Sebagai orang yang dilahirkan , dan tumbuh besar di daerah yang dikelilingi 7 (tujuh) buah Pabrik Gula (disingkat PG), maka kehidupan para petani tebu dan masyarakat yang hidup di kompleks PG merupakan pemandangan sehari-hari. Jika musim giling tiba, kehidupan kota saya dimulai dengan bunyi sirene PG, yang jarak PG terdekat sekitar 4 km dari rumah.
Pada masa kecilku, kehidupan di kompleks PG merupakan kehidupan yang terlihat tak pernah dirundung susah. Para pegawai PG mendapat gaji yang lumayan, para Staf PG mendapat perumahan di Kompleks PG, rumahnya besar berlangit-langit tinggi, dikelilingi pekarangan luas yang penuh dengan tanaman bunga. Anak-anak staf PG setiap hari sekolah diantar jemput oleh bis milik PG. Untuk keperluan belanja, seminggu dua kali ada bis yang mengantar para ibu untuk berbelanja ke kota. Kebetulan teman adikku yang kost dirumah, ayah nya bekerja di PG. Sedangkan saya sendiri sering mengunjungi kompleks PG karena teman sekelasku di SMA ada yang ayahnya bekerja di PG. Saat masih SMP, saya sering diundang ikut menari pada pembukaan musim giling tebu, yang biasanya dirayakan dengan tari-tarian, dan hiburan wayang orang.
Selain gula, hasil sampingan PG adalah tetes, yang merupakan bahan baku industri alkohol. Di satu sisi, randemen yang masih rendah atas hasil gula, menguntungkan industri alkohol, karena bahan baku untuk membuat alkohol akan menghasilkan produksi yang kualitasnya lebih baik.
Sedikit banyak, kehidupan PG memberi inspirasi untuk melanjutkan kuliah di IPB, disamping saya senang menanam bunga. PG merupakan industri yang unik, karena hasil produksi gula berasal dari tebu, yang luasan tanahnya tak sepenuhnya dimiliki oleh PG. Areal tanah yang ditanami tebu sebagian besar menyewa dari petani, yang berada disekeliling kompleks PG. Jadi PG menyewa tanah petani, yang akan berselang seling ditanami oleh tebu dan padi secara bergiliran. Pada musim panen tebu, PG membangun rel sementara, untuk mengangkut tebu yang telah ditebang ke pabrik , dan melewati daerah sekitar rumahku. Pada saat ini anak-anak kecil menunggu lori (kereta yang mengangkut tebu) lewat, karena mereka ingin ikut mengambil tebu yang dibawa lori. Kebiasaan ini sangat berbahaya, karena sering terjadi kecelakaan, namun anak-anak selalu mengaulangi perbuatan itu jika musim panen tebu tiba.
Sewa tanah dari petani pada beberapa belas tahun lalu tak ada masalah, karena ikatan hubungan yang istimewa antara petani dan PG. Namun kondisi ini sekarang telah berubah, sejalan makin banyaknya tanah yang beralih fungsi menjadi bangunan, karena pembukaan jalan-jalan tembus, yang melalui areal persawahan. Di satu sisi, petani sekarang telah berani menyatakan pendapatnya, dan menuntut harga sewa lebih tinggi.
Mesin-mein PG sebagian besar masih merupakan mesin-mesin lama, yang menyebabkan hasil randemen tebu tak sesuai yang diharapkan. PG saat ini juga kurang terawat, dan menjadi pegawai PG bukan merupakan kebanggaan lagi. Sedangkan para Sarjana baru, yang dulu tertantang untuk masuk sebagai staf PG, dan nanti dapat meningkat posisinya sebagai administratur, saat ini menjadi staf di PG bukan merupakan prioritas utama, karena ada pilihan-pilihan lain yang lebih baik.
Kompas tanggal 20 Juni 2007 memberitakan, bahwa saat ini sebanyak 52 PG di seluruh Indonesia, sebagian dalam kondisi memprihatinkan, dan membutuhkan dana untuk di revitalisasi. Langkah ini diperlukan untuk mendukung swasembada gula tahun 2009. Fahmi Idris memperkirakan, dibutuhkan dana Rp.3,46 triliun untuk melakukan revitalisasi 52 PG tersebut.
Revitalisasi PG memang diperlukan, namun tetap harus dinilai kelayakannya, karena kondisi sekarang sangat berbeda dibanding puluhan tahun silam, saat PG masih berjaya. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Adanya luas kebun tebu yang mencukupi. Disadari, hampir semua PG menambah areal tanaman tebu dengan cara bekerjasama dengan petani setempat. Lahan ini sekarang banyak yang telah mengalami perubahan fungsi, karena adanya pembangunan kota yang semakin ke pinggir, menyebabkan menurunnya areal tanam, atau beralih fungsi menjadi areal perdagangan.
- Ketersediaan tenaga kerja. Mendapatkan tenaga kerja didaerah setempat saat ini bukan hal yang mudah, karena tenaga kerja muda banyak yang ingin bekerja di ibukota propinsi, atau bahkan menjadi TKI di luar negeri.
- Lokasi. Lokasi PG pada umumnya di kota kecamatan, bahkan PG banyak berada di pinggir jalan raya, yang menghubungkan kota kecamatan dengan kota-kota lainnya. Awalnya pembangunan PG dipinggir jalan raya untuk memudahkan distribusi barang dari pabrik ke tempat-tempat lain, namun karena terjadi pelebaran jalan terus menerus, banyak areal PG yang tanahnya makin sempit.
Dari bahasan di atas, revitalisasi PG perlu dinilai kelayakannya, dengan tetap memperhatikan ketiga faktor di atas. Keberadaan PG tetap diperlukan, agar dapat menciptakan swasembada gula.
