Oleh: edratna | Agustus 27, 2014

Mencoba ” Ikan Patin Bakar Bambu” di de’ Clan

Hari itu cuaca sungguh panas menyengat, saya baru saja keluar dari RS Setia Mitra, mengantar si sulung yang agak kurang enak badan. Saya sendiri mulai merasa meriang, jadi ingat kebiasaan alm ibu, jika badan merasa kurang sehat, makanlah yang sesuai kesukaanmu sehingga makan nya bisa banyak….yang akhirnya tak jadi sakit. Beberapa kali saya menerapkan resep alm ibu ini, dan lumayan berhasil, kecuali memang sakitnya sudah terlanjur parah. Sambil menunggu kendaraan umum lewat, saya menanyakan pada si sulung, “Bagaimana kalau kita makan siang bersama, mencoba restoran di jalan Cipete Raya, katanya ada masakan ikan patin bakar bambu yang enak?”

de' Clan

de’ Clan

Si sulung setuju, dan karena cukup dekat jaraknya, angkutan umum yang memungkinkan hanya angkot dan bajaj. Tak lama kemudian muncul angkot merah no.11, yang akan melewati jalur Cipete Raya, menuju Pasar Minggu. Kami menyetop angkot tersebut, dan ternyata penumpangnya cuma kami berdua. Ehh begitu sampai dipojok jalan Cipete Raya, si angkot berhenti, ngetem…maklum penumpang cuma berdua. Sabaar…hanya itu yang bisa saya lakukan, harga murah mana mungkin protes. Tak lama ada ibu-ibu masuk angkot dan angkotpun berjalan lagi…tak lama kami sampai di pojokan jalan, antara jalan Cipete Raya dan jalan ke arah SMP 68 dan sekolah Al Ikhlas. Dengan membayar Rp.6.000,- (enam ribu rupiah) kami berdua turun dan langsung menuju restoran de’ Clan. Baca Lanjutannya…

Mengapa Perbankan perlu melakukan Good Corporate Governance atau disingkat menjadi GCG? Hal ini, antara lain, adanya perubahan strategis di tingkat global, yaitu: a). Adanya globalisasi, akan menyebabkan borderless, persaingan yang semakin ketat di antara industri perbankan, efisiensi yang tinggi, spesialisasi, interdependensi yang tinggi yang akan menyebabkan systemic risk. b). Terjadinya krisis ekonomi global, terorisme, pemanasan global dan bencana alam. c). Terjadinya corporate actions, seperti merger & aquisitions, dan aliansi. d). Gelombang perkembangan teknologi dan sistem informasi, seperti: information high-ways, perubahan cara berbisnis, perkembangan berbagai produk dan layanan. e). Makin maraknya berbagai bentuk fraud dengan sindikat global.  Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Agustus 15, 2014

Bisakah Pelaksanaan GCG diterapkan di semua lini?

Good Corporate Governance atau disingkat GCG, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Tata Kelola Perusahaan, didefinisikan sebagai berikut: adalah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas (Wikipedia).

Pelaksanaan GCG dalam industri perbankan berlandaskan pada lima prinsip yang sering disingkat sebagai TARIF, yaitu: Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Agustus 13, 2014

ART infal, kenapa tidak?

Saya susah mencari arti kata infal, walau istilah ini populer digunakan untuk mendapatkan pembantu yang bekerja sementara waktu karena pembantu utama sedang mudik. Dari tulisan di kompasiana, disebutkan yang benar adalah inval,  yang berarti PRT (Pembantu Rumah Tangga) Pengganti/ Sementara/Pekerja Cadangan. Asal kata ini adalah “invaller” dari Bahasa Belanda. Menurut Kamus Bahasa Belanda-Inggris, kata invaller (de) berarti  substitute, replacement, person or thing that takes the place of another atau pengganti/ orang pengganti. Sayangnya saya belum menemukan kata inval atau infal ini dalam KBBI. Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Agustus 9, 2014

