<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Belajar bersama anak</title>
	<atom:link href="http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/</link>
	<description>Kenangan, pengalaman, dan perjalanan hidup seorang ibu..</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jan 2010 09:49:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: sufehmi</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6467</link>
		<dc:creator>sufehmi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 22:22:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6467</guid>
		<description>Senang banget ya bu teman kita yang paling akrab adalah anak-anak kita sendiri.
Saya jadi ingat kawan baik keluarga kami, beliau sudah punya 2 anak gadis yang cukup dewasa. Hobi kami adalah bercanda / menggoda dengan beliau, &quot;kapan nih Maya nikah?&quot; - karena jawabannya selalu rada panik &quot;aduhhhh nanti dulu aja, hilang dong  teman saya&quot;, dan dengan raut muka yang rada ngenes :D
Lalu kita ketawa bersama-sama.

Mungkin ketika anak-anak saya sudah besar nanti gantian beliau yang akan mencandai kami seperti demikian, duh.... he he

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sufehmi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, 
Bisa memperoleh anak kandung merupakan karunia yang tak terhingga, namun ada tanggung jawab yang berat dibaliknya. Kita akan melihat betapa perkembangan mereka mengagumkan, dari anak kecil yang lucu, dan nanti setelah besar menjadi sahabat kita....dan suatu ketika malah mereka yang ngemong kita. Justru karena inilah, kita harus bisa menjaga agar anak kita berjalan di jalan yang benar, menjadi anak yang sholeh...dan pada saat-saat mempunyai masalah, berdoalah pada Tuhan, karena semua pasti ada jalan keluarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Senang banget ya bu teman kita yang paling akrab adalah anak-anak kita sendiri.<br />
Saya jadi ingat kawan baik keluarga kami, beliau sudah punya 2 anak gadis yang cukup dewasa. Hobi kami adalah bercanda / menggoda dengan beliau, &#8220;kapan nih Maya nikah?&#8221; &#8211; karena jawabannya selalu rada panik &#8220;aduhhhh nanti dulu aja, hilang dong  teman saya&#8221;, dan dengan raut muka yang rada ngenes <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Lalu kita ketawa bersama-sama.</p>
<p>Mungkin ketika anak-anak saya sudah besar nanti gantian beliau yang akan mencandai kami seperti demikian, duh&#8230;. he he</p>
<p><em><strong>Sufehmi</strong></em>,<br />
Bisa memperoleh anak kandung merupakan karunia yang tak terhingga, namun ada tanggung jawab yang berat dibaliknya. Kita akan melihat betapa perkembangan mereka mengagumkan, dari anak kecil yang lucu, dan nanti setelah besar menjadi sahabat kita&#8230;.dan suatu ketika malah mereka yang ngemong kita. Justru karena inilah, kita harus bisa menjaga agar anak kita berjalan di jalan yang benar, menjadi anak yang sholeh&#8230;dan pada saat-saat mempunyai masalah, berdoalah pada Tuhan, karena semua pasti ada jalan keluarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: sanggita</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6341</link>
		<dc:creator>sanggita</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 01:26:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6341</guid>
		<description>Mata saya berkaca-kaca, Bu karena membaca tulisan Ibu.

Sudah 2 bulan saya off dari semua kebiasaan saya. Ke kantor juga kayak zombie, tidak pernah online lagi gara-gara tahu hamil anak kedua di luar rencana. Saya bingung memutuskan apakah tetap berkarir ataukah full jadi ibu rumah tangga supaya bisa memantau perkembangan psikologis anak-anak. Bagaimanapun keluarga tetap prioritas saya. Karir, pengembangan diri, network masuk prioritas selanjutnya.

Alhamdulillah suami membebaskan saya untuk memilih, beliau hanya memberikan masukan tanpa maksud memaksa.
Alhamdulillah saya membaca tulisan ibu. Seolah-olah menjawab pertanyaan saya selama ini.

Apa yang dilakukan ibu sungguh menjadi inspirasi saya untuk tetap balance menjalani hidup.

Apa yang ibu tulis benar-benar contoh nyata kesuksesan seorang perempuan tangguh dalam mendedikasikan dirinya di setiap aspek kehidupan.

Terimakasih, Bu Enny...

*Jadi termotivasi untuk nulis lagi niy.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sanggita&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Hidup adalah pilihan....saya dulu tak mungkin menjadi ibu rumah tangga biasa, karena memang tak memungkinkan, masih banyak orang yang menjadi beban saya, di luar anak-anak saya. Betapapun lelahnya, saya bersyukur masih bisa bekerja, membantu perekonomian keluarga. Yang penting adalah mencari pembantu (si mbak) yang baik, dan biasanya saya anggap anggota keluarga sendiri. Dengan garis belakang yang kuat, kita bisa meninggalkan anak dengan tenang.

Adanya internet sebetulnya memungkinkan kita bekerja di rumah, tapi memerlukan kedisiplinan yang kuat, apalagi masyarakat Indonesia senang saling bekunjung...problemnya disini. Kebetulan saya termasuk&lt;em&gt; zakelijk&lt;/em&gt;, jadi kalaupun ada tamu (mis tamu suami), saya sedang harus menyelesaikan tugas, saya hanya menemui sebentar, minta maaf dan melanjutkan pekerjaan. Ini saya contoh dari alm pak Andi Hakim Nasution, mantan guru besar IPB, saat saya kerumah beliau, isteri beliau tak ikut menemui karena sedang mempersiapkan untuk mendapatkan gelar master. Nahh yang sulit jika kita tinggal di kota kecil, yang antar kerabat saling berhubungan baik, kunjung mengunjungi....tanpa pemberitahuan lebih dulu.

Anggaplah punya anak kedua merupakan karunia, kalau bisa hamil tanpa rencana, berarti ada takdir Tuhan dibaliknya.....siapa tahu nantinya menjadi anak yang akan membawa nama baik keluarga, anak yang sholeh dan menolong sesamanya. Karena dari psikologi, mulailah menulis hal-hal yang bisa membantu mencerahkan orang lain....jadi kalaupun tinggal di rumah ilmunya tak berkurang....
Salam manis.

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mata saya berkaca-kaca, Bu karena membaca tulisan Ibu.</p>
<p>Sudah 2 bulan saya off dari semua kebiasaan saya. Ke kantor juga kayak zombie, tidak pernah online lagi gara-gara tahu hamil anak kedua di luar rencana. Saya bingung memutuskan apakah tetap berkarir ataukah full jadi ibu rumah tangga supaya bisa memantau perkembangan psikologis anak-anak. Bagaimanapun keluarga tetap prioritas saya. Karir, pengembangan diri, network masuk prioritas selanjutnya.</p>
<p>Alhamdulillah suami membebaskan saya untuk memilih, beliau hanya memberikan masukan tanpa maksud memaksa.<br />
Alhamdulillah saya membaca tulisan ibu. Seolah-olah menjawab pertanyaan saya selama ini.</p>
<p>Apa yang dilakukan ibu sungguh menjadi inspirasi saya untuk tetap balance menjalani hidup.</p>
<p>Apa yang ibu tulis benar-benar contoh nyata kesuksesan seorang perempuan tangguh dalam mendedikasikan dirinya di setiap aspek kehidupan.</p>
<p>Terimakasih, Bu Enny&#8230;</p>
<p>*Jadi termotivasi untuk nulis lagi niy.</p>
<p><em><strong>Sanggita</strong></em>,<br />
Hidup adalah pilihan&#8230;.saya dulu tak mungkin menjadi ibu rumah tangga biasa, karena memang tak memungkinkan, masih banyak orang yang menjadi beban saya, di luar anak-anak saya. Betapapun lelahnya, saya bersyukur masih bisa bekerja, membantu perekonomian keluarga. Yang penting adalah mencari pembantu (si mbak) yang baik, dan biasanya saya anggap anggota keluarga sendiri. Dengan garis belakang yang kuat, kita bisa meninggalkan anak dengan tenang.</p>
<p>Adanya internet sebetulnya memungkinkan kita bekerja di rumah, tapi memerlukan kedisiplinan yang kuat, apalagi masyarakat Indonesia senang saling bekunjung&#8230;problemnya disini. Kebetulan saya termasuk<em> zakelijk</em>, jadi kalaupun ada tamu (mis tamu suami), saya sedang harus menyelesaikan tugas, saya hanya menemui sebentar, minta maaf dan melanjutkan pekerjaan. Ini saya contoh dari alm pak Andi Hakim Nasution, mantan guru besar IPB, saat saya kerumah beliau, isteri beliau tak ikut menemui karena sedang mempersiapkan untuk mendapatkan gelar master. Nahh yang sulit jika kita tinggal di kota kecil, yang antar kerabat saling berhubungan baik, kunjung mengunjungi&#8230;.tanpa pemberitahuan lebih dulu.</p>
<p>Anggaplah punya anak kedua merupakan karunia, kalau bisa hamil tanpa rencana, berarti ada takdir Tuhan dibaliknya&#8230;..siapa tahu nantinya menjadi anak yang akan membawa nama baik keluarga, anak yang sholeh dan menolong sesamanya. Karena dari psikologi, mulailah menulis hal-hal yang bisa membantu mencerahkan orang lain&#8230;.jadi kalaupun tinggal di rumah ilmunya tak berkurang&#8230;.<br />
Salam manis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: za</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6287</link>
		<dc:creator>za</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 04:32:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6287</guid>
		<description>Wah, tulisannya tante soal punya anak, membuat ku terharu.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Za&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, 
Bagaimanapun seorang ibu harus tetap bertanggung jawab atas perkembangan anak-anaknya, betapapun kesibukan menderanya. Dan hasilnya anak-anak yang menyenangkan, menghormati orangtuanya, menerima keterbatasan kemampuan orangtua, dan saling menyayangi antar saudara. Saya bersyukur atas semua karunia ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, tulisannya tante soal punya anak, membuat ku terharu.</p>
<p><em><strong>Za</strong></em>,<br />
Bagaimanapun seorang ibu harus tetap bertanggung jawab atas perkembangan anak-anaknya, betapapun kesibukan menderanya. Dan hasilnya anak-anak yang menyenangkan, menghormati orangtuanya, menerima keterbatasan kemampuan orangtua, dan saling menyayangi antar saudara. Saya bersyukur atas semua karunia ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: awan</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6282</link>
		<dc:creator>awan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 00:20:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6282</guid>
		<description>Ibu adalah sekolah bagi anak2nya, ibu adalah guru bagi anak2nya, ibu sumber belajar bagi anaknya, berbahagia lah yanga menjadi seorang ibu, karena ibu telah jadi guru, dan guru adalah yang paling depan mengantri di pintu surga, maka dari itu surga ada di telapak kaki ibu.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Awan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Seorang ibu memang ibaratnya menjadi guru, berperan mengatur anak-anaknya agar tetap berjalan di jalan yang diridhoi oleh Allah swt. Dan malam-malam yang sepi harus banyak berdoa, agar anak-anaknya selalu dilindungi. Kalau tugas ke luar kota, maka sedikit uang yang ada pertama kali dibelikan untuk keperluan anaknya, jadi malah keperluan dirinya sendiri terlupakan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu adalah sekolah bagi anak2nya, ibu adalah guru bagi anak2nya, ibu sumber belajar bagi anaknya, berbahagia lah yanga menjadi seorang ibu, karena ibu telah jadi guru, dan guru adalah yang paling depan mengantri di pintu surga, maka dari itu surga ada di telapak kaki ibu.</p>
<p><em><strong>Awan</strong></em>,<br />
Seorang ibu memang ibaratnya menjadi guru, berperan mengatur anak-anaknya agar tetap berjalan di jalan yang diridhoi oleh Allah swt. Dan malam-malam yang sepi harus banyak berdoa, agar anak-anaknya selalu dilindungi. Kalau tugas ke luar kota, maka sedikit uang yang ada pertama kali dibelikan untuk keperluan anaknya, jadi malah keperluan dirinya sendiri terlupakan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: arif</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6248</link>
		<dc:creator>arif</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 12:21:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6248</guid>
		<description>Waduh senengnya ada kakak yang ngajari adik. Dulu saya harus belajar sendiri dari buku walaupun saya anak kedua. Maklum, mas saya tidak suka belajar. Sukanya nggambar bus. Itu yang membuat saya mendidik adik saya agar jangan langsung bertanya sebelum berusaha mencari tahu dulu dari buku-buku yang dia miliki. Kalau sudah mentok barulah bertanya. Akhirnya dia bisa mengerti bahwa saya mengajarinya untuk mandiri dan minta diajari kalau sudah bener-bener mentok.

Asal jangan minta diajari limit fungsi dan himpunan. Entah mengapa otak saya sampai saat ini masih sulit melogikakan kedua hal tersebut. Sama pelajaran mekanika, kalau katrolnya banyak saya nggak bisa ngitung. Kemudian suruh ngitung gaya gesek dengan balok yang bertumpuk-tumpuk. Nggak ngerti deh. Saya milih disuruh ngitung duit saja asal duit beneran. Pasti bisa deh.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kang Kombor&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Karena anak sulung, saya dulu juga jadi panutan adik-adik, mengajarkan etika, dari mulai ngajari membaca, membersihkan rumah dll.
Sampai sekarang kalau ada problem si bungsu masih tanya kakaknya, begitu juga sebaliknya, kebetulan ilmunya hampir sama, tapi ada beberapa perbedaan yang malah bisa saling mendukung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Waduh senengnya ada kakak yang ngajari adik. Dulu saya harus belajar sendiri dari buku walaupun saya anak kedua. Maklum, mas saya tidak suka belajar. Sukanya nggambar bus. Itu yang membuat saya mendidik adik saya agar jangan langsung bertanya sebelum berusaha mencari tahu dulu dari buku-buku yang dia miliki. Kalau sudah mentok barulah bertanya. Akhirnya dia bisa mengerti bahwa saya mengajarinya untuk mandiri dan minta diajari kalau sudah bener-bener mentok.</p>
<p>Asal jangan minta diajari limit fungsi dan himpunan. Entah mengapa otak saya sampai saat ini masih sulit melogikakan kedua hal tersebut. Sama pelajaran mekanika, kalau katrolnya banyak saya nggak bisa ngitung. Kemudian suruh ngitung gaya gesek dengan balok yang bertumpuk-tumpuk. Nggak ngerti deh. Saya milih disuruh ngitung duit saja asal duit beneran. Pasti bisa deh.</p>
<p><em><strong>Kang Kombor</strong></em>,<br />
Karena anak sulung, saya dulu juga jadi panutan adik-adik, mengajarkan etika, dari mulai ngajari membaca, membersihkan rumah dll.<br />
Sampai sekarang kalau ada problem si bungsu masih tanya kakaknya, begitu juga sebaliknya, kebetulan ilmunya hampir sama, tapi ada beberapa perbedaan yang malah bisa saling mendukung.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: BARRY</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6216</link>
		<dc:creator>BARRY</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 05:08:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6216</guid>
		<description>Saya percaya kalau untuk dapat terus berperan dalam perkembangan anak-anak, sebagai orang tua perlu terbuka untuk belajar sesuatu yang baru dimana relevansi dengan perkembangan teknologi sedikit banyak membantu kelancaran komunikasi antara orang tua dengan anak-anak.

Sepuluh tahun dari sekarang entah apa yang akan menjadi &quot;Hip&quot; bagi generasi berikut.  Namun saya akan tetap melihat itu sebagai kesempatan.  Kesempatan untuk terus &quot;connected&quot;.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Barry&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Itu memang tantangannya...bagaimana sepuluh tahun kedepan? Sebagai orangtua harus bisa mengikuti walaupun tak semuanya. Bahkan juga harus mengakui jika tak mampu mengikuti, dan anak biasanya memahami, bahkan mereka menolong agar kita mampu mengikuti perkembangan agar tak terlalu ketinggalan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya percaya kalau untuk dapat terus berperan dalam perkembangan anak-anak, sebagai orang tua perlu terbuka untuk belajar sesuatu yang baru dimana relevansi dengan perkembangan teknologi sedikit banyak membantu kelancaran komunikasi antara orang tua dengan anak-anak.</p>
<p>Sepuluh tahun dari sekarang entah apa yang akan menjadi &#8220;Hip&#8221; bagi generasi berikut.  Namun saya akan tetap melihat itu sebagai kesempatan.  Kesempatan untuk terus &#8220;connected&#8221;.</p>
<p><em><strong>Barry</strong></em>,<br />
Itu memang tantangannya&#8230;bagaimana sepuluh tahun kedepan? Sebagai orangtua harus bisa mengikuti walaupun tak semuanya. Bahkan juga harus mengakui jika tak mampu mengikuti, dan anak biasanya memahami, bahkan mereka menolong agar kita mampu mengikuti perkembangan agar tak terlalu ketinggalan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Totok Sugianto</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6215</link>
		<dc:creator>Totok Sugianto</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 18:18:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6215</guid>
		<description>tingkat pendidikan orang tua juga berpengaruh dalam pola belajar anak, semakin tinggi tingkat pendidikan ortu biasanya si anak juga akan lebih mudah belajarnya. tetapi lagi-lagi tergantung kesempatan untuk bisa belajar besama, karena hanya kesibukan luar biasalah yg menjadi hambatannya

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Totoks&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Kesibukan orangtua bisa disiasati dengan kualitas pertemuan dengan anak, minimal sehari sekali saat makan bersama. Dan akhir pekan diusahakan bersama anak, bahkan saya sering cuma di rumah saja saat akhir pekan karena anak-anak pengin ngobrol sambil gelundungan di tempat tidur.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tingkat pendidikan orang tua juga berpengaruh dalam pola belajar anak, semakin tinggi tingkat pendidikan ortu biasanya si anak juga akan lebih mudah belajarnya. tetapi lagi-lagi tergantung kesempatan untuk bisa belajar besama, karena hanya kesibukan luar biasalah yg menjadi hambatannya</p>
<p><em><strong>Totoks</strong></em>,<br />
Kesibukan orangtua bisa disiasati dengan kualitas pertemuan dengan anak, minimal sehari sekali saat makan bersama. Dan akhir pekan diusahakan bersama anak, bahkan saya sering cuma di rumah saja saat akhir pekan karena anak-anak pengin ngobrol sambil gelundungan di tempat tidur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6214</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 17:00:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6214</guid>
		<description>wah, rupanya asyik benar, ya, Bu Enny, bisa mengikuti perkembangan anak berdasarkan perkembangan usianya. sebagai ayah, saya sendiri juga merasakan ada benarnya kalau ada yang bilsang bahwa anak perempuan biasanya cenderung memilih ayah sebagai idolanya, sedangkan anak lelaki cenderung memilih ibu sbg idolanya. saya sendiri juga merasa ada kedekatan emosional dg anak perempuan saya yang kebetulan anak sulung yang sekarang duduk di bangku SMA klas X. saya juga tdk tahu apakah memang begitu, hehehehe :lol: karena jarak rumah dengan sekolah, tempat saya mengajar lumayan jauh, jarang sekali saya mengajak anak2 main ke sekolah, apalagi mereka juga sudah mulai disibukkan dg urusan sekolahnya masing2. tulisan Bu Enny selalu memberikan inspirasi bagaimana melakukan hubungan yang harmonis dg anak2. Terima kasih informasinya, Bu.

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pak Sawali&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, 
Kecenderungan itu memang ada, tapi umumnya mereka dekat dengan ibu....terutama kalau lagi sakit, nggak enak badan atau curhat.
Dekat dengan anak sangat menyenangkan pak, jadi saya dulu setiap kali mengambil keputusan selalu menomor satukan untuk kebahagiaan anak, walaupun saya bukan ibu yang mampu memuaskan mereka.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, rupanya asyik benar, ya, Bu Enny, bisa mengikuti perkembangan anak berdasarkan perkembangan usianya. sebagai ayah, saya sendiri juga merasakan ada benarnya kalau ada yang bilsang bahwa anak perempuan biasanya cenderung memilih ayah sebagai idolanya, sedangkan anak lelaki cenderung memilih ibu sbg idolanya. saya sendiri juga merasa ada kedekatan emosional dg anak perempuan saya yang kebetulan anak sulung yang sekarang duduk di bangku SMA klas X. saya juga tdk tahu apakah memang begitu, hehehehe <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  karena jarak rumah dengan sekolah, tempat saya mengajar lumayan jauh, jarang sekali saya mengajak anak2 main ke sekolah, apalagi mereka juga sudah mulai disibukkan dg urusan sekolahnya masing2. tulisan Bu Enny selalu memberikan inspirasi bagaimana melakukan hubungan yang harmonis dg anak2. Terima kasih informasinya, Bu.</p>
<p><em><strong>Pak Sawali</strong></em>,<br />
Kecenderungan itu memang ada, tapi umumnya mereka dekat dengan ibu&#8230;.terutama kalau lagi sakit, nggak enak badan atau curhat.<br />
Dekat dengan anak sangat menyenangkan pak, jadi saya dulu setiap kali mengambil keputusan selalu menomor satukan untuk kebahagiaan anak, walaupun saya bukan ibu yang mampu memuaskan mereka.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: liswari</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6213</link>
		<dc:creator>liswari</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 13:39:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6213</guid>
		<description>kayaknya anak2 itu sumber kekuatan orang tua ya.. kalau dilihat dari kisah2 orang tua yang struggle a lot biasanya ucapannya &#039;ini demi anak2&#039;... 
Kalau disini (yaa tidak semua) generasi baru lebih memilih untuk gak punya anak karena merasa gak mampu untuk merawat anak yg butuh biaya besar atau lebih memilih travel dan menggunakan hidupnya untuk yg lain selain berkeluarga... 

Di salah satu buku yg pernah ku baca (kisah nyata) tentang perjalanan hidup wanita karir yg sudah menikah sebenarnya tapi ragu untuk punya anak karena ucapan kakaknya bahwa keputusan memiliki anak itu seperti keputusan untuk mempunya tato permanen di wajah yang tidak bisa dihapus atau diubah dan akhirnya dia tetap memilih gak punya anak. Karir dan prestasinya cemerlang tapi pada satu titik dia justru merasa hampa dan kosong tentang makna hidup. Akhirnya dia bercerai dan kemudian dia melalukan perjalanan ke 3 negara yang semuanya berawalan &#039;i&quot;, Italy, India, dan Indonesia. Akhirnya dia menyadari betapa hidupnya hanya seputar duniawi tanpa pernah mencari makna lebih dalam dan melupakan apa sebenarnya yang terpenting dalam hidup ini.

kok aku jadi ngelantur kemana2 yah hehehe, intinya menurut ku punya anak atau tidak itu adalah pilihan walaupun ada yang memang ditakdirkan gak punya anak. Karena pilihan aku tetap menghormati orang yang memang gak mau punya anak dan menurutku masih lebih baik daripada memutuskan punya anak tapi melalaikan dan gak mau mengurusi... Sampai ada ide disini untuk bisa punya anak mungkin harus ada tes uji kelayakan terlebih dahulu karena gak sedikit kasus bayi bisa meninggal di dalam mobil karena ditinggal terlalu lama oleh ibunya...

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Lis&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, 
Mempunyai anak tanggung jawabnya berat, tak sekedar hanya memberi makan dan pakaian saja...yang lebih penting adalah bagaimana mendidik menjadi anak yang baik, sholeh dan berguna bagi nusa bangsa.

Saudaraku juga ada yang ga pengin punya anak, karena kawatir dia tak bisa membahagiakan anaknya...menurutku ini lebih baik, daripada asal pengin punya anak, karena dorongan lingkungan, tapi tak bertanggung jawab atas kehidupan anaknya itu. Yang berat adalah mendidik agar moralnya baik, karena pendidikan &lt;em&gt;skill &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;knowledge&lt;/em&gt; bisa melalui sekolah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kayaknya anak2 itu sumber kekuatan orang tua ya.. kalau dilihat dari kisah2 orang tua yang struggle a lot biasanya ucapannya &#8216;ini demi anak2&#8242;&#8230;<br />
Kalau disini (yaa tidak semua) generasi baru lebih memilih untuk gak punya anak karena merasa gak mampu untuk merawat anak yg butuh biaya besar atau lebih memilih travel dan menggunakan hidupnya untuk yg lain selain berkeluarga&#8230; </p>
<p>Di salah satu buku yg pernah ku baca (kisah nyata) tentang perjalanan hidup wanita karir yg sudah menikah sebenarnya tapi ragu untuk punya anak karena ucapan kakaknya bahwa keputusan memiliki anak itu seperti keputusan untuk mempunya tato permanen di wajah yang tidak bisa dihapus atau diubah dan akhirnya dia tetap memilih gak punya anak. Karir dan prestasinya cemerlang tapi pada satu titik dia justru merasa hampa dan kosong tentang makna hidup. Akhirnya dia bercerai dan kemudian dia melalukan perjalanan ke 3 negara yang semuanya berawalan &#8216;i&#8221;, Italy, India, dan Indonesia. Akhirnya dia menyadari betapa hidupnya hanya seputar duniawi tanpa pernah mencari makna lebih dalam dan melupakan apa sebenarnya yang terpenting dalam hidup ini.</p>
<p>kok aku jadi ngelantur kemana2 yah hehehe, intinya menurut ku punya anak atau tidak itu adalah pilihan walaupun ada yang memang ditakdirkan gak punya anak. Karena pilihan aku tetap menghormati orang yang memang gak mau punya anak dan menurutku masih lebih baik daripada memutuskan punya anak tapi melalaikan dan gak mau mengurusi&#8230; Sampai ada ide disini untuk bisa punya anak mungkin harus ada tes uji kelayakan terlebih dahulu karena gak sedikit kasus bayi bisa meninggal di dalam mobil karena ditinggal terlalu lama oleh ibunya&#8230;</p>
<p><em><strong>Lis</strong></em>,<br />
Mempunyai anak tanggung jawabnya berat, tak sekedar hanya memberi makan dan pakaian saja&#8230;yang lebih penting adalah bagaimana mendidik menjadi anak yang baik, sholeh dan berguna bagi nusa bangsa.</p>
<p>Saudaraku juga ada yang ga pengin punya anak, karena kawatir dia tak bisa membahagiakan anaknya&#8230;menurutku ini lebih baik, daripada asal pengin punya anak, karena dorongan lingkungan, tapi tak bertanggung jawab atas kehidupan anaknya itu. Yang berat adalah mendidik agar moralnya baik, karena pendidikan <em>skill </em>dan <em>knowledge</em> bisa melalui sekolah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: realylife</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/06/belajar-bersama-anak/#comment-6212</link>
		<dc:creator>realylife</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 13:10:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=423#comment-6212</guid>
		<description>betul banget bunda , hal itulah yang sedang diterapkan oleh keluarga di rumah

&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Realylife&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,
Dan mudah2an nanti diteruskan oleh realylife sendiri jika telah menjadi bapak. Sekarangpun bisa mulai, dengan dekat pada para keponakan...pasti banyak hal yang dapat kita pelajari.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>betul banget bunda , hal itulah yang sedang diterapkan oleh keluarga di rumah</p>
<p><em><strong>Realylife</strong></em>,<br />
Dan mudah2an nanti diteruskan oleh realylife sendiri jika telah menjadi bapak. Sekarangpun bisa mulai, dengan dekat pada para keponakan&#8230;pasti banyak hal yang dapat kita pelajari.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
