Entah ini kebiasaan sejak kapan, atau ada unsur budaya, yang jelas setelah menikah, seorang wanita akan dipanggil dengan nama panggilan suaminya, dengan embel-embel bu didepannya, seperti bu Martono, bu Karyadi dan sebagainya. Kalaupun wanita tersebut bekerja, maka namanya sendiri malahan menjadi disingkat, dan nama suami di tulis lengkap……atau nama sendiri dan ditambah nama suami, seperi Ny. RS Haryanto, Ny. Elly Sumarno dan seterusnya.
Sejak tahun 80 an saya mengamati, ternyata para wanita di kantor tempatku bekerja, tak semua menambahkan nama suami dibelakangnya. Masih banyak yang menggunakan namanya sendiri, tanpa embel-embel nama suami, dibanding yang menggunakan nama suami dibelakang namanya. Kalaupun ada, masih memakai nama sendiri, baru dibelakang namanya ditambahkan nama suami.
Hal tersebut disebabkan ada beberapa kemungkinan, antara lain:
- Nama si wanita sendiri telah panjang, sehingga jika ditambah nama suami akan semakin panjang. Bayangkan jika namaku, “Enny Dyah Ratnawati”, dan nama suami” Priadi Dwi Hardjito” . Jika saya ingin menggunakan nama suami secara lengkap, kan panjangnya seperti gerbong kereta api. Lagipula saya bingung, nama suami yang mana, yang saya gandengkan dibelakang namaku. Teman atau sahabat dekat memanggilnya Dwi, teman kuliah memanggilnya Hardjito, dan…di kantor dia dipanggil pak Priadi. Kebetulan namaku juga nama kodian (banyak yang pakai), jadi kalau disebut nama Enny, di kantor ada banyak nama Enny….jadi biasanya dua suku kata dari nama saya digandengkan, untuk panggilan sehari-hari.
- Wanita ingin lebih mandiri. Pada kenyataannya, wanita tetap dianggap single walaupun sudah menikah, karena anak dan suami tak mendapat tunjangan kesehatan. Bahkan hanya si wanita sendiri yang dibiayai kantor jika sakit atau dirawat di rumah sakit. Sejak tahun 2004, di kantorku wanita dan pria kedudukannya sama, jadi anak dan suami diganti kantor biayanya jika dirawat di rumah sakit.
- Memudahkan administrasi kantor. Pada umumnya setelah lulus perguruan tinggi dan melamar pekerjaan, menandatangani kontrak sekitar dua tahun (saat pendidikan tak boleh menikah, saat ini jangka pendidikan lebih cepat, sehingga kontraknya paling lama satu tahun), baru boleh menikah. Akibatnya nama yang tercatat dalam administrasi kantor adalah nama si wanita sendiri. Setelah menikah, maka harus membuat laporan dengan mengirimkan fotokopi surat menikah, untuk dicatat di kantor.Urusan mengganti nama akan berakibat panjang, karena mengganti semuanya yang sudah tercatat, dan biasanya si wanita sudah malas untuk mengurus masalah ini, karena kesibukan kerjanya.
Nah, kapan biasanya wanita menggunakan nama suami? Kalau saya, menggunakan embel-embel nama suami, jika berurusan di kantor suami, atau dalam kaitan ke rumah sakit, terutama untuk pergi ke dokter kandungan. Dan pada awalnya ini banyak menimbulkan kelucuan.
“Ny. Priadi,” teriak suster memanggil pasien, dan lama sekali tak ada jawaban
“Ny. Priadi, ” suster teriak makin kencang. Beberapa ibu nyeletuk…”Udah suster, diganti orang lain saja, mungkin ibu itu sedang keluar cari makan.”
“Ny. Enny Dyah…… ,” teriak suster.
Saya yang lagi membaca kaget, dan berdiri buru-buru (padahal suster teriaknya persis di atas kepalaku, karena saya duduk persis di sebelah pintu masuk praktek dokter kandungan), diringi oleh pandangan ibu-ibu lainnya.
“Baru pertama kali ya nyonya, “kata suster. “Iya, jawab saya,” sambil malu sekali. Mosok sih lupa nama suami sendiri.
Kami tinggal di kompleks rumah dinas milik perusahaan, dan karena semakin banyak wanita yang menduduki tingkat manajer ke atas, maka banyak juga yang memperoleh rumah dinas atas nama isteri. Suami-suami tidak keberatan, karena kompleks kami dekat dari mana-mana, dekat sekolah, rumah sakit dan pusat perbelanjaan. Apalagi banyak para isteri tadi, suaminya sebetulnya juga menduduki jabatan cukup tinggi dikantornya, tapi dengan tinggal di rumah dinas atas nama isteri, memudahkan komunikasi jika sewaktu-waktu sang isteri harus dinas keluar kota atau bahkan luar negeri. Dan karena atas nama isteri, maka nama-nama yang ada pada daftar yang dipegang satpam adalah nama isteri. Akibatnya kami harus pesan ke teman-teman atau saudara, jika mau berkunjung ke rumah kami, agar menanyakan rumah atas nama saya. Dan karena kompleks kami terdiri dari 110 rumah, jadi sudah harus membentuk RT tersendiri. Pada suatu ketika, pak RT yang terpilih adalah suami dari pejabat wanita. Dan dikompleks kami, menjadi terbiasa memanggil nama suami dengan nama isterinya (maklum karena isterinya teman sekantor, jadi lebih hafal namanya)..
Sebetulnya semua sudah tahu nama suami masing-masing, entah kenapa mereka lebih suka memanggil nama itu, karena mungkin lebih familiar. Sejak 7 (tujuh) bulan yang lalu, saya sudah pindah ke rumah sendiri, dan sekarang nama panggilanku adalah nama suami. Sebetulnya dipanggil nama sendiri atau nama suami tak menjadi masalah, dan sudah tak kaget-kaget lagi.
