Oleh: edratna | Nopember 11, 2007

Membiasakan anak membaca sejak dini

Saya sering mendapat pertanyaan, sebaiknya pada umur berapakah kita mulai mengajarkan anak membaca? Apakah jika anak masih kecil di ajar membaca tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik? Ada juga pertanyaan, mengapa anak saya kurang suka membaca?

Ide artikel ini muncul dalam perjalanan naik Kereta Api dari Bandung ke Jakarta, penumpang sebelah kanan saya (suami isteri dan kedua anak laki-laki berumur kira-kira 2 tahun dan 5 tahun), sepanjang perjalanan sang ibu sibuk menenangkan anaknya yang rewel, menangis, teriak, minta jalan-jalan dsb nya. Anak kecil menangis ataupun rewel adalah hal biasa, karena kedua anakku saat kecil juga rewel, dan saya juga sering menemui penumpang yang membawa anaknya rewel dalam perjalanan. Namun jika kerewelan tadi sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta, yang menempuh waktu sekitar 3 (tiga) jam, selain menganggu kenyamanan penumpang lain, juga melelahkan terutama bagi ibu si anak. Saya melihat sang ibu teler dan sudah masuk angin, namun tak bisa apa-apa, karena saat ibu pergi ke toilet untuk menggosok badan dengan minyak angin, sang anak menjerit-jerit ingin ikut…dan bisa dibayangkan berapa besarnya toilet di dalam Kereta Api jika sang anak ikut serta masuk kedalam. Saat itu, saya bayangkan, andaikata anak tadi dilatih senang membaca, menggambar atau mendengar dongeng, maka perjalanan naik kereta api dari Bandung ke Jakarta akan menjadi pengalaman yang mengesankan bagi si anak maupun orang tuanya.

Kapan anak sebaiknya mulai dilatih untuk membaca?

Tidak ada batasan umur, karena pada dasarnya anak kecil adalah peniru yang ulung. Saat anak umur mendekati setahun, anak sudah bisa diajak mengobrol, diajak melihat binatang dan didongengi tentang binatang tersebut. Obrolan ini bisa dilakukan sambil menyuapi makanan, atau bisa juga anak diajak melihat gambar dan diberi crayon untuk mencoba coretan. Hasilnya? Awalnya benang ruwet, walau kalau ditanya katanya…gambar kucing…hahaha. Dan setiap anak sifatnya berbeda, anak sulung saya sulit untuk melakukan hal yang detail saat kecil, seperti menggunting, dan pekerjaan prakarya lainnya. Tapi dia lebih suka diajak mendongeng, cerita, dan mengobrol. Hal ini berbeda dengan adiknya, yang sejak kecil suka melakukan kegiatan seperti menggambar, menulis, menggunting dan mewarnai tetapi tidak banyak mengobrol.

Kemampuan anak juga meningkat seiring umur, jika awalnya kita yang mendongeng, atau membacakan buku cerita, seiring dengan makin bertambah usianya, anak ingin bercerita. Cucunya (umur 4 tahun) adik saya malah suka sekali mendongeng, dan sangat hafal dongeng timun emas, dan suatu ketika adik saya melongok ke kamarnya…ternyata si kecil sedang asyik mendongeng timun emas kepada pemomongnya.

Saat umur 2,5 tahun anak sudah bisa ikut play group atau TK kecil. Sebetulnya di TK yang penting adalah bergaul sesama teman, menghormati milik teman, menggambar dan menyanyi serta berbagai macam permainan. Bila kita bepergian, maka sepanjang perjalanan orangtua bisa bergantian cerita, apa saja hal yang menarik di saat perjalanan. Akan lebih baik, jika kita sudah menyiapkan dongeng atau legenda, daerah yang akan kita kunjungi.

Bagaimana dengan televisi?

Kita sadari bahwa pengaruh televisi sangat kuat bagi anak-anak, bahkan banyak anak-anak yang sulit diajak keluar rumah, karena ada film kesukaannya sedang tayang di televisi. Namun jika anak telah dilatih senang membaca atau menggambar sejak kecil, maka dia mempunyai berbagai alternatif kegiatan yang disenangi. Menonton televisi tidak ada salahnya, namun jangan sampai kecanduan sehingga melupakan hal-hal lainnya. Dalam hal ini orangtua juga harus memberi contoh, karena bagaimana anak diharapkan senang membaca, tapi tiap hari anak melihat ibu asyik menonton di depan televisi? Disini orangtua perlu memberi contoh, dan bila anak telah kelas 1 SD (yang telah ada tugas Pekerjaan Rumah), maka orangtua bisa mendiskusikan dengan anak, jadual kegiatan sehari-hari nya sejak pagi sampai malam setiap harinya. Anak juga diberi kesempatan menonton film kesukaannya, tetapi juga ada waktu untuk belajar.

Saat anak-anak masih kecil, saya sering membawa pekerjaan rumah dari kantor, dan saat anak-anak belajar, maka saya ikutan bekerja. Disini anak diberi contoh, bahwa orangtua pun tetap harus belajar. Pernah suatu ketika saya sedang capek, dan mulai membaca majalah…si sulung langsung komentar…” Ibu, saya juga capek, saya boleh baca majalah ya?”…Apa boleh buat, saya langsung menutup majalah dan menunggu mereka menyelesaikan PR nya, setelah itu sama-sama membaca.

Apa orangtua wajib mengetahui apa saja yang dibaca anak?

Jawabannya “ya”. Jika anak masih kecil sampai dengan usia sekolah, sebaiknya orangtua memonitor apa saja bacaan anak. Semakin besar umur si anak, cara monitornya juga harus hati-hati karena anak telah mempunyai harga diri, dan ingin privacy nya nggak terganggu. Disini orangtua harus pandai menempatkan diri sebagai teman si anak, agar anak mau terbuka, dan cerita bacaan apa saja yang diminati. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai anak membaca sesuatu sebelum umurnya cukup matang.

Ada pengalaman saya, anak sulung saya suka membaca apa saja, bahkan dia suka ikut bicara masalah politik, kebudayaan dan sebagainya padahal masih usia SD. Akhirnya dengan berat hati, saya menghentikan langganan majalah Tempo, dengan alasan bapak di Bandung (suami bekerja di Bandung) sudah langganan. Apa yang terjadi? Ternyata anak saya suka berkeliling ke tetangga, dan membaca majalah apa saja…ada majalah Tempo, juga majalah lainnya, dan juga banyak pinjam buku-buku dari tetangga. Suatu ketika, saya pulang kantor menemukan majalah, yang saya tak merasa langganan. Pelan-pelan, saya tanya sama si sulung…”Mas, pinjam majalah dari siapa, udah ijin yang punya belum?” tanya saya. “Udah bu, itu kan majalah kepunyaan teman baikku”, jawabnya. Saya kaget kok temannya punya majalah seperti itu (masih usia SD), terus tanya lagi…”Mas, siapa sih teman baikmu, pernah main kesini nggak?”, tanya saya. …”Ooo, itu lho bu, pak Ganesha,”jawab dia dengan tenangnya.

Wahh, saya langsung telepon temanku, karena pak Ganesha adalah suaminya, benarkah anakku sering main kesana. Ternyata temanku malah tertawa terbahak-bahak…”O, itu putranya ibu ya, suamiku sering cerita, ada anak kecil yang tiap hari main kesini dan mengajak diskusi macam-macam dan pinjam majalah. Dia bilang, anak kompleks sini juga…hahaha.”

Saya mencoba introspeksi, dan karena pusing langkah apa yang sebaiknya saya lakukan, saya datang ke psikiater, untuk menanyakan apa sebaiknya yang saya lakukan, agar tak salah melangkah. Jawab psikiater…”Ibu, jika punya anak seperti itu, orangtuanya harus ikuti jalan pikirannya, jadi sebaiknya ibu tetap langganan, dan baca majalah tersebut. Agar nantinya ibu bisa diskusi dengan anak ibu, daripada dia diskusi dengan orang lain yang kita tak kenal, malah bisa mendapat pengaruh yang kurang baik.”

Sejak itu saya langganan majalah, membaca buku, majalah…dan pusiiiing…entah kenapa minat anakku sama buku dan majalah bervariasi sekali, sedang saya tak terlalu suka dengan urusan politik, apalagi sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor. Akhirnya saya balik…saya biarkan anak saya baca dulu, kemudian saya pancing dia cerita, serta apa pendapatnya tentang masalah tersebut. Dan ternyata, saya bahkan banyak belajar dari anak saya….hal yang selama ini tak saya duga, karena saya menganggap dia masih kecil, baru kelas enam SD.

Begitulah, sejak itu saya bisa memahami (walaupun tetap banyak hal yang saya kurang mengerti), dan saya juga jujur pada anak saya bahwa ibu belum tentu paham semuanya. Dan dia saya biarkan mengunjungi tetangga untuk diskusi berbagai macam persoalan, dan syukurlah teman-teman, dan tetanggaku sangat membantu, bahkan secara suka rela menjadi teman diskusi yang baik.

Catatan:

Inti dari cerita di atas, bahwa membiasakan anak membaca bisa dilakukan sedini mungkin, tergantung kesiapan si anak sendiri. Bisa dimulai dari mendongeng sebelum tidur, menggambar, mewarnai….dan meningkat membaca buku bacaan yang tulisannya sedikit dan gambarnya banyak (sejenis komik). Jangan kaget jika nantinya kecepatan, kemampuan membaca dan minat baca anak anda ternyata lebih jauh bervariasi. Sebaiknya jujur mengatakan pada si anak, bahwa kemampuan orangtua terbatas, daripada kita selalu berusaha menjawab pertanyaan si anak, tetapi salah. Anak anda adalah anak yang pandai, anak yang memahami, jika orangtua tak bisa menjawab semua pertanyaan.


Tanggapan

  1. Sharing yang bagus bu Ratna..
    Menurut ibu, bagaimana kalau semasih dalam kandunganpun, si ibu juga sering membaca?
    Mendongeng buat jabang bayi misalnya?

    Orang tua saya dulu juga suka melarang saya beli majalah, tapi dulu bobo, donal bebek. Alasannya ngabisin duit.

    Saya SMP pas beli buku speed reading, baru berasa betapa speed reading saya sangat lemah, bahkan kemampuan baca komik saya jauh lebih lambat dibanding temen2 saya.

    Belajar membaca sejak kecil selain bisa menumbuhkan kecintaan terhadap buku, menambah wawasan(bacaan yang benar), dan juga melatih speed reading.. Jadi kalau ntar punya anak, saya juga akan belajar spt ibu, membiarkan anak membaca, mengontrol mereka, dan berdiskusi ttg apa yang dibaca..

  2. Saya belum punya anak tuh, nikah jg belon. Klo punya anak, selama dalam kandungan dibiasakan diperdengarkan ayat alquran, melatih ingatan bayi, jd terbiasa dg alquran dan mudah2an berakhlak quran. sebagai muslim, mau saya sih begitu! Semoga! :D

  3. Halo Bu, Salam kenal :)
    Postingannya bagus2.

    Tapi kalo pada dasarnya gak suka baca, gimana? Seperti saya ini, meskipun dari kecil sering disuguhi buku2, tetep saja nggak suka baca.

    Tapi berhubung sekarang sekolah saya banyak biologinya, mau gak mau harus banyak baca.

  4. Setuju ibu,
    saya juga sudah mulai membiasakan anak saya mengenal buku nih dan dia lebih cepat belajar/ingatnya lho dibanding liat tv.
    Nggak gampang juga buat saya, karena selain harus pandai memilih kata2 yang menarik dan gampang untuk dia pahami (kalau ikut kalimat dibuku meski berima sekalipun anak saya bisa langsung ngabur tidak tertarik), harus sabar juga, karena mau tidur dia bisa minta dibacain 3 cerita, kadang katalog mainanpun minta dibaca :D

  5. lam kenal bu :-)
    Yup, membaca memang kudu dari kecil, soalnya susah kalau tidak dibiasakan dari kecil.
    nyak sekali keuntungannya, melatih daya ingat, kosentrasi, imajinasi, bisa mengambil /membuat kesimpulan atau pelajaran dari buku yang dibaca ect dan semua itu bakalan akan mempengaruhi tumbuh kembangnya anak
    *tapi ini cuma dari hasil baca dan mengamati anak-anak orang lain, belum berpengalaman*

    Met berjuang dan menikmati menjadi ibu ya, mbak ratna ;-)

  6. Sakuralady,
    Saat kecil, walau keuangan ayah ibu terbatas, saya dan adik2 setiap kali ulang tahun hadiahnya buku. Jika ayah keluar kota, oleh2nya buku. Saat udah punya uang saku, mendingan jalan kaki dari Alun-alun kerumah (jauh juga lho) agar uangnya untuk beli buku. Juga rajin pinjam ke perpustakaan sekolah, ke tetangga (tukar menukar)…jadi tak ada alasan nggak baca karena ga punya uang.

    Ben Rizky,
    Bayi dalam kandungan konon katanya udah bisa mendengar dan merasakan. Jadi kalau orang tuanya sering menyanyi, membaca Al Quran, berdoa serta berbuat kebaikan lain…diharapkan akan jadi anak yang sholeh.

    Stephanie,
    Tiap orang/anak dasarnya berbeda-beda, ada yang senang sport, ada yang senang seni, juga ada yang senang menulis atau membaca. Membaca adalah salah satu kegiatan, yang membuat anak tertarik diam lebih lama (seperti dalam perjalanan, atau menunggu di tempat praktek dokter dsb nya), bisa juga menggambar…kedua anakku senang menggambar, dalam tasku selalu sedia kertas kecil ukuran buku notes, agar jika menunggu dokter atau apa, mereka bisa corat coret dan tak ber lari-lari yang menganggu orang lain. Dan ternyata kebiasaan mencatat, menulis, ini berguna sampai mereka sudah besar.

  7. Puspa,
    Kita tak harus cerita persis di buku…kadang harus pake gaya agar anak tertarik. Saat cerita Dinosaurus, misalnya, kita bisa menggambarkan dengan tangan, ekspresi muka bagaimana bentuk binatang tsb. Coba deh, kegiatan ini pasti menyenangkan, dan anak bisa tertawa terkekeh-kekeh. Ach…jadi pengin lagi punya anak kecil…ntar cucu aja kali ya.

    Perempuan,
    Syukurlah, dimulai dari mengamati dulu…dan nanti diterapkan jika sudah berumah tangga dan punya anak kecil. Karena sebetulnya punya anak, harus punya persiapan, bukan hanya dari sisi materi, justru kesiapan mentalnya lebih perlu…punya anak kecil melelahkan…tapi sangat dan sangaaaat menyenangkan.

  8. Anak saya kalo dikasih buku malah di sobek-sobek bu Enny… Padahal ga pernah nonton Tukul lho.. Dia paling seneng kalo diajak “gerak dan nyanyi”. Nyanyi pake gerakan. Kalo udah seneng, gak mau berhenti. Ini yang suka bikin bapaknya telat masuk kantor :D Sisi positifnya, ya bisa buat ngecilin perut juga sih bu…

  9. Terima kasih atas sharingnya Bu :)

  10. Ardians,
    Jangan patah semangat, berarti anaknya lagi senang bermain, itu ada masanya kok. Anak sulung saya dulunya kalau dikasih buku, cuma dicorat-coret, dia lebih suka diajak mengobrol, bergerak, pengin tahu segalanya.

    Tetapi begitu umur memenuhi, entah bagaimana tahu-tahu senang baca…dan tak bisa dihentikan. Kalau diajak kemana-mana, yang ada tulisan, entah papan reklame, entah tulisan penunjuk jalan semua dibaca…akibatnya mogok di TK dan pengin masuk SD…hahaha..ganti orangtuanya yang kebingungan nyari sekolah, akhirnya dapat di SD Inpres dekat rumah (lha sekolah lain udah tutup).

    Fakhrurrozy,
    Semoga bermanfaat, thanks telah berkunjung.

  11. Walah salut nih putra Ibu malah punya aktivitas membaca yang baik. Padahal, betapa susahnya membangkitkan minat baca di kalangan generasi muda. Kalau menurut hemat saya sih, justru *halah sok menggurui, hehehe :D * perlu disediakan bahan bacaan yang sehat dan “bergizi”. Kalau semua generasi muda seperti putra Ibu, wah, budaya iliterasi yang masih berlangsung di negeri ini akan berubah menjadi budaya literasi yang sangat besar manfaatnya bagi kemajuan peradaban bangsa. OK, salam.

  12. Salam kenal Mba’ Ratna,
    terima kasih sekali lho mau berbagi ilmu… gratis lagi, he he he….
    Anak saya Athaya, sekarang umurnya 3 tahun, polahnya sudah macem-macem, ngomongnya lancar banget kaya pancuran (kata yang Ti-nya), apa gara-gara sejak dalam kandungan sering kami ajak ngobrol, lalu semenjak bayi saya selalu bacain buku cerita meskipun dia belum ngerti (sampai saat ini, setiap malam saya selalu bacain cerita sebelum bobo’).
    Cuma, saya punya masalah yang cukup mengganggu yaitu jam tidur Athaya yang kurang pas.
    Saya cuma PNS biasa di lapangan banteng mbak, jam kerja resmi sih sampai jam 5 sore tapi sehari hari lebih sering overtime (biasanya jam 8 malam baru bisa keluar kantor), akibatnya saya nyampe rumah di atas jam 9 malam. Nah ini masalahnya, Athaya belum mau tidur kalo belum ketemu Abi-nya. Akibatnya dia tidur selalu larut malam.. ada solusinya ngga Mbak ? Soalnya saya ngga mau anak saya jadi Batman…. (dan mohon izin untuk nyambungin blog Mbak Ratna ke Blog Athaya yach ?) Thx a lot….

  13. Ibu, klo saya sudah bisa baca sejak TK. Yang dibaca majalah BOBO, sampe sekarang klo jalan-jalan ke Gramedia, pasti mampir sebentar buat nebeng baca BOBO..hehehehe. Dan waktu jaman saya kecil belum ada acara TV yang bagus-bagus, paling banter si Unyil, jadi memang saya dan adik lebih senang membaca. Mama saya juga sering mendongeng sebelum tidur. Klo sekarang, sepupu-sepupu saya yang masih balita, gak seneng baca.. Lebih senang main PS dan nonton TV :)

  14. Pak Sawali,
    Kebetulan saya tinggal di kompleks rumah dinas, yang sebagian ibu rumah tangganya bekerja, dan yang tak bekerja rata-rata juga lulusan S1. Jadi di setiap rumah banyak bacaan, akibatnya anakku keluyuran ke tetangga nebeng bacaan yang ga ada dirumah.

    Tapi sebetulnya minat baca anak sangat tergantung pada lingkungan, saya dan teman2 sepakat, bahwa kalau anak kita nakal pas main dirumahnya harus ditegur dan ortu dikasih tahu, sehingga anak juga terlatih ber etika. Juga kalau Magrib harus pulang, karena waktunya untuk belajar.

    Athaya,
    Saya dulu juga sering pulang malam, kantor saya di jl. veteran sebelum pindah ke Semanggi, tapi pas anak-anak kecil karir saya flat, jadi kalaupun pulang malam ga setiap hari. Anak-anak memang sering molor waktu tidurnya, dulu setiap jam 9 malam anak-anak harus masuk ke kamar, lampu mulai diredupkan, jadi kalaupun main berupa mainan yang di atas tempat tidur. Pura-pura jualan dawet, sate, jadi ayam berkotek dll yang jadi alat mainan adalah boneka dari kain (jadi boneka anak-anak ga ada yang beres, karena buat perang2an). Lama-lama anak akan lelah…..sebetulnya anak akan mudah tidur kalau didongengi….dan kadang malah yang mendongeng yang udah ngantuk, jadi dongengnya jadi kacau. Setelah anak agak besar, dia sering koreksi…ibu kok jadi cerita lain sih, kan tadi timun emas…hahaha.

    Semua ada risikonya kok, kalau sesekali tidur malam gak apa-apa, atau jam tidur siangnya yang dikurangi, agar dia lebih cepat mengantuk.

    Silahkan kalau mau di link, thanks.

    Winnie,
    Sepupunya main PS karena lingkungannya main PS, juga karena ortunya suka nonton TV. Di rumah, saat anak-anak masih kecil, jam TV ada batasnya, setelah anak mengerjakan PR. Inipun sesuai kesepakatan dengan anak, acara apa yang ingin ditonton dalam satu minggu ke depan.

    Juga anak saya nggak dibelikan PS, tapi dibelikan komputer dan dibujuk kalau dengan komputer malah bisa bikin program dan ada game nya juga.

    Walaupun demikian, saya tahu anak saya suka curi waktu main PS di rumah tetangga, tapi kan jam nya terbatas, dibanding jika punya sendiri, karena telah ada kesepakatan dengan tetangga, ada jam tidur siang, dan setelah Magrib harus pulang.

  15. Ibu-ibu di jaman dulu seperti ibu saya di tahun 1960-1963 waktu saya masih TK sampai kelas-kelas awal SD, suka sekali mendongeng sebelum kami bertiga, putra-putrinya, tidur.

    Jadi kami tidur berempat di ranjang ukuran Queen’s size lalu sebelum tidur ibu mendongeng, dari “Kancil Mencuri Ketimun”, “Timun Emas” sampai “Ajisaka dan Buaya Putih”..

    Hipotesis saya, “Ibu yang suka mendongeng sejak anak berusia balita pada akhirnya akan membuat si anak kalau sudah gede jadi seneng membaca”..

    Anak-anak di tahun 1960an dulu seneng sekali membaca. Mengapa ? Habis textbook wajib di kelas I SD judulnya “Gelis Pinter Maca” (Cepat Pandai Membaca)..

    Kalau anak sejak kecil sering dibacakan dongeng oleh ayah dan ibunya, maka si anak akan cenderung kalem dan lebih mementingkan olah otak daripada olah gerak (walaupun olah gerak nggak selalu berarti jelek, ingat “men sana in corpore sano”, di badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat, tapi setelah sehat..so what gitu loh….)..

    Cerita anak kecil di KA yang selalu rewel yang nggerecokin ayah ibunya sepanjang perjalanan tersebut, membuktikan bahwa kita orangtua Indonesia jaman sekarang sudah melupakan apa yang pernah diajarkan oleh para londo-londo Belanda jaman dulu..

    Saya pernah lihat dua anak kecil usia sekitar 3-4 tahun, satu laki satu perempuan. Waktu itu saya dalam penerbangan antara Tokyo-Los Angeles dan waktu penerbangan malam, lampu pesawat sudah dimatikan. Ternyata kedua anak tersebut tidak bisa tidur dan merengek minta dibacakan dongeng. Saya lihat si Bapak bule sudah menyiapkan buku-buku kesenangan dua anak tadi. Setelah 15 menit si Bapak membaca, tidak lama kemudian kedua anak tersebut sudah tenang dan jatuh tertidur…zzzz… zzzz.. zzzz…

    Jadi intinya, orang-orang Barat yang pernah menjajah kita dulu tidak sepenuhnya brengsek tapi juga mengajarkan hal-hal yang baik.

    Sayangnya, setelah 40 tahun merdeka kita cenderung melupakan ajaran-ajaran yang baik tersebut dan “mencari rumus sendiri”..dan akhirnya kebingungan.. he..he…

    (Saya paling seneng kalau melihat orang bingung…hik..hik…)

    p.s.: anak sulung saya dulu waktu kecil suka sekali nonton acara Sesame Street versi bahasa Inggris (dengan teks Indonesia) di RCTI di awal tahun 1990an, dan pelan-pelan ia menirukan cara pengucapan bahasa Inggris yang benar :
    “one”..”two”.. “blue”.. “orange”..”kite”..”bright”..”might”..”tight”…

    Setelah SMP anak saya punya english pronouncation yang hampir mendekati native speaker, dan pada suatu hari gurunya nanya “Kamu les bahasa Inggris dimana ?”. Anak saya menjawab, “Saya tidak les bahasa Inggris, saya hanya senang melihat Sesame Street di TV dan menirukan ucapan bahasa Inggris tokoh-tokohnya…”

    Nah lho kan ? Ternyata acara-acara yang bagus di RCTIpun banyak yang hilang dan semuanya diganti dengan sinetron yang gak bermutu bagi pendidikan tapi punya “rating” dan “share audience” yang tinggi…

    Siapa yang salah ? Tanyalah pada rumput yang bergoyang…

  16. Triwahjono,
    Benar, TV acaranya tak selalu jelek, anak bisa memilih acara yang disukai dengan panduan orangtua (disini ortu tak boleh acuh)

    Saya ingat, saat udah SMP ibu mulai mendongeng untuk kedua adikku yang masih SD, walaupun lagi belajar, saya ikut juga ketempat tidur mendengar dongengan ibu. Dengan mendongeng kita bisa menyelipkan budi pekerti dan etika yang secara tak langsung mengajarkan berperilaku baik.

    Betapa bahagianya, jadi seorang ibu, saat si kecil mendengarkan dongengan kita sambil matanya yang bulat bersih itu berketip-ketip, bergerak-gerak mengikuti emosi yang ada di dongengan.

  17. Saya mendukung kegiatan anak-anak untuk belajar membaca sejak dini. Saya pribadi seperti yang pernah saya ceritakan di blog saya selalu menyempatkan ke perpustakaan setiap sabtu pagi sebagai rutinitas yang membangkitkan semangat mereka untuk membaca. Disana mereka dapat mengambil buku apa saja untuk dipinjam tanpa dipungut biaya. Mungkin saat ini mereka hanya dapat berpartisipasi dengan mendengarkan saya membaca, namun mereka belajar untuk mulai terpesona dengan halaman-halaman cerita yang mereka buka sendiri.

    Sekarang setiap malam mereka tidak mau tidur kalau belum dibacakan satu buku cerita. Tidurnya jadi tidak nyenyak kata anak saya yang pertama :)

  18. Buku udah jadi menu santapan tiap hari bagi saya dan adek-adek. ketularan Papa sih, Bu, hehehe.. apalagi Papa juga rajin beli buku anak-anak. Jaman masih kecil, apapun yang berlabel majalah anak-anak, pasti Papa beli. Mulai dari Komik Buncil, Bobo, Ananda, Donald Bebek, Si Kuncung, Siswa, Sisipan Koran Kedaulatan Rakyat, wah lengkap.

    Sayangnya, adek bungsuku ga punya minat baca yang sama. Pengaruh TV dan PS terlalu besar :( .

    Dan lagi dia ga punya lawan rebutan bacaan. Ga kayak saya dulu, satu majalah direbut bertiga sampai dimarahin Mama, hihihi

    Sekarang kami sekeluarga sedikit ‘memaksa’ dia baca apapun. Kompas Anak.. Bobo..satu bab di novel. Apapun.

  19. Barry,
    Setuju…senang baca sangat penting, di Indonesia mudah2an semakin banyak perpustakaan atau taman bacaan, yang kalaupun bayar bisa sangat murah.

    Utaminingtyazzz,
    Adiknya masih SD kan? Mungkin karena dia jaraknya jauh dengan kakaknya, …..pelan-pelan kakak harus mencadangkan waktu minimal satu atau 2 jam sehari untuk sekedar ngobrol ringan dengan adik….nanti pelan-pelan kita bisa mempengaruhi sedikit demi sedikit.

  20. hehehe.., ternyata mengasuh anak itu gampang2susah ya bu?

    saya blom mengalaminya tapi bisa merasakan dari hal yg saya lihat

    dan benar bahwa anak kecil kadang menjengkelkan,
    namun juga sangat menyenangkan (^_^)

    oya, dari satu tulisan ini, saya mendapat banyak hal.
    terima kasih banget…

    salam kenal utk ibu enny ratnawati,
    (smoga.tdk.salah.tulis.nama)


    adi.nugroho

  21. Axireaxi,
    Iya mengasuh anak seperti main layangan…kadang diulur dan kadang ditarik. Sebetulnya juga mirip mengelola perusahaan, dilihat dari sisi SDM nya.

    Yang jelas, serepot apapun, melakukan kegiatan bersama anak sangat menyenangkan.

  22. saya sedang mencari inspirasi bu, inspirasi untuk skripsi. Diantara tema yang terpikirkan untuk diteliti adalah “adakah hubungan antara kebiasaan mendengarkan dongeng sebelum tidur dengan kemampuan membaca pada anak?” dan mesin pencarian google menunjukkan blog istimewa ini. Semoga kita bisa Sharing bu.

    http://specialclassmates.wordpress.com


Beri tanggapan

Your response:

Kategori