Oleh: edratna | Desember 13, 2006

Berkunjung ke rumah nenek

Saya tak pernah ingat wajah kakek, karena kakek meninggal saat saya masih balita. Berkunjung ke rumah nenek merupakan hal yang ditunggu-tunggu waktu kami masih kecil.

a. Berkunjung kerumah nenek dari pihak ayah.

Rumah nenek dari pihak ayah di desa Dagangan, 5 km dari Pagotan, kota kecamatan sekitar 10 km di selatan Madiun. Untuk pergi ke rumah nenek dari pihak ayah ada beberapa cara yang dapat di tempuh:

1. Naik delman

Pada waktu itu, tetangga di sekitar rumah banyak yang punya usaha penyewaan delman. Kami bisa menyewa delman untuk sehari, atau hanya beberapa jam saja. Apabila hari raya, ayah lebih memilih menyewa delman, karena pada saat-saat seperti ini penumpang yang naik kereta api sangat banyak.

Naik delman sangat menyenangkan, dari rumah saya di Ngrowo sampai di desa Dagangan memerlukan waktu kira-kira 3 jam. Sepanjang jalan kami bernyanyi, sambil melihat pemandangan di sekitar. Perjalanan melalui kebun, tegalan, melalui 2 (dua)pabrik gula yaitu PG Kanigoro dan PG Pagotan. Karesidenan Madiun dikelilingi oleh 7 (tujuh) pabrik gula, dan penghuni pabrik gula sangat terkenal, gadisnya cantik-cantik, dan kehidupan nya di atas rata2 masyarakat kota Madiun (perasaan saya waktu itu lho!!). Pada saat itu, saya berpikir alangkah enaknya bekerja di pabrik gula, mendapat rumah dinas yang besar-besar (peninggalan zaman Belanda), halaman luas untuk bermain, dan seminggu dua kali penghuni PG mendapat fasilitas kendaraan bis, untuk berbelanja di kota Madiun.

Diperbatasan kota Madiun ada sungai Catur, dipinggir sungai ini ada warung yang berjualan dawet, rasanya enak sekali, dikenal dengan nama “Dawet Catur”. Pada saat saya remaja, dan sudah bisa naik sepeda sendiri, saya sering kerumah nenek bersama kakak sepupu dan mampir di dawet Catur ini.

2. Naik bis

Kendaraan ini jarang dipergunakan kalau kami sekeluarga pergi kerumah nenek, karena dari Ngrowo ke terminal bis harus naik delman, baru naik bis ke jurusan Ponorogo (turun di Pagotan), kemudian naik delman ke desa Dagangan. Untuk masa itu, anak-anak masih kecil, sangat ribet, sehingga ini merupakan pilihan terakhir.

3. Naik kereta api

Walaupun perjalanan bertahap, seperti naik bis, namun keluargaku sering menggunakan kereta api untuk kerumah nenek. Dari rumah, kami naik becak sampai di depan Pasar Madiun, kemudian naik kereta api ke jurusan Ponorogo-Slaung dan berhenti di Pagotan. Dari stasiun Pagotan kami naik delman ke desa Dagangan. Kereta api ke Slaung adalah kereta api ekonomi, di setiap gerbong ada 3 (tiga) bangku berjejer sejajar gerbong KA , dua ditepi gerbong dan satu di tengah-tengah. Jendela gerbong juga terdiri dari kayu, yang bisa di tarik naik turun untuk melihat pemandangan. Kalau hujan jendela ditutup, terpaksa kita tak bisa melihat pemandangan diluar. Kereta api ini berhenti hampir disetiap halte , dari pasar Madiun berhenti di halte Sleko, halte Kanigoro dan baru stasiun Pagotan. Kereta api ini juga sering berhenti ditengah sawah untuk mengisi air (?), dan nantinya saat saya besar, ternyata pemberhentian di tengah sawah ini terlihat dari dekat rumahku. Di sepanjang perjalanan banyak penjual makanan, tapi ayah ibu paling senang beli telur asin yang bisa langsung dimakan oleh anak-anak.

4. Naik sepeda

Pada saat saya masih kecil, saya sering dibonceng ayah pergi kerumah nenek. Boncengan sepeda dipasang di depan stang, sehingga saya bisa melihat perjalanan dengan nyaman. Sepanjang jalan (menurut cerita ayah), saya sangat cerewet menanyakan ini itu, dan sering berhenti untuk mengamati tanaman. Mengapa daun padi menjadi kuning saat masak? Mengapa yang lain tidak? Mengapa tebu yang ditanam di kebun tebu (kerjasama PG dengan petani) berwarna kekuningan, sedang yang ditanam di rumah berwarna hijau agak kebiruan? Tapi ayah menjawab pertanyaan semua ini, sambil mengajar bernyanyi, supaya saya tak bosan diperjalanan.

b. Berkunjung kerumah nenek dari pihak ibu.

Rumah nenek dari pihak ibu di desa Rejosari, sekitar 6 km dari PG Rejo Agung ke arah utara barat. PG Rejo Agung terletak di utara kota Madiun, dipinggir jalan ke arah Surabaya. Jalan ke arah rumah nenek belum beraspal, hanya jalan tanah yang cukup lebar dilewati mobil, berdebu jika musim kemarau, namun becek dimusim hujan. Perjalanan ke rumah nenek, hanya bisa dicapai menggunakan delman atau sepeda, karena tidak dilewati rute bis maupun kereta api. Apabila naik becak, maka becak hanya sampai di dekat PG Rejo Agung, perjalanan selanjutnya hanya dengan berjalan kaki. Apabila naik becak, kami harus membayar mahal, karena becaknya mesti menunggu.

Saat masih SD saya berdua dengan ibu mengunjungi nenek, dari Ngrowo kami naik becak dan turun di desa Nglames (lokasi PG Rejo Agung). Ada 2 (dua) alternatif jalan: 1) Ada jalan melewati jembatan yang cukup besar, nyaman jika naik becak, namun memutar sehingga cukup jauh jika untuk jalan kaki. 2)Menyeberang bengawan Madiun menggunakan getek (rakit dari bambu yang diikat menjadi satu).

Ibu memilih naik getek untuk menyeberang sungai, agar berjalan ke arah rumah nenek tak terlalu jauh (waktu itu saya masih SD). Rasanya senang sekali naik getek, namun itu pengalaman pertama dan terakhir kalinya . Saya tak tahu sebabnya, mungkin ibu di tegur ayah, yang mengkawatirkan keselamatan kami.

Saat saya remaja, saya sering bersepeda bersama saudara sepupu mengunjungi nenek. Dari Ngrowo, saya menjemput sepupu di desa Tambakrejo, kemudian beramai-ramai naik sepeda ke desa Rejosari. Perjalanan ke arah rumah nenek menyenangkan, mengayuh sepeda lancar dan tidak berat, karena arah angin ke utara. Sepanjang jalan hawanya sejuk, karena dikiri kanan jalan penuh pohon trembesi, dan pohon asem yang besar-besar. Di kiri kanan jalan tanaman padi terhampar, diselingi dengan tanaman tebu. Sepanjang jalan, sejak dari PG Rejo Agung sampai di rumah nenek, terdapat rel kereta untuk mengangkut panen tebu. Jika berjalan kaki, kami senang berloncatan diatas rel sambil menghitung jumlahnya, sehingga perjalanan yang cukup jauh tak terasa. Rumah nenek persis diujung jalan masuk desa Rejosari dan persis dibelakang rumah nenek terdapat sawah. Di depan rumah nenek ada gardu ronda, dan jika siang hari kami senang bermain-main disitu menunggu kereta api yang mengangkut panen tebu lewat. Jika ada kereta lewat, kami berlarian mengambil tebu, hal yang sangat berbahaya sekali, karena bisa terpeleset dan menyangkut di roda kereta api, serta kalau ketahuan mandor kami bisa ditangkap.

Pada saat musim panen tebu, saya dan sepupu ke kebun tebu…hmm dasar anak-anak, tak memperhitungkan risikonya. Saat sedang menikmati mengambil tebu, datang sang mandor, kami bertiga dimarahi habis2 an, tapi syukurlah mandor tadi cukup baik hati, karena hukumannya kami disuruh makan tebu sepuasnya dengan syarat tak boleh dibawa pulang.

Sore hari saya dan sepupu-sepupu pulang dari rumah nenek, angin bertiup kencang, dan dengan susah payah kami mengendarai sepeda, karena berlawanan dengan arah angin. Setelah mandi di Tambak Rejo, saya meneruskan pulang sendiri ke Ngrowo (sekitar 5 km). Dari Tambakrejo, saya harus melewati jembatan kecil yang hanya bisa dilewati orang berjalan kaki, sehingga sepeda harus dituntun.

About these ads

Responses

  1. SAlam dari jauh.

  2. SAlam dari jauh.

    ALM. wALSTRO 2.

    8607EL sneek.

  3. pdeboer07,

    Thanks, salam kenal

  4. Ya,…saya juga masih kumanan numpak Sepur, naik dari Pasar Sleko-(slowakia) sampai Ngumbul, kebun binatang.
    Waktu itu SD Modjoredjo-2 sedang berwisata, kepala sekolahnya Bu Wardi.
    Waktu itu Tebu masih enak disesep Bu. Sekarang Tebu-nya kecil2 dan sangat keras. Tidak enak disesep. Jadi nggak ada cerita bocah nyolong Tebu lagi.

    Simbah,
    Iya..dulu seneng sekali naik sepur klutuk….yang suka berhenti di tengah sawah untuk mengisi air.
    Di sekeliling rumahku dulu banyak kebon semangka, bergantian dengan kebon tebu….
    Anak-anak saya tak terlalu suka dengan hal-hal terkait tanaman, takut ulat (terutama si bungsu)…dia lebih suka ngurusi kabel-kabel dan komputer.

  5. Salam kenal,,
    papa pindah tugas ke rejo agung.
    Jadi aku ikut deh
    tapi ga enak2 amat kok
    biasa aja.

    Pradityabagus,
    Salam kenal juga. Thanks telah mampir….

  6. asyik dan lucu buanget….nich cerita

  7. Salam kenal dri anak jetis dagangan bu, emang betul kalau di blg enaknya di perantauan masih enak di kampung halaman sendiri. Kalau bicara masalah tebu jadi teringat masa kecil, sy pernah panjat mobil truk muatan tebu begitu sy cabut jatoh sampek pinsan karena kepala terbentur aspal jalan. Murkalah sang ortu, akhirnya jadi kenangan tak terlupakn sampek sekarang.

  8. foto madiun tempo doeloe…
    waktu ada kreta lewat kota

    http://www.facebook.com/photo_search.php?oid=61578490372&view=all

    Terimakasih, akan saya kunjungi

  9. Aku punya kenangan ttg gadis Madiun.begitu berkesan walau kami tak ketemu selama setahun hnya via surat& foto..dia kerja di PG Rejoagung Baru madiun..banyak hal berharga kuperoleh darinya..thanks atas segalanya Icha..Madiun adalah kota kenangan,unik&berkesan…
    @ pesan kenangan bt(`Riecha Harum Kusumawardhani.)..Perpisahan adalah berkah&SEMUANYA kita harus ikhlaskan.thanks bgt!

  10. salam buat keluarga besar PG REJOAGUNG BARU

  11. ya allah trnyata bgtu ea madiun tmpoe doeloe. rasanya pngen bgt kmbali k masa itu yg d mana ada kedamaian. g ada hp, komputer, laptop,…. ah smua terasa adem tentrem. buat penulis saya ucapkan trimakasih banyak atas infonya. g nyangka da orang yg msh pertahankan ini smua,…
    aduh jd kmn2 ngomongnya,…abis terbawa k dalam crita he he eeeee ^_^

    matur suwun

  12. aku juga dari madiun tepatnya jombang (ploso)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 217 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: