Setiap orang pasti menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, dan bahagia selamanya. Kata “bahagia” kelihatannya memang mudah diucapkan, tetapi betulkah mudah untuk mencapainya? Ada beberapa pernikahan yang terpaksa harus selesai ditengah jalan, karena persepsi kata bahagia yang tidak sama lagi diantara masing-masing pasangan. Atau bisa juga terpaksa berpisah dari pasangan, karena pasangannya dipanggil lebih dulu oleh Yang Maha Kuasa.
Perjalanan hidup saya yang telah lama di dunia ini, membuat saya banyak melihat dan belajar memahami kehidupan orang disekitar saya. Baiklah, saya akan menceritakan beberapa kenalan dekat, yang karena keadaan, terpaksa berpisah dengan pasangannya, entah karena dipanggil lebih dulu oleh Yang Maha Kuasa, ataupun karena akhinya terjadi ketidak cocokkan dalam mengarungi bahtera kehidupan dan terpaksa memutuskan berpisah.
Ternyata, kebahagiaan tak hanya terjadi pada pernikahan pertama, tetapi juga dapat terjadi pada pernikahan kedua. Contoh: teman ini (A) dulunya menikah dengan teman seangkatan (B), dan pada saat yang sama sebetulnya ada teman lain (C) yang diam-diam mencintai A. Namun apa daya, A telah menambatkan hatinya pada B. Setelah sekian tahun berjalan, A dan B terpaksa berpisah, dan entah kenapa tenyata pernikahan C juga bubar. Pada suatu acara reuni yang diadakan oleh teman seangkatannya, A dan C ketemu…..dan akhirnya menikah. Lama saya tak bertemu, terakhir ketemu saya kaget, betapa A dan B menjadi terlihat lebih sehat, terlihat lebih muda dan anak-anaknya bahagia.
Contoh lain, juga terjadi pada kedua orang yang saya kenal baik. Mereka terpaksa berpisah dengan pasangannya, dan kemudian menikah lagi dengan teman seangkatan yang kebetulan sama-sama sedang tak punya pasangan.Beberapa kali saya bertemu dengan mereka, ternyata mereka malah terlihat lebih bahagia, anak-anak sehat, dan kedua orangtua terlihat tak membedakan anak-anaknya, dan semua dianggap sebagai anak sendiri.
Dari mengobrol dengan mereka, ada beberapa tip yang mudah-mudahan berguna:
- Jika terpaksa hidup berpisah dengan pasangan, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Sediakan waktu untuk tetap bergaul dengan teman-teman, entah bermain tennis, atau apapun yang memungkinkan bergaul dengan teman-teman lama maupun ketemu teman baru.
- Jangan takut untuk mencoba mempunyai pasangan lagi. Kegagalan yang pertama hendaknya menjadi pelajaran untuk introspeksi diri, dan bukan untuk malah menutup diri.
- Kenali dengan baik sifat-sifat pasangan, lebih terbuka dalam mendiskusikan apa tujuan hidup masing-masing bila memang pertemanan dapat dilanjutkan ke taraf yang lebih serius.
- Upayakan agar masing-masing anak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua, tanpa dibedakan.
- Berpikir kedepan, dan tak perlu untuk setiap kali merenungi masa lampau. Masa lampau memang tak mudah dilupakan, namun anggaplah sebagai bagian pembelajaran untuk dapat menatap ke depan yang lebih baik.
Dari beberapa pengamatan, ternyata teman-teman yang memutuskan untuk menikah lagi, adalah teman-teman yang terpaksa berpisah dari pasanganya pada umur yang masih muda dan mempunyai anak-anak yang masih kecil, yang masih membutuhkan figur ayah dan ibu secara nyata. Bagi teman-teman perempuan, yang anaknya telah usia SD ke atas, dan mempunyai pekerjaan tetap, pada umumnya memilih melanjutkan untuk tetap hidup sendiri.
Jadi, kenapa takut jika harus menikah untuk kedua kalinya?
