<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Bersahabat dengan anak, bisakah?</title>
	<atom:link href="http://edratna.wordpress.com/2007/02/24/bersahabat-dengan-anak-bisakah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edratna.wordpress.com/2007/02/24/bersahabat-dengan-anak-bisakah/</link>
	<description>Kenangan, pengalaman, dan perjalanan hidup seorang ibu..</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jan 2010 09:49:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: edratna</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2007/02/24/bersahabat-dengan-anak-bisakah/#comment-126</link>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Feb 2007 23:15:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/2007/02/24/bersahabat-dengan-anak-bisakah/#comment-126</guid>
		<description>Zalfany,
Bersahabat dengan anak bisa dimulai sejak anak lahir. Bahkan secara ilmu pengetahuan, sejak nyawa bayi ditiupkan, orang tua sudah bisa mulai memperdengarkan musik, berdoa untuk calon bayinya (hmm..ngomong-ngomong apa nyonya sudah mulai berbadan dua?)

Kebetulan ayah ibu sangat demokrat ke anak-anaknya, ini yang saya terapkan kepada anak-anak. berikan hukuman sesuai kesalahan anak, bisa dicubit, di jewer, atau hukuman nggak boleh main. Yang penting jangan sampai memukul kepala, karena bisa berakibat fatal. Juga yang penting orangtua harus konsisten dalam mendidik, melarang maupun menghukum, sehingga anak  tidak menjadi bingung.

Menjadi orangtua juga tidak lepas dari kesalahan-kesalahan, dan kita wajib minta maaf kepada anak, atau kalau anak telah cukup memahami menanyakan sesuatu yang kita tak tahu jawabnya, maka kita harus jujur pada anak. sejak SD anak-anak saya  sudah tahu bahwa bapak ibunya bukan yang ter......., sehingga kalau dia butuh jawaban, jawaban saya sering dimintakan  &lt;i&gt; second opinion&lt;/i&gt; ke tetangga dekat yang adik kelasku (anaknya pandai, dan akhirnya menjadi salah satu Direktur Bank BUMN)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Zalfany,<br />
Bersahabat dengan anak bisa dimulai sejak anak lahir. Bahkan secara ilmu pengetahuan, sejak nyawa bayi ditiupkan, orang tua sudah bisa mulai memperdengarkan musik, berdoa untuk calon bayinya (hmm..ngomong-ngomong apa nyonya sudah mulai berbadan dua?)</p>
<p>Kebetulan ayah ibu sangat demokrat ke anak-anaknya, ini yang saya terapkan kepada anak-anak. berikan hukuman sesuai kesalahan anak, bisa dicubit, di jewer, atau hukuman nggak boleh main. Yang penting jangan sampai memukul kepala, karena bisa berakibat fatal. Juga yang penting orangtua harus konsisten dalam mendidik, melarang maupun menghukum, sehingga anak  tidak menjadi bingung.</p>
<p>Menjadi orangtua juga tidak lepas dari kesalahan-kesalahan, dan kita wajib minta maaf kepada anak, atau kalau anak telah cukup memahami menanyakan sesuatu yang kita tak tahu jawabnya, maka kita harus jujur pada anak. sejak SD anak-anak saya  sudah tahu bahwa bapak ibunya bukan yang ter&#8230;&#8230;., sehingga kalau dia butuh jawaban, jawaban saya sering dimintakan  <i> second opinion</i> ke tetangga dekat yang adik kelasku (anaknya pandai, dan akhirnya menjadi salah satu Direktur Bank BUMN)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: zalfany</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2007/02/24/bersahabat-dengan-anak-bisakah/#comment-125</link>
		<dc:creator>zalfany</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Feb 2007 09:16:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/2007/02/24/bersahabat-dengan-anak-bisakah/#comment-125</guid>
		<description>Waaaaa... makasih Bu, request langsung dikabulkan begini :).

Kalau pengalaman saya sendiri (sebagai anak, belum sebagai orang tua), saya baru bisa benar-benar dekat dengan orang tua setelah saya jauh (hehe.. bingung). Maksudnya setelah saya kuliah dan tinggal terpisah dari orang tua, baru kerasa deh enaknya punya orang tua :D. Mungkin juga karena saya sudah lebih dewasa (dan mungkin mereka menganggap saya sudah dewasa juga), jadi bisa nyambung deh ngomongnya. 

Tapi saya berharap untuk anak kami nanti, ga perlu sampai tahap harus &#039;jauh&#039; dulu baru bener-bener dekat seperti saya ini :).

Love my mom and dad. * duh, jadi kangen :) *

Eh iya Bu, tentang hukuman yang bisa tetap menunjukkan kalau orang tua sayang, jadi penasaran dulu Narpen dan Narpati bentuk hukumannya apa aja? :D [kalau sekarang dah gede gini, baru sadar emang kalau dulu orang tua marah2 atau ngasih hukuman, itu karena kesalahan kita sendiri, dan maksudnya memang untuk membuat kita lebih baik. Tapi pas dulu dimarah2in.. boro2 mikir gini :D]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Waaaaa&#8230; makasih Bu, request langsung dikabulkan begini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Kalau pengalaman saya sendiri (sebagai anak, belum sebagai orang tua), saya baru bisa benar-benar dekat dengan orang tua setelah saya jauh (hehe.. bingung). Maksudnya setelah saya kuliah dan tinggal terpisah dari orang tua, baru kerasa deh enaknya punya orang tua <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Mungkin juga karena saya sudah lebih dewasa (dan mungkin mereka menganggap saya sudah dewasa juga), jadi bisa nyambung deh ngomongnya. </p>
<p>Tapi saya berharap untuk anak kami nanti, ga perlu sampai tahap harus &#8216;jauh&#8217; dulu baru bener-bener dekat seperti saya ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Love my mom and dad. * duh, jadi kangen <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  *</p>
<p>Eh iya Bu, tentang hukuman yang bisa tetap menunjukkan kalau orang tua sayang, jadi penasaran dulu Narpen dan Narpati bentuk hukumannya apa aja? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  [kalau sekarang dah gede gini, baru sadar emang kalau dulu orang tua marah2 atau ngasih hukuman, itu karena kesalahan kita sendiri, dan maksudnya memang untuk membuat kita lebih baik. Tapi pas dulu dimarah2in.. boro2 mikir gini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