Bermain tidak harus memakai mainan yang mahal

Libur panjang ini, saya lebih banyak mengamati cucu bermain, dan ternyata mengasyikkan melihat permainan si kecil ini. Cucu saya yang berumur 3,5 tahun ini sudah sekolah di TK (PAUD), dan mulai diajarkan disiplin serta etika berperilaku sesuai norma sopan santun. Kami yang berada disekelilingnya harus mendukung program sekolah agar si kecil tidak bingung. Orangtua juga harus mulai mengajarkan kemandirian anak, sehingga saya merasakan betapa nyamannya melihat cucu berkembang, dia bisa asyik bermain sendiri, dan orangtua hanya mendampingi di dekatnya, sambil mengerjakan urusan masing-masing.

Apa saja permainan si kecil selama liburan ini? Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Juli 31, 2014

Lebaran

Saat ini kita sedang menikmati libur Lebaran, yang sejak beberapa tahun lalu kita mengenal adanya cuti bersama. Yang berarti, libur Lebaran tidak hanya dinikmati oleh keluarga muslim, namun juga oleh seluruh masyarakat Indonesia. Saat saya masih kecil, libur Ramadhan adalah 40 hari, sehingga saat mulai bulan Ramadhan sampai dengan seminggu setelah Idul Fitri, yang ditandai dengan istilah “Lebaran Kupat”, kami bisa menikmati liburan. Dan karena ayah ibu bekerja sebagai guru, maka kami sekeluarga menikmati libur panjang ini. Dimulai dengan acara “megengan” berupa selamatan, serta berdoa, memohon agar kita bisa melalui bulan Ramadhan dengan penuh syukur dan khidmat. Selamatan ini diadakan dari rumah ke rumah, tak terkecuali tetangga yang bukan muslim, semua bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Selamatan kedua adalah “maleman” yaitu setelah tanggal ke-20 bulan Ramadhan, kemudian selamatan menjelang Idul Fitri, dan terakhir adalah selamatan seminggu setelah Idul Fitri. Makanan yang dimasak juga berbeda-beda, namun yang tak boleh dilupakan adalah apem, makanan yang berasal dari tepung beras, ragi, santan, telur, gula dan garam sedikit, diuleni (diaduk), dan didiamkan agar mengembang. Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Juli 31, 2014

Bagaimana cara membuat perjanjian yang baik?

Sering kita membaca dan mendengar, ada dua pihak berperkara karena terjadi pelanggaran dari salah satu pihak atas perjanjian yang dibuatnya. Kita sering tidak membaca secara teliti apa yang telah dibuat dalam perjanjian, entah perjanjian kerjasama, perjanjian kredit, perjanjian jual beli properti dan sebagainya, karena kita menganggap sudah diserahkan kepada notaris. Yang perlu dipahami, bahwa kita sendiri yang akan rugi jika nanti terjadi masalah hukum di kemudian hari. Begitu kita menanda tangani sebuah perjanjian, maka sejak saat itu, risiko hukum terbuka, baik risiko karena terjadinya wan prestasi dalam kontrak atau karena sebab-sebab lain.

Syarat sahnya perjanjian menurut 1320 BW: 1) Adanya kesepakatan. 2) Kecakapan. 3) Suatu hal tertentu. 4) Suatu sebab yang halal. Akibat tidak memenuhi persyaratan tersebut, yang terjadi adalah: a) Jika tidak memenuhi syarat subyektif, dapat dibatalkan. b) Jika tidak memenuhi syarat obyektif, batal demi hukum. Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Juli 12, 2014

Peran Eyang dalam pola pengasuhan si kecil

Saya merupakan ibu dari dua orang anak, yang sulung laki-laki dan yang bungsu perempuan. Keduanya sudah menikah, dan saya punya satu cucu perempuan yang lagi lucu-lucu nya dan ceriwis. Anak kedua saya tinggal di Jepang bersama suaminya. Agar pengasuhan si kecil aman karena si mbak di rumah telah ikut selama 17 tahun, maka anak pertama bersama isteri dan anaknya menemani saya, apalagi suami lebih banyak berada di luar kota. Walau serumah, ternyata tetap jarang ketemu, karena sama-sama sibuk. Anak dan menantu saya, sama-sama bekerja di luar rumah. Syukurlah karena sudah pensiun, saya hanya bekerja paruh waktu, sehingga pada sore hari bisa ikut terlibat dalam memantau pengasuhan si kecil. Disini peran Eyang bukan sebagai baby sitter, namun menemani cucu belajar, bermain dengan didampingi yang momong.

Yangti dan si kecil

Yangti dan si kecil melihat Ennichisai di Little Tokyo, Blok M

Saya melihat bagaimana si kecil belajar memasang balok-balok untuk menjadi aneka ragam bangunan, menggambar dengan krayon, menggunting kertas (yang ini masih harus ditemani), maupun meminta eyang mendongeng. Ternyata untuk usia  tiga tahun, si kecil baru bisa menyerap cerita dongeng dalam 5 halaman, karena si kecil banyak sekali pertanyaan nya, mengapa begini, mengapa begitu. Rasanya dulu anak-anak saya tak sebanyak itu pertanyaan nya. Dengan cucu ini benar-benar saya harus bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan umurnya. Dan dia termasuk hafal apa yang didongengkan, jadi jangan coba-coba mendongeng secara lisan dan “agak” mengarang, karena akan diperbandingkan dengan dongeng yang diceritakan oleh babe dan bunda nya.  Baca Lanjutannya…

Suatu ketika saya dimintai saran seorang teman, yang kebetulan bergerak dibidang jasa konsultasi. Dia bingung karena pekerjaan untuk memberikan jasa konsultasi ke perusahaan klien kurang berjalan mulus. Apa yang salah? Dari obrolan, waktu untuk mendapatkan data molor karena: a) Orang-orang yang seharusnya memberikan data terlampau sibuk. b) Data yang diberikan salah, dan tidak up to date. c) Masing-masing orang yang diwawancara untuk mendapatkan data saling bertentangan. d) Yang penting lagi, tak ada struktur organisasi yang jelas, tak ada garis yang jelas, siapa lapor siapa, juga garis koordinasi. Namun sebetulnya hal tersebut bisa diatasi atau diminimalkan (karena risiko molor akan selalu ada), jika sejak awal, sejak pembuatan proposal telah ditegaskan bagaimana rencana kerja yang jelas, ada Tim Counterpart dari pihak klien, ada batas waktu pengerjaan setiap tahapan nya, deliverable nya jelas, sehingga nantinya tak ada pertentangan lagi  apa yang dimaksud dengan proyek telah selesai dikerjakan.

Baca Lanjutannya…

Awalnya saya berpikir bahwa memasuki bulan Ramadhan, situasi panas pembahasan Capres dan pilpres makin menurun, berganti dengan kesibukan menyiapkan puasa Ramadhan. Namun di sosial media tetap saja seru. Pembahasan ini tak hanya ditingkat kaum berpendidikan saja, namun menyebar ke semua lini di masyarakat, Entah di pasar, di supermarket, sering terdengar komentar-komentar orang, terutama jika ketemu teman-teman nya. Sebagai pengguna kendaraan umum, setiap kali naik taksi, entah itu taksi BB atau Ex, jarang sekali sopir yang tidak membahas capres. Bahkan baru saja memasuki pintu taksi dan menghenjakkan diri ke kursi penumpang, setelah tahu arah tujuan saya, pak sopir bertanya, saya akan memilih siapa?  Saat saya bilang, bahwa saya belum menentukan, sibuklah pak sopir menggunakan berbagai argumen, agar saya ikut memilih sesuai pilihannya. Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 214 pengikut lainnya.