Oleh: edratna | April 12, 2008

Perusahaan Asuransi Kerugian, untung apa rugi?

Gara-gara terkena hujan es, maka suami mengajukan klaim ke perusahaan asuransi. Ternyata biayanya mahal sekali, karena walaupun kaca tidak pecah, tapi body mobil penyok terkena gempuran hujan es. Di bengkel, suami melihat mobil Avansa yang kerusakannya lebih parah, kacanya pecah, body mobil melesak kedalam. Ternyata kata pemiliknya saat sedang hujan es, dia sedang mengendarai mobil dijalan, sehingga kena tamparan angin dari mana-mana.

Kebetulan pada tanggal 8 April 2008, adalah waktunya memperpanjang asuransi kerugian untuk mobil, dan setelah menelepon perusahaan asuransi yang selama ini menjadi langganan kami, biayanya naik cukup banyak. “Iya bu, soalnya menyesuaikan peraturan dari Departemen Keuangan. Lagipula tahun ini perusahaan kami banyak kena klaim, terutama klaim tentang banjir. Apa rumah ibu termasuk wilayah banjir?” tanya staf marketing asuransi. Jadi, kalau biasanya marketing perusahaan asuransi yang mengejar konsumen, saat perpanjangan ini malah ganti saya yang mengejar perusahaan asuransi untuk diperpanjang.

Dari laporan tahunan Bapepamlk tahun 2006, jumlah perusahaan perasuransian di Indonesia per 31 Desember 2006 adalah 415 perusahaan, terdiri atas 153 perusahaan asuransi, 4 perusahaan reasuransi, dan 258 perusahaan penunjang usaha asuransi. Perusahaan asuransi terdiri dari 51 perusahaan asuransi jiwa, 97 perusahaan asuransi kerugian, 2 perusahaan penyelenggara program asuransi sosial & jamsostek, dan 3 perusahaan penyelenggara asuransi untuk PNS dan TNI & Polri.

Perkembangan Auransi Komersial

Pertumbuhan industri asuransi komersial dari tahun 2001 s/d tahun 2006 menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Selama periode tersebut, kekayaan industri asuransi komersial tumbuh rata-rata sebesar 21 persen per tahun, dari sebesar Rp.37,25 triliun pada tahun 2001 menjadi sebesar Rp.95,31 triliun pada tahun. Dalam periode tahun 2001 s/d 2006, premi asuransi jiwa tumbuh sebesar 221 persen, dari Rp.91,1 triliun menjadi Rp.29,19 triliun. Pesatnya pertumbuhan premi asuransi jiwa dimotori oleh berkembangnya produk-produk yang mengandung unsur investasi. Sementara itu, perkembangan premi asuransi kerugian cukup lamban, seiring dengan lambannya pertumbuhan ekonomi riil. Dalam periode tahun 2001 s/d 2006, premi asuransi kerugian hanya tumbuh sebesar 79 persen, dari Rp.9.98 triliun pada tahun 2001 menjadi Rp.17,91 triliun pada tahun 2006. Lambannya pertumbuhan premi asuransi kerugian kemungkinan disebabkan tidak adanya obyek asuransi baru sehingga kenaikan premi asuransi kerugian diindikasikan disebabkan oleh kenaikan nilai uang pertanggungan, yang dipengaruhi oleh inflasi.

Kontribusi sektor usaha asuransi terlihat nyata ketika terjadi pembayaran klaim asuransi. Pembayaran klaim asuransi mempercepat pemulihan bagi pelaku usaha yang terkena musibah. Pada tahun 2001 s/d tahun 2006, klaim yang dibayar asuransi jiwa tumbuh sebesar 23,63 persen per tahun, dari sebesar Rp.5,25 triliun pada tahun 2001 meningkat menjadi Rp.15,16 triliun pada tahun 2006. Sedangkan klaim yang dibayar asuransi kerugian meningkat rata-rata sebesar 8,32 persen pertahun, dari sebesar Rp.5,77 triliun pada tahun 2001 meningkat menjadi Rp.8,60 triliun pada tahun 2006.

Dari data yang diperoleh dari laporan tahunan tahun 2006 Bapepamlk, terlihat bahwa perusahaan asuransi jiwa tumbuh lebih cepat dibanding dengan perusahaan asuransi kerugian. Namun perkembangan perusahaan asuransi kerugian masih menarik, karena dari data tersebut terlihat klaim yang dibayar oleh perusahaan asuransi kerugian juga lebih lebih rendah dibanding klaim pada perusahaan asuransi jiwa.

Bagaimana kemungkinan perkembangan asuransi kerugian di masa yang akan datang?

Saya memang tak memperoleh data untuk tahun 2007, namun saya memperkirakan pembayaran klaim asuransi kerugian akan semakin meningkat, hal ini kemungkinan disebabkan oleh:

  • Semakin banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di Jakarta dan kota besar lainnya, akan menyebabkan sering terjadi kecelakaan, dari sekedar benturan ringan sampai kerusakan berat.
  • Semakin banyak kelas menengah yang sadar akan risiko, sehingga yang diasuransikan tidak hanya kendaraan beroda empat, namun juga rumah tinggal serta bangunan lainnya. Bagi pengusaha yang meminjam kredit dari Bank, dipersyaratkan untuk mengasuransikan bangunan yang berisiko terhadap kebakaran, kebanjiran dan kemungkinan kerugian lainnya.

Di satu sisi perusahaan asuransi juga harus me reasuransikan premi yang diterima, karena disadari bahwa keadaan cuaca, serta bencana alam sering menghadang Indonesia akhir-akhir ini. Akibatnya akan semakin sering terjadi klaim, dan ini menjadi pertimbangan perusahaan asuransi untuk mengelola agar klaim tak sampai merugikan perusahaan. Secara besaran kenaikan biaya premi yang harus dibayar cukup besar, terutama jika kita mengasuransikan dengan lingkup jaminan comprehensive all risk, serta meminta diberikan pasal perluasan atas :

  • Klausul angin topan, badai, hujan es, banjir atau tanah longsor
  • Klausul gempa bumi, tsunami, dan atau letusan gunung berapi
  • Klausul huru hara, terorisme dan sabotase
  • Klausul no.4: Bencana Alam

Pembayaran premi kali ini, yang biasanya setiap terjadi klaim risiko sendiri sebesar Rp.150.000,- sekarang naik menjadi Rp.200 ribu. Selain itu untuk klaim bencana alam, risiko sendiri adalah 10 persen dari total kerugian (tahun lalu hanya Rp.150 ribu), minimum Rp.500 ribu setiap kejadian. Sedangkan risiko sendiri untuk TLO (Total Loss Only) menjadi Rp. 1 juta, yang dulunya risiko sendiri nol. Saya memahami, ini merupakan strategi perusahaan asuransi kerugian untuk memperkecil risiko terjadinya klaim. Perusahaan asuransi memerlukan survey dulu, ketempat tinggal calon pemegang polis asuransi (yang dulu nyaris tak dilakukan), serta kemana saja kemungkinan mobil yang diasuransikan digunakan (sering menyeberang banjir apa tidak). Hal ini wajar dilakukan, karena banyaknya klaim banjir pada tahun lalu, saya sendiri tak tahu apabila rumah saya rawan banjir apakah perusahaan asuransi mau memberikan asuransi pada saya, betapapun besarnya uang premi yang di bayar.

Apakah cara ini akan menambah jumlah pelanggan baru? Jawabannya bisa “Ya”, dan bisa “tidak”. Karena bagi kondisi ekonomi saat ini, dimana inflasi meningkat diiringi dengan meningkatnya harga kebutuhan bahan pokok, orang akan mengkaji kembali jenis asuransi kerugian yang akan dipilihnya. Beberapa teman hanya memilih asuransi kerugian dengan lingkup jaminan comprehensive all risk yang standar (tanpa pasal perluasan), namun beberapa teman malahan hanya mau mengasuransikan kendaraan nya dengan lingkup jaminan TLO. Saya sendiri tetap mengasuransikan secara comprehensive all risk, dengan risiko membayar premi lebih tinggi. Maklum, jalanan yang semakin macet, membuat kemungkinan risiko untuk benturan kendaraan semakin tinggi.

Bagaimana dengan jenis asuransi kerugian yang lain, seperti asuransi rumah tinggal, asuransi pabrik dsb nya. Perusahaan asuransi pada umumnya akan menolak atau memberikan premi yang sangat tinggi, jika yang diasuransikan tempat yang rawan kebakaran, seperti toko di pasar dsb nya, kecuali ada perusahaan reasuransi yang mau ikut menanggung, serta premi yang dibebankan akan lebih tinggi dibanding dengan yang risiko terjadinya kebakaran lebih rendah.

Pembelajarannya adalah, baik perusahaan asuransi maupun konsumen harus bisa memitigasi risiko, agar tidak menanggung risiko kesulitan keuangan. Perusahaan asuransi kerugian harus bisa memperkirakan, dari mapping lokasi tempat tinggal konsumen, perilaku konsumen (jika telah nasabah lama, seringkah mengajukan klaim), dan hasil penilaian ini akan memberikan rating risiko pada konsumen yang bersangkutan, serta menentukan besarnya premi yang dibebankan. Dari sisi konsumen, harus bisa menilai risiko apa yang sebaiknya mendapatkan perlindungan asuransi, apakah perlu semua harta (kendaraan, bangunan rumah tinggal dsb nya) diasuransikan, atau hanya yang mempunyai risiko tinggi. Karena bagi konsumen masih ada beberapa asuransi lagi yang perlu mendapatkan perhatian, seperti asuransi pendidikan (untuk menjamin pendidikan anak-anak), asuransi kesehatan (jika tak di cover oleh perusahaan apabila sakit), dan juga asuransi jiwa.

About these ads

Responses

  1. suami di AS sekarang bu? Kok ada hujan es…

    Banyak juga yah Bu perusahaan asuransi di Indonesia, 400an lebih.

    2 perusahaan yang melayani re-asuransi siapa Bu?

    Sedikit OOT: orang paling kaya versi Forbes saat ini, Mr Warren Buffet mengumpulkan sebagian besar kekayaannya dari usaha asuransi. Saat ini, perusahaan reasuransi-nya adalah yang terbesar di dunia.

    Ihedge,
    Suami tetap bekerja di Bandung, kan kapan itu Bandung hujan es (lihat di http://narpen.wordpress.com/2008/03/30/bandung-hujan-es/)…
    yang di Amerika menantuku, sedang ambil S2.

    Untuk menjawab pertanyaanmu tentang 2 perusahaan reasuransi di Indonesia
    ternyata tidak mudah. Dari laporan tahunan Bapepamlk, hal.100-1004
    dinyatakan ada 2 perusahaan reasuransi di Indonesia,
    namun dari web nya PT Reasuransi Int’l Indonesia (http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi20/perusahaan_reasuransi.htm)
    dijelaskan bahwa di Indonesia saat ini ada 4 perusahaan reasuransi nasional.
    Masing-masing PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk., PT Reasuransi Nasional Indonesia,
    PT Tugu Reasuransi Indonesia dan PT Resuransi Internasional Indonesia (ReINDO).
    Saya mencoba mencari apakah dari perusahaan reasuransi tadi
    sudah merger atau ada yang diakuisisi, tapi belum ketemu sumbernya.

    Melihat web nya Bapapemlk, ternyata ada juga perusahaan asuransi,
    perusahaan penunjang asuransi yang operasinya dihentikan.
    Bagi perusahaan asuransi kerugian, jika tidak kuat modalnya, dan terjadi banyak klaim,
    bisa menurunkan solvabilitasnya, yang berakibat perusahaan tak mampu lagi untuk beroperasi. Sesuai ketentuan Bapepamlk
    (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang di release
    tanggal 31 Januari 2008, telah diterbitkan peraturan tentang
    Pedoman Perhitungan Batas Tingkat Solvabilitas Minimum
    bagi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi (No:PER-02/BL/2008).
    Peraturan ini diperlukan dalam rangka melindungi kepentingan pemegang polis,
    dan meningkatkan governance industri asuransi.

    Saya OOT juga kok…gara-gara klaim kemarin dan bayar preminya meningkat,
    jadi belajar tentang asuransi.
    Selama ini memang sering berhubungan dengan perusahaan asuransi,
    tapi tidak dalam kapasiitas mengelola perusahaan asuransi.
    Setelah saya tanyakan pada anakku, memang betul orang kaya versi Forbes tsb
    mengumpulkan kekayaan antara lain sumbernya dari mengelola perusahaan asuransi
    (mesti di cek lagi nih). Saya melihat, jika risikonya bisa dimitigasi,
    mempunyai kecukupan modal sesuai peraturan, dan pengelolaan yang benar,
    industri asuransi sangat menarik.
    Agak-agak mirip dengan Perbankan, dan Finance Company….
    high risk…oleh karena itu perlu diatur
    tingkat solvabilitas minimum dari masing-masing
    perusahaan oleh regulator.
    Bahar tertarik???…siapa tahu merupakan alternatif lain jika mau balik
    ke Indonesia nantinya.

  2. Bu Enny, saya mempunyai pengalaman buruk ttg asuransi, Bu. Pada saat mencari calon nasabah, saya salut juga sih, mereka pantang menyerah. berbekal retorika yang saya yakin sdh ada training khusus dari pihak asuransi, mereka bisa meyakinkan calon nasabah bahwa asuransi yang ditawarkan mendatangkan keuntungan. tapi, saya kecewa setelah jadi nasabah. saat melakukan klaim, prosesnya birokratis banget, bahkan terkesan dipersulit. apa memang rata2 asuransi seperti ya, Bu?

    Pak Sawali,
    Pengalaman saya menggunakan asuransi kerugian (mobil), tak ada masalah pak. Tapi memang sejak awal, kami (saya dan suami) telah berdebat dulu tentang pasal-pasal yang tertuang dalam polis dengan perusahaan asuransi yang bersangkutan. Seperti comprehensive all risk ada pasal standarnya, tapi saya meminta ditambah ada pasal perluasan (seperti gempa, banjir dsb nya), dengan risiko menambah premi. Memang kita harus memahami benar, karena kerusuhan berbeda dengan huru-hara, jadi harus dipastikan kedua hal ini tercantum dalam lingkup jaminan yang tertuang di polis asuransi.Dulu, polis asuransi tulisannya kecil-kecil, tapi setelah berlakunya uu konsumen, sekarang tulisannya besar-besar.

    Yang penting, kita harus memahami benar apa yang dijamin dalam lingkup jaminan, dan harus tertera dalam polis. Saat mobil saya terkena hujan es, pertama-tama suami menilpon, dan saya pelajari dulu polisnya, dan ternyata tercantum. Awalnya memang dari perusahaan asuransi saat ditilpon menjawabnya agak konyol, tapi setelah saya bacakan satu persatu kata-kata dalam polis yang berkaitan, dia mengatakan bahwa mereka mau menerima klaim, dan silahkan mobil dibawa ke bengkel.

    Bagaimanapun, perusahaan asuransi kerugian tak ingin di klaim, begitu juga konsumen inginnya selamat, karena kita juga tetap membayar kerugian atas risiko sendiri, ditambah biaya mesti memasukkan mobil ke bengkel dan kerepotan lainnya. Mungkin karena unsur kekawatiran, semua saya asuransikan (kecuali kesehatan ditanggung kantor dan setelah pensiun, ikut ASKES nya suami). Kartu kredit pun saya asuransikan, agar jika sewaktu-waktu saya dipanggil oleh Nya, anak-anak tak perlu membayar tagihan terakhir. Begitu juga saat saya ambil kredit untuk membangun rumah, saya membeli juga polis asuransi jiwa, agar kalau meninggal ditengah jalan, kredit dinyatakan lunas, dan ahli waris tak direpotkan untuk hal-hal seperti ini.

  3. Waduh,Aku lom ikutan asuransi neh, baru terasa keuntungannya khususnya saat ini saat adik aku di vonis kista.

    Landy,
    Hidup kita penuh risiko, dan kita harus mengupayakan tak merepotkan orang lain. Oleh karena itu diperlukan asuransi, untuk ikut menanggung kemungkinan risiko yang akan kita dapat, tapi kita harus pandai memilih asuransi yang kita perlukan, serta perusahaan asuransi yang bagus. Kita sendiri harus mempelajari pasal-pasal yang tertuang dalam polis, sehingga tahu apa yang dijamin dan apa yang tak dijamin, beserta persyaratannya.

  4. ooh, bandung hujan es juga ya Bu. Baru tahu, hehehe.. Kirain di Indonesia yg ada hujan es/salju cuma di Papua. :D

    Warren Buffet, melalui kendaraannya Berkshire Hathaway, memang punya berbagai macam bisnis. Tapi yang sangat besar kontribusinya adalah melalui asuransi dan re-asuransi.

    “Tertarik ke re-asuransi?” Tertarik sih tertarik Bu, cuma perusahaan perlu modal yang sangat besaaaar. Apalagi buat reasuransi.

    Bahar,
    Jakarta pun diprediksi akan hujan es, tiap sore hujan deras plus petir. Hari Kamis kemarin sepulang mengajar, kampus LPPI dan jl. Kemang Raya udah jadi sungai…kemana-mana macet.
    Tapi mudah2an daerahku nggak terkena, kata suami, senengnya 20 menit, tapi membetulkan kerusakannya lebih lama (canopy bocor, dan mobil perlu waktu 10 hari di bengkel).

    Btw…asuransi kayaknya memang menarik. Modal? Memang perlu besar sekali sih…tapi bisa patungan dulu dengan pemilik modal lain. Saya lagi tertarik tentang risk management nih..kayaknya dibidang apapun, manajemen risiko ini sangat diperlukan.

  5. ada untung dan ruginya juga sich bu
    aku kebetulan belum ikut asuransi , baru ikut dana pensiun
    pengen banget ikut , ya minimal niatnya buat proteksi diri

    Realylife,
    Ikut Dana Pensiun sudah bagus, malah kalau bisa ditambah lagi seperti DPLK, agar saat pensiun nanti pendapatannya tak hanya dari pensiun saja.
    Kalau di kantor sudah dicover untuk biaya sakit, asuransi kesehatan tak perlu…tapi kalau tidak, perlu dipikirkan asuransi kesehatan apa yang tepat. Dan yang paling penting adalah asuransi pendidikan jika telah mempunyai anak. Jadi memang mesti dipilih sesuai kepentingan kita.

  6. Kerugiannya ikut asuransi apa yah? Selama ini khan yang kita tau hanya keuntungannya aja. Kalo bayar premi dikategorikan sebagai kerugian, kita bisa ikut yg unitlink lho, yg setelah beberapa tahun premi kita mereka putar jadi investasi.

    Asuransi itu semakin tua saat kita apply, semakin mahal lah premi nya, atau semakin sedikit manfaat yg bisa kita terima. Begitu juga kalo kita udah pernah sakit, atau pernah didiagnosa sesuatu sakit, semakin susah juga untuk disetujui.

    Anastasia Rajagukguk,
    Ikut asuransi seperti apa, sangat tergantung dari kemungkinan terjadinya risiko, dan besarnya kemampuan keuangan kita.
    Saya tak pernah ikut asuransi kesehatan, karena keluarga kalau sakit dicover oleh perusahaan. Jadi yang saya ikuti hanya asuransi kerugian (rumah dan kendaraan). Asuransi pendidikan pun saya tak ikut, karena saat itu sangat mahal (dalam bentuk dolar)….tapi saya menabung dalam dolar dan rupiah, dan dipaksakan setiap bulan ada yang disisihkan, untuk keperluan anak-anak saat kuliah, karena biaya kuliah sangat mahal, walaupun keduanya masuk PTN.

  7. bukannya kenaikan premi dikarenakan aturan pemerintah yang di tegaskan?
    selama ini perusahaan asuransi saling banting harga sehingga jauh dibawah standar biaya asuransi yang telah dihitung bareng dan ditetapkan pemerintah. akhirnya mulai saling teriak.
    sekarang dikembalikan ke aturan yang berlaku. moga sebanding dengan pelayanannya.
    karena selama ini karena preminya kecil mereka menganggap kita sebagai sumber uang masuk saja tetapi saat klaim sangat sangat dipersulit.
    semoga.

    Nindityo,
    Benar, kenaikan premi menyesuaikan dengan peraturan pemerintah (Peraturan Menteri Keuangan nomor 74/PMK.010/2007 yang dikeluarkan pada 29 Juni 2007), bahwa mulai per 1 September 2007, premi kendaraan bermotor dari 3 persen naik menjadi 4,36 persen (http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/08/31/brk,20070831-106633,id.html). Namun saya melihat perusahaan asuransi juga mulai meningkatkan risiko kerugian, kalau dulu hanya satu jenis (risiko kerugian pada angka tertentu), sekarang di spread dan disesuaikan dengan lingkup jaminan yang diinginkan konsumen. Jadi ada risiko sendiri untuk kerugian karena kecelakaan, risiko sendiri untuk bencana, dan risiko sendiri untuk TLO. Ini sesuai dengan hasil klaim tahun 2007, yang ternyata sebagian besar klaim karena banjir…jadi sekarang untuk klaim bencana, risiko sendiri menjadi minimal Rp.500 ribu setiap kejadian.

    Tinggal konsumen akan berpikir apakah menerima atau tidak.

  8. PMK tersebut memang diperlukan untuk mengatur bisnis asuransi kendaraan bermotor yang sudah tidak sehat. Namun demikian angka premi minimum itu dapat ditinjau kembali setelah 1 (satu) tahun dengan melihat data statistik masing-msing perusahaan asuransi yang memang secara reguler harus dilaporkan kepada Depkeu. Sebenarnya sih kalau perusahaan asuransi mau mengolah sendiri metode perhitungan preminya maka depkeu ngga perlu lagi terlalu intervensi. Tapi ya itu.. kalo regulasi ngga ketat, ini yang bikin persaingan bisnis jadi ngga fair.

    Fajar Nindyo,
    Menurut saya memang selayaknya regulator membuat aturan yang ketat, untuk melindungi konsumen. Karena perusahaan asuransi sendiri, belum seperti Bank, yang aturannya telah begitu ketat…selayaknya bisnis asuransi juga mulai memitigasi risiko (dan ini kayaknya perlu ada keharusan), agar bisa menilai berapa risiko yang dapat diabsorp perusahaan tersebut.

  9. Wah-wah……banyak juga pengalaman “tidak menyenangkan” dengan perusahaan Asuransi

    Kebetulan sekali saya berkunjung ke sini

    Saya juga ingin berbagi knowledge and experience tentang Asuransi di http://ahliasuransi.wordpress.com/

    Saya ingin sharing knowledge tentang Asuransi mulai dari Asuransi rumah murah, Asuransi toko, Asuransi keluarga untuk kecelakaan atau family personal accident sampai dengan professional liability insurance seperti liability, malpractice marine hull and P&I dan lain lain

    Semoga dengan knowledge yang benar tentang Asuransi menjadikan hidup kita lebih bernilai

  10. Saya awam dengan asuransi tapi saat ini saya mendapat tugas untuk mengurus asuransi untuk pabrik beserta asetnya.
    Dalam forum ini saya mohon bantuan ibu untuk dapat memberikan informasi dari mana saya harus mulai sebelum memproses asuransinya.
    Terima kasih.

    Hendra,
    Anda bisa lihat blog khusus tentang asuransi (lihat komentar sebelum ini). Yang penting adalah harus bisa menilai risiko apa saja yang kemungkinan dapat terjadi pada perusahaan, baru ditetapkan asuransinya. Maaf, saya tak bisa menjawab disini, karena terlalu panjang bahasannya….namun anda bisa mempelajari, dengan mencoba search tentang asuransi.

  11. benar ap yang dikatakan pak nidityo kenapa ya..?saat terjadi klaim nasabah sering dipersulit oleh pihak asuransi ? padahal mereka menawarkan hal2 yang membuat kita tertarik dengan produknya ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: