<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Kapan waktu yang tepat memiliki keinginan mempunyai anak?</title>
	<atom:link href="http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/</link>
	<description>Kenangan, pengalaman, dan perjalanan hidup seorang ibu..</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jan 2010 09:49:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Resi Bismo</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6114</link>
		<dc:creator>Resi Bismo</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 13:43:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6114</guid>
		<description>Saya lahir ketika ayah berumur 40 dan ibu berumur 30, ketika ayah pensiun saya baru tingkat satu. Untuknya emak punya perencanaan keuangan yang matang sehingga biaya pun tidak masalah. Kakak saya yang beda 5 tahun sudah terlebih dahulu bekerja. Sekarang bapak ibu sudah pensiun, biaya kuliah di LN semua saya tanggung sendiri.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Resi Bismo&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Terus terang saya sedih kalau melihat orangtua yang membebankan biaya anak-anaknya kepada anak yang tertua, akibatnya anak tertua tak bisa mengembangkan dirinya, serta keluarganya sendiri terlantar. Keluargamu termasuk &lt;em&gt;planning&lt;/em&gt;nya bagus, walaupun ayah udah pensiun, karena ibu pengelolaan keuangannya baik, maka semuanya bisa terpenuhi. 

Sebetulnya disinilah inti dari keluarga berencana, berapapun anak yang dilahirkan, orangtua harus bertanggung jawab dapat membiayai sekolah dan memberikan perhatian agar anak-anaknya berkembang baik, sampai anak mandiri. Dan orangtuapun harus bisa mengelola keuangannya, agar nantinya tak menjadi beban anak-anaknya saat telah menjadi tua...karena anak-anaknya juga disibukkan membiayai keluarga kecilnya. Jika ini bisa direncanakan sejak awal, maka akan muncul keluarga bahagia dan sejahtera.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya lahir ketika ayah berumur 40 dan ibu berumur 30, ketika ayah pensiun saya baru tingkat satu. Untuknya emak punya perencanaan keuangan yang matang sehingga biaya pun tidak masalah. Kakak saya yang beda 5 tahun sudah terlebih dahulu bekerja. Sekarang bapak ibu sudah pensiun, biaya kuliah di LN semua saya tanggung sendiri.</p>
<p><em><strong>Resi Bismo</strong></em>,<br />
Terus terang saya sedih kalau melihat orangtua yang membebankan biaya anak-anaknya kepada anak yang tertua, akibatnya anak tertua tak bisa mengembangkan dirinya, serta keluarganya sendiri terlantar. Keluargamu termasuk <em>planning</em>nya bagus, walaupun ayah udah pensiun, karena ibu pengelolaan keuangannya baik, maka semuanya bisa terpenuhi. </p>
<p>Sebetulnya disinilah inti dari keluarga berencana, berapapun anak yang dilahirkan, orangtua harus bertanggung jawab dapat membiayai sekolah dan memberikan perhatian agar anak-anaknya berkembang baik, sampai anak mandiri. Dan orangtuapun harus bisa mengelola keuangannya, agar nantinya tak menjadi beban anak-anaknya saat telah menjadi tua&#8230;karena anak-anaknya juga disibukkan membiayai keluarga kecilnya. Jika ini bisa direncanakan sejak awal, maka akan muncul keluarga bahagia dan sejahtera.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: elgafitri</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6091</link>
		<dc:creator>elgafitri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 13:13:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6091</guid>
		<description>makasih bu.. iya nih, masih harus banyak mempersiapkan diri dulu^^&#039; jadi mikir satu2 dulu aja y.

sering ngeliat k narpen di kampus, cuma ngga pernah nyapa. belum pernah kenalan resmi sih, jadi malu kalo tiba2 sok kenal :D

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Elgafitri&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Satu angkatan dengan Ade? Berarti seharusnya kenal......tapi anak Elektro memang banyak sih...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>makasih bu.. iya nih, masih harus banyak mempersiapkan diri dulu^^&#8217; jadi mikir satu2 dulu aja y.</p>
<p>sering ngeliat k narpen di kampus, cuma ngga pernah nyapa. belum pernah kenalan resmi sih, jadi malu kalo tiba2 sok kenal <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em><strong>Elgafitri</strong></em>,<br />
Satu angkatan dengan Ade? Berarti seharusnya kenal&#8230;&#8230;tapi anak Elektro memang banyak sih&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: infogue</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6050</link>
		<dc:creator>infogue</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 04:14:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6050</guid>
		<description>Artikel di blog ini menarik &amp; bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel &amp; vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah &amp; singkat. Salam Blogger!
http://keluarga.infogue.com
http://keluarga.infogue.com/kapan_waktu_yang_tepat_memiliki_keinginan_mempunyai_anak_</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel di blog ini menarik &amp; bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel &amp; vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah &amp; singkat. Salam Blogger!<br />
<a href="http://keluarga.infogue.com" rel="nofollow">http://keluarga.infogue.com</a><br />
<a href="http://keluarga.infogue.com/kapan_waktu_yang_tepat_memiliki_keinginan_mempunyai_anak_" rel="nofollow">http://keluarga.infogue.com/kapan_waktu_yang_tepat_memiliki_keinginan_mempunyai_anak_</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: windy3001</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6043</link>
		<dc:creator>windy3001</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 16:14:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6043</guid>
		<description>selain kesepakatan suami istri juga ada faktor penentu yaitu kehendak Tuhan..
maaf lo bu..slm kenal dan numpang nampang.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Windy3001&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Betul....bukankah diujung usaha selalu ada nasib?
Tapi kita tetap berusaha kan, tidak menyerahkan sepenuhnya dengan doa? 
Salam kenal juga</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>selain kesepakatan suami istri juga ada faktor penentu yaitu kehendak Tuhan..<br />
maaf lo bu..slm kenal dan numpang nampang.</p>
<p><em><strong>Windy3001</strong></em>,<br />
Betul&#8230;.bukankah diujung usaha selalu ada nasib?<br />
Tapi kita tetap berusaha kan, tidak menyerahkan sepenuhnya dengan doa?<br />
Salam kenal juga</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: juliach</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6041</link>
		<dc:creator>juliach</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 14:02:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6041</guid>
		<description>Menurutku kalo sudah umur 20 th sudah bisa punya anak. Biar nanti kalo anak umur 20th kitanya umur 40th. Bisa jalan-jalan &amp; ngomongnya selevel gitu. Jika dimintai bantuan utk momong cucu masih OK.

Aku dulu juga menimbang-nimbang seperti yg ibu katakan. Semua pakai pertimbangan masak-masak. Kenyataanya: tidak seperti yg diharapkan.

Sekarang aku punya idea yg 180° dr idea ibu &amp; idea aku dulu : 
a. aku bikin anak ke-2 tanpa persetujuan bapaknya, lagi pula kami belum nikah. Setelah kehamilan 2 bulan baru dia aku beritahu. Aku pun menolak utk dinikahi dan diakui anaknya. Tetapi dia dengan sabar mendampingiku hingga kini.
b. Tak perlu kedua belah pihak orang tua siap. Karena aku merasa sudah dewasa dan bisa mengurusi hidupku ini.
c. anak wajib bahagia. Finansial yang kuat tidak selalu menjamin kebahagiaan anak. Ini relatif sekali. Saya bisa lulus Univ. bukan karena biaya orang tua, melainkan biaya diri sendiri. Sewaktu masih single ekonomiku kuat sekali, hamil anak I juga begitu. Sayang jalan tidak mulus seperti rencana. Ekonomiku jatuh, tapi aku tak takut utk hamil yg ke-2. Sekarang anak ke-2 berumur 15 bulan dan keadaan ekonomi semakin membaik dan aku berharap begitu seterusnya. Ini harapanku lho, tidak tahu kenyataannya. Aku selalu bilang ke anak-anak, &quot;Apapun keadaan kita Mami selalu akan di samping kalian, jangan takut akan masa depan. Hidup ini bagaikan kita berlibur dgn naik sepeda : kadang kita di atas gunung bisa lihat semua pemandangan, tapi kita harus turun ke danau/ke laut utk berenang/mencari air, lalu kita naik lagi harus dikayuh kuat-kuat jika tidak kuat anak-anak harus turun bantuin ibu dorong sepeda.&quot; Banyak philosophi yg aku ajarkan. Jika terjadi apa-apa dengan diriku ditengah perjalanan kehidupan anak-anakku akan selalu rukun dan saling membantu untuk mencapai keberhasilan.

Hidup ini begini kadang + kadang - dibawa enaknya saja. Hehehe...

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Juliach&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Memang tipe orang berbeda-beda, justru disitulah menariknya. Ada yang berani mengambil risiko, ada yang risiko moderate, atau bahkan tak berani ambil risiko. Ada juga orang yang melakukan segalanya dengan perencanaan matang (ini termasuk saya), ada yang menjalani kehidupan dengan lebih santai. Justru itulah bagaimana memilih pasangan yang cocok, juga harus disesuaikan dengan sifat kita. Kalau yang satunya menggunakan analisis, terprogram, lengkap dengan plan A-B-C dst nya...sedangkan lainnya&lt;em&gt; easy going&lt;/em&gt;....maka keduanya harus memahami benar, dan bagaimana mengaturnya, agar sifat yang berbeda ini jangan jadi bumerang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurutku kalo sudah umur 20 th sudah bisa punya anak. Biar nanti kalo anak umur 20th kitanya umur 40th. Bisa jalan-jalan &amp; ngomongnya selevel gitu. Jika dimintai bantuan utk momong cucu masih OK.</p>
<p>Aku dulu juga menimbang-nimbang seperti yg ibu katakan. Semua pakai pertimbangan masak-masak. Kenyataanya: tidak seperti yg diharapkan.</p>
<p>Sekarang aku punya idea yg 180° dr idea ibu &amp; idea aku dulu :<br />
a. aku bikin anak ke-2 tanpa persetujuan bapaknya, lagi pula kami belum nikah. Setelah kehamilan 2 bulan baru dia aku beritahu. Aku pun menolak utk dinikahi dan diakui anaknya. Tetapi dia dengan sabar mendampingiku hingga kini.<br />
b. Tak perlu kedua belah pihak orang tua siap. Karena aku merasa sudah dewasa dan bisa mengurusi hidupku ini.<br />
c. anak wajib bahagia. Finansial yang kuat tidak selalu menjamin kebahagiaan anak. Ini relatif sekali. Saya bisa lulus Univ. bukan karena biaya orang tua, melainkan biaya diri sendiri. Sewaktu masih single ekonomiku kuat sekali, hamil anak I juga begitu. Sayang jalan tidak mulus seperti rencana. Ekonomiku jatuh, tapi aku tak takut utk hamil yg ke-2. Sekarang anak ke-2 berumur 15 bulan dan keadaan ekonomi semakin membaik dan aku berharap begitu seterusnya. Ini harapanku lho, tidak tahu kenyataannya. Aku selalu bilang ke anak-anak, &#8220;Apapun keadaan kita Mami selalu akan di samping kalian, jangan takut akan masa depan. Hidup ini bagaikan kita berlibur dgn naik sepeda : kadang kita di atas gunung bisa lihat semua pemandangan, tapi kita harus turun ke danau/ke laut utk berenang/mencari air, lalu kita naik lagi harus dikayuh kuat-kuat jika tidak kuat anak-anak harus turun bantuin ibu dorong sepeda.&#8221; Banyak philosophi yg aku ajarkan. Jika terjadi apa-apa dengan diriku ditengah perjalanan kehidupan anak-anakku akan selalu rukun dan saling membantu untuk mencapai keberhasilan.</p>
<p>Hidup ini begini kadang + kadang &#8211; dibawa enaknya saja. Hehehe&#8230;</p>
<p><em><strong>Juliach</strong></em>,<br />
Memang tipe orang berbeda-beda, justru disitulah menariknya. Ada yang berani mengambil risiko, ada yang risiko moderate, atau bahkan tak berani ambil risiko. Ada juga orang yang melakukan segalanya dengan perencanaan matang (ini termasuk saya), ada yang menjalani kehidupan dengan lebih santai. Justru itulah bagaimana memilih pasangan yang cocok, juga harus disesuaikan dengan sifat kita. Kalau yang satunya menggunakan analisis, terprogram, lengkap dengan plan A-B-C dst nya&#8230;sedangkan lainnya<em> easy going</em>&#8230;.maka keduanya harus memahami benar, dan bagaimana mengaturnya, agar sifat yang berbeda ini jangan jadi bumerang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: sosro</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6029</link>
		<dc:creator>sosro</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 04:13:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6029</guid>
		<description>Yth.Bu Edratna, sy punya temen nikah ( laki batak dan cewek cina)  di usia 30 tahunan di negri Belanda berdua sepakat tidak usah punya anak. sampai sekarang usia sekitar 57 tahun. dan sampai sekrng betul2 tdk punya anak. dan setiap tahun beliau berdua pulang ke Indonesia selama 2 bulan, jalan2, ketemu keluarga di sby dan sumatra. Saya lihat dari luar enjoy banget beliau berdua. tapi ga tahu ya dalam hati kecilnya. yang jelas anak sangat diinginkan/didambakan oleh orang2 yang menikah.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sosro&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Menurut saya tak masalah, saya punya saudara sepupu menikah dengan bule, kerjanya kalau libur jalan-jalan keliling dunia, dan kelihatannya tak berpikir punya anak. Menurut saya itu hak masing-masing, karena kalau ingin, pasti dia adopsi atau berusaha melalui berbagai alternatif (teman saya banyak yang adopsi, atau proses pakai bayi tabung dll). Kebahagiaan kan tak harus dikaitkan dengan ada tidaknya anak, tapi bagaimana kita menikamti kebahagiaan tsb. Memang agak sulit jika tinggal di Indonesia, apalagi kota kecil...begitu tahu lulus S1, pertanyaannya kapan menikah? terus nanti kenapa belum punya anak? Pengin kaya dulu ya? Saya dulu pernah juga hampir emosi atas pertanyaan yang sok tahu ini, tapi akhirnya bisa menahan diri...dan bagi cewek, nggak enaknya mereka juga sok menasehati, padahal risikonya bukan pada mereka.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth.Bu Edratna, sy punya temen nikah ( laki batak dan cewek cina)  di usia 30 tahunan di negri Belanda berdua sepakat tidak usah punya anak. sampai sekarang usia sekitar 57 tahun. dan sampai sekrng betul2 tdk punya anak. dan setiap tahun beliau berdua pulang ke Indonesia selama 2 bulan, jalan2, ketemu keluarga di sby dan sumatra. Saya lihat dari luar enjoy banget beliau berdua. tapi ga tahu ya dalam hati kecilnya. yang jelas anak sangat diinginkan/didambakan oleh orang2 yang menikah.</p>
<p><em><strong>Sosro</strong></em>,<br />
Menurut saya tak masalah, saya punya saudara sepupu menikah dengan bule, kerjanya kalau libur jalan-jalan keliling dunia, dan kelihatannya tak berpikir punya anak. Menurut saya itu hak masing-masing, karena kalau ingin, pasti dia adopsi atau berusaha melalui berbagai alternatif (teman saya banyak yang adopsi, atau proses pakai bayi tabung dll). Kebahagiaan kan tak harus dikaitkan dengan ada tidaknya anak, tapi bagaimana kita menikamti kebahagiaan tsb. Memang agak sulit jika tinggal di Indonesia, apalagi kota kecil&#8230;begitu tahu lulus S1, pertanyaannya kapan menikah? terus nanti kenapa belum punya anak? Pengin kaya dulu ya? Saya dulu pernah juga hampir emosi atas pertanyaan yang sok tahu ini, tapi akhirnya bisa menahan diri&#8230;dan bagi cewek, nggak enaknya mereka juga sok menasehati, padahal risikonya bukan pada mereka.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: elgafitri</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6021</link>
		<dc:creator>elgafitri</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 10:38:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6021</guid>
		<description>oo.. ibu itu ibunya k&#039; narpen tho.. 
jadi malu, hehe :p

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Elgafitri&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Kenal sama Narpen? Dari Elektro juga?
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>oo.. ibu itu ibunya k&#8217; narpen tho..<br />
jadi malu, hehe :p</p>
<p><em><strong>Elgafitri</strong></em>,<br />
Kenal sama Narpen? Dari Elektro juga?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: elgafitri</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-6020</link>
		<dc:creator>elgafitri</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 10:30:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-6020</guid>
		<description>salam kenal bu.. (saya tau blog ibu dari ade bayu)
berarti ndak masalah ya, merencanakan ngga punya anak dulu? saya khawatir kualat kalau &#039;nolak&#039; punya anak :p. 

sbg info, saya blm menikah, tapi berencana menikah dlm satu thn ke depan. sementara saya masih sangat takut untuk mendidik anak ^^&#039; 

hehe,jadi konsultasi pribadi nih bu.. terimakasih sebelumnya :)

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Fitrimutiara&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Temennya Ade? Berarti masih muda ya.....sebetulnya kuncinya pada kesiapan pasangan, jangan sampai si anak yang jadi korban. Mungkin yang penting kesiapan menikah dulu, baru nanti dipikirkan berdua mau kapan punya momongan...mau meneruskan kuliah dulu, mau kursus dulu, atau ada beberapa perusahaan yang menyarankan jangan punya anak dulu sebelum selesai training (karena saat training, akan sering dipindahkan, dan ditugaskan kemana-mana yang berisiko bagi yang kandungannya tak kuat).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal bu.. (saya tau blog ibu dari ade bayu)<br />
berarti ndak masalah ya, merencanakan ngga punya anak dulu? saya khawatir kualat kalau &#8216;nolak&#8217; punya anak :p. </p>
<p>sbg info, saya blm menikah, tapi berencana menikah dlm satu thn ke depan. sementara saya masih sangat takut untuk mendidik anak ^^&#8217; </p>
<p>hehe,jadi konsultasi pribadi nih bu.. terimakasih sebelumnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em><strong>Fitrimutiara</strong></em>,<br />
Temennya Ade? Berarti masih muda ya&#8230;..sebetulnya kuncinya pada kesiapan pasangan, jangan sampai si anak yang jadi korban. Mungkin yang penting kesiapan menikah dulu, baru nanti dipikirkan berdua mau kapan punya momongan&#8230;mau meneruskan kuliah dulu, mau kursus dulu, atau ada beberapa perusahaan yang menyarankan jangan punya anak dulu sebelum selesai training (karena saat training, akan sering dipindahkan, dan ditugaskan kemana-mana yang berisiko bagi yang kandungannya tak kuat).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Puspa</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-5990</link>
		<dc:creator>Puspa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 04:05:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-5990</guid>
		<description>Jadi ingat dulu awal nikah, saya juga mau menunda punya anak at least 1 tahun. Tapi gagal, gara2 kasihan ama suami :D tiap ketemu teman kantor dia selalu diledekin. Apalagi ketemu temen2 kuliahnya dulu... habis dia dicerca... Dia sih senyum2 aja, tapi kok saya jadi kasian ya...
hi hi hi jadinya cuman berhasil menunda 6 bulan. Tapi gak nyesel kok punya anak cepet2, ngebayangin ntar klo dia udah gede kita masih bisa hang out sama mereka... wah asiiiikkkk...

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Puspa&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Menunda punya anak sesudah menikah umumnya dilakukan secara alami, karena pada umumnya dokter tak mau melakukan KB bagi pasangan yang belum punya anak. Punya anak semasa ibu masih muda juga menguntungkan, karena nantinya bisa dekat dengan anaknya, jalan-jalan bareng. Kalau saya masalahnya memang berbeda, saya keliling dulu, jalan-jalan dulu, karir dulu, baru menikah....jadi ya harus langsung punya anak biar ga terlalu tua.

Walaupun demikian saya masih bisa kok, ketawa-ketawa bareng anak, jalan-jalan sama anak, walau bedanya dengan si bungsu 34 tahun.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ingat dulu awal nikah, saya juga mau menunda punya anak at least 1 tahun. Tapi gagal, gara2 kasihan ama suami <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  tiap ketemu teman kantor dia selalu diledekin. Apalagi ketemu temen2 kuliahnya dulu&#8230; habis dia dicerca&#8230; Dia sih senyum2 aja, tapi kok saya jadi kasian ya&#8230;<br />
hi hi hi jadinya cuman berhasil menunda 6 bulan. Tapi gak nyesel kok punya anak cepet2, ngebayangin ntar klo dia udah gede kita masih bisa hang out sama mereka&#8230; wah asiiiikkkk&#8230;</p>
<p><em><strong>Puspa</strong></em>,<br />
Menunda punya anak sesudah menikah umumnya dilakukan secara alami, karena pada umumnya dokter tak mau melakukan KB bagi pasangan yang belum punya anak. Punya anak semasa ibu masih muda juga menguntungkan, karena nantinya bisa dekat dengan anaknya, jalan-jalan bareng. Kalau saya masalahnya memang berbeda, saya keliling dulu, jalan-jalan dulu, karir dulu, baru menikah&#8230;.jadi ya harus langsung punya anak biar ga terlalu tua.</p>
<p>Walaupun demikian saya masih bisa kok, ketawa-ketawa bareng anak, jalan-jalan sama anak, walau bedanya dengan si bungsu 34 tahun.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: iway</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/23/kapan-waktu-yang-tepat-memiliki-keinginan-mempunyai-anak/#comment-5972</link>
		<dc:creator>iway</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 08:55:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=401#comment-5972</guid>
		<description>berhubung saya dah lewat 30, kayaknya saya harus segera nambah nih **malu-malu**
si kecil saya baru 1,7 tahun

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Iway&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Bagi bapak sebetulnya umur berapapun masih memungkinkan menambah anak, cuma masih layakkah? Kasihan juga kalau anak belum selesai kuliah tapi ayah atau ibu keburu pensiun. Saya juga termasuk injury time, anak saya lulus, pas saya memasuki usia pensiun....justru karena itu saya menulis tentang hal ini...karena ternyata anakku stres juga, dia merasa didesak oleh waktu memikirkan ibu mau pensiun.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>berhubung saya dah lewat 30, kayaknya saya harus segera nambah nih **malu-malu**<br />
si kecil saya baru 1,7 tahun</p>
<p><em><strong>Iway</strong></em>,<br />
Bagi bapak sebetulnya umur berapapun masih memungkinkan menambah anak, cuma masih layakkah? Kasihan juga kalau anak belum selesai kuliah tapi ayah atau ibu keburu pensiun. Saya juga termasuk injury time, anak saya lulus, pas saya memasuki usia pensiun&#8230;.justru karena itu saya menulis tentang hal ini&#8230;karena ternyata anakku stres juga, dia merasa didesak oleh waktu memikirkan ibu mau pensiun.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
