Gara-gara jarak yang terbentang antara Jakarta-Bandung dapat ditempuh selama 2 (dua) jam, maka bepergian dari Jakarta ke Bandung terasa seperti pergi ke Bekasi tahun 80 an. Pada tahun 1984 saya pernah mendapat tugas ke Purwakarta, jarak antara Jakarta-Purwakarta ditempuh dalam waktu 5 (lima) jam, melalui pintu kereta api (pintu tek-tek, istilah saat saya masih kecil) beberapa kali. Jadi saat itu setelah tugas selesai, dari Purwakarta jam 7 (tujuh) malam, baru sampai di Jakarta jam 1 (satu) malam.
Kondisi saat ini berbeda, jarak Bekasi dari rumah saya bisa ditempuh dalam waktu nggak sampai 10 menit, jika berangkat sebelum jam 6 pagi. Hari Jumat, tumben si bungsu datang dari Bandung masih siang, sempat mengajari ibu untuk buat bahan presentasi, tahu-tahu jam 5 sore dia bilang…”Bu, aku mau balik ke Bandung, ada yang ketinggalan di lab. Mas kan hari Sabtu mau ke Bandung sama teman-temannya, kalau saya tak sempat balik ke Jakarta, laptop ku titip mas aja ya.” Saya agak kawatir karena hari Jumat sore travel agak sulit, tapi si bungsu meyakinkan, kalau nggak dapat travel, akan ke Bandung pagi-pagi sekali. Ternyata dia dapat travel untuk berangkat malam itu…dan besoknya saat ditanya, laptop mau dititipkan ke mas nggak, jawabannya dia udah mau jalan lagi ke Jakarta. Benar-benar deh, padahal dia agak kurang sehat, pilek dan batuk, tapi tetap nekat ke Jakarta.
Sabtu siang, anak sulung dan teman-temannya berangkat ke Bandung jam 11 siang, karena hari Minggu ada acara kopdar dengan “Ajangkita”. Saya dan suami tak keberatan menerima rombongan menginap, asal mau sederhana, kalau cuma untuk tidur dan makan secara sederhana rumah kami di Bandung memang terbiasa menerima tamu temannya anak-anak, teman keponakan dsb nya. Si mbak di Bandung juga sudah terbiasa melayani tamu, paling tidak menyediakan masakan sederhana. Begitulah akhir pekan ini, si bungsu ke Jakarta dan si sulung ke Bandung.
Karena si bungsu baru datang lagi ke Jakarta hari Sabtu sore, maka dia berniat pulang ke Bandung Senin pagi. Dari awal saya sudah sibuk mengingatkan agar segera pesan travel….tapi dasar anak-anak, jawabnya…”ntar…ntar…” dan saat pesan, keberangkatan jam 6.30 pagi sudah penuh, terpaksa dia ambil jam 5.30 pagi karena langsung ke lab tanpa pulang dulu ke rumah di Bandung. Jadi Minggu malam saya menunggu si sulung, agak kawatir juga karena dia baru berangkat jam 7 malam dari Bandung bersama teman-temannya, walaupun sebenarnya tak perlu kawatir karena ada temannya yang bisa menggantikan memegang setir mobil. Ternyata si sulung baru sampai Jakarta jam 1.30 dini hari, karena harus mengantar teman-temannya dulu ke rumah masing-masing. Dan jam 4.15 wib alarm jam saya sudah berbunyi, untuk membangunkan si bungsu karena dia harus sudah siap jam 5 pagi, agar tak terburu-buru.
Mempunyai anak yang sudah dewasa, kesibukannya memang lain, walaupun mereka telah mandiri, ternyata perasaan seorang ibu masih sama, merasa kawatir kalau anak-anak belum pulang, Dan kadangkala si anak belum tentu merasakan kekawatiran orangtuanya, kadang mereka lupa memberitahu jika sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Saya jadi teringat alm ayah dan ibu, mungkin seperti inilah perasaan beliau dulu, jika anak-anaknya belum sampai ke rumah. Dulu, kami bertiga (saya dan adik-adik), tak berani mengabarkan kalau mau pulang ke Jawa Timur, karena ayah ibu bisa tak tidur semalaman, membayangkan perjalanan anaknya udah sampai dimana…dan hal ini bisa berakibat kesehatan terganggu, apalagi saat itu belum ada telepon seluler.
Categories: