Oleh: edratna | April 14, 2007

Mengunjungi kota Banda Aceh setelah 2 tahun 3 bulan pasca tsunami (bagian 1)

 

 

Mendapat tawaran mengajar di Banda Aceh merupakan suatu karunia, karena sejak bertahun-tahun yang lalu saya sudah bermimpi ingin berkunjung ke Aceh. Menurut teman-teman yang pernah ditempatkan di wilayah Aceh, propinsi paling ujung utara barat di Indonesia ini daerahnya sangat indah, pantainya hijau kebiruan, diseling dengan tanaman hijau menghampar. Saya telah mengunjungi propinsi dari Medan sampai Manado dan Jayapura, justru propinsi Aceh yang belum mendapat kesempatan. Bisa dibayangkan betapa hati ini langsung berdebar, ingin segera sampai kesana.

Saya berangkat naik pesawat Boeing 737-400 Garuda GA 184 jam 9.00 wib dari bandara Sukarno Hatta, dan transit 30 menit di Medan. Perjalanan menyenangkan, cuaca cerah, pramugari dan awak kabin lainnya ramah.Terasa ada perbedaan setelah kecelakaan Garuda di Yogya bulan Maret 2006 yg lalu, saat check in penumpang harus menunjukkan kartu identitas, dan sebelum pesawat take off pemberitahuan agar semua hand phone dan barang elektronik lain agar dalam posisi off, dilakukan ber ulang-ulang. Demikian juga awak kabin memberi perhatian khusus dan menjelaskan pada penumpang yang duduk didekat jendela darurat, bagaimana prosedur membukanya jika ada kejadian darurat. Penumpang juga lebih tenang, dan berdoa agar penerbangan ini selamat sampai ke tujuan. Perjalanan dari Jakarta ke Medan memerlukan waktu 1 jam 59 menit, serta dari Medan ke Banda Aceh 45 menit.

Saya dijemput oleh tuan rumah, cuaca cukup panas, temperatur 30 derajat celsius dan langsung diajak check in di hotel, setelah itu langsung ke tempat pelatihan. Perjalanan dari airport Sultan Iskandar Muda ke kota Banda Aceh memerlukan waktu 20 menit. Kota Banda Aceh lumayan ramai, bahkan konon kata orang yang lahir dan besar di Aceh keramaian ini dua kali lipat dibanding sebelum terjadi tsunami, kota bersih, tak terlihat bekas dilanda tsunami.

krueng-sungai-aceh-yg-mengalir-ditengah-kota.jpgKrueng Aceh, sungai yang mengalir di tengah kota Banda Aceh.

Kota Banda Aceh banyak dialiri sungai, ada Krueng Aceh yang melewati tengah kota, Krueng Daroy, Krueng Doy, Krueng Nieng dan Krueng Lueng Paga (Krueng berarti sungai). Sungainya bersih, jernih dan mengalir cukup deras. Bisa dipahami bagaimana saat tsunami, air mengalir dari laut, dan melalui sungai-sungai yang membelah kota Banda Aceh.

Waktu mengajar saya masih besok siang, jadi saya minta diantar mengelilingi kota Banda Aceh. Setelah makan nasi bungkus khas masakan Aceh dari restoran ”Ujong Batee”, saya meluncur ke arah jl Cut Nyak Dien untuk melihat rumah peninggalan Cut Nyak Dien. rumah-peninggalan-cut-nyak-dien.jpg

Rumah Cut Nyak Dien.

Disini saya mendapat guide yang menjelaskan bagaimana riwayat rumah ini, yang dibangun kembali (direnovasi) sejak 25 tahun yang lalu. Pada saat tsunami, rumah Cut Nyak Dien ikut terkena air, dan air memasuki rumah sehingga banyak barang-barang yang rusak. Orang-orang dari kampung disekitarnya banyak mengungsi di atap rumah ini, sehingga atapnya perlu diganti. Pada saat perbaikan, tukang kayu didatangkan dari Sumedang, kota dimana jenazah Cut Nyak Dien dimakamkan. Rumah tempat tinggal Cut Nyak Dien berupa panggung, di bawah tempat menyimpan kayu bakar dan gudang, dinding terbuat dari kayu berukir dan atapnya rumbia. Setelah masuk melalui tangga yang cukup tinggi, sampailah kita ke teras tempat menjamu tamu, kemudian baru masuk ke ruang tamu.

ukiran-pintu.jpgUkiran Jepara.

Yang mengesankan, banyak ditemui ukiran Jepara yang terdapat pada meja kursi tamu, dan tempat tidur. Strategi Teuku Umar, awalnya selama 3 (tiga) tahun akrab dengan Belanda, sehingga beliau banyak mendapat hadiah dari orang Belanda berupa alat-alat rumah tangga.

ruang-rapat.jpgRuang rapat.

Ruang rapat yang cukup luas, diisi seperangkat meja kursi tinggi dan meja kursi tamu yang berukir Jepara.

rencong-aceh.jpgRencong Aceh.

Ada ruangan tempat menyimpan alat-alat perang, antara lain parang dan yang terkenal adalah rencong. Gambar di atas kiri adalah rencong Aceh.

sumur-yg-terletak-didalam-rumah.jpgTapak sumur, di rumah Cut Nyak Dien.

Yang benar-benar masih asli adalah tapak sumur, semula terletak di dalam rumah , hal ini agar tidak diracun. Sumur ini sekarang berada dipinggir rumah, berada dilantai satu, masih bagus dan airnya jernih.

kamar-tidur-cut-nyak-dien.jpgRuang tidur Cut Nyak Dien.

Kamar tidur Cut Nyak Dien, menggunakan kelambu dengan warna warni cerah, mirip seperti kebiasaan masyarakat Minang (yg terlihat di istana Pagaruyung).

Dari rumah Cut Nyak Dien, saya meneruskan perjalanan ke pantai Lok Nga melewati rumah-rumah yg dibangun atas bantuan negara donor. Sementara pengungsi yang tinggal di barak masih ada, kemungkinan menunggu rumah yang dibangun siap untuk ditempati. Menurut sopir yang asli kelahiran Aceh, daerah sini termasuk yang parah terkena tsunami. Namun di satu sisi banyak kejadian yang aneh, ada rumah bagus yang tak terkena dampaknya, hanya pagarnya saja yang rusak. Juga kerasnya gelombang air yang masuk ke kota berbeda tiap daerah, menghasilkan akibat yang berbeda pula. Sepintas tak terlihat lagi bahwa Banda Aceh pernah dilanda tsunami hebat.

Pantai Lok Nga termasuk daerah yang parah kerusakannya, asrama tentara yang terletak dipinggir pantai musnah hanya tinggal pusing-puingnya. Sedangkan pabrik Semen Andalas Indonesia (SAI) telah mulai direnovasi, walaupun bekas kerusakan masih terlihat.

pantai-lok-nga.jpg

Pantai Lok Nga.

pantai-lok-nga-yg-indah.jpgPantai Lok Nga yang indah

Saat siang hari itu, gelombang yang memecah pantai cukup besar. Saya membayangkan, apabila tiba-tiba terjadi air laut naik, memang penyelamatan cukup sulit, apalagi saat itu masyarakat belum mengenal tsunami.

Dari pantai Lok Nga perjalanan kembali ke kota Banda Aceh dan terus ke arah Ulee Lheule, melewati daerah perkampungan dimana ada kapal besar milik PLN yang nyelonong masuk kampung terbawa tsunami.

kapal-milik-pln-yg-terdampar-diperkampungan.jpg Kapal yang terdampar diperkampungan.

Saat ini kapal tetap berada ditengah perkampungan penduduk yang padat, konon kabarnya biaya membawa kapal ke tengah laut sangat mahal. Kami terus ke daerah Meuraxa, yang dekat dengan pantai Ulee Lheue, melewati masjid didekat laut yang tetap kokoh berdiri walau diterjang tsunami.

pantai-ulee-lheule.jpgPantai Ulee Lheule.

Di pantai Ulee Lheule sangat terasa bekas tsunami, wilayah pantai mundur dan ada perkampungan yang hilang. Terlihat banyak alat-alat berat menimbun batu-batu besar ke pinggir laut untuk mengurangi abrasi. Rumah-rumah hanya tinggal pondasinya saja.

About these ads

Responses

  1. minta tentang ukiran Jepara dan gambarnya juga ukiran Bali donk kirim ke sini yaaa cepetan butuhnya sekarang juga.

  2. Laela,
    Domisili saya di Jakarta, dan profesi saya pengajar. Jadi mohon maaf tak bisa memenuhi permintaanmu.

  3. salam buk enny ..kalo boleh tau ibuk renni dari mana buk???maaf buk soal nya saya juga anak aceh yg tinggal nya di aceh sekarang ,,tapi saya melihat blog ibuk kayak nya ,,seperti mendukung aceh buk yaaa…??? kan ibuk di fs tuu kta nya dari ==> Madiun, Bogor, Jakarta, Bandung<== dari berbagai kota …..boleh nanyak buuk ..apa ibuk iini ahli sejarah ..atau memang suka hanya untuk meneliti ..dari berbagai negara .atau adat istiadat….????
    thank’s salam

  4. Rayanmuhammad,

    Tugas utama saya mengajar, dan karena latar belakang saya dari Perbankan, saya mengajar teman-teman calon manajer, Account Officer dll. Kadang-kadang membimbing membuat makalah dan menguji peserta Sespibank (kursus Pimpinan Bank, setingkat Lemhamnas di ABRI).

    Saya memang mendukung pembangunan, terutama di bidang SDM. Saya melihat bahwa SDM di negara kita perlu ditingkatkan, agar masyarakat meningkat perekonomiannya. Caranya adalah memberikan pendidikan, ketrampilan, serta memotivasi agar semua unsur bergerak untuk memperbaiki ekonomi di wilayah masing-masing.

    Saat kunjungan ke Banda Aceh, saya mengajar kredit mikro (kredit yang diberikan untuk pengusaha mikro), bagi rekan2 di BPD NAD.

  5. Hi Bu Edratna,
    Sungguh bersyukur kalo Ibu akhirnya kesampean juga melihat Tanah Rencong….sampai sekarang saya belum ada kesempatan untuk kesana. Mudah-mudahan suatu saat bisa juga kesana. Saya turut mendoakan agar masyarakat Aceh bisa segera kembali seperti sedia kala.

    Regards,
    leni

  6. Leni,
    Mudah2an Leni akan mendapat kesempatan mengunjungi tanah rencong. Nanti gantian cerita ya.

  7. Ass ibu edratna…
    saya asli Aceh dan sekarang sedang menempuh program profesi akuntansi di ugm
    saya sangat terkesan dengan tulisan bu edratna tentang Aceh dan pastinya semakin mencintai Aceh;)
    terima kasih ya bu’..

  8. Ass. mba, saya domisili & bekerja di Pemerintahan Kota Banda Aceh, thanks udah datang & mengeksplore daerah wisata n Budaya Aceh..
    Correct dikit ya mba, bahwa yang berada di Lhoknga adalah Pabrik Semen Andalas Indonesia ato PT. SAI bukan Pabrik Semen Padang..
    thanks.. Wass!

  9. Hera Ariyanti,
    Terimakasih, saya yakin Aceh berkembang baik, potensi ekonominya bagus…mudah2an saya sempat kesana lagi melihat kemajuannya.

    Lola,
    Wahh…maaf segera saya koreksi. Thanks masukannya…maklum pas kesana saya hanya dengan pak sopir, yang dia sendiri juga tak terlalu mengenal obyek pariwisata. Tapi setelah mengantar saya, dia bilang…”Makasih ya bu, saya jadi lebih tahu tentang Aceh, lain kali kalau ada tamu, akan saya ajak mengunjungi obyek pariwisata di Aceh…”

  10. Aceh….u can grow up

    Jami,
    Ya, mudah-mudahan kehidupan di Aceh tetap aman dan tenteram….

  11. salam bu,

    Alhamdulillah kemaren ira berkesempatan Perjalanan Dinas kantor ke beberapa kota Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, dan yang terakhir, minggu kemaren (29-30 maret di Aceh), dan sama kaya ibu juga, ira juga sebelumnya penasaran dengan Aceh.

    Kemaren sempat mengunjungi tempat2 yang ibu foto diatas, tapi ibu ga masukin Masjid Baiturahman ya? sempat main kan kesana bu?

    Subhanallah ya alam aceh bener, indah……

    tapi….. ada yang kemaren jadi pembicaraan qt, ko di aceh Kedai Kopi nya banyak bener ya? dan kalo jalan siang2 dan pagi, itu juga kedai kopi rame terus? Ini budaya aceh gitu Bu?

    Trus yang kemaren berasa, hehehe biaya hidupnya mahal ya? hehehe kebetulan saya domisili di Bandung, cukup merasa mahal dengan biaya hidup diaceh, kata temen2 yang di Aceh, mahalnya sejak Tsunami dan banyak orang asing yang membawa Dollar ke aceh, sehingga biaya hidup di Aceh, terutama Banda Aceh, jadi ikut menyesuaikan (teorinya uang emang gitu ya Bu? hehehe dah lama ga kuliah Mikro, irving fisher gitu ya? kalo uangnya banyak maka harga jadi mahal? M, V. I) -maaf kalo salah, dah banyak yg lupa dari yg inget ;)-

    Ira,
    Aceh memang terkenal kopinya, dan budayanya memang suka ngopi sambil berbincang-bincang.
    Saya sempat sholat di masjid Baiturrahman,yang memang merupakan titik sentral orang-orang untuk ketemu di kota Banda Aceh. Artikel saya tentang Aceh terbagi dua, mungkin Ira hanya membaca salah satunya. Kalau janji ketemu teman, saya janjinya ketemu di masjid Baiturrahman selepas sholat Magrib, yang baru selesai jam 8 malam.

  12. makasi ya bu….

    saya anak asli aceh…lagi kuliah di luar aceh..!!!

    ibu begitu cinta kayak nya ama aceh…

    saya heran ama orang aceh sendiri yang tidah bangga ama tanah nya.

    makasi sebesar-besar nya ya bu^^

  13. alangkah sedihny perjalanan aceh dulu,tapi qita tak pernah membayangkan pengorbanan pahlawan qt masa lalu,alangkah sedihny jika qt mengenang akan hal itu.adakah diantara qlian smua mengenangnya………………………………

  14. asslm,sy memang asli ACEH tapi saya tidak bany ak mengenal sejarah aceh krn dari kecil saya su dah berada di jerman gimn y sejarahnya ceritain donk,kan sya pengen tau juga…………………….. apalagi klw tentang pahlawan Aceh CUT NYAK DIEN dan CUT MEUTIA kan terharu x klw dah twu sejarah mereka.dan yang lbh mengejutkan saya sekarang dah tinggal d aceh gk balek gi ke jerman disebabkan kluarga saya pengen menetap di tempat kelahirannya saja…mau tau diman a saya tinggal ikutan za slecsi saya keberikutnya,mu gk yoook,buruan………………….

  15. [...] diantara waktu senggang meminjam sopir teman untuk mengantar saya jalan-jalan ke beberapa lokasi di Banda Aceh. Pengalaman saya mengunjungi Banda Aceh dapat dilihat [...]

  16. Tq mom. Sy jd lbh bnyk tau tntg aceh yg sbnrx tmpt asal moyang ayah sy. Tp krn kmi brdomisili disolo maka kmi jarang brkesempatan brsilaturahmi ke aceh. Mnurut ibu kuliner disana bgaimna? Ibu sempat mampir di kedai canai yg ckup trkenal gak dijln teuku umar? Ada yg unik dsna krna kt bs mrasakan kentalx hub antara indonesia-malaysia.

  17. saya kepingin sekali punya senjata /pusaka rncong caceh???????? tolong

  18. sekaranag banda aceh sudah banyak perkembangan…..
    sudah ada
    *”aceh tsunami museum”
    *taman internasional “Aceh Thank To The World”
    dan fasilitas modern dan canggih lainnya……….
    banda Aceh memiliki Terminal Bus Terindah, Terlengkap dan Terbesar di pulau Sumatera……..
    dan juga Bandara Internasional Sultan Iskanda Muda yang lebih canggih, luas, dan modern………
    sudah bisa membawa dunia ke Aceh……
    Kini Banda Aceh adalah salah satu tujuan utama para investor……lokal maupun asing………
    Banda Aceh adalah salah satu tempat wisata yang terbaik di dunia……
    dan Banda Aceh akan ditetapkan sebagai salah satu kota besar di Indonesia……………………….
    Provinsi Aceh adalah salah satu sumber devisa negara yang terbesar……….
    pada 2008, Banda Aceh adalah kota yang paling cepat pertumbuhan ekonominya……
    wahhhhhhhh sekarang Banda Aceh semakin Baik dan terus membaik dan juga Maju…^_^

    Ang

  19. Saya asli Aceh terima kasih pada ibu yang telah kenalkan indahnya daerahku..moga keindahan ini terjaga selalu, oh ada yang indah di Aceh yaitu budayanya moga satu saat nanti ibu juga dapat mengenalinya, dan terutama makanannya yang terkenal dengan aroma rempahnya.

    Ramli Khadijah
    ,
    Saya juga berharap, mendapat kesempatan untuk bertugas lagi mengunjungi Nangroe Aceh Darussalam…rasanya dulu masih belum puas berkeliling.
    Makanan Aceh juga enak-enak….

  20. Terima kasih buat ibu yang telah membuat tulisan tentang Aceh. Saya sebagai seorang pemuda Aceh seharusnya juga kreatif seperti ibu. Banyak hal yang bisa ditulis dan dikembangkan tentang Aceh selain sejarah tsunaminya. Banyak produk2 peninggalan dari nilai seni budaya aceh yang sudah mulai hilang dan bahkan sudah tidak pernah ditampilkan lagi.
    Saya juga mengharap pemerintah Aceh (Gubernur dan Bupati) dapat menempatkan orang-orang yang benar-benar aktif, kreatif dan inovatif pada Dinas/Instansi terkait sehingga dapat membangkitkan dan lebih mengembangkan lagi potensi seni budaya aceh.
    Kita bisa mencontoh daerah -daerah yang sudah maju dibidang tsb dan kita sesuaikan dengan budaya kita yang sopan dan tidak menyimpang dari nilai2 yang ada di Aceh. Bravo buat orang aceh yang kreatif..

  21. ibu, kalo ada refrensi apa saja tentang rencong Aceh saya mau donk, saya pengen tau, kenapa rencong Aceh diambil dari bentuk tulisan bismillah dan kenapa ada tulisan bismillah di gagang rencong, knapa rencong juga dipakai oleh perempuan Aceh untuk melawan musuh?

  22. saya sudah menetap di banda aceh dari tahun 2007 sd skrg… pembangunan semakin berkembang di berbagai wilayah…

  23. assalamu’alaikum……
    Salam kenal mbak y?
    Saya juga anak Aceh,saya sangat kagum sama tulisannya mbak.
    Misalkan kedepannya da waktu ke Aceh lagi bisa hubungi saya tok memperkenalkan Aceh lebih Luas mbak.
    maap dah promosikan diri,heheheeeeee.
    makasi sebelomnya mbak y?

  24. TERIMA KASIH IBU……..yg telah berkunjung ke tempat kami dan menulis tentang Aceh………

    By : Ibrahim ( Guide Rumah Cut Nyak Dhien)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 211 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: