Saat si bungsu memberitahu akan menikah dengan pilihan hatinya, yang warganegara Jepang, dalam hati ….”Waduhh bagaimana nih mengurusnya”. Saya langsung teringat pada Dhana, yang sempat ketemu saat Kopdar EM pas mudik ke Jakarta. EM menikah dengan warga negara Jepang dan telah tinggal di Tokyo lebih dari duapuluh tahun, sedangkan Dhana baru menikah sekitar dua tahun lalu. Saya langsung kirim message di facebook Dhana, untuk menanyakan pengalaman Dhana dalam mengurus persyaratan pernikahan nya dengan warga negara Jepang. Diskusi dengan Dhana membuat ciut nyali, karena begitu banyak persyaratan yang harus dipenuhi, namun terkadang tak terlalu jelas. Sejak itu saya browsing di internet, sayangnya semua cerita saya peroleh dari tulisan blog, bahkan persyaratan tentang menikah di KUA (Kantor Urusan Agama), juga saya peroleh dari blogspot. Berharap semoga KUA segera  punya website sendiri untuk memudahkan mencari informasi secara akurat dan cepat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 26, 2014

Tingkahlaku para cucu yang lucu saat ikut eyang reuni

Joakim dan eyang yang masih cantik dan segar

Joakim dan eyang, yang masih cantik dan segar

Saat kami sedang reuni, saya mengamati tingkah laku para cucu,  yang  ikut hadir di Landhuis.  Tingkah laku para cucu ini lucu-lucu, membuat kami semua tersenyum.

Di depan gedung Andi Hakim Nasoetion. Alda ketutup oleh Naufal

Di depan gedung Andi Hakim Nasoetion. Alda ketutup oleh Naufal

Para cucu ini ikut aktivitas para eyang, melihat kebun, serta keliling kampus Darmaga. Saking semangatnya, saat berpose, sang cucu (Naufal, cucu nya Iswandi Anas Chaniago) ikut mengacungkan kedua tangan sambil berdiri, mengakibatkan yang lain tertutup.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 20, 2014

A678-Semalam menginap di Landhuis

Foto depan Faperta IPB (Foto by IAC)

Foto depan Faperta IPB (Foto by IAC)

Biasanya kami mengadakan reuni angkatan masuk Faperta IPB setahun sekali, kali ini reuni diadakan pada tanggal 15-16 Februari 2014, dan seperti biasa, reuni ini dimaksudkan untuk angkatan Faperta IPB A678 (atau angkatan tahun 69, 70 dan 71) beserta anggota keluarganya. Kami sepakat untuk menginap di Landhuis, yang dulunya rumah kepala kebun karet, yang kemudian dipakai untuk asrama mahasiswi Fak Kehutanan. Saat ini telah direnovasi, digunakan sebagai wisma tamu.  Untuk bisa menginap di Landhuis harus pesan dari jauh hari, karena banyak sekali tamu yang berminat menginap disini, terutama dari negara asing.

Jambu kristal yang baru dipetik

Jambu kristal yang baru dipetik

Baca Lanjutannya…

Akuisisi A novel by Agustus Sani Nugroho

Akuisisi
A novel by Agustus Sani Nugroho

Saya mengenalnya sebagai seorang blogger, buku “Akuisisi” yang ditulisnya ini sangat menarik untuk dibaca, terutama bagi para mahasiswa bisnis, praktisi bisnis, perbankan, maupun orang-orang yang ingin mempelajari bagaimana sebuah akuisisi perusahaan di dunia nyata, dilakukan di Indonesia. Saya sendiri pernah menulisnya disini, namun dari sisi teori, sehingga sulit bagi orang awam untuk memahaminya. Kita mengetahui, sejak terjadinya krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1998/1999, banyak perusahaan di Indonesia yang sedang dalam kondisi sakit diakuisisi oleh para investor, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Desember 16, 2013

Menonton film “Soekarno”

Sejak berminggu yang lalu saya menunggu beredarnya film ini, apalagi film ini sutradaranya Hanung Bramantyo, yang merupakan salah satu sutradara favorit saya. Film-film Hanung yang telah saya tonton adalah: Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban dan Sang Pencerah. Anak dan menantu saya nonton sejak awal pertama film ” Soekarno” ditayangkan, karena kawatir film yang disutradarai Hanung ini tak jadi ditayangkan.

Rencana awal, saya mau nonton hari Sabtu, apa daya badan lelah sekali karena malamnya baru pulang dari Bali. Minggu pagi itu cuaca cukup cerah, saya dan keluarga menuju Pejaten Village. Anak saya langsung ke Gramedia, setelah sebelumnya mengantar saya ke bioskop 21. Lobby bioskop penuh sekali, rupanya banyak orang tua dan anak-anak antri beli makanan. Walau lapar, saya terpaksa menunda makan karena waktu tak cukup. Saya memesan tiket untuk duduk paling belakang tengah.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Desember 15, 2013

Menyusuri Pantai Bali dengan “Bounty Cruises”

Kapal pesiar di pelabuhan Benoa

Kapal pesiar di pelabuhan Benoa

Setiap kali mengikuti seminar, yang kemudian ada acara makan-makan di atas kapal, kebetulan saya dan teman selalu sudah punya acara sendiri. Kali ini, saat ada Konferensi Nasional Profesional Manajemen Risiko di Denpasar, pada sore hari nya ditawari ikut acara menyusuri pantai Bali untuk melihat sun set dengan kapal pesiar (Bounty Cruises), dan makan malam di kapal.

Kebetulan saat itu kami belum punya acara yang lebih menarik, dan apa salahnya ikut pesiar menyusuri pantai Bali. Jika siang harinya saat istirahat saya dan teman sempat menyusuri jalan Tol Benoa-Nusa Dua yang lokasinya di atas laut, maka malam harinya ingin mencoba menyusuri pantai Bali dengan kapal pesiar. Dan ternyata merupakan keputusan yang tak disesali karena acaranya sungguh menarik, apalagi berlayar bersama teman-teman yang baru dikenal selama acara seminar.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Desember 10, 2013

Semalam menginap di Kebun Raya Bogor

Rumah tempat kami menginap di Kebon Raya

Rumah tempat kami menginap di dalam Kebon Raya

Saat kami merencanakan Field Day ke Bogor-Darmaga, yang dipikirkan adalah  akan menginap dimana. Apakah tidur di hotel, atau di wisma Balai Penelitian Perkebunan? Kami lupa, bahwa teman kami,  mempunyai rumah dinas yang terletak di dalam Kebun Raya Bogor, persis di sebelah Cafe Dedaunan.

Pertanyaan nya, apakah Wati tidak repot menerima tiga nini ceriwis menginap di rumahnya, ditambah teman yang lain yang akan mengobrol sampai malam? Rupanya Wati punya bik Iyem yang serba bisa, yang masakannya enak, jadi akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah Wati. Saat acara mengunjungi kampus IPB Darmaga, Wati tak sempat bergabung, karena menjadi moderator di acara seminar LIPI, dan baru bisa bergabung saat nonton bareng di Botanical Square.

Baca Lanjutannya…

Kami mulai kuliah di awal tahun 70 an, saat itu hubungan dosen dan mahasiswa sangat akrab, rasio dosen dibanding mahasiswa adalah 1:7. Sebagian dosen kami berasal dari warganegara asing. Kedekatan hubungan dosen dan mahasiswa ini, membuat kami merasa seperti berhubungan dengan ayah atau kakak sendiri. Apalagi setiap tahun mahasiswa yang diterima hanya 300 orang untuk 6 (enam) fakultas, itupun jika sudah mulai masuk departemen perbandingan dosen dibanding mahasiswa hanya 1:3.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Desember 7, 2013

Field Day Bogor-Darmaga

Bagaimana ya rasanya napak tilas ke Kampus setelah puluhan tahun lampau?  Gara-gara punya pemikiran ini, kami (3 orang perempuan dari Jakarta, serta tiga dari Bogor, serta dua laki-laki) merencanakan kunjungan ke Kampus IPB Darmaga. Kampus kami dulu di Baranangsiang, di samping Kebun Raya Bogor, jadi sebetulnya kami tidak menikmati kuliah di Darmaga, kecuali saat praktek lapangan, meninjau stasiun klimatologi, mencoba menyopir naik traktor dengan berakibat menabrak pohon karet ….ya, dulu di Darmaga hanya ada Fakultas Kehutanan dan terkenal hutan karetnya. Bahkan asrama putri Kehutanan, yang merupakan bangunan tempat tinggal administratur zaman Belanda dulu, terkenal banyak hantunya. Saya awalnya mau tinggal di asrama putri Kehutanan ini selama praktek lapangan sekitar 6 (enam) bulan, namun hanya tahan seminggu, dan akhirnya memilih berangkat jam 5.30 pagi dari Baranangsiang naik bis IPB yang menuju Darmaga (menjemput para dosen yang tinggal di Darmaga dan mengajar di Kampus IPB Baranangsiang), pulangnya naik angkutan Pedesaan yang suka ngebut. Saat itu jalanan dari Bogor ke Darmaga masih penuh ladang, dan angkutan yang ada hanya angkutan pedesaan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | November 24, 2013

Kenali lingkunganmu

Saya menyadari lingkungan kita cepat sekali berubah, bahkan lingkungan terdekat saya. Banyak bangunan baru atau bangunan yang berubah peruntukannya, terutama yang dulunya rumah biasa, telah dibangun menjadi rumah bertingkat tiga, dan disewakan sebagai kos-kos an. Kondisi jalanan Jakarta yang makin macet, membuat semakin banyak orang yang kost sementara di Jakarta, dan hanya pulang saat akhir pekan ke rumahnya sendiri. Delapan tahun lalu, saat pertama kalinya saya membeli tanah dan bangunan tua yang berdiri di atasnya, lingkungan sekitar tempat tinggal saya  hampir seluruhnya digunakan untuk tempat tinggal keluarga, hanya satu dua yang untuk kost-kost an, itupun bangunan rumahnya tetap sederhana.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 201 pengikut lainnya.