Oleh: edratna | Maret 13, 2008

Arisan

Hari ini saya berniat mulai ikut arisan RW dilingkungan rumah saya, yang seharusnya telah saya ikuti sejak pindah ke rumah yang sekarang, yang telah saya tempati setahun yang lalu. Alasan sibuk mengajar, kemudian sempat menggantikan eksekutif perusahaan yang sedang kosong dan segala alasan lain, seolah-olah menjadi sah untuk tidak ikut arisan.

Mengapa saya “agak malas” untuk ikut arisan? Padahal ibu saya ikut arisan di mana-mana, yang menurut beliau adalah merupakan cara sosialisasi dengan lingkungan, agar kalau terjadi sesuatu, kita mempunyai teman. Memang benar, saat ayah ibu meninggal, pelayatnya banyak sekali. Tapi saya melihat, banyak acara arisan yang tak terlalu tepat, karena bertele-tele, kadang menjadi ajang bisnis, ajang gosip…..walau saya percaya tak semua seperti ini.

Arisan yang pertama kali saya ikuti, adalah sesaat setelah saya menikah dan mengontrak rumah di daerah Jakarta Timur. Arisan ini hanya saya sempat hadiri dua kali sepanjang 2 (dua) tahun tinggal di situ, karena arisan sudah bubar sebelum saya pulang kantor. Maklum arisan dimulai jam 16.00 wib dan selesai sekitar 17.30 wib, yang berarti kalaupun saya ngebut pulang tetap aja masih berada dijalanan.

Setelah mengontrak rumah, dan anak pertama lahir, saya memperoleh rumah dinas di Jakarta Selatan. Sebagai penghuni junior, mau tak mau saya harus ikut arisan di kompleks, yang 99 persen anggotanya adalah ibu-ibu yang tak bekerja. Maklum saat itu penghuni rumah dinas yang atas nama ibu (isterinya yang bekerja di perusahaan) hanya tiga orang. Dan arisan selalu diadakan pada hari kerja, karena hari Sabtu Minggu adalah hari keluarga. Bayangkan, bagaimana saya bisa aktif mengikuti, kalau pada saat itu pulang cepat saja sulit mencapai rumah pada jam 17.00 wib…dan bos sudah menggerutu karena saya pulang teng go.

Siapa yang mendapat arisan, rumahnya akan ketempatan, sehingga mesti menyediakan masakan yang tak boleh hanya kue. Jadi harus merupakan masakan yang cukup mengenyangkan, entah mie, bihun, gado-gado, tekwan, nasi pecel dll. Padahal saat itu belum zamannya katering, dan anak saya masih kecil…duhh pusiiing. Saya sempat mendapat arisan dua kali, dan kebetulan ada teman senasib (ibu-ibu nya bekerja), dan beliau bersedia ketempatan di rumahnya, jadi saya hanya membantu. Suatu ketika, pas saya sudah hadir, ibu-ibu ngomongi ibu lain yang bekerja sebagai guru SMP…”O, iya ibu X itu selalu terlambat, maklum dia karyawati sih, nggak kayak kita-kita…” Nahh apa maksudnya, padahal saya duduk disebelahnya…setelah itu saya hanya mengirim uang saja melalui pembantu, dan malas untuk datang arisan yang bagi saya tak ada gunanya, dan terserahlah kalau mau ngomongi saya. Ibu-ibu itu terlalu menghargai suaminya, yang nota bene di kantor adalah teman saya, ada yang pangkatnya bahkan di bawah saya, tapi mereka tak mendukung seorang karyawati yang mau menyisihkan waktunya…hanya untuk datang ke arisan.

Waktupun bergulir, semakin banyak para perempuan yang menduduki jabatan dan mendapatkan fasilitas rumah dinas. Kompleks rumah dinas juga semakin ramai, karena semula hanya untuk 40 rumah, dibangun menjadi 110 rumah plus ada ruang pertemuan. Dan karena telah ada ruang pertemuan, maka arisan cukup diadakan di aula, dan makananpun sederhana, berupa kue-kue dalam kotak. Yang menyenangkan karyawati tidak ikut serta, tapi kami tetap membayar uang kas bulanan. Dan semakin lama, kompetisi antar penghuni juga bukan dari sisi materi, namun keberhasilan dalam mendidik anaknya. Sejak saat itulah tinggal di kompleks menjadi sangat menyenangkan, kita bisa saling sharing pengalaman, tanpa merugikan karir pilihan masing-masing.

Namun kehidupan tetap berjalan, saya dengan berat hati terpaksa pindah rumah, tapi sisi baiknya adalah tinggal di rumah sendiri. Tempat tinggalku yang baru sebagian besar penghuninya banyak yang sudah tua, karena putra putrinya telah menikah, atau kalaupun rumah tadi ditempati anaknya, kedua suami isteri sibuk bekerja. Tinggal di tempat baru, mau tak mau saya harus ikut bersosialisasi. Ternyata ibu-ibu di kompleks baruku aktif di PKK, dan kebetulan ibu RW adalah seorang dokter. Ada ibu-ibu yang setiap minggu memeriksa jentik-jentik nyamuk dari rumah ke rumah, dan bila diketemukan dilaporkan, kemudian lingkungan di semprot agar tak terjadi penyebaran nyamuk yang membawa virus Demam Berdarah. Selain itu, setiap pagi, seminggu dua kali diadakan senam yang dapat diikuti oleh penghuni.

Saya baru sekali ikut arisan di tempat tinggal baruku, ternyata arisan nya cukup cepat, dan mendapatkan beberapa pengumuman dari ibu ketua RW, tentang penggalakan kebersihan rumah, tim pencari jentik-jentik nyamuk yang melaporkan ada beberapa warga nggak mau membukakan pintu untuk diperiksa ada/tidaknya jentik-jentik dirumahnya, yang selanjutnya membahas bagaimana solusinya. Warga yang tak mau diperiksa, saat ada kunjungan pak Lurah dan pak Camat, akan dikunjungi, dan hal ini pernah terjadi…hasilnya sangat memuaskan, karena warga tsb akhirnya malah menjadi ikut aktif berpartisipasi. Dan mengenai konsumsi juga tak berat, karena cukup dibagikan kue dan makanan ringan termasuk minuman dalam kotak, yang dapat dimakan di situ atau di bawa pulang.

Entah apakah saya bisa aktif ikut arisan di kompleks baruku, tergantung dari kesibukan pekerjaan, tetapi arisan bagiku menjadi ajang sosialisasi, mengenal tetangga lebih dekat. Kalaupun kebetulan saya berhalangan karena harus mengajar ataupun ada rapat di kantor, saya bisa titip uang melalui ibu RW yang kebetulan rumahnya di depan tempat tinggalku.

About these ads

Responses

  1. Di kantor saya ada arisan lucu-lucuan Bu, cuma 50 ribu sebulan dan tiap bulan yang “dapat” langsung 4 orang biar cepet, serunya yang dapat langsung patungan buat nyenengin temen-temen yang belum dapat giliran. Seperti minggu lalu kami sekantor pesta duren karena kebaikan mereka.
    :)

    Agoyyoga
    ,
    Di kantor awal masuk kerja juga ada arisan, tapi karena semakin sibuk jadi nggak sempat lagi. Dulu, jika jabatan telah mencapai assisten manager harus ikut arisan wajib…rasanya tersiksa, karena acara arisan bersamaan jam kantor…orang lain santai, kita ikut arisan sambil kepikiran tugas yang belum selesai, syukurlah CEO yang baru membubarkan kewajiban ikut arisan bagi karyawati…asyiik.

  2. koq dimana2 ajang sosialisasi pasti arisan.. apa gak ada variasi laen ya…?

    Nurussadad,
    Harus dilihat kontek nya…kalau untuk mengenal ibu-ibu di kompleks yang heterogen, salah satunya ya dengan arisan, kalau senam pagi bersama, tak semua ikut terutama ibu-ibu yang sudah sakit tak boleh ikut senam. Kalau tak ikut, kita tak mengenal dan tak dikenal tetangga, padahal merekalah tempat kita minta bantuan jika terjadi apa-apa. Kalau di kompleks rumah dinas, apalagi semakin homogen (suami isteri bekerja, atau jika tak bekerja rata-rata pendidikan isteri S1), maka sosialisasi tak harus dengan arisan.

    Kalau bapak-bapaknya kan bisa rapat sesekali…..walau suami saya tak pernah ikut karena kerjanya di Bandung.

  3. wah, menyenangkan banget ya arisannya, Mbak. Hebat arisannya. Bukan sekedar kumpul-kumpul, makan-makan terus ngerumpi. Arisan seperti di komplek perumahan dinas tempat tinggal Mba yang lama memang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan. Komplek tempat tinggal baru pun arisannya tak kalah hebat. Salut untuk ibu-ibu pkk yang peduli dengan lingkungan.

    Hanna,
    Di kompleks rumah dinas, situasinya semakin nyaman sejalan dengan tingkat pendidikan penghuninya, yang rata-rata suami isteri bekerja, atau kalau tak bekerja mereka lulusan PTS/PTN, dan terpaksa keluar karena mengikuti tugas suami yang dipindahkan ke seluruh Indonesia, bahkan ada cabang di Luar Negeri.

    Lingkungan tempat tinggal baru lebih heterogen, baik tingkat pendidikan, maupun usianya, jadi “agak lebih sulit”. Tapi ibu RW nya berpendidikan, seorang dokter yang bekerja di Departeman Kesehatan, jadi dia bisa menggalakkan ibu-ibu untuk mempunyai kesibukan yang bermanfaat. Lingkunganku cukup asri, karena RT/RW sering ada lomba menghias taman…jadi setiap pinggir jalan, di depan pagar rumah masing-masing banyak diberi pot tanaman sehingga hijau.

  4. di proyek saya justru merupakan satu2nya peserta arisan perempuan buw, krena arisan di proyek adalah atas inisiatif para bapak2 rekan kerja.

    klo saya sich melihat arisan sebagai alternatif menabung, acaranya sndiripun tdk banyak krena dilakukan dikantor, ngumpul2 pun dilakukan dikantor..tp rupanya menyenangkan sekali arisan sama bapak2 ini saya jd bisa banyak nimba ilmu ttg dunia laki2 :D

    Aprikot
    ,
    Arisan di kantor memang kebanyakan dengan bapak-bapak, dan obrolanpun ke arah maskulin, malah lupa kalau kita ada. Gosipnya juga beda, tentang politik atau hal-hal terkait dengan prestasi…lebih menyenangkan. Kalau arisan di RT/RW kan sebagian besar ibu-ibu…kalau nggak ikut jadi nggak kenal tetangga, jadi ya harus pandai-pandai menyiasati. Syukurlah pengalaman pertama arisan kemarin berjalan mulus.

  5. mungkin tergantung sama lingkungannya yah bu, klo lingkungan baru sptnya arisan jadi lebih menarik, tidak cuman jadi ajang rumpi. lagian juga arisan sptnya hanya sbg gong untuk menabuh aktivitas2 lainnya yah..

    Dewi,
    Melihat sepintas, ibu-ibu dilingkungan baru ku rata-rata sudah sepuh, aktivitasnya ya PKK, menggalakkan kebersihan taman masing-masing rumah, menghindari/membersihkan lingkungan agar tak ada jentik-jentik nyamuk (hasilnya harus dilaporkan ke kecamatan)…jadi kayaknya lumayan. Kalau melihat penampilan mereka kemarin, kayaknya nggak ada ajang pamer, karena berpakaian nya sederhana…malah kayak rapat PKK, tapi saya jadi lebih memahami lingkunganku. Mudah2an hal seperti ini berjalan terus….tak ada ajang ngrumpi atau ngegosip.

  6. nggak pernah ikut arisan..hehehehe…bingung juga bayanginnya bakal ngobrol apa klo arisan gt..wakakaka

    Cewektulen,
    Itu juga yang saya kawatirkan, tapi hidup harus berdamai dengan lingkungan kan, apalagi dengan tetangga, karena tanpa melalui proses itu, saya tak kenal dan dikenal tetangga. Padahal kalau ada apa-apa pertama kali tetangga yang ditabrak….kebetulan lingkunganku masih saling mengenal, walau berada ditengah belantara Jakarta.

    Kalau masih di rumah dinas, kan semuanya mau tak mau pasti kenal, karena satu kantor hanya beda unit kerja….serta kalau ada apa-apa masih ditanggung kantor.

  7. Aku gak pernah ikut arisan, tapi pernah nonton Film Arisan he..he..he..

    Landy,
    Kenyataannya tak seram seperti di film arisan…mungkin karena lingkunganku orang-orang yang sederhana, para pensiunan, serta kalau masih aktif kedua suami isteri bekerja. Dan tanpa pake tas bermerk, malah cuma pake sandal teplek dan bawa dompet…lha yang diomongi adalah memeriksa jentik-jentik nyamuk, lomba PHBK (lupa singkatannya…artinya lingkungan sehat dan hijau), dan arisannya cuma Rp.40.000,- sebulan sekali serta satu RW (terdiri dari 9 RT).

  8. kayak judul pilem aja buk! hehehehe… arisan… namanya juga ibu-ibu.. biasanya emang gituh! tapi kalo ada bu ratna kayaknya beda deh! hehehehe

    Gempur,
    Dari beberapa kali pindah rumah, yang paling sulit adalah arisan di Rawamangun, karena anggotanya heterogen, dari yang cukup kaya sampai miskin banget. Kalau lingkungan sekarang, walau beda usia, beda latar belakang pendidikan, taraf ekonomi nyaris sama, dan ibu-ibunya sudah sepuh sehingga malah hanya berpikir untuk kebaikan.

  9. “iya tuch, ibu x jarang banget terlihat, padahal kan kita – kita juga pengen kumpul. eh .. eh tahu nggak, kalo dia tuch pulangnya hampir petang, bahkan pernah sampe larut malem. iihhh … bisa bayangin dia habis ngapain aja. kalian tahu kan sekarang di tivi sedang banyak – banyaknya berita perselingkuhan. emang suaminya nggak protes kayak gitu, punya istri kok seringnya pulang malem. Jangan – jangan anaknya nanti nurun. sejak kini anakku sudah aku larang bermain dengan temen2 yang pulangnya malem. bisa bahaya loh. ngomong – ngomong … ada yang punya duwit nggak, pinjemin gw dong, gw pengen beli korden di toko y, bagus banget lhoh …?! ”

    peace bu :)

    Adipati Kademangan,
    Ibu X seorang pengajar yang berdedikasi, kalau anda melihat para pengajar SMP/SMU di Jakarta, pergi pagi pulang petang, karena rumahnya nggak selalu dekat dengan sekolah…dan selepas sekolah jam 1 masih ada pelajaran ekstra kurikuler yang harus dipantau oleh guru sebagai penanggung jawab. Tahukah, kalau jalan sudah macet, untuk mengelilingi Semanggi aja sudah perlu waktu satu jam.

    Memangnya kalau pulang malam mesti selingkuh? Saya pergi pagi pulang malam, tapi suami selalu tahu saya ada dimana…dan tak ada masalah. Dan bagi pekerja di Jakarta, hal ini sudah biasa, sejalan dengan kenaikan karirnya, karena nggak mungkin dong pulang teng go…kadang rapat antar perusahaan lain baru selesai jam 11 malam. Kalau keluargaku, justru suami mendukung, dan tak ragu untuk menemani anaknya belajr, karena dia tahu persis apa yang sedang dilakukan isterinya. Kenyataannya, anak-anakku tak ada masalah, sepanjang kita bisa membagi waktu, memberikan pengertian, punya garis belakang yang kuat…mereka malah menjadi anak yang mandiri.

  10. membaca artikel ibu, aku jadi terbayang gimana besok klau aku dah berumah tangga trus ikut-arisan gitu.
    artikel ini banyak memberikan gambaran dan cerita pengalaman menarik ini. Aku senang membacanya. jadi tau tentang arisan. Masalhnya selama ini belum pernah ikut arisan ibu-ibu.

    Marsini,
    Memang ada hal-hal yang harus kita kerjakan, walau tak terlalu berminat. Itulah risikonya jika mau diterima oleh lingkungan, namun juga jangan sampai mengekang dan membatasi aktivitas kita yang lebih produktif lainnya.

  11. aku paling alergi dengan istilah ini

    Fay,
    Kalau udah menikah dan tinggal di rumah sendiri, mau tak mau nantinya tetap harus melalui tahap ini, kecuali tinggal di kompleks rumah dinas, dan kita tetap bekerja, sehingga ada alasan untuk tidak ikut. Masalahnya, sampai saat ini, kayaknya masih cara ini untuk bisa mengenal dan dikenal tetangga. Atau bisa juga kalau kita tinggal di tengah kota besar, seperti di Menteng Jakarta Pusat, yang rumah dan halamannya besar, berpagar tinggi dan individual, sehingga tak perlu arisan karena ada satpam yang menjaga keamanan rumah kita.

  12. bu enny, arisan semula memang bertujuan untuk aktivitas sosialisasi dan menjalin silturahmi. Namun, sayangnya, belakangan ini arisan sering dijadikan alasan pembenar untuk ngerumpi atau menyebar gosip, hehehehehe :lol: yang lebih ironis, seringkali arisan bukan untuk mementingkan ajang silaturhaminya, tetapi lebih mengutamakan berapa besarnya jumlah arisan itu.

    Pak Sawali,
    Kesan di luar memang seperti itu, mungkin ada benarnya, walau tak semuanya benar. Dilingkungan baruku iuran nya hanya Rp.40.000,- dan waktunya hanya 1 jam, dan langsung dibuka dengan pertanggung jawaban keuangan, dan pengumuman ibu PKK akan melakukan kegiatan apa saja: mau lomba kebersihan halaman dan jalan lingkungan, penggalakan pembersihan jentik-jentik nyamuk, penyemprotan dan pengasapan, pengaspalan jalan dsb nya. Pakaian ibu-ibu biasa aja, pakai sandal teplek, malah banyak yang berjilbab.

  13. arisan kenapa selalu identik dengan ibu-ibu ya hehehe… tapi dulu pernah sih ikut arisan dikantor, kalau dapatnya lebih awal berarti serasa kita pinjam dengan membayar dicicil. kalau dapatnya diakhir berarti kita menabung, gitu aja sih Bu :D

    Totok,
    Arisan dikantor juga ada, cuma lebih simple, karena mengocoknya pas istirahat. Sedang arisan di RT/RW memang untuk ibu-ibu, agar saling mengenal, tinggal kita mau seperti apa. Yup, syukurlah di tempat tinggal baruku arisannya menyenangkan, ibu-ibunya sederhana, nggak ngerumpi (karena memang tak mungkin)…dan ibu RW nya seorang dokter, yang pandai membuat ibu-ibu, relatif banyak yang lebih sepuh merasa dihargai.

  14. jeng,
    sekalian menyuarakan blog lewat arisan..siapa tahu ibu ibu buat agegator baru…

    Mas Iman,
    Kayaknya kalau dilingkungan baru ku susah deh. Kalau di kompleks rumah dinas lebih mungkin, karena rata-rata tiap rumah punya sambungan kabel vision sehingga bisa berinternet ria 24 jam bayarnya sama, serta para isteri rata-rata latar belakangnya S1 bahkan banyak yang S2.
    Mendorong membuat blog juga sudah saya sampaikan pada teman-teman yang masih aktif bekerja, dan sering tugas ke daerah, on teh spot melihat kondisi lapangan….namun banyak yang tak punya waktu untuk menulis. Lha iya lah…saya dulu juga begitu, bahkan rasanya makan aja sering lupa…

  15. waktu mama baru ga ada saya sempat ikut arisan 1 kali, menggantikan beliau. kebetulan banget waktu itu arisan putaran terakhir.

    waktu ditawari untuk ikut putaran berikutnya saya terpaksa menolak. soalnya arisan sering diadakan di hari kerja sehingga mungkin ga bisa ikut. lagipula terbayang kalau saya yang ketempatan, wah… ngurus rumahnya lumayan repot juga, mengingat di rumah ga ada pembantu.

    Mieke,
    Kalau ada cara sosialisasi yang lain…mungkin saya akan memilih yang lain tsb. Tapi ini satu-satunya cara agar saya kenal dengan tetangga…walau kenyataannya saya tak bisa selalu datang, kalau kebetulan ada tugas mengajar, meeting dengan klien dsb nya.

  16. Arisan yaa… waaa….itu mama aku juga suka ikutan arisan, tapi arisan keluarga. Yaa sebagai ajang kumpulKumpul mempererat tali silaturahmi juga. :D

    Sarah,
    Kayaknya arisan memang tujuan utamanya ajang silaturahmi……

  17. Waktu saya masih numpang tinggl di rumah orang tua, ibu saya seringkali ngomel2 karena saya gak mau ikutan arisan, …… benar bu lingkungan yg amat sangat hetorogen membuat kondisi kurang kondusif yg pada akhirnya lebih banyak gosip….. digosok makin siiiiiip.

    nah, pada saat kami tinggal di rumah sendiri mau gak mau bu saya harus ikutan, hitung2 titip anak2 kalau saya kerja dan titip2 rumah kalau pulang kampung he…he..

    tujuan utama sih untuk silaturahmi bu…. sebulan sekali dan wajib diikuti oleh suami-istri juga anak sering ikutan nimbrung, tapi alhamdulilah arisan yang ini memang betul untuk silaturahmi karena gak ada gosipnya dan kami tidak pernah saling pamer satu sama lain bu seperti keluarga sendiri kok bu.

    Tini,
    Entahlah, kayaknya memang arisan masih tepat untuk ajang silaturahmi dengan tetangga. Dan yang paling penting bagaimana kita tak terkena pada putaran gosip. Kalau kita tak pernah menanggapi jika diajak menggosip, orang juga akan bosan sendiri. Jadi …sebetulnya tergantung kita, bagaimana agar pandai-pandai diterima lingkungan, seperti kata Tini…saya juga sering titip rumah ke tetangga kalau Lebaran atau saat anak-anak masih kecil dan ditinggal tugas ke luar kota.

  18. Keluarga kami juga ikut arisan, dari arisan keluarga sampai arisan RW. Arisan Keluarga pasti kami selalu ikut karena keluarga kami lumayan dituakan selalu jadi motor, saya juga kadang turut serta itung2 silaturahim. Bedanya kalo di RT RW arisannya ibu2 kampung, tante enny mirip sekali dengan emak saya karena harus bekerja jadi tidak bisa selalu ikut arisan kampung, tapi ya itu emak saya selalu titip duit, jadi orang gak ada tapi duit ikut arisan hehehehhe.

    Resi Bismo,
    Kayaknya saya juga bakalan seperti ibunya Bismo, karena tak mungkin bisa hadir terus…kalau ada kerjaan, jam 5 sore masih di kelas atau dijalan yang macet.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: