Maya disini bukan dalam arti maya versi KBBI, yang berarti: (1) yang hanya tampaknya saja ada, tetapi nyatanya tidak ada, (2) yang ada hanya di angan-angan. Maya yang saya maksud di sini, adalah dunia yang terhubung melalui internet.
Pada awal tahun 2000 an, saya masih menggunakan disket, kemudian tahun 2001 mulai berubah menjadi flash dish (USB), dan e-mail mulai dikenal secara luas di lingkungan kerja saya. Untuk mendorong para manajernya tidak gagap teknologi, CEO kami yang kebetulan memang suka teknologi, pada tahun 2000 sengaja mengirim email setiap hari kepada para manajer ke atas, dan masing-masing harus menjawab. Sejak itu e-mail menjadi suatu bentuk sarana komunikasi dilingkungan kantor, yang berlanjut sebagai sarana berhubungan dengan teman-teman di luar kantor, dan kemudian membuat milis yang merupakan grup dari orang-orang yang berminat sama, atau merupakan sarana komunikasi dari teman satu angkatan dsb nya. Di kantor, awalnya hanya manajer ke atas yang mendapatkan fasilitas e-mail, namun kemudian semakin berkembang, seorang staf pun mendapatkan alamat e-mail kantor.
Hari Rabu tanggal 9 Juli 2008, Ninok Leksono di Kompas halaman 1 mengupas tentang “E-mail” dan Manusia Super. Ninok mengutip pernyataan Maggie Jackson, pengarang buku “Distracted: The Erosion of Attention and the Coming Dark Age, WST,8/7 sebagai berikut: “Cara hidup kita sekarang ini mengerosi kemampuan untuk konsentrasi yang dalam, lama, dan perspektif, yang merupakan blok pembangun keintiman, kearifan, dan kemajuan kultural.”
Terperangkap dalam rutinitas
Apa yang anda lakukan setiap bangun tidur? Atau pertama kali datang di kantor? Pertama kali orang akan mengecek apakah ada pesan yang masuk lewat sms, kemudian mengecek e-mail yang masuk. Bahkan kemudahan internet, membuat dimanapun kita berada, kita masih bisa berhubungan dengan dunia luar, menyangkut bidang pekerjaan dsb nya. Jika kita mempunyai blog, minimal mengecek berapa orang teman yang mengunjungi tulisan kita, serta kewajiban kita untuk balas berkunjung. Semakin populer sebuah blog, akan semakin banyak waktu yang digunakan untuk blogwalking dan menjawab komentar. Apakah anda sudah pernah berhitung, berapa waktu yang dibutuhkan untuk blogwalking setiap hari, untuk mengecek e-mail, untuk berselancar didunia maya?
Dulu, saat masih menjadi mahasiswa, kewajiban saya adalah menulis surat minimal seminggu sekali kepada orangtua (biar beliau berdua tak kesepian dan senang menerima surat dari anaknya) dan juga pacar, apalagi rumah kami tak mempunyai telepon. Ayah setiap hari menunggu pak pos datang, dan pak pos akan langsung teriak begitu ketemu ayah, walaupun di jalan, memberitahukan bahwa ayah mendapat kiriman surat dari putranya. Masih terbayang di ingatanku, betapa ayah tertawa tergelak-gelak membaca surat dari adik bungsuku, yang menceritakan kejadian lucu saat praktikum biologi di kampusnya. Saat itu hubungan antara pak pos dengan para penerima surat sangat baik, bahkan jika tak terlalu sibuk, pak pos akan mampir, minum teh hangat dan mengobrol dengan ayah. Saya juga diajak berbincang dengan ramah oleh petugas kantor pos, jika akan mengirim surat melalui kantor pos yang dekat rumah.
Hubungan antar manusia masih sangat diperhatikan dan dijaga. Saya ingat awal masuk bekerja, senior menyarankan jika memerlukan sesuatu lebih baik langsung menghadap atasan, jangan melalui telepon, karena kita tidak tahu atasan sedang dalam kondisi seperti apa. Saat ini, mengirim sms pada atasan bukan menjadi hal yang tabu, bahkan pada saat rapat dengan Direksi, para Senior manager sibuk menjawab sms sambil mendengarkan rapat, dan Direksi pun tak keberatan. Pengiriman sms pun tak kenal waktu, saya sering mendapat sms di atas jam 12 malam, dan langsung saya balas setelah mencari informasi yang dibutuhkan bos. Anak saya pernah ijin sakit, namun tetap tak bisa istirahat, karena sms tetap datang, dan mau tak mau dia akhirnya membuka komputer dan mengerjakan tugas sambil bersin-bersin.
Menurut catatan Gordon Crovitz, rata-rata setiap menit pekerja pikiran (knowledge worker) menghentikan aktivitasnya, umumnya karena terganggu oleh e-mail atau dering telepon. Lazimnya diperlukan 30 menit sebelum ia bisa kembali ke pekerjaan semula (Kompas, 9 Juli 2008, hal 15)
Saat ini, dimana internet sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari, pikiran kita dijejali oleh berbagai arus informasi yang harus segera diolah, dan rasanya pengetahuan/ketrampilan kita semakin jauh ketinggalan dibanding banjirnya arus informasi yang masuk. Di satu sisi, hal ini sangat menyenangkan, bayangkan ditengah kesibukan kerja mendapat sms dari anak yang isinya lucu-lucu, atau isinya sekedar minta didoakan karena mau ujian. Saat didepan komputer lagi mengerjakan tugas, tiba-tiba ada panggilan dari YM, anak saya sedang on line…dan terjadilah percakapan antara ibu dan anak yang akrab dan menyenangkan. Entah kenapa, mendengar suara anak, atau komentar anak, membuat semangat untuk hidup lebih baik selalu muncul, dan kelelahan yang ada menjadi hilang,
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Banyaknya arus informasi kadang juga bisa menekan perasaan, apalagi dalam situasi akhir-akhir ini, rasanya dimana-mana sedang ada kesulitan. Di satu sisi, membuat kita bersyukur, bahwa kita masih mendapat karunia, walau hidup harus semakin berhemat, tapi tak harus berhutang untuk makan. Ditengah kepungan arus informasi, kita harus memilih, apakah kita akan mengikuti terus dengan risiko waktu kita untuk bersantai menjadi nyaris tidak ada, atau kita memilih ada hari tertentu yang tidak perlu menggantungkan pada informasi tersebut.
Karena seminggu sebelumnya saya terkena flu, yang akhirnya menyebar bergantian menyerang seisi rumah, saya agak mengurangi kesibukan. Kemarin siang, karena lelah di depan komputer, saya mencoba istirahat sebentar, dan tertidur. Kebetulan Hape saya taruh di ruang tengah agar terdengar jika ada sms masuk. Tidur saya nyenyak sekali, bahkan ada sms bunyi dua kali tak terdengar, dan saat bangun ada pesan yang masuk untuk janji ketemu di Chitos. Akhirnya saya menilpon teman, untuk memundurkan janji ketemu pada malamnya. Disini saya merasakan, bahwa sebetulnya kita tak perlu membawa-bawa hape, pada saat di kamar, karena tidur kitapun menjadi terganggu. Karena, kalaupun ada keadaan darurat, akan dihubungi melalui telepon rumah, yang deringannya cukup kencang, dan yang mengangkat bisa siapa saja yang kebetulan sedang tidak istirahat.
Karena pekerjaan saya tidak tetap, saya memang masih membawa hape siap didekat jangkauan tangan saya, karena sewaktu-waktu dapat dihubungi melalui telepon atau sms. Namun pada saat Sabtu Minggu, saya berusaha menikmati kehidupan, setidaknya tak terlalu dibebani oleh masalah bisnis. Cuma karena bulan ini musimnya orang punya hajatan, akhirnya waktunya juga menjadi tersita, memang hidup ini penuh risiko, dan sebagai makhluk sosial, tentunya kita juga harus bisa menjaga hubungan sosial dengan teman, tetangga, lingkungan pekerjaan dan lain-lain.
