Oleh: edratna | Desember 17, 2008

Menjadi “bisa” karena kebiasaan atau karena terpaksa?

Saya mencoba merenung, darimana sebetulnya sifat dan kebiasaan perilaku saya sehari-hari? Dari ayahkah? Dari Ibu? Atau malah campuran dari pengaruh lingkungan? Kalau kita pernah mempelajari ilmu ”genetika”, kita memahami ada beberapa kombinasi faktor yang menurun dari orangtua kepada anak. Orang yang mengenal kedua anakku, akan melihat, ada beberapa faktor perilakunya, yang tidak hanya menurun dari orangtua, tapi juga dari om dan tantenya. Melihat tulisan si bungsu di sini, terasa sekali, walau dia banyak kemiripan denganku, namun juga diakui, banyak juga sifat-sifat nya yang sangat berbeda.

Kebiasaan

Ayah dan ibu kebetulan merupakan orang yang sangat disiplin terhadap waktu, dan menepati janji. Kebiasaan ini menurunku sejak kecil, bahkan saya sering hadir di sekolah SMP (yang jauhnya sekitar 3-4 km dari rumah) paling pagi. Ibu terbiasa membangunkan putra putrinya pagi hari, rata-rata sekitar jam 3-4 pagi sudah bangun. Dan saat masih kecil, ibu menyediakan teh manis panas, kadang pisang goreng, agar saya bisa belajar pagi. Dan malamnya saya jarang sekali belajar lebih dari jam 11 malam, karena ibu akan mengatakan ”Tidurlah nduk, mau ulangan ya, besok pagi ibu bangunkan,” kata beliau dengan lembut. Kebiasaan ini terbawa sampai saya kuliah di Bogor, walau cuaca dingin sekali (saat itu Bogor masih dingin), saya tetap terbangun sekitar jam 3 pagi, sholat dan kemudian memulai aktifitas belajar. Kebiasaan ini terhenti hanya pada saat liburan, atau badan kurang sehat. Awalnya sulit sekali belajar sendiri, karena di rumah terbiasa didampingi ibu, apalagi melihat teman sekamar masih bergulung dengan selimutnya.

Kebiasaan bangun pagi ini terbawa sampai sekarang, saya paling tak nyaman datang ke suatu acara terlambat, atau ber lari-lari karena akan terlambat. Bagaimana dengan suami? Wahh ternyata dia berlawanan denganku, karena suami malah suka melek sampai malam. Awalnya, hal ini menjadi ajang perdebatan, namun akhirnya terjadi kesepakatan, dan saya juga menjadi lebih toleran melihat anak buah yang datang lari-lari karena nyaris terlambat, namun suami juga menjadi lebih bisa menyesuaikan diri untuk datang lebih awal pada suatu janji (terutama jika janji bersama isteri).

Ayah mengajariku menyukai alam sekeliling. Saat saya kecil, ayah sering memboncengkan saya di depan sepedanya (tempat dudukan yang bisa dikaitkan pada stang), dan dalam perjalanan ke rumah nenek, kami melewati areal persawahan, kebun yang ditanami palawija dan tebu. Ayah tak bosan menjawab pertanyaanku, mengapa padi kalau sudah tua menguning, mengapa bulirnya menunduk dan sebagainya. Tak segan ayah berhenti di jalan, agar saya bisa melampiaskan memegang daun padi, merasakan berjalan di galengan (tanah diantara areal sawah, tempat berjalan kaki). Kemudian ayah juga membawa berbagai tanaman yang bisa ditanam di rumah, mungkin inilah yang mengawali kecintaanku pada tanaman, walau saya juga nggak sampai benar-benar terjun di bidang pertanian, hanya sekedar suka pada tanaman.

Sayang kebiasaan ini tak dapat kutularkan pada anak-anakku, karena saya bekerja sejak pagi sampai malam hari, dan saat anak-anak kecil, saya mendapatkan rumah dinas yang berhalaman sempit, dan malah jadi arena bersepeda roda tiga oleh si sulung. Juga kebiasaan ibu memasak di dapur rame-rame dengan anaknya. juga tak bisa ditularkan, karena penguasa dapur adalah si mbak. Dan si mbak akan berkata, ”Ibu bade nopo to, mbok kulo mawon.” (Ibu mau ngapain sih, mbok ya saya saja). Dan suami kemudian akan berkata, ”Udahlah, nanti dia malah nggak krasan, kamu kan bisa mengerjakan pekerjaan yang lain.” Jadi, saat anak-anak bertanya, kok ibu jarang ke dapur, saya akan menjawab bahwa ibu telah mendelegasikan wewenangnya pada si mbak.

Terpaksa menjadi bisa.

Saya dulu tak terbiasa ketemu banyak orang, apalagi untuk berani berbicara di depan umum. Namun saya punya atasan, yang pandai sekali ”memaksa” anak buah untuk belajar. Jadi, walau selama ini saya yang membuat bahan rapat, proposal dan sebagainya, atasanku akan langsung bertanya, ”En, targetnya sampai dimana? Apa yang kamu harapkan untuk dilakukan bapak?” Setelah saya pikir sekarang, betapa sebetulnya beliau mendorongku untuk mengungkapkan apa yang saya inginkan untuk mendapatkan keputusan dalam rapat itu, melalui beliau. Bahkan sering beliau mengatakan begini,” En, bapak punya ide begini….. Anda berminat nggak?” Beliau tahu, hanya dengan mengatakan itu, jika saya berminat, maka saya akan mencari berbagai sumber untuk membuat agar ide tadi dapat dilaksanakan dilapangan.

Suatu ketika, setelah mengamati lama, mungkin beliau merasa bahwa saya sudah bisa diandalkan untuk mulai berbicara (yang sayangnya tak diberitahukan terlebih dahulu ke saya). Pada suatu awal rapat, yang dihadiri para Pimpinan Cabang, beliau membuka rapat dan kemudian mengatakan.”Selanjutnya rapat akan diteruskan oleh staf saya ini. Dia lah yang selama ini membuat tulisan untuk saya, dan sekarang akan lebih baik jika dia sendiri yang menyampaikan rencananya.” Saya pucat pasi, tapi apa boleh buat, di bawah tatapan mata yang hadir, saya mulai berdiri di depan, menganggukkan kepala dan mulai presentasi (tentu saja dengan gemetar). Dan perasaan nggak nyaman hilang, seiring mulai sesi tanya jawab, karena saya bisa menjawab dengan lancar. Selesai rapat, atasan memberiku koreksi atas apa yang kurang, cara saya memulai presentasi, cara menjawab dan sebagainya. Sejak itu, sayapun mengikuti gaya beliau, untuk memaksa staf, yang telah saya nilai mampu, untuk berani mengemukakan pendapat dan memimpin suatu rapat. Dan ternyata hasilnya tak mengecewakan, bahkan saya malah belajar banyak dari anak-anak muda dibawahku, dan sejak itu saya hanya tinggal mengarahkan saja.

Dari postingan terdahulu, saya telah mengemukakan bahwa pada dasarnya saya penakut, takut segala macam. Namun beberapa kondisi, memaksaku untuk menghadapi ketakutan itu. Apalagi jika jabatan makin ke atas, yang juga akan sering kemana-mana sendiri, memaksa seseorang untuk tampil berani. Sekarangpun, saya kemana-mana sendiri, jika ada undangan mengajar, saya hanya menerima telepon, penugasan dikirim melalui surat, atau lewat email. Kemudian lembaga pelatihan akan mengirimi tiket, dan pergilah saya sendiri, dan nanti di tempat tujuan akan di jemput sopir. Kedaan ini memaksaku untuk siap dalam segala kemungkinan, karena kalau ada apa-apa di jalan tetap sendirian, sampai balik lagi ke rumah.

Kalau soal keberanian, kemana-mana sendiri, anak-anak saya lebih berani dibanding saya. Si sulung sering tidur di lab, demikian juga si bungsu. Kalau sang ayah sedang ke Jakarta, dan tak ada yang menjemput, maka dia suka memilih tidur di lab jika pekerjaan belum selesai. Bagi kami, anak-anak lebih aman tidur di lab, daripada pulang malam-malam, apalagi Bandung jika sudah malam sepi sekali, dan sulit mendapatkan kendaraan umum jika sudah malam.

Anak-anak sejak kecil dilatih menghadapi berbagai kemungkinan, apalagi kami tinggal di Jakarta, yang sering ada demo, tawuran dan sebagainya. Saat anak-anak mulai sekolah SMA, yang ditekankan adalah anak-anak tahu jalan tikus, jika ada keadaan darurat. Dan lebih baik tetap tinggal di sekolah sampai malam, sampai situasi mengijinkan. Saat rame-rame nya demo tahun 1998, si sulung masih SMA, dan karena kantorku di Semanggi, maka saya berperan memberi tahu sekolah jika ada tanda-tanda demo di sekitar Semanggi, supaya anak-anak bisa diberi informasi dan sebaiknya pulang menghindari jalan Semanggi dan sekitarnya. Anak-anak juga terbiasa naik kendaraan umum, dan harus bisa naik apa saja, agar dalam kondisi apapun, dia dapat tetap mencari jalan untuk pulang ke rumah.

Yang membuat kawatir adalah jika ada saudara atau keponakan dari luar kota, saya terkesan cerewet, karena selalu memberikan kiat-kiat jika terjadi apa-apa. Namun setelah saya sempat ketemu ibu kost si sulung di Brisbane, ternyata ibu kost ini juga memberikan aturan yang harus dilakukan oleh anak kost, antara lain: a) letak tempat kunci rumah tak boleh dipindah-pindah agar semua anggota keluarga mudah mencari (ibu kost ini juga bekerja sebagai guru, setingkat SMP), b) mematikan air jika selesai mandi, c) Mengajarkan cara mencuci pakaian, agar tak boros air, d) Masing-masing anak kost mendapat tugas bergantian untuk: meletakkan tempat sampah di depan rumah, setiap hari tertentu agar dapat diambil oleh mobil pengangkut sampah, membuat teh/kopi untuk keluarga, dst nya, e) Langkah yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran. Saat ketemu Valma (ibu kost si sulung), saya terkesan sekali, dan saya bahagia, si sulung sempat mengenal keluarga ini. Sejak itu, saya tak ragu-ragu membuat aturan yang disepakati oleh seluruh penghuni rumah, agar masing-masing anggota keluarga merasa nyaman di rumah, namun tetap mempunyai privacy.

About these ads

Responses

  1. hehehe…
    postingan seru nih bu…

    saya numpang belajar yah…

    -gbaiq-
    [senyum] :)

    gbaiquni,
    Silahkan mas….

  2. Kompromi dengan pasangan hidup itu penting ya Bu ? karena tidak mungkin kita memaksakan kehendak agar dia sama dengan kita. Toleran mungkin itu kuncinya. Salam :)

    Toni,
    Betul…dan kompromi tak cukup sekali saja dilakukan, malah mungkin setiap kali. Begitu pula dalam hubungan dengan anak, karena mereka juga merupakan pribadi yang harus dihargai ….

  3. sebentar bu edratna. saya coba mencerna dulu inti ceritanya. doh.. hari ini saya dudul sekaleee :D

    Mantan Kyai,
    Hahaha…udah lama tak mendengar kata dudul…dodol….
    Biasanya anak bungsuku yang suka komentar gaul seperti itu….

  4. wow postingan motivasi dan semangat untuk melakukan sesuatu yang baik dari kebiasaan dan yang dipaksakan..
    salut punya ibu seperti Bu Enny, dan kadangpun setiap ibu memiliki perilaku yang sama memberikan pelajaran buat anaknya walau saat itu kita tidak tau itu sebenarnya bermanfaat buat kita atau tidak, tapi tetap kita fikirnya sebagai penyiksaan :D
    tapi setelah dewasa kadang baru menyadari “ooo itu toh maksudnya”
    satu hal yang saya pelajari dari ibu saya adalah hidup hemat. *namun sayang sekarang koq terlihat boros yakz :mrgreen:*

    Arul,
    Pada dasarnya setiap orangtua akan mengajarkan kebaikan pada anak-anaknya, cara mengajarkannya memang tak secara langsung, dengan mengobrol, memberikan contoh nyata, ini yang justru merasuk di hati…dan istilah kerennya, jadi budaya kerja untuk keluarga tsb.

    Saya hanya menuliskan hal biasa saja, saya yakin ibu dan bapak Arul juga mengajarkan hal yang sama. Lha kalau ibunya Arul bisa berhemat, tentunya Arul juga bisa…kalau sekarang boros, coba introspeksi lagi, atau kalau perlu bawa uang secukupnya aja kalau mau pergi jalan-jalan ke mal, atau wilayah yang membuat Arul tak bisa menahan diri untuk tak belanja.

  5. dua-duanya bu
    karena kebiasaan dan terpaksa.

    saya bisa masak karena kebiasaan sejak kecil.
    tapi saya bisa entertain orang karena saya pernah terpaksa menjadi DJ/announcer. Setiap manusia pasti punya gabungan ini yang mungkin tidak disadari oleh dirinya sendiri.

    Sifat-sifat selain menurun dari orang tua, tentu saja ada pengaruh lingkungan/masyarakatnya. Karena saya tinggal di Jepang, makanya saya “terlihat” bersifat jepang hehhehe

    EM

    Ikkyu san,
    Hehehe…saya hanya bisa masak tak lebih dari 10 jenis, inipun karena saya tinggal di asarama yang setiap kali ada putaran kewajiban masak unuk penghuni kamar. Dan karena teman sekamar yang pintar masak dari Minang, saya lumayan bisa beberapa masakan Minang. Awalnya dia senewen melihat saya, lha saat itu marut kelapa (belum ada kara), tanganku terluka. Mengiris bawang merah nggak bisa tipis…hahaha..

    Whh Imel pasti hafal lagu-lagu dong…..saya jadi pengin mendengar EM siaran….kalau suara saya, mungkin malah bikin pendengarnya sakit telinga….hehehe

  6. saya datang lagi dengan sejuta senyuman :)
    salam kenal :)

    Tukyman,
    Selamat datang…..salaman :P

  7. biasanya dari hal yang terpaksa kalo bisa dinikmatin bisa menjadi kebiasaan….kenapa tidak selama hal itu baik buat diri kita juga

    http://bungaliani.wordpress.com/temen-aku-nih/

    Omiyan,
    Kadang kita memang harus menikmati apa yang ada di depan kita….

  8. buah jatuh tak jauh dari pohonnya ya, bu? walaupun lingkungan juga tak ayal punya pengaruh yang besar terhadap kematangan seseorang, namun pelajaran hidup pertama tetap diperoleh dari rumah.

    ibu, kayaknya ada yang salah ketik deh. tahun 1978 mustinya tahun 1998, bukan?

    Marsmallow,
    Iya, salah tulis…makasih (udah diperbaiki)…tadi Yoga juga sms mengingatkan.
    Saya pernah baca di milis dan kemudian sebagian pernah saya posting di sini, bahwa unsur genetika berpengaruh pada perilaku, walau ada juga unsur lingkungan.

    Dan ternyata mengajarkan anak sebaiknya sejak dini, karena setelah anak melewati umur 10 tahun, kita hanya bisa memonitornya, menarik ulur tali…karena dia juga sudah mulai senang bergaul dengan teman-temannya.

  9. memang kayaknya campur2 bu..ya bener dari keluarga atau lingkungan.kalo keluarga udah baik maka tinggal cari lingkungan yang baik.
    terpaksa kalo gak ada motivasi ya gak jalan juga bu.

    Boyin,
    Betul, ada hubungan antara genetika, serta pengaruh lingkungan, dan kebiasaan pada sikap dan perilaku.
    Saya sebelumnya juga pernah memposting, “Apakah sikap dan perilaku diturunkan orangtua?”

  10. iya bu, bisa karena biasa…
    bisa juga karena terpaksa awalnya…

    wah, saya nih kayanya mirip2 sama narpen bu, hehehe. deadliner… sampe detik terakhir kalo belum mepeeet banget, itu kerjaan masih diulik-ulik… kurang terencana hehehe…. musti banyak belajar sama Bu Eni. dan dipaksa sama si bos dikantor supaya lebih terencana ngerjain sesuatu…. hehehe….

    kalo soal genetika saya juga yakin ada yang menurun tuh bu, kadang saya suka ngerasa ada ibu atau ayah saya disebagian kebiasaan saya. pada saat saya berinteraksi dengan teman2 saya melihat ibu saya di cara saya menghargai teman (kebetulan beliau yang paling cerewet soal bagaimana saya harus menghargai dan memperhatikan teman), pada saat saya sakit dan menghadapi rasa tidak nyaman di badan, saya melihat ayah saya di diri saya yang terus diam padahal sakitnya dah gak ketulungan… Entahlah itu dari faktor genetika atau kebiasaan yang ditularkan secara spontan selama mereka membesarkan kami… salam hormat -japs-

    Japspress,
    Sebetulnya kadang saya juga deadliners….tapi saya berusaha membuat rencana, karena sering ada aja acara kejutan jika dilakukan mendadak. Apalagi memang saat itu saya hidup bersama teman lain dalam satu kamar, serta ada banyak kegiatan lain.

    Jika ada orang, yang saat mendesak malah keluar ide, saya malah jadi buntu. Karena memahami kelemahanku ini, maka saya juga tak bisa ikut-ikut seperti orang lain.

  11. aq emotional dan berani mirip ibu…

    penyayang, pinter (*wink), n sabar (*kadang) mirip ayah

    sopan santun n lemah lembut nular dr suami..(*aslinya ngasal n suka tereak2)

    kuat, berdikari n nggak mau tergantung orang lain pengaruh lingkungan secara kita merantau..

    Elly S.,
    Berarti memang ada pengaruh turunan dan lingnkungan?

  12. kadang kebiasaan menjadikan kita terbiasa dan lingkungan juga bisa merubah kita bu

    Thevemo,
    Betul…sepakat

  13. Saya dulu juga gak biasa ngomong di depan publik bu apalagi harus ramah dengan orang.. tapi pekerjaan saya sebagai petugas penjangkau menuntut saya untuk bicara dengan banyak orang dan being nice… jadilah saya terbiasa berbicara dengan orang banyak dan beramah tamah dengan orang lain

    Itikkecil
    ,
    Saat kita ketemu di PB08, kelihatannya Itik kecil udah ekspert di bidangnya. Semoga sukses ya….

  14. tanaman cabe-ku layu… kayaknya gak bakat :(

    Kunderemp,
    Bukan nggak bakat…sebelum menanam, tanahnya harus dikelola dulu, di beri pupuk. Bahkan kalau tanahnya luas, diperiksa dulu PH nya, apa sudah sesuai dengan jenis tanaman yang akan di tanam. Misalnya untuk tanaman kedelai, harus tanah yang mendekati PH normal, seperti di Bogor, tanahnya sebagian besar Latosol coklat kemerahan, yang bersifat agak asam…agar berhasil harus diberi pengapuran dulu. Juga harus diberi pupuk NPK, dengan dosis sesuai.

    Jika tanah sempit, untuk di pekarangan, paling aman pakai pupuk kandang (saya tak tahu di Miami ada yang jual nggak?). Kalau tak ada, mestinya ada yang jual pupuk NPK. Tentu saja, membuat lubangnya harus cukup dalam, kemudian disiram setiap pagi dan sore. Jadi, menanam tanaman, agar berhasil, seperti merawat bayi, tanaman yang dibiarkan (atau hanya disiram saja), tumbuhnya tak sebagus dibanding yang dirawat dengan benar.

  15. Saya belajar banyak setelah tinggal di sini, Ibu.
    Tiga bulan lalu saya tak tahu bagaimana caranya menanak nasi, mencuci piring dan membuat teh.

    Tapi di sini sekarang saya bisa.
    Karena apa? Karena terpaksa, karena mau belajar juga :)

    Donny Verdian,
    senang mendengar ceritamu.
    Itu tanda cinta kan Don? Donny mau belajar, agar bisa menyesuaikan kehidupan di Sidney, yang tak ada pembantu. Dan sebetulnya, enak kok bisa segala macam, karena kita juga menjadi mandiri….dan siapa tahu ternyata Donny bakat memasak.

  16. kalau jadi bisa karena terpaksa, biasanya hasilnya lebih kurang dibanding bisa karena kebiasaan. Karena yang bisa itu juga harus ada yang mendasari juga…saya sih biasanya pura-pura gak bisa padahal bisa..

    Koko
    lplpx.com

    Akokow,
    Memang sih, kebiasaan dari kecil akan lebih menolong.
    Tapi terpaksa bisa, karena keadaan, dilakukan dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab, juga akan membuat seseorang melakukan dengan senang hati.

  17. kalo saya pribadi, berpendapat bahwa bisa karena biasa.. tapi ya, awalnya dipaksa dulu untuk biasa ;-)

    Billy K.
    iamthebilly.wordpress.com
    bersambung.wordpress.com

    Billy K
    .
    Yup…benar…bisa, karena biasa, tetapi dapat juga karena terpaksa….

  18. Menjadi bisa karena kebiasaan dan terpaksa sama baiknya kan bu. Mengarah pada kemajuan pribadi dan prilaku seseorang.

    Puak,
    Yup…betul….

  19. Sepertinya pertanyaan di judul adalah pertanyaan retorik nih, Bu. Mau komen isinya aja deh.

    Ternyata ortu bu Enny menurunkan banyak kebiasaan baik ya : bangun pagi, perhatian, disiplin waktu, dan bersedia menjawab keingintahuan anak. Salut.

    Wah, kalo saya disodorkan untuk presentasi tanpa persiapan suka nyesel, Bu. Karena – sekarang2 ini – musti disiapin dan dibayang2in dulu kalo mo melakukan sesuatu. Istilahnya visualisasi.

    Seolah2 sudah pernah mengalami dan terbiasa. Jadinya ga grogi ataupun takut gitu, Bu.

    Ini saya pake mulai dari kalo mau presentasi hingga akan melahirkan 2 bulan yang lalu.

    *Kenapa ya setiap baca tulisan bu Enny selalu mendapat insight baru? Benar2 vitamin untuk mental, Bu…

    Sanggita,
    Waduhh …. jangan bikin saya tersanjung…
    Saya hanya mengajak berargumen, karena dari pengamatan saya (karena saya bukan psikolog, tapi dikit2 kalau ada masalah, tanya ke psikolog)…….kebiasaan sejak kecil ternyata mempengaruhi perilaku kita.
    Jika sya mendapat anak buah yang perilakunya sulit, secara kekeluargaan (biasanya punya waktu bicara hati ke hati saat santai, pas turne, menunggu pesawat dsb nya), saya akan menggali latar belakang keluarganya. Anak-anak yang dibesarkan dengan kasih sayang dan mendapat kebiasaan yang baik, akan menjadi anak yang mudah bergaul, bisa memberi dan menerima.

    Untuk mengcover anak-anak yang mungkin latar belakang tak sama, diperlukan menumbuhkan budaya kerja yang baik di lingkungan unit kerja, saling memperhatikan, kadang hanya hal-hal kecil….dan ternyata ini ada pengaruhnya membentuk perilaku anak buah menjadi lebih terbuka, lebih toleran. Tapi tetap masih rawan, jika dia dipindah dan tak mendapatkan lingkungan yang nyaman. Ini beda dengan anak yang sejak kecil sudah punya kebiasaan perilaku yang baik, dia lebih toleran, dan lebih mudah menyesuaikan diri.

    Saya tak tahu, apa pengamatan saya, yang hanya didasarkan pengalaman ini, apa benar secara akademisi (dari sisi psikologi).

  20. Kalau saya ini terus terang aja bu, bisa karena terpaksa, soalnya saya tidak pernah membuat kebiasaan yang positif, kebiasaannya jelek melulu, dipelihara pula–ini namanya kemalasan akut!, yang terburuk adalah saya menyadari hal itu dan bukannya tidak berusaha, sudah berusaha tapi lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya, huhuhuuu…

    Mengapa Oh Mengapa? Mengapa selalu sukanya yang detik2 terakhir, sebab ide-ide juga selalu muncul pas sedang mepet, inginnya saya bisa disiplin melakukan segala sesuatu.

    Kayaknya saya harus lebih berusaha lagi sehingga akhirnya bisa karena biasa. Jadi merasa terpacu niy bu.

    Terimakasih atas tulisan ini bu!

    -G-
    Hahaha….memang tiap orang karakternya bermacam-macam, dan banyak orang punya sifat seperti G, dan ini tak bisa dipaksa untuk berubah, kalaupun bisa perubahannya juga tak bisa drastis.

    Tapi jika orang punya sifat seperti saya, akan senewen jika di kejar-kejar, jadi mesti punya planning sebelumnya, atau dalam beberapa hal tertentu bisa menerima tugas dadakan…tapi karena udah tahu, saya selalu mempersiapkan diri sebelumnya, walau kadang persiapanku percuma (ga jadi dipakai)…tapi hati ini udah tenang.

  21. Ala bisa karena biasa….contoh kecil ngasih koment disini aja….dulu kan ribetnya minta ampun…punya layout WP yang 2.7 belum akrab di mata..kadang ribet ngasih replay…jadinya berantakan…empat komeng diisi untuk satu coment….
    Lambat laut karena terbiasa. koq jadi hapal bener cara ngasih komennya……..
    Saya tak terbiasa ketemu banyak orang juga, paling ngeri kalau jadi pusat perhatian dunia, makanya saya tidak memilih untuk terkenal bun…..kesannya kalau lagi pegang mic di depan umum rasanya gimanaaaaaaaaaa gitu. nggak pede aja…tapi lambat laut karena terbiasa…ya…jadinya Bisa. Beruntung nggak lagi agora phobia…..jangan2 itu julukan pernah bersarang di kepala saya bun…..
    salam

    thekry™,
    “Agora pobhia” itu apa maksudnya pakde?
    Hahaha….saya membayangkan…padahal sekarang pekerjaan pakde pegang mic terus menerus ya….

    WP ku ini masuk yang mana ya…aku nggak ngerti…tahu2 ganti..gitu aja….

  22. budaya anak negeri ini memang harus dimulai dengan pemaksaan…..

    Ndoro seten,
    Kayaknya betul ndoro…harus dipaksa untuk disiplin, ada reward and punishment nya…jika udah disiplin harus di lepas.
    Jadi perlu kepemimpinan yang kuat ya?

  23. dipaksa terus rela ya bisa. tapi kalau dipaksa terus ‘mbalelo’ ya tidak bisa. Semoga saya bisa sadar untuk mencapai tujuan suatu saat perlu dipaksa.

    Sepaku,
    Hmm..kalimat yang bisa bermaksud ganda.
    “Dipaksa mbalelo?” Mbalelo yang seperti apa? Karena konotasi mbalelo kok negatif ya? Wahh ya jangan deh….

  24. salam kenal… kunjungan pertamaxx..
    adakalanya sebuah ‘pemaksaan’ sebagai wujud dari ‘ketegasan’ sangat penting dalam mendidik seseorang. terutama kalau orang tersebut memang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan hidup yang keras..

    senang berkenalan dengan anda.. :)

    ardianzzz,
    Salam kenal juga….
    Kadang untuk anak kecil harus dipaksa juga, karena dia belum tahu mana yang benar, dan mana yang salah
    Juga pemaksaan untuk disiplin dalam bekerja, di kantor atau di pabrik, memang sangat diperlukan….

    Tapi jika kita menjelaskan dengan lebih bijaksana, dan anak atau orang dewasa (pekerja) ikut serta secara rela, hasilnya akan lebih baik.

  25. saya juga punya pengalaman tentang kos bu Enny
    Kos mendidik kita jadi mandiri, jadi lebih paham mana yang seharusnya dilakukan mana yang tidak, dan jadi lebih menghargai uang…

    Prameswari,
    Betul…saya sependapat.
    Dan kita jadi lebih menyayangi orangtua…. setelah bisa membandingkan ikut orang lain…

  26. ada hal-hal yang lebih sulit jika tidak dibiasakan dari kecil, tapi sebetulnya akan jauh lebih mudah jika dibiasakan dari kecil.
    Oleh karenanya meskipun orangtua saya tidak terlalu membiasakan saya ini, itu .. tapi saya ingin membiasakan anak saya ini , itu … agar kelak ia bisa jauh lebih baik dari orangtuanya

    Mascayo,
    Betul sekali…saa juga merasakan manfaatnya…
    Walaupun kenyataan hasilnya jadi berbeda terhadap kedua anak saya, karena memang karakternya beda….tapi mereka juga punya jalannya sendiri, dan tetap menjadi anak mandiri dan bertanggung jawab…

  27. Biasa dan dibiasakan (dipaksa/terpaksa).. dua-duanya saling melengkapi proses belajar mengajar. Orang tua pada anak-anaknya lazim menempuh dua jalan itu. Entah apakah hal ini benar atau tidak, jika dikembalikan pada teori psikolog.

    Yoga,
    Entahlah, tapi sebetulnya kita sendiri bisa menilai, apa yang dilakukan oleh orangtua kita, dan apa manfaatnya bagi perkembangan kita.

    Juga pendidikan yang secara tak langsung kita peroleh dari lingkungan, dari pergaulan di kampus, di sekolah, di tempat kost maupun di perkumpulan yang kita ikuti, secara tak langsung maupun langsung akan mempengaruhi dan memperkaya pengalaman kita.

  28. Tanaman Cabe-nya di pot. Kecil. Kayaknya gak mungkin dikasih pupuk. Kami menaruhnya di dapur. Daun-daun yang berlubang cuma kupetik dan kutaruh di atas pot. Sekarang yang bingung adalah cabenya. Apakah kupetik atau biarkan saja.

    Kunderemp,
    Coba lagi beli 2-3 pot, terus beli tanah siap pakai (sudah ada pupuknya, sehingga siap tanam), kalau di Jakarta dijual di tempat tukang jual tanaman. Kalau tak ada, beli pupuk NPK, ada yang berbentuk cairan, ataupun butiran (di supermarket sejenis “Cole” mestinya ada).

    Buat lubang kira-kira jaraknya 2-3 cm dari tanaman, masukkan pupuk (lihat aturan pakai nya) di sekeliling lubang yang mengelilingi tanaman, tutup lagi tanahnya, baru disirami.
    Penyiraman tanaman dilakukan pagi dan sore hari…dan tanaman harus ditempatkan di tempat terbuka sesekali, karena tanaman membutuhkan sinar matahari yang akan digunakan untuk fotosintesis guna pembentukan daun, putik dsb nya. Masih ingat kan pelajaran biologi?

  29. Harus dipaksa ya bu. Berarti, dari militer lagi dong pemimpinnya hehehe.
    Hidup SBY, Sutiyoso, dll. Sultan harus nunggu giliran deh.

    Iwan Awaludin,
    Lho! Apa hubungannya dengan pemilihan pemimpin dari militer? “Memaksa” tidak harus dengan tangan besi kan, bisa merupakan dorongan, himbauan…dan lingkungan….

    Dan rasanya sih, memilih siapa yang akan jadi pemimpin, tergantung masing-masing…kan mencontrengnya di ruang tertutup…

  30. Memang ada Bu orang yang mesti dipaksa dulu. Begitu pun ada orang yang sudah termotivasi dengan sendirinya sehingga munculan kesadaran secara pribadi. Sehingga semua membentuk karakter.

    Makin kusadari, aku bisa menulis justru karena kebiasaan dari kecil yang tak punya tempat untuk mencurahkan apa yang ada di dalam diri. Larinya ke tulisan. Semua ternyata merupakan kebiasaan yang terus diolah karena kesadaran.

    Orangtuaku tak ada yang bisa menulis. Kakak dan adikku pun tak bisa menulis. Bahkan kini adikku yang sedang ambil master Arsitektur di ITB sering nodong aku minta bikinkan tulisan tugas kuliahnya. Dia sama sekali tidak bisa menulis.

    Makin kusadari: jelas menulis bukanlah bakat. Ia merupakan kebiasaan yang terus-menerus ditempa. Tak ada yang memaksa. Kecuali diriya sendiri. Artinya: semua orang bisa, kalau dia mau.

    Daniel Mahendra,
    Betul…menulis bukan bakat.
    Tapi tetap kan, ada yang membedakan, karena pada akhirnya minat dan bakat seseorang akan membedakan gaya tulisan antara satu dan lainnya.

    Contohnya DM sendiri, lha saya sampai kapanpun nggak akan bisa meniru….malah jadinya aneh dan lucu. Jadi ingat juga, di blog inilah pertama kalinya saya belajar menulis (payah ya….), nggak pede, tapi akhirnya saya mencoba menulis seperti gaya mendongeng.Saya surprise setelah diapresiasi orang, inilah yang mendorongku mencoba menulis terus. Walau tetap aja, gaya tulisanku seperti gaya cerita….atau seperti gaya mengajar di depan kelas…..

  31. Saya nggak tahu, saya menjadi ‘seperti sekarang ini’ karena genetis atau lingkungan. Yang jelas, saya satu-satunya di keluarga yang suka menulis, suka menyanyi, suka menari, suka menggambar, dan hal-hal yang berkaitan dengan seni. Tetapi faktor genetis memang tidak selalu menurun langsung dari ayah atau ibu, bisa juga dari kakek atau keluarga yang lain.

    Dari orang tua, saya memperoleh didikan kemandirian dan ajaran agama yang ketat. Dari interaksi dengan suami, saya belajar untuk lebih berani tampil dan berani bicara.

    Saya kira, pengaruh genetis dan lingkungan memberikan pengaruh yang sama besarnya pada perkembangan pribadi seseorang.

    Tutinonka,
    Benar mbak Tuti, dari jawaban komentar di atas, saya juga akhirnya dapat menyimpulkan bahwa kebiasaan juga mempunyai peran penting , juga dorongan dari lingkungan.

  32. pengalaman pribadi saya bu bahwa saya bisa karena terpaksa…dari terpaksa akhirnya terbiasa…dan dari terbiasa jadilah saya BISA…hehehehe…dua2nya terkait kan :)

    Ria,
    Jadi berasal dari dua-duanya ya…..kelihatannya memang seperti itu…

  33. Bunda Enny,
    Ceritanya mengalir sekali dan memberi banyak masukan. But, honestly, I’m a bit lost.. kok rasanya gak nyambung dengan judulnya. Do I miss some thing Bunda.? :)

    Nug,
    Ga nyambung?…hmm sambil tengak tengok…..entahlah.
    Saya hanya mencoba merangkai: Bisa, karena ada 2 hal yang mempengaruhi: a) Karena kebiasaan, saya ceritakan kebiasaan sejak kecil, bangun pagi, jalan-jalan dengan ayah yang membuat mencintai lingkungan, senang tanaman. b) Karena terpaksa. Saya terpaksa bisa, karena bos meminta ku langsung memimpin rapat. Saya memaksa (dan mendorong) anak-anak mandiri, naik bis dan angkot ke sekolah.

  34. Saya pernah baca bu, dengan melakukan sebuah hal selama 20 kali lebih secara konstan, terus menerus maka akan menjadi kebiasaan

    Agussampurno,
    Berarti kalau dibiasakan, menjadi terpaksa bisa…..

  35. terpaksa, biasa, dan menjadi kebiasaan
    itu yang terjadi ketika saya dulu mondok di pesantren

    Terima kasih telah mengunjungi blog saya

    “Ya Allah, tempatkan dunia di tanganku, bukan di hatiku”

    Salam,

    Basir
    Brainmatics Cipta Informatika

    http://Brainmatics.Com

    Tlp. +62-21-83793383
    Fax. +62-21-83793384
    My Blog : Guidelife.wordpress.com
    Yahoo!ID : basir_edu

    Basir
    ,
    Yup…mondok memang membuat kita menjadi terpaksa bisa dan menjadi kebiasaan.

  36. Tapi “pemaksaan” yang dulu dilakukan Ibu supaya anak-anaknya bangun pagi, mungkin kalau jaman sekarang disebut “melanggar hak asasi manusia” lho ! Ibu jam 3.00 pagi sudah membuka jendela rumah kita, menyebabkan angin dingin dari luar masuk ke ruang tidur dan membuat kita terbangun (“wake up” tapi belum “get up”). Kalau jam 4.00 anak-anaknya belum “get up” juga, ibu akan mengambil rantang diisi air yang duingiiiin dan dengan tangan akan membasuh muka kita dengan air dingiiin tadi yang menyebabkan kita mengeluarkan sumpah serapah dan akhirnya……..bangun !! Get up !!

    Nah, sekarang ini di kantor saya ada 2 group yang sering mengajak saya ke luar kota. Kalau saya dinas keluar kota dengan group Transportasi, 2 jam sebelum waktu ketemu dengan client kita harus sudah siap (bangun, mandi, makan, ngopi). Jadi enak sekali bepergian dengan group ini. Tapi kalau bepergian dengan group IT, sudah lewat waktunya masih belum mandi dan makan, walaupun bangunnya lebih pagi !

    Pointnya, di keluarga saya sekarang saya dan isteri suka bangun pagi dan bersiap-siap awal, tapi kedua anak tidak ada yang menurun kedua orangtuanya : cenderung santai, “take it easy”, dan “happy-go-lucky type”. Saya nggak tahu, ini “berkah” atau “musibah”…hehehe…

    Tridjoko,
    Mendidik anak sekarang tak bisa seperti saat ayah ibu mendidik kita. Saat anak-anak mulai agak sulit dipahami, kebetulan suami sedang kursus, yang salah satu pesertanya psikolog UI…dialah yang memperkenalkan saya dengan psikolog spesialis anak-anak.

    Sarannya adalah memberi dorongan, memotivasi, kadang memaksa secara halus…..karena anak cenderung melanggar apa yang kita suruh,. Dan dia akan selalu membandingkan dengan teman lain, jadi jalan satu2nya adalah memberi pengertian, dan bercakap-cakap dengan anak, sampai si anak memang rela untuk melakukan hal tersebut.

    Saat anak masih kecil dan susah makan, dokter anak juga menganjurkannya dengan membujuk, merangsang anak melakukan hal2 yang menggembirakan anak selama makan.

    Di dunia kerja, pelatihan saat ini juga menggunakan cara yang mendorong mereka senang, dengan melakukan team work, role play dsb nya. Jadi, memang situasi sudah berubah….
    Anak saya juga tak ada yang menurun ayah ibunya……hiks..hiks

  37. kalau saya kebanyakan harus dipaksa :cry: untung lingkungan mendukungnya *memaksa..*

    Tomyarjunanto,
    Kadang kita memang perlu dipaksa, agar menjadi bisa…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 226 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: