Posted by: edratna | Januari 7, 2007

Tana Toraja nan indah permai

Sejak selesai mengunjungi Wamena, saya sudah ingin melihat Tana Toraja, dengan ibu kotanya Makale. Sepulang dari Wamena, kedua staf ku melanjutkan perjalanan ke Toraja, tetapi saya harus langsung pulang ke Jakarta, karena besoknya putri bungsuku ulang tahun.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Saat bertugas di Makasar, kebetulan permasalahan yang harus diselesaikan cukup banyak, sehingga kepulangan kami terlambat. Ternyata sehari setelah kami bisa menyelesaikan tugas, besoknya liburan hari Raya Paskah, dan jika digabung dengan hari Sabtu dan Minggu kami punya waktu cukup untuk melihat Tana Toraja, maklum perjalanan Makassar Tora memerlukan waktu 8 (delapan) jam.

Kami berangkat dari Makassar sore hari, dan perkiraan sampai Makale tak terlalu malam. Ternyata di jalan ada truk yang rusak pas di tengah jembatan, mengakibatkan jalan tak bisa dilalui. Kami akhirnya bisa memasuki kota Makale jam 22.00 WIT dan langsung ke hotel yang telah dipesan oleh teman di Makale.

Hotel tempat kami menginap dibuat seperti kehidupan di Toraja, dengan rumah adatnya, yang menurut saya agak mirip dengan rumah adat Batak.

Rumah adat Toraja

Setelah selesai sarapan, kami dijemput teman di Makale untuk melihat tempat pemakaman mayat. Keunikan adat di Tana Toraja, mirip dengan di Trunyan Bali, mayat2 tidak dikubur, tapi ditetakkan begitu saja di celah2 pegunungan.

Tempat penyimpanan mayat sebelum dimakamkanMayat disimpan, menunggu upacara pemakaman

Sebelumnya mayat disimpan pada suatu tempat, bentuk tempatnya bermacam-macam (lihat gambar atas), menunggu waktu pemakaman yang sesuai. Pemakaman mayat di Tana Toraja merupakan acara yang ditunggu-tunggu turis, dan memerlukan biaya mahal. Konon katanya, sang mayat bisa berjalan sendiri dan menaiki tangga di pegunungan untuk mencari rumah abadinya. Sayangnya saya belum mendapat kesempatan melihat acara ini.

Pemakaman di gunung batu….lihat celah2nya yang untuk menyimpan mayat

Mayat diletakkan pada gunung, yang dibuat sekat2 dan terdapat jendela, yang umumnya diisi dengan boneka sehingga seolah-olah seperti orang yang melihat dari balik jendela rumah.

Payung dan baju menyertai mayat yang dimakamkan

Pada saat mayat dimakamkan, dibawakan barang2 yang disukai selama hidupnya. Dapat dilihat pada gambar, di dalam pemakaman juga terdapat payung berwarna warni .

Kami makan siang di restoran di tepi sungai, ditemani oleh Pemimpin Cabang Makale. Menurutnya, jika tamunya muslim, harus ditemani saat mencari makan, karena makanan untuk muslim sangat terbatas di Tana Toraja. Selanjutnya, kami melihat pasar dikota Makale. Bentuk pasar tak berbeda jauh dengan pasar di kota2 lain di Indonesia. Disini kami membeli cindera mata, berupa batik khas Tana Toraja.

Malam itu kami kembali menginap di hotel. Pinca Makale sudah mengingatkan, bahwa agar tidak mabuk dijalan, sebelum berangkat ke Makassar harus sarapan. Sarapan tidak boleh banyak tapi secukupnya saja, dan dalam perjalanan disarankan istirahat di Gunung Nona (gunung yang berbentuk seperti buah dada seorang nona) sambil minum kopi dan menikmati pemandangan. Selanjutnya kami disarankan berhenti lagi di Pare-pare untuk makan siang, sesudah itu perjalanan boleh diteruskan ke kota Makassar tanpa henti. Saran ini disebabkan teman saya mendengar, bahwa saat berangkat ke Makale saya mabuk berat, untungnya perjalanan malam, sehingga tak banyak yang bisa dilihat.

Gunung Nona, antara Makale dan Enrekang

Di gunung Nona kami beristirahat, ke toilet dan menikmati secangkir kopi sambil melihat pemandangan yang indah permai.

Kami mampir di kantor cabang perusahaan kami di Enrekang, yang Pemimpin Cabang nya teman seangkatan stafku. Selanjutnya kami makan siang di Pare-pare. Restoran tempat kami makan siang berada di tepi pantai, sehingga kami bisa menikmati kapal laut yang berlalu lalang di pantai.

Dari Pare-pare kami terus menuju kota Makassar, dan sampai dihotel menjelang Magrib. Selesai sholat Magrib kami berjalan-jalan sepanjang jl. Somba Opu dengan naik becak. Jalan Somba Opu terkenal dengan toko emas, yang berbeda dengan emas di daerah lain, karena emas disini berwarna lebih kuning, berasal dari daerah Kendari. Saya membeli seperangkat perhiasan untuk kenang-kenangan.
Becak dikota Makassar, paling kecil dibanding becak2 di kota lain (Bandung, Madiun, Yogya, Solo, Surabaya, Sidoarjo dll)

Becak di Makassar sangat kecil, saya bersama teman cewek nyaris nggak bisa masuk dalam satu becak, padahal sama-sama kurus. Staf saya yang pria mencoba menjadi tukang becak, khusus untuk berpose disini. Malam ini kami tidur dengan nyenyak, karena besok pagi harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi.


Responses

Toraja memang sangat unik apa lagi dengan banyaknya tempat pariwisata meskipun saya tidak pernah pergi kesana tetapi orang tua saya lahir disana saya ingin sekali pergi kesana tapi gimana caranya kesana saya tidak punya dana dan waktu untuk kesana ntar aja kalau saya suda punya penghasilan saya akan menikmati pemandangan di sana apa lagi kalau digunung sesean kata orng gunungnya indah

Sarah,

Sekarang masih kuliah ya…nanti aja kalau udah bekerja, siapa tahu nanti ditugaskan kesana, jadi sambil menyelam minum air.

Saya juga pergi jalan-jalannya karena tugas dari kantor, dan pada waktu senggangnya (malam hari, inipun sering nggak bisa kalau acaranya padat sekali) atau pagi-pagi sebelum bekerja, mencoba melihat-lihat kota yang saya kunjungi. Makanya sebetulnya belum puas, karena hanya tempat tertentu, karena terbatas oleh waktu. Kalau pergi ke Papua kemarin, tugasnya melalui hari Sabtu dan Minggu, jadi ada 2 hari untuk jalan-jalan…..tapi risikonya jadi terlalu lama, dan kangen rumah, ninggalin anak-anak (walau udah besar-besar)…..

cok gambar batike endi

Menurutku Toraja lumayan bagus, cuma sayang pada malam hari disana gelap.

M^~^M,
Saya ke Toraja sudah lama sekali, tahun kemarin pas tugas ke Makassar mau kesana, mendadak ada panggilan bos harus segera balik ke Jakarta, padahal cuti udah disetujui…terpaksa batal deh.

hi bu Enny,,
fotonya bagus2x.! kalo mau lihat lebih banyak photo Toraja silakan lihat di http://www.toraja-treasures.com/album

salam hangat,
ato’

Ato,
Jadi pengin kesana lagi….tapi waktu harus cukup ya, perjalanan Makassar-Toraja 8 jam.

when i was born and grew up there until tenagers
and i was remember toraja is a wonderfull place…
too many memories story during i was living there…
and toraja will always in my mind wherever and whenever i go and live….
but now toraja going different……….
i just pray to god to protect and keep kind mind every single torajanese…..

Fico,
Saya tak tahu kondisi Toraja saat ini…..tapi memang budaya dan lingkungan hijau Toraja layak dipertahankan. Tapi saat saya kesana tahun 1995, Toraja terlihat kurang hijau, saya kurang mengamati atau tanahnya kapur……dengan Toraja lebih hijau, saya kira suasana nya akan lebih indah.

bu Enny,
skrang sdh ada penerbangan langsung dari Makassar ke Toraja kok! Harga tiketnya +-Rp 210.000,- . Pesawatnya terbang 3 kali seminggu; Selasa, Kamis dan Jumat, pukul jam 10 pagi. Jadi ibu ga naik perlu naik bis 8jam lagi dari Makassar ;)

salam hangat,
ato :)

Ato,
Setahuku sejak dulu memang ada, tapi biasanya pesawat kecil….dan saya agak serem naik pesawat kecil. Sebetulnya saya suka perjalanan darat, sambil melihat panorama sepanjang jalan, tahu kota Pare-pare dengan kapalnya yang merapat di pelabuhan, dan singgah di kota-kota lainnya, mampir minum kopi di gunung Nona dll. Memang diperlukan waktu yang cukup untuk bisa menikmati keindahan tsb.

pengen?????
tpi gk pnya duit…

heeeeheeeee

Gerry,
Menabung dulu, yang penting ada mimpi untuk suatu ketika sampai kesana….

klu aq memang besar ditoraja jd sma objek wisata ditoraja saya tahu smp adat2x,tp skrg saya gak tinggal disana soalx saya ikut ortu keluar kota

bw km yg blm pernah ksana maka buruan,saya jamin km gak bakal nyesal.

halo ibu.. hehe.. mo ngoreksi dikiiiiittt… tentang gunung nona.. uumm.. seinget saya.. diberi nama nona sebenernya bukan karna bentuknya seperti buah dada seorang nona.. tapi seperti bentuk lain yang dimiliki oleh seorang nona.. eh.. wanita deh.. hihihi.. *haduhh.. meni gak pantes gini sih omongannya.. ^_^v.. maap ya bu.. :D

Qnoi,
Thanks koreksinya, saya dulu yang ngasih tahu guide…benar tidaknya walahhualam

jd pengen kesana tp g’da duiiiiiiiit! Gmn dunkz?????????????????????????

waaahhh, dari dulu cerita tentang Tator memang selalu menarik.

Sayang sampe sekarang belum sempat bke sana.

minta informasi tentang hotel yang ada apa saja dan berapaan? yang bagus, aman dan murah!

thx.

Didik Budiarto,
Saya juga baru sekali ke sana. Informasi hotel, biasanya dapat dilihat di web site…..

alowww saya orang toraja asli loh…
sekarang lagi kuliah di bogor…
bukannya membanggakan…tapi toraja memang indah…selalu membuat orang kangen…termasuk saya yang dah 2 tahun gak pulang ke sana…hehe…

Sri,
Yup….setuju….

Salam kenal ‘Bu..,..mau ikut comment ah..ttg..Toraja..(abis membangkitkan kenangan sih;p).. mm.. cuma sekali kesana th ‘86 or ‘87..??..dah lama bgt yakk??.. lupa persisnya, pas liburan semester ganjil bareng temen2 kuliah di UNHAS.. Tapi wkt kesana momentnya tuh pas bgt, krn lg ada acara pemakaman Ne’ Reba, konon kt-nya setelah 6th baru dipestai-in (beliau ex ketua DPRD Toraja yg juga ayah or kakek..(lupa..gw )..dr Bpk. Jonathan Parapak Dirut Indosat wkt itu)..wah ruaaameeee bgt…wong sampai 7 menteri hadir kok…wah puas banget deh acranya 3 hr 3 mlm…semua acra gw ikutin paling menarik waktu acra tebas kerbau (dipotong lehernya dengan sekali tebas pakai parang Toraja yg konon tajam banget krn campur magic..)..sumpah!. sekali tebas kerbau yg guedee itu langsung terkulai kepalanya & berlarian gk tentu arah, hingga kami2 yg nonton disekitar situ sampai berlarian ketakutan… serruu..abis..deh.. pokoknya kalo mau kesana coba cari yg pas ada acra pemakaman, aplgi yg dimakamkan pas ex pejabat, atau org kaya..wah..pasti ..puas banget..oya selama disana kita dijamu di rumah2 panggung disekitar upacara mau makan, ngopie & camilan semua disediain..kok..padhal kita asli cuma turis lokal..he..he..

Ninonk,
Toraja indah, kelemahanannya untuk mencapai kesana perlu waktu lama , karena perjalanan dari Makassar ke Makale 8 jam, sehingga bagi kaum pebisnis sulit menyediakan waktu.

AKu jadi teringat waktu kesana pas tahun 2004. Memang bagus tenannn. Jarang kan yg punya adat istiadat yg unik kek mereka.

Pas perjalanan darat kesana, daerah2 yg disinggahi juga bagus. Udaranya masih segerrrr

Jadi rindu mau ke sana lagi terutama mo ke Makassarnya. Ingat Makassar, ingat wisata kuliner. Hehehee…

Luthfi,
Memperhatikan nggak, rumah adatnya mirip rumah adat Batak…apakah dulunya pernah ada hubungan ya?

Gilaaa, saya iri ma ibu

Rachel,
Iri kenapa? Saya jalan-jalannya sekalian karena tugas kantor, kemudian waktu yang tersisa (Sabtu Minggu) digunakan untuk jalan-jalan. Nanti Rachel juga bisa seperti itu, siapa tahu malah jalan-jalan ke luar negeri, yang penting harus punya mimpi….seperti menantuku, yang tak pernah membayangkan akan menginjak Amerika, dan malah bekerja disana.

Leave a response

Your response:

Categories