Oleh: edratna | Desember 21, 2007

Kecanduan cerita fiksi berlatar belakang sejarah

Saat masih gadis saya senang membaca cerita silat karangan SH Mintardjo, seperti “Nogososro dan Sabuk Inten”, kemudian “Api di Bukit Menoreh” yang bersambung dan serial lanjutannya keluar setiap bulan. Saat itu saya begitu terpesona sama tokoh Mahesa Djenar, sang pahlawan. Setiap bulan menunggu terbitan baru, dan karena saat itu buku sangat mahal buat keluargaku, kami membaca bergantian, dan saling pinjam meminjamkan. Kadang harus iuran dulu untuk bisa membeli buku serial berikutnya.

Pada sekitar tahun 2004 saya mendapat informasi dari seorang teman yang kebetulan rumahnya di Yogya, bahwa buku Nogososro dan Sabuk Inten (di singkat NSI), diterbitkan lagi dalam bentuk buku 3 (tiga) jilid, masing-masing jilid harganya Rp.100.000,-. Kalau mau pesan bisa dibelikan oleh temanku, belinya di Kedaulatan Rakyat. Kami rame-rame memesannya, dan kali ini anakku ikut baca. Apa komentarnya…? “Waduh saya gemes deh…ada orang kok sabarnya kayak begitu”, katanya. Yang dimaksud adalah karakter tokoh Mahesa Jenar, yang selalu tenang, tak mudah emosi walau sudah dimaki-maki oleh lawannya. Saya juga baru menyadari (maklum dulu bacanya buru-buru karena ada yang menunggu), ternyata dalam bukunya NSI banyak sekali ajaran falsafah Jawa.

Saya membaca NSI sampai tamat, namun tak demikian halnya dengan Api di Bukit Menoreh (ABM). Serial ABM sangat panjang, dan saya kelelahan mengikutinya, setelah melewati 100 jilid, saya juga sudah sangat sibuk, dan belinya harus di toko buku tertentu, akhirnya saya tak pernah membaca lagi. Mudah2an suatu ketika akan diterbitkan lagi, cuma konon katanya ABM tak pernah tamat, karena penulisnya wafat.

Sekarang muncul pengarang baru, namanya Langit Kresna Hariadi (disingkat LKH), yang juga pengagum SH Mintardjo. Sebelumnya LKH sudah malang melintang sebagai wartawan, penulis skenario, dan sejak dua tahun terakhir ini juga menulis buku yang berlatar belakang sejarah. Buku pertamanya, Gajah Mada, menuai banyak kritik. LKH menanggapi kritik itu dengan perbaikan, sehingga bukunya direvisi. Buku-buku selanjutnya sangat memukau saya, dan LKH telah membuat 5 (lima) serial atau pancalogi tentang Gajah Mada, sebagai berikut:

  1. Gajah Mada
  2. Gajah Mada: Bergelut dalam kemelut Tahta dan Angkara
  3. Gajah Mada: Hamukti Palapa
  4. Gajah Mada: Perang Bubat
  5. Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa

LKH sangat pandai memberi nama tokoh-tokohnya, akibatnya dia banyak menerima pesanan nama dari para ibu-ibu yang akan melahirkan. Sekarang LKH baru menerbitkan buku baru, berjudul “Candi Murca: Ken Arok, Hantu Padang Karautan” (disingkat KAHPK) yang terdiri dari 811 lembar. Awal mulanya saya ragu, karena cukup mahal (Rp.88.000,- ), tapi melihat yang mengarang LKH, saya penasaran, dan saya tak menyesal membelinya. Buku ini nantinya akan terdiri dari 9 (sembilan) buku. Anak sulungku sampai lupa makan dan mandi, hanya untuk menyelesaikan membaca buku ini. Isinya tentang cerita silat, fiksi, dan berlatar belakang sejarah awal mulanya Singasari.LKH juga menyediakan situs, http://www.langitkresnahariadi.com serta emailnya di candimurca (at) langitkresna hariadi.com, agar para pembacanya bisa saling berdiskusi dan memberikan saran-sarannya.

Apakah anda termasuk pembaca cerita karangan LKH? Bagaimana menurut anda? Buku KAHPK, diharapkan dapat menarik para penulis skenario untuk dapat ditayangkan dalam film silat versi Indonesia.

About these ads

Responses

  1. saya baru baca buku pertama
    belum sempet beli buku-buku lainnya
    emang menarik sih :D

  2. Caplang,
    Iya, saya jadi menabung agar bisa terus beli bukunya.

  3. saya termasuk yang tertarik.. gut.

    wah, kayaknya bu enny mulai baca buku LKH karena saya kah? hehe *nge-klaim :P

  4. Trian,

    Lha saya lahir duluan kan? …hehehe bercanda. Mungkin juga sih….awalnya cuma mau beli buku Gajah Mada (satu buku), penjaganya bilang….” bu, bukunya tetralogi, banyak yang suka”.
    Jadi saya sekaligus beli tiga…ternyata ada dua lagi….dan sekarang bakalan ada 9 buku, tapi kan LKH akan mengeluarkan bukunya tiap bulan (mudah2an). Kemarin juga udah beli Rahasia Meede, yang nulis alumni Tarnus, asyiik juga…wahh gawat nih, saya mesti punya side job, kalau ngga gitu nggak kuat beli buku.

  5. wah saya generasi yang gak merasakan karya SH Mintardjo. tapi kalo penulis baru ini akan saya cari deh… terimakasih infonya :D

  6. kemarin saya nonton acaranya Kick Andi (21/12/2007), disitu dikumpulkan para pengarang buku termasuk LKH ini. karyanya yg populer adalah Gajah Mada yg menuai banyak kritik karena kecerobohan dia dalam menulis karya fiksi sejarah tetapi tanpa sumber yg jelas. sekarang beliau lebih berhati-hati lagi bahkan untuk sebuah cerita dia langsung mendatangi musium trowulan supaya lebih dekat dengan sumber cerita secara langsung :D

  7. saya juga sering kecanduan buku…”NSSI” pernah saya baca….jadul seh..tapi yg saya beli dan saya simpan adalah “Anak bajang menggiring angin” dari Sindhunata….bagusss banget

    nanti klo saya pulang pasti saya beli buku2 SH Mintarja ini

  8. Saya takut jadi bingung membedakan mana yang fiksi dan mana yang sejarahnya nanti… LOL

  9. ikram:
    Salah, ikram..
    Justru karena terbiasa membaca fiksi, justru bisa membedakan fiksi dengan fakta.

    Misalkan kisah jatuhnya Majapahit. Buat yang mengandalkan cerita dari kakek atau nenek yang cuma mengandalkan Babad, biasanya akan percaya bahwa yang mereka tahu adalah fakta. Mereka tidak mau mendengar versi lain dari sebuah cerita Tetapi dengan membaca beberapa versi cerita plus mencari sendiri, mereka akan mulai bijak akan sejarah.

    Selain itu, kisah sejarah juga menuntun pembacanya untuk mengetahui lebih lanjut.
    Misalnya kisah-kisah wuxia (cerita kungfu) karya Louis Cha alias Jin Yong alias Chin Yung. Setelah membaca Book and Sword (Pedang dan Kitab Suci), aku jadi tertarik mempelajari Xinjiang, Taklamakan, suku Uyghur, kepahlawanan Yiparhan (Ipar Khan) dan bahkan akhirnya aku menemukan cerita tentang salah satu AlQuran tertua di kota Tashkent, Uzbekistan (yup.. kota kelahiran Sabina, istrinya Guruh Soekarno Putra).

    Atau setelah menonton The Great Conqueror’s Concubine (Gong Li.. Gong Li.. Gong Li… :p), aku jadi mengetahui bahwa Liu Bang (pendiri dinasti Han) dalam sejarah, ternyata memang kontradiksi (tetapi biasanya yang ditampilkan, yang bijak-bijak — tapi lucunya kalau di film ini, justru hal-hal tersebut disebut sebagai kelicikannya Liu Bang).

    Atau setelah menonton Asoka (Shah Rukh Khan) dan Mangal Pandey, aku jadi membuka-buka lagi sejarah-sejarah India.

    Atau setelah membaca Rahasia Meede-nya ES Ito, aku jadi membaca lagi koleksi buku-buku tentang Batavia, baik karya Adolf Heuken, Mona Lohanda, Leonard Blusse, sampai Alwi Shahab.

    Atau setelah membaca drama “Ken Arok”-nya Saini KM, aku jadi tertarik mencari-cari tentang Ken Angrok. Dan sampai sekarang, aku mendambakan kisah Ken Arok yang dipandang dari Ken Dedes (pasti lebih menarik.. kisah wanita cerdas yang mampu memikat laki-laki).

    Jadi menurutku,
    jangan takut membaca fiksi berdasarkan sejarah. Mereka adalah pintu pertama ke gerbang pengetahuan yang lebih luas. Mungkin ada satu atau dua hal yang meleset, tetapi dengan membuat kita tertarik pada sejarah yang diceritakan, mereka berjasa telah membuka minat orang awam seperti kita.

  10. Sebenarnya cerita2 tersebut jikalau dilayarperakkan tentu akan menarik ya, nggak kalah seperti legenda2 sejarah Yunani atau Romawi seperti Julius Caesar, dsb. Tapi ya itu untuk mencapai sinematografi yang bagus mungkin memerlukan daya kreativitas dan tentu saja anggaran yang tinggi yang mungkin agak sulit dilakukan di negeri ini.

    **halaah** jadi OOT ya bu? :D

  11. Salam kenal :)

    Saya sebenernya tertarik pengen baca buku gajah mada itu, tapi masih berada di urutan tengah list buku yang harus saya beli nih :D Dan masih jauh pula untuk dibeli dekat-dekat ini. Yang jelas, saya juga tertarik baca buku semacam itu, bikin ‘cerdas’ :)

  12. Sitijenang,
    Karangan SH Mintardjo diterbitkan lagi kok, dan tidak rugi untuk membacanya. Anak-anakku, generasi lahir tahun 80 an masih suka bacanya, karena banyak falsafah tentang kehidupan. Masalahnya saya nggak tahu belinya dimana, mungkin teman-teman yang sekarang tinggal di Yogya bisa menjawab. Di toko buku di Jakarta (TGA, Aksara, Gramed) belum terlihat.

    Totoks,
    Iya betul, karangan LKH selanjutnya makin bagus. Untuk buku tentang Candi Murca, LKH diajak pak Luluk S (Direjn migas), survey ke daerah Trowulan, dan saat menulis bukunya LKH mengontrak rumah di Singasari (asal usul kerajaan Singasari), Malang.

    Wieda,
    Saya belum sempat baca “Anak Bajang Menggiring Angin” karangan Sindunata, karena langsung dibawa suami ke Bandung, buku ini banyak muatan filsafatnya, menurut dosen Filsafat UI (suami pengin melanjutkan studi filsafat).

    Ikram,
    Nggak usah bingung, nikmati aja. Zaman mahasiswa dulu, gara-gara baca ABM, kalau naik bis dari Solo ke Yogya, kan lewat daerah Sangkalputung (tempat kelahiran tokohnya)…terus membayangkan Agung Sedayu dengan senjata pecutnya….hehehe…mungkin seperti ini menariknya.

    Kunderemp,
    Yup…setuju. Kamu lebih gila dibanding ibu, kalau soal membaca cerita latar belakang sejarah, buku-buku warisan eyang kakungpun di lalap habis dalam waktu singkat.

    Yari NK,
    Udah baca yang Candi Murca? Penulisnya menggabungkan cerita fiksi, sejarah, silat dan lain-lain…siapa tahu suatu ketika ada yang tertarik untuk membuat film nya. Bukankah banyak film China berlatar belakang sejarah, dan bisa dibuat menarik? Saya kemarin menonton “Warlords”…jadi ingat tentang “Kisah Tiga Negara” karangan Nio Yu Lan, yang telah saya baca sejak saya SMA (ayah saya pencinta buku).

    Donny Reza,
    Salam kenal kembali. Mungkin cara bacanya seperti saya dulu, dari saling meminjam. Kalau adik atau teman ultah, hadiahnya buku, dengan pesan, jika selesai baca, saya pinjam. Mereka juga akan memberi hadiah buku jika saya ultah, dan pesan yang sama. Akhirnya banyak sekali buku yang bisa dibaca…sayangnya bukunya jadi amburadul, entah ada dimana…sekarang saya sedang ingin merapihkan lagi buku-buku lama, terutama yang telah ada sejak zaman ayah alm.

  13. Waduh, saya jadi bingung kalo fiksi sejarah. Soalnya saya ini bingungan…hihihi…

    Mending saya baca Wiro Sableng atau LOTR dan Harry Potter saja.

    Saya sih sukanya baca kalo fiksi ya full fiksi, kalo sejarah ya full sejarah aja…

  14. Oh ya satu lagi…

    Sebenarnya sejarah kita memang 50%-nya mengandung legenda. Terutama sejarah kerajaan-kerajaan di nusantara.

    Mmm…kalo menurut saya sih, tanpa fiksi, alur sejarah yang dikenal saat inipun sudah bagus kalo difilmkan. Nanti takutnya kalo ditambahin cerita fiksi, generasi berikutnya menganggap bahwa itulah cerita yang sebenarnya.

    Mungkin bisa usul ke pak Iman Brotoseno…beliau kan sutradara…hihihi…

  15. Iwan Rystiono,
    Udah baca “Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai tahun 1647?” Buku tsb diterjemahkan dari buku yang berjudul “Punika Serat Babad Tanah Jawi Saking nabi Adam doemoegi ing tahoen 1647″, disusun oleh W.L Olthof di Leiden, Belanda.

    Kalau kita pernah mendengar legenda tentang Sunan Kalijaga, atau baca di beberapa buku cerita sebelumnya, maka ada sudut pandang yang lain.
    Apalagi fiksi sejarah, karena sejarah itu sendiri, juga tidak lengkap, artinya ada tahun-tahun yang kosong tak ada ceritanya…ini menimbulkan penafsiran-penafsiran.

    Sebagaimana buku cerita, maka setiap orang mempunyai minat yang berbeda, dan justru perbedaan inilah yang membuat kita menjadi kaya. Ada orang yang senang cerita detektif, karya sastra, fiksi sejarah (istilah ini kayaknya juga baru muncul belakangan). Karya sastra, yang dari dulu saya suka membaca, bagi anak saya terlihat aneh, karena setengah halaman hanya menggambarkan tentang seorang perempuan, dari mulai rambut, mata, cara berjalan dsb nya…padahal zamannya Sutan Takdir Alisyahbana cs hal ini biasa. Jadi, dengan membaca, kita bisa menelusuri zaman atau gaya penulisan saat itu…tentu saja ini buat orang yang hobi. Sedangkan yang bukan hobi, tentu lain minatnya.

    Salam manis.

  16. Wah, salut nih sama Ibu. Sudah menamatkan serial “Nogososro sabuk inten”. Saya juga senang cerita2 fiksi berlatar sejarah seperti itu. Cuma saya nggak sampai tamat, Bu. Tokoh Mahesa Jenar dengan ajian Sasrobirowo –maaf kalau salah– sebenarnya bisa digunakan untuk menghancurkan musu2nya setiap saat dia mau. Tapi agaknya lain, yak. Dia hanya menggunakannya sewaktu2 kalau memang terpaksa, Kok beda dengan zaman sekarang ya, Bu. Baru punya ilmu sedikit saja, *halah* seringkali kita tidak bisa melepaskan diri dari sifat tinggi hati. Memang bener, Kisah Nagasasra Sabuk Inten mengandung kandungan falsafah yang dalam dan luar biasa, Bisa jadi bahan refleksi untuk kita yang hidup di tengah peradaban global.

  17. Saya yang suka mandiri dan menyendiri, bahkan sampai kuliah dari di Bogor sampai ke LN “bukan karena diajak teman”, mirip banget dengan tokoh Mahesa Jenar di NSSI..

    Tapi karangan SH Mintardja bukan hanya NSSI, tapi masih ada “Pelangi di Langit Singasari” yang tak kalah menariknya..

    Saya merasa sangat terserap, dan merasuk ke dalam cerita-ceritanya SH Mintardja. Makanya kalau ke Yogya orang lain pada sibuk belanja ke Malioboro, saya lebih suka menyusuri jalanan sempit di Kota Gede sambil membayangkan Ki Ageng Pemanahan dan Sutawijaya membangun kota dan pasar di Kotagede..

    Tapi kalau saya mau jujur, buku sejarah terbaik yang pernah ditulis di Indonesia adalah “Gadjah Mada” oleh Muhammad Yamin (?), dan juga “Surapati” juga karangan Muhammad Yamin (?). Yang terakhir ini, saya sampai membayangkan punya pacar cewek bule supaya “sama” dengan Surapati…

  18. Pak Sawali,
    Memang falsafah Jawanya sangat kuat, tapi saya juga membayangkan, adakah orang Jawa yang sifatnya seperti tokoh Mahesa Jenar sekarang?

    Trijoko,
    Iya, Gajah Mada karangan Muh Yamin memang bagus, juga Untung Surapati karangan Abdul Muis (bukan karangan Muh Yamin). Gajah Mada karangan LKH tambahan imajinasinya lebih banyak, dan menurut DR.Asvi Warman Adam (Sejarawan LIPI), sah-sah aja.

    Untung Surapati yang dikarang Abdul Muis memang bagus sekali, halus, bahasa nya sesuai zamannya. Kalau melihat karya sastra zaman sekarang memang gaya bahasanya lebih berani, kadang terasa risih (saat saya baca Larung, Saman, karangan Ayu Utami), namun mungkin lebih sesuai dengan anak-anak sekarang, yang lebih berani dan to the point.

  19. Buku LKH dulu pas pameran mau beli gak jadi, setelah baca posting ini koq muncul keinginan beli lagi ya..?
    Yang tentang Majapahit itu lho.

  20. Memang bukunya LKH menarik. Saya juga jadi cari-cari buku lama, seperti “Untung Surapati” karangan Abdul Muis (sekarng diterbitkan lagi dan ada di Gramedia)…dan ketemu buku alm ayah yang dibeli pada tahun 1957. Sayang buku “Robert anak Surapati” tak ketemu. Robert adalah anaknya Surapati dari Suzanne, gadis Belanda, anak majikannya.

  21. *dari kemarin cuma baca2 koment,.. :(
    soalnya buku LKH itu tebal2, dan bagi orang seperti saya yang sukanya kumpulan cerpen spt Seno, tentunya LKH jadi buku ntar dan ntar..

    tetapi menarik menikmati ulasan Ibu dan komentar2,.. mengingatkan saya bahasan serupa mengenai persepsi sejarah. Tapi emang beda sih, kal fiksi sejarah jelas disampaikan oleh penulis bahwa bukunya fiksi berlatar belakang sejarah.

    Tetralogi Buru Pram juga “Fiksi Sejarah” , tetapi sempat dilarang oleh penguasa..dianggap pula membelokkan sejarah. Satu hal lagi yang membuat saya bingung tentang Fiksi Sejarah.

  22. Leksa,
    Awalnya agak gamang, melihat bukunya tebal…ternyata menarik. Liburan ini saya sedang membaca “Negara Kelima” , merupakan buku pertama karangan ES Ito, yang menurut koran Tempo….sebuah novel provokatif yang asyik. Data sejarah terasa renyah…”

    Dulu saya pengagum Pram, belakangan agak jarang baca bukunya…hmm kapan-kapan mesti dibaca lagi. Saya tak tahu alasan dilarang, karena bukunya, atau latar belakang politiknya. Kalau karena isi bukunya, mestinya pelarangan berjalan terus, kecuali telah direvisi.Tapi kemungkinan karena situasi sudah berbeda, sekarang makin terbuka dan menghargai perbedaan pendapat.

  23. Coba juga deh baca buku fiksi sejarah Amerika Serikat, semisal “David Bowie” yang dulu pernah dijadikan cerita bersambung (cerbung) yang dimuat di Kompas.

    Sampai hari inipun orang Amerika masih tahu apa yang disebut “Bowie knife” yaitu semacam pisau belati seperti yang dulu dibuat oleh David Bowie sebagai campuran besi, arang, dan pecahan meteor !!! (Ia rupanya jadi pandai besi, seperti profesi
    kakek saya di Desa Sewulan, Madiun)

    Menarik pula cerita temen2 Bowie seperti Davy Crockett dan juga Sam Houston. Crockett terkenal dengan topi bulu kelincinya, sedang Sam Houston terkenal sebagai yang membangun kota Houston, dan sampai sekarang ada Sam Houston University di Texas sana…

    Kalau nggak sempet baca bukunya, bisa juga lihat filmnya yang produksi Walt Disney..

    Kalau menemukan novel “Bowie” di Gramedia atau menemukan film-film Bowie / Crockett produksi Walt Disney, tolong saya diberitahu ya..

  24. Tridjoko,
    Yup…David Bowie memang menarik, tapi kayaknya sampai sekarang belum ada di toko buku (atau saya yang tak melihat?)

  25. weh kayaknya lagi mewabah nih bu, saya lagi ngabisin rahasia meede-nya es ito, tapi ga kelar-kelar karena kalo di rumah digangguin mulu sama di kecil :D

  26. Iway,
    Saya lebih suka “Negara Kelima” karangan ES Ito (buku karangannya yang diterbitkan pertama kali), lebih fokus. Rahasia Meede bagus, tapi ancang-ancangnya terlalu lama saat awal cerita…hehehe…jadi saya bacanya ngebut.

  27. Waaah… sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang mengaku suka dengan novel fiksi sejarah ini. Termasuk sama tante sekarang di blog. Untungnya (atau sayangnya?) buku-buku yang belum terbaca masih menumpuk di kos.

    Selamat baca tante.

  28. Za,
    Sejarah memang selalu menarik, apalagi kalau diceritakan dengan gaya bahasa yang mudah. Dan pada dasarnya orang suka nostalgia, membayangkan masa lalu, saat kita belum dilahirkan…yang konon katanya nenek moyang kita sakti mandraguna.

  29. saya sudah beli dan baca baru sebagian buku dari LKH yg jilid satu dan empat. cukup menarik sih…

    Apa masih ada buku NSI yang dijual , kalo ada di mana ya?

    Djoko Prakoso,
    Untuk beli buku “Nogososro dan Sabuk Intan”, saya dulu titip teman di Yogya….buku tersebut diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat.
    Atau mungkin diantara pembaca ada yang tahu, selain informasi yang saya peroleh tersebut.

  30. saya termasuk penikmat karangan elkaha..

    memang mengasyikan belajar sejarah dari cerita fiksi, bukan hanya dari teks book…
    karena serial GM dr elkaha, saya jadi terus keranjingan juga baca2 cerita fiksi sejarah

    yang terbaru saya baca:
    1. serial novel diponegoro-remy silado
    2. roro mendut-YB mangunwijaya
    3. Perang Paregreg-elkaha

  31. tentang candi murca….???
    apakah hanya legenda atau nyata…. bila candi murca kberadaan nya nyata….??? apakah saat ini sudah di ketemukan keberadaanya,,,,,
    setidaknya para arkeolog sudah menemukn buktinya…

  32. aha David Bowie, saya belum menemukan lagi Bu..
    ##
    Saya senang baca Api di Bukit Menoreh, NSSI karena dulu Ayah saya selalu membawa pulang serial itu. Ada Mahesa Djenar, Sutawijaya, Pandan Wangi, Agung Sedayu… Dari serial itu jadi kenal istilah-istilah bahasa Jawa, yang ndak pernak saya dengar sehari-hari, seperti senthong, gumuk, dsb.

    Yoga,
    Saya juga pengin baca David Bowie…

    Mahesa Djenar, bisa pesan di Kedaulatan Rakyat (duhh lupa, yang jelas koran Yogya), mungkin bisa tanya mbak Tutinonka alamatnya.

  33. walah…., pada doyan baca semua ya….
    yuk kita gabung di

    http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-41/2/

    siapa tau bisa rame2 kita bantu buat menamatkan buku yg ada….,maklum buku aslinya banyak yg sudah ga punya…,ga terbit lagi..
    salam ya bu….

  34. Salam kenal. Semua buku yang disebutkan memang sip. kalo dibanding-banding dengan “”Sia Tiauw Eng Hiong”-nya Ching Ping, “Musashi” atau “Taiko”-nya Eiji Yoshikawa, dan “Kisah Otori Klan” dari Lian Hearn; karya penulis Indonesia tidak kalah kelas, tapi kok tidak mendunia, ya?

  35. saya mungkin salah satu pula penggemar LkH, ya karna Candi MUrca nya.
    ….awalnya sy bkn penikmat buku seperti suami sy,…bahkan musti dibujuk dl awalnya spy tertarik baca CM, ehh ternyata memang benar, bagus bgt, meskipun byk yg bilang lbh banyak cerita rekaannya di banding GM nya, tp menurut saya fiksi dan non fiksi memang beda tipis, mulai dr skg, sy akan lahap habis semua buku koleksi suami sy spy lbh byk pengetahuannya……

  36. awal beli buku ini karna teman yang merekomendasikan. katanya muuantap punya. awalnya saya gk percaya. bahkan saya mau tuntut dia dipengadilan dengan tuduhan pembohongan publik kalau ternyata ceritanya gk memuaskan :D dan dia meyakinkan diri bakal ganti 100% kalo omongan dia gk terbukti. alhasil saya beli bukunya 5 jilid sekaligus dipasar senen (novel asli loooh) dengan harga Rp.310.000 (itu jg teman yang bantu nego sama siabang yg ual buku via telp. serasa difilm Confession of shopaholic gitu) well, dan saya harus tarik omongan saya. saya gk jadi tuntut dia. ini buku bukan muuantap lagi. tapi mantabbbb (pake iqlab).


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 222 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: