Oleh: edratna | Oktober 14, 2007

Situasi lebaran di tempat tinggal baru

Pada umumnya, sejak ayah ibu dan ayah ibu mertua telah tiada, kami sekeluarga berlebaran di Jakarta atau Bandung, tergantung situasi. Karena saya anak sulung dari tiga bersaudara, dan suami anak kedua dari sembilan bersaudara, rumah tempat kami tinggal menjadi tempat pertemuan dua keluarga, serta adik-adik yang dari luar kota menginap di rumah kami. Hal ini tak jadi masalah, karena rumah dinas yang kami tempati cukup besar. Namun setelah saya pensiun, dan harus tinggal di rumah sendiri, maka kami mulai memikirkan bagaimana jika saudara berkumpul, maklum rumah kami sekarang berdiri di atas tanah 180 m2, sepertiga dari luasan tanah dari rumah dinas.

Ternyata pada Lebaran tahun ini adik yang dari Semarang berhalangan datang ke Jakarta, dan ingin berlebaran di Semarang. Karena masih baru, kami tak tahu seperti apa situasi lingkungan tempat tinggal kami, apakah rumah cukup aman jika ditinggal kosong. Akhirnya diputuskan bahwa kami berlebaran di Jakarta, dan rumah di Bandung dititipkan ke tetangga.

Pada saat sholat Idul Fitri, kami sholat di mesjid terdekat dari rumah, situasi sangat ramai, panitia bahkan menambah karpet diluar masjid untuk menampung tempat sholat karena di dalam masjid sudah penuh sesak. Syukurlah saya dan anak-anak masih mendapat tempat di dalam masjid. Selesai sholat dan mendengarkan ceramah, ada pengumuman bahwa Ketua RW berkenan “open house” dan disediakan angpauw untuk anak-anak. Kami surprised, karena di tempat tinggal lama, hal seperti ini tak ada. Jadi, selesai sholat Ied, kami sekeluarga berkeliling mendatangi rumah tetangga untuk saling berkenalan dan memaafkan, serta terakhir ke rumah pak RW. Benar, disana sudah disediakan makanan khas Lebaran, ketupat,opor ayam dll……serta angpauw untuk anak-anak kecil.

Apa yang dapat kami simpulkan? Bahwa tempat tinggal kami justru aman saat libur Lebaran, karena pak RW berani membuat pengumuman untuk open house. Padahal di tempat tinggal lamaku, di kompleks perumahan dinas, yang dijaga satpam 24 jam, selesai sholat Ied banyak anak-anak kecil hingga remaja dari kampung sebelah berkeliling, sambil meminta angpauw….dan untuk itu kami sudah menyiapkan uang receh Rp.1000,- an jauh-jauh hari, untuk dibagikan. Bila mereka tahu bahwa rumah ada penghuninya, maka mereka akan menggoncang-goncang pagar, sampai penghuni rumah keluar. Mereka tak mau diajak makan ketupat Lebaran, karena tujuannya hanya mengumpulkan angpauw tadi.

Anak-anak yang berkeliling meminta angpauw ini, tak terjadi di kompleks tempat tinggalku di Bandung. Di Bandung ada tradisi, selesai sholat Ied berkumpul di salah satu rumah warga (bergantian setiap tahun), yang sudah menyediakan berbagai makanan kecil dan minum (biasanya teh botol dan aqua), untuk saling bermaafan. Apabila kami berlebaran di Jakarta, pada saatnya ke Bandung, maka kami harus berkeliling ke tetangga untuk bermaafan.

Dari sini tergambarkan, bahwa walaupun kita tinggal di kota besar, maka gotong royong, saling mengenal tetangga masih ada. Bahkan di kompleks tempat tinggal baruku, satpam berjaga-jaga, dan setelah jam 12 malam di beri portal, dan hanya kendaraan warga atau tamu yang meninggalkan KTP yang boleh masuk.

Memang, keamanan tak boleh digantungkan hanya pada aparat kepolisian, namun warga bisa berpartisipasi mengamankan lingkungan masing-masing, serta saling mengenal sehingga jika terjadi apa-apa bisa saling tolong menolong,

About these ads

Responses

  1. wah ternyata budaya sholat ied dan dilanjutkan dengan open house itu ada di indonesia ya :D baru tau saya .. hehe …

    enak ya lebaran di indo … :(

  2. Sandy,

    Bukankah ada sejak dulu? Di kampungku, setelah sholat Ied, terus dilanjutkan keliling tetangga (yang ga ketemu saat sholat Ied, karena kemungkinan lokasi sholatnya beda) untuk bermaafan. Jadi masing-masing keluarga menyediakan makanan lengkap, dan punya ciri khas masing-masing.

    Misal..kel A, ciri khasnya, selalu ada tape ketan item, ibu X selalu ada kue-kue kering bikinan sendiri yang enak….dsb nya. Jadi saat kanak-kanak, acara berkeliling ini yang ditunggu…baru setelah itu kerumah Eyang yang di desa lain (6 km dari kota kecilku)…disini sekampung nyaris berhubungan saudara…jadi Lebaran artinya benar-benar makan kenyang.

    Di Jakarta (komplek rumah dinas), hampir semua penghuni mudik, jadi yang ga mudik cuma sekedar salaman…maklum pembantu juga mudik, jadi kalau pergi ke food court nya DBest (Swalayan dekat rumah), ketemu tetangga, yang sama-sama ditinggal pembantu mudik.

  3. Hai mat Lebaran

  4. Makrupul,
    Selamat Lebaran juga

  5. hmm, akhirnya nyobain rumah barunya bu enny.
    makasih bu ya.. udah dijamu banyak (sekalipun belum ‘yang besar’ hehe bercanda bu..)

    ngomong-ngomong tentang sajian unik, saya juga jadi ingat tape item yang dibungkus daun pisang. mak nyuuus bu.. :) btw, di rumah baru ibu yg khas apa ya?? hehe

    sekali lagi, makasih bu atas diskusi panjangnya. semoga bukan yang terakhir. :)

  6. Trian,
    Seneng ngobrol dengan Trian….kapan2 boleh main lagi, atur waktunya, bisa dengan Malik, Anto atau siapa aja. Atau dengan calon?

    Di rumah saya, di Jatim, kekhasan nya adalah tape ketan item bikinan ibu (dibungkus daun pisang), dan kacang bawang….masalahnya saya sendiri tak bakat bikin tape seenak bikinan alm ibu. Sekarang….hehehe, tinggal pesan, apalagi kali ini, sehari sebelum Lebaran masih masuk kantor s/d jam 15.45 wib (bukan alasan ya???)

  7. Bu, kebetulan rumah saya ada di tengah-tengah penduduk asli Jakarta jadi yang mudik juarang banget.

    suasananya ya mirip-mirip tempat Ibu sekarang. abis shalat Ied biasanya orang tua stay di rumah trus saya & adek-adek muter ke tetangga. kenal ga kenal cuek aja, pokoknya salaman, hehehehe.

    tapi tahun ini saya ga ikut muter. udah tepar duluan di rumah. sehari sebelumnya hampir 24jam di kantor. pulang-pulang jam setengah 5, barengan sama adzan subuh n takbir Idul Fitri. abis itu saya ga kuat, langsung tidur ampe sore :p

    ada satu kebiaaan yang ga ada di rumah. dulu, di Tebet (rumah alm Nenek), pas malam Takbiran ada tradisi ater-ater. tiap rumah saling berkunjung n mengantar makanan. entah kolang-kaling, puding, kue basah, tape, black forest.. hhmmm… pokoknya komplit.

    saya seneng kalo Lebaran. jenis makanannya banyak n yang bikin enak itu: rebutan sama sepupu n adek-adek. entah kenapa, kalo makan rebutan kok selalu lebih nikmat ya, hahahaha. mungkin karena ada rasa puas n menang :p

  8. Utaminingtyazz,

    Di Kompas ada tulisan Megawati tentang kebiasaan saling memberi hadiah yang berasal dari masakan sendiri(ater-ater), yang merupakan kebiasaan baik, sepanjang tak dipaksakan. Dulu di rumah alm ibu, situasinya seperti itu…kalau di kompleks rumah dinas sebelum pindah, ater-ater berupa oleh2 pulang turne, bisa mpek-mpek Palembang, sagu dari Manado, bika Ambon dari Medan, dll.

    Di rumah tinggalku sekarang, saya pernah dapat kiriman nangka, hasil kebun milik tetangga yang berada di luar kota. Jadi kalau saya keluar kota, saya juga menyempatkan bawa sekedar oleh2 untuk tetangga sebelah menyebelah dan depan rumah. Syukurlah, situasinya masih kekeluargaan, tapi privacy juga dihormati, akhirnya saya merasa ga salah pilih cari rumah di tempat tinggalku sekarang.

  9. Selamat hari Raya, Minal Aidzin wal Faidzin.
    Ibu, Puspa minta maaf klo pernah ada kata2 yg salah.
    Lebaran disini lumayan bikin panik, karena 9.30 pm kita baru tahu sholat Ied di konjen dimajukan jd hari Jum’at, mengikuti pemerintah setempat.
    Tapi alhamdulillah suasana di konjen menyenangkan, ketemu banyak temen baik yg udah kenal maupun yg baru.
    dan yg bikin salut, pihak konjen masih sempet menghidangkan lontong opor dan kawan2nya utk 500 orang lebih.
    setelah itu kita ketempat temen2 yg ngadain open house, seneng banget, klo nggak ada acara gini kita jarang ketemuan, krn selain jarak, mayoritas kita sehari2 tanpa pembantu.
    Malem hari dideket rumah ada fireworks 3 hari berturut2, ditaman ada bermacam2 permainan anak2, lumayan rame, meski tidak bisa menghapus kangennya kita pada masakan rumah.
    Klo lebaran ditempat nenek selain opor ayam, pasti tersedia lontong kikil, dan asem2 kikil. ini yg gak nemu dimana2.

  10. Puspa,

    Sama-sama, saya juga mohon maaf lahir batin.
    Wahh seneng ya, karena masih dinegara yang mayoritas muslim, jadi situasi Lebaran nya menyenangkan.

  11. untuk itu kami sudah menyiapkan uang receh Rp.1000,- an jauh-jauh hari, untuk dibagikan

    Duuh sayang ya kemarin gak ikutan ke tempat ibu, biar dikasih angpauuu… :)

  12. Mas Kurtubi,

    Hehehe…ternyata saya under estimate, karena awal pindah banyak sekali orang2 tak dikenal, ketok2 pagar, minta sumbangan ini itu….jadi kebayang Lebaran pasti lebih repot. Pak RW/RT nya memang akhirnya kasih tahu, disarankan hanya membayar jika ada edaran resmi yang ditandatangi RT/RW dan diedarkan satpam.

    Yang hebat pak RW nya, membuat situasi Lebaran nyaman…dan banyak tetangga rumahnya kosong ditinggal mudik. Padahal di kompleks rumah dinas, sering harus ada tenaga bantuan untuk menunggu rumah kosong.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: