Oleh: edratna | April 19, 2008

Apa yang perlu dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menikah

Dari pengamatan saya, ada hal yang sangat penting harus dimiliki oleh pasangan sebelum memutuskan untuk menikah. Karena pernikahan yang baik adalah sekali seumur hidup, apalagi nantinya akan ada anak-anak yang akan dilahirkan dan berhak memperoleh kebahagiaan mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua secara utuh.

1.Siap mental

Kesiapan mental perlu dimiliki oleh pasangan yang akan menikah, karena menikah adalah seperti melangkah ke gerbang kemandirian. Menikah adalah awal hidup baru, yang sangat jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya, yang selalu terlindung dari orangtua dan keluarga lainnya. Jangan sampai keinginan menikah karena ingin lepas dari segala keruwetan, sehingga dengan menikah diharapkan semua beban terlepas. Menikah, walau telah mengenal calon pasangan dengan baik, tapi tetap ada sifat-sifat yang belum terlihat, yang memerlukan penyesuaian. Penyesuaian ini kadang terlaksana dalam waktu dekat, tapi ada juga yang mengatakan bahwa dua tahun di awal pernikahan adalah tahun untuk saling menyesuaikan, banyak hal yang diperdebatkan dan dipertentangkan disini. Perdebatan dan pertentangan ini jangan dianggap tidak cocok, namun untuk mendapatkan persepsi yang sama.

2.Telah mempunyai penghasilan

Berani menikah, berarti berani hidup sendiri tak tergantung pada orang tua. Oleh karena itu hendaknya pasangan telah mempunyai penghasilan yang mencukupi untuk kehidupan sehari-hari, dan tentu saja dengan tambahan anggota baru (anak) nantinya. Walaupun sama-sama cinta, tak berarti menikah hanya didasarkan oleh cinta saja, karena untuk membiayai rumah tangga diperlukan keuangan yang cukup agar rumah tangga terselenggara dengan baik.

3.Kedua pasangan mempunyai cara pandang dalam menilai kehidupan yang sama.

Hal ini sangat penting, misalkan salah satu pasangan sangat berhati-hati dalam memutuskan sesuatu, sedang yang lain pengeluaran uang tak dipikirkan masak-masak, hal ini akan menimbulkan pertentangan yang terus menerus. Perlu diskusi yang terus menerus untuk menyamakan pendapat, agar nantinya suami isteri mempunyai pandangan yang sama. Karena hal ini berperanan dalam cara mendidik anak, karena diharapkan orangtua mempunyai disiplin sama dalam menentukan hal-hal yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh anak.

4.Menikah adalah percampuran budaya antara dua keluarga

Hal ini perlu disadari oleh kedua pasangan, karena walaupun berasal dari suku dan kepercayaan yang sama, bisa terjadi perbedaan pandangan, apalagi pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda latar belakang. Pasangan harus bisa bertindak dewasa, menyikapi perbedaan pandangan antara kedua orangtua, tanpa memihak salah satu diantaranya. Pasangan harus mempunyai keyakinan, apa yang diinginkan berdua, itulah yang seharusnya diyakinkan pada kedua orangtua, bahwa mereka sekarang telah menjadi satu keluarga yang baru, yang mungkin berbeda dalam cara memandang, dan menilai sesuatu dibanding kedua orangtuanya.

Catatan:

Gara-gara sering mendengar ceramah dari berbagai pihak sejak tahun kedua kuliah, saya sempat takut menikah dan menunda terus, sampai injury time.… Dari tante seorang sahabat (dia pernah gagal dan menikah kedua kalinya), dari tante kost (pernah sempat tunangan dan ga jadi menikah…pesannya jangan pakai warna ungu saat tunangan atau menikah…..ingat pramugari Garuda asal Yogya, yang kecelakaan dan meninggal pada saat hampir menikah? Kok ya kebetulan temanya ungu), namun semua harus dikembalikan pada takdir dan memang belum berjodoh. Dan pesan bude teman (saya kost bareng teman di bude nya, di daerah Tanah Abang, saat awal bekerja di Jakarta)….menikah harus dipikirkan masak-masak, dan kebahagiaan suami isteri harus dibuat, artinya menerima dan berdamai dengan keadaan, dan jangan pernah meminta suami tambahan uang, apa yang diberikan suami harus dicukupkan untuk satu bulan, dan usahakan ada sisa untuk ditabung. Keluarga bude ini hidup sederhana, dan saya melihatnya sangat berbahagia dalam kesederhanaannya.

About these ads

Responses

  1. tambahan no. 5 bu.. yang perlu dipersiapkan sebelum menikah: calonnya bu, calonnya … :D

    Ikram,
    Calonmu kalau baca ngambeg lho…….

  2. Saya juga begitu Bu,… agak sedikit takut utk menikah (saat ini). Mudah2an perasaan takut itu bisa berangsur2 hilang dengan sendirinya, kemudian nanti….

    Jadi untuk sementara, saya harus mempersiapkan itu semua… :D

    Iko,
    Nanti ada masanya kok, bahwa kita harus berani….walau deg2an juga…
    Saya barusan baca “Indiana Chronicle“….karangan Clara Ng…ngakak, membayangkan saya…tapi ga sesinting itu sih.
    Percayalah, nanti ada rasa ..”mak deg” gitu lho…pokoknya kita merasa kok kalau Dia jodoh kita.

  3. OOT:

    Ibu,… saya tadi iseng-iseng klik linknya Pak Tri Djoko W (adik bungsunya Ibu)… Setelah saya lihat-lihat, ternyata beliau mengajar di tempat saya bekerja -Paramadina.

    Apa saya pernah bertemu dengan beliau yaa?? :D

    Iko,
    Jangan-jangan Iko sering ketemu ya…fotonya ada di account Multiply saya, dia yang mewakili keluarga pengantin pria saat anak sulungku menikah. Yang pakai beskap dan blangkon, dan setiap kali menjadi wakil dan menyerahkan pengantin pria ke keluarga pengantin putri.

  4. #1
    setuju ama komen ikram : calon nya nih.. hahaha.. :)

    #2

    Kedua pasangan mempunyai cara pandang dalam menilai kehidupan yang sama.

    setujuuu banget.. saya sering menonton acara Nanny 911 di Metro TV.. disana, setiap pasangan yang punya masalah dengan mendidik anak, biasanya menggunakan alibi, “dulu dia tidak seperti itu…” atau “saat kami pacaran doeloe, dia seperti ini.. itu.. ini.. itu..” dan ternyata saat telah menjadi Pasutri, jauhhh berbedaa…

    Rickisaputra,

    Iya, cara pandang sama ini penting……karena kita kan mau hidup selamanya sama pasangan kita…kalau tak sama kan jadi capek…atau bisa hidup bersama tapi ibaratnya rel kereta api…sejajar terus tapi hanya bersama doang, nggak dekat dan nggak nyambung.

    jadi semakin ingin cepat2 menikah.. tapi sayang.. calon nya belom adah.. lagian saya masih ingin mapan se-mapan-mapan nya doeloe..

    terima kasih untuk postingannya, Ibu Edratna.. :)
    inspiring..

  5. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com/

    http://www.infogue.com/pengetahuan_umum/apa_yang_perlu_dipersiapkan_sebelum_memutuskan_untuk_menikah/

    Kaito,
    Thanks sarannya…saya menulis di blog sekadar ingin sharing pengalaman, dan mengisi waktu l luang diantara kesibukan kerja. Sebetulnya artikel saya banyak dikutip, dan bagi saya tak masalah, karena mereka mencantumkan sumbernya, yang penting bisa bermanfaat bagi sesama.

  6. wah, kiat bu enny dalam postingan ini mudah2an dibaca oleh anak-anak muda yang sudah memutuskan untuk memilih calon pasangan hidup. tips dan kiat yang mencerahkan, bu. repot juga ya bu kalau sampai mesti harus terhempas di tengah jalan2 hanya karena salah pilih. percampuran budaya antarkeluarga calon pasangan memang hal yang penting utk dipikirkan sehingga muncul kesamaan persepsi *walah kok malah jadi sok tahu* lebih baik gagal sebelum menihkah daripada berantakan setelah berumah tangga.

    Pak Sawali,
    Benar pak, sayapun mengalami beberapa kali kegagalan menjalin hubungan. Ada yang mula-mula sejalan, tapi semakin kenal, kok jadi mengerti sebetulnya nggak cocok tapi dipaksakan…terus ada juga yang menginginkan saya jadi ibu rumah tangga sepenuhnya…lha padahal orangtua udah setengah mati membiayai (saat itu masuk Perguruan Tinggi mahal), dan saya satu2nya yang diterima dari kota saya….apaboleh buat lebih baik putus daripada semakin bermasalah. Mungkin logika saya lebih tinggi dibanding rasa, jadi walaupun sakit…tetap memilih untuk tidak melanjutkan. Syukurlah Tuhan memberikan seseorang yang mau mengerti saya, mendorong dan memotivasi….dan tanpa kerjasama dengan suami saya belum tentu bisa seperti ini.

  7. melebarkan sayap eh kategori ya, bu :)

    baca tulisan yg ini jadi inget poster yg kubaca di kampus kemaren, poster seminar yg isinya cuma gini:

    “Menikah. Siap atau Pengen?”

    simpel tp daleeemmm…

    Popy,
    Mana idemu….ternyata sulit juga mengotak atik mas WP ini. Ntar tunggu Narpen aja.
    Kalau saya dulu, mikirnya harus siap dulu, dan ada janji sebelumnya (walau tak tertulis), dan diskusi berhari-hari tentang tujuan hidup, bagaimana nanti cara mendidik anak dsb nya. Percaya kan….sekarangpun masih diskusi dalam segala hal….hehehe

  8. siap dipelajari, bu

    Rezco,
    Udah siap-siap nih….

  9. no.3
    koq harus sama?
    berarti yang ga sepaham ga boleh nikah dong

    menurutku tidak harus sama, tetapi harus bisa menyesuaikan

    Alisyah,
    Setiap orang memang mempunyai kategori atau persyaratan yang berbeda dalam menentukan pasangan. Kalau saya menyarankan kepada anak-anak dan keponakan, untuk melakukan seperti hal diatas, karena tujuan yang awalnya sama dalam perjalanan hidup bisa berubah. Kadang ada yang terlihat masih rukun dan damai, tapi hanya sekedar menghindari pertengkaran…seperti jalannya rel kereta apai, sejajar tapi tak sehati.

    Biarpun nggak sama, tapi asal bisa saling menyesuaikan tak masalah..yang muncul menjadi masalah adalah, jika kita menginginkan pasangan berubah supaya sesuai kita…ini yang sulit. Yang penting harus saling memahami, masing-masing tetap punya room sendiri-sendiri, dan pasangan yang berbahagia adalah jika masing-masing tetap dapat mengembangkan dirinya.

  10. Masalah bagi mahasiswa (laki-laki) biasanya adalah nomer 2
    -_-

    Apakah mempunyai rumah (tempat tinggal tetap) merupakan syarat perlu Bu?

    Ade,
    Wahh kalau syaratnya udah punya rumah, mobil…bisa-bisa para laki-laki nggak berani melamar. Yang penting udah ada gaji atau penghasilan yang bisa membiayai hidup sendiri, terpisah dari orangtua…walau rumah masih mengontrak satu kamar, naik kendaraan umum… kalau isterinya juga bekerja, bisa ditanggung berdua kan?

  11. nikah, sesuatu yang indah… :D
    lagi mencari nih bu…
    btw kriteria menurut ibu yang cocok gimana nih ?
    hehehe

    Arul,
    Pertanyaanmu menggelitikku juga…tunggu, nanti saya buat tulisan dulu ya….
    Biar Arul bisa melihat cara pandang perempuan dalam menilai calonnya.

  12. Berani ngambil keputusan, it yg paling berat:))

    maybe..^^

    Hafidzi,

    Hehehe…ternyata walau sudah punya segalanya (gaji cukup, rumah, mobil, bahkan beberapa calon….karena masih bingung), memutuskan menikah bukan perkara gampang. Saya mempunyai anak buah yang punya segalanya (laki-laki), tapi diuber-uber, dijodohkan sulit juga, padahal orangnya ganteng, udah posisi manager….tapi akhirnya ketemu juga jodohnya. “Kan kata ibu, hatinya harus merasa “deg” dulu”, katanya sambil tersenyum, saat saya dengan lega menyalaminya.

  13. Kalo bagi yg suka bosenan, bagaimana Bu?

    Luthfi
    ,
    berarti belum ketemu orang yang tepat…tunggu aja, nanti akan merasakan sendiri, bagaimana tak bisa hidup tanpa dia…baru itulah calon yang terasa pas di hati.
    Cuma pesanku, logika tetap harus jalan…karena menikah adalah awal tanggung jawab baru yang berat…karena nanti ada anak yang mempunyai hak untuk hidup bahagia…dan hanya bisa dicapai jika kedua ayah ibunya bahagia.

  14. Siapkan mental…. Hidup bersama ternyata punya banyak kejutan. So, siapkan mental untuk kejutan2 tersebut :)

    Anastasia,
    Kalau cinta kuat, biasanya kejutan apapun akan menyenangkan dan merupakan bagian dari pembelajaran.

  15. huhuhu…yang terberat menurut saya, nomer 4. dua keluarga dari satu rumpun keluarga besar, gpp kali. dua keluarga dari satu suku, masih bisa ditangani. dua keluarga dari suku berbeda mulai deh ribet. keluarga yang harus dipikirkan padahal yang nikah person! :(

    Yati,
    Tergantung pengantin berdua dalam meyakinkan keluarga. Kemarin sih dari keluarga saya sederhana saja, tapi keluarga pengantin putri (kebetulan pengantin putrinya juga pengin pakai adat), ingin menggunakan adat karena anak bungsu dan perempuan satu-satunya. Dan kebetulan pula, dari keluarga besar, sehingga banyak yang membantu terselenggaranya acara itu.

    Jadi sebetulnya adalah hasil negosiasi. Bahkan ada yang saat lamaranpun sudah rame banget, tetangga saya dari keluarga besar, saat acara lamaran, menyewa bis. Sedangkan saya kemarin cuma saya, adik saya suami isteri dan anak saya…jadi cuma lima orang.

  16. Untuk no 4 karena kita tinggal di Indonesia dengan budaya timur ya bu..

    Kadang suka heran dan kadang iri ama budaya barat yang ga terlalu ribet mikirin sampe urusan 2 keluarga gitu u/ urusan merit.
    Tapi di sisi lain, merasa beruntung dengan adanya budaya timur ini, ada unsur kebersamaan Keluarga akan membantu pada saat kita butuh untuk bertukar pikiran.. Mungkin akan beda halnya dgn budaya barat..

    Sakuralady,
    Budaya Barat memang praktis tetapi juga jadi kurang hangat. Teman menantu saya saat menikah, malah masing-masing tamu menyumbang makanan, ada yang bawa makanan, minuman dan sangat sederhana. Tapi menantuku juga merasakan kesepian, karena mereka kan seneng setelah acara kantor ke bar, dan karena rata-rata keluarga kecil…ga bisa punya temen ngrumpi, jalan-jalan kayak disini. Apalagi dia kerja di Miami, yang merupakan kota pantai…saat di Fairfield lebih sepi lagi….di Iowa yang banyak ladang jagung, dimana-mana hamparan ladang jagung.

  17. Mungkin juga yaa Bu… :D

    Terimakasih yaa Bu,… selamat awal pekan yang penuh dengan kesibukan…

    Iko,
    Apanya yang mungkin? Pertimbangannya?
    Btw, makasih Iko, “Happy Monday

  18. Point#4
    Saya nemu istilah mama drakula (julukan utk ibu camer) dari teman-teman yang udah duluan nikah, tapi herannya sampai sekarang belum pernah dengar papa drakula :)

    Yoga,
    Betulkah ada, bukannya hanya di ada cerita sinetron aja? Soalnya teman-temanku tak ada masalah dengan ini, atau karena mereka rata-rata keduanya bekerja di luar rumah, sehingga punya posisi menentukan juga? Apalagi setelah tinggal di kompleks, banyak rumah dinas yang merupakan hak isteri (karena isterinya pejabat)

    Saya dengan ibu mertua hubungan baik sekali, sayang beliau tak berumur panjang, waktu menengok ke Jakarta sambil membawa pembantu, mengeluh sakit, setelah ke dokter ternyata kena kanker rahim udah stadium 3B, jadi saya malah merawat beliau sampai meninggal…baru dimakamkan di kampung halaman. Saya dan menantu malah suka jalan-jalan berdua, karena saya juga membayangkan saat muda seperti dia…kadang moody…yang penting antara ibu mertua dan menantu hendaknya saling menghormati privasi masing-masing.

  19. Iya Bu ada, mungkin karena kedua sahabat saya ini lagi tidak beruntung karena ketemu dengan mama camer yang seperti itu. Awalnya saat pacaran tidak kelihatan tanda-tanda ke-drakula-an mama-nya, tapi menjelang hari H makin sering bentrok karena perbedaan pendapat dan punya permintaan yang agak aneh-aneh dan akhirnya bikin stress calon pengantin putri. Mungkin juga ini karena tingkat stres yang tinggi–apalagi menjelang hari H. Kalau membaca cerita Ibu, wah Ibu dan menantu sangat beruntung lho.

  20. No3. gak usah sm tapi saling mengerti bisa khan dan harus di omongin baik2 meski bakalna ad selisih juga dan itu semua tergantung ego masing2 sih :)

    kok siap bajet buat ngelamar gak ada ya khan penting juga tuh kalo gak ada bajet buat ngelamar susah juga :):):):)

  21. trims wat artikelnya yang informatif baget, khususnya buat yang mau memutuskan menikah. ditunggu posting posting lainnya ya…
    salam kenal, arie.

  22. Terima kasih bu atas informasi yang diberikan, setelah saya amati dari artikel yang ibu sampaikan itu semua emang bener, tapi gimana dengan tanggung jawab yang ada di salah satu pihak yang membuat dia masih merasakan apakah tidak memberatkan klo sudah menikah nanti…??

    Gimana menurut ibu…??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 217 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: