakan, bahwa ketika sudah menjadi novel, maka fakta tak penting lagi. Ada keterkaitan emosional, sebetulnya ini bisa menjadi suatu kekuatan DM. Pak Abdul Hamid (moderator) yang diharapkan untuk membedah buku ini, sayangnya masih normatif. DM selama ini menjadi editor Pram, sering membaca buku-buku Pram, seharusnya bisa mengekstrasi lebih baik lagi. Kedekatan emosional dengan fakta akan membuat gradasi sendiri, namun itu tak dapat diyakinkan sampai bab IV (Daus baru selesai baca di bab ini). Karya sastra seharusnya disublimasikan lebih dulu. Pak Hamid malah menjelaskan fakta yang dipalsukan, yang sebetulnya semuanya sudah faktual.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 9, 2010

Sebuah Pertemuan (1)

Minggu siang itu cuaca cerah, dan sejak pagi memang tak ada rencana ke luar rumah, karena siangnya sudah janji untuk datang ke acara pertemuan yang diselenggarakan oleh seorang teman blogger. Karena suami kawatir macet di jalan, akhirnya saat kami datang masih sepi, bahkan panitia nya masih sibuk beberes…yang punya gawe malah kaget..”Lho! Kok udah datang?” sambil terheran-heran. Hari Minggu di Bandung, walau dikatakan sudah macet, tetap tak se macet kota Jakarta, sehingga perjalanan dari rumah ke tempat acara lumayan lancar.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 7, 2010

Kutunggu engkau di stasiun

Sudah berapa tahun dia menjalani rutinitas ini. Sebulan atau dua bulan sekali, sepulang kerja di hari Jumat, dia segera bergegas pergi ke depan kantor menunggu taksi yang lewat, untuk membawanya ke stasiun. Di stasiun, dia banyak bertemu dengan orang-orang yang mempunyai tujuan sama, ketemu dengan keluarganya seminggu sekali. Kalau beruntung, dia akan mendapatkan teman seperjalanan yang menarik, dan jika seperti ini, perjalanan Jakarta Bandung tak terasa sama sekali. Mereka akan mengobrol dengan aneka rupa obrolan, dari yang ringan sampai membahas hal yang berat, dan bukan tak mungkin pertemuan tersebut dilanjutkan lagi pada pertemuan berikutnya, yang juga membawa serta keluarga bertemu dan berteman.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 4, 2010

Ruang kerja, mencerminkan karakter pemiliknya?

Konon katanya, cara seseorang menilai bagaimana karakter seseorang, dilihat dari penataan ruang kerjanya. Apakah buku-buku atau dokumen kerjanya tertata rapih, atau mejanya berantakan? Kalau hanya dilihat disini, meja kerja saya tak pernah rapih, kecuali jika saya tidak sedang bekerja. Apalagi suami saya, tumpukan buku, makalah, draft berserakan di meja, dan orang lain tak bisa merapihkan, karena nanti pemiliknya akan kebingungan mencari jika meja dibersihkan orang lain.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 3, 2010

Mainan baru?

Dulu, setiap ganti hape, saya hanya menitip uang kepada stafku, dan dia yang jalan-jalan ke Roxy dan lain-lain….stafku ini ahli dalam hal begini, nanti jika sudah beli, dia pula yang mengajarkan pada saya fitur apa saja, yang ada dalam hape tersebut. Setelah saya dipindahkan ke Divisi lain, terpaksa saya mesti beli hape sendiri, jika hape yang lama menunjukkan gejala-gejala sakit. Nahh disini baru terasa deh, ternyata saya memang males mengoprek, akhirnya apapun fiturnya, saya paling-paling hanya menggunakan untuk menelepon, sms dan memotret (karena hape sekarang rata-rata sudah kamera minimal 2 mp). Selain karena hape lama sudah penyakitan, masalah lain adalah hapeku sering terjatuh ke air…pernah masuk dalam cucian baju…yang sedang direndam, pas lagi mau telepon, baru ingat…..dan apa boleh buat hape tadi sudah sekarat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Januari 31, 2010

Budaya melayani, harus terus digalakkan

Minggu kemarin, saat pergi ke Bank, saya melihat sesuatu yang tak biasa. Bukan…bukan karena para telernya semakin rapih dan ramah, namun juga kantor Bank tersebut semakin terlihat bersih dan nyaman. Pada saat giliran saya, teler (front liners) yang melayani saya,  sudah kenal  cukup lama, karena saya adalah nasabah penyimpan di Bank tersebut. Bukan simpanan besar..hanya simpanan untuk operasional rumah tangga sehari-hari..jadi simpanan yang sangat aktif…maksudnya aktif keluar masuk, dan kecil-kecil. Dan sifat saya, yang selalu berpikir bahwa teknologi selain memudahkan juga menguatirkan (contoh ATM yang bisa di bobol), minimal sebulan dua kali saya ketemu teler di Bank tersebut, untuk overbooking membayar tagihan kartu kredit, juga pembayaran tagihan lainnya. Dan juga sekaligus mengambil uang melalui ATM yang ada di lobi Bank tsb, jika mengambilnya kurang dari R.2 juta.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Januari 29, 2010

Masuk angin pun masuk salon kecantikan

Pada saat ini disadari, bahwa salon kecantikan telah menjadi suatu kebutuhan, terutama untuk masyarakat perkotaan. Jika berpuluh tahun lalu, kita pergi ke salon kecantikan, hanya untuk memotong rambut, itupun dilakukan dengan sederhana, namun sekarang, pemilik jasa kecantikan ini sangat kreatif dalam memberikan berbagai jenis pelayanan. Saya jadi ingat artikel di majalah “Kontan”, saat seseorang bertanya, usaha apa yang kira-kira bakalan laku keras? Pengasuh kolom di rubrik Kontan tersebut menjawab, salah satunya adalah usaha yang terkait dengan pernak-pernik perempuan, termasuk jasa pelayanan yang berkaitan dengan perempuan. Kalau kita lihat, usaha pernak pernik yang berkaitan dengan perempuan, dari kepala sampai kaki memang dapat dijadikan bisnis. Misalnya, pita rambut, bando, shampo, cream untuk menguatkan rambut, cream wajah, cream tangan dan kaki….bahkan sampai pedicure dan manicure (perawatan kaki dan tangan).

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Januari 28, 2010

Menciptakan “Credit Culture” yang sehat

Sebaik apapun manajemen suatu Bank, dan sebagus apapun sistem yang ada di Perbankan tersebut, yang sangat penting adalah menciptakan bagaimana agar para staf Perbankan yang mengelola pinjaman atau lebih dikenal dengan nama Account Officer, atau Credit Analyst, telah bekerja dengan culture perkreditan yang sehat. Budaya kredit ini akan membawa arahan akan perilaku para staf, baik dari sisi penilaian, integritas, serta pemantauan, yang telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan perusahaan maupun dalam perilaku sehari-hari.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Januari 26, 2010

Pasar kue Bubat di pagi hari

Entah sejak kapan, depan eks toko Hero di jalan Buah Batu, Bandung,  menjadi pasar kaget untuk penjual kue di pagi hari. Saya mendengar tentang jualan kue itu sudah beberapa bulan lalu, kalau tak salah awalnya dari DM, namun melihat sendiri baru seminggu yang lalu. Saat itu karena ada keperluan, saya dan suami pagi-pagi dari Jakarta mesti kembali ke Bandung, tentu saja dengan perut kosong. Saat di perempatan jalan Buah Batu-Sukarno Hatta, suami nyeletuk..”Bagaimana jika kita mampir ke pasar kue, sebelum sampai rumah?” Saya setuju…Lokasi penjual kue ini terletak persis di depan toko Trina, yang kemudian menjadi lokasi toko Hero.

Jenis kue yang dijual

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Januari 24, 2010

Tantangan itu tak akan pernah selesai

Dalam mengarungi kehidupan, kita selalu akan menghadapi tantangan demi tantangan. Dan tantangan itu bisa dalam kondisi nyata, seperti dalam bentuk ujian sekolah, dimulai saat kelas VI SD, kemudian kelas III SMP, kelas III SMU dan seterusnya. Selain itu, kita juga mendapat tantangan dalam kehidupan nyata yang tak sedikit, kehidupan yang sulit, kehilangan orang yang disayangi, kehilangan teman baik dan seterusnya. Namun justru tantangan ini yang akan membuat kita dewasa, dan siap menghadapi tantangan lain yang lebih berat.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori