Oleh: edratna | Juli 11, 2007

Pabrik gula, riwayatmu kini

Sebagai orang yang dilahirkan , dan tumbuh besar di daerah yang dikelilingi 7 (tujuh) buah Pabrik Gula (disingkat PG), maka kehidupan para petani tebu dan masyarakat yang hidup di kompleks PG merupakan pemandangan sehari-hari. Jika musim giling tiba, kehidupan kota saya dimulai dengan bunyi sirene PG, yang jarak PG terdekat sekitar 4 km dari rumah.

Pada masa kecilku, kehidupan di kompleks PG merupakan kehidupan yang terlihat tak pernah dirundung susah. Para pegawai PG mendapat gaji yang lumayan, para Staf PG mendapat perumahan di Kompleks PG, rumahnya besar berlangit-langit tinggi, dikelilingi pekarangan luas yang penuh dengan tanaman bunga. Anak-anak staf PG setiap hari sekolah diantar jemput oleh bis milik PG. Untuk keperluan belanja, seminggu dua kali ada bis yang mengantar para ibu untuk berbelanja ke kota. Kebetulan teman adikku yang kost dirumah, ayah nya bekerja di PG. Sedangkan saya sendiri sering mengunjungi kompleks PG karena teman sekelasku di SMA ada yang ayahnya bekerja di PG. Saat masih SMP, saya sering diundang ikut menari pada pembukaan musim giling tebu, yang biasanya dirayakan dengan tari-tarian, dan hiburan wayang orang.

Selain gula, hasil sampingan PG adalah tetes, yang merupakan bahan baku industri alkohol. Di satu sisi, randemen yang masih rendah atas hasil gula, menguntungkan industri alkohol, karena bahan baku untuk membuat alkohol akan menghasilkan produksi yang kualitasnya lebih baik.

Sedikit banyak, kehidupan PG memberi inspirasi untuk melanjutkan kuliah di IPB, disamping saya senang menanam bunga. PG merupakan industri yang unik, karena hasil produksi gula berasal dari tebu, yang luasan tanahnya tak sepenuhnya dimiliki oleh PG. Areal tanah yang ditanami tebu sebagian besar menyewa dari petani, yang berada disekeliling kompleks PG. Jadi PG menyewa tanah petani, yang akan berselang seling ditanami oleh tebu dan padi secara bergiliran. Pada musim panen tebu, PG membangun rel sementara, untuk mengangkut tebu yang telah ditebang ke pabrik , dan melewati daerah sekitar rumahku. Pada saat ini anak-anak kecil menunggu lori (kereta yang mengangkut tebu) lewat, karena mereka ingin ikut mengambil tebu yang dibawa lori. Kebiasaan ini sangat berbahaya, karena sering terjadi kecelakaan, namun anak-anak selalu mengaulangi perbuatan itu jika musim panen tebu tiba.

Sewa tanah dari petani pada beberapa belas tahun lalu tak ada masalah, karena ikatan hubungan yang istimewa antara petani dan PG. Namun kondisi ini sekarang telah berubah, sejalan makin banyaknya tanah yang beralih fungsi menjadi bangunan, karena pembukaan jalan-jalan tembus, yang melalui areal persawahan. Di satu sisi, petani sekarang telah berani menyatakan pendapatnya, dan menuntut harga sewa lebih tinggi.

Mesin-mein PG sebagian besar masih merupakan mesin-mesin lama, yang menyebabkan hasil randemen tebu tak sesuai yang diharapkan. PG saat ini juga kurang terawat, dan menjadi pegawai PG bukan merupakan kebanggaan lagi. Sedangkan para Sarjana baru, yang dulu tertantang untuk masuk sebagai staf PG, dan nanti dapat meningkat posisinya sebagai administratur, saat ini menjadi staf di PG bukan merupakan prioritas utama, karena ada pilihan-pilihan lain yang lebih baik.

Kompas tanggal 20 Juni 2007 memberitakan, bahwa saat ini sebanyak 52 PG di seluruh Indonesia, sebagian dalam kondisi memprihatinkan, dan membutuhkan dana untuk di revitalisasi. Langkah ini diperlukan untuk mendukung swasembada gula tahun 2009. Fahmi Idris memperkirakan, dibutuhkan dana Rp.3,46 triliun untuk melakukan revitalisasi 52 PG tersebut.

Revitalisasi PG memang diperlukan, namun tetap harus dinilai kelayakannya, karena kondisi sekarang sangat berbeda dibanding puluhan tahun silam, saat PG masih berjaya. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan, antara lain:

  1. Adanya luas kebun tebu yang mencukupi. Disadari, hampir semua PG menambah areal tanaman tebu dengan cara bekerjasama dengan petani setempat. Lahan ini sekarang banyak yang telah mengalami perubahan fungsi, karena adanya pembangunan kota yang semakin ke pinggir, menyebabkan menurunnya areal tanam, atau beralih fungsi menjadi areal perdagangan.
  2. Ketersediaan tenaga kerja. Mendapatkan tenaga kerja didaerah setempat saat ini bukan hal yang mudah, karena tenaga kerja muda banyak yang ingin bekerja di ibukota propinsi, atau bahkan menjadi TKI di luar negeri.
  3. Lokasi. Lokasi PG pada umumnya di kota kecamatan, bahkan PG banyak berada di pinggir jalan raya, yang menghubungkan kota kecamatan dengan kota-kota lainnya. Awalnya pembangunan PG dipinggir jalan raya untuk memudahkan distribusi barang dari pabrik ke tempat-tempat lain, namun karena terjadi pelebaran jalan terus menerus, banyak areal PG yang tanahnya makin sempit.

Dari bahasan di atas, revitalisasi PG perlu dinilai kelayakannya, dengan tetap memperhatikan ketiga faktor di atas. Keberadaan PG tetap diperlukan, agar dapat menciptakan swasembada gula.

About these ads

Responses

  1. wah sama Bu. Dulu saya tinggal deket PG Tjoekir, Jombang. Banyak lori juga. Dan rel-rel nya membelah jalan sangat khas di sana. Kadang-kadang lori lewat aja di jalan2 itu.

    PG Tjoekir juga membuat daerah Tjoekir menjadi maju. Di sana sekarang banyak pesantren dan universitas.

    Di lain tempat ada PG Jombang Baru yang sekarang tiap pagi membuang limbah di sungai di kota. Bau banget… sayang sekali …

  2. Sandy,
    Saya prihatin melihat perkembangan pabrik gula sekarang ini. Setahun yang lalu saya melewati PG “Tjandi” Sidoarjo…tak terawat, padahal dulu saya job training di Unit Candi.

    Semoga rencana pemerintah untuk revitalisasi PG berjalan lancar, sayang kalau tidak diperbaiki, infrastukturnya telah terbangun.

  3. Bapak saya bercerita, kalau dulu beliau sempat bercita-cita jadi mandor PG, yang dulu bajunya putih-puth n topi bulatnya yang khas. Begitu mau masuk PG, malah dilarang sama nenek, katanya kerja di pabrik tu banyak intrik..

    Jaman kecil saya, sawah petani di kampung banyak yg disewa pabrik gula, sudah lama tidak pernah lagi..

    sebulan yang lalu, saya ada kunjungan ke PG Pagottan, jualan oli, peralatannya sudah pada karatan, mungkin dari jaman belanda enggak diganti.

    Gimana ya biar bisnis gula di indonsia bisa tetap manis.. :neutral:

  4. Ternyata… mungkin lama-lama nasib pabrik gula tak semanis gula itu sendiri ya Bu, potret suram pabrik gula mulai terlihat, dalam benak saya.. yang terbayang pabrik gula adalah gedung tua yang kusam dari luarnya serta mesin-mesin usang peninggalan jaman jebot.
    tempat tinggal saya di jogja juga dulu banyak kebun gula yang terawat, batangnya besar-besar, tapi sekarnag cuma sedikit sekali tanaman tebu, itupun terasa tak terawat, batangnya kecil. entah apa yang salah? petani, cara tanam, atau sistem yang terkait dengan pergulaan kita?

  5. Anang,

    Rumah saya cuma berjarak 4 km dari PG Kanigoro dan 6 km dari PG Pagotan, dulu selalu saya lewati kalau kerumah nenek.

    Sekarang kita bayangkan, untuk perusahaan BUMN, 50% dari laba disetor sebagai deviden ke pemerintah (untuk pemasukan APBN), sisanya dibagi-bagi, untuk pengembangan bisnis, untuk investasi dll. Bisa dibayangkan, jika PG tidak untung besar, maka kesempatan investasi semakin kecil. Disatu sisi lingkungan berubah, petani tak semudah dulu untuk menyewakan tanahnya guna ditanami tebu, kalaupun mau dengan harga yang tinggi, sedang keuangan PG terbatas. Dalam hal ini memang diperlukan campur tangan pemerintah sebagai pemilik, namun tetap diperhatikan, apakah semua PG mendapat kesempatan? Tentunya dipilih yang feasible, yang tingkat ketergantungannya terhadap areal tanam pada pihak ketiga tak terlalu tinggi.

    Toeti,
    Selain perlu biaya investasi yang besar untuk renovasi bangunan dan mesin-mesin PG, maka pengelolaan tanah agar tetap subur juga diperlukan.

    Pemupukan yang terus menerus juga menyebabkan lahan semakin kritis. Terlihat bahwa sekarang tanaman padi ataupun tebu hasilnya tak sebagus dulu….Kompas beberapa hari lalu membahas tentang lahan kritis ini….apakah perlu kembali ke kompos, masalahnya akan sulit untuk areal yang luas. Tanah yang ditanami terus menerus, dengan pemupukan intensif, maka unsur hara akan berkurang. Di satu sisi, areal jalan disekitar tanaman tebu saat ini sudah beraspal, lalu lalang kendaraan, menyebabkan polusi…beda sekali dengan saat saya masih kecil s/d SMA dimana jalan-jalan masih berupa jalan tanah, dan mobil belum tentu lewat dalam sehari. Jadi pembangunan di satu sisi membuat distribusi barang cepat, meningkatkan usaha perdagangan, namun berisiko dibidang pertanian khususnya untuk produksinya.

    Jadi memang perlu restrukturisasi secara keseluruhan, dan revitalisasi, dipilih mana PG yang mendapat prioritas untuk diperbaiki, dan hal ini harus didukung oleh instansi yang terkait.

  6. wew…cerita ibu ini makin membuat pedih. Saya merasakannya sejak kecil dan sebenarnya kejadian2 yang berlangsung sejak tahun 90an itu sudah berawal dari tahun 78an. Sayangnya memang tidak ada yang tanggap.
    Btw. tinggal di madiun atau dimana ya, PGnya kog sampe tujuh ?

  7. Dikelilingi 7 pabrik gula? wah wah wah, istilahnya sapta marga dong, eh sapta pabrik gula ding hehehe.

    *kalau di magelang dikenal juga dengan panca arga, alias dikelilingi 5 gunung.

  8. Marmotji,
    Salam kenal…iya saya dari Madiun. Berarti mas/mbak Marmotji dari Madiun juga, kok tahu?

    Anjar,
    Kan memang pulau Jawa merupakan daerahnya Pabrik Gula, karena tanahnya cocok untuk ditanami tebu. Tapi itu dulu…kata adikku, PG di pulau Jawa yang udah ditutup 65 buah….dan di Madiun tinggal 3 yang aktif .

  9. terimakasih atas keprihatinannya….saya salah satu staff di SF dimadiun. saya sepakat revitalisasi SF namun ada satu hal yang mungkin perlu diinfokan. SF bukan lah penghasil gula tapi hanya mengubah bentuk cair gula menjadi kristal…jadi pabrik gula yang sebenarnya adalah dikebun (on farm/plant). tebu zaman dulu potensi (kandungan) gula dlm tebu berkisar 15-18% ketika digiling bisa mendapatkan rendemen (gula) 10-13% kehilangan gula karena proses pengolahan pada zaman dulu berkisar 3-5 %.sedangkan tebu sekarang kandungan gula berkisar 7-9% saat diolah menghasilkan gula 6-8%, dari sini dapat diketahui bahwa sugar lossnya 1-2% jauh lebih bagus dari zaman dulu, ini menunjukkan perlatan PG skrng jauh lebih bagus dari dulu. di SF pulau jawa yang kuno hanya building bukan peralatan prosesnya.menurut saya revitalisasi yang utama harus dimulai dari kebun (budidaya, dst) yang kedua memang peremajaan perlatan beberapa SF yang ketiga adalah PRIVATISASI SF agar manajemen berubah total dan BUMN tidak hanya menjadi penyumbang Upeti Pejabat2 di PUSat (jakarta)

  10. Terimakasih juga atas keprihatinannya. Memang benar kata mas Wiryo, kalau sebenarnya pabrik gula itu ya di dalam tanaman tebu itu sendiri. Pabrik hanya bertugas mengambil gula dari tanaman tebu dengan faktor kehilangan seminim mungkin. Memang dunia pergulaan Indonesia masih prihatin, tetapi tanda-tanda kebangkitan sudah nampak mulai tahun 2004. Dimana gairah petani untuk ikut menanam tebu semakin besar. Dengan adanya rencana revitalisasi di tahu 2009, diharapkan gairah petani tebu semakin bertambah pula. Tentunya harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas dan efisiensi pabrik agar hari giling semakin pendek dan HPP dapat ditekan yang pada akhirnya kejayaan pabrik gula akan seperti pada jaman Belanda dulu.

  11. Mas Wiryo dan mas Saifudin,
    Thanks komentarnya. Memang untuk pabrik gula, produksinya di kebun. Justru masalahnya bagaimana meningkatkan produktivitas kebun, yang sangat tergantung pada hubungan baik antara PG dan petani.
    Mudah2an rencana revitalisasi berjalan lancar.

  12. Hai bu, pakabar, saya mampir lagi… dan lagi-lagi mampirnya ke pabrik diabetes..hehehehehe…Saya dari kecil suka ngeluyur (hehehehe dicangking babe) dari PG Candi sampai PG Mojo di Tegal.
    Wah senang mbaca tulisan yang satu ini.

    Salam sehat ya…

  13. Mas Marmotji,

    Saya dulunya nyaris bergabung di PTP, tapi ternyata terdampar di Bank. Tapi saya tetap pengamat PG, karena saya suka manis-manis, hasil produksi PG.

    Dulu, yang namanya dokter gula sangat terkenal, cewek-cewek bakalan lengket…..sekarang apa masih ada ya istilah tersebut?

  14. Salam kenal. sebenarnya ga sengaja mampir di blog ini, berawal dari cari Artikel Gula di salah satu search engine. Kebetulan saya sedang mengerjakan Revaluasi salah satu aset BUMN, dan saya terlibat di pekerjaan tersebut khusus menangani bidang Industri & mesin. Dari beberapa Industri (Pabrik) yang saya tangani saat ini, 3 diantaranya adalah Pabrik Gula (PG) di daerah sulawesi selatan. Dengan kapasitas produski 3.000 (2 Unit) TCD dan 2.400 TCD.

    Setelah saya baca blog ini, saya langsung teringat dengan para Staf dan Pimpinan di Pabrik Gula yang baru saya (bersama Tim) kunjungi 1 bulan lalu. Ramah, kekeluargaan dan sangat bersahaja menyambut dan menemani saya sebagai tamu beberapa hari disana.

    Kehadiran kami merupakan bagian dari Proyek Revitalisasi Pabrik Gula yang ditargetkan Pemerintah.

    Ada Beberapa hal yang memang harus di benahi baik off farm maupun on farm. Hal itu semua harus bersama-sama dilakukan untuk menjadikan Industri Gula kita menjadi lebih baik.

    salam

  15. Noeroel,

    Salam kenal juga, thanks telah mampir.
    Semoga revitalisasi pabrik gula berhasil, karena PG menyumbang kegiatan sektor ekonomi didaerah….dan jauh sebelum ribut-ribut istilah CSR, PG telah melakukan CSR dengan bukti nyata, terutama meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekelilingnya, membangun masjid, sekolah dsb nya.

  16. senang sekali baca tulisan tentang PG, saya lahir, dibesarkan dan sekarang bekerja di salah satu PG di jateng, memang berbeda kondisi dan situasinya dengan 10 tahun yang lalu, klo ga ada yang peduli dengan PG, mungkinkan tahun 2050 masih ada PG di jawa?

  17. Herry Ki,
    Saya juga termasuk orang yang banyak kenangan dengan pabrik gula. Dari kotaku, kemanapun pergi keluar kota, pasti melalui beberapa pabrik gula. Semoga rencana revitalisasi PG berjalan lancar.

  18. Ibu…semoga revitalisasi pabrik gula tidak hanya pada kondisi fisik pabrik…Semoga Bpk. Fahmi Idris juga berpikir mengenai manajemen Feodalisme yang masih hinggap di Pabrik Gula.
    Proses Pabrik Gula ya begitu itu…tidak banyak yang berkembang…namun manajemen di semua pabrik gula harus diubah jika ingin Swasembada Gula.
    Ibu….saya salah satu putra karyawan P3GI Pasuruan, namun ayahku sudah meninggal taun 1986. Sebelum taun 90-an…P3GI merupakan ikon Pasuruan…seiring dengan morat-maritnya manajemen didalamnya…P3GI sekarang mulai merangkak bangkit dari keterpurukan.
    Ibu….semoga revitalisasi PG tidak hanya sebagai “harapan semu” menuju Swasembada Gula

  19. Ivo,
    Saya juga berharap demikian. Saya pernah ke Pasuruan, dulu BP3G benar-benar dambaan para Sarjana Pertanian untuk bergabung disana. Teman saya saat job training, pernah indekost di perumahan BP3G, di depan Kantor Cabang BRI Pasuruan.

  20. senang sekali membaca cerita2 tentang PG ini karena kebetulan saya pernah tinggal beberapa tahun di kota Madiun yang kaya akan PG nya…
    Saya pernah mendapatkan informasi dari teman yang melihat ulasan PG dan limbahnya di wilayah Jawa Tengah, bahwa limbah-limbah dari pabrik gula itu dapat dimanfaatkan menjadi bahan-bakar alternatif. Adakah diantara teman-teman yang tahu tentang informasi dan data2 mengenai hal tersebut?
    Terima Kasih sebelumnya….

  21. Nita,

    Limbah PG berupa tetes, bisa digunakan bahan baku untuk pembuatan alkohol. Limbah yang tak berguna (tak bisa untuk tetes tebu), bisa digunakan sebagai media campuran untuk menanam jamur, saya melihatnya di daerah Wonosobo ke atas (pegunungan Dieng)…

  22. Saya setuju dengan bp.Wiryo di Madiun bahwa revitalisasi PG bukan hanya di mesin produksinya tetapi justru di perkebunannya
    Ada program swasembada pangan khususnya gula ternyata masih setengah-tengah…faktanya

    1.Petani tebu hanya mendapat pinjaman kredit KKP yang nilainya kecil plus banyak potongan saat dicairkan di PG.Petani langsung terima tanpa membaca isi kontrak kredit karena takut jika tidak setuju akan dipersulit atau tidak menerima kredit.
    2.Pencairan KKP selalu terlambat atau tidak tepat waktu sehingga petani harus membiayai kebun terlebih dahulu untuk pengerjaan lahan,padahal setiap hasil panen dan dicairkan oleh PG petani tidak bisa memetik hasil langsung sebelum dipotong pinjaman kredit KKP
    3.APTR dan PG masih tidak transparan dalam distribusi kredit sehingga petani kecil akan tetap kecil atau tergusur oleh petani besar.
    4.Hasil lelang harga gula oleh PTPN tahun 2007 sangat mengecewakan.sehingga sharing petani hanya kecil itupun hanya 60% dari nilai harga lelang dikurangi harga talangan Rp.4900,- dan PG mendapat sharing 40% dari selisih tsb.
    5.Hasil panen 2007 anjlok oleh pembengkakan biaya garap lahan antara lain
    a.Pengairan dengan pompa diesel.Harga solar
    naik ke Rp.4300
    b.Musim kemarau yang lebih panjang
    c.Biaya tebang,angkut,tenaga naik
    d.Biaya parkir,jalan naik ditambah beban biaya
    melewati jalan desa,lahan atau kebun orang
    atau pajak desa/pajak RT dll
    e.Ada pembebanan biaya karung kepada PTR
    sehingga PG hanya sebagai pengolah dan
    ada kemnungkinan PG “NEBENG”mengolah
    tebu TS dengan dibiayai oleh PTR ???
    f.Nilai jual Tetes masih rendah,tidak ada usaha
    untuk peningkatannya

    Kondisi petani gula diperburuk oleh beberapa hal antara lain:
    1.Tidak mendapat bagian jatah pengairan dibanding dengan petani padi
    2.Sedikit tenaga yang mau bekerja di kebun tebu
    3.Nilai sewa lahan yang tiap tahun naik hampir Rp.500rb- Rp.1jt per Ha
    4.Administrasi di PG belum berkerja efisien contohnya pengambilan cairan PTR masih dilayani diloket-loket PG yang antri yangmana sering terjadi tambahan biaya kepada petugas walaupun sifatnya sukarela namun petani khawatir jika tidak memberikan “angpo” nantinya dipersulit

    begitu kompleknya masalah hingga perilaku kecurangan baik yang tejadi dilapangan maupun di administrasi sehingga bertani tebu kurang menguntungkan dari tahun ke tahun

    Pemerintah bahkan tidak tegas dan bertindak jika ada import gula illegal,gula rafinasi yang membanjiri pasar …kenapa tidak memberdayakan petani tebu dan merevitalisasi PG agar bisa mensejahterakan petani,rakyat….tetapi selalu cara instant dengan import…yang pasti menguntungkan beberapa pengusaha import…sungguh berat jadi petani tebu!!!!!

  23. Salam kenal…

    Saya memang bukan orang yang secara langsung terlibat dalam industri gula. Tapi tugas kuliah menuntut saya untuk terus mikirin masalah gula dari semester awal sampai tugas akhir.

    Indonesia kita ini hampir selalu telat mikirin dan mengikuti perubahan sih, selalu terbiasa nyantai dan nerimo opo onone wae… ya jadinya begitulah nasib pabrik gula Indonesia…seadanya. Padahal petani adalah manusia2 yang logis, yang butuh berhitung keuntungan untuk makan, syukur2 kalau ada kelebihan bisa buat naik haji. Nah, kalau petani tidak merasa cukup diuntungkan dengan menanam tebu, ya sudah pasti petani males nanam tebu… mungkin buat petani lebih anak nanam anthurium ya…

    Oya, istilah dokter gula masih ada Bu…dan masih bikin cewek2 lengket…mungkin karena gaji dan bonusnya yang gede biarpun pabriknya tidak berproduksi maksimal…hehe.

    Gula memang manis ya Bu… Manisnya selalu menarik untuk dibicarakan.

  24. Winda,
    Salam kenal juga.
    Thanks kunjungannya. Zaman saya remaja dulu, dokter gula merupakan impian calon mertua… hehehe. Setelah lulus saya sempat berpikir mau masuk ke PTP, tapi akhirnya malah nyasarnya jauh di luar bidang ilmu.

  25. Saya salah 1 karyawan PG. Era sebelum 1998 dan setelah 1998 sangat bertolak belakang. Dibutuhkan manajemen yang beritikad baik dengan didukung Pemerintah.

  26. Priyo Saptono,
    Yup, setuju……butuh kepemimpinan yang kuat, beritikad baik dan didukung pemerintah (sebagai owner)

  27. maaf numpang tanya, ada yang bisa ceritain ndak tentang proses pembuatan gula di pabrik gula? hehehe,,, makasih

    Yu_doet
    Saya mempunyai beberapa teman yang bekerja di pabrik gula, juga di Badan Penelitiannya. Mudah2an ada yang menanggapi permintaan mu, tapi rasanya sulit kalau dijawab lewat email atau melalui blog, karena prosesnya panjang. Kenapa anda nggak magang atau kerja praktek di pabrik gula aja sekalian, supaya tahu prosesnya dengan benar, ketemu dengan orang-orang nya langsung dilapangan….

  28. wah semakin rame FORUM INI.yu doet kalo mau tau proses di SF bisa email saya, insyaAlloh saya bantu. Pak riswanto, saya sepakat sampeyan. selain revitalisasi saya juga ber angan angan untuk holding BUMN perkebunan Gula, biar tata niaga gula lebih mudah, tidak terlalu banyak direktur dan yang penting MANAJEMEN FEODAL di bersihkan sampai ke BAWAH.
    Mohon doa dan support teman2 agar SF dan Stakeholder bisa lebih sejahtera

    Wiryo,
    Thanks atas kesediaannya untuk berbagi. Semoga yu doet membaca komentarmu ini.

  29. aku asli kota jember-jatim, sejak lahir procot aku dah akrab dengan aroma tetes,gula karena aku tinggal dikomplek perum PG. Semboro. Aku entah terlalu kuper atau gimana gak berani bercita-cita muluk2, aku pingin jadi sinder di pabrik gula. Tahun 2005 aku ikut test PTPN.VII di bandar lampung, nasib berpihak kepadaku,aku ditrima dari sekitar 4000-an peserta. orientasi sebulan di PG.cinta manis palembang, sebulan di PPKS Bekri. Oktober 2007 aku diangkat jadi sinder di PG.cinta manis dg Golongan III A/2, wah berarti terwujud dong…cita-citaku…..

    Aris,
    Syukurlah pekerjaanmu sesuai yang di cita-citakan dulu.
    Tak semua orang menikmati karunia tersebut.

  30. semenjak saya di PG,beberapa orang staf yang saya kenal,bermacam2 sifat nya da yang suka ngecengan,da yang sok tinggi pangkat nya,da yang baek ma karyawan nya.tapi yang saya ketahui banyak yang suka cari nama.

    Bendol,
    Setiap manusia memang mempunyai karakter masing-masing, ada yang buruk dan ada yang baik…diperlukan kemampuan untuk bisa menyikapinya.

  31. saya membutuhkan banyak informasi mengenai mesin2 PG, kalo ada silahkan email : ganteng2007@gmail.com

  32. Pabrik gula…
    Teringat lori-lori tebu yang melintas di tengah sawah…
    Di Madiun juga saya kecilnya :)

    Ardianto,
    Jika pernah tinggal di Madiun, tentu masih teringat rel kereta yang akan digunakan untuk mengangkut tebu dari sawah ke pabrik gula.

  33. saya siswi MAN Tambakberas jombang, phi saya asli cah ngawi. Saya tertarik untuk meneliti pabrik gula di jombang, krn saya pikir pertanggungjawaban pihak pengelola pabrik terhadap limbah yg dhslkannya msh sgt minim.untuk itu saya b’terima kasih kpd sdr atas infonya. Btw, dptkah saya b’cakap2 dngn sdr melalui e-mail sdr?Saya ingin mengetahui seluk beluk pabrik gula jombang. Thanks toek infonya.

    Vieta,
    Coba baca tulisanku, juga jawabanku atas pertanyaan sebelumnya, saya bukan dari pabrik gula. Mungkin Vieta lebih memahami jika membaca tentang latar belakang saya pada “about”…..jadi saya sekedar mengetahui pabrik gula, karena dilahirkan dan dibesarkan di kota yang dikelilingi pabrik gula, dengan kebun-kebun tebu nya.

  34. Wah, ternyata banyak juga yang tertarik dengan Pabrik Gula yach. Khususnya yang berbahan baku Tanaman Tebu. Sekedar informasi, bulan ini PG-PG sudah memasuki masa giling (produksi). Di tempat saya, mulai giling 16 Mei 2008. Sekarang kapasitas harian sudah sekitar 3300 TCD dan rendemen harian sudah kepala 8. Semoga harapan untuk mencapai rendemen rata-rata 8.7 bisa tercapai. Pastinya akan berimbas ke peningkatan kesejahteraan petani tebu, dan gairah untuk menanam tebu akan semakin kuat. Amin.

    Safiudin,
    Saya berharap PG kembali pada masa kejayaannya…..

  35. Dokter Gula itu istilah jaman dahulu kala, sekarang namanya “Chemiker” atau kalau di tempat Cak Aris Afandi sekarang diubah lagi jadi Sinder Pengolahan, wah kalau ada yang mau bagi2 pengalaman tentang teknologi gula saya juga mau…he3

  36. Cak andiyan kog sok kenal diriku…..he…he….emang kita tetangga ya…sampeyan kutilang no.9 aku kutilang no.10,”tonggo gandeng pager” ,kalo jaga bareng senengnya minta uap bekas 1 kilo,biar evaporatornya anteng,brixnya 64…tak kasih “susuk” 1,5 kilo biar “nggebres” uap bekasnya.he..he..ya begitulah Chemiker ama masinis kalo jaga bareng…

  37. kebetulan saya terseret kedlm goni gula,wah ternyata didlm banyak kawan2 yg mengerti baik cara penbuatan gula dan juga sering masuk dan melihat batang tebunya,sehingga saya tertarik ingin membuat pabrik gula pasir yang kecil,kira2 100-150 kg perhari,apakah dalam hal ini ada kawan2 yg bisa membantu saya,terima kasih atas bantuannya, dari sayed djamaluddin di sabang aceh.

  38. Bang Sayed Djamaluddin, mohon maaf, yang anda maksudkan pabrik gula kecil tersebut yang berbahan baku tebu atau dari raw sugar (rafinasi) ? Kalau dari tebu, saya rasa tidak ekonomis karena membutuhkan unit mesin giling yang kapasitasnya 2,5 TCD, Boiler mini yang menyediakan uap sekitar 75 kg/jam, mesin-mesin pemurnian, evaporator, vaccuum pan, sentrigugal, dll yang harus dibuat khusus untuk skala mini. Saya belum pernah dengar ada peralatan-peralatan yang dibuat untuk skala kecil tersebut. Mungkin untuk keperluan khusus seperti itu anda bisa konsultasi dengan LPP (Lembaga Pendidikan Perkebunan). Di Medan juga ada, tapi yang berpengalaman dengan pergulaan adalah LPP yogyakarta.

  39. 5 tahun belakangan ini 3 PG. di sulawesi selatan mengalami masa suram (PG. Bone, PG. Camming, PG. Takalar),setiap tahun yang dihadapi hanyalah kegalalan produksi dan menghasilkan kerugian di akhir musim giling,hal ini sudah pasti berimbas pada menurunnya kesejahteraan pegawai ke tiga PG. tersebut. Menurut informasi dan pengamatan saya sebagai pemuda yang besar di lingkungan PG, hal ini disebabkan kurang beresnya manajemen di jajaran direksi,mereka sibuk berebut kedudukan dan uang yang berujung pada ditetaskannya kebijakan yang tidak berpihak pada karyawan di unit PG. Pembelian alat tanpa diskusi mendalam dengan orang untuk mengetahui kebutuhan dilapangan, hal ini membuktikan keberpihakan para pembesar PG pada importir yang mengeruk keuntungan dari selisih hasil penjualan alat-alat pertanian yang akhirnya hanya menjadi barang rongsokan dan bernilai tidak lebih dari seonggok besi tua.Saat ini ada pihak investor (RAJAWALI)yang peduli akan kemajuan PG. dan menggelontorkan dana besar untuk meningkatkan produksi, tetapi dasar para birokrat PG. yang takut kehilangan lahan basahnya sehingga memberikan ruang gerak yang terbatas pada investor ini yang tidak diragukan lagi kompetensinya.PG. tidak akan pernah maju selama orang-orang yang duduk di puncak tidak mau membuka diri terhadap kemajuan dari pihak yang peduli akan kemajuan PG.dan selama mereka itu sibuk memperkaya diri, PG. hanya akan menderita kerugian bahkan tidak mustahil akan ditutup.Tragis memang tapi itulah kenyataannya.Salam pembebasan Dari BArisan BEringin MErah 17……Was

  40. punten boleh nimbrung? perkenalkan saya wardhi, saya masuk ke lingkungan industri gula baru 3 tahun, diawali di LPP yogya, sekarang bekerja sebagai engineer di PT NTP Bandung.

    kalau boleh komentar masalah pabrik gula yang ada di indonesia (terutama milik PTPN) hanya 1 kata SEDIH….. kalau kita flash back ke belakang sekitar awal 1900an indonesia adalah salahsatu negara penghasil gula terbesar, sampai-sampai tetangga kita australia belajar ke indonesia. pada masa jayanya P3GI pasuruan banyak menghasilkan temuan-temuan yang berguna bagi industri gula baik dari bidang tanaman, proses maupun pengolahan limbahnya. tetapi sekarang????
    ada juga LPP (lembaga pendidikan perkebunan) jogja yang merupakan “sekolah” orang pabrik gula sekarang juga sudah mulai “kehilangan arah” karena pengkaderan yang lamban….

    jika pemerintah ingin membenahi industri gula, tidak usah jauh-jauh studi banding ke cina, thailand, maupun brazil. di lampung terdapat beberapa pabrik yang bisa dijadikan contoh. lampung yang tanahnya tidak sesubur jawa, rendemen tebu bisa mencapai 10-12%, bandingkan dengan PG milik PTPN yang hanya berkisar antara 5-8%

    yang paling penting dan mendasar adalah perbaikan SDM. awal bulan kemaren kebetulan saya mendapat tugas dari kantor untuk troubleshooting steam turbine di PG Bone sulawesi selatan. waktu lihat tebu yang masuk di cane cutter 1 ngeri rasanya, banyak batu seukuran kepala manusia yang ikut masuk di CC1. setelah saya mencari informasi kenapa hal itu bisa terjadi saya kaget. ternyata orang pabrik sendiri yang (sengaja) melakukannya. karena kecepatan tebang tidak seimbang dengan kecepatan giling, maka bagian tanaman mencari cara bagaimana agar mereka ada kesempatan “mengejar” kecepatan giling. akhirnya bermacam cara mereka lakukan mulai dari memasukkan batu, kerikil, batang kelapa, potongan besi etc. akibatnya bisa diduga. cane cutter hancur, gilingan rompal sehingga pabrik berhenti giling….

    pengen rasanya kembali ke awal tahun 1900an dimana industri gula kita menjadi salahsatu “kiblat” industri gula dunia.
    Amien….

  41. halooo semua, boleh gabungya??? nama saya temon, saya baru setahun masuk kedunia perindustrian gula. sebagai karayawan baru di salah satu PG dilampung. saya bekerja di bagian departement factory, saya ingain belajar banyak dari sdra2 sekalian.

    klo boleh komentar, saya sejutu dengan komentar pak wardhi on Agustus 26, 2008. mengenai PG PTPN, rasanya sangat tragis sekali.

    untuk masalah study banding, gaperlu jauh2 ke negeri sebrang. perindustrian gula di Lampung saya rasa cukup baik. seperti PG GMP, mereka sanggup giling dengan kapasitas 14000 TCH, jika dibanding dengan PG yang ada di indonesia, itu sudah mencapai kapasitas tinggi. so,,, ga perlu jauh2 ke luar negeri, dan gak perlu keluar kocek banyak2. ya kannnnnn??

  42. ah skr petani tebu bangkrut cuma petani yang besar yang diutangi kkp yang besar nggak punya lahan tebu yang diutangi s/d 3 milyar spt di pg rejosari magetan yg ngenplang nggak nyaur

  43. Creita masa lalu yang indah
    Saya dibesarkan di pabrik gula dan ikut orang tua pindah dari satu pabrik gula ke pabrik gula lainnya.
    Setelah saya besar serta mendalami bidang teknik dan bekerja di bidang proses.
    Sayang sekali jika kondisi pabrik saat ini. Dari pengalaman maslah di pabrik gula adalah :
    1. SDM
    2. Budaya Kerja
    Jika dua aspek itu diperbaiki saya yakin menjadi baik.
    Contoh yang baru saja saya ketemu adalah BRI dengan perombakan SDM dan Budaya kerja. Saat in BRI berubah total dari berbagai aspek. (saya dapat cerita dari sahabat saya yang saat ini di BRI dan merupakan salah satu pionirnya)

  44. bu En, tak sengaja saya baca block anda.
    Teringat saya masih smp dulu, rumah juga dekat PG, kadang habis sekolah cari tebu (nggak mau ditulis CURI tebu) dekat PG Purwodadi. Tebunya masih tebu thek. Tahu kan?
    Setelah dewasa dan tua, saya selalu beli tetesnya, untuk material pabrik kami tempat bekerja sebagai tukang insinyur. lho sekarang, sudah / mau pangsiun, ndilalah kersaning Allah, saya kok tertarik menanam tebu, sambil diminta cari material lain selain tetes. Kalau krismon ini cepet teratasi, tetes pasti sulit dicari, banyak yang diexport. So cari bahan lain, eh ketemu bu En. Di Indonesia ada nggak tebu yang tidak (bisa) dijadikan gula (kristal)?. Bagus untuk material kami. Tolong ya, temen2.

  45. Ass, pengen nimbrung nih boleh ya ??
    wah jadi tambah semangat nih melihat banyak juga yang peduli sama PG. jangan sampe PG gula yang ada sekarang menjadi tinggal kenangan. Revitalisasi PG syarat mutlak untuk ketersediaan gula di dalam negeri. jangan sampai gula menjadi barang langka dinegeri yang justru potensi alamnya sangat mendukung untuk menanam gula seperti jawa. Mudah – mudahan rencana revitalisasi pabrik gula segera terwujud. Saya pernah ke PG tjepiring Kendal, PG tsb mulai dihidupkan lagi dengan adanya investor yang join dengan PTPN IX..mudah2an PG akan bisa besinar lagi seperti dulu sehingga rasa gula akan manis kembali…

    tUK Pak wiryo SF, boleh saya minta proses produksi di SF ya ?? email saya di imamagungp@yahoo.co.id..terimakasih pak..

  46. hallow…………….
    kalo boleh tw syarat2 menjadi pegawai di pabrik gula apa saja syaratnya?truz apakah anak yang menjadi pegawai pabrik selalu diutamakan,saya kan gk anak pegawai pabrik,truz di smkn3 jmbg da perkuliahan khusus teknik pergulaan lhoch…….

  47. Berbincang2 hal dunia per-gulaan adalah membawa alam pikiran yang semuanya serba maniez sesuai rasanya..mulai dari ujung utara pulau sumatera kala itu sudah terdapat PG Cotgirek (Aceh) merambah hingga ke tengah pulau sumatera (terdapat PG PTPN dan PG Swasta) sampai lampung pangkal pulau sumatera saat ini sudah terdapat PG Sugar Group, GMP ect, (pabrik gula serba modern/swasta) dan menyeberang ke pulau borneo kala itu terdapat PG Pelaihari (PG PTPN) dan kembali ke tanah Jawa mulai ujung barat, DI Yogjakarta, Jateng hingga Jatim (terdapat puluhan PG PTPN, PT RNI sampai PG swasta) menyeberang kembali ke pulau celebes mulai ujung celebes terdapat PG Gorontalo hingga pangkal selatan celebes terdapat PG PTPN….dan dilanjutkan rencana swasembada gula nasional (era Alm. Soeharto) survey lokasi PG untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (Sumbawa Besar-Bima) hingga ke Timor Timur (sekarang jadi negara tetangga). Untuk saat malah pemerintah akan mengembangkan swasembada gula ke wilayah timur Indonesia seputaran Irian Jaya-Papua pada wilayah atau distrik kuranglebih 40 ribu ha…….itulah sekelumit sejarah PG Indonesia kala itu hingga saat ini yang masih ber-operasi (hanya bisa kita hitung dengan jari kita) dan rencana2 pemerintah kala itu hingga saat ini.
    Pada intinya semua itu untuk menjadikan NKRI kembali menjadi negara penghasil gula dan masuk dalam jajaran negara2 lain yang memiliki nilai produksi juga angka rendemen yang spektakuler………bagaimanakah caranya agar negara kita memiliki nilai produksi dan rendemen yang spektakuler, seperti Brazil, Austrlia, Afrika dsb serta sebagai negara yang pintar dan cerdas kembali seperti semula dapat menghasilkan varietas2 atau jenis tebu unggul seperti kala itu (seperti : Mauritius negara penghasil varietas tebu yang tahan banting terhadap iklim di Indonesia maupun negara lain dan semua PG di Indonesia (era tahun 1970-1990) pernah menanam varietas dari Mauritius dengan nilai produksi juga rendemen terbaik kala itu)…..sebenarnya jawaban keberhasilan untuk suatu proses produksi hingga mencapai angka diatas 10 dengan predikat suma cumlude dalam artian rendemen diatas 10 maka jawaban kuncinya adalaaaah……..bersatu untuk menyatu dengan didasari kesadaran, pengertian untuk mencapai tujuan bersama swasembada gula nasional kita bukan egoisme, negatif thinking, atau idealisme dan lain sebagainya….kenapa kita kala itu bisa memiliki predikat sebagai lumbung gula nasional dan bisa meng-ekspor gula kita (baca dan lihat pada Majalah Gula Indonesia (IKAGI) karena kala itu kita bersatu untuk membangun dan saling mengisi….naaaah saat ini hal itu sangat amat sulit kita dapatkan dan langka.
    Jadi bukan revitalisasi kuncinya tapi bersatu dulu duduk bersama, berdiri bersama dan berjalan bekerja bersama maka terwujudlah hasil revitalisasi PG kita di Indonesia karena SDM kita juga ter-revitalisasi untuk menyatu….bagaimana kira2 Bapak2 dan Ibu2…mhn maaf lho bila ada kata2 yang kurang ber-kenan mengingat jaman ortu kita dulu sembako murah dan terjangkau….salam hangat dan semangat untuk semua pemikir dan pekerja pada PG-PG di Indonesia.
    (penulis: aktif bekerja pada PG)

  48. rame juga blog ini … maaf saya mampir karena kebetula ada teman cerita bahwa di sulsel bakal didirikan pg rafinasi.
    terus terang saya SEDIH dengan kondisi pabrik gula …. tapi apa hanya SEDIH saja yang bisa diucapkan?

    saya kok tidak setuju ya dengan adanya statement bahwa di PTP menerapkan menajemen feodal (?) … itu artinya anda hanya denger sepintas lalu di kulit doang! kenapa kok gitu? ….. karena k/l 10 tahun ini saya di dalam pabrik gula …. dan saya tidak merasa adanya feodalisme yang berkembang! … suer!!!!

    tapi ada satu pertanyaan yang susah untuk saya jawab kemaren waktu bertemu patra bos di kantor pusat …… apa itu? ….. gini pertanyaannya : BISA GAK KAMU BIKIN PABRIK GULA YANG RUGI JADI UNTUNG???

    BISA PAK (with UNDERLINE and BOLD)

  49. Bu Edratna mohon ijin untuk bergabung disini.

  50. Pak Ndaru San perkenalkan saya surya, tulisan bapak pada tanggal 14 pebruari kemarin tentang di sul-sel dibangun pabrik gula rafinasi memang benar, saya berdomisili di sul-sel.
    kelihatannya bapak pemerhati PerGulaan. apa bapak dinas di perkebunan?

  51. Nuwun sewu, ikut nimbrung.
    Yang paling penting adalah mendiagnosa dari permasalahan. Diagnosa permasalahan yang benar akan memperlancar proses / arah perbaikan yang sesuai rel-nya. Namun sebaliknya salah dalam menentukan diagnosa akan salah dalam menentukan obat, dan tak jarang malah menimbulkan permaslahan yang baru.
    Revitalisasi pabrik gula mungkin adalah salah satu usaha pemerintah kita dalam mengembalikan kemampuan swaswembada gula kita, terlalu sangat jauh kalau untuk mengembalikan kejayaan industri gula kita pada masa lampau. Masih banyak pekerjaan rumah yang terlalu complicated.
    Sebenarnya dalam industri agro atau industri yang berbasis agro, ruh / nyawa dari industri perkebunan adalah bidang tanaman / bahan baku. Namun dalam revitalisasi tahun 2009 ini yang banyak digarap projectnya adalah yang berkaitan dengan pabriknya yang dianggap kurang efisieanlah, mesin2nya jadul dll, tapi ingatkah kita bahwa dengan mesin-mesin yang seperti itu, pabrik2 yang jadul itu ternyata belanda dapat memanage nya sehingga kita bisa menghasilkan gula yang putih, rendemen pengolahan nya juga sampai 12%. Namun lihat di kebun tebu, jaman kita masih kecil2 dahulu, bagaimana kita lihat kebun tebu yang sangat rapi, tebu tegak2, malah kita bisa petak umpet di dalam jalur2 tanamn tebu tsb, sedangkan sekarang dengan pabrik yang lebih baru, malah ada yang otomatis segala, beberapa pakai turbin uap yang harganya selangit, memakai ketel tekana tinggi, namun lihat di kebun tebu yang tumbuhnya kelihatan seperti tidak rapi, malah untuk masuk saja ke dalam susah nya.
    Yaaah mudah-mudahan informasi ini dapat menjadi inspirasi dalam mengambil keputusan.

  52. kalau ngomong tentang pabrik gula jadi inget pernah PKL di sebuah PG Gula daerah Pati beberapa tahun lalu, dengan kantor yang klasik orang2nya juga klasik, lori2 baik yg terparkir maupun yang mengangkut tebu. Wah kangen juga sih…

  53. Buat Mrs/Miss Floranida apa pabrik gula yang dimaksud adalah pabrik gula Trangkil? Atau pakis Baru?. tahun berapa?

  54. Menurut catatan sejarah pergulaan indonesia mulai berdiri pada jaman Belanda sampai saat ini memang produksi gula indonesia semakin jauh menurun. Dulu bukan hanya produksi gula secara keseluruhan yang jumlahnya banyak, tetapi angka rendement tebu sangat tinggi. Pabrik sebagai pengolah tebu bukan sebagai alat produksi gula. Artinya kandungan gula itu terdapat pada tebu itu sendiri. Kualitas Tebu yang baik adalah yang memiliki kandungan gula tinggi per satuan berat. Gula yang terkandung dalam tebu adalah hasil dari cara budidaya tananman tebu. Pabrik pengolah bertugas untuk mengambil gula dalam tebu sebanyak-banyaknya. Dalam teknologi pengolahannya sangat terukur, berapa kandungan gula dalam tebu yang sebenarnya, berapa yang hilang dalam proses mulai tebu ditebang sampai didapatkan gulanya dap-at diketahui. Indonesia pernah menjadi Gurunya produsen Gula di dunia. Bahkan rumus-rumus dalam teknologi pabrik gula banyak yang di buat oleh para Ahli Gula Indonesia jaman dulu.
    Permasalahan utama saat ini adalah bagaimana cara Budidaya tebu yang benar. Petani tebu kebanyakan berorientasi pada Berat Produksi Tebu per Hektar. Yang sebenarnya adalah berbudidaya tebu dengan orientasi Berapa kandungan Kristal Gula Dalam Tebu. Dengan orientasi pada Berat tebu per Hektar akhirnya yang diutamakan tebu dengan tampang Besar, Tinggi, Banyak. Segala pupuk kimia/an-organik begitu pesatnya yang intinya pupuk tersebut adalah meniru unsur hara dalam tanah dan diformulasikan dengan menentukan jenis pupuk dalam bentuk pupuk kimia yang dibutuhkan tanaman tebu. Tampaknya harus dikaji dan di budidayakan menanam tebu dengan cara lama dengan menggunakan pupuk organik. Back to Nature, Back to Basic. Apalagi semakin lama tanah kebun tebu semakin kurus, semakin kurang unsur hara yang komplit.


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: