Oleh: edratna | Desember 6, 2006

Budaya korporatif, Etika Bisnis dan Corporate Sosial Responsibilities

Masyarakat kita belum punya Budaya Korporatif

Judul tersebut ada dalam artikel Kompas tanggal 26 Februari 2005 hal.10, yang sebagian artikelnya saya tulis ulang disini:

” Berbeda dengan masyarakat di negara-negara Barat, masyarakat Indonesia hingga saat ini masih belum berbudaya korporatif. Indonesia masih terperangkap oleh tradisi, sehingga tidak mudah untuk melakukan perubahan. Padahal budaya korporatif akan mempengaruhi cara kerja. Demikian dikemukakan oleh ekonom Rhenald Khasali saat memberikan orasi ilmiah berjudul Building Institution’s Character with Strong Culture, dalam rangka peringatan Dies Natalies ke 55 Universitas Indonesia di Jkarta, Kamis 24 Februari 2005.”

Corporatism di Barat sudah berjalan, dan menganggap sebuah institusi berbadan hukum sendiri. Tidak demikian masyarakat kita. Banyak PT di Indonesia yang sebenarnya bukan PT, melainkan warung. Untung ruginya tidak jelas, kata Rhenald.

Menurut Rhenald, suatu organisasi bisa bertahan panjang bukan dibentuk oleh manajemen yang hebat, tidak juga oleh orang-orang yang hebat, ataupun sistem, melainkan dibangun oleh kekuatan nilai-nilai (values). Corporate culture selalu menekankan bottom up, menggali segala sesuatu mulai dari bawah, bukan dari atas ke bawah. Dengan demikian, semua orang harus ditanya apa yang sebenarnya mereka inginkan. Corporate culture itu seperti bongkahan es, yang tampak hanyalah yang di atas berupa simbol-simbol seperti logo, cara berpakaian. Padahal yang harus dibangun adalah yang di bawah, yang tidak kelihatan, yaitu nilai-nilai baru. Manusia itu berkomunikasi secara simbolik, simbol sebagai identitas, Rhenald menambahkan.

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan Budaya Kerja Korporasi?

Budaya kerja korporasi adalah keseluruhan kepercayaan (beliefs) dan nilai-nilai (values) yang tumbuh dan berkembang dalam suatu organisasi, menjadi dasar cara berpikir, berperilaku dan bertindak dari seluruh insan organisasi, dan diturunkan dari satu generasi ke generasi.

Budaya kerja dapat di daya gunakan sebagai daya dorong yang efektif dalam mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi organisasi.

Budaya kerja yang efektif dapat:

  • Menyatukan cara berpikir, berperilaku dan bertindak seluruh insan organisasi/korporasi
  • Mempermudah penetapan dan implementasi Visi, Misi dan Strategi dalam korporasi
  • Memperkuat kerjasama tim dalam korporasi, menghilangkan friksi-friksi internal yang timbul
  • Memperkuat ketahanan dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal.

Dari definisi di atas terlihat betapa budaya kerja memegang peranan penting dalam ketahanan suatu organisasi. Keluarga adalah perusahaan yang terkecil, disitu ada ayah, ibu dan anak-anak. Cara penyelenggaraan rumah tangga yang satu dan yang lain akan berbeda, karena sifat-sifat penghuninya yang berbeda. Tetapi ada beberapa hal yang sama antara keluarga satu dan lainnya, karena ibaratnya hidup dalam satu lingkungan, maka untuk membuat lingkungan aman dan nyaman, ada peraturan-peraturan yang harus dipahami dan dipatuhi oleh anggota lingkungan tersebut. Peraturan ini dibuat oleh orang-orang atau keluarga dilingkungan tersebut, sehingga peraturan tersebut akan ditaati tanpa beban, bahkan anggota lingkungan merasa nyaman karena ada peraturan tersebut, sehingga masing-masing tahu ” apa yang boleh dan yang tidak boleh untuk dilakukan”.

Sekarang bagaimana membentuk budaya kerja korporatif? Di dalam budaya korporatif, peran pemimpin sangat penting, antara lain, sebagai: 1) First Adapter, penerima dan pelaksana pertama dari budaya kerja, 2) Motivator, untuk mendorong insan organisasi/korporasi melaksanakan budaya kerja secara konsisten dan konsekuen, 3) Role Model, teladan bagi insan korporasi terhadap pelaksanaan Budaya Kerja, dan 4) Pencetus dan pengelola strategi, dan program budaya kerja sesuai kebutuhan korporasi.

Dari ulasan di atas, terlihat bahwa pembentukan budaya korporatif yang baik, yang paling menentukan adalah orang-orangnya. Sebaik apapun aturan atau sistem di buat, tanpa ada keinginan dari manusia untuk berubah ke arah yang lebih baik, semuanya menjadi tak berarti.

Etika Bisnis

Secara umum, prinsip-prinsip yang berlaku dalam bisnis yang baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia, dan prinsip-prinsip ini sangat erat terkait dengan sistem nilai yang dianut oleh masing-masing masyarakat.

Sonny Keraf (1998) menjelaskan, bahwa prinsip etika bisnis sebagai berikut;

  • Prinsip otonomi; adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.
  • Prinsip kejujuran. Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.
  • Prinsip keadilan; menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.
  • Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle) ; menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.
  • Prinsip integritas moral; terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baik pimpinan/orang2nya maupun perusahaannya.

Pertanyaan nya bagaimana menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis ini agar benar-benar dapat operasional? Sonny juga menjelaskan, bahwa sesungguhnya banyak perusahaan besar telah mengambil langkah yang tepat kearah penerapan prinsip-prinsip etika bisnis ini, kendati prinsip yang dianut bisa beragam. Pertama-tama membangun apa yang dikenal sebagai budaya perusahaan (corporate culture). Budaya perusahaan ini mula pertama dibangun atas dasar Visi atau filsafat bisnis pendiri suatu perusahaan sebagai penghayatan pribadi orang tersebut mengenai bisnis yang baik. Visi ini kemudian diberlakukan bagi perusahaannya, yang berarti Visi ini kemudian menjadi sikap dan perilaku organisasi dari perusahaan tersebut baik keluar maupun kedalam. Maka terbangunlah sebuah etos bisnis, sebuah kebiasaan yang ditanamkan kepada semua karyawan sejak diterima masuk dalam perusahaan maupun secara terus menerus dievaluasi dalam konteks penyegaran di perusahaan tersebut. Etos inilah yang menjadi jiwa yang menyatukan sekaligus juga menyemangati seluruh karyawan untuk bersikap dan berpola perilaku yang kurang lebih sama berdasarkan prinsip yang dianut perusahaan.

Berkembang tidaknya sebuah etos bisnis ditentukan oleh gaya kepemimpinan dalam perusahaan tersebut.

Tanggung jawab Sosial Perusahaan

Tanggung jawab sosial dan keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan sosial merupakan suatu nilai yang sangat positif bagi perkembangan dan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Keterlibatan sosial perusahaan di masyarakat akan menciptakan suatu citra yang sangat positif. Biaya sosial yang dikeluarkan dianggap sebagai investasi jangka panjang. Kelestarian lingkungan, perbaikan prasarana umum, penyuluhan, pelatihan, dan perbaikan kesehatan lingkungan walaupun memerlukan biaya yang signifikan, namun secara jangka panjang sangat menguntungkan perusahaan, karena kegiatan tersebut menciptakan iklim sosial politik yang kondusif bagi kelangsungan bisnis perusahaan tersebut.

Dapat kita lihat, pada saat libur merayakan Hari Idul Fitri, beberapa perusahaan memberikan fasilitas mudik gratis bagi masyarakat yang terkait langsung dengan perusahaan, contoh; Bank dengan nasabahnya, perusahaan yang memproduksi obat tradisional dengan bakul jamunya dan lain-lain.

Bagi situasi dunia yang semakin global sekarang ini, masing-masing pihak saling tergantung, serta tidak ada lagi perusahaan yang tertutup atau tidak mau melakukan perbaikan-perbaikan untuk kemajuan. Perusahaan yang masih tidak mengindahkan hal-hal semacam ini, cepat atau lambat akan semakin ditinggalkan oleh pelanggannya.

Referensi:

1.Rhenald Khasali. “Masyarakat Kita Belum Punya Budaya Korporatif”, Kompas tanggal 26 Februari 2005 hal.10

2. Etika Bisnis.Prof.Dr. Sondang P.Siagian, MPA. Jakarta; PT Pustaka Binaman Pressindo, 1996

3. Etika Bisnis; tuntutan dan relevansinya. DR.A. Sonny Keraf. Jakarta; Penerbit Kanisius,1998

About these ads

Responses

  1. SAYA MASIH BELUM JELAS TENTANG KEBERADAAN KEBUDAYAAN TRADISIONAL YANG ADA DI INDONESA..SEBAB SEPENGETAHUAN SAYA KEBUDAYAAN TRADISIONAL YANG ADA DI INDONESIA PERLU DILESTARIKAN DAN DITINGKATKAN MUTU MUTU ATAUPUN KUALITAS AGAR PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAPAT BERJALAN LANCAR .

  2. Ary Widiastuti,
    Kebudayaan tradisional bisa digunakan untuk mendorong guna mencapai tujuan yang lebih baik. Misal budaya gotong royong, yang sangat dikenal oleh masyarakat Jawa (saat saya masih kecil hal ini masih berlaku), digunakan untuk memperbaiki lingkungan (rame2 kerja bakti membersihkan selokan di hari Minggu), selain lebih mengenal anggota2nya.

    Di Jakarta, yang rata-rata kedua suami isteri bekerja diluar rumah, gotong royong di lingkungan RT/RW seperti membersihkan lingkungan menjadi sulit diterapkan, karena tak sesuai lagi…yang ada adalah iuran sukarela, kemudian mempekerjakan orang untuk membersihkan lingkungan. Dan hal ini tak masalah, di kompleks perumahan tempat tinggalku, masih gotong royong dalam melaksanakan perayaan 17 Agustus, juga hal-hal lain.

    Banyak budaya tradisional yang bisa digalakkan, untuk mencapai tujuan organisasi…
    Tulisan di atas khusus membahas untuk mencapai tujuan korporasi (perusahaan), sedang kebudayaan tradisional tanggapan atas komentar, adalah untuk tujuan mendapatkan lingkungan yang baik….jadi konteksnya yang berbeda.

  3. memang betul banyak sekali perusahaan kita yang tidak memiliki etika dan budaya korporasi, tidak memiliki visi dan misi yang jelas serta melakukan berbagai cara yang tidak pantas untuk meraup keuntungan semata,

    karenya, sebelum sebuah perusahaan terbentuk atau sedang berjalan sebaiknya instansi terkait juga melakukan analisis tentang budaya kerja jangan hanya masalah amdal saja yang dipersoalkan.

    banyak pernasalahan perburuhan serta gap antara karyawan dan perusahaan sebenarnya dimulai dari budaya kerja ini. dimana perusahaan menganggap karyawan sebagai “buruh yang harus diperah” sementara karyawan merasa tidak memiliki perusahaan dan tidak ambil pusing dengan kondisi perusahaan, asalkan gaji dan kebutuhan tunjangan lainnya dipenuhi, banyak karyawan merasa tidak perlu tahu dan peduli kondisi sesungguhnya perusahaannya, akibatnya perusahaan kita terlihat besar di papan namanya saja tetapi dalamnya bagaikan “kapal pecah” yang tidak tahu arah kemana akan berlayar.

    Usul kepada pemerintah untuk tidak hanya memperhatikan amdal saja, tetapi juga perlu menganalisis dan mengevaluasi budaya kerja yang ada ditiap perusahaan serta perlu membuat peraturan yang jelas mengenai hukuman disiplin apabila terjadi pelanggaran.

  4. Pak Suryadi,
    Aturan tentang AMDAL telah ada, cuma bagaimana penerapannya dan monitoringnya, saya tak tahu, mungkin jika ada teman yang bekerja di Departemen tsb bisa menjelaskannya.

    Etika bisnis, sesuai tulisan Sonny Keraf, jika perusahaan tak menjalankan, akan terkena sangsi sendiri, adanya ketegangan dengan lingkungan sekitar, antara atasan bawahan…yang membuat perusahaan juga terganggu perkembangannya.

  5. Apakah organisasi yang karyawannya mayoritas karyawan kontrak memerlukan juga yang disebut budaya organisasi ini?

    Fikri,
    Agar situasi kerja menyenangkan, dalam organisasi dibuat sisdur dan budaya kerja standar yang harus diikuti. Kalaupun karyawannya kontrak, dalam Perjanjian Kerja antara Organisasi ybs dan perusahaan yang mempekerjakan karyawan kontrak, telah disepakati apa saja yang harus jadi kewajiban dan hak karyawan kontrak. Di perusahaan saya, karyawan kontrakpun mendapatkan pendidikan, bahkan dari organisasi yang sebetulnya tak mempunyai kewajiban…jika ada forum komunikasi juga diikutkan, sehingga situasi menyenangkan….

  6. budaya gotong royong, yang sangat dikenal walaupun katanya budaya tradisional tetapi telah banyak ditiru hingga kalangan negeri luar. makanya terus agar bisa digalakkan untuk mencapai manfaat tujuan.

  7. Kata bapakku, Pa Ghofar.konon orang2 manggil bapakku pa haji. Apa bapakku bilang malah tidak setuju dengan pernyataan bahwa masyarakat Indonesia hingga saat ini masih belum berbudaya korporatif. Justru telah dilakukan sejak lama hingga sekarang juga, bahkan kiki bilang negeri luar ngikutin budaya kakek dan nenek kita begitu juga cara kerja mereka. Apa sebab?

    Rizqie,
    Coba baca lagi tulisan saya di atas….budaya gotong royong merupakan hal yang bagus, tapi setidaknya budaya tsb harus terus dilestarikan, dan dibuat agar bagaimana lingkungan mematuhinya.

    Apakah betul budaya gotong royong saat ini masih dilaksanakan diseluruh Indonesia….kayaknya hanya beberapa daerah saja. Di Jakarta, orang sudah banyak membayar untuk membersihkan lingkungannya.
    Yang dimaksud budaya kerja korporatif adalah keseluruhan kepercayaan (beliefs) dan nilai-nilai yang tumbuh dan kembang dalam suatu organisasi, menjadi cara berpikir, berperilaku, dan bertindak dari seluruh insan organisasi, dan diturunkan dari satu generasi ke generasi…..Jadi unsur gotong royong, jika dilestarikan, dan terus dibangun melalui kekuatan nilai-nilai akan menjadi budaya kerja korporatif yang sangat bagus….justru disinilah masalah kita. Bagaimana menggerakkan “gotong royong” menjadi kekuatan nilai-bilai yang positif bagi bangsa Indonesia.

  8. jah gw cari arti etos bisnis neh

  9. klo saat ini sy perhatiin, banyak perusahaan yg uda concern pada bidang CSR. yah..entah mereka memang sudah benar2 peduli pada sekitar ato hanya sebagai strategi mereka untuk menarik simpati masy. but,,overall.. asalkan masyarakat terkena dampak positipnya ga masalah.namun tetap harus diawasi,,karena ga jarang perusahaan menerapkan CSR yg wah,,namun diobalik itu mereka melakukan tindak2 kecurangan yg lebih merugikan masy. co : perusahaan tambang yg tdk memperhatikan keseimbangan alam setelah dilakukan penambangan, perusahaan2 rokok yg tetap gencar membunuh masy secara pelan2..

  10. saya ingin meneliti tentang budaya kerja dan iklim orgasasi dengan kepuasan kerja, bagaimana tanggapan bapak ? mohon info tentang literatur terkait, terima ksih sebelumnya

  11. Bagus sekali bu tulisannya

  12. Wuiihh.. ini yang saya cari. sayang baru ketemu. Trims bu.. keep de spirit :)

    Sama-sama …semoga bermanfaat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 211 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: