Oleh: edratna | Mei 8, 2007

Integritas, dapatkah diukur dan diramalkan?

Sangat menarik untuk membahas apakah integritas dapat diukur dan diramalkan. Di bawah ini ada beberapa panduan untuk mengukur “integrity in action“, yang lebih bersifat konkrit operasional, yang mudah diikuti sebagai panduan wawancara. Masalahnya, sampai seberapa jauh indikator tersebut dapat diterapkan, terutama pada posisi di bawah upper middle management. Karena, indikator di bawah ini bisa berjalan, jika memang banyak past experiences dari calon yang dinilai, banyak critical incidents dalam pengalaman hidupnya yang terkait dengan aspek tersebut. Misal, pernah mengalami peristiwa yang mengundang conflict of interest, pernah menjalani suatu tanggung jawab yang sulit, pernah harus mengambil keputusan yang tidak populer. Kalau sample nya terbatas, otomatis agak “sulit’ melakukan penilaian berkaitan dengan hal ini. Mengukur integrity, banyak terkait dengan moralitas seseorang. Namun demikian, banyak sekali perusahaan yang mencantumkan integrity sebagai aspek yang harus dimiliki oleh calon karyawan dan pimpinannya.

Walaupun sulit, dari hasil korespondensi dengan psikolog yang telah menamatkan PhD nya di UQ (University of Queensland), diilhami artikel ibu Eileen Rachman yang pernah dimuat di Kompas, serta pengalaman menilai sikap dan perilaku (termasuk integritas) bawahan di suatu perusahaan, saya akan mencoba merangkai apa, bagaimana serta mungkinkah integritas dapat diukur serta diramalkan.

1. Definisi integritas menurut kamus kompetensi
Integritas kerja adalah bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan dan kode etik perusahaan. Memiliki pemahaman dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dan etika tersebut, dan bertindak secara konsisten walaupun sulit untuk melakukannya.

2. Bagaimana menilai integritas bawahan/calon pimpinan?

a. Apakah kode etik telah dilaksanakan?

Setiap profesi mempunyai kode etik profesional yang harus dipatuhi. Etika ini harus tercantum dalam peraturan perusahaan dan dapat diobservasi dalam penilaian perilaku. Sebagai contoh: Pada salah satu perusahaan, tingkat kedalaman perilaku integritas bertingkat, dari 1 sampai 3 , disesuaikan dengan dimensi tingkat risiko yang harus dihadapi karena bertindak konsisten sesuai kode etik dan kebijakan.

Seseorang bisa saja pandai berkomunikasi dan menunjukkan bahwa integritasnya tinggi, namun dapat diuji dan dilakukan probing, aspek apa yang paling dijunjung tinggi dalam kode etiknya. Misalkan dengan menanyakan, apakah pernah mengalami kasus seputar etika, dan seberapa jauh keterlibatannya dalam kasus tersebut? Apabila tak terkait, bagaimana cara menyelesaikan kasus tersebut, jika yang terlibat adalah anak buahnya?

b. Bagaimana mengatasi conflict of interest

Setiap orang perlu menyesuaikan perilakunya dilapangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pada situasi ini, seorang individu ada kemungkinan berhadapan dengan conflict of interest, bagaimana cara memecahkan masalahnya, yang dalam pemecahannya akan terkandung kadar integritasnya. Bagaimana dia menggunakan wewenangnya dalam menyelesaikan persoalan, sebaik apakah wewenang tersebut dimanfaatkan? Integritas pimpinan dapat diukur, bagaimana pimpinan memanfaatkan wewenangnya, dan mengambil risiko melakukan putusan dari yang populer maupun yang sama sekali tak populer.

c. Apakah seseorang bersifat sebagai risk taker atau risk avoider?

Apakah seorang akan lari dari tanggung jawab? Atau berani pasang badan untuk mempertanggung jawabkan ?

Untuk level operasional/first level management, kriteria kedisiplinan dan cooperative behaviour (yang bisa diterjemahkan sebagai ketaatan pada peraturan dan kesediaan bekerjasama untuk memenuhi tuntutan organisasi) sudah cukup mewakili perilaku kerja yang diinginkan melalui apa yang dinamakan “integrity” itu.

Untuk level upper middle management memang perlu ada interview yang mendalam, untuk melihat seberapa jauh kecenderungan seseorang untuk berperilaku yang merugikan organisasi dan masyarakat luas, terutama untuk wewenang besar yang mereka miliki. Yang terkadang sulit diukur adalah keberanian mengambil risiko (dalam pengertian positif), yang terkadang dekat sekali artinya dengan mengambil keputusan diluar prosedur yang ada. Sebaliknya, pimpinan yang terlalu prosedural (cenderung cari aman dan berlindung dibalik prosedur) juga tidak akan efektif mendorong kemajuan organisasi.

d. Komitmen terhadap organisasi

Sejauh mana seorang pimpinan akan melakukan perubahan, mengembangkan anak buahnya untuk memajukan perusahaan? Bagaimana komitmennya terhadap organisasi, apakah seseorang berani melakukan hal sulit untuk kemajuan organisasi? Seorang pimpinan yang baik juga akan menjadi mentor bagi bawahannya, serta menyiapkan kaderisasi sebagai penggantinya kelak.

e. Perhatian terhadap sesama

Dalam menilai pendekatan ke manusia, diperlukan suatu data dan fakta, untuk mengetahui gambaran integritas seseorang. Hal ini memerlukan kepekaan dan kemampuan penilai/pewawancara, untuk melihat konteks dan framework seputar fakta yang dibicarakan dalam tanya jawab intensif.

3. Apakah mungkin dilakukan training untuk meningkatkan integrity?

Melakukan observasi perilaku seperti bahasan di atas akan lebih mudah bila orang tersebut belum bergabung dengan perusahaan. Namun bagaimana apabila yang dinilai adalah seseorang yang akan mendapat kesempatan untuk menjadi pimpinan yang lebih tinggi? Pada umumnya penilaian dilakukan dengan metoda tertentu, dan melalui assessment center. Permasalahan yang sering muncul, adalah kekurangan orang sesuai yang dibutuhkan, ataupun kalau ada masih terdapat “gap” yang harus diperbaiki. Persoalan yang muncul adalah, bagaimana cara training yang tepat untuk menutup gap tersebut? Di satu sisi, integritas merupakan kunci kemajuan perusahaan, karena maju mundurnya perusahaan ditentukan oleh SDM nya, yang diharapkan menjunjung integritas tinggi. Disadari, bahwa perusahaan lebih mudah membuat orang pandai dengan meningkatkan skill nya, tetapi yang sulit adalah meningkatkan soft kompetensinya.

Jika training untuk soft kompetensi begitu sulit, perlu dipikirkan membuat sistem manajemen dan budaya organisasi sedemikian rupa, sehingga tidak ada peluang bagi anggotanya untuk berperilaku “menyimpang”. Sistem yang terbuka, record yang lengkap, pertanggung jawaban yang jelas, reward dan sanksi yang tegas untuk perilaku kerja tertentu, akan dapat membantu terbentuknya “integrity in action” tersebut. Tumbuhnya sense of belonging dan komitmen yang tinggi terhadap organisasi juga kondusif dampaknya untuk mengurangi perilaku yang menyimpang. Kalau seseorang sudah merasakan bahwa organisasi tempat dia bekerja adalah bagian penting dari dirinya sendiri, maka dia tidak akan berperilaku merugikan bagi perusahaannya, karena berarti akan merugikan diri sendiri. Jadi situasi kerja demikian yang harus dibentuk, untuk meningkatkan integrity di tempat kerja, dibanding dengan pendidikan khusus tentang hal ini.

Sumber data:

  1. Eileen Rachman. Meraba integritas, bisakah? Kompas. Experd, Jakarta, 2006
  2. Rayini, University of Queensland. Brisbane, 2006
About these ads

Responses

  1. [...] pada milis tersebut, yang membahas tentang integritas (yang garis besarnya menjadi ide tulisan saya tentang integritas). Gara-gara tulisan tersebut yang saya tayangkan di blog, saya menjadi bisa berhubungan lagi dengan [...]

  2. Intregitas sebagai PNS yang efekttif bagaimana dan batasannya

    Prinda,
    Apakah Prinda PNS? Jika ya, tentunya bisa membuat batasan dan penilaian, bagaimana sebaiknya mengukur integritas ini untuk PNS.

    Jika di perusahaanku dulu, memang belum tentu tepat, tapi ada batasannya, dan ini dimonitor dan ditunjukkan dari bukti perilaku sehari-hari yang dapat dicatat dan terukur. Kalau orangnya nggak berbuat apa-apa, bukti kompetensinya tak terlihat, sehingga tak terukur, dan ini juga merugikan karena tak tercatat dalam penilaian kinerja. Siapapun yang mempunyai bukti kompetensi banyak, terukur, maka akan mendapat nilai lebih jika ada peluang promosi yang melibatkan beberapa calon.

  3. Bu, saya senang sekali saat melihat blog ibu ttg integritas. skrg saya sedang mengerjakan skripsi dengan topik integritas, tapi saya pakai Total Performance Scorecard. kira2 ibu ada waktu untuk diskusi? oh ya, saya mahasiswi dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (Nhai), jurusan Manajemen Kepariwisataan. Thanks ya bu, kalo ada masukannya.
    Salam Kenal…

    Emme,
    Saya udah jawab japri lewat email. Integritas tak mudah diukur, karena harus terlihat pada perilaku dan bukti kompetensi yang ditulis day to day. Padahal perilaku setiap orang mudah berubah.

  4. - Mohon penjelasan pengertian dari integrity ? ( Practical Integrity )
    - Tanda – tanda karyawan yang memiliki integrity ? ( Behavior Integrity )
    - Apa Action Plan yang harus dilakukan ? ( Ation Plan Integrity )

    Thanks`
    Agus

    Agus,
    Tentu saja saya tak mungkin menjawab pertanyaanmu disini, karena akan memerlukan sesion yang cukup panjang. Silahkan membaca buku….yang kemungkinan banyak dijual di toko buku, atau bisa datang ke Fak Psikologi UI jika ingin tahu lebih lanjut….kemungkinan ada pelatihan yang dapat diikuti.

  5. bu saya mo tanya kebetulan saya lagi nulis skripsi tentang analisis kebutuhan diklat dalam rangka meningkatkan kompetensi pegawai. cara yang saya pakai adalah dengan teknik analisis kompetnsi. alat ukur saya pake kuesioner. cuma dalam pembuatan kuesioner ini saya rada ragu bu. dalam matrik pengmbagan kuesioner. variabel tentang kompetensi. subvariabel knowledge, skill, dan attitude. dan untuk indikator saya memakai kamus kompetensi yang ada dalam kantor saya. apakah mungkin kuesioner saya bu dapat menghasilkan data yang valid.

    Irwansyah,
    Kalau mau memahami benar tentang Diklat, minta ke Ketua Jurusan bikin surat agar bisa magang ke pelatihan. Ada Bank Danamon di daeah Ciawi, ada PLN di daerah jl RM Harsono, ada Pusdiklatnya BRI di jalan yang sama…..kalau di Bandung juga bisa melihat berbagai pelatihan yang dilakukan lembaga terkait. Dengan melihat sendiri akan lebih mudah memahami, dan bisa diskusi dengan instrukturnya, serta kepada Pusdiklat nya.

  6. ibu saya mau tanya, apa saja komponen dan unsur yang terdapat dalam integritas seorang karyawan/pNS?

  7. apakah setiap manusia itu mempunyai integritas yang berbeda-beda…!!!!

  8. apakah setiap manusia itu mempunyai integritas berbeda-beda,,..!!

  9. integritas yang seperti apa yang dibutuhkan seorang guru

  10. bu kalau boleh minta daftar kuesioner untuk mengukur integritas PNS? kebetulan saya sedang mengerjakan tesis ttg integritas PNS, trims

  11. Bu, boleh saya bertanya tentang integritas yang berhubungan dengan seseorang?? mungkin ibu tau dan bisa membantu saya. mohon dijelaskan mengenai integritas laporan keuangan,arti dan maksudnya apa???
    Mohon bimbingannya… terima kasih

  12. Permisi, Ibu Edratna…

    Saya mahasiswa yang sedang akan melakukan penelitian untuk keperluan pembuatan skripsi saya. Yang ingin saya tanyakan, apakah definisi TOTAL PERFORMANCE SCORECARD itu?

    Saya berharap banyak agar sekiranya Ibu dapat membantu saya dengan memberi jawaban atas definisi di atas.

    Saya berharap Ibu dapat membalasnya melalui kiriman ke email saya.

    Terima kasih,
    Regard

  13. Integritas seperti sesuatu yang sangat mudah untuk dilaksanakan oleh setiap karyawan. Padahal didalam prakteknya seringkali integritas itu sangat dipertanyakan oleh pimpinan ? Sejauh mana integritas itu telah dilaksanakan oleh para staf dalam mengimplementasikan kinerjanya ? Bagai pedang bermata dua satu sisi pimpinan mengatakan dimana integritasmu terhadap perusahaan atau satu sisi karyawan mengatakan ‘ Saya sudah bekerja dengan baik, tidak pernah bolos, aturan saya patuhi, tetapi kenapa pimpinan tidak menunjukkan reward yang menjanjikan bagi karir saya ?. Kadang pertanyaan itu mengalir dari seorang karyawan, jadi sejauh mana kita dapat mengukur integritas karyawan dengan maksimal ? Di satu sisi skill dia bagus tetapi soft kompetensinya buruk. Lalu bagaimana manager personalia harus melakukan assesment test ? Mohon tanggapan dari blog ibu .

  14. Saat ini saya sedang menyiapkan presentasi untuk Soft Kompetensi dalam pembinaan SDM baik mengenai Integritas, Achiefment Orientation, Concern for Order, Customer Service Orientation dan Emphati. Melalui blok ini mohon owner memberikan hal-hall yang sangat dominan dalam memberikan motivasi kepada para karyawan. Dan apakah perlu mengembangkan kreativitas seperti seorang psikolog dengan media lagu yang menggugah perasaan dan mampu memberi semangat pada karyawan untuk melakukan perubahan peri laku dan etos kerjanya.

  15. dari pengertian integritas yang anda jelaskan di atas apakah integritas tersebut bisa diukur, saya minta bantuan anda untuk menjelaskannya kepada saya dalam penyusunan skripsi saya yang mengangkat perihal integritas

  16. http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=a&id=118830

    Mengukur Intregitas: Bukan Lagi Mission Impossible [ID ]
    Oleh: Human Capital (Editor)
    Jenis: Article from Bulletin/Magazine
    Dalam koleksi: Human Capital Magazine no. 39 (Jun. 2007), page 18-19.
    Topik: Rekrutmen
    Ketersediaan

    * Perpustakaan Pusat
    o Nomor Panggil: HH6.1
    o Non-tandon: 1 (dapat dipinjam: 0)
    o Tandon: tidak ada

    Lihat Detail Induk
    Isi artikelTuntutan Organisasi untuk senantiasa berbenah dalam upaya mewujudkan visi semakin memperketat proses seleksi karyawan. Pengalaman, kemampuan tekhnikal, kompetensi, hingga personal atribute menjadi basis keputusan apakah seseorang cocok menduduki satu jabatan dalam organisasi atau tidak.

  17. Bu..saya mahasiswa yang akan menulis skripsi yg berkaitan dengan integritas di tempat kerja..

    Bu, bisakah ibu rekomendasikan beberapa buku dan jurnal yang bisa saya baca untuk menggali dan mendalami mengenai integritas dalam kerja ini..

    Terima kasih sebelumnya

  18. Bun, ijin share sebagian isi tulisannya ya. terima kasih,

    Silahkan….

  19. Artikel yang begitu menggugah. Terima kasih

  20. MOHON IJIN ISI TULISANNYA DISHARE. TKS

  21. setelah membaca beberapa jurnal internasional, rupanya integritas itu paling tidak dapat diukur dalam 3 dimensi yaitu: bertanggungjawab atas pekerjaan yang dibebankan, jujur dan konsekwen/konsisten…….


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 225 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: