Oleh: edratna | Februari 25, 2007

Bagaimana membagi waktu sebagai ibu dan isteri, agar karir dan rumah tangga bisa berjalan bersama?

Pada abad 21 ini semakin banyak wanita yang berkarir di luar rumah. Dari pengalaman sebagai assessor saat wawancara dengan calon staf yang mau masuk ke perusahaan, hasil seleksi pendahuluan melalui lembaga konsultan, menunjukkan bahwa jumlah wanita yang berhasil lulus seleksi lebih banyak dibanding dengan pria.

Tulisan di bawah ini akan mencoba membahas bagaimana agar wanita pekerja, yang juga seorang ibu, antara karir dan keberhasilan membina rumah tangga dapat sejalan. Keberhasilan yang dimaksud disini, adalah karir ibu tetap meningkat, demikian juga karir ayah, sedang anak-anak sekolahnya juga berhasil.

a. Pembagian wewenang dan tanggung jawab

Bila ibu berkarir di luar rumah, tak perlu menjadi super woman dan semua tugas kantor maupun tugas rumah tangga dilakukan sendiri. Buatlah daftar, apa yang bisa didelegasikan kepada asisten (atau bisa juga keluarga/sepupu yang ikut tinggal di rumah), dan tak perlu segan meminta bantuan pada suami. Pada dasarnya tugas rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama suami isteri dan bukan hanya tanggung jawab isteri.

Catatlah perkembangan dan kebiasaan anak pada buku tersendiri, terutama anak balita, agar bila anak mendadak sakit dan ibu tidak ada di rumah, suami/asisten dapat membawa anak ke dokter dan telah ada catatan mengenai perkembangan anak, disertai obat apa saja yang selama ini membuat anak tak cocok. Bila akan meninggalkan anak karena tugas keluar kota, pesan-pesan yang terkait dengan kebutuhan anak semua dalam bentuk tertulis, baik makanan, vitamin yang harus diberikan, maupun apa yang dilakukan jika anak mendadak sakit.

Buat panduan darurat, siapa yang harus dihubungi jika anak sakit. Saat anak-anak masih kecil, kebetulan kompleks perumahan saya dekat Puskesmas, serta dokter Puskesmas adalah isteri sahabat suami saya. Anak-anak sudah terlatih pergi ke Puskesmas hanya diantar oleh mbak nya. Jika dua hari panas belum turun, baru dibawa ke dokter anak, yang hanya berjarak 3 km dari rumah. Pada dokter anak, kami sudah pesan bahwa sewaktu-waktu ibu harus tugas keluar kota, jadi dokter tidak masalah siapapun yang membawa anak kami ke dokter. Bahkan sering terjadi, suami yang membawa anak kami ke dokter, dan pertanyaannya ” Kali ini mama pergi kemana?”

Pada saat anak kami masih balita, suami kebetulan ditugaskan di Ditjen Dikti Jakarta, sehingga saya dapat tenang meninggalkan rumah. Sejalan dengan perkembangan karirnya, suami lebih banyak bertugas di Bandung. Anak-anak terbiasa ke Puskesmas sendiri saat istirahat sekolah, dan biasanya didahulukan oleh petugas Puskesmas, karena anak kami tidak ingin ketinggalan pelajaran.

b. Pengelolaan keuangan

Pengelolaan keuangan dapat disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Ada beberapa opsi yang dipilih : 1) Gaji suami isteri dikumpulkan, baru nanti di bagi sesuai keperluan. 2) Masing-masing suami isteri tetap bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan masing-masing, dan sisanya di masukkan rekening Bank.

Manapun yang dipilih, tidak ada masalah sepanjang sesuai kesepakatan bersama. Namun sebaiknya pembelian barang-barang yang nilainya cukup besar, dan menghias ruangan, harus ada kesepakatan bersama. Jangan sampai suami/isteri membeli meja kursi tamu, ternyata pasangan kita seleranya tak sesuai dengan barang yang dibeli. Demikian juga pembelian rumah dan mobil, sebaiknya disepakati bersama.

c. Cara mendidik anak

Perbedaan sudut pandang suami dan isteri dalam mendidik anak dapat menimbulkan kebingungan pada anak, oleh karena itu sejak awal harus didiskusikan dan disepakati bersama. Sebaiknya anak sekolah dimana? Apa cukup sekolah negeri atau swasta, atau harus sekolah unggulan? Siapa yang akan mengambil rapor, dan diskusi dengan guru? Kursus atau les ekstra kurikuler apa yang sebaiknya diberikan kepada anak?

Dari pengalaman saya, anak-anak yang mempunyai masalah disebabkan karena cara pandang pendidikan yang berbeda diantara orangtua nya, atau pendidikan hanya diserahkan pada satu pihak saja, ayah saja atau ibu saja. Mempunyai anak adalah keinginan bersama, selayaknya pendidikan anak mendapatkan prioritas utama.

Jangan menunggu sampai anak bermasalah, sebaiknya orangtua mempunyai hubungan dekat dengan guru terutama wali muridnya, sehingga walimurid tak segan memberitahu jika ada masalah atau baru diperkirakan ada masalah yang menimpa anak kita. Pada umumnya guru sangat senang apabila orang tua ikut memperhatikan pendidikan anak, karena waktu guru untuk memonitor anak hanya terbatas pada jam sekolah.

Biasakan diskusi santai sambil menanyakan tentang sekolah, jika hal ini telah menjadi hal rutin, anak akan dengan senang hati menceritakan sendiri apa yang terjadi di sekolah, bahkan juga cerita tentang kenakalan dia dan teman-temannya. Diperlukan kematangan dan ketegaran hati orang tua untuk mendengarkan cerita anak, karena kadang-kadang mengecutkan hati kita. Apalagi kalau anak sudah mendekat dan berkata:” Ibu, tadi saya melakukan kesalahan…..” Rasanya perut langsung terasa mulas, tapi kita harus tetap tersenyum mendengarkan penjelasan anak, dan mencari solusinya. Biarpun anak bersalah, kita tak boleh hanya menyalahkan, tapi bantulah mencari solusi, sehingga anak kita tidak akan mencari jalan keluar pada orang lain yang belum tentu membantu menyelesaikan masalah.

d. Hubungan pekerjaan masing-masing

Banyak pasangan yang berantakan, karena suami isteri saling bersaing dalam karir. Harus disepakati, agar suami isteri saling mendukung dalam meniti karir. Jika suami mendapat tawaran melanjutkan pendidikan ke tingkat S2, demikian juga isteri mendapat tawaran pada kesempatan yang sama, harus dibicarakan dengan tenang, apakah hal tersebut mungkin, dan apa pengaruhnya terhadap anak. Suami isteri harus saling mendukung dalam karir masing-masing, namun perlu disepakati, bila anak mempunyai masalah, prioritas utama tetap untuk kepentingan anak.

Peraturan perusahaan (misal Bank) menyatakan, bahwa para pekerja harus bisa memegang rahasia perusahaan sampai dengan tahun tertentu setelah tidak bekerja di perusahaan tersebut. Bagaimanapun dekatnya hubungan suami isteri, tetap tidak boleh membocorkan rahasia perusahaan, dan suami isteri harus bisa menghargai privacy masing-masing. Bila ini dijalankan, maka hubungan suami isteri akan makin erat, karena adanya saling menghormati dan menghargai posisi masing-masing.

e. Suami isteri tetap merupakan individu yang berbeda

Jangan pernah meminta suami atau isteri berubah sifat atau perilaku, karena perubahan yang dipaksakan akan berakibat tidak baik. Sejalan dengan perkembangan waktu, hubungan suami isteri yang kuat akan saling mempengaruhi, disini perubahan akan berjalan sedikit demi sedikit untuk saling menyesuaikan.

Suami atau isteri tetap harus mempunyai privacy dan bebas melakukan hobi masing-masing, sepanjang tidak mentelantarkan anak. Kebebasan ini tetap merupakan bebas yang bertanggung jawab, dan sebaiknya suami isteri memperkenalkan teman-teman nya pada pasangan masing-masing, sehingga tidak ada rasa kawatir jika suami atau isteri melakukan hobinya karena telah mengenal lingkungan teman dekatnya.

Ada baiknya suami atau isteri menyertai pasangan waktu melakukan hobi nya, namun jika hobi suami isteri berlawanan, hal ini malah menimbulkan kebosanan. Dengan adanya komunikasi yang mudah saat ini, suami isteri, bahkan anak-anak dapat melakukan hobi masing-masing dan bisa bertemu di tempat yang telah ditentukan untuk kemudian bisa makan bersama keluarga. Apabila suami atau isteri bahagia, ini akan membawa kebahagiaan dalam keluarga.

About these ads

Responses

  1. Salam kenal, ibu. Saya belum kenal lgsg dengan ibu, hanya dulu, di zaman mahasiswa dulu saya banyak mendengar cerita ttg ibu dari Mas Anjar (hehe, kyknya beliau kagum berat dg ibu). Dari cerita-cerita itu, saya mulai kagum sekaligus penasaran dengan ibu.

    Hehe..lama2, dari link Narpati, putra ibu, saya mulai mengintip profile ibu di friendster, tulisan2 ibu di blog. Humm… dan kmrn2 memberanikan diri meng-add ibu sbg friend di friendster. Lbh surprise lg saat ibu komen di blog, senangnyaaa…. (norak ya, Bu?)

    Oya, Bu…Terima kasih atas tipsnya. Meskipun belum berkarir di luar, belum ditambah amanah brsama anak, bnyk hal yg bisa saya jadikan panduan untuk nanti. Kalo yg berkarir di luar saja bisa, kenapa yg lain tidak? ;)

  2. Salam kenal juga Dilla, saya sering juga mendengar cerita tentang Dilla dari Narpati. Mula-mula saya pikir teman di Fasilkom UI, ternyata teman di UGM. Saya juga suka ngintip Dilla di Fs kok…hehehe…jadi saling ngintip ya.

    Guna fs antara lain kan memang untuk saling mengintip, mengintip temen anak-anak, apa pendapat anak-anak tentang kita dsb nya.

    Saya menulis juga atas dorongan anak-anak, awalnya nggak pede juga, kata Narpati….ibu kalau bikin kalimat suka ga jelas, mana subyek, mana predikat dll…” Tapi diberanikan juga untuk menulis…ya inilah hasilnya. Belum memuaskan, sebenarnya. Di kepala banyak ide, tapi kok ya susah juga mengeluarkan dari kepala…tapi ternyata menulis itu mengasyikkan kok.

    Berkarir di luar rumah tak membuat anak berantakan kok, justru teman2 saya banyak yang mencapai posisi Direktur, Dirjen, Prof Dr, dan anak-anak mereka menjadi anak yang membanggakan. Yang penting, kita bisa membagi waktu, selalu dekat dengan anak, tak mudah menyalahkan, tapi membantu mencari jalan keluar jika mereka kesulitan. Itu saja kok intinya, jadilah temen/sahabat yang baik bagi anak kita.

  3. walah walah walah, bu Ratna ini menulis hal berat dgn bahasa sederhana. kesannya jadi tanpa gejolak. padahal ngedrivenya susah tenan lho …

  4. Menurut saya, paling enak dan selamat adalah wanita di rumah. titik.

  5. Papabonbon,

    Cerita di atas kan garis besarnya, dan prakteknya tidak mudah, serta mengalami pasang surut. Tapi yang penting, semua harus mengarah pada tujuan yang sama.
    Papabonbon juga pasti sudah mengalami sendiri suka dukanya mendidik anak kecil, tapi saya berani bertaruh pasti lebih banyak sukanya.

    Asley,
    Tulisan di atas memang ditujukan bagi wanita yang berkarir di luar rumah, walaupun banyak juga wanita yang berkarir di rumah. Kalau hal ini bisa dilakukan, pasti wanita banyak yang memilih ini, sepanjang dia mempunyai wewenang untuk mengatur keuangan.

    Tidak selalu wanita yang berkarir di luar rumah anaknya berantakan. Ibu, tante, bude dan semua wanita dikeluarga saya bekerja di luar rumah. Ada yang jadi guru, dosen, pengacara, dokter, tentara (WARA dan COWAD), tapi Alhamdulillah anak-anaknya semua menjadi Sarjana dan mampu menghasilkan, dan berperan serta berbagi tugas dengan suami.

  6. Ashley, kalo boleh berpendapat, wanita di rumah saja tidak selamanya “enak” dan “selamat” lho..

    Bagaimanapun, istri yang berkarir kadang lebih “survive” dalam keadaan yang tak terduga (mengutip dari salah satu point di blog “fresh from cay”). Yang terburuk, bagaimana kalo tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diharapkan pada suami sbg penompang ekonomi klg? (semoga hal ini dijauhkan dari kita semua).

    Saya sendiri bukanlah seorang wanita karir di kantor. Karir saya masih seputar kegiatan-kegiatan rumah tangga, organisasi, ngaji, dan sok sibuk ikut kegiatan ini, itu (hehe). Singkatnya, saya cari-cari kesibukan di luar rumah.

    Bagi saya, di rumah tidak selalu aman, karena saya akan merasa “nyaman”. Dan kalo saya merasa nyaman, maka saya tidak akan berkembang.

    Dunia terus berkembang. Saya, suami dan anak-anak nanti juga akan menjadi bagian dunia itu. Gimana saya bisa mengetahui apakah keluarga saya “selamat” di dunia yg spt itu, kalo saya sendiri tidak ikut berkembang?

    Saya butuh komunitas untuk belajar. Dan komunitas bisa ditemukan di lingkungan kerja, organisasi, sekitar rumah, bahkan dunia maya sekaliapun. Di rumah pun bisa ditemukan, tapi kadang, kita perlu melihat dunia di luar sono…

    Heee…kepanjangan nih ngomongnya? Cuma urun pendapat, je.
    Nyuwun sewu, Budhe Enny… hehe

  7. eh lupa penutup..

    to Ashley : semua balik ke kondisi rumah tangga masing2 sih..:P

  8. Ashley, Dilla dan teman-teman lain,

    Sebetulnya memang kembali ke rumah tangga masing-masing. Saya punya sahabat saat kuliah (4 cewek), ada dua diantaranya pandai dalam hal kewanitaan, menyulam, menjahit, memasak dsb nya. Kalau ngobrol, masing2 membayangkan ingin jadi wanita yg dirumah saja untuk mendidik anaknya. Ternyata setelah menikah hanya satu saja yang sesuai keinginannya.

    Setelah kerja di Departemen Pertanian, teman saya menikah dengan dokter yang harus PTT di luar Jawa. Tapi saat suami udah jadi spesialis, dia mendorong isteri kuliah lagi S2 dan bekerja lagi, dan saat ini teman saya menjadi pejabat teras Dep Kehutanan. Teman yang satu setelah menikah sibuk sebagai wirausaha (dirumah dan di luar rumah sama sibuknya). Teman yang lain, memang akhirnya nggak kerja, karena suami pindah2 melulu, nah ini yang benar2 sibuk bikin kue, pakaian dll, tapi kesibukannya melebihi saya yg bekerja di luar rumah.

    Saya sendiri, awalnya kerja sekedar agar menghasilkan, dan prioritas utama sebagai ibu dan isteri. Suami yang terus mendorong saya meningkatkan kemampuan, bahkan dia menemani saya belajar kalau mau ujian (maklum perusahaan saya setiap tahap ada ujian)….dan akhirnya karir saya meningkat seperti ini. Anak-anak sayapun mendorong ibu tetap bekerja, karena bisa mendongeng pengalamannya kalau keliling Indonesia, dan kadang2 ditugaskan ke luar negeri.

    Jadi, sebetulnya semua kembali ke pilihan masing-masing.

  9. Tulisannya bahasa hati. Bagus, menguraikan hal yang sulit dalam bahasa sederhana.
    Saya yakin banyak orang dapat mengambil manfaat dari tulisan mbak Enny.

    Salam
    BAS

  10. Makasih mas Bas. Ngomong-ngomong, bahasa hati tuh sama dengan bahasa kalbu ya? :P

  11. Ibu,

    maturnuwun sudah sowan dan kasih komentar ke blog saya, suatu kehormatan buat saya seorang blogger pemula. Saya akan terus belajar baik sebagai istri dan ibu, darimana lagi kalau bukan dari senior-senior seperti ibu yang sudah banyak makan asam garam kehidupan.

    Lenny,
    Sama-sama, saya juga masih terus belajar kok, karena memahami anak dan suami ternyata merupakan hal yang tak pernah selesai. Apalagi sifat manusia yang juga berubah, berkembang. Bagaimana agar kita bisa mendampingi suami, yang membuat suami merasa dihargai, juga bisa sebagai sahabat suami dan anak-anak. Tapi percayalah, jika niat kita baik, selalu ada jalan untuk memahami.

  12. Alhamdulillah,saya melihat artikel ibu Ratna. Dalam kebimbangan saya untuk kembali bekerja didorong karena kebutuhan (menjelang sekolah anak,mempersiapkan tabungan untuk rencana masa depan,dsb) saya sudah lebih lega untuk mempercayakan anak saya 2th kepada mbak nya (pengasuh).
    Semoga semua niat saya dikabulkan dan diberi kelancaran oleh Allah SWT.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: