Masjid Raya Baiturrahman merupakan pusat kegiatan masyarakat Banda Aceh. Persis disebelah kiri masjid, terdapat lokasi pasar Aceh, yang tidak pernah terhenti kegiatannya. Teman-teman yang datang duluan menceritakan, sampai jam 2 pagi kegiatan didepan Masjid Raya masih ramai dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual berbagai barang dagangan. Masjid Raya terlihat lebih indah di malam hari, dengan lampu yang terpendar-pendar. Saya janji dengan teman untuk sholat Isya di masjid Raya, sholat Isya dimulai jam 20.05 wib, kemudian bertemu dengan teman-teman yang mendapat tugas di Banda Aceh. Seusai sholat, kami mencoba makan malam khas Aceh di Lambaro, makanan khas nya adalah ayam tangkap (atau kata teman-teman ayam sampah). Ayam dimasak bersama dengan daun tumuru…hmmm rasanya enak sekali. Juga ada makanan khas lain, seperti kuah asam keeung (daging atau ikan dimasak dengan kuah dan pedas), sambal belacan (yang mirip dengan ”semayi” di Jawa) yang dibungkus daun pisang, serta Pleuk-u (semacam sayur lodeh khas Aceh, terdiri dari: daun melinjo, nangka muda, tomat, kikil yang dicampur jadi satu). Makanan jajanan yang umum dijual adalah kueh bolu berbentuk ikan (pernah dimuat di harian Kompas).
Saya menginap di Sulthan Hotel, yang letaknya di jl. Sulthan Hotel no.1, berbatasan dengan jalan Panglima Polem. Lokasi ini dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman, sehingga setiap kali waktu sholat, orang lebih suka sholat berjamaah di masjid. Sulthan Hotel dibangun tahun 80 an, saat terjadi tsunami, gelombang air yang besar memukul ruko-ruko yang mengeliling hotel, sehingga saat memasuki hotel air tak terlalu deras. Hotel ini satu-satunya hotel yang selamat dari tsunami tanpa mengalami kerusakan yang parah. Saat itu, menginap di Sulthan Hotel harus berpesan jauh-jauh hari, namun sekarang telah ada 4 (empat) hotel lain di kota Banda Aceh. Saya perkirakan, occupancy rate hotel Sulthan di atas 70%, hampir semuanya pribumi. Yang saya heran, 3 (tiga) malam di Banda Aceh kendala utama adalah mengantuk, dan enak sekali tidur. Entah karena suasananya, atau entah karena apa, padahal sebelumnya saya sempat kawatir juga membayangkan yang bukan-bukan. Alhamdulillah selama di Banda Aceh, saya menikmati sekali, pemandangannya bagus, langit bersih, dan hawanya lumayan.
Gedung rektorat Universitas Syiah Kuala (Prof Dr Dayan Dawood MA).
Hari ketiga di Banda Aceh, saya selesai mengajar jam 10.00 wib, dan terus mencari peta kota Banda Aceh. Dari sini saya menuju Putroe Aceh, merupakan toko yang menjual berbagai barang souvenir. Setelah membeli oleh-oleh saya menuju ke Universitas Syiah Kuala yang terletak di kota kearah timur.
Universitasnya cukup ramai, tidak ada tanda gerbang sebagaimana layaknya Universitas yang pernah saya kunjungi. Bentuk bangunan pusat kegiatan (rektorat) sangat unik, dan dinamakan gedung Prof Dr Dayan Dawood MA, merupakan mantan Rektor Univ Syiah Kuala yang ditembak pas dijembatan saat masih terjadi situasi konflik di Aceh. Syukurlah Aceh sekarang aman, semoga demikian seterusnya. Mahasiswa dan mahasiswi duduk-duduk menikmati makanan di bangku-bangku di bawah pohon, maklum saya kesini pas saat mendekati makan siang. Dari sini kami menuju pelabuhan Malahayati yang terletak 30 km dari kota Banda Aceh.
Pelabuhan Malahayati.
Pelabuhan Malahayati merupakan perpindahan dari pelabuhan lama di Ulee Lheule, disini terutama untuk kapal feri yang akan ke pulau Sabang dan membawa angkutan berat (seperti mobil, motor dan sebagainya). Jarak dari pelabuhan Malahayati ke Pulau Sabang menggunakan kapal feri memerlukan waktu hampir 2 (dua )jam. Namun jika ingin naik kapal cepat (asal tak membawa banyak barang bawaan), tetap bisa melalui pelabuhan Ulee Lheule, dan hanya perlu waktu 45 menit. Perjalanan ke arah pantai Malahayati sepi sekali, jalan beraspal cukup mulus, dipinggir kiri jalan banyak bekas pohon bakau yang meranggas kena hantaman tsunami. Rumah bantuan negara donor berserakan dikiri kanan jalan, serta di atas bukit. Dari pelabuhan Malahayati kami pulang dulu ke kantor untuk sholat Dhuhur, melewati kantor Gubernur, dan kemudian mampir makan siang di Ujong Batee. Saya menimbang-nimbang, karena masih cukup waktu, apakah kembali ke Lok Nga untuk melihat masjid yang tetap tegak walaupun kena tsunami atau ke makam Syech Kuala. Semula pak Sopir ragu, karena jalan yang ke arah makam Syech Kuala sempat terputus.
Jembatan di Jl.Syiah Kuala, yang baru selesai dibangun kembali.
Setelah mencari informasi, ternyata jalan dapat dilewati dan jembatan telah diganti yang baru, maka saya dan pak sopir ke makam Syech Kuala, yang terletak di ujung jalan Syiah Kuala, persis dipinggir laut. Semula makam ini terletak 800 meter dari garis pantai, namun setelah tsunami menjadi persis di bibir pantai. Untuk mengurangi abrasi, maka di bibir pantai dibuat pagar dari batu-batu besar.
Makam Syech Kuala, bersama para sahabat.
Kami sempat berbincang dengan bapak Mahmud, yang menurut penjelasan beliau merupakan keturnan ke-8 dari Syech Kuala. Saat ini sedang diadakan penggalangan dana untuk memperbaiki makam Syech Kuala, yang berada satu kompleks dengan makam para sahabatnya. Makamnya sendiri tetap utuh, tidak bergeser, namun rumah yang menaungi makam roboh saat terkena gelombang ke-3 saat tsunami. Cerita tentang asal usul Syech Kuala akan saya ceritakan pada bab tersendiri.
