Oleh: edratna | Juli 12, 2014

Peran Eyang dalam pola pengasuhan si kecil

Saya merupakan ibu dari dua orang anak, yang sulung laki-laki dan yang bungsu perempuan. Keduanya sudah menikah, dan saya punya satu cucu perempuan yang lagi lucu-lucu nya dan ceriwis. Anak kedua saya tinggal di Jepang bersama suaminya. Agar pengasuhan si kecil aman karena si mbak di rumah telah ikut selama 17 tahun, maka anak pertama bersama isteri dan anaknya menemani saya, apalagi suami lebih banyak berada di luar kota. Walau serumah, ternyata tetap jarang ketemu, karena sama-sama sibuk. Anak dan menantu saya, sama-sama bekerja di luar rumah. Syukurlah karena sudah pensiun, saya hanya bekerja paruh waktu, sehingga pada sore hari bisa ikut terlibat dalam memantau pengasuhan si kecil. Disini peran Eyang bukan sebagai baby sitter, namun menemani cucu belajar, bermain dengan didampingi yang momong.

Yangti dan si kecil

Yangti dan si kecil melihat Ennichisai di Little Tokyo, Blok M

Saya melihat bagaimana si kecil belajar memasang balok-balok untuk menjadi aneka ragam bangunan, menggambar dengan krayon, menggunting kertas (yang ini masih harus ditemani), maupun meminta eyang mendongeng. Ternyata untuk usia  tiga tahun, si kecil baru bisa menyerap cerita dongeng dalam 5 halaman, karena si kecil banyak sekali pertanyaan nya, mengapa begini, mengapa begitu. Rasanya dulu anak-anak saya tak sebanyak itu pertanyaan nya. Dengan cucu ini benar-benar saya harus bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan umurnya. Dan dia termasuk hafal apa yang didongengkan, jadi jangan coba-coba mendongeng secara lisan dan “agak” mengarang, karena akan diperbandingkan dengan dongeng yang diceritakan oleh babe dan bunda nya.  Baca Lanjutannya…

Suatu ketika saya dimintai saran seorang teman, yang kebetulan bergerak dibidang jasa konsultasi. Dia bingung karena pekerjaan untuk memberikan jasa konsultasi ke perusahaan klien kurang berjalan mulus. Apa yang salah? Dari obrolan, waktu untuk mendapatkan data molor karena: a) Orang-orang yang seharusnya memberikan data terlampau sibuk. b) Data yang diberikan salah, dan tidak up to date. c) Masing-masing orang yang diwawancara untuk mendapatkan data saling bertentangan. d) Yang penting lagi, tak ada struktur organisasi yang jelas, tak ada garis yang jelas, siapa lapor siapa, juga garis koordinasi. Namun sebetulnya hal tersebut bisa diatasi atau diminimalkan (karena risiko molor akan selalu ada), jika sejak awal, sejak pembuatan proposal telah ditegaskan bagaimana rencana kerja yang jelas, ada Tim Counterpart dari pihak klien, ada batas waktu pengerjaan setiap tahapan nya, deliverable nya jelas, sehingga nantinya tak ada pertentangan lagi  apa yang dimaksud dengan proyek telah selesai dikerjakan.

Baca Lanjutannya…

Awalnya saya berpikir bahwa memasuki bulan Ramadhan, situasi panas pembahasan Capres dan pilpres makin menurun, berganti dengan kesibukan menyiapkan puasa Ramadhan. Namun di sosial media tetap saja seru. Pembahasan ini tak hanya ditingkat kaum berpendidikan saja, namun menyebar ke semua lini di masyarakat, Entah di pasar, di supermarket, sering terdengar komentar-komentar orang, terutama jika ketemu teman-teman nya. Sebagai pengguna kendaraan umum, setiap kali naik taksi, entah itu taksi BB atau Ex, jarang sekali sopir yang tidak membahas capres. Bahkan baru saja memasuki pintu taksi dan menghenjakkan diri ke kursi penumpang, setelah tahu arah tujuan saya, pak sopir bertanya, saya akan memilih siapa?  Saat saya bilang, bahwa saya belum menentukan, sibuklah pak sopir menggunakan berbagai argumen, agar saya ikut memilih sesuai pilihannya. Baca Lanjutannya…

Jalan masuk ke KWPLH

Jalan masuk ke KWPLH

Beberapa kali mendapat tugas ke Samarinda, kami selalu terburu-buru, sehingga tak sempat mampir ke KWPLH ini. Kali ini, saya dan teman memesan tiket pesawat yang cukup pagi, sehingga bisa mendarat di Bandara Sepinggan sekitar jam 12 siang. Sebelumnya, saya telah banyak diskusi dengan Ade Bayu Kristian, yang saat ini berdomisili di Balikpapan, dan mejeng foto-foto nya saat mengunjungi KWPLH di facebook. Dari hasil diskusi ini saya bisa memperkirakan kapan waktu yang tepat bisa melihat beruang madu, yaitu saat-saat setelah beruang madu diberi makan berupa buah-buah an, yang diletakkan di dekat pagar tinggi kawat berduri yang mengelilingi lokasi hutan tempat beruang madu hidup. Beruang madu diberi makan sehari dua kali, jam 9 pagi dan jam 3 sore. Sedangkan KWPLH sendiri buka dari jam 8.00 sampai dengan 17.00 wita. KWPLH ini didirikan pada tahun 2005.

Tugu penunjuk jalan ke arah lokasi Beruang Madu

Tugu penunjuk jalan ke arah lokasi Beruang Madu

Lokasi KWPLH ini berada di km 23, dari arah Balikpapan ke Samarinda, di sebelah kanan jalan akan terlihat gapura dan tugu dengan gambar beruang madu. Dari jalan besar ini lokasinya hanya sekitar satu km, bisa menggunakan mobil pribadi atau naik ojek. Kata petugas yang menemani saya saat di KWPLH, pengunjung yang tidak membawa kendaraan, bisa minta tolong pertugas untuk dicarikan ojek dari KWPLH ke arah jalan besar (jalan Samarinda-Balikpapan), di jalan besar banyak bis lalu lalang arah Samarinda -Balikpapan. Baca Lanjutannya…

Wahh ternyata blog saya benar-benar tak terawat, terakhir kali menulis 15 April 2014. Memang banyak hal yang terjadi di bulan-bulan sibuk itu. Kebetulan saya mendapat proyek yang memerlukan perhatian yang menyita waktu, dan yang paling membuat sibuk adalah rencana “Syukuran  pernikahan si bungsu bersama pilihan hatinya.” Apalagi karena pilihan hati si bungsu warga negara asing, yang ketemu saat dia mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Takdir memang merupakan hal yang misterius, namun bagi orangtua, kebahagiaan anak yang paling utama, siapapun pilihan hatinya, orangtua hanya bisa mendukung dan mendoakan kebahagiaan nya.

Jadi, sekarang cerita yang santai saja. Sejak mulai tidak aktif bekerja, saya sering reuni bersama teman-teman kuliah satu angkatan. ingat anekdot tentang reuni? Bahwa reuni umumnya dilakukan oleh para fresh graduate sekitar umur 24 sampai dengan 30 tahun, karena pada saat itu masih senang-senangnya lulus kuliah, dan mendapat pekerjaan. Umur 30 sampai dengan 55 tahun adalah waktu paling sibuk untuk mengejar karir, menyesuaikan irama dengan membesarkan anak, sibuk urusan keluarga dan lain-lain. Saat mendekati umur 55 tahun, mulai bertanya-tanya, kemana ya teman-teman kuliahku dulu, terutama bagi yang bekerja di luar bidangnya dan jarang ketemu dengan teman satu kuliah. Jadi saat itu, mulai mengumpulkan “balung pisah”, teman-teman yang tercerai berai entah kemana. Jadilah saling mencari info….dan betapa senangnya ketemu teman lama, yang puluhan tahun tak ketemu. Baca Lanjutannya…

Saat si bungsu memberitahu akan menikah dengan pilihan hatinya, yang warganegara Jepang, dalam hati ….”Waduhh bagaimana nih mengurusnya”. Saya langsung teringat pada Dhana, yang sempat ketemu saat Kopdar EM pas mudik ke Jakarta. EM menikah dengan warga negara Jepang dan telah tinggal di Tokyo lebih dari duapuluh tahun, sedangkan Dhana baru menikah sekitar dua tahun lalu. Saya langsung kirim message di facebook Dhana, untuk menanyakan pengalaman Dhana dalam mengurus persyaratan pernikahan nya dengan warga negara Jepang. Diskusi dengan Dhana membuat ciut nyali, karena begitu banyak persyaratan yang harus dipenuhi, namun terkadang tak terlalu jelas. Sejak itu saya browsing di internet, sayangnya semua cerita saya peroleh dari tulisan blog, bahkan persyaratan tentang menikah di KUA (Kantor Urusan Agama), juga saya peroleh dari blogspot. Berharap semoga KUA segera  punya website sendiri untuk memudahkan mencari informasi secara akurat dan cepat.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 26, 2014

Tingkahlaku para cucu yang lucu saat ikut eyang reuni

Joakim dan eyang yang masih cantik dan segar

Joakim dan eyang, yang masih cantik dan segar

Saat kami sedang reuni, saya mengamati tingkah laku para cucu,  yang  ikut hadir di Landhuis.  Tingkah laku para cucu ini lucu-lucu, membuat kami semua tersenyum.

Di depan gedung Andi Hakim Nasoetion. Alda ketutup oleh Naufal

Di depan gedung Andi Hakim Nasoetion. Alda ketutup oleh Naufal

Para cucu ini ikut aktivitas para eyang, melihat kebun, serta keliling kampus Darmaga. Saking semangatnya, saat berpose, sang cucu (Naufal, cucu nya Iswandi Anas Chaniago) ikut mengacungkan kedua tangan sambil berdiri, mengakibatkan yang lain tertutup.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Februari 20, 2014

A678-Semalam menginap di Landhuis

Foto depan Faperta IPB (Foto by IAC)

Foto depan Faperta IPB (Foto by IAC)

Biasanya kami mengadakan reuni angkatan masuk Faperta IPB setahun sekali, kali ini reuni diadakan pada tanggal 15-16 Februari 2014, dan seperti biasa, reuni ini dimaksudkan untuk angkatan Faperta IPB A678 (atau angkatan tahun 69, 70 dan 71) beserta anggota keluarganya. Kami sepakat untuk menginap di Landhuis, yang dulunya rumah kepala kebun karet, yang kemudian dipakai untuk asrama mahasiswi Fak Kehutanan. Saat ini telah direnovasi, digunakan sebagai wisma tamu.  Untuk bisa menginap di Landhuis harus pesan dari jauh hari, karena banyak sekali tamu yang berminat menginap disini, terutama dari negara asing.

Jambu kristal yang baru dipetik

Jambu kristal yang baru dipetik

Baca Lanjutannya…

Akuisisi A novel by Agustus Sani Nugroho

Akuisisi
A novel by Agustus Sani Nugroho

Saya mengenalnya sebagai seorang blogger, buku “Akuisisi” yang ditulisnya ini sangat menarik untuk dibaca, terutama bagi para mahasiswa bisnis, praktisi bisnis, perbankan, maupun orang-orang yang ingin mempelajari bagaimana sebuah akuisisi perusahaan di dunia nyata, dilakukan di Indonesia. Saya sendiri pernah menulisnya disini, namun dari sisi teori, sehingga sulit bagi orang awam untuk memahaminya. Kita mengetahui, sejak terjadinya krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1998/1999, banyak perusahaan di Indonesia yang sedang dalam kondisi sakit diakuisisi oleh para investor, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Baca Lanjutannya…

Oleh: edratna | Desember 16, 2013

Menonton film “Soekarno”

Sejak berminggu yang lalu saya menunggu beredarnya film ini, apalagi film ini sutradaranya Hanung Bramantyo, yang merupakan salah satu sutradara favorit saya. Film-film Hanung yang telah saya tonton adalah: Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban dan Sang Pencerah. Anak dan menantu saya nonton sejak awal pertama film ” Soekarno” ditayangkan, karena kawatir film yang disutradarai Hanung ini tak jadi ditayangkan.

Rencana awal, saya mau nonton hari Sabtu, apa daya badan lelah sekali karena malamnya baru pulang dari Bali. Minggu pagi itu cuaca cukup cerah, saya dan keluarga menuju Pejaten Village. Anak saya langsung ke Gramedia, setelah sebelumnya mengantar saya ke bioskop 21. Lobby bioskop penuh sekali, rupanya banyak orang tua dan anak-anak antri beli makanan. Walau lapar, saya terpaksa menunda makan karena waktu tak cukup. Saya memesan tiket untuk duduk paling belakang tengah.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 211 pengikut lainnya.