Oleh: edratna | September 19, 2008

Menyetir mobil, sulitkah?

Bagi sebagian besar orang, menyetir mobil adalah hobi yang mengasyikkan, tapi sebagian lagi merasa lebih baik tak pegang setir mobil. Yang belakangan ini termasuk saya, entah kenapa, beberapa kali belajar nyopir, sampai punya SIM (melalui jalan benar, ujian teori dan praktek, serta lulus), tetap saja tak berani menyetir mobil. Setelah berkali-kali mencoba, dan tetap gagal, SIM hanya disimpan di tas (sebagai identitas diri, sama seperti KTP), dan pasrah menggunakan jasa angkutan umum jika suami sedang tak ada di tempat.

Tentu saja, saya tak ingin anak-anak mengalami situasi seperti saya. Entah kenapa, rupanya anak-anak saya tetap lebih menyukai naik angkutan umum. Si sulung akhirnya berani menyopir, setelah saya agak memaksa untuk belajar lagi, karena ayahnya pernah kena stroke, sehingga jika sewaktu-waktu keadaan darurat, tak perlu merepotkan tetangga. Juga si sulung semakin menyadari pentingnya bisa menyopir mobil, setelah harus mengantar teman-temannya dari luar kota keliling Jakarta, mencari dana untuk kegiatan Fakultas. Juga, apabila si sulung ingin ditraktir nonton film dan makan, saya bilang ibu tak keberatan, asal dia mau menyopir dan tidak naik kendaraan umum. Akhirnya si sulung sering menyopir setelah punya pacar, dan mau tak mau setiap kali mengantar jemput pacarnya.

Bagaimana dengan si bungsu? Anak bungsuku ini punya SIM sudah beberapa tahun, setelah lulus ujian. Namun, dia tetap memilih naik angkot, apalagi kalau ujian selalu ada si mbak (yang kebetulan udah jago nyopir) yang siap mengantar jemput dari rumah ke Kampus Gajah pulang pergi. Hari-hari biasa dia lebih memilih naik angkot, walau tukang angkot suka ngetem. Pernah ceritanya, suatu ketika dia begitu sebelnya sama tukang angkot karena ngetem, padahal dia sudah harus sampai ke kampus tak lama lagi. Akhirnya si bungsu turun dari angkot sambil menutup pintu agak keras, dan pindah ke angkot lain. Nggak tahunya, sopir angkot membuntuti dia (dia sudah ketakutan dikira sopir angkot mau apa)…..ternyata si sopir angkot cuma pesan sama sesama sopir lain (yang dinaiki anakku)…”Ati-ati kang, si eneng galak…”

Setelah keberangkatan kakaknya ke luar negeri, si bungsu menjadi berpikir, bagaimana kalau terjadi keadaan darurat di rumah dan tak ada yang bisa menyopir mobil. Kalau di Jakarta, masih mudah mencari taksi, namun di Bandung?? Akhirnya sejak dua minggu ini, si bungsu melatih diri menyopir dari rumah ke kampus pulang pergi, walau masih didampingi si Mbak. Saat kami jalan-jalan ke ITC Kebon Kelapa hari Sabtu lalu, mencari baju kerja untuk sepupunya yang baru diterima kerja di Bank, dan kemudian dilanjutkan ke BTC (Bandung Trade Center) di Terusan Pasteur, si bungsu lah yang menyopir. Saya bersyukur, akhirnya si bungsu mau melatih diri, karena sebetulnya hanya kemauan dan keberanian lah yang diperlukan…dan untuk hal ini, saya menyerah deh….apa boleh buat, saya masih setia menunggu bajaj lewat….. padahal kalau udah puasa seperti ini, angkotpun berjubel.

About these ads

Responses

  1. emang mesti ada yg bisa sih, untuk keadaan darurat itu. tapi saya masih lebih suka naik motor :)

    Edy,
    Betulll…..tapi justru kelemahanku itu, kami memilih tinggal di rumah kecil, namun dekat dari mana-mana. Dan lingkungan tetangga baik, kamipun didaftar punya mobil tidak, jika ada keadaan darurat mobil bisa dipinjam untuk mengantar orang sakit apa tidak….
    Berjalan kaki 200 meter udah ada bajaj, taksi, angkot dll. Yang repot di Bandung, karena walau di kota (daerah Buah Batu), taksi di Bandung tak semudah di Jakarta.

  2. Saya sebenarnya juga penakut Bunda untuk menyopir. Apalagi ketika di SBY ngak ada mobil dan waktu di Toronto juga naik public trans. dan sudah terbuai dengan enaknya menjadi penumpang yang hanya duduk dan sampi di tujuan. Tetapi ketika pindah ke Colorado harus menyetir sendiri karena keadaan di sini public Trans. nya tdk seperti di kota besar jadi semua mobilitas tergantung dengan kendaraan pribadi. Mungkin seandanya Bunda kepepet seperti saya pasti berani kali ya?…. :) terimakasih

    Yulism,
    Menyetir di Jakarta, apalagi sekarang, sepeda motornya banyak, dan mereka mengendarai gila2an, bikin keder…..dan kebetulan saya tak masalah naik kendaraan apapun, yang belum pernah mencoba hanya ojek.
    Dulu, memang karena ada kendaraan dinas, terus tinggal di kompleks yang bisa ikut antar jemput….

    Apalagi pensiun, kegiatan keluar rumah, karena memang terkait dengan pekerjaan, sehingga biaya tranportasi sudah diperhitungkan di situ…semakin malas membawa mobil.

  3. sulit sekali, bu. selama belum punya kepribadian kedua. hwehe…

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Iya nih, padahal kalau tugas, berangkat dari rumah jam 4 pagi ke bandara, sendirian, nanti tinggal dijemput di bandara kota yang dituju…semua dilakukan sendiri….tapi kan ada transportasi umum, dan kalau tugas mengajar, semua sudah dihitung biayanya, sehingga naik taksipun tak ada problem….saya juga sering naik bis Damri dari bandara, sepanjang bawaannya tak banyak.

  4. Walaupun saya hobi banget naik motor untuk pergi kemanapun, bahkan ketika sudah memiliki 2 anak. Sekarang ketika istri hamil yang ketiga, merasa perlu banget untuk mengambil mobil yang sudah sekitar 6 bulan ngendon dibengkel.
    Dan ketika harus sering pulang Sidoarjo-Kediri atau Sidoarjo-Madiun bersama istri dan dua anak, memang enakan bawa mobil. Kalau hanya sendirian, memang lebih mantab bawa sapi biru… :)

    Sapimoto,
    Saya malah dibilang terlalu mandiri…jadi kalau ke bandung, ya pokoknya bisa naik apa saja, bisa bis, travel, kereta api…di bandung juga tergantung, bisa dijemput, atau naik angkot ke rumah. Atau kalau badan dirasa lelah, ya naik taksi.
    Si bungsu kemana-mana juga suka berboncengan naik motor dengan teman….tapi sekarang harus mulai berani menyetir mobil sendiri. Teman2 saya malah heran, mereka bilang..”Anak saya, belum punya SIM, kalau ada kunci mobil nganggur, langsung diambil…dan karena belum bisa menabrak pintu garasi. Lha anakmu, mobil di depan mata, kunci ada, silahkan kalau mau dipakai, tapi kok malah senang jalan kaki….atau angkot.

  5. saya bisa nyetir tapi gak puya SIM :-P

    Bangdod,
    Berarti tinggal cari SIM nya, dan kapan2 bisa minta bantuan….

  6. yo bagi yang nggak pernah punya mobil dan nggak punya mobil, yo jelas relatip sulit lah….
    mendingan kemana-mana diantar pak sopir wae to?

    Ndoro seten
    ,
    Itulah saya, tapi saya tak tergantung sopir kok…kan ada alat transportasi lain. Atau pinjam sopirnya teman yang lagi nggak di pake….
    Hal ini sangat jarang terjadi, karena pada dasarnya saya tak ingin tergantung orang….bisa naik apa saja…

  7. saya ndak bisa nyetir, lah wong yg disetiri blm ada kok..
    ntar kalo udah ada yg disetir, baru blajar nyetir..
    sekarang masih pake setir panjang, blm punya setir bundar :)
    do’a in dapet setir bunder ya bu, hehehe…

    mierz,
    Di doakan, siapa tahu dapat undian berhadiah dapat mobil….

  8. saya juga sebenarnya lebih suka naik angkot bu… tapi kalau terpaksa ya bawa mobil juga… memang perlu belajar nyetir kalau-kalau ada keadaan darurat.

    Itik kecil
    ,
    Kalau udah seumur saya, nanti malah berbahaya, jadi biarlah si bungsu yang harus melatih dirinya…..
    Memang enak sih, kalau tinggal duduk manis, dan tahu-tahu udah sampai tujuan…

  9. waah..sim A saya cuman ngendon di dompet..lebih enak naek angkutan umum..tinggal duduk manis..hihihi..tp kalo kepepet ya mau gak mau bu…

    Dilla,
    Ternyata tetap harus latihan kok…jadi kerjaanku mendorong anak agar mau bawa mobil….
    Karena memang banyak gunanya bisa membawa mobil…

  10. saya blm bisa nyetir baik motor maupun mobil whuehehe krn saya pernah jatuh ke dalam got ketika bljr menyetir dgn sepupu perempuan saya yg meskipun br kelas 1 smp tp udah jagoan. ah, saya nya yg penakut ato emang lg apes aja ya :shock:

    pinginnya belajar nyetir mobil tp sayang mobilnya msh di showroom :lol:

    bu, saya izin ngelink kesini ya :smile:

    Pimbem,
    Ntar kalau udah asisten manager, biasanya dapat pinjaman jangka panjang, suku bunga rendah dan diangsur lamaaa sekali….Harus diambil dan belikan mobil, karena sangat berguna, terutama jika anak-anak kecil. Apalagi peraturan perusahaan, memungkinkan ditempatkan dimana saja.
    Saya dulu terlanjur enak, ceweknya cuma sedikit, dan ditahan terus di kantor pusat..tinggal di rumah dinas sampai lebih 23 tahun……Kalau bos menyuruh tugas sampai malam, selalu tanya…”Kamu tadi naik apa?” dan bos, langsung mengajak saya jadi satu naik mobilnya (mercy bo!)…setelah mengantar beliau, ber basa basi dengan ibu bos, saya diantar pak sopir pulang……(serasa ikut menjadi bos besar…hahaha).
    Silahkan nge-link…

  11. kemampuan menyetir emang dibutuhkan, tapi kalo sendiri ato berdua lebih baik naik motor atau angkot deh kayanya. mengurangi kemacetan… terus terang saya sebel liat mobil yang di dalamnya cuma berisi 2 atau bahkan 1 orang. boros energi.

    Kishandono,
    Wahh berarti dulu sebel sama saya ya…..
    Iyah memang, tapi naik motor risikonya tinggi, malahan banyak teman yang tanya sama saya..”Mbak, apa sih rahasianya, kok mbak berani melepaskan anak-anaknya naik sepeda motor?‘ Pertanyaan tsb wajar, karena teman-teman dilingkunganku, anak-anaknya diantar sopir, setelah besar naik mobil sendiri, kondisi yang berbeda dengan aturan disiplin rumah saya. Kalaupun anak sulung bawa mobil, tetap mobilnya ibu….jadi mesti ngomong dulu…

  12. Nah Ibu, ayo dicoba lagi “turun” ke jalan, mari dilawan rasa takutnya pelan-pelan. Kalau masih juga ragu, lebih baik Ibu memiliki sopir yang siap dalam kondisi darurat … :)

    Yoga,
    Kalau seumur saya, lebih baik tidak usah deh. Kalau lewat Tol saya berani nyopir, begitu keluar di jalan kecil, langsung deh kepala pusing, apalagi semakin semrawut dengan sepeda motor.
    Memang saya punya beberapa sopir yang bisa diminta tolong jika keadaan darurat, antara lain mantan sopir saya (dulu saat aktif, saya dapat kendaraan dinas, dengan sopir pribadi, kebetulan kontrak rumahnya dekat rumah saya). Juga banyak teman yang senang mengulurkan tangan jika sewaktu-waktu diperlukan. Tapi yang jelas, rumah saya dekat Chitos, dan taksi yang lewat jl. Fatmawati selalu rame selama 24 jam, juga bajaj dan yang lain. Yang agak kawatir di Bandung, tapi di rumah ada si mbak yang bisa nyopir, juga ada lagi anak asuh (cowok) yang bisa nyopir juga. Si bungsu juga mulai ahli kalau nyopir…..

  13. saya juga ga bisa nyetir. nanti kalo udah bisa beli mobil belajar ahhh…

    utaminingtyazzzz,
    Jangan mengikuti jejak saya yang tak baik ini….kan papamu ada mobil pribadi, ada mobil dinas plus sopir…jadi banyak kesempatan untuk belajar, selagi masih muda…

  14. kalau di sini mau tak mau harus nyetir sendiri, habis bikin SIM nya saja berbulan2, itu kalau lulus kalau nggak ya bisa bertahun2 :D krn di sini ndak ada sistem beli SIM, semua harus lewat ujian baik rakyat biasa, pejabat, menteri dsb, belum biayanya selangit deh, jadi rugi kalo sudah punya SIM tapi nggak kepakai walau SIM sini berlakunya seumur hidup. terus mo naik taksi ke mana2 bisa bangkrut, mahal sekali, mau naik bis ? susah juga krn hrs nunggu di tempat tertentu dan tepat waktu, kalau nggak ya ditinggal sama bis walau bisnya kosong , jadi ya menyetir sendiri yg paling praktis

    Elys Welt,
    Menantu saya yang tinggal di Florida, juga mau tak mau harus bisa nyopir, karena sulit mencari kendaraan umum. Saya teringat saat menengok si sulung di st Lusia, Brisbane, ketemu mobil baru setiap setengah jam sekali, jalanan sepi sekali, kendaraan umum juga lamaaa baru muncul…

  15. iya, bener banget, bu. utk jaga2 kalau ada sesuatu yang mendadak shg ndak perlu repot cari sopir. memang palin sebel kalau mesti nunggu antre dalam angkot, padahal penumpang sdh sesek. tapi seringkali awak angkutan masih cari penumpang utk kejar setoran.

    Sawali Tuhusetya,
    Betul pak, tapi kayaknya, mengingat umur, tak bisa dipaksa lagi, satu2nya jalan ya tinggal mendorong si bungsu agar tak ikut jejak ibunya yang takut nyopir ini.

  16. SIM ?

    Saya belum punya SIM ketika bisa membeli (tepatnya : mengkredit) mobil pertama saya. Terpaksa minta tolong seorang teman untuk membawa mobil dari showroom ke rumah. Mobil akhirnya disimpan di garasi, dan anak sulung yang ketika itu 3 tahun bilang, “Itu mobilnya Pak Jajang ya pah ?”

    Setiap pagi bangun jam 04.00 dan belajar nyopir di kompleks. Banyak menabrak tong sampah, dan belajar maju mundur….

    Pointnya, kalau punya mobil sendiri, yang kecil dan mesin tidak ngadat, pasti dengan sendirinya akan berani menyetir. Intinya, praktek terus dan jangan pernah merasa takut nyopir…

    Tridjoko,
    Wahh saya udah nyerah deh, berapa kali mobil menubruk…kalau ini sih nggak apa-apa…tapi langsung keluar keringat dingin saat di jalanan kecil yang penuh sesak. Daripada mencelakai orang lain, lebih baik nggak usah aja…toh selama ini pekerjaan bisa banyak dilakukan melalui internet, meeting hanya sesekali….

  17. Hahaha, Ibu… tulisan ini lucu sekaligus tampak sebagai tulisan yang sangat “mesra”.

    Bagi saya, memang pada akhirnya keberanian yang memampukan kita untuk melakukan apapun semudah ataupun sesulit adanya…

    Donny Verdian
    ,
    Setiap orang yang pertama kali mengenal dan ketemu saya, pasti kaget kalau dikasih tahu saya tak bisa nyetir…hahaha. Mungkin tampang saya yang sok yakin itu, membuat orang mengira saya bisa melakukan apa saja…hahaha…ya, itulah salah satu kelemahan saya. Justru karena tahu kelemahan saya, cari rumahnya dekat dari mana-mana, walau dengan kavling kecil. Yang penting kemana-mana dekat, ke Bank jalan kaki 5-50 menit, ke pasar 5 menit, ke Chitos jalan kaki 10 menit, kalau capek dan naik taksi pulang hanya bayar Rp.7.000,- (sebelum harga naik, dan tentu saja tak tega, jadi mesti nambahi).

  18. saya belum punya mobil bu.jadi, belum bisa nyetir. :D

    yuswae,
    kalau udah ada mobil, saya yakin cepat bisa kok latihan…kayaknya setiap orang mudah belajarnya, kecuali saya…..

  19. Sebenarnya memang banyak juga yang termasuk orang yang takut nyetir, bukan saja perempuan tapi juga laki2, walaupun mungkin nggak banyak. Teman saya sekantor (laki2) ada yang takut nyetir mobil kalau ke luar kota. Kalau dalam kota masih mendingan, masih berani dia. Terus kalau parkir banyak mobil, dia juga stres. Mangkannya dulu, kalau pulang dia sering ikut mobil saya. Namun berhubung sekarang saya jarang naik mobil ke kantor, dia sekali dua kali sebelum berangkat ke kantor, dia bawa mobilnya ke rumah saya yang memang jarak dari rumahnya ke rumah saya nggak begitu jauh, dan bisa lewat jalan sepi. Baru dari rumah saya, saya yang bawa ke kantor. Oalaah… maunya mengurangi gas emisi buangan kendaraan malah akhirnya nyaris sama aja…. huehehe…..

    Yari NK,
    Saya geli, ternyata saya punya teman ya…kalau cuma muter-muter di kompleks ya saya berani…..hehehe
    Atau menyopir saat jam 12 malam, yang jalanan udah sepi….

  20. Nyopir emang yang di butuhkan keberanian dan sering-sering pegang setir sendiri untuk mengasah feling atau pembiasaan meski blm punya mobil klo bisa nyetir pada suatu saat ada gunanya

    Achmad Sholeh,
    Betul…dan sebaiknya di asah sejak muda…

  21. si bungsu hampir sama dengan saya.
    meski udah punya SIM tetep setia naek angkot.
    kayanya saya perlu lebih giat berlatih nyetir mobil deh

    tukangobatbersahaja,
    Sebaiknya dilatih terus menerus lho…sayang jika nanti terlanjur takut kayak saya.

  22. sama bunda dengan saya
    enggak bisa nyetir mobil
    emank sudah ditakdirkan jadi bos kali yeeee
    pake sopir pribadi huaahahahaha mimpi

    sukses yah bunda dan semoga diberikan kesehatan amiennnn

    Gelandangan,
    Bos pun akhirnya turun panggung kan? Seperti saya, dulu kemana-mana ada mobil dan sopir…untungnya saya memang tak pernah tergantung, di luar hari kerja, saya lebih suka ke-mana2 sendiri tanpa diantar sopir, walau terpaksa naik kendaraan umum. Padahal mobil tadi, adalah memang fasilitas yang boleh digunakan untuk keluarga juga….saya hanya melatih keluarga, terutama anak-anak, tak tergantung pada fasilitas.

  23. hahaha.. sama nih bu endratna. punya sim gak bisa nyetir mobil. lha gmn wong sim sayah SIM C :D

    Mantan Kyai,
    Kalau udah ahli pakai SIM C, peningkatannya menjadi SIM A relatif mudah….

  24. hehehe ibu… kalau saya mungkin dilahirkan sebagai pembalap ya. Kalau naik mobil dan tidak nyetir berarti tidur. Kalau nyetir dan di jalan tol kecepatannya disisakan di meterannya sedikit saja hehehe.
    Tapi bu, kalau mikir untuk keadaan darurat mungkin memang sebaiknya latihan sedikit lagi. Dalam keadaan darurat biasanya kita akan panik, kalau belum stabil lebih baik minta tolong yang lain yang lebih bisa.

    Ikkyu_san,
    Mungkin karena tinggal di Jakarta, angkat telepon taksi udah datang, atau jalan 200 meter, udah banyak kendaraan umum berseliweran, membuat tak terdorong menyetir sendiri. Apalagi jalanan semrawut, dan saya sering migren (tekanan darah rendah)…kawatir malah membahayakan orang lain.

  25. ngg…
    anu bu..
    butuh lowongan supir?
    saya tak ndaftar aja gmana?
    hehehhehe

    ?*kangen, lama ngga ngerecokin bunda satu ini :)

    Edo,
    Kalau tempat tinggalmu dekat rumahku, bisa direcoki terus. Bagaimana bisnismu, berkembang baik kan?

  26. kalau belum terbiasa jadi sulit juga :D

    Zoel,
    Masalahnya memang takut, mobilnya sih nganggur terus di rumah….Saat ada si sulung masih ada yang pake….mungkin waktunya dilungsurkan buat si bungsu.

  27. waah, ke ITC kebon kalapa trus mampir ke Yogya Pasaraya, trus dilanjut ke Pasar Baru (rute fi dulu di bandung kalo pas musim mo mudik bgini, nyariin oleh2 bu, hehe..)
    humm..fi jg belum brani ni bawa mobil, karna belum bisa, ahaha, pengen juga belajar, tapi pinjem mobilnya siapa ya? hihi..

    pipiew,
    Saya kok belum bisa menikmati ya belanja di Pasar Baru…pusing kalau disuruh pake tawar menawar. Ternyata BTC luas ya….dan lumayan juga harga barang2nya. Rumah saya sebetulnya lebih dekat ke BSM.

  28. Menarik sekali pengalaman Ibu. Dulu, waktu keluargaku masih lagi lengkap, akulah satu-satunya anggota keluarga yang tidak bisa menyetir. Bapak dan Mama bisa, begitu juga kakak dan adik. Lucu juga karena semua anggota keluarga bisa dan memang membutuhkan sementara aku satu-satunya yang tetap belum bisa. Barangkali karena pernah ada trauma, menabrakan mobil bapak saat iseng-iseng mengeluarkan mobil dari garasi secara diam-diam. Setelah itu kapok.

    Tapi lama-lama semua memaksa: bahwa suatu saat pasti memerlukan. Jangan sampai baru belajar saat butuh. Karena kita tidak pernah tahu kapan ada keadaan darurat.

    Akhirnya aku belajar dan langsung turun di jalan raya. Kelihatannya sepele, tapi terkadang memang kita membutuhkan hal itu.

    Kini aku malah kerap rindu naik angkot atau bis kota di mana ketika berada di dalam, kita begitu banyak bertemu orang secara heterogen. Membuat hidup kita tidak monoton.

    Tapi, ah, di Bandung naik mobil kerap bikin emosi bawaannya. Macet, panas, dan terlalu banyak kendaraan di jalan.

    Heran, kenapa setiap bulan ada saja jenis mobil baru keluar. Lebih heran lagi: selalu ada saja yang membeli. Terkadang aku merindukan suasana kota Bandung tahun 80an. Lengang, tenang, nyaman, dan sejuk. Ah, tapi dunia kan terus berubah.

    (Lho, kok jadi curhat, Bu? Hehehe!)

    Daniel Mahendra,
    Sepakat, Bandung makin panas dan pengap. Ini juga yang membuat situasi jalanan makin nggak disiplin, sopirnya suka mengklakson, padahal sih jalanan memang tak bergerak. Apalagi jika mendekati beduk Magrib, saat berbuka puasa…tapi Sabtu ini saya ke Bandung lagi, dan balik lagi ke Jakarta hari Rabu, karena Kamis ada meeting.

  29. Hehehe … ternyata saya sama dengan Mbak Imelda Ikkyu_san, dilahirkan jadi sopir. Saya sudah nyopir selama 24 tahun (alamaak …). Terbiasa bawa mobil sendiri, saya justru nggak suka diantar-jemput. Selain ngerepotin orang, saya juga jadi tergantung pada orang lain. Apalagi kalau ada perubahan acara, janjian dijemput jam 12.00 ternyata jam 11.00 acara sudah selesai, wah …. buang waktu. Belum lagi kalau tempatnya jauh dari rumah, antar jemput kan berarti boros karena dua kali pergi-pulang.

    Dengan bawa mobil sendiri, saya bebas merdeka mau pergi kemana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja (eh, nggak … :D ). Saya juga sangat menikmati nyetir, biasanya sambil nyanyi mengikuti lagu-lagu di CD mobil. Pokoknya kalau lagi nyetir, dunia serasa ada di tangan saya (weleh … jadi saya nginjak apa dong :D )

    Angkutan umum? Wah, repotss. Harus nunggu, panas (di Yogya bus AC baru di jalur-jalur tertentu), lagipula ke suatu tujuan bisa harus sambung-sambung angkot. Jadinya buang waktu. Belum lagi kalau bawaan banyak (maklum, suka mampir belanja, plus bawaan lain-lain). Kalau naik taksi terus-terusan, woaaa … bangkrut. Lagipula taksi juga tak selalu ada.

    Naik sepeda motor? Waduh, keamanan kurang terjamin. Lagipula, barang-barang bawaan ditaruh dimana, kalau perlu mampir ke suatu tempat?

    Tapi saya nggak hobi ngebut kayak Mbak Imelda lho. Saya santai aja kalau nyetir, pokoknya mobil harus jalan dengan rapi, nggak ada goncangan atau sentakan gas/rem. Malahan, kalau pergi sama suami pun saya yang nyopir … hehehe

    Pokoknya, nyetir itu menyenangkan. Coba aja.

    Tutinonka
    ,
    Wahh asyik dong,…..tapi mungkin ini juga ada gunanya. Saya udah sibuk banget kerja di luar rumah, jadi karena tak bisa menyopir, kalau hari libur ya banyak di rumah, sesekali jalan-jalan hanya yang dekat-dekat saja….seperti Pondok Indah Mall, Plaza Senayan dst nya.
    Tapi walau ada yang nyopir, saya lebih suka ke gunung, pantai…yang suasananya sepi. kalau ke mall, hanya terpaksa jika ada yang diperlukan, atau mengantar anak-anak menonton film.

  30. yang penting praktek, praktek, praktek
    kalau khawatir ikut sekolah nyetir saja,
    sehingga kalau salah (mau tekan rem, jadi gas)
    bisa diatasi si pembimbing (di kakinya ada rem)

    Kakanda,
    Latihan sih udah berkali-kali, pakai pelatih profesional…..terus udah dapat SIM.
    Udah ada mpbil, tapi tetap aja kok susah ya…ya udah deh, kompetensi orang kan memang bermacam-macam, mungkin disatu sisi ga bisa nyetir, tapi bisa lainnya….

  31. hihihih bener banget bu!! saya tuh males banget kalo disuruh belajar nyetir mobil dari dahulu kala!!! alesannya sih kan mobil cuman ada satu jadi males ah nyetir juga orang make mobilnya ajah jarang hehehe jangankan mobil… ada motor nganggur di rumah juga ga belajar belajar karena alesannya takut…. takut ma keadaan lalulintas dan takut item heheh

    tapi tau sih perlu juga belajar nyetir… sedang nunggu moment niat :D

    Natazya,
    Saran saya belajarlah selagi muda, semakin tua semakin takut….apalagi seperti saya…..

  32. Bux.to merupakan website yang bergerak dibidang PTC (paid to click), dari sekian banyak situs yang menyediakan program PTC di dunia maya ini. Bux.to dapat di proses dengan sangat mudah hanya tinggal men-klik dan membiarkanya selama 30 detik untuk mendapatkan komisi (uang).

    Perhitungan penghasilan :

    Jika anda mengklik 10 iklan /hari = $0.10
    jika 20 referr anda mengklik 10 iklan /hari = $2.00
    Jika pendapatan anda perhari = $2.10
    Maka pendapatan perminggu anda = $14.70
    Maka pendapatan perbulan anda = $63.00

    Singkatnya :
    Cukup luangkan waktu sehari sekitar 10 menit untuk klik iklan & cari temen untuk gabung di bux.to anda bisa dapat penghasilan yang lumayan, tanpa harus mengeluarkan biaya.

    Daftar klik ini http://bux.to/?r=romizone

    Anda ndak percaya ? bisa contact saya di web saya ..
    Makasih ..

    Romizone,
    Makasih….tapi saya belum tertarik, entah kapan-kapan. Sekarang masih mengupayakan agar konsisten terus menulis..

  33. Menyetir itu susah bu…
    Meski saya sudah punya SIM, tapi sejak ujian SIM saya tak pernah menyetir lagi
    Karena mobilnya nggak ada :mrgreen:

    Ardianto,
    Mungkin sebetulnya nggak susah…..hanya perlu niat untuk latihan terus menerus.

  34. “Edo,
    Kalau tempat tinggalmu dekat rumahku, bisa direcoki terus. Bagaimana bisnismu, berkembang baik kan?”

    hehehhe.. iyah. sayang ibu di depok sih heuihei..
    alhamdulillah bu. cuman sekarang lagi berfikir bagaimana caranya tidak sekedar tumbuh, tapi benar benar berkembang secara significant:)

    masih belajar terus bu :)

    Edo,
    Rumah saya di Cilandak (belakang Chitos), bukan di Depok….mungkin gara-gara dulu mengundangnya makan di Cafe Oh la la Margonda ya.
    Kalau Edo mau mengundang ketemuan di Chitos boleh aja…tapi habis Lebaran ya, kita boleh diskusi sepuasnya, karena dari Chitos banyak taksi BB, dan kerumah saya hanya bayar Rp.10.000,- (tapi saya suka ga tega, jadi ya dilebihin).
    Semoga sukses ya….

  35. Sulit mah nggak bun, biasakan aja, lama-lama juga terbiasa. sering2 aja muter2 komplek, nanti juga lancar. Repot memang kalo terbiasa punya sopir, sekarang si sopir mudik, ya…mobil resikonya bawa sendiri.

    Pakde,
    Sebetulnya persoalan pokoknya saya suka migren…dulu, kalau mau nonton, si mbak yang antri karcis, karena saya sering pingsan kalau lihat kerumunan orang banyak. Lha kalau nyetir, saat jalan sepi tak apa-apa, begitu jalanan rame, keringat dingin mengalir….
    Udahlah, mungkin memang sebaiknya jalan kaki aja….hehehe

  36. Bu satu mau tanya…
    mobilnya manual pake gear atau otomatic.
    Kalau mau enak buat nyetir mending otomatic. Yang kerja cuman kaki kanan dan handle aja. Bisa latihan di Game center juga tuh bu…heheheh

    Ikkyu_san,
    Masih manual…lha mobil yang jatuh karena menabrak pelataran parkir di Mall Jakarta, justru karena automatic, dan baru belajar 1 bulan.

  37. saya sampai sekarang gak mau belajar nyetir …. katanya sih capek …

    Muda Bentara,
    Hehehe…paling nyaman memang ada sopir, dan kita bisa menikmati perjalanan…

  38. cerita tentang SIM ada, keberanian yang nggak ada, saya jumpai stu kali, dua kali, lima kali, sembilan kali sembilan kali = …………
    Perlu ada program untuk mendirikan : Sekolah KEBERANIAN Menyetir…………. dan kalau sudah dibuka, selain ibu, istri saya juga akan mendaftar nampaknya. Salam kenal ya bu. Aku nggak jauh dari blog ini, kayaknya. Monggo mampir.

    Sonyssk,
    Hehehe…betul…bukan latihan menyetir, tapi kursus berani nyopir…hahaha

  39. hehehe, saya banget tuh. Dah punya SIM, dah pernah belajar nyetir tapi tetep ga berani nyetir….

    Reksa,
    Kayaknya kalau cowok mesti berani tuh, lha kalau nanti ngantar pacar bagaimana?

  40. menyupir cuman butuh keberanian …..

    klo dah punya dia pasti bisa ….

    kebranian timbul juga akbita seiring pengalaman yg didapatnya :)

    afwan auliyar,
    Betul…..dan keberanian ini yang sulit….entah kenapa, padahal saya sering kemana-mana bepergian sendiri….

  41. Bandung mah makin seram bu angkotnya. Istri saya dua kali angkotnya ditumpangi sekelompok penjahat yang suka menguras penumpang, terutama yang dibagian belakang. Dulu mereka minimal bertiga sering naik angkot Ledeng dari BIP. Merangsek mangsa dari kiri dan kanan, lalu bisa pakai copetan atau lipatan pisau si mangsa kena.

    Iwan Awaludin,
    Jadi teringat cerita anakku. Suatu ketika dia barengan naik angkot dengan temannya (cewek). Dia tahu bahwa si teman dikelilingi pencopet, bahkan saat si teman turun dari angkot, pencopet masih membuntuti sampai masuk kampus ITB. Teman anakku, rada nekat juga, begitu masuk kompleks ITB, dia ganti mendatangi si copet, teriak kenceng “Balikin dompetku. Awas kalau nggak dibaliki, tahu rasa kamu…” sambil pasang kuda2. Ternyata sang copet keder juga, dompet dibalikin, dan uangnya utuh.

    Yang aneh, kenapa copet tadi membuntuti ampai masuk ke kampus ITB?

  42. kalau bisa memilih, saya nggak nyetir. kadang mobil saya parkir di sebuah tempat lalu saya naik angkot atau ojek. atau kapan itu malah jalan kaki. saya menyetir karena terpaksa, tapi belum mampu menggaji sopir. :)

    enaknya naik turun angkot dan ojek lalu jalan kaki adalah saya bisa motret :))

    Paman Tyo,
    Saya membayangkan kalau ketemu paman, pasti bawa kamera.
    Betul kok paman, naik angkutan umum lebih nyaman….jika aman dan tak untel2an. Kita bisa istirahat, tak perlu tegang, dan sampai di tujuan.

  43. Saya rasa ini cuma masalah keberanian dan kebiasaan aja kok bu. Seperti orang yang main drum, dia mesti membagi konsentrasi pada kedua kaki dan tangannya sehingga bisa mengikuti irama. Tapi semua itu memang tergantung diri kita masing-masing kok, mana yang paling mudah dan nyaman dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan diri dan orang lain.

    Mufti AM,
    Hehehe…entahlah, mungkin kompetensiku dalam hal menyopir ini nyaris nol…..

  44. Bu Enny, saya mampir.
    Pengen banget kenalan sama Ibu.
    Saya juga dulu pengguna setia angkot, sampai dipaksa belajar mobil sama teman-teman; saya diantar sampe depan tempat kursusnya, ditungguin biar daftar. Hahaha… Saya mengkel banget waktu itu.

    Taunya baru 2 sesi aja saya lansung ketagihan, mobil yang nganggur saya embat aja (untung teman-teman pada baik), sampe waktu itu kursusnya gak saya selesaikan. Udah berani, jhe! :mrgreen:

    Pernah nabrak, udah pasti, sampe nyerempet orang naik motor dan harus biaya perawatan segala. Mobil sompel dan penyok? Gak jarang. Kata orang itu biaya supaya mahir.

    Kalau nurutin traumanya, sampe sekarang pasti gak bakal berani nyetir deh.

    marshmallow
    ,
    Wahh makasih kunjungannya, saya juga sering baca komentarmu di beberapa blog teman.
    Entahlah, mungkin karena hidup di Jakarta, yang segala sesuatu ada (dari becak, bajaj, angkot, bis kota, sampai taksi), membuatku belum terpaksa.

  45. Jujur Ibu …
    Saya merasa orang paling gagah sedunia kalo lagi ada di belakang setir …

    Rasanya kok keren banget gituh … (walaupun mobilnya pecahan chalenger ..)(alias tambal sulam)

    So aku hobby menyetir …
    terpaksa ataupun tidak

    Nh18,
    Teman2ku juga bilang begitu…..hehehe….aneh juga ya, padahal saya kemana-mana sendiri, tidur di hotel sendirian, terutama jika ada tugas mengajar. Paling sampai tujuan dijemput sopir, diantar ke hotel, dan besok paginya dijemput lagi untuk diantar ke tempat mengajar.

  46. Bisa nyetir tuh penting lho.. supaya kita gk ketergantungan ama orang lain.. jadi bisa lebih bebas kemana mana..

    Suciutami,
    Memang penting….

  47. Betul bu… perlu keberanian dan waktu untuk berlatih.

    Suatu ketika suami saya bekerja…. si kakak pada waktu itu sakit, sehingga saya harus membawanya ke rumah sakit.
    Karena saya tidak bisa menyetir, diputuskan naik ojek keluar komplek dan kemudian naik angkot ke RS.

    Dilalah tidak ada ojek bu, karena bulan puasa mungkin tukang ojek tarawih ya,…… akhirnya terpaksalah kami berjalan kami menempuh jarak +/- 400 mtr keluar komplek dilanjutkan dengan naik angkot.

    Si kakak akhirnya ngomel, mama sih gak bisa nyupir katanya begitu bu.

    Tini,
    Kebetulan saya dulunya tinggal di rumah dinas, yang dekat kemana-mana, sehingga tak ada problem jika keadaan darurat. Jika kita ada mobil, satpam yang sedang off bisa menjadi sopir, malah mereka senang mendapat uang tambahan, akibatnya memang tak tertantang.

  48. kalau melihat ibu semakin mandiri, tidak ada salahnya belajar “berani” lagi, enak lo bisa setir sendiri, kemana2 bebas …..
    dulu istri saya juga seperti itu…. lalu saya kompori, yah lumayan sekarang sudah berani sendiri ….. walaupun harus nyerempet pager beberapa kali saat parkir ….. tapi semakin pede aja.

    Jakatan,
    Itulah pak, sampai saat inipun, keberanian belum muncul juga….tapi benar, karena belum terpaksa.

  49. wah asik dunk bertambah ‘supir’ di rumah.. tapi kalau di jakarta aku juga udah gak bisa kali kalau disuruh langsung nyupir.. selain beda jalur dan lalu lintas nya yg padat (bikin ngeri :-p), udah lupa juga ganti2 gigi mesin-nya..
    Kalau disini, dulu latihannya di Fairfield yang memang termasuk sepi jadi enak. Pakai Honda Accord tahun 92 yg dibeli $1000 tapi lumayan pas dijual laku $900 :-p

    Lis,
    Di Jakarta tambah macet ga karuwan, dan sepeda motor makin banyak. Tapi menurut saya, Jakarta masih lebih teratur, dibanding Bandung.

  50. Th. 1996 sdh punya SIM & nyetir mobil sampai ke Pelabuhan Ratu & Lampung.
    Th. 1997-2001 menyetir mobil di Perancis pake SIM International dr Indonesia.
    2001-2004 kembali ke Indonesia, jalan semakin macet, biar lebih cepat sampai maka ganti menyetir motor. Tentunya gaya tukang ojek, kalau mengikuti peraturan polisi, pastilah tak pernah sampai tujuan (Polisinya aja nyetir motor juga begitu)
    Juli 2008, ujian SIM di Perancis ternyata kagak lulus, duh.
    Besok hari senin, 29-9-2008 maju ujian lagi. Aku berusaha utk dapat SIM, soalnya di kampung Le Creusot bakal mati perlahan jika tak punya SIM.

    Juliach,
    Kalau di luar negeri kayaknya memang harus bisa menyetir, kecuali kalau tinggalnya di kota besar….

  51. aduh sy juga pusing..dah punya sim gak berani bw mobil..
    mana suami sering dinas keluar lagi..
    yah sudah naik ankot terus nih..
    gmn bisa berani bw mobil…hellllppp me…please..
    kasian jg anak2.. apalagi kalo hujan..
    yah cuma bisa pasrah aja…skr sy blajar lg muter2 komplek
    yah msih aagak bingin.. dan takut.. itu..tu mikirnya gmn kalau nabrak?????????//

  52. Mama saya juga sama. Sebenarnya dulu mama saya pernah nyetir mobil, dan mempunyai SIM. Tapi setelah punya sepeda motor jadi malas naik mobil. Sampai sekarang masih tdk mau, saya sudah mohon-mohon karena sekarang jadi susah .
    Jika papa saya pergi jadi susah apalagi kalau hujan jadi ngerepoti tetangga.
    Jadi susah


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: