Dalam artikel sebelumnya, tentang “Apakah lingkungan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku?”, telah di bahas bahwa sesuai penjelasan Beben B. (2007), penelitian di bidang genetika saat ini tidak hanya tentang sejauh mana faktor genetik mempengaruhi tingkah laku tertentu, tetapi sudah sampai pada tahap gen-gen yang mempengaruhinya. Artikel Kompas, yang ditulis oleh Irwan Julianto, tanggal 21 Nopember 2007, menjelaskan bahwa hasil temuan ilmuwan, apabila tidak disikapi secara hati-hati bisa menyebabkan bumerang.
Julianto,Irwan (2007) menjelaskan bahwa Watson adalah penemu struktur molekuler DNA (Asam deoksiribo Nukleat) pada kromosom yang berbentuk ulir ganda (double helix) bersama Francis Crick pada tahun 1953, yang mengantar mereka memperoleh hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1962. Temuan mereka dipuji sebagai pencapaian ilmu terbesar abad ke-20. Setelah Crick wafat, Watson tinggal seorang diri sebagai “the godfather of DNA“, demikian puja puji Charlotte Hunt-Grubbe, salah seorang murid Watson, dalam wawancara yang ditulisnya di The Sunday Times, London, 14 Oktober 2007. Ternyata wawancara tersebut menjadi bumerang bagi Watson.
Julianto, Irwan selanjutnya menjelaskan , bahwa pernyataan yang kontroversial itu persisnya seperti ini
” Secara inheren, bagi saya, prospek Afrika sungguh kelam, karena seluruh kebijakan sosial kita didasarkan pada anggapan bahwa tingkat kecerdasan orang Afrika sama dengan kita, nyatanya semua hasil pengujian menunjukkan tidak demikian“.
Julianto, I. juga menceritakan, bahwa karena kekonyolannya , majalah the Economist edisi 10 Nopember 2007 menyebut Watson telah membuat komentar bodoh yang mematikan karirnya tentang “seberapa jauh tingkat kecerdasan ras tertentu lebih ditentukan oleh alam (nature) atau oleh pengasuhan/asupan makanan bergizi (nurture).”
Seleksi alam
Lebih jauh, Julianto, I., menjelaskan bahwa walau Watson telah menyatakan penyesalannya, masih banyak warga kulit putih Amerika yang diam-diam tetap meyakini superioritas ras kulit putih dibanding dengan ras-ras kulit berwarna lain. Buku The Bell Curve: Intelligence and Class Structure in American Life (1994), karya guru besar Universitas Harvard, Richard Herrnstein dan Charles Murray, misalnya, menyatakan rata-rata uji IQ, warga Amerika Serikat keturunan Afrika yang lebih rendah adalah akibat adanya faktor genetis dan bukan manifestasi faktor-faktor sosial.
Menurut DR. Herawati Sudoyo, pakar genetika populasi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, isu gen, ras, dan kecerdasan memang amat sensitif di Amerika. Di Asia tidak terlalu sensitif . “Saya sendiri yakin, bahwa manusia pada dasarnya sama, tetapi kenyataannya memang ada variasi rasial.” Contoh yang jelas adalah dalam hal metabolisme obat-obatan, respons orang Asia lebih jelek dibandingkan dengan orang kulit putih karena perbedaan kadar enzim sitokrom P450 untuk metabolisme obat. Agar obat-obatan yang diproduksi oleh industri Farmasi Amerika dan Eropa tidak menumpuk jadi racun di hati orang-orang Asia dan Afrika, studi genetika populasi tetap perlu dilakukan. “Bukan untuk soal rasialisme. Karena seleksi alam, ada gen-gen yang timbul pada kelompok manusia pemburu-peramu yang survive. Kini dengan perubahan, gen itu jadi tidak baik sehingga sebagian kita jadi rentan terserang diabetes, kata Herawati Sudoyo.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Dalam menanggapi kondisi di atas, penulis berpendapat bahwa studi tentang genetika populasi tetap diperlukan, sejalan dengan pendapat Herawati Sudoyo. Perubahan gaya hidup, pola makanan, asupan gizi, hal-hal yang dulu tak menimbulkan masalah, sekarang bisa menjadi masalah kesehatan. Namun ilmuwan tetap harus berhati-hati dalam mempublikasikan temuannya, agar tak terjadi kontroversial di masyarakat, dan menjadi bumerang pada ilmuwan itu sendiri.
Dari artikel sebelumnya, sikap dan perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hasil penelitian diberbagai jurnal ilmiah, menyimpulkan bahwa antara 30-60 persen variasi pada berbagai tingkah laku manusia dipengaruhi oleh faktor genetik. Hal ini menunjukkan bahwa faktor keturunan sama pentingnya dengan faktor lingkungan dalam mempengaruhi berbagai karakteristik manusia (Beben, B, 2007).
Penelitian tentang DNA memungkinkan kita mengetahui secara dini, kemungkinan adanya gen yang menyebabkan seseorang rentan terhadap penyakit atau perilaku diluar kebiasaan. Dengan mengetahui secara dini, maka dapat dilakukan pencegahan terhadap kemungkinan terjadi risiko yang berbahaya, atau dapat diminimalisir.
Bahan bacaan:
- Julianto, Irwan. Iptek: “Watson, DNA dan Rasisme“. Kompas, 21 Nopember 2007, hal.1
- Benyamin, Beben. “Apakah karakter kita tercatat diuntaian DNA? Peneliti Post Doctoral di Queensland Institute of Medical Research, Australia. Makalah ini dibawakan dalam seminar akademik University of Queensland Indonesian Student Association (UQISA), Brisbane, 30 Mare 2007.

hemm.. artikel yang bagus.. RASIS? mendingan NARSIS dah.. soale saya punya prinsip bu,
Narsis bukan nasib, tapi prinsip
Oleh: imam on November 22, 2007
at 8:41 am
Imam,
Ilmuwan tetap harus hati-hati untuk mempublikasikan temuannya, karena bisa jadi bumerang.
Oleh: edratna on November 22, 2007
at 12:32 pm
kalo menurut saya, ilmuwan boleh dan harus mempublikasikan temuannya, apapun hasilnya.
Cuman, harus berhati-hati dalam membuat pernyataan yang berkaitan dengan temuannya…
Supaya gak jadi bumerang seperti cak Watson di atas
Oleh: alief on November 22, 2007
at 3:27 pm
jagalah mulut… hehe… mulutmu harimaumu
Oleh: Anang on November 22, 2007
at 8:32 pm
dalam psikologi, perbedaan inteligensi dan kemudian dikaitkan dengan perbedaan rasial selalu menjadi bahan perdebatan. beberapa penelitian meta-analisis yg pernah saya baca ttg perbedaan kecerdasan antar ras itu memang hampir semuanya menegaskan bahwa ada perbedaan inteligensi diantara ras-ras yg ada di bumi ini. dan biasanya memang ras kaukasia (kulit putih) yg dikatakan paling cerdas.
dan perbedaan itu selalu dihubungkan dengan masalah genetika sambil mengabaikan faktor nurture dan environment dari inteligensi itu.
padahal penegasan bahwa inteligensi terkait pada gen tertentu masih belum bisa diungkap scara keseluruhan alias masih ada misteri disitu. dan juga inteligensi bukan hanya faktor genetika saja tapi juga terkait faktor lingkungan. perpaduan nature + nurture inilah yang membentuk inteligensi secara keseluruhan.
Betul kata Dr Herawati bahwa ada variasi rasial. Tapi apakah variasi rasial itu seluruhnya menjadi tanggung jawab genetis ? Lalu apa pengaruh lingkungan pada inteligensi jika hanya genetika yg berpengaruh thdp inteligensi. Apa peran pengasuhan, pendidikan, pemberian ASI, makanan bergizi, lingkungan yang kondusif, dlsb bagi inteligensi ?
Kalau semuanya hanya soal gen, kita nggak bisa berbuat apa-apa dlm peningkatan taraf inteligensi. toh semuanya sudah tertulis “dari sononya”.
dan terlebih lagi, keunggulan kecerdasan ini yang seing dipakai sebagai semboyan dan slogan rasisme.
Oleh: Pyrrho on November 22, 2007
at 9:08 pm
Alief,
Betul, karena publikasi secara terbuka dapat dilakukan dalam forum ilmiah terbatas atau jurnal ilmiah, tak langsung ke masyarakat luas. Untuk ke masyarakat luas, tetap harus disikapi dengan hati-hati.
Anang,
Ya…norma tsb tentu berlaku juga bagi para blogger, agar tiap tulisan bisa mencerahkan masyarakat pembacanya, untuk mendidik…jadi menulis tetap harus ada tanggung jawab.
Pyrrho,
Saya sependapat, tetap ada unsur genetik dalam intelegensia…jadi ingat teman sekamarku, dia main melulu, baca cuma sekali, nilainya A…untuk mendapatkan hasil sama saya harus bekerja 10 kali lipat dibanding teman tadi. Namun ternyata dalam kehidupan, sikap dan perilaku…EQ sangat menentukan keberhasilan. Karena pintar sekali, A tidak sabar menghadapi orang lain/bawahan yang dianggapnya bodoh. Jadi, saya percaya lingkungan, gizi, cara mendidik, dapat memperbaiki kekurangan yang diperoleh dari gen tadi.
Oleh: edratna on November 22, 2007
at 10:54 pm
Saya juga sempat baca artikel ini Bu, sangat kontroversial. Pak Watson ini entah dirasuki setan rasisme atau kesombongan yang dipaksakan atas nama ilmu pengetahuan, yang jelas telah meluluhlantahkan karir dan martabatnya. Sayang sekali, padahal sudah mau disejajarkan dengan Darwin dalam bidang penemuan ter’heboh’ abad 20. Struktur DNA yang ditemukannya bersama Crick menjadi dasar pengembangan bioteknologi zaman kiwari..
Sepakat Bu, kalo Nature and nurture selalu menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan kapasitas seseorang, diantaranya kecerdasan. Kalo hanya genetika yang memegang kendali maka itu tidak adil. Kalo gitu, sebelum seseorang masuk sekolah ia harus dites genetika dulu untuk diukur tingkat kecerdasannya agar tidak ada murid yang ‘lambat’ yang akan merusak rata-rata kelas..ah, repot.
Oleh: dika on November 23, 2007
at 1:51 am
Dika,
Mungkin Watson ketiban sial, bumerang tsb gara-gara wawancara Charlotte Hunt-Grubbe, salah seorang murid Watson, dalam wawancara yang ditulisnya di The Sunday Times, London, 14 Oktober 2007.
Wawancara tersebut menjadi bumerang bagi Watson. Intinya, setiap publikasi temuan, apalagi wawancara ke publik harus sangat hati-hati.
Cerita di atas mengingat kan kita harus senantiasa berhati-hati dalam bersikap, apalagi jika dalam tulisan yang bisa dibaca siapapun.
Oleh: edratna on November 23, 2007
at 2:37 am
Kalau Eropa (Barat dan Utara — Yunani dan Romawi tidak termasuk) dan keturunannya merasa lebih superior dari segi intelejensia, mengapa mereka mesti menunggu 76 abad untuk membangun peradaban yang sekarang? China dan Timur Tengah serta Mesir (yang belum tercampur darah Yunani) cuma butuh 30 abad..
PS: dihitung dari kota pertama.. 6.000 B.C.E
Oleh: kunderemp an-narkaulipsiy on November 23, 2007
at 4:43 am
Jawaban tsb hanya bisa dibuktikan dengan karya ilmiah, yang tak terbantahkan…..sehingga mau tak mau semua harus setuju. Bagaimana dengan penelitian tentang orang Asia?
Oleh: edratna on November 23, 2007
at 4:53 am
berat banget postingannya… ampe pusing bacanya…
*malah lupa mau koment apa*
Oleh: ajiputra on November 23, 2007
at 7:08 am
Ajiputra,
Ahh…yang benar…kan intinya, bahwa ilmuwan kalau menemukan sesuatu harus berhati-hati dalam publikasi, karena dapat menjadi bumerang.
Oleh: edratna on November 23, 2007
at 7:19 am
jadi inget presentasiku di mata kuliah etika profesi nie yaitu tentang rasisme!
Seru ngebahas soal ini, nggak ada habisnya!
Oleh: evelyn pratiwi yusuf on November 24, 2007
at 3:18 pm
Evelyn Pratiwi,
Rasisme memang menimbulkan perdebatan tak ada habisnya…namun sebaiknya kita menyadari bahwa manusia pada dasarnya sama. Kalaupun ada kelemahan, pasti ada kelebihannya.
Oleh: edratna on November 25, 2007
at 3:10 am
Ada beberapa penelitian penting tentang manusia akhir-akhir ini. Pertama, tentang “genom manusia”. Kedua, tentang “plasma nutfah” (stem cell).
Penelitian tentang “genom manusia” menggunakan super komputer telah memetakan sekitar sejuta variasi dari gen manusia. Yang paling simpel, ya tentang adanya kulit putih, kulit hitam dsb. Sampai yang paling sulit tentang gen-gen apa saja (lokasi gen ke-n, jika n=1,2,3,…,23. Ingat gen ini ada dua putaran atau double helix) yang mempengaruhi manusia rentan thd penyakit tertentu..
Waktu 2001 saya kunjungi Korea, di Lembaga Bioteknologi Korea mereka mempunyai koleksi stem cell sebanyak 200.000 (Amerika konon punya 1.5 juta koleksi, Indonesia ? Nobody knows, mungkin orang Lembaga Eijkman ada yg tahu). Koleksi tsb disimpan dalam sejenis “kaleng kerupuk” dengan suhu -100 derajat celcius. Artinya apa ? Orang Korea dlm waktu 10 tahun bisa menanam semua jenis pohon di hutan Indonesia persis plek, tidak perlu nenteng-nenteng bibit dari tukang kembang di Jl. Asia Afrika Jakarta !!
Di Amerika Serikat pernah ada seorang pelatih American Football yg terpaksa mengundurkan diri setelah dia “mabuk” bersama seorang wartawan (mungkin dicekokin whiskey) sampai bilang “Orang item gak ada ape-apenya, cuman fisik doang kuat, otak gak ade ape-apenya”. Mungkin persis dg yang ditulis Watson.
Moral of the story, kalau lagi mabuk, orang suka nyerocos tentang apa saja, di alam bawah sadar. Jadi alam bawah sadar (hidden thought) yang bicara.
Sekian dulu ah, ntar disambung lagi..
Ciao,
-Tri Djoko Wahjono
http://triwahjono.wordpress.com/
Oleh: tridjoko on November 27, 2007
at 4:49 pm
Tridjoko,
Thanks tambahan pengetahuannya.
Oleh: edratna on November 27, 2007
at 11:44 pm
ikut komen dikit ya….. berbagi….
masalah kecerdasan tidak lah sederhana dalam pewarisan sifatnya karena meliputi banyak karakter lainnya yang menyebabkan kecerdesan seseorang….
apakah orang golongan kaukasia atau orang atau manusia yang lahir di Irian jayasana atau orang aborigin Australia atau pun orang Yahudi di Israel sana atau ras-ras lainnya….. semua yang membedakan hanyalah tempat dan kondisi perkembangan mereka dalam menyikapi lingkungan mereka. Manusia dengan akalnya mencoba untuk bisa bertahan dari berbagai kondisi lingkungan yang berbeda. Memang suka maupun tidak suka sifat seseorang ada yang cerdas ada yang ideot ada yang biasa-biasa saja ataupun bahkan ada yang lebih kuat secara fisik.
Karakter seperti ini memang merupakan produk dari yang namanya materi genetik dan interaksinya dengan lingkungan yang memunculkan orang-orang yang sesuai dapat bertahan dengan kondisi lingkungannya. Menyangkut masalah kecerdasan suka maupun tidak suka pengaruh genetik berlaku di sana dan juga pengaruh lingkungan juga ada (makanan, cara mendidik dan lain-lainnya), namun yang jelas tidak ada ras manusia yang lebih unggul antara ras yang satu dan yang lainnya, mungkin ada ras yang lebih cerdas mungkin juga ada ras lebih kuat fisiknya dan lainnya.
jadi inget rumus yang satu ini
F = G + E
dimana
F=fenotipe (penampilan)
G=Genotipe (sifat genetik)
E=Envirotment (Lingkungan)
itulah karakter manusia yang merupakan interaksi antara genetik dan lingkungan
Oleh: eko on Desember 3, 2007
at 8:50 am
Eko,
Makasih tambahan informasinya, sangat bermanfaat.
Oleh: edratna on Desember 4, 2007
at 8:28 am
menurut sy bisa jadi pernyataan watson ada benarnya
mungkin memang benar “potensi” intelegensia genetika orang afrika lebih rendah dari orang kulit putih ….
namun yg namanya potensi, ibarat pisau kalau diasah ya tidak akan tajam… jd kalo orang barat lelet mengasah pisaunya dan orang kulit hitam rajin mengasah pisaunya… ya bisa2 di hasil akhirnya malah terbaik
pisau orang afrika yg bakal lebih tajam ketimbang orang barat
*loh koq malah ngomongin pisau xixixi
Oleh: adit on Desember 5, 2007
at 5:56 am
Adit,
Hasil penelitian memang harus disikapi secara hati-hati karena bisa menimbulkan rasisme. Ingat Hitler?
Oleh: edratna on Desember 5, 2007
at 6:18 am
nah pertanyaanya ?, kalo pernyataan tersebut ilmiah ?, apakah mesti disembunyikan dari dunia ini ?
wah ini justru merugikan…… , padahal kalo sy liat dari sisi lain… pertanyaan tsb bisa menguak potensi intelegia masing2
tinggal ybs bisa memanfaatkan informasi tsb
misal contoh extreme
kalo ada yg melakukan penelitan thdp bangsa indonesia dan meyatakan kalau bangsa indonesia pemalas
apa reaksi paling cantik thdp informasi itu
1.protes keras2, bahkan kalau perlu si peneliti itu dihukum mati saja
2.introspeksi diri, dan lalu bekerja keras untuk membuktikan bahwa kita tidak pemalas
ah kalo saya sih pilih no1, soalnya protes lebih gampang ketimbang kerja keras (halah ngaco)
*peace
hitler hmm ?
Hitler = polikucing eh tikus
Watson = ilmuwan
ndak sama
Oleh: adit on Desember 5, 2007
at 6:41 am