Oleh: edratna | April 11, 2008

Tingginya inflasi dan kenaikan harga bahan pokok, berpengaruh langsung pada sektor riil

Kalau kita mencermati berita di media akhir-akhir ini, kemungkinan akan membuat kecil hati dan timbul kekawatiran. Akankah hari esok masih lebih baik? Bagaimana jika tidak? Angka inflasi pada Maret 2008 dibanding dengan Maret 2007 (year on year) mencapai 8,17 persen, padahal saat bulan Maret 2007 inflasi tahunan hanya 6,6 persen. Pada bulan Maret 2008 angka inflasi sebesar 0,95 persen, dengan demikian laju inflasi pada tiga bulan pertama tahun ini sudah mencapai 3,41 persen. Didalam komponen index inflasi umum, inflasi bahan pangan sudah mencapai 13,6 persen.

Dari sisi pasar keuangan, gejolak dimulai sejak krisis kredit kepemilikan rumah di Amerika, yang telah membuat rugi puluhan miliar dollar Bank-bank internasional, seperti: Citigroup, UBS, Merril Lynch dan Bear Stearns. Kerugian Bank kelas dunia tersebut telah menyebabkan terjadi pengetatan di pasar keuangan internasional. Inflasi sedang menjadi momok di seluruh dunia karena kenaikan harga minyak bumi dan bahan pangan. Tren diversifikasi di dunia, dari sumber energi minyak bumi ke energi dari bahan pangan, telah menaikkan harga komoditas pangan, seperti: kelapa sawit, jagung dan gandum.

Di sektor riil, meningkatnya inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. Sekitar 60 persen atau bahkan lebih, dari pengeluaran kalangan masyarakat ini akan tersedot untuk belanja makanan. Kenaikan harga makanan yang berada pada kisaran 15-30 persen, akan berdampak pada penurunan kualitas hidup. Bagaimana dengan pengusaha skala kecil dan menengah? Pengusaha yang bergerak di bidang tertentu, seperti hotel, restoran akan terkena dampak langsung, padahal harga jual juga tak mudah untuk dinaikkan karena menurunnya daya beli masyarakat. Hal ini mulai terlihat dari laporan keuangan triwulan 1, kenaikan pendapatan tak dapat menutup kenaikan biaya, sehingga perusahaan mulai merugi. Jika perusahaan masih bertahan, laba operasional merosot drastis. Situasi yang tak menentu juga membuat para pengusaha “wait and see“, menunggu respon pasar.

Apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pelaku usaha?

Saya mencoba mengkompilasi pendapat dari berbagai sumber, ditambah dengan hasil pengamatan langsung terhadap sebagian perusahaan tersebut dilapangan, yang dapat disimpulkan seperti di bawah ini:

a. Perusahaan pembiayaan.

Bulan Mei 2008 harga mobil diperkirakan akan naik, karena sejumlah agen tunggal pemegang merk (ATPM) roda empat di Indonesia telah memastikan kenaikan harga jual produknya. Kenaikan harga minyak bumi, diperkirakan meningkatkan biaya produksi komponen kendaraan 40 persen, dan ini mengakibatkan biaya produksi kendaraan meningkat sekitar 15-20 persen. Kenaikan harga mobil akan mempengaruhi usaha pembiayaan. Namun beberapa pengusaha masih optimis, karena pertumbuhan kendaraan bermotor terutama untuk pasar di luar Jawa masih tumbuh. Apabila pembayarannya diangsur, diharapkan kenaikan tak terasa berat. Namun, pada umumnya pengusaha membagi konsentrasi pemasaran, menjadi sebagian besar untuk penjualan kendaraan roda dua, dan hanya sebagian untuk penjualan kendaraan beroda empat. Itupun masih dibagi lagi, penjualan kendaraan baru dan bekas. Ternyata kenaikan harga mobil tak terlalu membuat risau pengusaha, hal ini berbeda dengan kenaikan inflasi, yang dikawatirkan akan meningkatkan BI rate. Saat ini BI rate masih bertahan pada angka 8 persen, tapi jika inflasi merangkak naik terus, bukan tak mungkin BI rate juga akan disesuaikan. Kini perusahaan pembiayaan tengah mengamati perkembangan inflasi dan respon pasar atas penjualan kendaraan selama tiga bulan terakhir.

b. Pengusaha restoran

Pengusaha restoran ada yang memilih untuk tidak mengurangi porsi tetapi menggenjot penjualan, namun ada juga yang memilih mengurangi porsi, atau langsung menaikkan harga jual produk. Hal ini terasa jika kita membeli Pizza yang harganya langsung naik, namun pengusaha tetap yakin dapat terjual walau ada penurunan, karena bisnis makanan Pizza sangat berhubungan dengan gaya hidup. Kenaikan harga terigu dan minyak goreng, akan mempengaruhi harga pokok pengusaha jasa restoran. Dan karena pada umumnya membeli pakai kontrak, maka dampak kenaikan harga terasa pada dua minggu atau sebulan kedepan. Gerai donat, seperti J.Co yang rata-rata bisa menjual 8000-10.000 donat per hari, memilih menggenjot volume penjualan dan melakukan efisiensi.

c. Produsen Kebutuhan kebutuhan pokok

Industri yang memenuhi kebutuhan pokok ini antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Unilever Indonesia Tbk. Lonjakan bahan baku membuat beban operasional Indofood membengkak, oleh karena itu perusahaan melakukan berbagai efisiensi. Salah satu cara, adalah mencari sumber energi yang terdekat dengan lokasi pabrik. ”Misalkan, pabrik mi di daerah Kalimantan, kami memakai energi batubara yang mudah didapat disana,” tutur Franky, Wakil Direktur Utama, sebagaimana dikutip Kontan. Indofood juga menekankan konsep pertumbuhan organik pada seluruh Divisi, artinya seluruh Divisi menanggung seluruh biaya ekspansi dan pertumbuhan masing-masing, serta tidak ada subsidi silang.

Unilever, yang merupakan perusahaan asal negeri Belanda, menjual berbagai produk yang diperlukan orang banyak, seperti: kecap, bumbu-bumbuan, sabun, sampo, sabun cuci pakaian dll. Permasalahan juga terletak pada bahan baku, karena 75 persen bahan baku produk Unilever merupakan bahan-bahan kimia yang harus diimpor. Kurs dollar yang cenderung stabil sangat menguntungkan Unilever.
Unilever, sebagaimana dikutip dari Kontan, saat ini sedang membangun pabrik perawatan kulit, yang diprediksi dapat mendorong peningkatan penjualan.

d. Usaha perhotelan

Usaha perhotelan juga terkena dampak langsung dari naiknya inflasi dan kebutuhan bahan pokok. Hal ini terlihat dari meningkatnya biaya langsung maupun tak langsung, yang pada gilirannya akan mempengaruhi laba rugi perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, maka banyak keluarga yang menunda untuk menginap di hotel, dan lebih memilih mengalokasikan uangnya ke hal-hal yang utama untuk kebutuhan rumah tangga.

Pengusaha hotel perlu lebih mendorong peningkatan tamu yang berasal dari tamu-tamu grup, untuk seminar, training, bekerja sama dengan perusahaan. Terutama dengan perusahaan, yang telah mengalokasikan sebagian dana untuk pendidikan para karyawannya. Pengusaha hotel dapat melakukan efisiensi, dengan menempatkan para tamunya pada sayap tertentu, sehingga tak semua kamar perlu dinyalakan lampunya. Jika kita bepergian, saat ini banyak hotel yang mulai menyediakan perlengkapan mandi tanpa merk hotel, karena dapat mengurangi besarnya biaya yang dikeluarkan. Dan apapun yang dilakukan, hotel tak boleh melupakan untuk tetap meningkatkan pelayanan kepada para tamu, sehingga dalam keadaan sulit seperti apapun, tamu tetap memilih hotel yang memang selama ini memberikan pelayanan yang baik.

Bagaimana dengan kebutuhan rumah tangga?

Naiknya inflasi berpengaruh secara nyata terhadap pengeluaran rumah tangga. Jika untuk keluarga menengah, biaya untuk kebutuhan bahan pokok sebelumnya menyerap 30 persen biaya rumah tangga, saat ini meningkat menjadi dua kali lipat. Yang harus diperhatikan, agar efisiensi yang dilakukan dalam pengeluaran kebutuhan rumah tangga, jangan sampai menurunkan kualitas hidup anggota keluarga.

Bagaimana dengan keluarga yang kurang mampu? Inilah yang perlu menjadi perhatian, karena kenaikan yang terus menerus, akan membuat keluarga mengorbankan biaya pendidikan anak-anaknya. Pada beberapa Perguruan Tinggi Negeri, telah ada ikatan orangtua mahasiswa, yang memikirkan kebutuhan para mahasiswa miskin, dengan memberikan beasiswa yang berasal dari para orangtua dan atau alumni.

Kenaikan harga komoditas diperkirakan masih akan terus berlangsung sepanjang tahun 2008, karena kenaikan harga tak hanya terjadi di Indonesia. Inilah waktunya kita mereview kembali rencana keuangan kita, agar bisa bertahan dalam menyiasati gejolak harga.

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Nur Hidayati. “Laju inflasi: Pendapatan Masyarakat semakin tergerogoti.” Kompas, Rabu, 2 April 2008 hal 21.
  2. Mirza Adityaswara. ”Mengatasi Gejolak Pasar Keuangan”. Analis Perbankan dan Pasar Modal. Kompas, Senin, 7 April 2008, hal 1.
  3. Femi Adi S., Dwin Gideon S., dan A. Syalaby Ichsan. ”Mulai Pasang Kuda-Kuda Hadapi Lonjakan Inflasi.” Kontan 28-XII, 11-17 April 2008,hal 34.
  4. Hendrika Y., Novi Diah H., Aprillia ika. ”Kenaikan Masih Tertahan karena Orang Butuh Makan. Cara pengusaha restoran mengakali kenaikan harga.”. Kontan 28-XII, 11 – 17 April 2008, hal 4.
  5. Markus Sumartomdjon, Diah Megasari dan Yuwono T. ”Namanya Juga Butuh, Biar Mahal tetap Diburu. Meneropong saham yang tahan terhadap guncangan inflasi. Kontan 28_XII, 11-17 April 2008 hal 11.
About these ads

Responses

  1. rujukan yang bagus dan lengkap, Bu Enny, terutama berkaitan dengan kondisi perekonomian negara yang masih carut-marut. yang masih belum bisa saya pahami adalah pernyataan para pejabat kita itu, Bu, hehehehe :smile: mereka selalu bilang bahwa perekonomian negara dalam keadaan stabil, bahkan tak akan terjadi krisis pangan. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Kelaparan sudah mengancam rakyat di berbagai daerah.

    Pak Sawali,
    Kali ini inflasi penyebabnya banyak dari faktor luar, yang mau tak mau Indonesia akan kena imbasnya. Yang penting kita semua aware, dan harus mempersiapkan diri jika kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung lama.

  2. Inflasi?Hhh..yg jelas masy.menengah ke bawah dicekik perlahan. Disuruh pindah dr minyak tanah ke gas,eh,gasnya ikut2an langka. Harga kebutuham pokok melonjak.

    Presiden kdg melakukan aksi “kebersamaan” spt ikut menginap di tenda pengungsian. Kali ini,apakah presiden akan ikut makan nasi aking atw mgantri minyak tanah?

    Dilla,
    Saya sering lho makan nasi aking, dan dulu itu hal biasa (mungkin juga sekarang untuk keluarga di daerah). Kalau masak nasi nggak habis, daripada basi, maka nasi tadi dicuci dengan air bersih, terus dikeringkan, sesudah itu disimpan dalam wadah tertutup. Jika diperlukan, nasi aking tadi direndam sebentar kemudian dikukus. Makannya sama parutan kelapa muda ditambah garam sedikit, atau dengan sayur lodeh pedas…duhh sedaaap.

    Saat sudah berkeluarga, bibi yang momong anak saya berasal dari pedesaan, dia rajin membuat nasi aking ini, dan saat pulang kampung, dia membawa nasi aking ini untuk dibagikan pada keluarganya, ini terjadi sekitar tahun 83-84. Berarti sebetulnya fenomena nasi aking ini telah berjalan lama, dan masih banyak terjadi di keluarga di kampung. Sekarang, pembantu sudah bisa mengelola memasak nasi, yang setiap kali masak sedikit saja, serta ada magic jar, membuat nasi bisa bertahan dua hari.

    Antri minyak tanah? Dulu malah keluarga kami, beserta keluarga lain, antrinya tak sekedar minyak tanah, tapi juga antri beras, beras jagung. gaplek (ketela pohon yang dikeringkan), minyak goreng dsb nya. Saat itu saya masih kelas 5 dan 6 SD, dan sangat senang jika diajak antri yang jaraknya sekitar 1,5 km dari rumah kami..

  3. Inflasi ini cukup mencekik Bu, setidaknya itu yang saya rasakan. Saya kerja di perusahaan yang kenaikan gajinya didasarkan pada inflasi tahunan yang diumumkan oleh BPS.

    Menurut BPS (yang ntah gimana ngitungnya), inflasi 2007 Batam besarnya 4,8%. Padahal biaya hidup saya dari Mar 2007 sampai Jan 2008 meningkat sekitar 20-30%, dengan kualitas yang sama, bahkan terjadi penyunatan beberapa kebutuhan sekunder seperti pengurangan jatah buku.

    Kalau begini terus, pasti ada saatnya terjadi (pemaksaan) degradasi kualitas hidup.

    Duh, inflasi inflasi..

    Edel,
    Saya jadi ingat akhir tahun 1997, saat itu saya pesan ke anak-anak bahwa sekarang harus bisa makan apa saja…nasipun tak harus nasi putih, suatu ketika kalau terpaksa bisa dicampur jagung dsb nya. Syukurlah kekawatiranku tak terbukti.

    Saat ini inflasi memang tinggi, dan karena kita paham, kita harus bisa melakukan efisiensi, jika pendapatan tak bisa didorong. Kalau dulu begitu mudahnya beli buku, sekarang jatah buku (kecuali yang terkait dengan tugas pekerjaan, sekolah) harus dibatasi. Juga makan diluar, serta acara yang bukan prioritas utama.

  4. Inflasi itu ibarat pisau bermata dua ya bu. Di satu sisi jikalau inflasi itu kecil dan terkendali, ia bisa berfungsi sebagai penggerak ekonomi, karena manusia cenderung untuk membeli barang2 saat ini daripada nanti jikalau harga2 sudah naik. Tapi di satu sisi lainnya, ya itu, inflasi terutama yang tinggi dan terkendali sangat ‘membunuh’ daya beli masyarakat………..

  5. Wah salah ketik sedikit bu:
    di sana tertulis:

    “inflasi terutama yang tinggi dan terkendali sangat ‘membunuh’ daya beli masyarakat………..”

    seharusnya:

    “inflasi terutama yang tinggi dan tidak terkendali sangat ‘membunuh’ daya beli masyarakat………..”

    Kang Yari NK
    ,
    Benar, inflasi yang cukup rendah diperlukan untuk mendorong ekonomi, tanpa inflasi apalagi deflasi…wahh malah lebih berbahaya. Tapi inflasi juga harus dikendalikan, agar tak menjadi liar. Tapi sebetulnya sosialisasi perlu dilakukan keseluruh masyarakat, seperti hemat energi, dan kalau harga minyak goreng mahal….(keluarga saya tak terlalu terpengaruh), mulai digalakkan makan cara Sunda, pepes, rebus dsb nya…selain sehat, juga mengurangi konsumsi minyak goreng. Masalahnya bagaimana agar meningkatkan produktivitas tanaman seperti beras dan palawija? Untuk ini memang perlu dicari pemecahan yang komprehensif, agar para petani dapat meningkatkan produksi serta perkembangan ekonominya. Di Indonesia sendiri, banyak lahan untuk tanaman pertanian berubah menjadi untuk keperluan industri.

  6. sudah saatnya negara berkembang (indonesia) memikirkan untuk berdikari dan mandiri (sukarno), sekecil apapun kontribusinya untuk bangsa hal ini harus tetap dilakukan, tidak harus terus bergantung pada negara maju (contoh: kedele impor, terigu) sehingga ketika terjadi gonjang ganjing tidak akan banyak terimbas langsung pada sektor yang telah disebutkan diatas (contoh Brazil, sejak tahun 80-an mendeversifikasi tanaman jagung dan tebu untuk memproduksi ethanol, bahan bakar alternatif)

    Resi Bismo,
    Mudah-mudahan pemerintah memikirkan ke arah sana, karena kalau tidak, ketergantungan terhadap negara lain semakin tinggi. Di sisi yang lain, masyarakat juga perlu mendapatkan sosialisasi untuk mulai memikirkan tentang hemat energi, menanami tanahnya dengan tanaman yang menghasilkan, selain bagus untuk penghijauan, juga menjadi produktif.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 222 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: