Posted by: edratna | Mei 1, 2008

Garis-garis Besar Program Pembelajaran, bermanfaat agar suatu pelatihan mencapai sasaran yang telah ditetapkan

Sebagai pengajar, tentunya kita menginginkan hasil evaluasi, bagaimana cara kita mengajar, apakah memang mudah dipahami, bagaimana pengaturan waktunya dan sebagainya. Sedangkan bagi pengelola program pendidikan, perlu juga mengetahui apakah para pengajar telah melakukan tugasnya sesuai yang diinginkan. Bagaimana cara kita mengetahuinya, adakah suatu instrumen yang dapat digunakan untuk menilai hal tersebut?

Pada umumnya, sebelum dilakukan suatu program pendidikan/pelatihan, maka tim pengajar dikumpulkan lebih dulu, kemudian penyelenggara pendidikan akan menjelaskan, apa tujuan dari pendidikan ini, siapa para pesertanya, latar belakang peserta, serta kedalaman dari materi yang akan diajarkan. Sekedar memahami, atau apakah nantinya harus bisa langsung dipraktekkan dilapangan atau seperti apa? Dari sini akan muncul diskusi, jika penyelenggara menginginkan kedalaman materi, yang pesertanya langsung dapat mengaplikasikan dilapangan, diperlukan kriteria para peserta yang dapat ikut pendidikan. Ketidak sesuaian pemahaman, akan membuat hasil pendidikan tak sesuai dengan yang diinginkan, apalagi jika peserta terdiri dari berbagai perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia, yang selain kendala budaya, juga ketidak seragaman pengetahuan dan kemampuan para peserta untuk menyerap ilmu yang diberikan.

Salah satu alat untuk memantau, apakah para tim pengajar telah memahami yang diinginkan pengelola pendidikan, maka pengajar sebelumnya harus menyerahkan Garis-garis Besar Program Pembelajaran (disingkat GBPP), sekaligus dengan materi yang akan diberikan. Pengelola program pendidikan akan membaca dan menilai GBPP, untuk melihat apakah isi materi yang tercantum dalam GBPP telah sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan diadakan.

Apakah GBPP itu?

GBPP atau Garis-garis Besar Program Pembelajaran, merupakan panduan pelaksanaan pembelajaran, yang menjelaskan apa judul materi pelajaran yang akan diberikan, apa nama pendidikannya, berapa jumlah sesinya, gambaran singkat tujuan pembelajaran, serta sub pokok bahasan dan alat atau metode yang digunakan.

Sebagai contoh:

Lembaga pendidikan XYZ berencana memberikan training dengan materi Credit Risk Management. Maka Lembaga XYZ tadi akan meminta pengajar profesional, yang selama ini telah banyak membantunya, untuk membuat ringkasan GBPP, dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Materi : Credit Risk Management
  • Nama pendidikan : Branch Manager
  • Jumlah sesi : 7 sesi (termasuk diskusi)
  • Diskripsi singkat : Pada pelatihan ini, peserta akan diberikan pemahaman mengenai credit risk rating, credit evaluation process, serta frame work credit risk management secara umum
  • Tujuan instruksional Umum/TIU : Peserta dapat mengidentifikasi dan menganalisis risiko portofolio, melakukan mitigasi risiko finansial untuk melindungi sumber-sumber pembayaran kembali dengan manajemen portfolio pinjaman dan collateral yang baik. Selain itu peserta diharapkan dapat mengembangkan portfolio yang terkait dengan pemberian pinjaman.
  • Pendekatan: Metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pelatihan ini adalah active training method, yaitu dengan memilih aktivitas-aktivitas pendukung seperti ceramah interaktif, role play, permainan, alat bantu visual, diskusi, studi kasus, demonstrasi dan sebagainya.
  • Soft kompetensi terkait : Berpikir konseptual, strategis, memiliki dorongan berprestasi, integritas, membina hubungan dengan konsumen.

Berdasarkan penjelasan tersebut, pengajar diminta untuk mengisi tabel, apa isi pokok bahasan yang akan diberikan, sub pokok bahasan, durasi yang diperlukan, metode yang akan digunakan, serta daftar pustaka yang digunakan sebagai referensi mengajar.

Bagaimana pengajar memberikan alokasi dan sub bahasan materi yang akan diajarkan?

Setelah menerima instruksi dari penyelenggara pendidikan, maka pengajar akan menuangkan isi materi yang akan diajarkan sebagaimana pada tabel di bawah ini:

Dari tabel tersebut penyelenggara akan bisa menilai, apakah kira-kira materi yang hendak disampaikan sudah cukup sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dengan demikian, maka paling tidak pengelola pendidikan bisa melihat dari isi materi yang diajarkan, pada proses sebelum pengajaran, kemudian dibuatkan form evaluasi untuk pengajar. Pengajar juga diminta membuat soal ujian dan tugas-tugas yang akan didiskusikan di kelas, tugas-tugas ini hendaknya juga dinilai oleh pengelola pendidikan, apakah memang sudah sesuai dengan yang diinginkan.

Selanjutnya pemilihan pengajar juga menentukan keberhasilan pembelajaran, apalagi jika pendidikan yang digunakan berupa short course, dan pesertanya adalah orang-orang yang telah bekerja, dan pada umumnya perusahaan yang mengirimkan pekerjanya untuk dididik, mengharapkan agar ilmu yang diberikan dapat langsung diaplikasikan dilapangan. Oleh karena itu pendidikan juga harus bersifat edutainment (education and entertainment), sehingga situasi belajar mengajar menjadi menyenangkan. Dan hal ini disadari, karena dengan materi yang sama, hasilnya akan berbeda, tergantung siapa yang membawakannya.

Bahan Bacaan:

Dari berbagai sumber, dan pengalaman penulis sebagai pengajar, serta pengelola program pendidikan

Responses

waduuh berat2 nih…tapi salute dengan pemikirannya,
thanks yaa infonya, sangat membantu:))

Hafidzi,
Berat??…mosok sih? Itu hal-hal yang dilakukan sehari-hari…seperti alm ibuku dulu, selalu menuliskan apa yang akan diajarkan besok pagi untuk murid-muridnya. Namun saya menuliskannya dari sisi yang lain, memakai tabel dsb nya….sebetulnya nggak berat kok.

terima kasih infonya
semoga bermanfaat bagi kita semua ya bunda

Realylife,
Sama-sama….

Pengalaman saya neh Bu, beberapa kali ikutan Pelatihan ( Training ) guna menunjang maslah di Perusahaan, sayangnya para Instruktur KURANG menguasai LAPANGAN. Jadi terkesan malah KETINGGALAN dengan peserta Training yang sudah terbiasa praktek langsung di Lapangan.

Materi yang disajikan KETINGGALAN baik dari sisi Peralatan maupun Teknologi.

Jadi….???. Pelatihan menjadi ajang REFRESING saja…

Bagus…bagus sekali Konsepnya bu Ratna

Salam

Santri gundul
,
Memilih lembaga training memang harus dilakukan secara teliti, sehingga hasil yang kita peroleh dari training bisa langsung diterapkan dilapangan. Saya dulu tugasnya antara lain meneliti Lembaga training mana yang layak dipakai untuk mendidik para pegawai…jika untuk kelas tertentu diselenggarakan secara internal (perusahaan tempat saya kerja punya lembaga pelatihan sendiri, untuk mendidik karyawannya), atau bisa melalui in house training...pengajar dari luar, tapi seluruh peserta dari satu perusahaan. Saat pemilihan memang ketat, siapa yang akan mengajar, materinya seperti apa, dan kedalaman yang kita minta, beserta soft kompetensi apa yang harus dimasukkan…..dan kami boleh datang sebagai pengamat.Jika ternyata tak sesuai yang dipresentasikan, mereka tak pernah dipakai lagi.

Kita harus banyak belajar dari penyelenggara training di luar negeri, hanya dengan pengajar satu orang, bisa menguasai semuanya, dan bisa mengoperasikan semua alat yang ada. Memang menyebalkan kalau ternyata pengajarnya masih di bawah pengetahuan para peserta.

Betul bu…. bukan hanya anak kecil saja yang perlu edutainment tapi orang2 dewasa juga perlu tuh edutainment, mungkin karena kalau via edutainment, fikiran bisa lebih sedikit rileks sehingga orang bisa berfikir lebih jernih dan tidak cepat lelah.

Edutainment sebenarnya bisa dalam bentuk yang lain loh bu, kalau kita lihat textbook-textbook terbaru keluaran Amerika yang tebal2 itu, mereka secara tak langsung sudah memasukan unsur entertainment ke dalam buku2nya, sekarang buku2 teks pelajaran keluaran Amerika semuanya sudah full-colour ditambah grafis2 dan gambar2 yang indah yang sangat memanjakan mata bahkan beberapa ada yang memasukkan kartun2 lucu yang berhubungan dengan topik2 dalam bab tersebut….. jadinya selain fikiran lebih rileks, kitapun jadi tertarik untuk membacanya terus…..

Kang Yari NK
,
Gejala memberikan pendidikan dengan edutainment style ini telah terjadi 15 tahun belakangan ini…..karena ternyata daya serap peserta lebih tinggi. Kadang dipadu dengan out bound dan sebagainya. Tapi kan tetap materinya harus disesuaikan, apakah berupa konseptual (biasanya untuk kelas manager ke atas), atau aplikasi, yang nantinya harus bisa diterapkan langsung dilapangan, atau seperti apa.
Iya, buku komikpun sekarang lucu-lucu, saya melihat dari koleksi anakku, gambarnya makin beragam….kemungkinan juga karena semakin majunya ilmu grafis….dan kreativitas orang yang semakin tak terbatas. Kalau sudah begini, kayaknya otak ini kayak deret hitung, dan ilmu yang hendak dikejar (padahal masih ilmu yang in line dengan latar belakang pendidikan kita) seperti deret hitung. Tapi justru saya melihat disinilah tantangannya, apakah kita berani mengambil tantangan tsb?

Sebagai Anak Didik, saya merasakan bosan ketika cara mengajar Sang Pengajar amburadul. Kendati topik yang diusung sebenarnya menarik, namun karena Sang Pengajar terlalu monoton maka tak banyak yang bisa diserap. Boro-boro nyerap! mendengarkan saja tidak.

Oleh karena itu, saya pikir selain persiapan materi juga harus ada persiapan metodologi. Penggunaan gambar-gambar visual dan hal-hal lain yang menarik dan menghibur menjadi perlu.

Satu lagi bu, selain transfer knowledge, tugas pengajar adalah transfer energy.

Frater Telo
,
Tugas pengajar juga harus menjadi motivator, makanya ada istilah role play...yang seperti bermain, sehingga tak ada yang mengantuk. Pengajar yang baik, umumnya juga motivator ulung, materi yang susah menjadi terasa mudah karena penyajiannya menarik.

makasih yah infonya sangat berguna bagi kami.

Ibeth,
Syukrlah jika bermanfaat

Mohon maaf, agak keluar jalur sedikit, karena pada artikel terdahulu ada mengenai Produk perbankan Syareah. Kalau tidak keberatan dan ikhlas, dapatkah ibu memberikan ilmu sedikit kepada saya, mengenai akuntansi untuk dana talangan haji. Semoga amal ibadah anda akan dibalas oleh ALLAH SWT dengan berlipat ganda.

Harlmupe,
Maksudnya akuntansi dari sisi Bank Syariah….untuk memahami ini, kita juga harus mengerti sistim keuangan yang digunakan di Bank tsb, SOP nya dsb nya. Dan tentu semua harus sesuai dengan PSAK…

Leave a response

Your response:

Categories