Posted by: edratna | April 14, 2007

Mengunjungi kota Banda Aceh setelah 2 tahun 3 bulan pasca tsunami (bagian ke-2)

masjid-raya-baiturrahman.jpgMasjid Baiturrahman.

Masjid Raya Baiturrahman merupakan pusat kegiatan masyarakat Banda Aceh. Persis disebelah kiri masjid, terdapat lokasi pasar Aceh, yang tidak pernah terhenti kegiatannya. Teman-teman yang datang duluan menceritakan, sampai jam 2 pagi kegiatan didepan Masjid Raya masih ramai dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual berbagai barang dagangan. Masjid Raya terlihat lebih indah di malam hari, dengan lampu yang terpendar-pendar. Saya janji dengan teman untuk sholat Isya di masjid Raya, sholat Isya dimulai jam 20.05 wib, kemudian bertemu dengan teman-teman yang mendapat tugas di Banda Aceh. Seusai sholat, kami mencoba makan malam khas Aceh di Lambaro, makanan khas nya adalah ayam tangkap (atau kata teman-teman ayam sampah). Ayam dimasak bersama dengan daun tumuru…hmmm rasanya enak sekali. Juga ada makanan khas lain, seperti kuah asam keeung (daging atau ikan dimasak dengan kuah dan pedas), sambal belacan (yang mirip dengan ”semayi” di Jawa) yang dibungkus daun pisang, serta Pleuk-u (semacam sayur lodeh khas Aceh, terdiri dari: daun melinjo, nangka muda, tomat, kikil yang dicampur jadi satu). Makanan jajanan yang umum dijual adalah kueh bolu berbentuk ikan (pernah dimuat di harian Kompas).

 

sulthan-hotel-yg-selamat-dari-tsunami.jpgSulthan Hotel.

Saya menginap di Sulthan Hotel, yang letaknya di jl. Sulthan Hotel no.1, berbatasan dengan jalan Panglima Polem. Lokasi ini dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman, sehingga setiap kali waktu sholat, orang lebih suka sholat berjamaah di masjid. Sulthan Hotel dibangun tahun 80 an, saat terjadi tsunami, gelombang air yang besar memukul ruko-ruko yang mengeliling hotel, sehingga saat memasuki hotel air tak terlalu deras. Hotel ini satu-satunya hotel yang selamat dari tsunami tanpa mengalami kerusakan yang parah. Saat itu, menginap di Sulthan Hotel harus berpesan jauh-jauh hari, namun sekarang telah ada 4 (empat) hotel lain di kota Banda Aceh. Saya perkirakan, occupancy rate hotel Sulthan di atas 70%, hampir semuanya pribumi. Yang saya heran, 3 (tiga) malam di Banda Aceh kendala utama adalah mengantuk, dan enak sekali tidur. Entah karena suasananya, atau entah karena apa, padahal sebelumnya saya sempat kawatir juga membayangkan yang bukan-bukan. Alhamdulillah selama di Banda Aceh, saya menikmati sekali, pemandangannya bagus, langit bersih, dan hawanya lumayan.

pusat-kegiatan-prof-dr-dayan-dawood-ma-univ-syiah-kuala.jpgGedung rektorat Universitas Syiah Kuala (Prof Dr Dayan Dawood MA).

Hari ketiga di Banda Aceh, saya selesai mengajar jam 10.00 wib, dan terus mencari peta kota Banda Aceh. Dari sini saya menuju Putroe Aceh, merupakan toko yang menjual berbagai barang souvenir. Setelah membeli oleh-oleh saya menuju ke Universitas Syiah Kuala yang terletak di kota kearah timur.

Universitasnya cukup ramai, tidak ada tanda gerbang sebagaimana layaknya Universitas yang pernah saya kunjungi. Bentuk bangunan pusat kegiatan (rektorat) sangat unik, dan dinamakan gedung Prof Dr Dayan Dawood MA, merupakan mantan Rektor Univ Syiah Kuala yang ditembak pas dijembatan saat masih terjadi situasi konflik di Aceh. Syukurlah Aceh sekarang aman, semoga demikian seterusnya. Mahasiswa dan mahasiswi duduk-duduk menikmati makanan di bangku-bangku di bawah pohon, maklum saya kesini pas saat mendekati makan siang. Dari sini kami menuju pelabuhan Malahayati yang terletak 30 km dari kota Banda Aceh.

kapal-di-pelabuhan-malahayati.jpg

Pelabuhan Malahayati.

Pelabuhan Malahayati merupakan perpindahan dari pelabuhan lama di Ulee Lheule, disini terutama untuk kapal feri yang akan ke pulau Sabang dan membawa angkutan berat (seperti mobil, motor dan sebagainya). Jarak dari pelabuhan Malahayati ke Pulau Sabang menggunakan kapal feri memerlukan waktu hampir 2 (dua )jam. Namun jika ingin naik kapal cepat (asal tak membawa banyak barang bawaan), tetap bisa melalui pelabuhan Ulee Lheule, dan hanya perlu waktu 45 menit. Perjalanan ke arah pantai Malahayati sepi sekali, jalan beraspal cukup mulus, dipinggir kiri jalan banyak bekas pohon bakau yang meranggas kena hantaman tsunami. Rumah bantuan negara donor berserakan dikiri kanan jalan, serta di atas bukit. Dari pelabuhan Malahayati kami pulang dulu ke kantor untuk sholat Dhuhur, melewati kantor Gubernur, dan kemudian mampir makan siang di Ujong Batee. Saya menimbang-nimbang, karena masih cukup waktu, apakah kembali ke Lok Nga untuk melihat masjid yang tetap tegak walaupun kena tsunami atau ke makam Syech Kuala. Semula pak Sopir ragu, karena jalan yang ke arah makam Syech Kuala sempat terputus.

jembatan-di-jl-syiah-kuala-yg-baru-dibangun-yg-lama-hilang.jpgJembatan di Jl.Syiah Kuala, yang baru selesai dibangun kembali.

Setelah mencari informasi, ternyata jalan dapat dilewati dan jembatan telah diganti yang baru, maka saya dan pak sopir ke makam Syech Kuala, yang terletak di ujung jalan Syiah Kuala, persis dipinggir laut. Semula makam ini terletak 800 meter dari garis pantai, namun setelah tsunami menjadi persis di bibir pantai. Untuk mengurangi abrasi, maka di bibir pantai dibuat pagar dari batu-batu besar.

makam-syiah-kuala-bersama-para-sahabat.jpgMakam Syech Kuala, bersama para sahabat.

Kami sempat berbincang dengan bapak Mahmud, yang menurut penjelasan beliau merupakan keturnan ke-8 dari Syech Kuala. Saat ini sedang diadakan penggalangan dana untuk memperbaiki makam Syech Kuala, yang berada satu kompleks dengan makam para sahabatnya. Makamnya sendiri tetap utuh, tidak bergeser, namun rumah yang menaungi makam roboh saat terkena gelombang ke-3 saat tsunami. Cerita tentang asal usul Syech Kuala akan saya ceritakan pada bab tersendiri.

Tanggapan

Baca pengalaman mba Enny ke Banda Aceh, jadi rindu pengen pulang, hiks … rindu ama semua makanan khas Aceh, the people, aroma tanah Aceh, pokoknya semua deh! he..he..

Aceh selalu indah buat dikenang apalagi di bulan ramadhan, suasananya beda banget, lebih syahdu dan kalo sore di jalan2 seputar Banda Aceh selalu ramai dengan segala macam jajanan buat berbuka. Jadi makin pengen pulang …. hiks..

Thanks ya mba, lewat tulisannya jadi obat rindu Acehlon sayang ….

Rina,

Thanks komentarnya. Banda Aceh memang indah, katanya perjalanan dari Banda Aceh ke Meulaboh lebih indah lagi, dan sekarang jalannya udah bagus. Mudah2an saya mendapat kesempatan kesana lagi, dan mengajak anak-anak.

Dan makanannya…uenak banget….dan membuat tidur nyenyak sekali, sehingga paginya badan segar. Masjid Raya Baiturrahman juga membuatku kagum, ramai dikunjungi orang, apalagi jika malam hari….disinari lampu….hmmm indah sekali.

Jadi pengen ke Aceh :)

Oya, Bu..bagaimana dengan masyarakatnya?
Saya agak kaget dengan cerita salah satu student yang baru visit ke Aceh 2 bulan lalu mengenai sambutan panitia yg kurang perhatian thd pemberi bantuan dari luar negeri yg datang berkunjung.

Dilla,

Jangan-jangan karena hambatan bahasa? Karena waktu dengan saya mereka ramah, saya kan keluyuran berdua dengan sopir, masuk pasar, lihat pantai, ke makam Syech Kuala. Awalnya agak kawatir juga, tapi teman saya mengatakan bahwa Aceh sekarang udah aman tenteram. Ternyata memang benar, hari pertama saya dengan teman-teman (pria semua) baru masuk hotel jam 11 malam, sayang kan waktu cuma sebentar nggak dipakai jalan-jalan.
Aceh di malam hari indah sekali, apalagi Masjid Raya Baiturrahman….benar-benar tak puas mata memandang.

salam kenal

linknya saya taut yah…

Tukang ketik,

Salam kenal juga……

Saya udah denger tentang ramainya kota Kotaraja (Banda Aceh) dari ibu guru agama saya waktu SD kelas 6 yang memang berasal dari Aceh. Beliau bertanya, apa yang kalian lakukan di Madiun di sore hari waktu bulan puasa ? Waktu itu kami menjawab, ya setelah buka puasa pergi ke Masjid Bu. Setelah itu ? Ya tidur Bu. Wah, kalau kami di Kotaraja pergi jalan-jalan keliling kota, karena di bulan puasa Aceh umumnya dan Kotaraja khususnya sangat ramai..

Belakangan, 23 tahun kemudian, saya baru mengerti apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh ibu guru agama tadi (sayang sekali, saya lupa namanya, kalau nggak salah kita menyebutnya dengan Ibu…… (titik-titik = nama suaminya). Waktu itu saya berkunjung ke Singapura, dan di Singapura selama bulan puasa di daerah Geylang, pusat tinggalnya orang Melayu, di sepanjang jalan dipasang lampu-lampu jalan (kira-kira mirip orang Kristen kalau menyemarakkan hari Natal)..

Adik kelas saya dulu di Bogor bernama Soraya, anaknya cantik, pintar dan ex Paskibraka. Mudah-mudahan pas tsunami ia survive…

Tidjoko,

Memang betul, pusat kegiatan disekitar masjid Raya…nggak usah bulan puasa, hari biasa ,setiap waktu sholat banyak sekali yang sholat di masjid. Persis disebelah Masjid Raya terletak Pasar Aceh, tapi anehnya tak bikin semrawut jalan, malah membuat situasi kota hidup terus.

Yang bikin indah, banyak sungai mengalir di tengah kota, jadi ingat kota Brisbane, karena sungainya lebar dan bersih. Di satu sisi, hal ini yang membuat saat terjadi tsunami kerusakan begitu parah, gelombang air laut masuk melalui sungai-sungai.

Ga sempet ketemu polisi syariahnya bu? katanya galak-galak ya polisi itu

Anjar,
Banyak cerita yang ditambah-tambahi, yang kenyataannya tak seperti itu. Kenyataannya masyarakat Aceh sangat terbuka, banyak juga kok wanita yang berjalan-jalan tanpa pakai jilbab. memang rata-rata pakai selendang, itupun rambutnya terlihat, bahkan bajunya bukan lengan panjang.

Jalan-jalan ke Ujung Utara Sumatera (NAD), ga mampir ke Takengon (ibu kota kabupaten yang berada tepat ditengah-tengah Aceh). Saya baru 2 kali ke banda Aceh. 1 kali sebelum dan 1 kali sesudah Tsunami (he..he.. spt minum obat aja), tapi kalo ke takengon hampir tiap tahun. Di Takengon udaranya sangat sejuk, ada danau Laut Tawar, Ikan Depik, Kopi Gayo ( http://www.kopigayo.blogspot.com ), acara Tahunan Pacuan Kuda, dan masyarakatnya yang ramah. Suku Asli Aceh adalah suku Gayo ( http://www.gayolut.wordpress.com ). ntar kalo ibu ada waktu saya temenin jadi guide deh disana.

Oh ya Tempat2 di Aceh (tulisan ibu bagian 1 dan 2) udah pernah saya kunjungi semua, itu merupakan tempat2 yang seru untuk dikunjungi.

buat yang lain, jalan-jalan bareng ke Banda Aceh yuk..

salam. saya sharfizah dr m’sia, bc tulisan kmu juga buat saya rindu pd aceh. saya pnh ke aceh utk jd volunteer slps 4 bulan tsunami. byk yang saya bar di sana trlalu ingin ke sana lagi. aceh bumi yg suci dan warga nya tabah. bukan org dewasanya shj malah anak2 nya juga tabah.walau bukan kerna tsunami mereka ttp tabah dengan sgl konflik yg melanda umi aceh hmpir 30 tahun. smpai skarg saya masih contact org2 di sana. aceh… misses good all days

Noeroel,
Waduhh jadi pengin kesana….mungkinkah…siapa tahu? Thanks informasinya.

Fizah,
Salam kenal. Iya, orang Aceh semangatnya untuk bangkit kembali sangat tinggi, bahkan menurut orang yang lahir dan dibesarkan disana, Banda Aceh sekarang jauh lebih ramai dibanding sebelum tsunami. Perekonomian maju dengan pesat.

Wah jadi kepingin ke Aceh lagi . . . saya pernah jadi relawan selama sebulen 5 hari setelah tsunami. Saya dan temen tim bikin MCK dan sumur, dari kamp 1 ke kamp lain. Banyak sekali kenalan di sana, mereka bisa dekat dan bersahabat. Memang c ada beberapa polisi ’swasta’ waktu itu, ato bahkan orang2 GAM, tapi mereka tau tugas kita waktu itu, jadi ya fine2 aja . . Terakhir saya berada di Seulimum, Janto bikin kamp utuk pengungsi dari Pulau aceh . .
Saya pingin sekali ketemu temen yang di Seulimum, Salam yah . . .

Anang,
Aceh memang indah, dan setiap kali seseorang pernah kesana, pasti ingin kembali jika mempunyai kesempatan.

asalamuakaikom saleum nanggroe///
saya mahasiswa bogor asal nad, udah 3 tahun saya ga pulang2 saya kangen sama aceh.mudah2 an aceh kembali jaya seperti dulu,saya berharap kita selaku warga aceh yang ada dijawa ini mari sama2 kita kembali untuk membangun aceh,siapa lagi kalau bukan kita penerus nanggroe tercinta.

salam kenal ya..saya mahasiswa Unsyiah yng masih aktiv kuliah…kebetulan tulisan ibu tentang banda aceh pas banget…ga ad yang ditambah2…yah,kalo boleh saya ceritain sedikit info terbaru seputar kota syariah qta…semenjak aceh jd salah satu kota internasional,akses ke seluruh kota jadi sangat terbuka,hampir membuat banda aceh menjadi kota metropolitan,dimana sekarang nilai2 agama dan budaya mulai luntur….bayangkan,mahasiswa yang bisa mengaji dan bisa menari tarian2 aceh hampir2 tidak banyak lagi(kalau tidak mau dikatakan tidak ada?),apalagi bahasa aceh,bahkan mereka gengsi berkomunikasi dalam bahasa aceh,istilah nya sok gaul gitu….nah,mudah2an mahasiswa asal NAD yang kuliah di luar daerah tidak malah lebih parah dari yang disini,tidak melupakan aksen dan budaya asli nanggroe,amien…

keu mandum aneuk nanggroe,loen kirem saleum keu droeuneuh mandum…saleum seujahtera ateuh droeneuh…

Ahmad,
Semoga setelah lulus, Ahmad bisa kembali membangun NAD. Sekarang Banda Aceh sudah ramai sekali, dan saya memprediksikan ekonomi nya akan sangat berkembang.

Redza,
Saya justru melihat, teman2 yang kuliah di luar negeri, sangat menghargai karya bangsanya. Seperti di Brisbane, bahkan mereka membuat group budaya, dan setiap kali memamerkan tari saman dsb nya…bahkan penarinya adalah gabungan dengan teman2 diluar Aceh (walau yang mengajar menari adalah orang Aceh)…dan ini mendapat apresiasi luar biasa dari teman2 asli Australia.

Semoga saya dapat kesempatan menengok Aceh lagi (maklum, tak mungkin bayar sendiri, kecuali ada tugas kesana).

terimakasih bu. kalau datang lagi ke aceh dan ingin tahu lebih banyak terutama tentang seni dan budaya, saya akan bantu. silakan kontak. juga teman2 lain yang ingin menggali lebih banyak tentang aceh. trims

Barlian,
Ntar kalau dapat tugas kesana lagi, saya kirimi email ya. Thanks tawarannya.

saya orang aceh,saya pingin ada saran dari kawn2
bagaimana ya cara budidaya pohon bakau di pesisir pantai and dana dari mana yg bisa menbantu tentang budidya pohon bakau…….karen pohon bakau di pesisir pantai aceh banyak yg punah dan gak ada yg mau rawat….jd saya ingin membuat satu lembaga untuk merawat pohon tersebut….ada gak yang ingin membantu saya….

Ardy,
Mudah2an ada pembaca yang bisa bekerja sama dengan Ardy.
Thanks kunjungannya.

hehehhe…
jadi ingat pengalaman jadia relawan setahunan lebih di aceh bersama teman2 yayasan airputih :) (www.airputih.or.id) .

anyway, saya ngga mau komentar tentang tsunaminya (lagi). justru kl ada yang sangat menggemaskan tentang aceh, adalah keindahannya yang luar biasa, kekayaan alamnya, dan KOPI! kekekke…

btw, ngga sempet ke Sabang mba?
well, i think one day you have go there :)

if everybody said Bali beach is the best, i think they have to go for comparation at least for 3 others : Sabang, Biak dan Lombok :)

kalo yang suka pengunungan, harus datang ke Takengon. Betul itu komentar mba noeroel. Tanah Gayo. udahlah adem, indah, kopinya itu loh. huah…. cool..

oh ya. untuk pantai, selain sabang tentunya, perlu liat pantai lampuu, ngga jauh dari banda aceh, dan kl mau agak jauh, pantai calang :)

Edo,
Thanks infonya, mudah2an sempat kesana lagi. Sayang ga sempat ke Sabang, padahal sudah dekat, lain kali harus nambah waktunya.

hehehe…
masih pengen komentar soal aceh.
jika ada yang saya khawatirkan tentang aceh, justru social impact dari pasca tsunami ini. setelah jutaan dollar ditumpahkan. setelah mereka jadi kota internasional. setelah orang dengan skill ngga jelas bisa bergaji 6 juta sebulan.
setelah berbagai hal ditumpahkan disana. setelah GAM berdamai.
ibarat impact eforia demokrasi pasca demokrasi, pasca gus dur jadi presiden
what will happened setelah BRR per mei 2009 angkat kaki, dan mayoritas NGO angkat kaki?

semoga aceh bisa melanjutkan hidup dengan damai…

Edo,
Itu tantangan bagi kaum muda Aceh, untuk menunjukkan pada bangsa dan dunia bahwa mereka mampu.

assalamualaikum
hai salam kenal, saya nadia salah satu anak aceh yang berdiam di london. saya coba2 buka web n ketemu web ini isinya sangat menarik saya jadi rindu pengen pulang mudah2an tahun depan kalau ada umur panjang. thanks mbak atas ceritanya.

Nadia,
Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

i really miss back home..
if i can i will be back soon and take a holiday there..nice place for vacation…
get going NAD..

Aan,
I hope so

A’kum saya begitu tertarik untuk ke Aceh tapi engak punya kesempatan.. saya di sini punya teman dari aceh yang datang atas ‘pas mangsa tsunami’..yang dikeluarkan oleh Imigrasen Malaysia.
Dia kan pulang pada tanggal Agurtus mendatang. Rasanya mau saya ikuti dia…namum tidak berkesempatan kerana saya sedang ikuti study peringkat sarjana di Unversiti Malaya secara part time..Tapi dia berjanji akan menunggu saya di Aceh.. Baik bangat teman
saya ini… Saya berdoa agar semuga kembalinya nanti lebih suksess dari dulunya…SEMUGA ACEH LEBIH MAJU DAN BERJAYA.

Mba…sedikit bertanya boleh? kalo baca crita mba jalan2 di aceh, trus nginap di Sulthan Hotel, trus ke Syiah Kuala…trs terang saya juga punya rencana sprt yg mba lakukan.

Kalo bolehm saya perlu sedikit informasi mengenai Sulthan Hotel, kira2 termasuk hotel bintang apa ya? rate per malamnya kira2 brp? Trus selain Sulthan Hotel, 4 hotel lainnya namanya apa aja? dekar ga ya dgn syiah kuala? berapa km dan waktu tempuhnya? atau ada hotel lain yg lebih dekat. Terima kasih ya mba….

Adam,
Tulisan tentang Aceh ada 2 bagian, dan kalau dibaca bagian ke -1 akan terlihat bahwa saya kesana dalam rangka tugas, dan itu adalah kali pertama ke Banda Aceh setelah bertahun-tahun bermimpi bisa kesana. Karena tugas, maka biaya, jenis hotel semua atas beban dinas. Dan selain yang saya tulis, saya nggak tahu hotel lainnya….karena jalan-jalannya juga cuma setengah hari setelah tugas, sebelum besoknya balik lagi ke Jakarta.

tugas kantor sekalian jalan jalan ya mbak…. hehehe…

Kapan maen lagi ke Aceh….???

hmmm..aceh memang indah untuk dikenang dari segala sisi kehidupan, komplit deh!

kayak kuah pliek u makanan khasnya………..

ya ALLAH kpan ya aku plang aceh aku rndu kli
kmpong halaman …mudah mdahan tahun aku
blh plang….

aku rindu ama cwel aceh….anak sigli

Leave a response

Your response:

Kategori