Masjid Raya Baiturrahman merupakan pusat kegiatan masyarakat Banda Aceh. Persis disebelah kiri masjid, terdapat lokasi pasar Aceh, yang tidak pernah terhenti kegiatannya. Teman-teman yang datang duluan menceritakan, sampai jam 2 pagi kegiatan didepan Masjid Raya masih ramai dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual berbagai barang dagangan. Masjid Raya terlihat lebih indah di malam hari, dengan lampu yang terpendar-pendar. Saya janji dengan teman untuk sholat Isya di masjid Raya, sholat Isya dimulai jam 20.05 wib, kemudian bertemu dengan teman-teman yang mendapat tugas di Banda Aceh. Seusai sholat, kami mencoba makan malam khas Aceh di Lambaro, makanan khas nya adalah ayam tangkap (atau kata teman-teman ayam sampah). Ayam dimasak bersama dengan daun tumuru…hmmm rasanya enak sekali. Juga ada makanan khas lain, seperti kuah asam keeung (daging atau ikan dimasak dengan kuah dan pedas), sambal belacan (yang mirip dengan ”semayi” di Jawa) yang dibungkus daun pisang, serta Pleuk-u (semacam sayur lodeh khas Aceh, terdiri dari: daun melinjo, nangka muda, tomat, kikil yang dicampur jadi satu). Makanan jajanan yang umum dijual adalah kueh bolu berbentuk ikan (pernah dimuat di harian Kompas).
Saya menginap di Sulthan Hotel, yang letaknya di jl. Sulthan Hotel no.1, berbatasan dengan jalan Panglima Polem. Lokasi ini dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman, sehingga setiap kali waktu sholat, orang lebih suka sholat berjamaah di masjid. Sulthan Hotel dibangun tahun 80 an, saat terjadi tsunami, gelombang air yang besar memukul ruko-ruko yang mengeliling hotel, sehingga saat memasuki hotel air tak terlalu deras. Hotel ini satu-satunya hotel yang selamat dari tsunami tanpa mengalami kerusakan yang parah. Saat itu, menginap di Sulthan Hotel harus berpesan jauh-jauh hari, namun sekarang telah ada 4 (empat) hotel lain di kota Banda Aceh. Saya perkirakan, occupancy rate hotel Sulthan di atas 70%, hampir semuanya pribumi. Yang saya heran, 3 (tiga) malam di Banda Aceh kendala utama adalah mengantuk, dan enak sekali tidur. Entah karena suasananya, atau entah karena apa, padahal sebelumnya saya sempat kawatir juga membayangkan yang bukan-bukan. Alhamdulillah selama di Banda Aceh, saya menikmati sekali, pemandangannya bagus, langit bersih, dan hawanya lumayan.
Gedung rektorat Universitas Syiah Kuala (Prof Dr Dayan Dawood MA).
Hari ketiga di Banda Aceh, saya selesai mengajar jam 10.00 wib, dan terus mencari peta kota Banda Aceh. Dari sini saya menuju Putroe Aceh, merupakan toko yang menjual berbagai barang souvenir. Setelah membeli oleh-oleh saya menuju ke Universitas Syiah Kuala yang terletak di kota kearah timur.
Universitasnya cukup ramai, tidak ada tanda gerbang sebagaimana layaknya Universitas yang pernah saya kunjungi. Bentuk bangunan pusat kegiatan (rektorat) sangat unik, dan dinamakan gedung Prof Dr Dayan Dawood MA, merupakan mantan Rektor Univ Syiah Kuala yang ditembak pas dijembatan saat masih terjadi situasi konflik di Aceh. Syukurlah Aceh sekarang aman, semoga demikian seterusnya. Mahasiswa dan mahasiswi duduk-duduk menikmati makanan di bangku-bangku di bawah pohon, maklum saya kesini pas saat mendekati makan siang. Dari sini kami menuju pelabuhan Malahayati yang terletak 30 km dari kota Banda Aceh.
Pelabuhan Malahayati.
Pelabuhan Malahayati merupakan perpindahan dari pelabuhan lama di Ulee Lheule, disini terutama untuk kapal feri yang akan ke pulau Sabang dan membawa angkutan berat (seperti mobil, motor dan sebagainya). Jarak dari pelabuhan Malahayati ke Pulau Sabang menggunakan kapal feri memerlukan waktu hampir 2 (dua )jam. Namun jika ingin naik kapal cepat (asal tak membawa banyak barang bawaan), tetap bisa melalui pelabuhan Ulee Lheule, dan hanya perlu waktu 45 menit. Perjalanan ke arah pantai Malahayati sepi sekali, jalan beraspal cukup mulus, dipinggir kiri jalan banyak bekas pohon bakau yang meranggas kena hantaman tsunami. Rumah bantuan negara donor berserakan dikiri kanan jalan, serta di atas bukit. Dari pelabuhan Malahayati kami pulang dulu ke kantor untuk sholat Dhuhur, melewati kantor Gubernur, dan kemudian mampir makan siang di Ujong Batee. Saya menimbang-nimbang, karena masih cukup waktu, apakah kembali ke Lok Nga untuk melihat masjid yang tetap tegak walaupun kena tsunami atau ke makam Syech Kuala. Semula pak Sopir ragu, karena jalan yang ke arah makam Syech Kuala sempat terputus.
Jembatan di Jl.Syiah Kuala, yang baru selesai dibangun kembali.
Setelah mencari informasi, ternyata jalan dapat dilewati dan jembatan telah diganti yang baru, maka saya dan pak sopir ke makam Syech Kuala, yang terletak di ujung jalan Syiah Kuala, persis dipinggir laut. Semula makam ini terletak 800 meter dari garis pantai, namun setelah tsunami menjadi persis di bibir pantai. Untuk mengurangi abrasi, maka di bibir pantai dibuat pagar dari batu-batu besar.
Makam Syech Kuala, bersama para sahabat.
Kami sempat berbincang dengan bapak Mahmud, yang menurut penjelasan beliau merupakan keturnan ke-8 dari Syech Kuala. Saat ini sedang diadakan penggalangan dana untuk memperbaiki makam Syech Kuala, yang berada satu kompleks dengan makam para sahabatnya. Makamnya sendiri tetap utuh, tidak bergeser, namun rumah yang menaungi makam roboh saat terkena gelombang ke-3 saat tsunami. Cerita tentang asal usul Syech Kuala akan saya ceritakan pada bab tersendiri.

Baca pengalaman mba Enny ke Banda Aceh, jadi rindu pengen pulang, hiks … rindu ama semua makanan khas Aceh, the people, aroma tanah Aceh, pokoknya semua deh! he..he..
Aceh selalu indah buat dikenang apalagi di bulan ramadhan, suasananya beda banget, lebih syahdu dan kalo sore di jalan2 seputar Banda Aceh selalu ramai dengan segala macam jajanan buat berbuka. Jadi makin pengen pulang …. hiks..
Thanks ya mba, lewat tulisannya jadi obat rindu Acehlon sayang ….
Oleh: Rina on April 16, 2007
at 4:35 am
Rina,
Thanks komentarnya. Banda Aceh memang indah, katanya perjalanan dari Banda Aceh ke Meulaboh lebih indah lagi, dan sekarang jalannya udah bagus. Mudah2an saya mendapat kesempatan kesana lagi, dan mengajak anak-anak.
Dan makanannya…uenak banget….dan membuat tidur nyenyak sekali, sehingga paginya badan segar. Masjid Raya Baiturrahman juga membuatku kagum, ramai dikunjungi orang, apalagi jika malam hari….disinari lampu….hmmm indah sekali.
Oleh: edratna on April 16, 2007
at 7:23 am
Jadi pengen ke Aceh
Oya, Bu..bagaimana dengan masyarakatnya?
Saya agak kaget dengan cerita salah satu student yang baru visit ke Aceh 2 bulan lalu mengenai sambutan panitia yg kurang perhatian thd pemberi bantuan dari luar negeri yg datang berkunjung.
Oleh: Fadillah Soraya on April 17, 2007
at 12:00 pm
Dilla,
Jangan-jangan karena hambatan bahasa? Karena waktu dengan saya mereka ramah, saya kan keluyuran berdua dengan sopir, masuk pasar, lihat pantai, ke makam Syech Kuala. Awalnya agak kawatir juga, tapi teman saya mengatakan bahwa Aceh sekarang udah aman tenteram. Ternyata memang benar, hari pertama saya dengan teman-teman (pria semua) baru masuk hotel jam 11 malam, sayang kan waktu cuma sebentar nggak dipakai jalan-jalan.
Aceh di malam hari indah sekali, apalagi Masjid Raya Baiturrahman….benar-benar tak puas mata memandang.
Oleh: edratna on April 17, 2007
at 12:17 pm
salam kenal
linknya saya taut yah…
Oleh: tukang ketik on April 18, 2007
at 1:52 am
Tukang ketik,
Salam kenal juga……
Oleh: edratna on April 18, 2007
at 2:15 am
Saya udah denger tentang ramainya kota Kotaraja (Banda Aceh) dari ibu guru agama saya waktu SD kelas 6 yang memang berasal dari Aceh. Beliau bertanya, apa yang kalian lakukan di Madiun di sore hari waktu bulan puasa ? Waktu itu kami menjawab, ya setelah buka puasa pergi ke Masjid Bu. Setelah itu ? Ya tidur Bu. Wah, kalau kami di Kotaraja pergi jalan-jalan keliling kota, karena di bulan puasa Aceh umumnya dan Kotaraja khususnya sangat ramai..
Belakangan, 23 tahun kemudian, saya baru mengerti apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh ibu guru agama tadi (sayang sekali, saya lupa namanya, kalau nggak salah kita menyebutnya dengan Ibu…… (titik-titik = nama suaminya). Waktu itu saya berkunjung ke Singapura, dan di Singapura selama bulan puasa di daerah Geylang, pusat tinggalnya orang Melayu, di sepanjang jalan dipasang lampu-lampu jalan (kira-kira mirip orang Kristen kalau menyemarakkan hari Natal)..
Adik kelas saya dulu di Bogor bernama Soraya, anaknya cantik, pintar dan ex Paskibraka. Mudah-mudahan pas tsunami ia survive…
Oleh: tridjoko on April 18, 2007
at 3:03 am
Tidjoko,
Memang betul, pusat kegiatan disekitar masjid Raya…nggak usah bulan puasa, hari biasa ,setiap waktu sholat banyak sekali yang sholat di masjid. Persis disebelah Masjid Raya terletak Pasar Aceh, tapi anehnya tak bikin semrawut jalan, malah membuat situasi kota hidup terus.
Yang bikin indah, banyak sungai mengalir di tengah kota, jadi ingat kota Brisbane, karena sungainya lebar dan bersih. Di satu sisi, hal ini yang membuat saat terjadi tsunami kerusakan begitu parah, gelombang air laut masuk melalui sungai-sungai.
Oleh: edratna on April 18, 2007
at 3:10 am
Ga sempet ketemu polisi syariahnya bu? katanya galak-galak ya polisi itu
Oleh: priandoyo on April 20, 2007
at 8:50 am
Anjar,
Banyak cerita yang ditambah-tambahi, yang kenyataannya tak seperti itu. Kenyataannya masyarakat Aceh sangat terbuka, banyak juga kok wanita yang berjalan-jalan tanpa pakai jilbab. memang rata-rata pakai selendang, itupun rambutnya terlihat, bahkan bajunya bukan lengan panjang.
Oleh: edratna on April 20, 2007
at 9:00 am
Jalan-jalan ke Ujung Utara Sumatera (NAD), ga mampir ke Takengon (ibu kota kabupaten yang berada tepat ditengah-tengah Aceh). Saya baru 2 kali ke banda Aceh. 1 kali sebelum dan 1 kali sesudah Tsunami (he..he.. spt minum obat aja), tapi kalo ke takengon hampir tiap tahun. Di Takengon udaranya sangat sejuk, ada danau Laut Tawar, Ikan Depik, Kopi Gayo ( http://www.kopigayo.blogspot.com ), acara Tahunan Pacuan Kuda, dan masyarakatnya yang ramah. Suku Asli Aceh adalah suku Gayo ( http://www.gayolut.wordpress.com ). ntar kalo ibu ada waktu saya temenin jadi guide deh disana.
Oh ya Tempat2 di Aceh (tulisan ibu bagian 1 dan 2) udah pernah saya kunjungi semua, itu merupakan tempat2 yang seru untuk dikunjungi.
buat yang lain, jalan-jalan bareng ke Banda Aceh yuk..
Oleh: noeroel on September 12, 2007
at 11:30 am
salam. saya sharfizah dr m’sia, bc tulisan kmu juga buat saya rindu pd aceh. saya pnh ke aceh utk jd volunteer slps 4 bulan tsunami. byk yang saya bar di sana trlalu ingin ke sana lagi. aceh bumi yg suci dan warga nya tabah. bukan org dewasanya shj malah anak2 nya juga tabah.walau bukan kerna tsunami mereka ttp tabah dengan sgl konflik yg melanda umi aceh hmpir 30 tahun. smpai skarg saya masih contact org2 di sana. aceh… misses good all days
Oleh: fizah on September 13, 2007
at 12:06 am
Noeroel,
Waduhh jadi pengin kesana….mungkinkah…siapa tahu? Thanks informasinya.
Fizah,
Salam kenal. Iya, orang Aceh semangatnya untuk bangkit kembali sangat tinggi, bahkan menurut orang yang lahir dan dibesarkan disana, Banda Aceh sekarang jauh lebih ramai dibanding sebelum tsunami. Perekonomian maju dengan pesat.
Oleh: edratna on September 13, 2007
at 9:07 am
Wah jadi kepingin ke Aceh lagi . . . saya pernah jadi relawan selama sebulen 5 hari setelah tsunami. Saya dan temen tim bikin MCK dan sumur, dari kamp 1 ke kamp lain. Banyak sekali kenalan di sana, mereka bisa dekat dan bersahabat. Memang c ada beberapa polisi ’swasta’ waktu itu, ato bahkan orang2 GAM, tapi mereka tau tugas kita waktu itu, jadi ya fine2 aja . . Terakhir saya berada di Seulimum, Janto bikin kamp utuk pengungsi dari Pulau aceh . .
Saya pingin sekali ketemu temen yang di Seulimum, Salam yah . . .
Oleh: anang on September 15, 2007
at 5:49 am
Anang,
Aceh memang indah, dan setiap kali seseorang pernah kesana, pasti ingin kembali jika mempunyai kesempatan.
Oleh: edratna on September 16, 2007
at 2:10 pm
asalamuakaikom saleum nanggroe///
saya mahasiswa bogor asal nad, udah 3 tahun saya ga pulang2 saya kangen sama aceh.mudah2 an aceh kembali jaya seperti dulu,saya berharap kita selaku warga aceh yang ada dijawa ini mari sama2 kita kembali untuk membangun aceh,siapa lagi kalau bukan kita penerus nanggroe tercinta.
Oleh: ahmad on September 19, 2007
at 4:03 am
salam kenal ya..saya mahasiswa Unsyiah yng masih aktiv kuliah…kebetulan tulisan ibu tentang banda aceh pas banget…ga ad yang ditambah2…yah,kalo boleh saya ceritain sedikit info terbaru seputar kota syariah qta…semenjak aceh jd salah satu kota internasional,akses ke seluruh kota jadi sangat terbuka,hampir membuat banda aceh menjadi kota metropolitan,dimana sekarang nilai2 agama dan budaya mulai luntur….bayangkan,mahasiswa yang bisa mengaji dan bisa menari tarian2 aceh hampir2 tidak banyak lagi(kalau tidak mau dikatakan tidak ada?),apalagi bahasa aceh,bahkan mereka gengsi berkomunikasi dalam bahasa aceh,istilah nya sok gaul gitu….nah,mudah2an mahasiswa asal NAD yang kuliah di luar daerah tidak malah lebih parah dari yang disini,tidak melupakan aksen dan budaya asli nanggroe,amien…
keu mandum aneuk nanggroe,loen kirem saleum keu droeuneuh mandum…saleum seujahtera ateuh droeneuh…
Oleh: redza on Oktober 29, 2007
at 3:25 pm
Ahmad,
Semoga setelah lulus, Ahmad bisa kembali membangun NAD. Sekarang Banda Aceh sudah ramai sekali, dan saya memprediksikan ekonomi nya akan sangat berkembang.
Redza,
Saya justru melihat, teman2 yang kuliah di luar negeri, sangat menghargai karya bangsanya. Seperti di Brisbane, bahkan mereka membuat group budaya, dan setiap kali memamerkan tari saman dsb nya…bahkan penarinya adalah gabungan dengan teman2 diluar Aceh (walau yang mengajar menari adalah orang Aceh)…dan ini mendapat apresiasi luar biasa dari teman2 asli Australia.
Semoga saya dapat kesempatan menengok Aceh lagi (maklum, tak mungkin bayar sendiri, kecuali ada tugas kesana).
Oleh: edratna on Oktober 29, 2007
at 10:31 pm
terimakasih bu. kalau datang lagi ke aceh dan ingin tahu lebih banyak terutama tentang seni dan budaya, saya akan bantu. silakan kontak. juga teman2 lain yang ingin menggali lebih banyak tentang aceh. trims
Oleh: barlian aw on November 22, 2007
at 10:14 am
Barlian,
Ntar kalau dapat tugas kesana lagi, saya kirimi email ya. Thanks tawarannya.
Oleh: edratna on November 22, 2007
at 12:41 pm
saya orang aceh,saya pingin ada saran dari kawn2
bagaimana ya cara budidaya pohon bakau di pesisir pantai and dana dari mana yg bisa menbantu tentang budidya pohon bakau…….karen pohon bakau di pesisir pantai aceh banyak yg punah dan gak ada yg mau rawat….jd saya ingin membuat satu lembaga untuk merawat pohon tersebut….ada gak yang ingin membantu saya….
Oleh: ardy on November 27, 2007
at 3:52 pm
Ardy,
Mudah2an ada pembaca yang bisa bekerja sama dengan Ardy.
Thanks kunjungannya.
Oleh: edratna on November 27, 2007
at 11:45 pm
hehehhe…
(www.airputih.or.id) .
jadi ingat pengalaman jadia relawan setahunan lebih di aceh bersama teman2 yayasan airputih
anyway, saya ngga mau komentar tentang tsunaminya (lagi). justru kl ada yang sangat menggemaskan tentang aceh, adalah keindahannya yang luar biasa, kekayaan alamnya, dan KOPI! kekekke…
btw, ngga sempet ke Sabang mba?
well, i think one day you have go there
if everybody said Bali beach is the best, i think they have to go for comparation at least for 3 others : Sabang, Biak dan Lombok
kalo yang suka pengunungan, harus datang ke Takengon. Betul itu komentar mba noeroel. Tanah Gayo. udahlah adem, indah, kopinya itu loh. huah…. cool..
Oleh: edo on November 28, 2007
at 5:12 am
oh ya. untuk pantai, selain sabang tentunya, perlu liat pantai lampuu, ngga jauh dari banda aceh, dan kl mau agak jauh, pantai calang
Oleh: edo on November 28, 2007
at 5:13 am
Edo,
Thanks infonya, mudah2an sempat kesana lagi. Sayang ga sempat ke Sabang, padahal sudah dekat, lain kali harus nambah waktunya.
Oleh: edratna on November 28, 2007
at 5:21 am
hehehe…
masih pengen komentar soal aceh.
jika ada yang saya khawatirkan tentang aceh, justru social impact dari pasca tsunami ini. setelah jutaan dollar ditumpahkan. setelah mereka jadi kota internasional. setelah orang dengan skill ngga jelas bisa bergaji 6 juta sebulan.
setelah berbagai hal ditumpahkan disana. setelah GAM berdamai.
ibarat impact eforia demokrasi pasca demokrasi, pasca gus dur jadi presiden
what will happened setelah BRR per mei 2009 angkat kaki, dan mayoritas NGO angkat kaki?
semoga aceh bisa melanjutkan hidup dengan damai…
Oleh: edo on November 28, 2007
at 5:26 am
Edo,
Itu tantangan bagi kaum muda Aceh, untuk menunjukkan pada bangsa dan dunia bahwa mereka mampu.
Oleh: edratna on November 28, 2007
at 6:36 am
assalamualaikum
hai salam kenal, saya nadia salah satu anak aceh yang berdiam di london. saya coba2 buka web n ketemu web ini isinya sangat menarik saya jadi rindu pengen pulang mudah2an tahun depan kalau ada umur panjang. thanks mbak atas ceritanya.
Oleh: nadia on Desember 10, 2007
at 11:53 pm
Nadia,
Salam kenal juga, makasih telah berkunjung
Oleh: edratna on Desember 11, 2007
at 12:36 am
i really miss back home..
if i can i will be back soon and take a holiday there..nice place for vacation…
get going NAD..
Oleh: aan on Desember 16, 2007
at 10:06 pm
Aan,
I hope so
Oleh: edratna on Desember 18, 2007
at 1:23 am
A’kum saya begitu tertarik untuk ke Aceh tapi engak punya kesempatan.. saya di sini punya teman dari aceh yang datang atas ‘pas mangsa tsunami’..yang dikeluarkan oleh Imigrasen Malaysia.
Dia kan pulang pada tanggal Agurtus mendatang. Rasanya mau saya ikuti dia…namum tidak berkesempatan kerana saya sedang ikuti study peringkat sarjana di Unversiti Malaya secara part time..Tapi dia berjanji akan menunggu saya di Aceh.. Baik bangat teman
saya ini… Saya berdoa agar semuga kembalinya nanti lebih suksess dari dulunya…SEMUGA ACEH LEBIH MAJU DAN BERJAYA.
Oleh: Zacks on Februari 20, 2008
at 9:41 pm
Mba…sedikit bertanya boleh? kalo baca crita mba jalan2 di aceh, trus nginap di Sulthan Hotel, trus ke Syiah Kuala…trs terang saya juga punya rencana sprt yg mba lakukan.
Kalo bolehm saya perlu sedikit informasi mengenai Sulthan Hotel, kira2 termasuk hotel bintang apa ya? rate per malamnya kira2 brp? Trus selain Sulthan Hotel, 4 hotel lainnya namanya apa aja? dekar ga ya dgn syiah kuala? berapa km dan waktu tempuhnya? atau ada hotel lain yg lebih dekat. Terima kasih ya mba….
Adam,
Tulisan tentang Aceh ada 2 bagian, dan kalau dibaca bagian ke -1 akan terlihat bahwa saya kesana dalam rangka tugas, dan itu adalah kali pertama ke Banda Aceh setelah bertahun-tahun bermimpi bisa kesana. Karena tugas, maka biaya, jenis hotel semua atas beban dinas. Dan selain yang saya tulis, saya nggak tahu hotel lainnya….karena jalan-jalannya juga cuma setengah hari setelah tugas, sebelum besoknya balik lagi ke Jakarta.
Oleh: Adam on Mei 28, 2008
at 1:11 pm
tugas kantor sekalian jalan jalan ya mbak…. hehehe…
Kapan maen lagi ke Aceh….???
Oleh: dsatria on Juni 9, 2008
at 5:13 pm
hmmm..aceh memang indah untuk dikenang dari segala sisi kehidupan, komplit deh!
kayak kuah pliek u makanan khasnya………..
Oleh: yenni on Agustus 1, 2008
at 5:21 pm
ya ALLAH kpan ya aku plang aceh aku rndu kli
kmpong halaman …mudah mdahan tahun aku
blh plang….
Oleh: fakrul on Agustus 23, 2008
at 8:00 pm
aku rindu ama cwel aceh….anak sigli
Oleh: fakrul on Agustus 23, 2008
at 8:03 pm
@Adam
untuk Hotel banyak sekali pilihan di Banda Aceh
1. Hermes Palace Hotel (d/h Swissbel Banda Aceh) **** rate 500K-3Juta.
http://www.hermespalace.com
2. Grand Nanggroe **** 500K-3Juta
http://www.GrandNanggroeHotel.com
3. The Pade *** Rate 300-800rb
http://www.thepade.com
4. Paviliun Seulawah *** Rate 200-700rb
5. Oasis Atjeh Hotel *** Rate 400-1Juta
6. Sulthan Hotel **** 500-2Juta
7. Hotel 88 di atas A&W restoran
8. Hotel Medan
9. Hotel Wisata
10. Hotel Cakra Donya
tinggal minta di anterin aja ama supir taxi dari bandara ke hotel sesuai budget anda, biasanya ada special rate kalo go show. jgn takut skrg ada puluhan hotel berbintang di Banda Aceh. yg di atas adalah hotel bintang 3 keatas, klo yg bintang 2 dan 1 banyak sekali. dan jgn takut walau cuma hotel bintang 1 tapi pelayanan dan hotelnya cukup bagus dan bersih, dan hotel di aceh bebas dari peraktek maksiat.
untuk menuju aceh ada 5 Maskapai penerbangan:
Jakarta – Banda Aceh
1. Garuda Indonesia ada 3x (5.30 – 9.00 – 13.00) yg paling pagi direct Aceh
2. Lion Air 2x (8.40 – 16.30) yg pagi direct Aceh
3. Sriwijaya Air (9.00) transit mes 15menit.
Kuala Lumpur – Banda Aceh
4. Air Asia (16.00)
Penang – Banda Aceh
5. FireFly ( 11.00)
hunting makanan:
1. Mie Aceh Razali (Wisata Kuliner Trans Tv)
2. Nasi Goreng Daus (wisata kuliner)
3. Rex (food court d depan hotel Medan)
4. Restoran Purnama
5. Gunung Salju
6. Canai Mamak
7. Ayam tangkap (benu Buloe-transtv)
8. Martabak Ayah ( benue bulo)
9. Gulai Kambing masak Aceh
makanan standard Jakarta
1. KFC (Sp.Lima, Darussalam, Keutapang)
2. A&W (peunayoung)
3. Texas Chiken ( daud beureuh )
4. Pizza Hut
5. Pizza House
6. Paparons Pizza
7. Es Teler 77
8. Bakso Lapangan Tembak Senayan
9. Ayam Bakar Wong Solo
10. Sahid Mina Restaurant (Fine Dining)
11. Caswell Coffee n Tea (Starbucks)
12. Kedai Pecel Ayam ato ayam bakar banyak di Aceh.
13. Martabak manis Bandung jg ada.
14. Siomay, Batagor, Mie Ayam jg ada tp jauh2 ke aceh masa makan ini2 lg hehehehe
Free Internet Hotspot
1. Taman Sari (dekat mesjid Raya)
2. Mesjid Raya
3. Bandara Sultan Iskandar Muda (Departure Terminal)
4. Kampus Unsyiah
5. Pendopo Gubernur
6. Warung2 kopi di aceh (Warkop di aceh di sebut Cafe)
Operator GSM:
Telkomsel -Telkomsel Flash 3.5G
Indosat – IM2 3.5G
XL
Three
Operator CDMA:
TelkomFlexy
StarOne
Jagoan
Esia(2009)
TV:
TVRI
Aceh TV
RCTI
SCTV
TPI
MetroTV
TransTV
Trans 7
Global TV
Tidak terlalu banyak pilihan karena di Aceh banyak sekali yg pakai TV Cable dan Parabola.
Local Transport:
- Becak Motor
- Labi-labi (angkot)
- DAMRI (Bus dalam kota)
- Taxi (nego) Airport-Kota biasanya 80-100Rb.
Banks n ATM:
BCA
BII
BNI
BRI
Lippo Bank
Mandiri
Bukopin
Danamon
Bank Permata
Panin Bank
suhu udara 24 – 35 derajat celcius cukup extreme memang karena posisinya d pinggir pantai.
klo di bulan2 November saya kurang tau karena saya sendiri tinggal di Jakarta, tp December ini rencananya pengen ke Banda Aceh dan Sabang.
Oleh2 khas Aceh:
- Dodol Aceh
- Dendeng Aceh
- Bakpia Sabang
- Kopi Ulee Kareng
- Key Chain
- Peci Aceh
- Tas Aceh
- Dompet Aceh
- Sendal Aceh
- Selebihnya simpan semua oleh2 di kamera digital anda untuk di pamerin ke temen2 di tempat anda tinggal.
——————————————–
“Membuang Sampah Denda 5 Juta!!!”
“Littering Fine 5 Millions”
——————————————–
pendatang tidak di haruskan memakai jilbab, cukup berpakaian yg sopan, memakai selendang lebih memberi simpati kepada penduduk lokal.
Non muslim tidak di wajibkan memakai jilbab, cukup baju yg sopan.
Bahasa:
Semua penduduk Aceh fasih berbahasa Indonesia, penduduk di Banda Aceh fasih berbahasa Inggris dan Melayu.
Money changer banyak tersedia di Banda Aceh, kebanyakan hanya menyediakan US Dollar dan Ringgit Malaysia.
Segitu aja dulu semoga membantu.
regards,
Adi
–
Oleh: mahdi on November 9, 2008
at 1:28 am
koreksi website Hermes Palace Hotel
http://www.hermespalacehotel.com/
Hermes Palace Hotel Banda Aceh is the first International four-star hotel in Banda Aceh.
The hotel is conveniently located in the city centre, near the Governor office,
5 minutes to The Grand Mosque of Baiturrahman and 20 minutes to Sultan Iskandar
Muda Airport.
Oleh: mahdi on November 9, 2008
at 1:37 am
Aceh.. Aku pasti kembali!
Oleh: Linda yuan iskandar on Desember 5, 2008
at 1:28 pm
Aceh.. Aku pasti kembali! Bnyak hal yg slalu membuatku rindu untuk datang lg kesana.
Oleh: Linda yuan iskandar on Desember 5, 2008
at 1:32 pm
Terimakasih buat kalian yg tlh berkomentar tentang Aceh terutama buat Mbak Ratna dgn tulisan2nya.
Aku sbg putra Aceh yg juga korban tsunami dan berdomisili di Banda Aceh sangat bangga membacanya. Bagi yg rindu dgn Aceh dan ingin kembali, dibawah ini tempat2 yg layak untuk dikunjungi selain yg sudah disebutkan di atas:
Wisata Sejarah:
Pendopo Gubernur
(Bekas kerajaan Hindu, Kerjaan Sultan Iskandar Muda dan pernah dikuasai oleh Kolonial)
Makan Sultan Iskandar Muda
(Disamping Pendopo)
Taman Makam Serdadu Belanda /
Gerbang Peutjoet Kerkoff
Gunongan & Pintu Khop
(Gunongan=tempat bermain permaisuri Putroe Phang yg berasal dari Pahang Malaysia, Pintu Khop=tempat istrirahat & pemandian Putoe Phang)
Benteng Kerajaan Hindu Indrapatra & Indrapura
Wisata Tsunami:
Kapal Apung Lampulo
(sebuah kapal yg terdampar dan tersangkut diatas rumah penduduk. Skrg sdh dijadikan monumen Tsunami oleh Pemko Banda Aceh)
Kapal PLTD Apung
(Kapal ini terdampar sejauh kurang lebih 3km dari posisinya semula dgn bobot 5000 ton & tersangkut diperkampungan penduduk)
Kuburan Masal Ulee Lheu
Mesjid Baiturrahim Ulee Lheu
(Satu2nya bangunan di pinggir pantai Ulee Lheu yg berdiri kokoh walau dihantam Tsunami dan gempa 8.9 SR)
Wisata Alam:
Pantai Lhoknga
Pantai Lampu’uk
Pantai Pulau Kapuk
Pantai Ulee Lheu
Pantai Krueng Raya
Air terjun Peukan Biluy
Air terjun Lhong
Glee Mata Ie (Outbound, rafting & mountaineering)
Krueng Aceh (Keliling kota Banda Aceh menggunakan perahu)
Lembah Selawah (mountaineering)
dan tentunya masih banyak lg wisata2 lainnya.
Sebagai rasa terimakasih buat kalian semua, terutama para relawan Tsunami Aceh
aku & keluarga bersedia meluangkan waktu buat menemani kalian jalan2 di Banda Aceh
Aku tunggu kedatangan kalian
salam
Arif 08126908861
ayi_themank@yahoo.co.id
Oleh: Arif on Desember 24, 2008
at 11:27 am
minggu pagi ini saya ke aceh ke lion air, ternyata direct ya, mudah2an benar soalnya saya ngga suka transit2 an
. makasih infonya semua
Oleh: Yusuf (ucup33) on Januari 16, 2009
at 6:20 pm
kl dengar nama aceh,,,,,waw
terkadang menyenangkan,merindukan,terkadang jg menyedihkan
Oleh: ahmad nabawi on Januari 24, 2009
at 8:33 am
Assalamu,alikum
jadi pingin pulang mau shalat di mesjid raya baiturrahman
salam kenal
Oleh: Baka Kelana on Januari 27, 2009
at 11:36 pm
kami ingin sekali mengunjungi malahayati,begitu indah kelihatannya dari gambar,walaupun terkena musibah tetap rasa damai terasa.
Oleh: niko kristo on Maret 6, 2009
at 8:34 pm
Assalamu’alaikum..
wah pada seru cerita masalah aceh ya..
oh iya bu, kalau ke aceh lagi, jangan lupa lo, mampir di Bumi Muda Sedia (Kab. Aceh Tamiang), satu-satunya daerah yang memakai bahasa melayu di NAD, pasti makin seru deh, Mumpung itu kampung saya, bisa deh saya gaet ibu atau temen temen yang mau datang… he he he
Oleh: Along Tamiang on Maret 17, 2009
at 9:35 am
Saya sangat suka dengan komentar2. Saya plan nak ke bandar aceh pada jun nanti. Nak booking hotel sulthan… sebab nak menghayati keindahan masjid raya.. boleh tanya.. berapa harga untuk menginap di hotel itu.
Oleh: Amar on Maret 19, 2009
at 11:41 pm
i’m a malaysian, planning to visit banda acheh somewhere on june… i’m interested to accomodate in Sulthan Hotel.. so.. i need someone can assist me in givcx
m,.ing info about aceh… i love aceh
very much. Do help me..
Oleh: Amar on Maret 19, 2009
at 11:48 pm
I lon galak keu Aceh chit
/
berkunjunglah ke Blogkku..
Oleh: Amanda on Mei 1, 2009
at 9:03 pm
Aku kangen sekali dengan kota banda aceh, walaupun bukan tanah kelahiranku, aku tinggal dibanda aceh kurang lebih 6 bulan, pasca tsunami, aku tinggal di Banda Aceh dalam rangka bertugas operasi sadar meunasah, saat itu gelombang Tsunami telah menerjang Mes Agraria tempat tinggal kami, ada satu teman kami yang sampai saat ini tidak tahu khabarnya, entah masih hidup atau telah meninggal dunia, salam kangen selalu buat rakyat dan kota Banda Aceh yang selalu dekat dihatiku….
Oleh: TRIYANTO on Agustus 12, 2009
at 12:24 am