Oleh: edratna | Mei 6, 2008

Belajar bersama anak

Pada saat anak-anak kecil, adalah wajar jika anak sangat tergantung pada orangtua, dan orangtua lah tempat bertanya. Dan pada umumnya anak kecil lebih dekat pada ibu dibanding dengan bapak. “Lha iya, kan dia mengeram dikandungan sembilan bulan,”kata suami. Jelas nggak mungkin bisa disaingi. Betulkah anak merasa ibu adalah nomor satu? Ternyata ini juga berubah sesuai usia anak.

Pada saat anak masih balita, maka dengan sendirinya memang dekat pada ibu dan ayahnya. Namun sejak anak saya mulai masuk Taman Kanak-kanak, maka kalau ditanya…”Siapa yang paling pintar?” maka jawabannya…”Ibu guru.” Dan begitu pula saat usia Sekolah Dasar, pernah ada kejadian lucu. Saat si sulung kelas satu SD, kebetulan nama ibu gurunya Ari, sama dengan panggilan anakku. Ibu guru ini masih muda dan manis. Suatu ketika, ibu Ari sakit, sehingga kelasnya diganti guru lain. Anak saya menangis, berlari pulang kerumah…”Aku nggak mau ibu guru yang itu, ibu guruku cantik,” sambil tersedu-sedu. Waduh celaka, kalau ibu guru pengganti mendengar, dia bisa marah sama anakku, hari itu anakku mogok sekolah. Syukurlah sejalan dengan perkembangan usianya, maka dia bisa menerima jika sewaktu-waktu gurunya ganti yang lain.

Saya tak mempunyai masalah dengan si bungsu, karena sejak awal kakaknya rajin mengajar adiknya, bahkan saya tak sadar, tahu-tahu anak bungsuku sudah bisa membaca dengan lancar, padahal kemarinnya baru terbata-bata. Jadi, ibaratnya dengan bisa mengendalikan dan memahami kakaknya, maka adiknya akan aman-aman saja, karena si kakak ini benar-benar perhatian. Saat saya harus ke Jawa Timur, untuk memperingati 1000 hari meninggalnya almarhum ibu, suami berhalangan ikut, jadi saya hanya bertiga dengan anak-anak yang saat itu masih SD. Saat saya mengambil barang di bandara Solo, saya pesan ke mas, untuk menjaga adiknya. Saya tersenyum saat selesai mengambil barang, si adik dengan tenangnya dipeluk oleh kakaknya.

Semakin bertambah umur anak, idola juga berubah. Kalau dulu nomor satu ibu guru, sekarang nomor satu adalah pendapat yang dikutip dari buku, atau artikel di media….jadi saya harus berhati-hati memberikan bacaan. Hal ini ada keuntungannya, tapi juga ada risikonya, karena setiap kali dia baru mau mengikuti anjuran jika ada penjelasannya di buku. Kami tinggal di kompleks rumah dinas, walaupun tetangga bekerja di kantor yang sama, tapi pasangannya berbeda kantor, dan hal ini menyebabkan sumber bacaannya berbeda. Ternyata anakku diam-diam suka main kerumah tetangga, dan kebetulan saya punya tetangga yang belum punya anak, tapi dia sayang sama anak kecil. Setiap hari anakku nyaris berada dirumah temanku itu. Dan idolapun berganti…sekarang yang nomor satu adalah tante X. Waktu ditanya ayahnya, jawabannya adalah..” Orang di kompleks ini yang paling pintar adalah tante X. Ibu kalau ditanya suka menjawab, sebentar ya nak, ibu lihat dulu di buku. Tapi kalau tante X, dia langsung ambil buku, dan langsung menceritakan isi buku itu.” Saya memang mengajarkan anak-anak mencari apa yang diinginkan melalui index yang terletak pada halaman belakang buku, kemudian baru dilihat halamannya. Hal ini terpaksa saya lakukan, agar anak-anak bisa mandiri, jika ibunya dinas ke luar kota.

Setelah anak-anak remaja, maka mulailah era internet, awalnya saya tak terlalu memikirkan untuk berlangganan internet, karena jika diperlukan bisa melalui Telkomnet, dan anak sulung saya bisa ke warnet. Namun setelah si sulung mahasiswa dan jauh dari rumah, saya kawatir jika adiknya yang perempuan harus ke warnet, yang saya tak yakin keamanannya, apalagi jika keasyikan bisa-bisa tak kenal waktu. Jadi, saya mulai bertanya-tanya bagaimana caranya berlangganan internet di rumah. Inilah untungnya tinggal di rumah dinas, teman anak buahku kebetulan dari Divisi IT, dialah yang mengajarkan bagaimana caranya berlangganan internet. Pada awalnya saya menggunakan indosatnet dan melalui telepon, namun kemudian seorang teman menyarankan menggunakan Kabel Vision (tapi tetap pakai IM2) agar temannya anak-anak bisa ikut menggunakan internet tanpa kawatir biayanya membengkak. Itulah awalnya saya berlangganan internet, namun saya masih sebatas pada mengecek email, dan ikutan milis, dari mulai milis teman seangkatan saat kuliah, juga milis teman-teman dimana anakku kuliah.

Peran internet ini sangat berguna, baik untuk saya sendiri sebagai orangtua untuk memantau anak, maupun bagi anak -anak. Betapa rasanya hati menjadi terharu, ditengah kepadatan kerja dan saat jam istirahat menyempatkan membuka email, sudah ada email dari anakku, sekedar menyapa…”Hi cewek, sedang sibuk?” Saya geli sekali, dan hilanglah stres yang disebabkan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya. Anak-anak juga saya perkenalkan dengan teman-teman di kantor, kalau mereka libur kadang-kadang saya ajak ke kantor, untuk melihat bahwa ibu bekerja, dan apa kesulitannya orang bekerja. Kadang mendadak saya harus pergi rapat, dan meninggalkan anak saya yang terlanjur sudah datang dikantor. Mereka tenang-tenang saja, karena bisa menggunakan komputer di ruanganku, dan jika sampai pulang kantor saya belum selesai rapat di instansi lain, maka anakku akan ikut dengan teman yang rumahnya bertetangga di kompleks rumah dinas. Anak-anak banyak diskusi dengan anak-buahku yang masih muda-muda, yang banyak memberikan gambaran ke arah jalan yang mau dituju. Disadari, kadang anak-anak memerlukan wawasan atau cerita dari pihak lain, untuk memilih apa yang diinginkan. Anak-anak akhirnya juga akrab dengan anak buahku, jadi saat saya sibuk, dan si bungsu harus pas foto, dia menelpon ke kantor, dan minta saran dari sekretarisku, sebaiknya pakai baju apa. Saya sadari, dukungan lingkungan yang baik, membuat saya bisa bekerja dengan tenang, dan dimanapun saya berada, anak-anak bisa mencari informasi dari orang-orang serta sumber yang terpercaya.

Dan setelah anak-anak mahasiswa, ganti mereka yang mengajarkan pada ayah ibunya, beberapa ilmu, yang bagi orangtua agak sulit di cerna. Ya, sekarang anak-anakku, telah menjadi guruku, dan menjadi temanku untuk tempat bertanya. Jadi sebetulnya, kalau kita bisa memahami dan mau bersama-sama belajar bersama anak, maka kita akan menjadi teman baik, dan anak-anak juga bisa menilai bahwa ayah ibu tetap manusia yang banyak kelemahannya…dan karena mereka yakin atas kasih kayang orangtuanya, maka mereka selalu memaafkan, dan bersama-sama mencari solusi jika ada kesulitan.

About these ads

Responses

  1. ah senangnya keluarga ibu :D menurut ibu sebaiknya anak dibawah usia TK diasuh dirumah saja atau diikutkan ke semacam playgroup?

    Iway,
    Tergantung kematangan anaknya. Anak saya yang besar (maklum anak pertama), tak sempat ke playgroup, tapi langsung masuk TK, tapi saat itu ibunya masih staf muda, jadi ya nggak terlalu sibuk… bermainnya bersama ibu…bahkan saya mengajar hitung-menghitung, huruf, melalui lagu dan juga bermain sulap. Suami juga nggak terlalu sibuk, banyak waktu bermain dengan anak, bahkan anak saya suka digendong, diajak ke kantor ayahnya.

    Anak kedua, saya telah menjadi Assisten manager….dan kebetulan si bungsu ini sulit makan, jadi dia sekolah mulai 2,5 tahun…hanya agar mau makan. Tiap hari dibekali satu tas plasik isi baju, karena kalau menangis masih suka mengompol….hahaha. Guru TK Kecilnya (dia TK nya tiga tahun, TK A, B dan C) sering menggendong dia….disekolah ini seminggu ada dua kali makan bersama, dan karena banyak teman dia menjadi mau makan….alasan konyol untuk menyekolahkan anak, tapi itulah kenyataannya. Setelah agak besar, umur 4 tahun, dia diikutkan les piano (kalau duduk kakinya belum nyampe ke pedal piano), dibuatkan acara agar dia bisa memamerkan kepandaiannya…memang dia sempat jadi salah satu juara di lomba piano yang diadakan WIC Jabar, sejak itu perkembangan dia pesat sekali….jadi rupanya dulu sering nangis karena iri sama kakaknya, kakak udah pinter main organ, main piano, les bahasa Inggris…dia nggak ikut apa-apa..lha kan masih kecil. Tapi setelah anak-anak SMA, piano ini kalah dengan kesibukan lainnya…yang besar masih suka main piano di rumah sesekali.

  2. kadang dari celetukan mereka yang seperti asal ngomong, saya banyak belajar tentang hidup ini Bu :D *anak saya masih kecil-kecil*
    jiwa murni yang belum tersentuh kekotoran hati sering menyingkap kesejatian yang tersembunyi
    ayah ibu tercenung menyadari diri

    Tomy,
    Celetukan anak kecil memang membuat kita termenung, karena dia masih polos….justru inilah yang selalu mengingatkan kita sebagai orangtua, agar hati-hati dan tetap berperilaku baik dihadapan anak-anak, karena anak-anak adalah peniru ulung.

  3. Hihihi..yg bu Guru cantik, ternyata Mas Narpati dah dr kecil “pilih2 wanita” ya, Bu. Tak heran akhirnya pilihannya jatuh pada..

    Dilla,
    Kalau dirangkai sebetulnya kehidupan bersama keluarga menyenangkan ya….makanya suka sedih kalau melihat ada keluarga yang berantakan. Padahal hidup harmonis, saling menghargai, sangat…sangat menyenangkan.

    Kakak kelasmu itu memang usil, tapi kecilnya lucu dan sarannya suka aneh-aneh serta menggelikan.

  4. Dulu waktu anak2 saya kecil2 sekali masih senang kalau dicium orang tuanya sekarang sudah agak besar2 kalau dicium udah mulai marah2 bilangnya : “Kan saya udah besar! Moso masih dicium2 sih??”

    Yah… begitulah… dulu saya juga begitu, waktu masih kecil saya suka kalau diciumi, begitu SD, rasanya kok malu kalau diciumi terus hehehe…. Begitu pula waktu saya kecil, saya senang sekali kalau diajak berpergian dengan ayah atau ibu, namun sewaktu udah SMP saya mulai lebih senang kalau pergi sendiri karena lebih bebas dan nggak perlu diatur2 oleh ayah atau ibu saya.

    Saya sadar mungkin anak2 saya juga akan berubah seperti itu seiring dengan berubahnya tubuh mereka secara fisiologis dan mulai suburnya hormon2 tertentu, semuanya tentu terjadi secara alamiah, namun tentu saja sebagai orang tua tetap wajib membimbing mereka tapi bukan mengekangnya agar perubahan2 yang terjadi pada diri mereka tersebut tidak akan menyesatkan mereka………..

    Kang Yari NK
    ,
    Betul, anak saya mulanya protes kalau dicium….tapi saya selalu bilang bahwa “ciuman menunjukkan ibu sayang kamu nak.” Akhirnya dia mau, dengan catatan menciumnya tidak dihadapan teman…dan ini berlaku sampai dia besar.

    Hmm ya, Kang yari NK, sebaiknya budaya ciuman pipi ini baik untuk diteruskan (tentu dengan perjanjian seperti saya tadi), karena efektif untuk memonitor anak…apakah anak kita merokok dan mencium bau-bau yang lain….ini juga saran dari gurunya. Maklum saat itu ada anak SMP sudah terkena narkoba. Kalau sekarang, anak-anak malah yang meminta dicium dulu setiap pamit ke ayah ibunya, dan tak malu-malu lagi di depan temannya.

  5. Jadi ingat, dulu pas kecil saya manjanya minta ampun sama ayah saya, pas udah abg males banget deket-deket kesannya ingin yang keliatan mandiri. Kalau dicium ayah malu banget. Tapi pas udah dewasa biasa aja tuh, kalau pas baru balik ke rumah atau mau pergi ritualnya cupika cupiki dan terpenting cium tangan orang tua. Mungkin karena saya jadi lebih menghargai kualitas pertemuan dengan orang tua. Maklumlah Bu, beginilah resiko merantau.

    Yoga,
    Memang semua berasal dari kebiasaan. Kebiasaan suku tertentu, jika ketemu orang tua atau mau pamitan dengan cium tangan. Saya pernah membaca majalah, seorang ibu yang membesarkan sendiri kedua anak laki-lakinya (suami meninggal), bercerita bagaimana dia memonitor anak, dengan mencium pipinya, karena dengan ciuman tadi, si ibu bisa mencium bau anaknya, apakah habis merokok, makan makanan apa dsb nya. Kedua anak ibu tadi sekarang bergelar Prof DR dan satunya DR. Saya terkesan oleh tulisan itu, dan ingat sampai saat anak saya mulai ABG dan “agak malas” dicium. Namun dengan penjelasan, akhirnya mau tetap dicium ibu, dengan syarat tidak di depan temannya.

  6. kedekatan anak dengan orang tuanya ternyata memang sangat penting untuk memelihara ikatan emosional seumur hidup.

    Saya memiliki teman yang sejak bayi tidak diasuh oleh orang tua, dengan alasan kondisi ekonomi, sehingga dititipkan pada saudara orang tuanya sampai usia SMA. Hasilnya hingga kini dia merasa asing dengan kedua orang tuanya, meskipun menyadari tanpa keduanya dia mungkin tak akan ada kini.

    Indra KH,
    Seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga yang memberikan kasih sayang cukup, akan berkembang menjadi anak yang bisa memberikan kasih sayang. Kasih sayang tak selalu harus dengan pelukan, tapi kadang seorang anak membutuhkan pujian, elusan terutama di saat-saat butuh dorongan motivasi.

  7. Wah betul sekali cerita ibu ini …
    Jangan menunggu sampai mahasiswa ibu …
    Anak saya yang SMP pun sudah mulai mengajari saya ini …

    hehehe …
    (kalo ini mungkin Ayahnya yang Tel Mi .. ya )

    Salam Ibu

    Nh18,
    Bukan telmi…tapi kan memang situasinya lain…dan anak sekarang memang lebih berani bereksperimen.
    Kalau dulu persoalan hanya mencukupi biaya sandang pangan dan pendidikan, namun sekarang adalah bagaimana agar anak masih bisa merasa dekat dengan orangtua, bisa ngobrol bareng, dan bisa sebagai sahabat.
    Anak saya sudah nguber mau mengajari Linux…hehehe…tapi saya belum punya waktu.

  8. Saat kecil anak-anak belajar ke orang tua karena masih belum bisa mengikuti kemajuan jaman, setelah besar giliran orang tua belajar ke anak karena sudah ketinggalan jaman.

    Edipsw,
    Iya…tapi anak-anak juga bangga kok, kalau ayah ibunya mau diajari.

  9. lum punya anak
    tapi mo crita tentang adek saya aja
    secara jarak saya dan dia 12 taun
    baru beberapa minggu saya kenalkan dengan komputer, eh udah bberapa hari lalu dia ngajarin saya program
    beuh…anak jaman sekarang :)

    Wennyaulia,
    Anak sekarang pintar-pintar, karena fasilitas juga mendukung, dan orangtua telah mempunyai pemahaman bagaimana mengatur gizi anak agar tak kekurangan

  10. salam
    Betul Bu anak2 saya sependapat jikaanak2 adalah peniru ulung, jadi harus hati2 berbicara dan berperilaku di depan anak, kalau ga begitu bisa2 kecolongan deh :)
    Salam kenal aja :)

    Nenyok,
    Benar…peniru ulang…dan cepet sekali.
    Dan orangtua harus konsisten dengan apa yang diucapkannya, karena anak selalu ingat…

  11. makanya ilmu itu jadi sangat bermanfaat

    Hanggadamai,
    Kecepatan perkembangan pengetahuan tak sebanding dengan kemampuan untuk menyerapnya, itu masalahnya. Jadi, pengetahuan harus di up date terus…itupun masih kedodoran. Jadi, mesti berani malu untuk bertanya pada orang lain, bahkan pada anak kita sendiri.

  12. Saya jadi terharu membacanya bu .. bagaimana seorang anak yang dulunya kita mengajarkan kepada mereka tentang segala hal, sekarang giliran kita belajar dari mereka tentang perkembangan jaman.

    Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui. Subhanallah .. semoga anak-anak kita selalu diberikan hidayah-Nya dan tetap berjalan pada keimanan walaupun kelak kita sudah tiada.

    Erander,
    Betul mas, kemarin mengobrol dengan teman, orangtua berusaha mengikuti anak, sebetulnya hanya agar anak bisa dekat dengan orangtua, dan kalau mereka ngobrol kita bisa nyambung. Karena anak-anak ternyata mau cerita, bercanda, bahkan kadang cerita yang konyol-konyol kalau dianggapnya kita memahami dan tak mudah menyalahkan. Dengan kedekatan itu, secara tersirat kita bisa pesan agar selalu ingat pada Allah swt, agar selalu dilindungi untuk selalu berjalan pada jalan yang diridhoi Nya.

  13. Akhirnya kita setelah punya anak baru kita tau betapa perhatiannya orang tua terhadap anak..

    ketika kita masih remaja…rasanya kita ingin semua permintaan harus dituruti tanpa memikirkan bagaimana efek kepada orang tua…

    Giliran kita menjadi orang tua kemajuan jaman semangkin meningkat…informasi perkembangan selalu di dahului oleh anak….

    Mau tidak mau kita sebagai orang tua kembali memperkaya Ilmu agar bisa mengkontrol perkembangan anak dan terjerumus ke hal yang negatif

    saya hanya mendapat hikmah tiada kata terlambat untuk belajar bagi orang tua….

    Syahrizal Pulungan,
    Memang tak ada kata terlambat untuk belajar…dan bahkan harus tetap belajar sampai ajal menjemput kita.

  14. #perbaikan#
    mau tidak mau kita sebagai orang tua kembali memperkaya Ilmu agar bisa mengkontrol perkembangan anak agar tidak t erjerumus ke hal yang negatif

    Syahrizal Pulungan,
    Oke, gpp kok

  15. betul banget bunda , hal itulah yang sedang diterapkan oleh keluarga di rumah

    Realylife,
    Dan mudah2an nanti diteruskan oleh realylife sendiri jika telah menjadi bapak. Sekarangpun bisa mulai, dengan dekat pada para keponakan…pasti banyak hal yang dapat kita pelajari.

  16. kayaknya anak2 itu sumber kekuatan orang tua ya.. kalau dilihat dari kisah2 orang tua yang struggle a lot biasanya ucapannya ‘ini demi anak2′…
    Kalau disini (yaa tidak semua) generasi baru lebih memilih untuk gak punya anak karena merasa gak mampu untuk merawat anak yg butuh biaya besar atau lebih memilih travel dan menggunakan hidupnya untuk yg lain selain berkeluarga…

    Di salah satu buku yg pernah ku baca (kisah nyata) tentang perjalanan hidup wanita karir yg sudah menikah sebenarnya tapi ragu untuk punya anak karena ucapan kakaknya bahwa keputusan memiliki anak itu seperti keputusan untuk mempunya tato permanen di wajah yang tidak bisa dihapus atau diubah dan akhirnya dia tetap memilih gak punya anak. Karir dan prestasinya cemerlang tapi pada satu titik dia justru merasa hampa dan kosong tentang makna hidup. Akhirnya dia bercerai dan kemudian dia melalukan perjalanan ke 3 negara yang semuanya berawalan ‘i”, Italy, India, dan Indonesia. Akhirnya dia menyadari betapa hidupnya hanya seputar duniawi tanpa pernah mencari makna lebih dalam dan melupakan apa sebenarnya yang terpenting dalam hidup ini.

    kok aku jadi ngelantur kemana2 yah hehehe, intinya menurut ku punya anak atau tidak itu adalah pilihan walaupun ada yang memang ditakdirkan gak punya anak. Karena pilihan aku tetap menghormati orang yang memang gak mau punya anak dan menurutku masih lebih baik daripada memutuskan punya anak tapi melalaikan dan gak mau mengurusi… Sampai ada ide disini untuk bisa punya anak mungkin harus ada tes uji kelayakan terlebih dahulu karena gak sedikit kasus bayi bisa meninggal di dalam mobil karena ditinggal terlalu lama oleh ibunya…

    Lis,
    Mempunyai anak tanggung jawabnya berat, tak sekedar hanya memberi makan dan pakaian saja…yang lebih penting adalah bagaimana mendidik menjadi anak yang baik, sholeh dan berguna bagi nusa bangsa.

    Saudaraku juga ada yang ga pengin punya anak, karena kawatir dia tak bisa membahagiakan anaknya…menurutku ini lebih baik, daripada asal pengin punya anak, karena dorongan lingkungan, tapi tak bertanggung jawab atas kehidupan anaknya itu. Yang berat adalah mendidik agar moralnya baik, karena pendidikan skill dan knowledge bisa melalui sekolah.

  17. wah, rupanya asyik benar, ya, Bu Enny, bisa mengikuti perkembangan anak berdasarkan perkembangan usianya. sebagai ayah, saya sendiri juga merasakan ada benarnya kalau ada yang bilsang bahwa anak perempuan biasanya cenderung memilih ayah sebagai idolanya, sedangkan anak lelaki cenderung memilih ibu sbg idolanya. saya sendiri juga merasa ada kedekatan emosional dg anak perempuan saya yang kebetulan anak sulung yang sekarang duduk di bangku SMA klas X. saya juga tdk tahu apakah memang begitu, hehehehe :lol: karena jarak rumah dengan sekolah, tempat saya mengajar lumayan jauh, jarang sekali saya mengajak anak2 main ke sekolah, apalagi mereka juga sudah mulai disibukkan dg urusan sekolahnya masing2. tulisan Bu Enny selalu memberikan inspirasi bagaimana melakukan hubungan yang harmonis dg anak2. Terima kasih informasinya, Bu.

    Pak Sawali,
    Kecenderungan itu memang ada, tapi umumnya mereka dekat dengan ibu….terutama kalau lagi sakit, nggak enak badan atau curhat.
    Dekat dengan anak sangat menyenangkan pak, jadi saya dulu setiap kali mengambil keputusan selalu menomor satukan untuk kebahagiaan anak, walaupun saya bukan ibu yang mampu memuaskan mereka.

  18. tingkat pendidikan orang tua juga berpengaruh dalam pola belajar anak, semakin tinggi tingkat pendidikan ortu biasanya si anak juga akan lebih mudah belajarnya. tetapi lagi-lagi tergantung kesempatan untuk bisa belajar besama, karena hanya kesibukan luar biasalah yg menjadi hambatannya

    Totoks,
    Kesibukan orangtua bisa disiasati dengan kualitas pertemuan dengan anak, minimal sehari sekali saat makan bersama. Dan akhir pekan diusahakan bersama anak, bahkan saya sering cuma di rumah saja saat akhir pekan karena anak-anak pengin ngobrol sambil gelundungan di tempat tidur.

  19. Saya percaya kalau untuk dapat terus berperan dalam perkembangan anak-anak, sebagai orang tua perlu terbuka untuk belajar sesuatu yang baru dimana relevansi dengan perkembangan teknologi sedikit banyak membantu kelancaran komunikasi antara orang tua dengan anak-anak.

    Sepuluh tahun dari sekarang entah apa yang akan menjadi “Hip” bagi generasi berikut. Namun saya akan tetap melihat itu sebagai kesempatan. Kesempatan untuk terus “connected”.

    Barry,
    Itu memang tantangannya…bagaimana sepuluh tahun kedepan? Sebagai orangtua harus bisa mengikuti walaupun tak semuanya. Bahkan juga harus mengakui jika tak mampu mengikuti, dan anak biasanya memahami, bahkan mereka menolong agar kita mampu mengikuti perkembangan agar tak terlalu ketinggalan.

  20. Waduh senengnya ada kakak yang ngajari adik. Dulu saya harus belajar sendiri dari buku walaupun saya anak kedua. Maklum, mas saya tidak suka belajar. Sukanya nggambar bus. Itu yang membuat saya mendidik adik saya agar jangan langsung bertanya sebelum berusaha mencari tahu dulu dari buku-buku yang dia miliki. Kalau sudah mentok barulah bertanya. Akhirnya dia bisa mengerti bahwa saya mengajarinya untuk mandiri dan minta diajari kalau sudah bener-bener mentok.

    Asal jangan minta diajari limit fungsi dan himpunan. Entah mengapa otak saya sampai saat ini masih sulit melogikakan kedua hal tersebut. Sama pelajaran mekanika, kalau katrolnya banyak saya nggak bisa ngitung. Kemudian suruh ngitung gaya gesek dengan balok yang bertumpuk-tumpuk. Nggak ngerti deh. Saya milih disuruh ngitung duit saja asal duit beneran. Pasti bisa deh.

    Kang Kombor,
    Karena anak sulung, saya dulu juga jadi panutan adik-adik, mengajarkan etika, dari mulai ngajari membaca, membersihkan rumah dll.
    Sampai sekarang kalau ada problem si bungsu masih tanya kakaknya, begitu juga sebaliknya, kebetulan ilmunya hampir sama, tapi ada beberapa perbedaan yang malah bisa saling mendukung.

  21. Ibu adalah sekolah bagi anak2nya, ibu adalah guru bagi anak2nya, ibu sumber belajar bagi anaknya, berbahagia lah yanga menjadi seorang ibu, karena ibu telah jadi guru, dan guru adalah yang paling depan mengantri di pintu surga, maka dari itu surga ada di telapak kaki ibu.

    Awan,
    Seorang ibu memang ibaratnya menjadi guru, berperan mengatur anak-anaknya agar tetap berjalan di jalan yang diridhoi oleh Allah swt. Dan malam-malam yang sepi harus banyak berdoa, agar anak-anaknya selalu dilindungi. Kalau tugas ke luar kota, maka sedikit uang yang ada pertama kali dibelikan untuk keperluan anaknya, jadi malah keperluan dirinya sendiri terlupakan.

  22. Wah, tulisannya tante soal punya anak, membuat ku terharu.

    Za,
    Bagaimanapun seorang ibu harus tetap bertanggung jawab atas perkembangan anak-anaknya, betapapun kesibukan menderanya. Dan hasilnya anak-anak yang menyenangkan, menghormati orangtuanya, menerima keterbatasan kemampuan orangtua, dan saling menyayangi antar saudara. Saya bersyukur atas semua karunia ini.

  23. Mata saya berkaca-kaca, Bu karena membaca tulisan Ibu.

    Sudah 2 bulan saya off dari semua kebiasaan saya. Ke kantor juga kayak zombie, tidak pernah online lagi gara-gara tahu hamil anak kedua di luar rencana. Saya bingung memutuskan apakah tetap berkarir ataukah full jadi ibu rumah tangga supaya bisa memantau perkembangan psikologis anak-anak. Bagaimanapun keluarga tetap prioritas saya. Karir, pengembangan diri, network masuk prioritas selanjutnya.

    Alhamdulillah suami membebaskan saya untuk memilih, beliau hanya memberikan masukan tanpa maksud memaksa.
    Alhamdulillah saya membaca tulisan ibu. Seolah-olah menjawab pertanyaan saya selama ini.

    Apa yang dilakukan ibu sungguh menjadi inspirasi saya untuk tetap balance menjalani hidup.

    Apa yang ibu tulis benar-benar contoh nyata kesuksesan seorang perempuan tangguh dalam mendedikasikan dirinya di setiap aspek kehidupan.

    Terimakasih, Bu Enny…

    *Jadi termotivasi untuk nulis lagi niy.

    Sanggita,
    Hidup adalah pilihan….saya dulu tak mungkin menjadi ibu rumah tangga biasa, karena memang tak memungkinkan, masih banyak orang yang menjadi beban saya, di luar anak-anak saya. Betapapun lelahnya, saya bersyukur masih bisa bekerja, membantu perekonomian keluarga. Yang penting adalah mencari pembantu (si mbak) yang baik, dan biasanya saya anggap anggota keluarga sendiri. Dengan garis belakang yang kuat, kita bisa meninggalkan anak dengan tenang.

    Adanya internet sebetulnya memungkinkan kita bekerja di rumah, tapi memerlukan kedisiplinan yang kuat, apalagi masyarakat Indonesia senang saling bekunjung…problemnya disini. Kebetulan saya termasuk zakelijk, jadi kalaupun ada tamu (mis tamu suami), saya sedang harus menyelesaikan tugas, saya hanya menemui sebentar, minta maaf dan melanjutkan pekerjaan. Ini saya contoh dari alm pak Andi Hakim Nasution, mantan guru besar IPB, saat saya kerumah beliau, isteri beliau tak ikut menemui karena sedang mempersiapkan untuk mendapatkan gelar master. Nahh yang sulit jika kita tinggal di kota kecil, yang antar kerabat saling berhubungan baik, kunjung mengunjungi….tanpa pemberitahuan lebih dulu.

    Anggaplah punya anak kedua merupakan karunia, kalau bisa hamil tanpa rencana, berarti ada takdir Tuhan dibaliknya…..siapa tahu nantinya menjadi anak yang akan membawa nama baik keluarga, anak yang sholeh dan menolong sesamanya. Karena dari psikologi, mulailah menulis hal-hal yang bisa membantu mencerahkan orang lain….jadi kalaupun tinggal di rumah ilmunya tak berkurang….
    Salam manis.

  24. Senang banget ya bu teman kita yang paling akrab adalah anak-anak kita sendiri.
    Saya jadi ingat kawan baik keluarga kami, beliau sudah punya 2 anak gadis yang cukup dewasa. Hobi kami adalah bercanda / menggoda dengan beliau, “kapan nih Maya nikah?” – karena jawabannya selalu rada panik “aduhhhh nanti dulu aja, hilang dong teman saya”, dan dengan raut muka yang rada ngenes :D
    Lalu kita ketawa bersama-sama.

    Mungkin ketika anak-anak saya sudah besar nanti gantian beliau yang akan mencandai kami seperti demikian, duh…. he he

    Sufehmi,
    Bisa memperoleh anak kandung merupakan karunia yang tak terhingga, namun ada tanggung jawab yang berat dibaliknya. Kita akan melihat betapa perkembangan mereka mengagumkan, dari anak kecil yang lucu, dan nanti setelah besar menjadi sahabat kita….dan suatu ketika malah mereka yang ngemong kita. Justru karena inilah, kita harus bisa menjaga agar anak kita berjalan di jalan yang benar, menjadi anak yang sholeh…dan pada saat-saat mempunyai masalah, berdoalah pada Tuhan, karena semua pasti ada jalan keluarnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: