Oleh: edratna | Februari 25, 2008

Suami ikut isteri, salahkah?

Bagi seorang fresh graduate, pertanyaan yang muncul adalah ingin bekerja dimana? Dan apabila sejak mahasiswa telah mempunyai pacar tetap, pertanyaannya adalah apakah sebaiknya bila nanti telah menjadi suami isteri bekerja pada satu kota? Dan bagaimana sebaiknya jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh kedua pasangan, agar masih sempat mendidik putra putrinya?

Tak dapat dipungkiri, bahwa jodoh seringkali ditemukan di kampus, atau pada beberapa ajang pertemuan yang melibatkan antar kampus. Dan banyak pula pasangan yang latar belakang pendidikannya sama, sehingga dari pihak perempuan rasanya tak adil kalau hanya sebagai penunggu rumah, karena begitu banyaknya biaya, tenaga dan waktu yang telah dicurahkan untuk keberhasilan mencapai gelar seorang sarjana.

Akibat semakin banyaknya perempuan yang telah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi, menyebabkan lapangan kerja yang dimasuki tenaga kerja perempuan juga makin beragam. Bukan hal yang luar biasa, jika antara suami isteri bekerja berbeda kota, berbeda pulau, bahkan berbeda benua. Dan semakin banyak ditemui perempuan yang pandai, rajin, dan teliti, sehingga rata-rata lulus lebih cepat…bahkan banyak ditemui perempuan yang melanjutkan meneruskan S2 dan S3 di luar negeri.

Apa yang sebaiknya dilakukan jika pasangan suami isteri mendapatkan pekerjaan yang berbeda kota,di bawah ini saya ingin sharing berdasarkan pengalaman teman-teman, sahabat saya, serta kerabat dekat.

  • Apabila memungkinkan tetap diusahakan bekerja pada satu kota, dan bila hal ini tak mungkin perlu ada kesepakatan antara suami isteri mengenai pembagian waktu ketemu keluarga, pengelolaan rumah tangga, cara pendidikan anak dan sebagainya. Kesepakatan ini diperlukan agar masing-masing pihak memahami pembagian tugasnya, serta tak mudah dipengaruhi oleh orang di luar pasangan suami isteri, bahkan dipengaruhi oleh keluarga dekat sekalipun.
  • Bagaimana bila suami atau isteri mendapat tugas di Luar Negeri? Karena jaraknya jauh (terutama jika penempatan di luar Asia Tenggara), maka perlu ada sharing risiko. Dalam hal ini akan lebih mudah jika posisinya suami yang ditugaskan ke luar negeri, karena pada umumnya isteri bersedia ikut, dengan risiko kehilangan pekerjaan di Indonesia. Namun banyak juga isteri yang tidak ikut, bila suami kuliah yang memerlukan waktu 2-3 tahun di luar negeri, dengan pertimbangan karir isteri telah mantap di Indonesia, sehingga sayang kalau ditinggalkan, dan mereka hanya memilih mengambil cuti setahun sekali untuk menengok suami.
  • Bagaimana jika isteri yang bekerja di luar negeri? Dalam kasus teman saya, isterinya dipindahtugaskan ke Los Angeles, sedang suaminya seorang dokter. Syukurlah sang suami bersedia ikut isteri, yang kemudian suami mendapat pekerjaan dan bahkan menetap disana, walau pada akhirnya saat sang isteri sudah kembali di Indonesia dan menjadi pejabat di salah satu departemen pemerintah, sang suami tetap menetap di Los Angeles beserta putra semata wayangnya. Teman saya satu kantor, isterinya bekerja di Departemen Luar Negeri, dan pada akhirnya mendapat penempatan di luar negeri. Awalnya suami tetap bekerja di Indonesia, namun pada akhirnya suami bersedia mengikuti isteri yang selalu berpindah-pindah negara. Salahkan hal ini? Tentu saja tidak, jika semuanya dilakukan dengan senang hati sesuai keputusan berdua, dan kenyataannya sang suami dengan bahagia menyertai isteri, dan karena kebetulan dia suka menulis, maka dia menjadi banyak menulis tentang negara dimana isterinya ditempatkan.

Pada akhirnya hanyalah pasangan suami isteri yang dapat menentukan apa keputusan terbaik bagi keluarganya, dan tentu saja apapun keputusan yang diambil harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, sehingga tak ada penyesalan kemudian di belakang hari.

Catatan:

Tulisan ini untuk bahan renungan anak dan menantuku, yang baru menikah, dan isterinya bekerja sambil kuliah di Luar Negeri. Juga bagi putri bungsuku, yang juga telah lulus kuliah dan sedang melanjutkan S2.

About these ads

Responses

  1. Yup, kadang calon istri “ditemukan” di tempat kuliah,
    tapi di sma juga lho Bu… SMA saya tu sering disebut SMA dinasti, karena kadang banyak siswa yang orang tuanya pertama kali bertemu di SMA itu, dan akhirnya berlanjut ke dunia pernikahan….

    Nurussadad,
    Betul pendapatmu….cerita di atas hanya sebagian saja…..kadang malah ketemu dalam perjalanan kereta api

  2. ya ndak salah to bu , buktinya ipar saya ikut dengan istrinya yang nota bene adik saya . kalo emang bisa lebih bahagia kenapa ngga ?
    makasih ya bu sudah sering silaturahmi ke blog saya
    jangan bosan – bosan ya

    Realylife,
    Iya, tulisan tadi dimaksudkan untuk bahan perenungan anak-anakku, keponakanku dan teman-teman lain…bahwa betapapun suami isteri tinggal di satu kota, tetap aja setiap kali harus berpisah, karena isteri atau suami tugas terus ke lain kota, lain pulau atau lain benua.
    Dan untuk zaman sekarang, itu hal yang sangat biasa…

  3. Pas baca judulnya saya udah kepengen komen, pengalaman anaknya ya Bu, ternyata di bagian bawah udah ditulis he3x.

    Menurut saya sih sah-sah aja selama keduanya sepakat, malah lebih baik daripada harus pisah jauh antar benua. Apalagi kalau masih newlywed, kasian atuh :D

    Edel,
    Berharap, berpisahnya sementara…dan nantinya bisa menyusul ke sana….

  4. postingan bu enny ini sebenarnya berlaku juga untuk pasangan muda yang lain loh, bu, hehehehe :lol: banyak juga yang masih mengalami kebingungan untuk menghadapi situasi-situasi dilematis seperti itu. Sepertinya dibutuhkan komitmen diri pasangan yang bersangkutan untuk tetep “istikomah” bahwa mereka sudah menjadi satu jiwa. jarak bukanlah kendala untuk menjalin hubungan yang lebih intensif. semoga putra-putri bu enny bisa mencari solusi yang tepat untuk kehidupan mereka berdua. saya yakin, mereka bisa menentukan sikap terbaik uuntuk membangun rumah tangga global seperti peradaban saat ini. *walah, lha kok saya jadi ikut2an berfatwa, hehehe, maaf bu.*

    Pak Sawali,
    Postingan di atas memang untuk umum, karena saya yakin banyak yang mengalami hal seperti itu. Dan posting tadi idenya muncul, saat anak saya menikah dengan wanita yang belajar sambil bekerja di luar negeri, dan telah ada tawaran untuk memperpanjang kontrak kerja nya di Luar Negeri.

    Saat adik saya melanjutkan kuliah ke Indiana University, isterinya tetap di Jakarta bersama anak-anaknya, karena isterinya juga berkarir di Angkatan Darat. Begitu juga teman-teman saya, ada juga yang sementara anaknya dititipkan ke ortu, dan suami isteri berangkat (disini suami ikut isteri)….agar kedua suami isteri bisa kuliah (beasiswa hanya untuk isteri), terpaksa mereka harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Banyak kok hal-hal seperti ini, asalkan hubungan kedua pasangan kuat, semua berakhir happy ending.

  5. alhamdulillah saya sudah menjalani selama 8 tahun, karena saya pindah2 kota dan istri juga punya karir yg bagus jadi kita menjalaninya dengan tetap komitmen saja. :D

    Totok,
    Sejak pacaran saya memang udah jarak jauh, setelah menikah sempat satu kota dengan suami, dan selanjutnya saya bekerja di Jakarta dan suami di Bandung, kondisi ini berjalan sampai sekarang. Kalau libur sekolah, anak-anak di setor ke bapaknya, biasanya mereka akan memilih melakukan kegiatan apa selama liburan kuliah, bisa berupa kursus renang, kursus piano atau apapun….
    Dan kenyataannya pendidikan anak-anak tak terbengkalai, saya setuju bahwa yang penting komitmen kedua suami isteri, plus pelaksanaan yang penuh tanggung jawab.

  6. tergantung bagaimana komitment yang menjalani saja

    Peyek,
    Betul, tergantung komitmen mereka, orang lain hanya bisa menyarankan….

  7. setuju ama peyek, ada juga yang bertahan dengan kesendiriannya dimasing-masing kota dan bertemu sekali seminggu

    Bloogmoo,
    Iya betul…..tergantung komitme suami isteri….

  8. Kalau di lingkungan kami, itu hal biasa. Kita menyebutnya TURIS (Turut Istri). Gak ada masalah, yang penting saling menghargai, terutama sang istri harus bisa menghormati perasaan dan status suami sebagai kepala RT. Ada seorang teman putri yang mengambil PhD, suaminya ikut dan rela menjadi kuli bangunan di Univ. sang istri. Kebesaran hati yang luar biasa dari bapak tersebut atas apa yang dia putuskan, meski untuk itu dia harus meninggalkan pekerjaan yang cukup mapan di Indonesia. Itulah Kepala Rumah Tangga yang sebenar-benarnya, bukan sekedar mempertahankan ego suami sebagai bread winner, tapi lebih kepada kesediaan berkorban demi yang terbaik buat keluarganya.

    Marvel,
    Memang cerita di atas umum terjadi, seperti juga ceritamu. Banyak suami yang rela mendukung isteri, momong putra putrinya yang masih kecil-kecil (maklum di luar negeri baby sitter mahaaal), dan bekerja serabutan untuk membantu agar isteri dapat belajar dengan tenang. Suami-suami seperti ini perlu mendapat penghargaan…dan saya rasa sang isteri akan menghargai pengorbanan suami, dan tetap menghormatinya.

  9. mungkin hanya masalah ego saja…sepanjang laki laki tidak ‘ ditreat’ atau ‘ merasa’ kelakiannya terusik biasanya ya fine fine saja..

    Mas Iman,
    Betul…isteri harus pandai menjaga hati suami dan tetap harus menghormati. Pada umumnya isteri juga akan berusaha agar suami ikut kuliah lagi di Luar Negeri (case suami temanku), atau mendapat pekerjaan…disini diperlukan sponsor warga negara sana.

  10. Pada akhirnya hanyalah pasangan suami isteri yang dapat menentukan apa keputusan terbaik bagi keluarganya ..

    Setuju bu. Untuk kasus seperti ini, kedewasaan setiap individu sangat menentukan berhasil tidak-nya keputusan yang diambil. Karena jika masing-masing mengedepankan ego-nya, rasanya akan sulit mencapai kata sepakat.

    Fenomena ini sudah semakin banyak bu. Baru-baru ini, teman sekerja saya ada yang mengundurkan diri karena enggan untuk dimutasi ke luar kota. Dia memilih untuk tetap berkumpul dengan istrinya yang juga bekerja.

    Mudah2an anak ibu dapat mengambil keputusan yang tepat ya bu. Kita, yang tua-tua ini, hanya memberikan masukan dan pandangan saja. Semoga mereka diberikan hidayah dari-Nya. Amin.

    Mas Erander,
    Pada akhirnya pilihan mana yang terbaik, berada ditangan mereka. Kemungkinan anakku akan menyusul, dan telah ada beberapa skenario, sampai yang worst case scenario. Semoga Allah swt memberikan hidayahnya, mana yang terbaik bagi mereka. Amien…

  11. Tips bagus … kita harus siap menghadapi situasi bagaimanapun. Setidaknya berusaha mencari jalan terbaik. Begitu ya Bu.

    Pak Ersis W. Abbas,
    Betul pak, karena makin banyak suami isteri sama-sama memiliki karir yang menjanjikan, jadi perlu dicarikan jalan keluar terbaik….

  12. hum?
    belum punya calon jadi belum memikirkan sampai sana.

    Utaminingtyazzzz,
    Mikirnya nanti aja…masih banyak kok cowok yang menganggap seorang isteri juga sebagai partner dalam segala hal. Semoga Mieke menemukan orang yang tepat.

  13. asalkan ada saling pengertiyan, niscaya nggak akan ada masalah. dan sebagaimana mas peyek diatas, itu tergantung komitmen masing-masing :)
    cuman terkadang liyat prophesi masing2 juga, misal kalok isteri PNS, BUMN ato Perusahaan yang kurang pleksibel laennya, trus suwami wiraswasta, dokter praktek dlsbg, ya nggak masalah. Masalahnya kalok tempat kerja suwami nggak bisa memungkinkan pindah2, ato dengan kata laen, pindah = kluwar, gaswat tuuh.. :)

    kalok temen saya laen lagi, isterinya boleh kerja, tapi asalkan jam kerjanya gak melebihi jam kerja suwami.. :D

    yaah, perempuwan di satu sisi sebagai, ibu dari anak-anak, dan istri dari seorang suwami, mengemban tanggung jawab kluwarga yang tidak ringan, dan tidak bisa hanya sekadar didelegasikan ke pembantu aja… jadi kalok bisa seiring sejalan dengan baik, karir & kluwarga, salud deeh.. :)

    Titov,
    Yang penting saling pengertian….dikeluarga besarku, rata-rata suami isteri bekerja, dan tak masalah….banyak juga yang berpisah kota….

  14. wah ibu… jadi ingin tau gimana masa-masa awal ibu menikah dulu? berapa lama hidup berjauhan sama suami? kemudian gimana cara mendidik anak? hehe… kalau dijadiin tulisan bisa panjang itu. maaf requestnya banyak :D

    Rita,
    Kuncinya mudah kok, saling percaya….dan masing-masing punya tanggung jawab yang jelas….
    Saat itu memang sering jadi pertanyaan, malah kadang ada ibu-ibu yang suka “sok nasehati”, tapi saya menanggapi dengan senyum…bukankah waktu yang akan membuktikan? Memang berat sih awalnya, tapi lama-lama menjadi biasa, dan anak-anak menjadi lebih mandiri. Tapi saya juga menggunakan keamanan lingkungan, berhubungan baik dengan tetangga (saling menitip anak dan rumah kalau ditinggal tugas luar), dengan bapak ibu guru, bahkan dengan para satpam, ibu perpustakaan sampai ibu kantin. Tanpa mereka semua, saya nggak bisa apa-apa.

  15. Seperti halnya semua masalah rumah tangga yang lain, yang diperlukan adalah komunikasi dan komitmen. Bila semuanya dikomunikasikan dengan baik, kemudian melahirkan komitmen bersama, maka apapun bisa dilewati. Insya Allah

    Andrias Ekoyuono,
    Memang hal paling utama adalah komitmen dan komunikasi yang baik.

  16. wah mau dong ikut istri :D

    Dobelden,
    Udah ada yang mau diikuti?

  17. saya sempat membicarakan hal ini dengan pacar saya, karena kota kami yang terpisah lautan!!!

    Alhamdulillah walaupun dia sudah bekerja, tapi dia mau ikut dimanapun saya berada, dan pekerjaan menjadi nomer dua baginya setelah keluarga pastinya!!!

    Ridhocyber,
    Iya, yang penting kesepakatan berdua, bukan orangtua atau lainnya….

  18. ini bukan masalah suami takut istri…menurut saya kok lebih daripada suami mendukung istri…ga ada salahnya menurut saya, bu… :)

    Verlita,
    Setuju…saya kalau nasehati anak buah saya yang wanita juga begitu….kita harus memilih orang yang tepat, yang bisa mengerti dan mendukung karir kita, sebagaimana kita diharapkan juga mendukung karir dia.

  19. aaaah sepertinya nasibku akan demikian jugah…setiap kali memikirkannya rasanya ingin menyerah..tp begitu melihat keteguhan hati para pasutri yg menjalaninya..maka mengapa menyerah?? ;) very nice post!

    Theloebizz,
    Kenapa mesti menyerah? Kalau kita berani meniti karir, tentu harus berani menghadapi kendalanya…yang jelas hasilnya akan sepadan. Sepanjang kita bisa membagi waktu, antara tugas pekerjaan dan rumah tangga, nggak ada masalah kok…tapi tentu saja kita harus memilih suami yang mau mengerti dan memahami serta mendukung karir kita.

  20. InsyaAllah tahun depan aku akan menjalani itu, bu. Tolong doakan semua lancar hehe

    Goio,
    Memang sudah waktunya berlabuh kok, semoga semuanya lancar….sukses ya….

  21. Tidak salah koq, biasa-biasa saja

    Juliach,
    Thanks komentarnya….juga kunjungannya

  22. Menurut saya sih nggak ada yang salah bu kalau suami “ikut” istri. Dulu tante saya yang diplomat yang selalu bertugas di luar negeri juga seperti itu, suaminya selalu ikut tante saya tersebut. Apalagi kalau ikutnya sang suami bisa memberikan kontribusi positif bagi keluarga, misalnya keutuhan keluarga, lebih konsentrasi dalam pekerjaan, dsb.

    Kang Yari NK,
    Betul pak, sebetulnya kunci utamanya pada komitmen, tanggung jawab dan komunikasi yang baik antara kedua pasangan.

  23. bukannya prinsipnya ikut yang lebih enak dan nyaman? ikut mertua juga ndak papa .. wakakaka…

    Sandy,
    Udah dapat cewek Jepang belum? Nanti mau ikutan tinggal di Jepang….berarti bisa ikut isteri….

  24. sing penting saling memahami satu sama lain, ga meninggikan ego masing2..yang penting sama2 tahu hak dan kewajiban….ok

    Rommy,
    Yup…sepakat….

  25. Saya di Tangerang ini juga karena mengikuti istri saya, Bu. Istri saya tidak betah tinggal di Sleman sehingga demi kemaslahatan keluarga saya bersedia mengikutinya untuk tinggal di Tangerang.

    Bedanya adalah, sebagai kepala keluarga saya yang memegang peranan untuk mencari nafkah sedangkan istri saya percaya untuk mengatur rumah tangga sekaligus membesarkan anak. Anak yang dimong oleh ibunya akan lain dengan anak yang dimong oleh orang lain. Di samping itu, keluarga kami tidak cukup mewah untuk mengaji pengasuh anak.

    Selain kampus, banyak juga loh yang ketemu pasangannya di pabrik. Seperti saya dan istri saya yang ketemu waktu dulu pernah kasak-kusuk di pabrik sepatu di wilayah Jatake.

    Bang Kombor,
    Yang penting memang kesepakatan, dan masing-masing pihak harus bahagia dalam menjalankan perannya. Jika ayah ibu bahagia, akan membuat anak-anaknya bahagia, karena membesarkan anak juga bukan perkara yang mudah, ibarat menyusuri ombak dan buih yang dapat pecah sewaktu-waktu…..kuncinya selalu memohon pada Yang Di atas, agar kita dilindungi dan diberikan rejeki yang cukup untuk membesarkan anak-anak.

  26. yang penting saling pengertian, tahu hak n kewajiban ya to bu

    Yung,
    Yup…setuju….

  27. sepupunya calon istri ada yg kerja jadi Pinca Bu.. hehehe mungkin Bu Enny lebi tau klo yg namanya pinca taun ini di jawa taun depan ke irian.. tapi suaminya bisa ngikutin tuh hmm yaa untungnya sang suami itu dosen sih bisa ikut sana sini..
    yg agak susah memang klo dua2nya punya kerjaan netep dan jenjang karir..
    tapi yaa kata Bu Enny bilang gimana pasangan masing2 sih ;) .. smoga dikasi yg terbaik aja

    Aldi,
    Memang saat membicarakan pekerjaan sebelum menikah, harus dikaji dulu, agar masing-masing pihak memahami risikonya. Saya berterima kasih suami selama ini sangat mendukung karirku, dan bersedia mengantar anak-anak ke dokter dikala saya tugas ataupun rapat sampai malam. Yang penting memang saling mencintai dan membuat komunikasi yang baik.

  28. Sebetulnya nggak salah sih bu, cuma barangkali ‘ego’ laki-laki yang berbicara :))

    Donny Reza,
    Masalah ego ini memang sulit, jadi paling nyaman ya memilih pasangan yang sesuai, yang tidak rendah diri, sehingga nggak kawatir tersaingi oleh isteri.

  29. hm,gak salah kok Bu, kalo dua-duanya ikhlas dan telah merencanakan semuanya dengan matang&logis. tapi gimana Bu rasanya kalo hanya bertemu sekali dalam beberapa bulan?

    -dari yang belum berpengalaman :p

    Dika,
    Walaupun saya dan suami jaraknya dekat, kalau keduanya sibuk, ketemunya juga bisa lebih dari satu bulan….semua tergantung masing-masing. Kebetulan lingkungan kerjaku banyak wanita mandiri, sehingga biasa melihat orang datang kondangan sendirian (lha siapa yang mau diajak, kan tak semua orang dapat undangan yang sama dengan kita?)…atau jalan-jalan ke Mal sendiri, kalau lelah makan sendiri.
    Bahkan saya suka capek kalau jalan-jalan, kalau suami lebih kuat…jadi saya menunggu di cafe, suami jalan sendiri, juga anak-anak jalan sendiri..ntar ngumpul lagi ditempat yang disepakati.

  30. walah … standar .. kalo belajar di jepang pasti nanyanya dapet cewek jepang ato blom … kayak hidup cuman buat wanita saja
    bu …

    Sandy,
    nahh…pertanyaan yang ga standar apa?

  31. Saya terus terang sedang terancam mengalami hal ini… Saya sering kerja pindah2 kota/daerah/pelosok/negara.. bagaimana nanti jika sudah punya istri.. ditinggal2.. hiks..

    Dimasu,
    Nanti akan ada jalan keluarnya…..banyaklah berdoa….

  32. minggu2 lalu juga saya mengamati kawan2 disini yang suami atau istrinya melanjutkan studi pasca sarjana. Seperti yang tante telah utarakan diatas semuanya dilandasi oleh rasa cinta, pengorbanan serta tanggung jawab pasutri. Sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dari keputusan tersebut.
    Infonya baik sekali tante, untuk saya.. yang sedang merancang masa depan.
    Ditunggu nasihat dan wejangan selanjutnya, tante.

    salam,

    Resi Bismo,
    Memang masa depan harus direncanakan dari sekarang, dan tentunya bersama pasangan, agar masing-masing pihak berperanan. Bisa dibaca postinganku, suka duka keluarga kecil…keluarga muda yang hidup di Jakarta, jauh dari keluarga….tapi tetap harus dijalani, dan ternyata bisa…..

  33. kayaknya nanti bakal saya bahas di blog deh…

    saya paling seneng kalo ada yang nanya gimana hidup di sana? udah terbiasakah? ada kesulitan kah? gimana studi? ada kendalakah?

    dan ndak pernah ada yang nanya seperti itu … :D

    orang2 selalu nanyanya .. kalo ngga cewek ya nanya jam berapa…..

    Sandy,
    Lha karena Sandy cowok, makanya ditanyakan apa udah ketemu gebetan…atau apakah cewek Jepang cantik-cantik?

  34. kalo ke cewek emang seperti apa Bu pertanyaannya? apa cowoknya ganteng2? dah dapet cowok?

    Sandy,
    Saya dengan anak-anak biasa cerita bebas. Jika dengan si sulung, suka membahas cewek seperti apa yang menarik seorang pria…apa yang dikatakan cantik, dan ternyata masing-masing orang punya pendapat berbeda. Dia jatuh cinta dengan cewek berambut panjang, berpipi cempluk, berhidung pesek, dan bermata bulat…(coba baca di blog nya).

    Sedang si bungsu, seleranya mirip saya…melihatnya dari sifat cowok….yaitu cowok yang bisa diajak berbagi, bermain, dan bergembira bersama….juga tidak mengekang, memberi kebebasan bagi cewek untuk meniti karir.
    Nahh…kalau sekedar ceweknya cantik nggak? Kalau pertanyaan ini ditujukan pada sulungku…jawabannya..” Sembilan dari sepuluh cewek yang kutemui di Bandung, semuanya cantik….” Bahkan dia pernah terucap…”Saya lupa kalau lagi di Bandung, pantesan ceweknya cantik semua….”

  35. sekali lagi tentang pacar dll dll …

    Sandy,
    Jadi…penginnya Sandy ditanya apa?

  36. Ibu, saya baru liat blognya. Nice share. Btw, klo misalkan ikut istri kerja ke luar negeri a.k.a diplomat, bisa gak sih bu suami kerja jg cari penghasilan? Apa ada syarat tertentu agar suami bs bekerja di situasi seperti itu? Thanks


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: