Oleh: edratna | November 5, 2007

Antara Jakarta dan Bandung

Bepergian antara Jakarta Bandung, dan sebaliknya merupakan hal yang biasa kita temui sehari-hari, karena sekarang semakin banyak suami isteri yang bekerja berbeda kota. Bahkan dengan tranportasi yang semakin mudah, bukan hal yang luar biasa, jika ada yang menempuh jarak Jakarta-Bandung setiap hari.

Dibukanya Tol Cipularang, diikuti Tol Cikunir ke arah Pondok Indah baru-baru ini, semakin mempercepat jarak tempuh antara kota Jakarta dan Bandung. Pilihan transportasi juga semakin banyak. Selain kendaraan pribadi, kita dapat menggunakan kereta api, bis ataupun kendaraan travel yang semakin banyak, dengan harga bervariasi.

Bagi saya, awalnya jarak Jakarta Bandung sebagian besar saya tempuh dengan naik kereta api (selain menggunakan kendaraan pribadi). Menggunakan bis antar kota pernah saya lakukan sebelum menikah, namun saya tak cocok menggunakan kendaraan ini, karena sepanjang jalan “jantungan”, maklum saat itu naik bis Jakarta Bandung selalu melalui rute Bogor-Puncak-Cianjur, yang jalannya meliuk-liuk. Apalagi saya sempat mengalami tinggal di daerah Bogor. yang setiap Sabtu Minggu sering mendengar sirene ambulans meraung-raung, karena tempat kost saya dekat Rumah Sakit Bogor.

Sebelum ada Tol Cipularang, transportasi yang saya senangi adalah naik kereta api, apalagi jika membawa anak-anak. Tempatnya nyaman, lega, bisa membawa barang banyak, dan mudah meminta jasa kuli angkut barang jika kebetulan membawa banyak barang. Masalah nya, kereta api Parahyangan dan Argo Gede (nama kereta api yang melayani rute Jakarta-Bandung), pada akhir pekan sangat penuh, sehingga saya harus pesan tempat seminggu sebelumnya, sekaligus untuk saat pulang nanti. Jika ternyata ada perubahan acara, karcis terpaksa dikembalikan dengan mendapat potongan sejumlah prosentase tertentu. Selain itu, jarak dari stasiun Jatinegara maupun stasiun Gambir ke rumah cukup jauh, sedang taksi BB jarang dijumpai di stasiun Gambir, entah kenapa justru taksi yang dapat dipesan dari dalam stasiun bukan taksi BB. Juga jalanan Jakarta yang terkenal macet, membuat saya harus berangkat dua jam sebelumnya, yang akibatnya sering termenung lama menunggu di stasiun Gambir. Di luar masalah ini, yang lain-lain sangat menyenangkan.

Dibukanya Tol Cipularang, yang diikuti dengan Tol Cikunir beberapa bulan ini, maka banyak pilihan tambahan, untuk mendapatkan sarana transportasi dari Jakarta ke Bandung. Pilihan naik travel sangat banyak, menawarkan harga Rp.35.000,- s/d Rp.65.000,- dengan waktu tempuh 2,5 jam (lebih cepat dari naik kereta api yang rata-rata 3 jam), serta dapat memilih lokasi kedatangan di Bandung yang mendekati dengan tempat tujuan, mengakibatkan banyak penumpang beralih menggunakan sarana travel ini. Apalagi dengan kemudahan hanya pesan tempat melalui telepon, tanpa membayar uang muka. Kelemahannya adalah penumpang dibatasi hanya membawa barang bawaan maksimal satu travel bag.

Hari Minggu kemarin saya berencana pulang ke Jakarta naik travel Xt yang berlokasi di Cihampelas untuk keberangkatan jam 13.00 wib, dan berangkat dari rumah jam 12.00 wib. Di jalan keasyikan mengobrol, dan lupa kalau Bandung hari Sabtu Minggu jalanan sangat macet, dan kebetulan yang menyopir tak terlalu mendengar bahwa sebaiknya mengantar saya dulu ke Xt, baru ngedrop anak saya dan ponakan di ITB. Ternyata jalan yang ditempuh melalui Dago, dan bisa dibayangkan daerah Dago di akhir pekan, jam 12.40 wib saya masih di jl. Taman Sari, kendaraan yang di Tamansari ke arah bawah maupun arah ke atas, sama-sama macet dan nyaris berhenti. Saya mencoba menelepon perusahaan travel serta disambungkan ke bagian ticketing, dijawab bahwa mereka hanya memberikan toleransi 5 menit saja. Saya kemudian mencoba ke travel Ct di jl. Dipati Ukur, ternyata semua tempat sudah penuh, kecuali jam 21.30 malam dan tinggal satu tempat. Jadi saya lalu ke jl. Aceh ke travel Br, disini bahkan sampai besok pagi sudah penuh (maklum ini travel yang murah, ke Jakarta hanya Rp.35.000,-).

Akhirnya saya memutuskan ke Stasiun Bandung, dengan harapan semoga masih mendapatkan tempat duduk untuk ke Jakarta. Sampai di stasiun, saya kaget dan sedih, melihat stasiun Bandung begitu lengang, bahkan di depan saya hanya ada satu orang yang membeli karcis untuk ke Jakarta. Saya membeli karcis Argo Gede seharga Rp.75.000,- untuk jam 14.30 wib, dan menunggu. Perubahan situasi di stasiun Bandung begitu kentara, dulunya banyak penjual buku dan majalah, restoran, Dunkin Donat yang selalu antre dikerumuni pembeli, sekarang para penjual hanya melihat dengan tatapan hampa. Saya jadi nostalgia, dulu jika ke Bandung, anak bungsu saya selalu titip dibelikan coklat di stasiun Bandung, dan setelah dia kuliah di Bandung, paling semangat mengantar ibu ke stasiun saat akan pulang ke Jakarta, dengan hadiah kue donat yang dibeli di Dunkin Donat yang ada di stasiun Bandung.

Saya memasuki kereta api Argo Gede yang sudah siap di jalur 5, kereta begitu kosong, mungkin karena masih 45 menit lagi waktu berangkatnya. Tak lama kemudian penumpang mulai berdatangan, entah kenapa hati saya mulai tenang dan merasa nyaman. Tepat saat kereta api berangkat, ternyata kursi penumpang 90% penuh, karena memang rangkaian kereta tak sebanyak dua tahun lalu. Sepanjang perjalanan saya mengamati para penumpang, memperkirakan asal mereka, pekerjaan dan kehidupannya seperti apa. Dan kemudian saya mulai merenung, seperti apakah para penumpang yang naik travel. Ternyata memang ada perbedaannya, walaupun penelitian saya belum akurat, saya melihat masing-masing jenis transportasi mempunyai segmen sendiri-sendiri. Hanya bagaimana para pimpinan PJKA mengembalikan para penumpangnya, tentunya dengan melakukan perbaikan-perbaikan, karena jatuh bangunnya PJKA juga mempengaruhi industri ikutannya, seperti: pedagang asongan, restoran, toko buku/majalah dsb nya.

Saya mencoba merangkai, kelebihan dan kekurangan antara memakai jasa kereta api atau travel, sebagai berikut:

1. Net working

Penumpang kereta api berasal dari segala latar belakang, dan berbagai tempat di ibu kota, karena kereta api berangkat dari stasiun Gambir, serta berhenti untuk melayani penumpang yang naik dari stasiun Jatinegara. Dulu saya sering ketemu teman perjalanan yang menyenangkan, bahkan banyak pertemuan tak terduga, setelah mengobrol sekian lama di perjalanan, ternyata beliau kenal suami saya. Pernah juga sepanjang jalan hanya berdiam diri, ternyata kami ketemu lagi pada ruang seminar yang diadakan oleh ITB…dan teman seperjalanan saya ternyata teman baik suami.

Sedangkan penumpang travel, berasal dari lokasi tertentu, karena telah dibatasi oleh wilayah, seperti: wilayah Bintaro, Pondok Indah. Fatmawati, Melawai (untuk Jakarta Selatan), kemudian wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Depok, Jatibening, Pondok Gede dan sebagainya. Hal ini untuk memudahkan koordinasi dan mengurangi kemacetan di jalan, karena jika keberangkatan dari jl. Fatmawati, kendaraan langsung bisa masuk Tol Simatupang-Cikunir, Tol Jakarta-Cikampek dan Tol Cipularang. Lokasi kedatangan di Bandung pun tersebar, ada di daerah Aceh, Cihampelas, Dipati Ukur, Buah Batu dan lain-lain. Penumpang travel rata-rata 10 orang per satu angkutan, dan karena hanya dibatasi satu tas bawaan, rata-rata penumpang adalah mahasiswa, pegawai kantoran, atau bahkan yang pulang pergi Jakarta Bandung hari itu juga.

2. Keleluasaan barang bawaan

Untuk yang akan membawa barang banyak, disarankan naik kereta api. Bagasi kendaraan yang digunakan perusahaan travel kecil, sehingga penumpang dibatasi hanya membawa satu travel bag. Tempat duduk juga kurang leluasa, apalagi selama perjalanan biasanya hanya sekali berhenti untuk mengisi bensin, serta pada umumnya penumpang tidak turun.

Bagi penumpang yang membawa anak kecil, barang bawaan banyak, dan ingin lebih santai, ataupun ingin sampai di tempat tujuan masih dalam kondisi rapih (misal mau ke kondangan, menghadiri seminar dsb nya) disarankan naik kereta api.

3.Jangka waktu

Jarak tempuh untuk kendaraan travel memang lebih cepat, namun inipun relatif karena sangat tergantung pada situasi jalan apakah macet apa tidak. Awalnya naiktravel bisa mencapai 2 (dua) jam dari Jakarta ke Bandung, namun akhir-akhir ini paling cepat 2,5 jam. Sedangkan naik kereta api rata-rata 3 (tiga) jam. Apabila pagi hari, naik kereta api yang pertama dari Jakarta, jarak tempuh kadang masih dapat dicapai dalam waktu 2,5 jam.

4. Fleksibilitas

Naik travel lebih fleksibel karena bisa pesan tempat lewat telepon tanpa perlu membayar uang muka. Hal ini berbeda dengan naik kereta api, yang kalau pesan tempat harus membayar penuh, dan jika tidak jadi berangkat, dipotong sejumlah prosentase tertentu. Naik travel, jika kita tidak datang dan tak menelepon sebelumnya, saat berangkat belum hadir, akan ditinggal. Bila menelepon lebih dulu, diberikan toleransi 5 menit.

Dari paparan di atas, apakah kita ingin memilih naik kereta api atau naik travel, sangat tergantung pada kepentingannya. Namun bagi para pengusaha, banyak hal yang harus diperhatikan agar perusahaan tetap berjalan lancar, karena persaingan semakin ketat, serta penumpang membutuhkan pelayanan yang memuaskan. Jika pelayanan kurang, siap-siaplah untuk ditinggal penumpang, yang akan pindah ke perusahaan lain yang memberikan pelayanan lebih baik.

About these ads

Responses

  1. Saya lebih menyukai naik kereta api daripada bus AKAP untuk pulang ke Sleman. Akan tetapi, naik kereta api sangat tidak praktis. Saya harus pesan karcis ke Juanda. Naik kereta harus ke Gambir dan turun di Stasiun Tugu. Ke gambir harus pakai taksi, dari Tugu ke rumah taksi juga. Kalau naik bus kota, karcis bisa pesan lewat telpn dan bayar pas mau berangkat. Lokasi pemerangkatan bus lebih dekat, naik angkot sudah cukup. Di Sleman, turunnya bisa di pinggir pedukuhan saya sehingga tinggal menyeberang jalan saja dan jalan kira-kira 200 – 300 meter.

    Dari sisi kenyamanan tentu kereta api lebih nyaman. Tapi ya itu tadi… tidak praktis. Saat ini untuk ke Sleman lebih memilih membawa mobil kantor. Praktis dan murah.

    Ke Bandung pernah naik kereta Parahyangan paling pagi. Pengalaman saya, 4 jam tuh, Bu, waktu tempuhnya.

  2. kalo saya sebenarnya suka KA bu, karena naik kereta selalu membuat saya benar-benar merasakan perjalanan,dan menikmatinya.

    bisa liat2 pemandangan, jalan2 sebentar di stasiun, dan lumayan nyenyak tidur (eksekutif lho ya.. :D). coba kalau ada tambahan fasilitas colokan laptop+internet,pasti makin beta :).

    tapi akhir-akhir ini, semakin ‘dipaksa’ banyak naik pesawat. katanya sudah masuk ke tahapan berikutnya. tapi tetap, kalau diminta milih saya akan lebih senang naik kereta.apalagi kalau ada ‘yang nemenin’ :p.

  3. Kang Kombor,
    Justru masalah yang dikemukakan oleh Kang Kombor, seperti:
    ongkos taksi dari rumah ke stasiun baik di Jakarta dan kota tujuan, pesan dulu dan bayar penuh plus biaya administrasi, antri di loket jika tak pesan tempat sebelumnya….yang membuat orang hanya naik KA jika barang bawaan banyak atau tujuan lainnya. Dulu, jika naik KA Argo Gede dan Parahyangan, saat masih di perjalanan, ada pegawai KA keliling menawarkan kalau mau naik angkutan, bayarnya murah….inipun sekarang tak berjalan karena kurang peminat.

    Melihat kondisi ini tentunya PJKA harus jeli melihat segmen pasar mana yang akan dibidik untuk naik KA, dan upaya peningkatan kenyamanannya.

    Trian,
    Kalau boleh memilih, ya tentu naik pesawat. Tapi kalau cuma antara Jakarta ke Bandung naik pesawat…saya pilih naik KA atau travel. Saya pernah ke Bandung naik pesawat pagi2 sekali, dari Denpasar (pulang tugas, anak2 masih kecil, dan dititipkan di Bandung)…pemandangan saat mau turun sangat indah, tapi saya terbayang bagaimana jika cuaca mendung.

    Juga banyak orang “agak trauma” naik pesawat…..jika tugas ke luar kota, naik pesawat inilah prosedur yang saya benci walau terpaksa dilalui…. apalagi jika cuaca buruk, rasanya kayak naik gerobak, diombang ambingkan di udara. Jadi kalau terpaksa naik pesawat, saya pilih berangkat pagi2 buta, karena umumnya cuaca jernih, begitu pula pulangnya…..kadang nggak bisa juga jika bepergiannya jauh, seperti ke LN atau ke Papua, yang memerlukan waktu 7 jam.

  4. untuk ukuran orang yang masih single seperti saya..kereta adalah pilihan utama, kelas apapun itu (walaupun naik kereta ekonomi tentu lebih menyedihkan). ketika ada libur panjang saya lebih suka pulang ke solo dari jakarta naik kereta, karena tidak terikat oleh waktu jadi saya sering langsung berangkat ke stasiun sepulang dari kantor…apapun kereta yang berangkat dulu saya naik itu..seringnya dapet kereta bisnis tapi kadang juga ekonomi. dari kantor tinggal naik bus way turun di gambir atau senen.

    untuk orang yang menyukai perjalanan, kereta memang sangat menyenangkan. saya sering bertemu teman2 waktu jaman sekolah dulu di stasiun. tapi untuk pertimbangan waktu saya juga kadang naik pesawat. naik busway ke gambir (kok gambir lagi?? hehe) baru naik damri ke bandara. tapi karena waktu tempuh yang singkat antara jakarta-solo (1 jam 15 menit), ketika saya baru menikmati perjalanan..tiba2 pesawat sudah mau landing lagi..hehe maklum wong deso :)

    travel atau Bus AKAP belum pernah nyoba…kecuali busway :)

  5. kalo boleh ambil kesimpulan dari tulisan ibu
    buat yg bakal lama ke bandung lebih baik naik kereta
    selain bagasi bisa lebih banyak, kecil kemungkinan kereta kena macet di jalan… ya iyalah hehehe
    tapi di sisi lain jasa travel menawarkan konsep DTD (door to door) yg tempatnya lebih mudah terjangkau oleh calon penumpang
    mudah-mudahan dng persaingan sehat antara keduanya, konsumen yg paling diuntungkan

    saya sendiri lebih milih naek motor ke bandung pp
    walopun jarak tempuhnya bisa sampe 5 jam
    wong cuman buat cari makan trus balik lagi :mrgreen:

  6. kereta api JKT-Bandung ndak laku, soalnya kalah bersaing dengan Bis ataupun Shuttle-Bus

    kalo melihat gerbong kereta api Parahyangan skrng gerbongnya pendek2, sekitar 4-5 , tidak seperti dulu yg bisa mencapai 8-9 gerbong

    seandainya kalo naek kereta bisa 1 jam, biaya tarifnya murah dan aman, mungkin para penumpang akan memilih kereta kembali :D

  7. Caplang,
    Memang, cara bepergian tergantung tujuannya dan banyaknya barang bawaan. Saya sudah lama sekali nggak ke Bandung naik KA, karena bawaannya cuma satu travel bag. Saat si bungsu wisuda, bawaan saya banyak, dan akhirnya beli satu tiket lagi untuk menaruh barang bawaan tsb. Konyol ya, saat itu tak terpikir menggunakan KA, karena letak travel hanya lima menit berjalan kaki dari rumah.

    Adit,
    Secepat-cepatnya KA dari Jakarta ke Bandung, tetap memerlukan waktu 2 jam, karena relnya hanya satu (walau Jakarta-Cikampek udah 2 jalur). Tapi dengan pemeliharaan dan peningkatan pelayanan, tak ada calo ( 15 tahun lalu kalau naik KA ke Bandung nyaman, ga ada calo) dan antrian beli tiket tak panjang, penumpang akan kembali lagi naik kereta api. Karena sebetulnya penumpang KA Jakarta-Bandung sebagian besar orang kantoran, perlu waktu tepat, sampai di tempat tujuan langsung meeting…sehingga perlu kenyamanan. Singkatan PJKA pun diubah, Pergi Jumat Kembali Ahad.

  8. Reo,
    Bagi yang masih single, apalagi cowok, kayaknya naik apapun ga masalah, apalagi barang bawaannya ga banyak. Yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan perjalanan, agar di tempat tujuan masih segar, apalagi jika masih harus bepergian ke tempat lain lagi.

  9. Saya lebih suka naik Bus Bu…
    Kadang pakai yg AC, kadang pakai yang Biasa (Ekonomi).
    Ada yang harganya dibawah 20 ribu kadang.. Hehehehe…
    Maklum, kesana cuma mampir-mampir saja, tanpa membawa banyak barang.

    Kalau naik travel&KA ke Jakarta belum pernah.. nanti perlu dicoba juga.

    Mungkin akan dipakai nonton JGTC ke UI.

  10. Hi Ade, apa kabar?

    Ehh travel ada juga lho yang jurusan Depok, tapi lupa travel yang mana. Alamat, nomer telepon, tanya Narpen ya.
    Thanks telah mampir.

  11. ikutan nimbrung..

    kalo diranking maka :
    1. naek kereta : pemandangannya bagus dan klasik banget Bu
    2. naek bis ke kampung rambutan (ibu saya tinggal di depok) : cari yang murah dan pengalaman bertualang di jakarta mengesankan.. hehe
    3. naek mobil sendiri : tapi belum punya :)

    Asalnya saya mau bacakan puisi saya di depan pelaminan sahabat saya, Bu. tapi kejauhan, palembang.Ibu suka puisi? siapa pengarang puisi yang ibu suka?

  12. Bu,
    Saya lebih suka naik bis.
    Bukan apa-apa, soalnya rumah saya lebih dekat ke terminal daripada ke stasiun kereta.
    Pilihan bis juga lebih banyak dibandingkan kereta api. Jadi lebih simple.
    Itu kalau menurut saya lho …

    Eh .. ngomong-ngomong, makasih sudah mampir bu. Thanks.

  13. saya sendiri komuter Bandung-Jakarta setiap 2 minggu sekali Bu ..

    kalo pilihan utama sekarang ya jelas saya sih lebih prefer travel .. pilihan saya biasanya Rt BDG,Purnawarman-JKT,Benhil ato Tp BDG,Cihampelas-JKT,scbd krn tempat duduknya yg eksklusif sendiri2 beda sama Xt yg mesti duduk bareng orang laen apalagi Br yg mesti desek2an klo penuh .. apalagi klo pulang kantor tinggal ngojek dikit nyampe deh ke travelnya

    untuk kereta.. biasanya jadi pilihan saya klo libur panjang ato punya waktu banyak, karena yg seperti Ibu bilang, kereta sekarang 3 jam dan itu ARGO .. bayangkan klo pake Parahyangan yg bisa nyampe 4-4,5 jam =( .. pdhal kata KOMPAS ato PR harusnya di P.Jawa, PT.KA udah punya kereta model Shinkasen gitu, sehingga BDG-JKT cuman 1 jam kekekeke yaaa “mimpi kali yee” =P
    btw Bu.. di stasiun jg banyak tuh omprengan2 yg nawarin BDG-JKT 65rb, klo di Gambir biasanya nongkrong di deket parkiran masuk, klo di Bandung biasanya deket Dunkin situ calonya

    kalo bus .. ini pilihan terakhir dari 2 opsi di atas, tapi pilihan utama klo abis SPJ mo lgs pulang ke BDG hehehe maklum bus Pj ke BDG 65rb doank

    pilihan lain.. nanya sepupu mo pulang ke Bandung apa engga hehehehe gratis dan nyaman
    btw.. Travel itu pd pake plat item ya? .. bawa nama “travel” tapi kerjaan kayak angkutan umum, ko ga diapa2in ya?

  14. Dika,
    Memang naik KA paling nyaman, cuma memang kurang flesibel dalam pemesanan tiket, dan jam berangkatnya tertentu.

    CakBowo,
    Kalau masih muda, naik bis lebih fleksibel, berangkatnya setiap saat. Cuma kalau udah seumurku sekarang jadi kurang nyaman…dan kok agak serem ya ke terminal bis.

    Aldi,
    Saat ini kayaknya memang lebih banyak yang memilih travel, bahkan ada bapak2 sempat ketemu, tiap hari naik travel untuk bekerja di Jakarta dan sorenya balik lagi ke Bandung. Saya cuma membatin apa nggak capek ya.

  15. Dika,
    Maaf ada yang belum terjawab, saya suka puisi, tapi cuma sebagai pendengar. Mungkin terpengaruh saat kuliah di Bogor yang situasinya romantis dan sering ada lomba poetry reading.

    Tapi nggak fans pada pengarang tertentu, sepanjang puisinya mudah dipahami, saya suka…apalagi kalau dibacakan. Wahh..kapan-kapan kalau ketemu Dika, bisa dibacakan puisi dong!

  16. Dengan adanya kompetisi antara angkutan KA, Bis, dan Travel, maka yang diuntungkan adalah konsumen.
    Kalo tol lagi macet,ya..naik KA.
    Kalo rel KA rusak, ya..naik bis atau minibus.

    Hidup semakin indah..kalo banyak cara menuju Bandung.

  17. Travel Depok: Berangkat dari samping BNI Margonda ke Dago (sebelah Edward Forrer).

    Coba’in deh :)

  18. Ya.. setelah sekian lama vakum karena terasingkan di ujung timur negara sana, saya merasa perlu menulis lagi. Sekarang pakai 2 blog, yang satu yaitu yang dulu, dan yang kedua ini sebagai latihan belajar nulis inggeris walau terbata-bata :D. Saya akan sering-sering kesini lagi…
    Maaf waktu itu saya melupakan hari penting Ibu, padahal kita 1 zodiak. :(

  19. Harrie,

    Betul tuh…pas waktu Jakarta banjir sekitar bulan Februari 2007, travel sangat laku, karena KA sempat tertunda(ga berangkat) gara-gara rel di daerah Bekasi kebanjiran. Travel pun nggak semua berani berangkat…jadi sempat tilpon dulu ke beberapa nomor2 telepon travel…dan setelah ada yang berani berangkat….di jalan ponakanku(cewek) bersama penumpang lain rame2 mendorong mobil dulu karena mogok setelah mobilnya nyaris kelelep di Tol Cikampek di wilayah Bekasi.

    Ikram,
    Wahh perlu diketahui tuh sama temen2 yang suka pp Bandung-Jakarta-Depok.

    Ade,
    Tuh ada info dari Ikram, ada travel yang khusus Bandung Depok.
    Ga usaha dipikirin, hari penting tuh bagi anak kecil s/d remaja, karena berharap dapat hadiah…karena bagi seusiaku merupakan peringatan bahwa semakin dekat…..
    Wahh, iya saya jadi lupa belum kasih hadiah buat si bungsu, habis dia ditanya belum pengin apa-apa…karena tahun kemarin udah dapat Dopod, dan boneka udah kebanyakan…malah udah bisa bikin sendiri.

  20. hello, i am from malaysia. akan ke jakarta tidak lama lagi dan ingin sekali melawati bandung kerana shopping heaven di Paris of Java.

    terima kasih kerana memberi informasi yang begitu hebat. sekarang saya sudah tahu membuat pilihan untuk 8 lagi rakan saya yang akan turut serta ke jakarta.

    thank you

  21. sekarang untuk perjalanan jakarta-bandung, bandung-jakarta ada lagi pelayanan travel yang menyediakan pelayanan antar jemput jadi kita tidak perlu repot2 memikirkan bagaimana cara kita menuju ke pull.
    kangaroo travel pantas dicoba, cuma saya taunya no telp yg di pull pusat 021-45851575


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 220 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: