Oleh: edratna | Desember 4, 2007

Apa kelebihan salon kecantikan “IHS”?

Pada sebuah jalan sepanjang satu kilometer di daerah Jakarta Selatan, terdapat 5 (lima) salon kecantikan. Anehnya hanya salon “IHS” yang ramai pengunjung, sejak pagi-pagi sekali, sampai menjelang malam. Dari sisi usianya, salon IHS termasuk pemain lama, bersamaan dengan salon GS yang berseberangan, yang konon masih ada hubungan saudara antar pemilik kedua salon tersebut.

Pada awalnya saya berlangganan pada salon GS, yang diawali oleh promosi sepupu saya. Namun saya kemudian berpindah ke lain hati, hanya gara-gara di salon GS, saya harus menunggu lama, karyawan sering memberi perhatian pada pelanggan lama yang sudah pesan lewat telepon, pada saat mereka datang, dan karyawan bersangkutan sedang melayani pelanggan lain, maka langsung segera melayani pelanggan yang sudah janji di telepon tadi, walaupun mereka datang terlambat dari waktu yang diperjanjikan.

Adalah hal wajar, bagi seorang wanita, untuk minimal sebulan sekali mengunjungi salon, yang sering di konotasikan “berfoya-foya”. Padahal mengunjungi salon kecantikan adalah sama dengan kita membersihkan badan, karena dimaksudkan untuk perawatan, entah berupa facial (perawatan wajah), creambath (perawatan rambut), atau sampai dengan menicure/pedicure (perawatan kuku tangan dan kaki), serta luluran. Untuk yang standar, pada umumnya orang datang ke salon minimal untuk perawatan wajah dan rambut.

Saya melihatnya, bahwa pergi ke salon adalah untuk memanjakan diri setelah sebulan bekerja keras, pergi pagi pulang sore untuk bekerja, mengurus anak dan suami, serta kebersihan rumah. Tentu saja, pergi ke salon bukan berarti menelantarkan keluarga, namun bisa dicari waktu senggang dimana ibu bisa keluar untuk merawat diri sendiri. Jika ibu badannya terawat, bersih, bahagia, maka seorang ibu yang bahagia akan membawakan kebahagiaan bagi rumah tangganya.

Larisnya salon IHS, menyebabkan muncul pesaing-pesaing, antara lain salon terkenal RH maupun JA. Anehnya salon IHS masih paling ramai pengunjung, bahkan akhir-akhir ini baru saja selesai membangun gedung 4 (empat) tingkat di lokasi yang lama. Saya akan mencoba menganalisis, apa kira-kira yang menyebabkan kesuksesan salon IHS tersebut.

1. Segmen pasarnya jelas

Salon IHS awalnya diusahakan di rumah biasa, hanya untuk wanita, di garasi dengan kapasitas 5 (lima) meja/kursi untuk perawatan rambut, serta 2 (dua) tempat tidur untuk perawatan wajah. Sedang ruangan yang lebih luas digunakan untuk area senam. Dalam perkembangannya, kegiatan senam tak berlangsung lama, dan salon kecantikan yang lebih diminati konsumen. Karena khusus wanita, maka para wanita merasa tidak risih, jika melakukan perawatan. Kebanyakan pelanggan adalah ibu-ibu muda, bahkan sampai berumur yang merupakan pelanggan sejak muda. Sedangkan anak remaja, mahasiswi, umumnya karena diajak oleh ibunya.

Yang datang di salon ini adalah kalangan menengah, sehingga mengharapkan pelayanan yang prima, dan IHS menjawab tantangan tersebut. Pada perkembangannya, salon IHS juga membuka untuk kaum pria, namun ruangannya terpisah, sehingga para wanita tidak terganggu.

2. Pendidikan karyawan dilakukan secara berkelanjutan, dan sesuai kompetensinya

Apa sih perbedaan salon IHS dan lainnya? Yang membedakan adalah pelayanan dan kenyamanannya. Para karyawan sebelumnya diberi pendidikan sendiri oleh salon IHS, yang dilakukan oleh karyawan senior. Pendidikan dilakukan secara bertingkat. Karyawan yang baru datang, dipekerjakan sebagai tenaga pembersih, melayani kebutuhan air panas, menyediakan handuk bersih dsb nya. Setelah dinilai cukup, mereka ditingkatkan sebagai tukang mencuci rambut pelanggan, dan disini cara mengeramasi rambut pelanggan sekaligus memberikan pijatan ringan pada kepala. Kemudian, para senior dilibatkan untuk melihat kompetensi dari yunior ini, apakah mereka lebih cocok untuk melakukan perawatan rambut, seperti creambath, atau untuk menicure/pedicure atau pijat refleksi. Sedangkan untuk yang melayani facial, memotong rambut, make up dan menyanggul, mempunyai kompetensi yang berbeda, karena tak semua mempunyai bakat disini.

Sebelum karyawan yang dilatih diperbolehkan menangani pelanggan, diuji dulu oleh para seniornya, apakah pijatannya telah terasa enak, karena kelebihan salon IHS pada keahlian para karyawan dalam melakukan pijatan, entah untuk perawatan rambut maupun wajah. Jika memijatnya belum enak, mereka belum boleh menangani pelanggan.

Salon IHS juga selalu berusaha meningkatkan pelayanan, seperti facial wajah, sekarang ada 2 (dua) kategori, yaitu facial pencet (untuk membersihkan lemak-lemak di wajah) dan facial totok (melakukan pijatan/totok pada daerah-daerah tertentu di wajah untuk melancarkan peredaran darah). Kemudian, pada saat pelanggan meminta jasa pedicure dan menicure, maka karyawan juga melakukan pijatan pada kaki dan tangan, seperti halnya pada refleksi. Untuk meningkatkan ketrampilan karyawannya, salon IHS secara berkala mengirim karyawan ke pelatihan.

3. Tidak membiarkan pelanggan menunggu

Terdapat supervisor pada masing-masing lantai perawatan, agar jangan sampai pelanggan menunggu terlalu lama. Supervisor ini juga sekaligus mengawasi agar para karyawan tidak saling mengobrol saat melayani pelanggan. Justru inilah yang membuat pelanggan senang jika datang ke salon IHS, begitu masuk langsung disapa secara sopan dan ramah tamah, ditanyakan keinginannya, dan diberitahu jenis perawatan yang ada, dan juga memberikan semacam konsultasi jika masih pelanggan baru.

4. One stop services

Selain menyediakan kantin, salon IHS juga bekerja sama dengan warung makan di sekitarnya, seperti tukang bakso, soto mie, gado-gado dll. Sedang kantin IHS hanya sekedar menyediakan kue kecil dan minuman botol. Dengan demikian, kehidupan salon IHS juga memberikan efek multiplier pada ekonomi sekitarnya, termasuk tukang parkir.

5. Jam buka sesuai kebutuhan konsumen

Walaupun salon IHS dibuka setiap hari, dari pagi sampai sore hari, tetapi salon IHS juga melayani permintaan pelanggan jika ingin make up dan sanggul pada pagi-pagi buta, sekitar jam 4 pagi, karena harus menghadiri acara resmi jam 8 pagi. Juga jika pelanggan memerlukan perawatan malam, bisa pesan pada salon IHS, dan ada karyawan yang akan membantu sampai pelanggan selesai dilayani. Inilah yang memudahkan bagi para pekerja, yang pulang kantor sudah malam, dan hanya punya waktu hari Sabtu atau Minggu yang sudah penuh dengan acara keluarga.

Sebagaimana jasa usaha lain, kepuasan pelanggan nomer satu. Salon IHS mengatasi hal ini, walaupun harganya cukup bersaing (tidak murah), namun pelanggan puas. Adik saya yang baru datang dari luar kota, dan agak masuk angin, pernah saya ajak ke salon IHS, pada saat creambath dan dipijit punggungnya, si mbak yang melayani melihat bahwa punggung adik saya langsung merah begitu baru dipijit. Adik saya ditanya, mau dipijat, atau dikeroki dulu baru dipijat? Tentu saja adik saya memilih kerokan dan pijat. Juga saat facial totok, yang dilanjutkan creambath dan pijat refleksi…komentar adik saya…”Wahh, ini salon benar-benar menyenangkan, si mbak nya bukan dipilih dari penampilan menarik, tetapi dari kompetensi cara pelayanannya..” Jadi, saya ke salon IHS, kadang hanya karena badan lagi kurang enak, mau melakukan perawatan, dipijat atau dikeroki… dan pulang dari salon, langsung bisa tidur nyenyak.

About these ads

Responses

  1. pertamax ga ya? *iseng-iseng mode on*

  2. Waterboom,
    Komentar dong….kira2 apa pembelajaran dari suatu usaha, jadi komentar di blog bisa saling sharing.

  3. Waaa bagus sekali manajemennya ya Bu. Sayang sekali nggak bakalan memanfaatkan layanan mereka wong saya gundul :)

  4. Paman tyo,

    Ada-ada aja….tapi bisa pijat refleksi kok. Iya, saya tertarik menulis, karena di Jl. CR salon yang lain jatuh bangun, bahkan salon terkenal, tapi IHS malah makin eksis.

  5. Bisnis jasa, biasanya menjadi besar karena gethok tular dan referensi dari para pelanggannya. Masuk akal, jika keberhasilan IHS memuaskan konsumennya, akan menimbulkan efek positif, bahwa pelanggannya akan kembali lagi dan mereferensikan kepada koleganya. Masalahnya adalah bagaimana pemilik usaha mampu mempertahankan level kualitas layanannya. Dan IHS mampu melakukannya.

  6. Dee,
    Saya berharap IHS mampu mengelola kualitasnya, serta membuat alih generasi yang lancar. Seringnya jika usaha berjalan baik, saat alih generasi kedua dstnya mulai tersendat.

  7. ” Saya melihatnya, bahwa pergi ke salon adalah untuk memanjakan diri setelah sebulan bekerja keras. ”

    Betul bu, ini bukan hanya demi pemenuhan hak menikmati suatu pencapaian, namun juga demi tersemangatinya [lagi] diri untuk menggapai pencapaian berikutnya.

  8. *manggut-manggut*

    Saya sudah mikir yang ngga-ngga tadi mbak. Kirain salonnya ada apa gitu.

    Ternyata sukses usaha bukan hanya faktor hoki semata..

  9. Handaru,
    Betul…konotasinya kalau pergi ke salon seperti berfoya-foya. Padahal, seperti salon IHS, yang datang kebanyakan ibu2 yang berkarir, dan terpelajar, yang tak cukup punya waktu banyak. Jadi konsumen bisa memilih paket yang cepat, sesuai waktu yang yang ada.

    Cewekbawel,
    Teman2 cowokku sering penasaran, ada apa sih di IHS kok rame, sopir menunggu majikan (kadang kan lari pas jam istiahat, dan balik lagi ke kantor)….
    Dan untuk menjembatani ini, salon IHS juga membuka untuk kepentingan keluarga (ayah ibu dan anak-anak) di ruang tersendiri. Jadi, kalau saya ke IHS, sering ketemu tetangga sekeluarga…

    O, iya…sukses adalah kerja keras, membuat lebih baik…dan lebih baik lagi. Begitu kita lengah, pesaing akan langsung menyerang…..

  10. tapi manajemen parkir mobilnya ngeselin orang lewat bu :D secara jalan cipete raya cuman 2 jalur trus disitu banyak persimpangan ditambah angkot yang (hobi) berhenti sembarangan
    eh ini ngomongin mbak itje yang di cipete kan?

  11. Iway,
    Bukankah yang bikin macet parkiran di dekat “Abuba Steak?” Temenku sampai sebel, gara-gara mobilnya pernah diseruduk mobil lain…..dan dia bersumpah tak mau makan abuba steak. Lucunya isteri, anak dan saudara-saudaranya penggemar Abuba Steak, jadi dia sendirian kemakan sumpahnya…hahaha.

    IHS? Hmm…tahu aja…tapi seingatku parkirannya cukup luas, dan ga bikin macet. Yang bikin macet adalah ortu pengantar anak di Al Ikhlas, yang suka menitip parkir di sembarang tepat.

  12. Ibu, artikel ini harus dibaca oleh mereka yg berniat bikin usaha salon. Soalnya sampe sekarang saya belum pernah nemu salon yg bener-bener ‘pas’ di hati.
    Btw, Ibu harusnya dibayar oleh Salon IHS nih.. udah iklan gratis hehehehe :)

  13. Salon IHS ini ada di Cipete Raya? Wah… saya tidak terlalu memperhatikan salon-salon di sepanjang Cipete Raya. Yang saya perhatikan hanya Abuba Steak, Rumah Makan Cianjur dan Kedai Halaman karena saya sering ditraktir makan di ketiga tempat itu.

    Salon IHS itu hebat juga, bisa bersaing dengan salon RH yang memiliki nama besar. Eh, RH itu Rudi Hadisuwarno kan, Bu?

    Saya melihat pelaku bisnis salon harus selalu mengutamakan kepuasan pelanggannya untuk mencipatakan pelanggan yang loyal dan selalu berkunjung (melakukan repeat buying). Bisnis salon kan beda dengan bisnis sampo. Dalam bisnis sampo, pemakai sampo yang puas bisa mendapatkan sampo di mana pun. Dalam menggunakan jasa salon, pelanggan bisa saja mendapatkan jenis pelayanan yang sama di salon lain. Akan tetapi, belum tentu dia akan memiliki tingkat kepuasan yang sama. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Di samping apa yang disampaikan pada artikel di atas, sentuhan personal dari para pegawai salon itu pun sangat berpengaruh. Apabila pelanggan tidak cocok dengan pegawai di salon itu, faktor ketenaran salon itu tidak akan dapat berbuat banyak. Nah, kemampuan untuk merekrut pegawai, pelatihan keterampilan persalonan dan pelatihan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan secara personal di salon IHS itu pun saya kira perlu mendapatkan acungan jempol.

  14. Winnie,
    Sulitnya, saya jadi ga puas jika ke salon lain…gara-gara pijitannya itu. Dan menurut saya, harganya relatif murah, dibanding salon RH, Rs, JA dll.

    Kang Kombor,
    Memang bisnis jasa sangat tergantung pada kepuasan pelanggan. Mengapa ada penjahit yang laku, ada salon yang laku, Bank yang disukai penyimpan dana…itu adalah karena pelayanannya. Dan kunci semua itu adalah masalah SDM, dan pendidikan yang berkesinambungan…bagaimana seorang senior mau mendidik yuniornya, dan baru melepas yunior menangani pelanggan jika oleh senior telah ditest dan dirasakan sendiri bagaimana melayani pelanggan.

    Ya betul, singkatan RH seperti yang dikatakan Kang Kombor…kalau pernah lewat Cipete, dulu sempat dibangun salon baru, bersih, keren…tapi pelanggannya nyaris nggak ada. Mungkin orang risih dicampur antara laki-laki dan perempuan, apalagi sekarang banyak wanita berjilbab, yang membutuhkan perawatan ekstra agar rambutnya tidak rontok.

  15. selama ini saya sangat penasaran juga kenapa IHS itu rame banget, ternyata itu tho rahasianya. saya juga merasakan hal yg sama di Totok Aura DK di jl AR, keramahan pelayanan, kenyamanan & kebersihan tempat, servis yg memuaskan itu yg membuat saya dan juga pelanggan lain setia di tempat itu.
    saya rasa meski harganya agak mahal, sangat sebanding dengan hasil yg didapat. badan jadi seger, relax dan puas.

  16. Nel,
    Iya, untuk bisnis jasa memang tergantung sekali sama kepuasan pelanggan, tak sekedar hanya murah.

  17. Saya salah satu penggemar salon IHS di cipete dan punya menu favorit facial totok, tapi berhubung rumah saya di daerah kemanggisan, seringkali mengalami kemacetan menuju cipete. Hari minggu kemarin saya agak tergugah dengan salon baru di daerah Kemanggisan…..Salon RAL yang letaknya persis di sebelah toko kemanggisan/tokem memiliki perawatan totok aura wajah, totok aura tubuh, lulur gold dan facial gold. SAngat menarik dengan harga yang murah. Untuk totok aura wajah 1 jam hanya 35 ribu…pijatannya enak sekali dan pemiliknya menangani langsung totok aura wajah. Sepulang dari sana, saya merasakan wajah yang segar, tidak stres lagi dan titik-titik yang tersumbat di wajah sepertinya bisa ditemukan secara tepat dan profesional. Puas rasanya. Apalagi salon kecil itu khusus untuk para wanita, saya yang berjilbab jadi tidak risih untuk datang kesana.

    Rania,
    Jangan-jangan kita pernah ketemu di IHS ya?


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 222 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: