Pak Budi Rahardjo pernah menulis tentang perlunya delegasi wewenang di blognya, dan saya ingin menulis dari sisi yang lain, pengalaman yang membuat saya makin kaya dalam memahami, bahwa hal-hal sebaik apapun tujuannya, tetap mengandung unsur risiko. Di dalam dunia kerja, kita mengenal delegasi wewenang, yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), delegasi wewenang adalah penyerahan wewenang dari atasan kepada bawahan di lingkungan tugas tertentu dengan kewajiban mempertanggung jawabkannya kepada yang menugasi.
Sebagai atasan, tentu anda harus berani memberikan sebagian wewenang kepada anak buah, namun anda tetap harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi, karena penyerahan wewenang tersebut tak dapat membuat anda lepas dari tanggung jawab. Oleh karena itu, dalam perusahaan yang baik, persyaratan tentang siapa yang dapat diberikan delegasi wewenang, diatur sangat ketat.
Cerita saya di bawah ini, adalah suatu pembelajaran, bahwa anda sebagai pimpinan tetap harus berani memberikan delegasi wewenang, karena pada merekalah nantinya perusahaan ini akan diserahkan pengelolaannya. Namun demikian pemberian wewenang mempunyai risiko, apabila yang diberikan wewenang melakukan kesalahan.
Pak Bana (bukan nama sebenarnya) mengawali usaha dari usaha kecil, yaitu dagang pracangan, atau di daerah tertentu disebut dagang kelontongan. Pak Bana dan bu Bana sering mengobrol dengan pembelinya, dari obrolan diketahui apa keinginan pembeli tadi. Keramahan suami isteri ini membuat pelanggannya meningkat, dan akhirnya pak Bana mempunyai supermarket (PT Superm).
Pak Bana suami isteri senang memasak, supermarketnya ditata sedemikian rupa sehingga tak terlalu sesak, orang yang berbelanja masih bisa saling mengobrol, cerita anak, tukar menukar resep masakan, karena pada tempat-tempat tertentu disediakan karyawan yang selain melayani pembeli supermarket, juga memandu cara memasak.
Pembeli yang tak seberapa pandai masak, senang berdiskusi tentang masakan, dan tentu saja kunci masakan yang enak adalah bahan baku yang segar. Untuk mendapatkan bahan baku segar ini, pak Bana bekerjasama dengan para petani di Puncak, yang lama kelamaan menjadi usaha tersendiri, kita sebut saja PT Farm. Perkembangan usaha pak Bana juga meningkatkan perekonomian para petani tanaman sayur dan buah-buah an di Puncak.
Suatu ketika, pak Bana dan isteri mengumpulkan beberapa resep masakannya, diantaranya sosis. Dari sini muncul ide membuat usaha tersendiri, yang menjual hasil produk makanan. Berdirilah PT Masaki, yang menghasilkan produk bahan pangan seperti sosis, bakso dll yang selain dijual ke supermarket pak Bana sendiri, juga dijual ke supermarket yang tersebar di tempat lain, dan hotel-hotel.
Usaha pak Bana (PT Superm, PT Farm dan PT Masaki) makin berkembang, usia pak Bana juga makin menanjak. Akhirnya pak Bana memutuskan untuk mengangkat Direktur bagi masing-masing perusahaan tersebut, dan pak Bana beserta isteri sebagai Komisaris. Yang menjadi Direktur adalah orang-orang yang selama ini menjadi anak buah pak Bana dalam mengembangkan usahanya, sehingga kemampuannya dinilai cukup untuk memimpin suatu perusahaan. Begitulah hari-hari pak Bana, sesekali mengunjungi perusahaannya, tapi di hari-hari lain menikmati masa tuanya dengan bertanam dan melakukan hal-hal lain yang menyenangkan.
Pada tahun 1997 krisis ekonomi melanda Indonesia, namun ketiga usaha pak Bana masih tetap aman, tak terkena dampak krisis, bahkan usaha pertaniannya yang bekerjasama dengan para petani menghasilkan keuntungan yang sangat memadai, karena diekspor ke luar negeri. Tahun 2001, salah satu perusahaan (PT Masaki) mulai terlihat tersendat, perputaran persediaan dan perputaran piutang semakin lama. Pak Bana, yang memang orang bisnis tulen, dengan pendidikan tak sampai perguruan tinggi, belum menyadari hal tersebut. Sampai suatu ketika, pak Bana mendapat surat dari Bank, untuk ikut hadir dalam diskusi. Disini pak Bana marah sekali, saat mengetahui, bahwa PT Masaki terlibat hutang yang belum terbayar, yang membuat klasifikasi pinjamannya di suatu Bank kurang lancar.
Dengan kondisi ini, pak Bana mengambil alih pimpinan perusahaan, setiap hari memonitor aliran kas perusahaan, dan akhirnya pak Bana tahu apa yang menjadi penyebabnya. Karena krisis, daya beli menurun, banyak supermarket dan hotel yang menunggak pembayaran pada PT Masaki, sehingga untuk membuat modal kerja perusahaan tetap berputar, Direktur PT Masaki meminjam uang pada pihak ketiga dengan bunga sangat tinggi. Dari diskusi panjang dengan pihak Bank, maka PT Masaki mendapatkan kesempatan men jadual ulang pinjamannya, bunga yang tertunggak di defered dalam jangka waktu sesuai cash flow, dan untuk keperluan modal kerja yang terlanjur tersedot pada piutang dan persediaan, maka PT Masaki diberikan tambahan modal kerja dengan pengawasan yang ketat. Begitulah, pak Bana memonitor aliran kas, membuat tim penagihan tunggakan, menjual diskon stok yang menumpuk, walaupun rugi, tapi tetap harus dijual agar kerugian tak berlanjut.
Setahun kemudian saya ketemu pak Bana….dia sudah bisa tersenyum lebar. Dan berkata…”Gara-gara masalah ini, saya menjadi tahu laporan keuangan, saya tahu stok persediaan menumpuk, perputaran piutang lama tak tertagih. Apa kerja Direktur saya…?” katanya. “Apakah bapak masih mempercayakan perusahaan pada orang lain?” tanya saya. “Tentu saja, saya harus berani mempercayakan pada mereka, ini namanya pembelajaran, dan saya sendiri juga belajar. Bahwa sebagai komisaris saya tak bisa cuma terima laporan, tetapi saya harus mengecek dan bisa membaca laporan keuangan. Yang saya sesalkan, Direktur PT Masaki tak memberitahu kalau dia ada kesulitan, malah mencari pinjaman pada rentenir,” katanya.
Ya, itulah pak Bana, kesalahan pada anak buah, dia tetap bertanggung jawab menyelesaikannya, mengambil alih, membantu memperbaiki, bahkan belajar bagaimana agar perusahaan dikelola dengan baik. Belajarnya pak Bana tak berhenti di situ, saat ini dia bisa memonitor aliran cash flow harian dari kantornya, dan dia mengatakan bahwa internet sangat membantunya dalam mengawasi perusahaan.

Saya termasuk orsang yang awam dalam masalah manajemen, Bu! Tapi soal pendelegasian wewenang dalam dunia pendidikan yang saya tahu akan memberikan dampak positif terhadap etos kerja bawahan. Mereka merasa dipercaya untuk mengemban amanat sehingga sebisa mungkin tidak mengecewakan. Tapi banyak juga loh Bu, pemimpin yang maunya menangani semua persoalan yang menjadi tanggung jawabnya. Takut “dana proyeknya” lari ke orang lain kali, ye?
Oleh: Sawali Tuhusetya on Desember 12, 2007
at 2:11 am
Kayaknya saya tahu deh karakter-karakter dalam cerita di atas.
Oleh: Nofie Iman on Desember 12, 2007
at 5:10 am
Pak Sawali,
Delegasi wewenang memang sangat diperlukan, memberikan dampak positif pada bawahan. Namun pertanggung jawaban pemberi delegasi wewenang juga ada, serta yang diberikan delegasi wewenang harus melaporkan pada yang menugasi (sesuai KBBI).
Dalam praktik, terutama yang terkait dengan lembaga finance, bisnis, dan mengandung risiko finansial, pemberian delegasi wewenang harus dilakukan dengan hati-hati, karena risikonya bisa secara langsung.
Nofie Iman,
Mungkin betul, tapi bisa juga tidak. Ada banyak kejadian yang mirip di atas, cerita di atas salah satunya, dan ada perubahan, namun intinya sama.
Oleh: edratna on Desember 12, 2007
at 7:33 am
enak ya punya pemimpin kaya Pak Bana. kalo pimpinan yg suka mendelegasikan hampir semua tugas kepada setapnya dan tetap membebankan sebagian tanggung jawab pada setapnya, gimana menurut ibu?
Oleh: isnuansa on Desember 12, 2007
at 9:14 am
Please oh please keep writing! Your articles are wonderful!
Oleh: fact interesting on Desember 12, 2007
at 12:44 pm
Isnuansa,
Pimpinan memang ber macam2 sifatnya, tapi coba tanggapi secara positif. Saya sering mengerjakan tugas, yang seharusnya beban pimpinan saya, dan dalam keadaan darurat sering mendadak harus menjawab (atau menghadapi pihak ketiga) hal-hal yang seharusnya dijawab oleh pimpinan.
Hasilnya? Gaji sih tetap, tetapi saya menjadi terlihat oleh pimpinan unit kerja lain, juga oleh Direksi (padahal saya masih staf)…dan ini memudahkan saat saya mendapatkan promosi. Jadi, “kalau karir ingin baik, bekerjalah seolah anda telah menjabat di atas posisi saat ini”…..sehingga saat mendapat promosi sudah siap, ini pesan bos saya.
Fact interesting,
Makasih….di atas tadi cerita nyata, cuma nama, tempat, jenis usaha diubah.
Oleh: edratna on Desember 12, 2007
at 12:52 pm
Untungnya beliau menganggap itu sebagai sebuah pembelajaran dan tetap berniat mendelegasikan wewenangnya ke para direktur. Namun saya tahu, seringpula terjadi para direktur tidak berdaya menghadapi owner yang masuk terlalu dalam operasional perusahaan. Sehingga ada joke bahwa Direktur = Direken Batur
Oleh: andrias ekoyuono on Desember 13, 2007
at 1:45 am
Andri,
Memang kita semua masih terus menerus belajar. Dan saya kira tak hanya learning organization…tapi juga ada learning management.
Istilah Direken Batur (Direk-tur) itu saya pikir untuk ngeledek, karena yang diledek tak mungkin jadi Direktur, kecuali Direktur di rumah tangga.
Oleh: edratna on Desember 13, 2007
at 3:30 am
supermarket? hehehe.. kayanya kmrn aku baru liat orangnya di tv
yang gayanya santai itu bukan? wah.. ternyata di balik gaya santainya tersimpan kerja keras ya ^_^ salut..
Oleh: narpen on Desember 21, 2007
at 1:45 am
Narpen,
Hahaha…iya, orangnya memang pekerja keras…tahu kan siapa? Dulu ibu suka bawain bakso atau sosis, yang resepnya bikinan dia sendiri….
Oleh: edratna on Desember 21, 2007
at 3:48 am