Oleh: edratna | Agustus 31, 2007

Rumah seperti apakah yang menyenangkan?

Pertanyaan ini selalu menggelitik, bagaimana kita menata rumah agar menyenangkan? Katanya penataan rumah menunjukkan karakter pemiliknya, sama seperti cara kita berpakaian.

Saya pernah membaca di artikel, bagaimana cara menata rumah, tapi pada akhirnya adalah tergantung pada pemilik itu sendiri. Saya menyenangi rumah yang hangat, tertata rapih (pada dasarnya saya senang kerapihan), dan halaman penuh bunga. Pada awal menikah, dan punya bayi laki-laki, serta telah tinggal di rumah dinas, alm ibu berkunjung kerumahku, dan bilang ke adikku…”Kakakmu rumahnya kok nggak ada bunganya, padahal dulu di Madiun dia sangat senang bertanam bunga, dan sibuk merapihkan rumah?” Adikku komentar..” Habis bagaimana lagi, pergi pagi pulang malam, yang lebih utama kan mengurusi bayi, udah seharian ditinggal”

Begitulah, waktu anak saya baru satu, waktu begitu cepat tersita, dan saya harus memilih, membereskan rumah atau mengajak bermain anak, dan saya memilih yang kedua. Setelah anak bisa berjalan, maka rumah yang baru dibereskan, di acak-acak oleh si kecil, dia berkeliling rumah, dan mencoba apa saja yang ditemukan. Suami begitu pula, sehabis membaca koran, bukannya diletakkan ditempatnya, kadang dibawa kekamar, membaca sambil tiduran….dan tertidur dengan bentangan koran…yang udah tak karuwan mana kepala, mana kakinya (istilah saya untuk menunjukkan bagaimana kacaunya koran tadi). Awalnya saya masih mencoba menyapu, mengepel…namun lama-lama saya hanya masih bertahan bahwa tempat tidur harus bersih sebelum kita tidur.

Begitulah rumah saya, semua penghuni menikmati kenyamanan, kadang saya/suami dan anak-anak cuma mengobrol sambil tidur gelundungan di tempat tidur besar….dan tahu-tahu sudah waktu makan siang. Kalau menonton TV, maka yang menonton ganti TV nya, penontonnya sudah asyik menjadi pemain film di dunia mimpi.

Anehnya pacar anak sulungku, menikmati situasi rumahku, dan berpesan…”Bu, nanti kalau udah pindah rumah sendiri, situasinya jangan berubah ya. Rumah ibu justru menyenangkan karena tak terlalu rapih….dan tamunya bebas ingin makan apa saja..” Kenapa calon menantuku bilang begitu? Karena jika hari libur, dan malas memasak..kami tinggal menelepon restoran yang ada disekitar tempat tinggal kami. Dan masalah ini, pernah jadi bahan sindiran bapak mertuaku, karena setiap beliau datang menengok, saya bertanya “Pak, bapak ingin makan apa? Sate, atau….?” Maksudnya saya akan menyuruh pembantu membeli masakan tersebut.

Kondisi rumah saya sudah dikenal juga oleh teman suami. Karena sama-sama sibuk, pernah suatu saat bos suami akan menghadiri suatu acara yang dihadiri Mendikbud di Jakarta, dan saya jelas masih di kantor. Saya hanya pesan ke pembantu, untuk menghubungi salon (karena isteri bos suami perlu menyanggul rambutnya), kemudian pesan makanan dari restoran yang nomer-nomer teleponnya sudah ada. Begitulah, saat saya pulang dari kantor malam hari, acara sudah selesai, bos suami dan isterinya sudah kembali ke Bandung, termasuk suami saya. Saya hanya menemukan tulisan suami, kalau semuanya OK.

Saat ini anak-anak sudah besar, dan waktu saya tanya..”Bagaimana, apa tak sebaiknya kita merapihkan rumah?” …”Tidaaak….”, jawab mereka berbarengan. “Ibu, teman-temanku justru senang ke rumah kita, karena bapak ibu cuek, mereka bebas melakukan apa saja, bahkan kalau lapar dan tak terlalu cocok masakan yang ada bisa bikin indomie atau pesan makanan dari luar. Kalau rumah rapih sekali, kan tidak hangat ibu….kan kita suka gelundungan di kasur?”

Waah…..ya udah, tapi saya tetap menikmati jika berkunjung kerumah teman yang tertata rapih, bersih, lantainya kinclong…Bagaimana menurut anda?

About these ads

Responses

  1. Ass bu,

    Baru 1x buka blog ibu…(setelah diberitahu teman)namun sdh banyak pelajaran yg bisa saya dapat…..

    Kalau untuk saya… rumah yang menyenangkan itu adalah rumah yang selalu “hidup” dalam arti tidak pernah terputus komunikasi antara penghuninya…

    Anak saya 2 orang (usia 6th & 2,5th) kedua-duanya perempuan dan sangat suka bercerita..jadi setiap hari mendengar celotehan mereka membuat rumah menjadi benar2 hidup…jika salah satu pergi/tidur saja..rumah sudah terasa agak sepi

    Disamping itu saya juga suka rumah yang selalu rapi dan bersih, jadi setiap sabtu/minggu pasti saya selalu kerja bakti bersih2 seluruh area rumah….makanya kadang saya yang paling cerewet sama anak or suami jika rumah keliatan berantakan

    jadi rumah yg menyenangkan itu bukan tergantung dari indah/mewahnya suatu rumah melainkan dari “suasana” yang tercipta dari penghuni rumah…

    wass

  2. rumah saya ga pernah rapih. emang dasarnya anak2nya males. Ibu saya juga dah kebal. hehehe…

  3. Mbak Ari,
    Kalau anaknya cewek semua rumahnya pasti rapih. Saya dulu iri sama tetangga, karena kedua anaknya cewek, suaminya juga rapih…jadi rumah terasa indah, tamannya bagus… Namun saya lupakan impian tsb, karena anakku cowok, kalau banyak dilarang, nantinya kurang kreatif. Sebetulnya masalah cuma buku yang menumpuk…padahal saat ini anakku punya ruang kerja sendiri…tapi tetap aja berantakan…walau udah sangat lumayan.

    Tukang ketik,
    Jangan-jangan kita saingan…hehehe…kalau ada kontes berantakan bisa dapat nomer.

  4. Kalau saya suka yang minimalis, makanya lagi mo renov rumah biar nanti siap ditinggalin sesuai kebutuhan.

    Selain terlihat rapi dan bersih, rumah minimalis itu ngga susah ngebersihinnya kan? apalagi saya nanti ngga ada pembantu rasanya, lha wong tinggal sendiri, kerja, dsb, buat apa pembantu… :)

  5. target saya, punya rumah dulu secepatnya bu.. :)

    rumah rapi, juga kesanya hangat koq bu. dan sepakat, bahwa si empunya rumah bisa membuat suasana hangat itu sendiri.

    tapi mungkin kalau udah punya anak beda kali ya.. mabur kabeh impian itu hehe

  6. Assalamu’alaikum,
    Salam kenal ibu, saya salah satu penggemar tulisan ibu, apalagi ttg keluarga dan anak karena saya ibu rumah tangga.

    Saya juga lebih suka rumah yg tidak terlalu rapi dan minimalis, tapi jagoan saya yg baru berumur 2 thn bisa bebas bermain.
    Saya memilih tidak memajang standing lamp yg indah , tidak ada pajangan, apalagi plasma TV, dari pada hati was2, selalu bilang “don’t…”, dan marah2 krn anak pegang kupu2 di TV.
    Rumah yg rapi, kayaknya tinggal mimpi, krn kita tidak punya asisten, dan saya sedang hamil, jadi tenaga terbatas.
    Kayaknya sama deh sama ibu, sekarang yg bisa saya pertahankan adalah kamar tidur dan kamar mandi yg bersih, selainnya he.. he.. he.. mohon maklum.

  7. Orangemood,
    Kalau Andy rapih, dan menikah dengan cewek yang suka kerapihan, dijamin rumahnya akan rapih. Tapi kalau calonmu seperti adikku (adik bungsuku cowok …rapih banget…tapi isterinya tentara yang super sibuk), jangan harap rumah bisa mengkilap.

    Trian,
    Kalau punya anak cowok, umumnya rumah “agak” berantakan, walaupun ada juga yang bisa rapih, jika didukung oleh ayah ibu yang suka kerapihan…bukankah anak suka meniru? Rata-rata temanku yang rumahnya rapih, hobinya tak menumpuk buku….sedang dirumahku dimana-mana ada buku (yang berbeda-beda sesuai hobi penghuninya)…untungnya ga ada di toilet, karena ga dikasih tempat…tapi seneng kok, kalau liburan, keponakan2 datang, dan ortunya ngomel2…gara-gara anaknya nggak ingin kemana-mana…rumah bude banyak buku bacaannya ma…..hehehe

    Mbak Puspa,
    Jangan patah semangat, nanti kalau si kecil udah besar, pelan-pelan rumah bisa rapih kok. Rumahku sih kata orang lumayan, karena si sulung (cowok) udah punya kamar kerja dan ruang belajar sendiri, terpisah dari kamar tidur Sedang ayahnya ruang kerjanya dilantai atas, terpisah dengan anaknya yang cowok…sedang si bungsu lebih banyak di Bandung, ntar kalau kembali ke Jakarta juga mesti dibuatkan ruang kerja sendiri….jadi ruang tamu dan ruang makan (menjadi satu dengan ruang keluarga, berhubung rumahnya sempit)…lumayan memadai (menurut penilaianku lho…hehehe)

  8. saya juga suka gelundungan di lantai bukan di kasur, apalagi si kecil lagi suka mbongkar dan ngegigitin apa aja jadi males beberes, sebenernya suka rumah yang rapih tapi ga terlalu rapih, kotor boleh tapi ga terlalu berantakan hehehehe, kalau masakan saya kok ga terlalu cocok sama masakan orang ya, mending masakan ibu saya atau istri, rasanya gimana gitu :D

  9. Mas Iway,
    Emang gelundungan sama anak tuh nikmatnya tak terkira…bukan hanya saat anak kecil, anak udah remaja dan dewasa aja masih seneng ngobrol-ngobrol di tempat tidur.

    Masakan isteri jelas lebih enak dan higienis…masalahnya sang pengelola dapur suka marah…(“Ibu niku bade nopo to, mbok ngutus kulo mawon”…ibu itu mau ngapain sih, nyuruh saya aja)…hehehe. Jadi saya merasa memiliki dapur saat asisten pada pulang kampung pas Lebaran…trus kata si sulung (jangan bilang ibu ya) ke adikku…ibu ternyata masakannya lebih enak dibanding mbak, wahh bisa-bisa saya makin gendut.

    Nahh…inilah masalahnya, kalau dulu saat anak-anak kecil repot, sekarang udah ada delegasi wewenang, kalau bos turun dapur asisten jadi berpikir bahwa kita tak suka masakannya….hahaha…alasan orang males.

  10. Hihihi..
    Ibu tuh rumahnya gak rapih to…sama dong. Pikiran ku Ibu Ratna rumahnya pasti tertata apik
    Saya paling suka lho bongkar-bongkar artikel lama dan buku-buku ang udah ditumpuk paling bawah…Buat beresin laginya itu malesnya minta ampun…

  11. Kalo keluarga saya suka dengan kerapihan, tapi bukan ya rapi jali. Ya..maklumlah ukuran rumah saya kecil, jadi kalo barangnya berantakan bisa-bisa terlihat seperti kapal pecah he.he.he.
    Kalo urusan baca koran, bisa dimana saja yang penting setelah baca di tumpuk di satu lokasi tertentu.

  12. Sayasaja,

    Kalau rumah rapih banget, anak-anak yang protes, katanya kreativitas terganggu. Tapi cukup rapih kok, tiap hari disapu dan dipel, tapi nggak sampai kinclong (rumah temenku ada yang kinclong banget, lalatpun terpeleset).

    Harrie,
    Tugas membereskan koran adalah tugas ibu dan si mbak (asisten), karena yang cewek kuliah di Bandung. Asisten sudah pandai kliping, nantinya dibendel berdasar area tertentu…kadang-kadang klipingnya berhenti kalau lagi banyak tugas domestik.

  13. Sepakat dengan ibu. Yang penting hangat. Saya bahkan merasa “tersiksa” kalau bertamu ke saudara yang rumahnya yang kinyis-kinyis…..

  14. Siwi,
    Setiap rumah menunjukkan karakter penghuninya. Rumahku tempat persinggahan keponakan kalau Kerja Praktek, atau kalau lagi cari kerjaan setelah lulus kuliah, tempat belajar bersama ( di rumah lama, ada satu ruang untuk belajar, lengkap dengan papan tulis dan ber AC ) untuk geng ibu…hehehe …maupun untuk teman anak-anak. Rumahku pernah menampung 20 an anak-anak ITB teman si bungsu, karena nggak cukup, yang cewek tidur di kamar…dan cowoknya di ruang tengah.

    Rumah di Bandung juga di desain, kalau-kalau ada tamu temen-temen anak atau ponakan yang mampir…yang penting, asal mau seadanya…dan biasanya anak-anak kan lagi doyan-doyannya makan, jadi masakan apa saja tak masalah. Dan karena si Mbak (asisten) udah ikut di rumah sejak anak-anak TK dan SD, maka yang mengurus cukup si Mbak.

  15. kalo dirumah sich gak rapi2 amat yang penting bersih….(ada batita sebisa mungkin bebas kuman)
    Rapi cuma itungan menit (gak nyampe 3jam)
    di rumah lagi banyak buku cerita anak dan mainan. si lucu lagi suka buka2 buku lihat gambar2 binatang beserta ceritanya apalagi kalo ayah bundanya lagi baca udah dech ikutan, mau…mau…bata-bata (baca maksudnya)

  16. Wienur,
    Memang seperti itulah kalau punya anak kecil. Saya juga nggak berani mempunyai hiasan yang gampang pecah, apalagi yang berharga mahal. Daripada nanti pecah, dan kita marah sama anak, kan kasihan anaknya…masak kita lebih sayang benda dibanding anaknya.

    Dan saat anak masih kecil, sebaiknya barang-barang yang membahayakan dipinggirkan, agar si kecil bisa bereksplorasi sepuas-puasnya.

  17. rumah?? hmmmm, justru pertanyaan saya sekarang…kapan saya bisa punya rumah dan dimana? hahahaha…

    bagi saya terlalu berantakan atau terlalu rapi itu ga enak…yang sedang-sedang sajaaaa…tp to be honest, rumahku di kampung itu kurang tertata rapi, banyak barang yang ga dipake lagi dan harusnya dibuang masih menumpuk, pengen rasanya buang semua barang2 itu tapi apa daya sama si empunya rumah (alias ortu) ga boleh hehehehe

    kalau kosan? kadang rapi kadang ancur, apalagi harus berbagi kamar ma temen (untuk menutupi biaya kosan di jkt yang mahal)..tapi tetep diusahakan rapi, apalagi klo moodnya lagi bagus :D

  18. Anto,
    Saya bisa menebak, nantinya rumah Anto akan rapih, asal istrinya juga rapih.

    Suami saya mirip ortunya Anto, juga alm ibuku, senang menyimpan barang-barang kuno, katanya banyak kenangan…padahal kalau yang tak diperlukan dibuang, rumah akan terasa lebih longgar.

  19. mmhh rumah impianku seperti apa ya.. pengen yang ada backyard nya jadi bisa buat barbeque kayak rumahnya Bu Sita Sudjono itu loh hehehe.. inget gak bu … tapi itu statusnya rumah buat berlibur aja sich

  20. Lis,
    Wahh betapa bahagianya kalau punya rumah seperti bu Sita Sudjono….bisa pesta barbeque, mengundang teman-teman…ehh tapi siapa tahu impian Lis tercapai, kan jalannya masih panjang.

  21. Rumah yg asik: ada halaman rumput yg cukup luas utk bermain. Sirkulasi udara lancar dan pencahayaan cukup. Ada ruangan khusus untuk membaca, kontemplasi dan merenung. Tampak luar harus sederhana dan menyatu dengan lingkungan, serta berkesan teduh. Msh banyak lagi…

  22. Mas Budi,
    Selamat bermimpi…semoga nantinya cita-cita mas Budi sekeluarga tercapai. Hmm, betapa mengasyikannya…..halaman rumput luas, dan anak-anak bebas berlarian….

  23. Wah…sepertinya rumah ibu sama dengan rumah keluarga saya. Gak pernah bisa rapi tatpi tetap aja nyaman buat keluarga. Ibu saya sebenarnya lebih suka kalau rapi. Tapi kami tetap aja lebih suka dengan keadaan yang gak terlalu rapi tapi setidaknya bisa ‘hidup’ nyaman. Terlalu rapi malah jadi gak terasa ‘rumah’, jadi kayak di hotel aja. He..he..

    Mina,
    Apaboleh buat, yang penting anggota keluarga merasa nyaman di rumah. Kalau ada keponakan datang lebih heboh lagi, buku-buku berserakan…mereka semua hobi baca.

  24. Bagaimanapun juga, rumah bersih adalah impian semua orang.
    Saya selalu bingung bagaimana cara membersihkan rumah karena terlalu banyak perabotan yang tidak ditata secara rapi.
    Bagaimana ya caranya,,
    menyewa designer interior pasti mahal ya….
    saya sedikit desperate ,hahaha

    blog ibu mengasikkan.enak dibaca.^^

    Marchelia,
    Yang penting rumah tadi menyenangkan bagi semua anggota keluarga…sehingga krasan di rumah. kalau terlalu rapih, malah akhirnya tak krasan dirumah, lha mau apa-apa takut mengotori rumah.

  25. saya suka membaca tulisan-tulisan ibu

    Hmm benarkah? Terimakasih

  26. untuk urusan rapi aku udah angkat tangan ,yg penting sekarang para buah hatiku bisa leluasa berkreasi dirumah kontarakan kami yg mungil sembari bundanya masak disisa2 wkt plg kerja.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: