Oleh: edratna | Oktober 19, 2008

Sebuah cincin kawin

Suatu ketika, di ruang kelas Ilmu Tanah, Guru Besar Ilmu Tanah sedang memberikan kuliah. Sahabatku, berkali-kali mencolek tanganku, namun tak saya perhatikan karena saya sibuk mencatat. Tak lama kemudian terdengar bisikan temanku tadi, “En, perhatiin deh. Gue seneng deh sama bapak ini, lihat tangannya, pakai cincin kawin.” Saya tetap tak menggubris, agak sebal juga atas gangguannya, yang membuyarkan konsentrasiku untuk mencatat materi perkuliahan. Selesai kuliah saya tanya, ” Apaan sih, orang sibuk mendengarkan kuliah, kamu malah meributkan soal cincin kawin.”

Alasan temanku, pemakaian cincin kawin, menunjukkan kebanggaan seorang suami, dan suami tadi memberi tahu pada orang disekitarnya, bahwa dia sudah menikah, dan secara tak langsung mengirim signal ke cewek lain…“Jangan ganggu saya, karena saya sudah punya isteri.”

Saya tak sependapat, karena sampai seumur saya saat itu, saya termasuk orang yang malas menggunakan perhiasan emas, hal yang membuat ibu alm sering prihatin. Entah kenapa, tangan saya suka gatal kalau pakai cincin, dan ada rasa nggak nyaman, jadi saya hanya pakai anting dan jam tangan. Bagi saya jam tangan lebih penting, karena untuk mengatur waktu. Anting yang saya pakai juga kecil, sederhana, paling-paling beratnya hanya 1-2 gram, dan anting ini sering tinggal sebelah karena jatuh entah dimana. Jadi saya punya koleksi anting yang hanya tinggal sebelah.

Saat keluarga suami telah resmi melamar kepada kedua orangtua saya, kami sepakat memakai cincin tunangan, yang dibeli di Pasar Cikini, pasar yang saat itu terkenal dengan mutu emas nya yang bagus. Dan sahabat cowokku langsung komentar…”Duhh yang udah punya tunangan. Harus hati-hati nih, nanti ada yang marah jika dekat-dekat.”

Setelah menikah, cincin kawin masih setia melekat di jari manis tangan kananku. Suami, yang awalnya selalu memakai cincin mulai merasa gerah, apalagi jari tangannya membesar (makin gendut), sehingga cincin makin melesak ke dalam. Saya juga punya perasaan sama, walau bukan karena berat badan bertambah, tapi karena merasa gatal. Sering cincin saya lepas, dan tangan saya beri salep…dan suatu ketika sang cincin tak diketemukan, menyelip entah di mana. Pada akhirnya kami sepakat, kedua cincin disimpan saja, toh untuk membuktikan sebuah cinta tak harus ditunjukkan dengan memakai cincin kawin.

Budaya di Indonesia tak mewajibkan pemakaian cincin, jadi orang nggak ada yang pernah bertanya kepada saya, kenapa nggak dipakai cincinnya dan sebagainya. Namun hidup di negara lain, budayanya berbeda, karena orang akan melihat status seseorang dari pemakaian cincin. Jika memakainya di jari manis tangan kiri, maka orang tersebut masih tunangan, dan sudah menikah jika memakainya di jari manis tangan kanan. Pada film Korea yang saya tonton, ternyata ada budaya mengenakan cincin di jari kelingking, dan biasanya pemakaian cincin di jari kelingking tak ada hubungan dengan status seseorang apakah sudah menikah atau belum. Agak aneh, tapi ya itulah, beda bangsa, beda budayanya.

Setelah bekerja, saya mencoba memakai kalung, gelang, mengikuti teman, karena saya melihat teman saya terlihat feminin. Namun ternyata tak bertahan lama juga. Padahal setiap kali saya pindah unit kerja, saya dapat kenang2an perhiasan, entah berupa cincin, gelang, maupun kalung. Kadang saya berpikir, jangan-jangan teman atau anak buah saya melihat, saya tak pernah pakai perhiasan dan ini adalah dorongan secara halus agar saya mulai memakai perhiasan, selain anting dan jam tangan.

Suatu hari, sekretarisku masuk ke ruanganku, agak lama dia memandangku, membuat saya bertanya-tanya. Akhirnya dia memberanikan diri berkata. “Ibu, kok antingnya hanya tinggal sebelah? Apa jatuh?” Saya meraba telingaku, dan kemudian dengan tenang menjawab.”Ya, udah, nanti istirahat mau ke pasar Benhill enggak? Kalau iya, saya mau minta tolong untuk dibelikan anting,” jawab saya. Awalnya sekretaris melongo, senyum ditahan, dan akhirnya tersenyum lebar. “Ahh ibu, ada-ada aja…atau perlu saya belikan di pasar Baru atau blok M? Yang modelnya mungkin lebih banyak?“, tanyanya. “Ahh, nggak usah, ntar juga hilang lagi,” jawab saya.

Entah karena di beli di pasar Benhill, atau apa, sampai sekarang anting-anting ini masih lengkap. Sekarang saya masih jarang memakai anting, apalagi jika cuma jalan-jalan, saya lebih suka memakai jeans dan T shirt, rasanya lebih nyaman hanya memakai jam tangan, apalagi juga tak menjadi incaran tukang copet.

About these ads

Responses

  1. wah, saya juga ndak begitu nyaman kalau mensti pakai cincin kawin, bu, rasanya kon gimana gitu, hehehe … tubuh saya nyaris miskin asesoris, bu, hiks, jam tangan ndak pernah pakai, cukup lihat di hp, juga yang lain, apalagi saya termasuk orang yang pelupa, hiks. btw, bisa jadi bu enny ndak suka pakai perhiasan lantaran juga sikap kebersahajaan dari ibu yang ndak suka berikap riya’.

    Sawali Tuhusetya,
    hehehe…sebetulnya saya suka pakai perhiasan pak, cuma karena gatal, lha ya terpaksa dilepas.
    Tapi ada juga lho pria yang suka pakai bermacam cincin….saya sih senang melihatnya, apalagi jika batu nya disesuaikan dengan warna dasi atau hem nya…kayaknya keren gitu lho….

  2. gini aja, mungkin kita mengganti cincin kawin itu dengan simbolisme yang lain…pasti lebih seru…. hehehehw

    Arul,
    Sebetulnya para orangtua zaman dulu membekali putra putrinya dengan perhiasan emas, artinya bisa ganda, selain dipakai sebagai asesoris, juga bisa sebagai investasi…sewaktu-waktu dapat dijual jika membutuhkan dana.

  3. saya jadi teringat akan seorang teman yg asli berkebangsaan Rusia bilang sambil heran : “Di jari dia tidak ada cincin, Rie”.Saya bilang Sependek yang saya tau di negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia maupun Indonesia tidak ada keharusan menggunakan cincin tsb utk penanda sudah bertunangan/menikah atau belum, apalagi kalau karena faktor ekonomi yg mengharuskan cincin tsb dijual demi urusan perut. Utk India jg penanda kalau sudah kawin bentuknya coretan di Dahi

    Arie,
    Cincin kawin dewasa ini adalah hal yang lumrah digunakan di Indonesia. Kalau zaman dulu, calon pengantin perempuan memang mendapat seperangkat perhiasan saat seserahan, dan bagi para perempuan adalah suatu kebanggan jika memakai perhiasan….dan ini juga didorong oleh suami karena akan menunjukkan status dari keluarga mampu. Dalam perkembangannya, cincin merupakan simbol, dan memang baik jika terus dipake. Yang jadi masalah jika alergi seperti saya, atau pelupa. Sebetulnya alerginya hanya cincin, kalung tak masalah…tapi saya sering kehilangan kalung entah jatuih dimana …terus anting yang sering tinggal sebelah. Jika bekerja, saya minimal pake anting, kadang2 kalung (kalau lagi ingat)…yang tak boleh lupa adalah jam tangan.

  4. Ah, perhiasan, ibu saya tidak begitu suka pakai perhiasan. Selain itu ayah saya juga nggak suka kalau ibu saya pakai perhiasan banyak-banyak…

    Alhasil, saya nggak pernah lihat ada barang emas di rumah :lol:

    Ardianto,
    Secara pribadi saya suka melihat cewek pake perhiasan, apalagi yang serasi. Perhiasan ini tak harus dari emas bukan? Kalau dulu memang hanya dari emas, namun saat ini banyak dijual perhiasan dari batu2an yang menarik.
    Masalahnya saya tak awet jika pake perhiasan, sering hilang atau jatuh….dan khusus cincin kawin, karena gatal…entah kenapa.

  5. saya mah ngasih emas batangan ke calon istri aja bu, lambang cinta murni 24 karat hehe

    Eric,
    Saya juga mau kok kalau dikasih emas batangan dari Eric…kata anakku, koleksimu sudah banyak ya?

  6. buat yg komen di atas (Eric):
    emas batangan? hahahaha…itu mah investasi namanya :P

    Klo mama+papaku cincin kawin malah ditaro d dalam bingkai (kaya bingkai foto) yg ada puisi “janji pernikahan” trus dipajang di dinding….yg dulu kukira souvenir pernikahan hehehe…

    Poppy,
    Wahh bagus juga tuh idenya…gara-gara cari tempat untuk cincin pek tong, yang mau dititipkan ke temannya (cincinnya ketinggalan)….akhirnya terpaksa mengobrak-abrik almari…dan disitulah, dipojokan, ada dua cincin kawin….yang karena emas 24 karat, udah benjol-benjol…..

  7. assalam,

    hafi juga gag doyan perhiasan …
    keluar rumah cuman pake jam tangan .. itu juga hadiah ultah dari temen .. ke..ke..ke..kk …

    tapi maunya ..
    nnti setelah menikah ..
    cincin tetap di pakai hingga tua …
    amiinn …
    hafi termasuk setuju ama pendapat temannya mba ratna ..

    Hafi,
    Bagus tuh, kalau bisa pake cincin sampai tua….

    oks deehh ..
    salam kenal .. :)

    -hafi-

  8. simple bgt ya mbak …. :)
    keknya kelak klo say jd suami, mo di pake ato nggak yak cicinnya !?!? hihihih :)

    afwan auliyar,
    Sebetulnya sih kalau tak ada alergi, atau pelupa, sebaiknya dipake terus…bukankah menyenangkan jika suami isteri tetap bisa pake cincin kawin.
    cerita diatas, kan untuk saya, yang kebetulan alergi (gatal2) jika pake cincin….

  9. wah beda banget ni ama ibu² yg laennya!! kadang ada ibu² yang make perhiasan segede rantai huahuahuaha,,

    zoel chaniago

    Jangan salah, saya sesekali juga pake perhiasan, jika ke kantor (sekedar pake jam tangan dan anting), ke kondangan (ini lebih lengkap, tergantung model bajunya…bisa dari emas atau batuan lainnya).
    Sehari-hari saya memang lebih sederhana, bukan nggak suka, hanya karena kepraktisan dan karena pelupa. Secara pribadi, saya senang melihat cewek pake perhiasan yang sesuai dan menarik.

  10. Cincin pertunangan/pernikahan saya cuma tahan beberapa bulan, setelah itu saya nggak telaten make dan melepas-nya, akhirnya cuma disimpan oleh istri saya … hehehe

    Oemar Bakrie,
    Memang tergantung orangnya pak, yang penting isteri memahami, dan tak mendjadi masalah baginya….

  11. buat saya …ukurannya jangan cincin kawin mungkin ya…nanti kita kecele/kecewa…pikirnya kalau pakai cincin kawin…tidak hanya keren,ada yang sebagai tanda setia…Apa iya ??…
    Buat Ibu ibu yang suka pakai perhiasan….seperlunya saja ,,,sekarang bahaya…he..he..banyak jambret..

    Dyahsuminar,
    Bukankah udah banyak perhiasan imitasi bu? Emas putih dan perak sekilas kan mirip saja…tapi mungkin penjambret tak pandang bulu ya….asal menjambret saja.
    Sebetulnya pake cincin, hanya tanda status pemakainya seperti apa…tentang kesetiaan…tergantung dari hati masing-masing….

  12. Bunda bisa aja…saya jadi…mmmh…jadi malu…kalo saja ia tahu saya tidak memakainya…wah repot nanti….(ssssssst bunda jangan bilang2 ya…).

    Gaya hidup mempengaruhi juga bun…Profesi juga….

    Pakde,
    Memang sangat tergantung orangnya kok…dan antara pake dan tidak, sebetulnya tak masalah.
    Sama seperti halnya ada yang lebih suka pake celana panjang (cewek) dibanding rok, ini hanya unsur kepraktisan, dan akhirnya banyak perusahaan mengakomodasi bahwa karyawati boleh pakai celana panjang, asal disesuaikan dengan budaya perusahaan (tak boleh pake jeans dsb nya)

  13. Kayaknya laki/bini yang cinta pasangannya diukur dari “makai cincin kawin atau tidak” itu terjebak dalam tataran simbolis belaka, belum tataran “meaning”…

    Saya memakai cincin kawin hanya 2 tahun saja. Setelah punya rumah sendiri, dan punya anak 1, tubuhku melar dari 46 kg menjadi 56 kg. Cincin sudah sulit dipasang dan juga dicopot (kalau mau dicopot harus pakai sabun atau minyak goreng dulu…hehe…kayak bayi mau dilahirkan aja…)..

    Setelah sekolah di LN yang ukuran makanannya (ayam, sapi) besar-besar, dalam 10 bulan tubuhku melar 10 kg menjadi …..saya lupa kg-nya, tapi menjadi 143 pounds !!

    Cincin yang kekecilan tadi selalu saya simpan di dompet, kalau ada cewek lain yang nanya (baik iseng maupun serius) dimana cincin kawinmu, lalu saya ambil dari dompet dan saya tunjukkan. Kenapa tidak kamu pakai. Lihat nih, kekecilan. Akhirnya saran mereka ada beberapa : 1) lebur cincin aslinya, beli yang baru yang sudah cocok dengan ukuran tubuh sekarang 2) cincin yang lama biarkan saja, beli baru dengan ukuran baru….

    Mungkin ide yang bagus ya ?

    Tridjoko
    ,
    Teman-teman yang suka pake cincin kawin memberikan 2 alternatif; 1) Lebur cincinnya, buat model baru, 2) jika punya uang, simpan cincin lama, beli yang baru sesuai model yang lagi “in”

  14. Kalau di US sering kali pasangan yang sudah menikah untuk waktu lama renewal pernikahan mereka sekalian membeli cincin baru apabila sudah tidak fit lagi. Dan bahkan ada beberapa pasangan yang tidak perlu renewal untuk membeli cincin yang baru karena kekecilan. terimakasih

    Yulism,
    Benar…teman-teman saya juga seperti itu. Seperti komentar saya pada Tridjoko……

  15. saya termasuk yg jarang pakai cincin bu :)

    Elys Welt,
    Saya alasannya bukan ga suka (saya suka banget lho lihat cewek cantik, pake asesoris yang sesuai, dan baju, sepatu serta tas nya serasi). Masalahnya cuma gatal di tangan…dan suka hilang….hehhe…dasar memang ceroboh ya.

  16. suami saya juga punya prinsip yang sama, sejak menikah hari pertama cincin gak pernah dipakai :)
    Kalau saya, berbeda dg bu enny, cincin adalah perhiasan favorit :) jadi cincin kawin awet saya pakai, sampai akhirnya gak cukup karena badan melar :)

    Wulan,
    Sebetulnya senang kok pake cincin…saya cuma karena gatal aja….
    Cowok juga tergantung orangnya, bos saya dulu rapih sekali, setiap hari cincinya ganti, batuannya disesuaikan dengan warna hem dan dasinya…..saya yang cewek malah kalah….

  17. salam ,…
    wah sama dong karena saya juga ga pernah pakai perhiasan emas seperti sampean…. bukannya ga punya lo….. tapi ya karena ga suka kalo makai perhiasan emas..
    salam..

    Banyuagung,
    Orang memang berbeda selera…justru itulah dunia ini menjadi rame dan indah…kalau sama kan nggak enak…

  18. Saya juga tidak suka berperhiasan Bunda, bahkan pake bedak aja cuma seminggu sekali, pas weekend aja, selebihnya saya polos :)

    Rindu,
    Kalau wajah, saya malah suka pakai macam-macam…dari mulai cream untuk siang, suncare (pelindung matahari), foundation…baru bedak. Karena pekerjaan saya menuntut tampil rapih…dan perhiasan pake anting.
    Kalau nggak pake bedak, kasihan yang tatap muka sama saya, lha wajahnya bisa berkilauan karena berminyak.

  19. Perhiasan emas itu berat Bu… berat secara material berat dari valuenya, saya tidak terlalu senang memakai perhiasan kesannya ribet, sekali-kali saya suka mengenakan gelang atau cincin etnik dari material alternatif, terkadang memakai emas untuk kesempatan tertentu. Tapi saya senang dan menerima dengan ikhlas pemberian emas dari siapa saja… hehehehe…

    Wedding Ring? hmmm nggak harus dari emas kan Bu…? ;)

    Yoga
    ,
    Saya banyak lho punya koleksi perhiasan, dulu cuma ingin beli aja, terus juga ada beberapa dikasih sebagai kado…tapi memakainya yang suka lupa, apalagi pusing kalau mikirin mesti ganti-ganti..lha tiap hari berkejaran dengan waktu.

    Bwtul….wedding ring bisa dari apa aja…sekarang modelnya emas putih….

  20. saya juga suka bingung kalo ada yang nanya cincin kawin.. dulu saya belinya dadakan jadi seadanya deh, ga mesen yang aneh2, ukurannya juga kegedean, jadi males pakenya.. yang penting kan cinta ya bu.. hehe.. :D

    Nungqee
    ,
    Betul…yang penting cinta….
    Tapi mungkin jika di negara lain, bisa menimbulkan pertanyaan, karena budaya yang berbeda, kalau di Indonesia orang tak mempermasalahkan pake cincin apa tidak….

  21. Semoga sedang tidak “hangat-hangat tahi ayam” maka saya pakai cincin kawin dimanapun dan kapanpun kecuali mandi :)

    Donny Verdian,
    Jika tak ada masalah alergi sebaiknya dipakai terus…mandi juga boleh dipake kok, cuma pas menggosok pake sabun hati-hati karena bisa lepas karena licin.

  22. Saya nggak suka pakai perhiasaan emas. Suka yang etnik dan silver. Dilatarbelakangi dengan kecerobohan saya yang lumayan parah (sama seperti ibu Enny.. hihi), maka saya beralih ke aksesoris yang murah saja. Biar tidak ‘gelo’ kalau hilang… :)

    Seperti Ibu Enny, saya malah merasa ‘telanjang’ kalau nggak pakai jam tangan. Bisa uring-uringan. Makanya, setelah mandi, saya langsung pakai jam tangan biar nggak kelupaan…

    Cincin kawin yang melingkar terus di jari manis tidak melulu menunjukkan kesetiaan Bu. Sama seperti cincin kawin yang akhirnya harus disimpan di laci pakaian karena memang sudah kesempitan atau takut hilang…

    Cinta lebih dari sekedar cincin kawin, kan?

    Have a great day, Ibu!
    (psst, hari ini saya kirim sesuatu buat Ibu lho..)

    Lala
    ,
    Kiriman udah diterima…makasih banget…
    Oya nih, saya parah banget deh dengan barang kecil-kecil, makanya jangan mimpi beli berlian, bisa nangis bombay kalau hilang…..hehehe

  23. cincin itu malah saya taruh di kalung di leher…he he

    Dunia laut,
    Wahh ide bagus itu mas Iman…kalau dileher kan tak membuat alergi, karena tak terlalu menempel di kulit…

  24. Terakhir kali saya ngobrol soal cincin kawin dengan Grandad Joe yang bermukim di Colorado, Amrik sono. Beliau bilang… “Saya mungkin akan memakai cincin kawin saya sampai Christmas atau New Year tahun ini, mengingat saya belum punya pacar.” (bulan ini bulan ke-5 Grandad Joe men-duda setelah Jan meninggal karena kanker).Mungkin buat negara lain, cincin kawin memang simbol yang penuh makna…

    Saya memang belum menikah, bu Enny. Namun, saya sangat menghargai lelaki yang memasang cincin kawinnya di depan umum. Mungkin saya yang kelewat pemimpi, tapi buat saya, orang-orang seperti itu adalah orang yang sangat menhargai pernikahannya dan (kemungkinan besar) adalah orang yang punya prinsip “My Wife is My Partner of Life” :D

    Hehehhe… mohon bimbingannya, bu Enny.. kalau-kalau impian saya ketinggian :p

    Darnia,
    Semoga nanti ketemu suami yang memang mau memakai cincin kawin terus menerus dan tak ceroboh…..
    Dan andaikata hilang, jangan sampai jadi bahan pertengkaran, karena cinta tak sekedar diukur dari sebuah cincin (tak semua cowok bisa memakai barang dengan rapih)

  25. di indonesia juga kadang ada kok orang yang menghargai banget cincin kawin

    Andyan
    ,
    Betul…sangat tergantung pada orangnya.
    Kalau baca tulisanku, bukan kok saya tidak menghargai, tapi kulitku alergi jika pake cincin, lha daripada gatal terus menerus, dan malah ga bisa kerja (garuk-garuk terus)….lha lebih baik dilepas. Tentu saja ini juga telah dibicarakan dan disetujui kedua belah pihak (suami isteri).

  26. sama bu… saya juga gak suka pakai perhiasan… mungkin yang akan saya pakai cuma cincin kawin itu… walaupun gak tahu kapan :D

    Itikkecil,
    Waktu itu akan tiba, tenang saja…..

  27. dulu iya saya pakai cincin kawin. Tapi sepertinya kok malah bisa mudah rusak, hehehe maklum dech kerja kuli. Daripada cincinnya tergores, ya saya simpan saja di lemari :) Yg penting saya selalu ngaku sudah punya anak istri kalo kenalan sama perempuan muda ( dan cantik?) hehehhe…

    Setiaji,
    Memang ada beberpa pekerjaan yang tak memungkinkan pake cincin, karena tergores, dan bisa terluka oleh hal-hal lain. Yang penting hal ini disadari oleh isteri dan tak menimbulkan permasalahan.

  28. Bunda..

    yessy dan suami tidak mengenakan cincin kawin..

    awalnya..suami tidak menggunakan ..karena katanya…sayang..setiap hari dia bergulat dengan oli..mesin mobil..maklum..dia kan pemilik bengkel mobil.

    Lalu…yessy masih memakainya..benar..untuk tujuan memberitaukan kepada dunia..hey..i am married..jangan ganggu saya.

    Tapi..emang pada dasarnya gak suka segala sesuatu yang berbau emas..maka kemudian pelan pelan saya tanggalkan

    sekarang..saya dan suami sama sama tidak mengenakannya..
    kami tidak mengenakannya di jari kami..tapi pastinya di hati kami…

    *hihihi yessy bisa juga serius ya bunda :P*

    yessymuchtar,
    Senang sekali membaca ungkapan ini…
    …kami tidak mengenakannya di jari kami..tapi pastinya di hati kami…

  29. wanita tidak perlu perhiasan untuk menjadi cantik. beda ya bu, kalau sudah cantik dari hati. :)

    Chilonic,
    Memakai perhiasan bukan untuk cantik….cincin kawin untuk pertanda bahwa sudah menikah
    Sekarang juga banyak perhiasan yang menarik dan tidak mahal…dan pada dasarnya saya senang melihat orang memakainya….

  30. Sudah ndak pake cicin kawin lagi, gak tahu.. sepertinya jari manisnya semakin gemuk ajah

    Hedwig
    ,
    Ini memang alasan utama…kenapa banyak yang nggak pakae cincin…padahal kalau kata tukang emas, sangat mudah untuk dilonggarkan …hehehe

  31. HHHHmmm …
    saya tersenyum membaca postingan Ibu …

    Ya …
    Yang saya dengar banyak yang alergi dengan perhiasan Emas …

    Kalau saya ?? mmm tidak … saya tidak alergi … (hehehe)(cowok matre dong saya …)
    (maap bu … opdetopik)

    NH18,
    Iya pak…sebetulnya kalau tak alergi, mungkin cincin kawinnya saya pake terus…hehehe

  32. …. toh untuk membuktikan sebuah cinta tak harus ditunjukkan dengan memakai cincin kawin.

    Setuju banget bu .. cincin kawin itu sebenarnya cuma tanda, dan menjadi bagian dari seremoni saja bu.

    Jadi saya juga males menggunakannya. Apalagi dalam agama islam .. pria dilarang menggunakan perhiasan yang terbuat dari emas. Klop dah :)

    Tapi bu .. kalo untuk menghadari acara² resmi, misalnya kondangan, apakah ibu tetap tidak menggunakan perhiasan?

    Erander,
    Kalau kondangan ya jelas pake perhiasan yang sesuai, kalau tidak kasihan suami kan? Betapapun sebagai perempuan saya juga pengin tampil cantik dan memakai pakaian sesuai kesempatan yang ada…tapi kalau untuk sehari-hari, saya hanya pake anting (kalau tak lupa)…dan yang jelas jam tangan
    Memang dalam agama Islam pria dilarang pake perhiasan ya?

  33. tanpa perhiasan mungkin memang lebih praktis ya, bu? saat praktek dan harus sering mencuci tangan dengan alkohol, perhiasan bisa berkurang kadarnya.

    saya juga tidak suka menggunakan perhiasan, kecuali di momen-momen khusus, itu pun biasanya material lain yang disainnya bisa kontemporer atau etnik.

    tapi saya tau beberapa daerah di indonesia yang perempuannya punya kebanggaan tersendiri bila memakai perhiasan emas yang banyak dan besar. dan kalau sudah begitu saya pikir jatuh-jatuhnya bukan ingin terlihat cantik lagi, tapi riya.

    Marshmallow,
    Kalau kondangan, ada acara resmi, tentu saja saya berpakaian dan menggunakan perhiasan.
    Tapi untuk kegiatan sehari-hari, mengajar, ke kantor…hanya pake anting dan jam tangan.

    Lagipula, sebagai isteri kita harus berdandan cantik kan, biar suami bangga …hehehe…

  34. kalau nanti saya sudah memiliki cincin kawin, keknya bakal dipakai terus…

    sudah lama memimpikan cincin kawain :)

    Easy,
    Semoga segera ada si Dia yang akan memakaikan cincin di jari manismu…..

  35. Sebelum akan menikah, saya dan istri bersepakat tidak memakai cincin kawin,.. walau di mahar nkahnya ada cincin, itu jd simbolitas saja bu,… dan saat ini tanpa cincin kawin pun saya tetap berstatus suami orang :)

    Avartara,
    Yang penting kesepakatan suami isteri, dan hal-hal apa yang dirasakan nyaman…

  36. hehe…yang suka pakai aksesoris malah saya, bu Enny. istri saya nggak krasan kalo pakai sesuatu.
    tapi saya nggak suka yang berwarna emas. saya suka warna silver, giok, yang kesannya ‘black’ gitu lah. :D

    goenoeng,
    hehehe….sekarang memang banyak cowok yang pake perhiasan, dan sah-sah saja…..

  37. apalagi saya, keknya bakalan malas deh make2 yang kek gituan. arloji aja malas make. maklum, bu. orang superceroboh. hwehe…

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Waduhh ini kok kayak sulungku….hanya hidungnya aja yang nggak ketinggalan, karena menempel…..hehehe

  38. hmmm… jadi ingin pakai cincin kawin cepat cepat ;)

    oh saya juga jarang bu pakai perhiasan… anting yang nempel di kuping ini karena sudah ada dari bertahun tahun lamanya dan ga ganti ganti semata mata karena supaya lubang nya ga ketutup…

    pakai cincin cuma satu warisan dari nenek buat tiap cucu tertuanya… benar benar menunggu cincin kawin heheh

    kalung sih sering pakai… tapi lebih pada aksesoris dan tergantung baju yang dipakai… bukan perhiasan kalau menurut saya yang begitu jatuhnya mah..

    Natazya,
    Cewek dan asesoris, memang merupakan kesatuan….dan betapapun polosnya mesti ada yang dipakai. Persoalan asesoris tadi dari emas murni atau bukan, tergantung selera, apalagi sekarang banyak asesoris yang menarik dan harga terjangkau.

    duh duh duh repot bener yah hehhe

  39. Kalo liat komen di post ini kayaknya statistiknya mesti diulang khusus untuk blogger, bu .. barangkali dicoba polling yang baru difasilitasi wordpress,
    “apakah anda selalu memakai cincin kawin?”
    ( ) selalu ngga
    ( ) pakai selalu
    .. hehehe jadi kayak iklan apa ituh ..
    saya termasuk yang make cincin kalo pas kondangan.com .. itu juga dalam perjalanan pulang biasanya saya buru-buru lepas untuk diselamatkan istri .. hihi

    draguscn,
    Betul juga ya….dan jawabannya yang beraneka macam tadi bisa diolah…..jangan-angan malah bisa digunakan untuk menyusun thesis……hubungan antara perempuan, asesoris dan kesetiaan dalam perkawinan….

  40. kalo saya bukan gak mau pake bu
    tapi memang belum ada. masih mencari pasangan yang cocok untuk bertukar cincin

    Satya Sembiring,
    Yang penting cari pasangan dulu yang cocok, nanti baru mikirin mau pake cincin model apa….

  41. hmmm, tampaknya tergantung dari orangnya…

    Singal,
    betul pak, tergantung pada orangnya….

  42. Waah … kayaknya saya jadi makhluk asing di sini :D

    Habis, semua nggak suka pakai perhiasan, padahal saya suka mengoleksi berbagai perhiasan (kecuali anting-anting, soalnya tertutup jilbab jadi nggak ada gunanya). Paling banyak koleksi saya adalah cincin, kalung, gelang dan bros, dari bahan emas, maupun batu-batuan etnik. Kotak-kotaknya sampai saya beri nama, supaya mudah mencari yang matching dengan pakaian. Kalau nggak diberi nama, sering stress bukain kotak-kotak untuk menemukan yang dicari, apalagi kalau lagi terburu-buru … :D
    Tapi begitu sampai di rumah, semua perhiasan saya copot, soalnya kalau dipakai kerja beresin ini-itu di rumah suka nyangkut …

    Cincin kawin saya dua, soalnya yang pertama dulu terbuat dari emas 24 karat, sehingga terlalu lunak dan bentuknya jadi benjol-benjol. Cincin kedua dibeli suami saya 15 tahun setelah menikah. Tapi memang nggak dipakai sih, cuma disimpen aja.

    Begitulah, orang ternyata beda-beda. Ada yang seperti Mbak Enny, nggak suka perhiasan. Ada yang kayak saya : cincin, gelang, kalung, bros harus serasi dengan baju (kalau nggak gitu, produsen perhiasan bangkrut dong … hehehe)

    Tutinonka,
    Wahh mbak Tuti nih memang terlihat kalau rapih. Saya bukannya nggak suka mbak, sejak bekerja saya juga beli perhiasan, tapi lebih banyak cuma disimpan, dipakainya sesekali kalau kondangan (kali orang juga bosan lihat saya pake nya itu-itu aja). Saat kemarin bongkar-bongkat mau cari tempat cincin buat dikirim ke si sulung lewat temannya (cincin nya ketinggalan), lha ternyata perhiasan saya lumayan beraneka jenis. Tapi memang ya itu tadi, males banget jika setiap kali gani-ganti….dan memang suka hilang.

    Kalau cincin, memang entah kenapa saya gatal terus tangannya, terus ber bentol-bentol, padahal kalau kalung nggak apa-apa. kalau gelang saya bingung, karena suka nggak konsentrasi kalau dengar krincing-krincing terus…hehehe…..dasar males ya saya….

  43. cincin kawin yg pake hanyalah istri saja, cincin itu pula sbg mahar pernikahan kami, namun bulan-bulan belakangan ini nggak dipakai lagi karena kesempitan

    rupanya istri berat badannya naik hihi, gak masalah bagi sy mau dipakai atau tidak, sy setuju dengan kata2 bu edratna, cinta tidak harus dituangkan dalam bentuk pemakaian cincin kawin

    Adit,
    Kalau kesempitan sebetulnya mudah kok diperlonggar di tukang emas…ini kalau masih suka memakainya lho….
    Alasan utama saya sesungguhnya adalah alergi ….tapi pake kalung, gelang dll tak apa-apa, dan entah kenapa hanya cincin yang bikin alergi.

  44. Asal jangan dari emas saja Bu … kalau lelaki memakai emas ngak boleh kara Rsulullah. benar ngak sih?

    Ersis,
    Saya baru dengar dari bapak dan bang Erander, kalau laki-laki pake perhiasan emas nggak boleh…benarkah?

  45. Saya menikah tiga kali, tapi selalu saja beli cincin hanya satu, untuk istri… Kan saya ga ketahuan kalau udah punya istri… Jadi bisa cari lagi…
    *hiks.. becanda bu!… kekeke

    Andy MSE
    ,
    Beli cincin banyak juga nggak apa-apa kok pak, tapi kan yang berupa cincin kawin hanya satu….ada juga kok yang setiap jarinya pake cincin.

  46. saya sebetulnya ingiin sekali pakai cincin kawin, apadaya ditempat kerja hal itu tidak diperkenankan . Bahaya membuat cacat mesin pencetak.
    Jadi yaa apa boleh buat, jari jemari saya mulus ndak ada apa-apanya. tapi saya tetap berusaha untuk terus setia.

    Mascayo,
    Betul, bidang pekerjaan tertentu, tak membolehkan pake perhiasan, terutama cincin…seperti dokter yang setiap kali harus mencuci tangannya….

  47. maaf baru berkunjung..,

    cincin itu simbolis yah..? tapi masalah penting atau tidaknya simbol itu sangat tergantung budayanya yaks…?

    btw di keluarga…, bapak ibu dan saudara sekandung.., hampir seluruhnya ga suka pake perhiasan…, apalagi emas… :)

    gbaiquni,
    Memang cincin kawin itu simbolis, dan bukan budaya asli Indonesia. Tapi dinegara tertentu, memang ada kewajiban moral untuk memakai cincin polos untuk menandakan sudah terikat atau belum….

  48. cincin kawin saya emas asli tanpa campuran, karena suami dari kisaran (sumatera utara) yang tidak begitu tertarik dengan emas campuran, sehingga warnany kuning banget dan kebetulan pula kakanya suami punya toko emas disana..jadi cincin ini hadiah dari kk iparku…tapi cincin kawin saya makin lama makin sempiit bu..duuh..gimana ini!!@#$%

    Cutemom cantik,
    Katanya sih bisa dilonggarkan di toko emas….kata teman-teman, tapi saya belum pernah nyoba.

  49. wah, kalau
    saya cincin kawin cuma satu, yakni dipakai istri. sudah jadi prinsip dalam diri saya, cincin itu untuk perhiasan (sekaligus simbol?) bagi perempuan, bukan laki-laki.

    sbg sikap kesederhanaan, apa yg ibu enny lakukan poin plus tentunya. selamat.

    Zulmasri,
    hehehe…bukan kesederhanaan, tapi memang tanganku gatal jika pake cincin….terus ceroboh jadi untuk mengurangi risiko ya pakai anting saja. Kalau nggak pakai apa-apa nggak enak juga, betapapun sebagai perempuan saya juga harus menjaga image perusahaan yang mempekerjakan saya, juga untuk suami.

  50. Aku nggak terbiasa memakai cincin kawin. Nggak enak untuk melakukan aktifitas sehari-hari.

    Edi Psw,
    Tapi ada juga orang yang biasa aja lho pak…bapak nih kayak saya….

  51. Mbak Tuti, Anda ada temannya kok…saya ini…
    Tapi sejak punya bayi (2003) jadinya tidak bisa pakai anting-anting/kalung …kecuali kalau mau ditarik si unyils dan berdarah-darah ..hiks…

    Cincin kawin sih selalu dipakai, dan suami saya juga pakai. Padahal banyak orang Jepang yang tidak lagi mau pakai cincin kawin. Tapi cincin kawin kami emas putih… di Jepang jarang pakai emas kuning, dan saya pikir itu bagus, lebih sederhana. Untung saja meskipun saya sudah bertambah “gede” dari sejak menikah, cincinnya masih cukup-cukup saja.

    (catet… jangan kasih oleh-oleh perhiasan pada bu Enny hihihi)
    EM

    Ikkyu_san,
    Saya masih pake anting lho, yang sederhana, supaya kalau hilang nggak nyesel. Tapi kalau pesta, saya juga bisa berpenampilan lengkap dari atas sampai bawah. Entah kalau sehari-hari, terasa nyaman jika yang dipake terbatas saja…..
    Tapi saya senang lho lihat orang yang bisa berpenampilan rapih, cantik, menggunakan asesoris yang serasi.

  52. Salam kenal Ibu Ratna,

    Saya pengantin baru, baru 3 tahun menikah dan punya seorang putri berumur 2 tahun. Saya merasa masih nyaman mengenakan cincin kawin setiap harinya Ibu .. alasannya karena saya memang ingin mengenakannya setiap hari hehe ..

    Terimakasih, Bandung.

    Ybandung,
    Lha jangan ngikuti saya…kalau bisa dipakai terus setiap harinya itu yang baik. Soalnya saya gatal (alergi) jika pake cincin, bukan alasan lain…dan ceroboh.

  53. cincin nikah ato cincin kawin ya ???hm… hehe

    Wet,
    Apa aja deh…

  54. Dah lama ga maen kesini, Ibu. Huhuhu..ketinggalan bnyk tulisan

    Hehee, ternyata sama. Saya juga ga tahan pake perhiasan, bikin ibu saya prihatin berat.

    Cincin bentar2 saya lepas krn sering gatal. Anting saya ilang sebelah, dan smp skrg saya males cari gantinya. Kalung? Huahh… dulu pernah dikasih si Mas, dan cuma itu yg bertahan. Tp sejak di leher ada tahi lalat yg membesar saat hamil, ga saya pake lagi krn risih.

    Yah… cantik ga harus ditunjang lwt perhiasan ya, Bu
    Yg penting bersih n rapi :D

    Dilla,
    Kenapa ya kalau ibu-ibu lain bisa rapih dan pake perhiasan?
    Atau kita memang tipe cewek yang memang suka ga pake perhiasan? Padahal orangtua mengajarkan, kalau cewek ya pake perhiasan.

  55. Klo saya menganggap cincin lebih sekedar aksesoris penanda udah nikah. Jadi setiap pagi (klo salah satu mau pamitan), saya ama istri pasti melakukan prosesi pemasangan cincin, dilakukan pada dia yg pergi ke luar rumah duluan. Prosesi ini melibatkan ciuman pada pipi, bibir (hingga beberapa kali :blush: ) dan berpelukan sambil belai punggung.

    Ini adalah prosesi yg amat menyenangkan & menenangkan hati yg bernilai lebih dari sekedar cincin.
    :-P

    Akhmad Guntar
    ,
    Waduhh mesranya…bikin iri….

  56. ah… saya banget ini bu… hehehe

    Kris-tasrin,
    Mungkin kita satu tipe ya….hehehe

  57. Nah Ibu.. ini tanti kris, beda sama yang diatas yah.. :)
    Perhiasan yang selalu saya pakai adalah cincin kawin, perhiasan yang lain optional saja, kalau sedang mood atau menyesuaikan si-kon.
    Saya dan suami memakai cincin yang sama ini sejak 14 tahun yang lalu, (1 tahun masa pertunangan, 13 tahun masa pernikahan) buat saya masih muat di jari manis kanan, buat suami sudah pindah ke jari manis kiri karena bertambah gendut.. Kami merasa nyaman memakainya, bukan karena keharusan, bukan karena ini dan itu,.. nyaman saja.

    Tanti,
    Kalau melihat foto-fotomu, memang Tanti termasuk tipe cewek feminin…..bandingkan dengan fotoku
    Iya ya, sekarang saya udah bisa membedakan…kris tasrin memang tidak sama orangnya dengan tanti-kris….hehehe
    Udah kenalan belum?

  58. Cincin kawin saya yang asli, yang dipakai waktu acara nikahan sudah hilang waktu kerja di luar kota, hiks. Lalu dibuat copy-annya, dan sampai saat ini tidak dipakai lagi. Bukan gak suka atau apalah, tapi takut hilang lagi. Lha, wong gak suka pake assesories. Bahkan sekarang-sekarang ini jam tangan udah pindah ke hp. Untuk keselamatan juga sih, pekerja seperti saya yang gelantungan di bis kota sebaiknya jangan mengundang maling, copet, garong dan sejenisnya dengan pameran perhiasan di badan. Dipake kalo moment-nya emang mengaharuskan.
    Mosok mau ke pesta polos….

    Alris,
    Betapapun sederhananya, kalau ke acara formal, kondangan, pasti pake asesoris….

  59. Jadi sedih baca cincin kawin, soalnya punya saya harus dijual waktu ada keperluan keluarga…hiks…sampai sekarang belum sempet kebeli lagi!

    Sebenarnya saya suka pakai asesoris, apapun materialnya, cuma kok rasanya ga ‘matching’ ya kalau kemana – mana naik ojek settingannya dandan abis..akhirnya tampilan berakhir di jam tangan…hi….

    Salam kenal ya bu!

    Nadin
    ,
    Tenang…..tak semua cewek melirik orang yang ngajak ngomong itu pakai apa…..hehehe
    Sedang asyiknya ngobrol dengan teman nyonya bos menghampiri, dari jarak 2 meter bau wanginya semerbak. Setelah ngobrol ngalor ngidul, nyonya bos pamitan. Teman tadi berkata, “Gila…loe lihat nggak berlian di anting dan cincinnya…berapa tuh harganya.”
    Saya dengan dodolnya ganti tanya..”Ha….berlian? Tadi kan saya ngobrol, dan ngobrol dengan orang yang diperhatikan kan matanya, jadi kalau ditanya bola matanya berwarna apa, gue pasti tahu.”

  60. wah saya jg tidak suka pakai perhiasan, bukan karena gatal (kalau pake emas sih ga gatal) tapi karena saya suka selebor, jadi biasanya hilang.
    sekarang hanya pakai kalung saja, tanpa liontin, karena liontin sempat hilang (walau akhirnya ketemu lagi) tapi saya tidak pakai saja

    cincin kawin juga di simpan saja di lemari.

    untungnya tempat bekerja tidak menuntut saya tampil feminis… bahkan tidak terlalu rapihpun tidak masalah, karena tidak bertemu dengan pelanggan

    Chan,
    Iya sih…tapi kadang budaya memang menyulitkan.
    Saya juga tak pake apa-apa, tapi saya juga menghormati orang lain yang pake asesoris berbagai macam. Sebetulnya seneng sih melihatnya, tapi gampang ilangnya itu lho…

  61. [...] beruntung, budaya Indonesia tidak mengharuskan orang yang telah menikah harus memakai cincin, meskipun budaya di luar mengartikan bahwa orang yang memakai cincin di jari manis kiri adalah [...]

  62. Ass wr wb
    saya menikah tgl 3 Agustus 08, ja kira2 5 bulan yang lalu. kemarin sore habis ngaji cincin syang hilang, ga tau dimana hilangnya apa pas mandi, ganti baju ato pas di tempat ngaji ato di jalan. sudah saya cari tapi belum ketemu juga. Saya berfikir, nanti kalo memang masih rezeki saya, akan ketemu juga. semoga Allah melindungi kami dan pernikahan kami.
    Tapi, Saya masih sedih, bukan karena harganya tapi punya nilai historis yang tinggi. pas suami pulang kerja, saya sampaikan, mula2 suami terkejut tapi cuma beberapa saat. kemudian katanya ga pa2.nanti kapan2 dibelikan lagi. Hati saya agak lega.
    NAmun sesampai di kantor, saya cerita sama teman, katanya mesti dicari. karena kata orang tua firasat ga baik. bahkan dia bilang, istri dia juga pernah cincinnya hilang, sampai mau tanya pada “Orang Pintar” segala, untung tidak jadi.karena sudah ketemu.
    pertanyaan saya
    1. Apa hilangnya cincin kawin sebuauh tanda yang tidak baik bagi perkawinan?
    2. Jika tidak ketemu, boleh diganti yang baru?,kt teman sya bukan pada nilainya, karena ada prosesi penyerahanya.bagamana menurut Ibu?
    mohon dijawab, agar hati saya ga gelisah.
    atas balasannya, saya ucapkan terima kasih

  63. untuk alternatif perhiasan sehari2 dapat menggunakan perhiasan yang terbuat dari perak.
    Selain murah dan terjangkau, biasanya perhiasan perak memiliki banyak desain yang unik dan tidak terdapat pada perhiasan emas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 220 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: