Pada saat anak-anak kecil, adalah wajar jika anak sangat tergantung pada orangtua, dan orangtua lah tempat bertanya. Dan pada umumnya anak kecil lebih dekat pada ibu dibanding dengan bapak. “Lha iya, kan dia mengeram dikandungan sembilan bulan,”kata suami. Jelas nggak mungkin bisa disaingi. Betulkah anak merasa ibu adalah nomor satu? Ternyata ini juga berubah sesuai usia anak.
Pada saat anak masih balita, maka dengan sendirinya memang dekat pada ibu dan ayahnya. Namun sejak anak saya mulai masuk Taman Kanak-kanak, maka kalau ditanya…”Siapa yang paling pintar?” maka jawabannya…”Ibu guru.” Dan begitu pula saat usia Sekolah Dasar, pernah ada kejadian lucu. Saat si sulung kelas satu SD, kebetulan nama ibu gurunya Ari, sama dengan panggilan anakku. Ibu guru ini masih muda dan manis. Suatu ketika, ibu Ari sakit, sehingga kelasnya diganti guru lain. Anak saya menangis, berlari pulang kerumah…”Aku nggak mau ibu guru yang itu, ibu guruku cantik,” sambil tersedu-sedu. Waduh celaka, kalau ibu guru pengganti mendengar, dia bisa marah sama anakku, hari itu anakku mogok sekolah. Syukurlah sejalan dengan perkembangan usianya, maka dia bisa menerima jika sewaktu-waktu gurunya ganti yang lain.
Saya tak mempunyai masalah dengan si bungsu, karena sejak awal kakaknya rajin mengajar adiknya, bahkan saya tak sadar, tahu-tahu anak bungsuku sudah bisa membaca dengan lancar, padahal kemarinnya baru terbata-bata. Jadi, ibaratnya dengan bisa mengendalikan dan memahami kakaknya, maka adiknya akan aman-aman saja, karena si kakak ini benar-benar perhatian. Saat saya harus ke Jawa Timur, untuk memperingati 1000 hari meninggalnya almarhum ibu, suami berhalangan ikut, jadi saya hanya bertiga dengan anak-anak yang saat itu masih SD. Saat saya mengambil barang di bandara Solo, saya pesan ke mas, untuk menjaga adiknya. Saya tersenyum saat selesai mengambil barang, si adik dengan tenangnya dipeluk oleh kakaknya.
Semakin bertambah umur anak, idola juga berubah. Kalau dulu nomor satu ibu guru, sekarang nomor satu adalah pendapat yang dikutip dari buku, atau artikel di media….jadi saya harus berhati-hati memberikan bacaan. Hal ini ada keuntungannya, tapi juga ada risikonya, karena setiap kali dia baru mau mengikuti anjuran jika ada penjelasannya di buku. Kami tinggal di kompleks rumah dinas, walaupun tetangga bekerja di kantor yang sama, tapi pasangannya berbeda kantor, dan hal ini menyebabkan sumber bacaannya berbeda. Ternyata anakku diam-diam suka main kerumah tetangga, dan kebetulan saya punya tetangga yang belum punya anak, tapi dia sayang sama anak kecil. Setiap hari anakku nyaris berada dirumah temanku itu. Dan idolapun berganti…sekarang yang nomor satu adalah tante X. Waktu ditanya ayahnya, jawabannya adalah..” Orang di kompleks ini yang paling pintar adalah tante X. Ibu kalau ditanya suka menjawab, sebentar ya nak, ibu lihat dulu di buku. Tapi kalau tante X, dia langsung ambil buku, dan langsung menceritakan isi buku itu.” Saya memang mengajarkan anak-anak mencari apa yang diinginkan melalui index yang terletak pada halaman belakang buku, kemudian baru dilihat halamannya. Hal ini terpaksa saya lakukan, agar anak-anak bisa mandiri, jika ibunya dinas ke luar kota.
Setelah anak-anak remaja, maka mulailah era internet, awalnya saya tak terlalu memikirkan untuk berlangganan internet, karena jika diperlukan bisa melalui Telkomnet, dan anak sulung saya bisa ke warnet. Namun setelah si sulung mahasiswa dan jauh dari rumah, saya kawatir jika adiknya yang perempuan harus ke warnet, yang saya tak yakin keamanannya, apalagi jika keasyikan bisa-bisa tak kenal waktu. Jadi, saya mulai bertanya-tanya bagaimana caranya berlangganan internet di rumah. Inilah untungnya tinggal di rumah dinas, teman anak buahku kebetulan dari Divisi IT, dialah yang mengajarkan bagaimana caranya berlangganan internet. Pada awalnya saya menggunakan indosatnet dan melalui telepon, namun kemudian seorang teman menyarankan menggunakan Kabel Vision (tapi tetap pakai IM2) agar temannya anak-anak bisa ikut menggunakan internet tanpa kawatir biayanya membengkak. Itulah awalnya saya berlangganan internet, namun saya masih sebatas pada mengecek email, dan ikutan milis, dari mulai milis teman seangkatan saat kuliah, juga milis teman-teman dimana anakku kuliah.
Peran internet ini sangat berguna, baik untuk saya sendiri sebagai orangtua untuk memantau anak, maupun bagi anak -anak. Betapa rasanya hati menjadi terharu, ditengah kepadatan kerja dan saat jam istirahat menyempatkan membuka email, sudah ada email dari anakku, sekedar menyapa…”Hi cewek, sedang sibuk?” Saya geli sekali, dan hilanglah stres yang disebabkan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya. Anak-anak juga saya perkenalkan dengan teman-teman di kantor, kalau mereka libur kadang-kadang saya ajak ke kantor, untuk melihat bahwa ibu bekerja, dan apa kesulitannya orang bekerja. Kadang mendadak saya harus pergi rapat, dan meninggalkan anak saya yang terlanjur sudah datang dikantor. Mereka tenang-tenang saja, karena bisa menggunakan komputer di ruanganku, dan jika sampai pulang kantor saya belum selesai rapat di instansi lain, maka anakku akan ikut dengan teman yang rumahnya bertetangga di kompleks rumah dinas. Anak-anak banyak diskusi dengan anak-buahku yang masih muda-muda, yang banyak memberikan gambaran ke arah jalan yang mau dituju. Disadari, kadang anak-anak memerlukan wawasan atau cerita dari pihak lain, untuk memilih apa yang diinginkan. Anak-anak akhirnya juga akrab dengan anak buahku, jadi saat saya sibuk, dan si bungsu harus pas foto, dia menelpon ke kantor, dan minta saran dari sekretarisku, sebaiknya pakai baju apa. Saya sadari, dukungan lingkungan yang baik, membuat saya bisa bekerja dengan tenang, dan dimanapun saya berada, anak-anak bisa mencari informasi dari orang-orang serta sumber yang terpercaya.
Dan setelah anak-anak mahasiswa, ganti mereka yang mengajarkan pada ayah ibunya, beberapa ilmu, yang bagi orangtua agak sulit di cerna. Ya, sekarang anak-anakku, telah menjadi guruku, dan menjadi temanku untuk tempat bertanya. Jadi sebetulnya, kalau kita bisa memahami dan mau bersama-sama belajar bersama anak, maka kita akan menjadi teman baik, dan anak-anak juga bisa menilai bahwa ayah ibu tetap manusia yang banyak kelemahannya…dan karena mereka yakin atas kasih kayang orangtuanya, maka mereka selalu memaafkan, dan bersama-sama mencari solusi jika ada kesulitan.
Categories: