Kalau kita mencermati berita di media akhir-akhir ini, kemungkinan akan membuat kecil hati dan timbul kekawatiran. Akankah hari esok masih lebih baik? Bagaimana jika tidak? Angka inflasi pada Maret 2008 dibanding dengan Maret 2007 (year on year) mencapai 8,17 persen, padahal saat bulan Maret 2007 inflasi tahunan hanya 6,6 persen. Pada bulan Maret 2008 angka inflasi sebesar 0,95 persen, dengan demikian laju inflasi pada tiga bulan pertama tahun ini sudah mencapai 3,41 persen. Didalam komponen index inflasi umum, inflasi bahan pangan sudah mencapai 13,6 persen.
Dari sisi pasar keuangan, gejolak dimulai sejak krisis kredit kepemilikan rumah di Amerika, yang telah membuat rugi puluhan miliar dollar Bank-bank internasional, seperti: Citigroup, UBS, Merril Lynch dan Bear Stearns. Kerugian Bank kelas dunia tersebut telah menyebabkan terjadi pengetatan di pasar keuangan internasional. Inflasi sedang menjadi momok di seluruh dunia karena kenaikan harga minyak bumi dan bahan pangan. Tren diversifikasi di dunia, dari sumber energi minyak bumi ke energi dari bahan pangan, telah menaikkan harga komoditas pangan, seperti: kelapa sawit, jagung dan gandum.
Di sektor riil, meningkatnya inflasi akan menurunkan daya beli masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. Sekitar 60 persen atau bahkan lebih, dari pengeluaran kalangan masyarakat ini akan tersedot untuk belanja makanan. Kenaikan harga makanan yang berada pada kisaran 15-30 persen, akan berdampak pada penurunan kualitas hidup. Bagaimana dengan pengusaha skala kecil dan menengah? Pengusaha yang bergerak di bidang tertentu, seperti hotel, restoran akan terkena dampak langsung, padahal harga jual juga tak mudah untuk dinaikkan karena menurunnya daya beli masyarakat. Hal ini mulai terlihat dari laporan keuangan triwulan 1, kenaikan pendapatan tak dapat menutup kenaikan biaya, sehingga perusahaan mulai merugi. Jika perusahaan masih bertahan, laba operasional merosot drastis. Situasi yang tak menentu juga membuat para pengusaha “wait and see“, menunggu respon pasar.
Apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pelaku usaha?
Saya mencoba mengkompilasi pendapat dari berbagai sumber, ditambah dengan hasil pengamatan langsung terhadap sebagian perusahaan tersebut dilapangan, yang dapat disimpulkan seperti di bawah ini:
a. Perusahaan pembiayaan.
Bulan Mei 2008 harga mobil diperkirakan akan naik, karena sejumlah agen tunggal pemegang merk (ATPM) roda empat di Indonesia telah memastikan kenaikan harga jual produknya. Kenaikan harga minyak bumi, diperkirakan meningkatkan biaya produksi komponen kendaraan 40 persen, dan ini mengakibatkan biaya produksi kendaraan meningkat sekitar 15-20 persen. Kenaikan harga mobil akan mempengaruhi usaha pembiayaan. Namun beberapa pengusaha masih optimis, karena pertumbuhan kendaraan bermotor terutama untuk pasar di luar Jawa masih tumbuh. Apabila pembayarannya diangsur, diharapkan kenaikan tak terasa berat. Namun, pada umumnya pengusaha membagi konsentrasi pemasaran, menjadi sebagian besar untuk penjualan kendaraan roda dua, dan hanya sebagian untuk penjualan kendaraan beroda empat. Itupun masih dibagi lagi, penjualan kendaraan baru dan bekas. Ternyata kenaikan harga mobil tak terlalu membuat risau pengusaha, hal ini berbeda dengan kenaikan inflasi, yang dikawatirkan akan meningkatkan BI rate. Saat ini BI rate masih bertahan pada angka 8 persen, tapi jika inflasi merangkak naik terus, bukan tak mungkin BI rate juga akan disesuaikan. Kini perusahaan pembiayaan tengah mengamati perkembangan inflasi dan respon pasar atas penjualan kendaraan selama tiga bulan terakhir.
b. Pengusaha restoran
Pengusaha restoran ada yang memilih untuk tidak mengurangi porsi tetapi menggenjot penjualan, namun ada juga yang memilih mengurangi porsi, atau langsung menaikkan harga jual produk. Hal ini terasa jika kita membeli Pizza yang harganya langsung naik, namun pengusaha tetap yakin dapat terjual walau ada penurunan, karena bisnis makanan Pizza sangat berhubungan dengan gaya hidup. Kenaikan harga terigu dan minyak goreng, akan mempengaruhi harga pokok pengusaha jasa restoran. Dan karena pada umumnya membeli pakai kontrak, maka dampak kenaikan harga terasa pada dua minggu atau sebulan kedepan. Gerai donat, seperti J.Co yang rata-rata bisa menjual 8000-10.000 donat per hari, memilih menggenjot volume penjualan dan melakukan efisiensi.
c. Produsen Kebutuhan kebutuhan pokok
Industri yang memenuhi kebutuhan pokok ini antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Unilever Indonesia Tbk. Lonjakan bahan baku membuat beban operasional Indofood membengkak, oleh karena itu perusahaan melakukan berbagai efisiensi. Salah satu cara, adalah mencari sumber energi yang terdekat dengan lokasi pabrik. ”Misalkan, pabrik mi di daerah Kalimantan, kami memakai energi batubara yang mudah didapat disana,” tutur Franky, Wakil Direktur Utama, sebagaimana dikutip Kontan. Indofood juga menekankan konsep pertumbuhan organik pada seluruh Divisi, artinya seluruh Divisi menanggung seluruh biaya ekspansi dan pertumbuhan masing-masing, serta tidak ada subsidi silang.
Unilever, yang merupakan perusahaan asal negeri Belanda, menjual berbagai produk yang diperlukan orang banyak, seperti: kecap, bumbu-bumbuan, sabun, sampo, sabun cuci pakaian dll. Permasalahan juga terletak pada bahan baku, karena 75 persen bahan baku produk Unilever merupakan bahan-bahan kimia yang harus diimpor. Kurs dollar yang cenderung stabil sangat menguntungkan Unilever.
Unilever, sebagaimana dikutip dari Kontan, saat ini sedang membangun pabrik perawatan kulit, yang diprediksi dapat mendorong peningkatan penjualan.
d. Usaha perhotelan
Usaha perhotelan juga terkena dampak langsung dari naiknya inflasi dan kebutuhan bahan pokok. Hal ini terlihat dari meningkatnya biaya langsung maupun tak langsung, yang pada gilirannya akan mempengaruhi laba rugi perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, maka banyak keluarga yang menunda untuk menginap di hotel, dan lebih memilih mengalokasikan uangnya ke hal-hal yang utama untuk kebutuhan rumah tangga.
Pengusaha hotel perlu lebih mendorong peningkatan tamu yang berasal dari tamu-tamu grup, untuk seminar, training, bekerja sama dengan perusahaan. Terutama dengan perusahaan, yang telah mengalokasikan sebagian dana untuk pendidikan para karyawannya. Pengusaha hotel dapat melakukan efisiensi, dengan menempatkan para tamunya pada sayap tertentu, sehingga tak semua kamar perlu dinyalakan lampunya. Jika kita bepergian, saat ini banyak hotel yang mulai menyediakan perlengkapan mandi tanpa merk hotel, karena dapat mengurangi besarnya biaya yang dikeluarkan. Dan apapun yang dilakukan, hotel tak boleh melupakan untuk tetap meningkatkan pelayanan kepada para tamu, sehingga dalam keadaan sulit seperti apapun, tamu tetap memilih hotel yang memang selama ini memberikan pelayanan yang baik.
Bagaimana dengan kebutuhan rumah tangga?
Naiknya inflasi berpengaruh secara nyata terhadap pengeluaran rumah tangga. Jika untuk keluarga menengah, biaya untuk kebutuhan bahan pokok sebelumnya menyerap 30 persen biaya rumah tangga, saat ini meningkat menjadi dua kali lipat. Yang harus diperhatikan, agar efisiensi yang dilakukan dalam pengeluaran kebutuhan rumah tangga, jangan sampai menurunkan kualitas hidup anggota keluarga.
Bagaimana dengan keluarga yang kurang mampu? Inilah yang perlu menjadi perhatian, karena kenaikan yang terus menerus, akan membuat keluarga mengorbankan biaya pendidikan anak-anaknya. Pada beberapa Perguruan Tinggi Negeri, telah ada ikatan orangtua mahasiswa, yang memikirkan kebutuhan para mahasiswa miskin, dengan memberikan beasiswa yang berasal dari para orangtua dan atau alumni.
Kenaikan harga komoditas diperkirakan masih akan terus berlangsung sepanjang tahun 2008, karena kenaikan harga tak hanya terjadi di Indonesia. Inilah waktunya kita mereview kembali rencana keuangan kita, agar bisa bertahan dalam menyiasati gejolak harga.
DAFTAR PUSTAKA:
- Nur Hidayati. “Laju inflasi: Pendapatan Masyarakat semakin tergerogoti.” Kompas, Rabu, 2 April 2008 hal 21.
- Mirza Adityaswara. ”Mengatasi Gejolak Pasar Keuangan”. Analis Perbankan dan Pasar Modal. Kompas, Senin, 7 April 2008, hal 1.
- Femi Adi S., Dwin Gideon S., dan A. Syalaby Ichsan. ”Mulai Pasang Kuda-Kuda Hadapi Lonjakan Inflasi.” Kontan 28-XII, 11-17 April 2008,hal 34.
- Hendrika Y., Novi Diah H., Aprillia ika. ”Kenaikan Masih Tertahan karena Orang Butuh Makan. Cara pengusaha restoran mengakali kenaikan harga.”. Kontan 28-XII, 11 – 17 April 2008, hal 4.
- Markus Sumartomdjon, Diah Megasari dan Yuwono T. ”Namanya Juga Butuh, Biar Mahal tetap Diburu. Meneropong saham yang tahan terhadap guncangan inflasi. Kontan 28_XII, 11-17 April 2008 hal 11.
