Oleh: edratna | April 8, 2009

Saung angklung Udjo, salah satu contoh industri kreatif?

Industri kreatif merupakan pilar utama dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif, memberikan dampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan, dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.” (UK DCMS Task Force, 1998)

Dari keempat belas kelompok industri yang dapat di kategorikan sebagai industri kreatif, maka Saung Angklung Udjo adalah termasuk industri kreatif dalam kelompok seni pertunjukan, yang definisinya sebagai berikut: “Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha, berkaitan dengan pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik tradisionil, musik teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukkan, tata panggung dan tata pencahayaan.”

Peninjauan ke lokasi Saung Angklung Udjo ini merupakan bagian dari pelatihan, yang merupakan pelatihan lanjutan, dan merupakan pendalaman maupun penajaman dari pelatihan yang pertama. Peserta yang hadir, langsung diajak dalam peninjauan ke lokasi usaha. Peninjauan ke lokasi Saung Angklung Udjo, yang terletak di jalan Padasuka (Bandung Timur), dilakukan setelah makan siang. Dan ini ada maksudnya, agar kami bisa melihat secara langsung dari proses pembuatan angklung, hubungan saung angklung dengan masyarakat sekitarnya, pemasarannya, manajemen nya, bahkan menikmati seni pertunjukannya.

Riwayat usaha dan aspek legal: Saung Angklung Udjo (disingkat SAU), didirikan oleh Udjo Ngalagena (alm) yang akrab dengan panggilan Mang Udjo dan isterinya, Uum Sumiati. Mang Udjo dikenal sebagai pembuat angklung sejak tahun 1966, yang didasarkan atas hobi. SAU merupakan sanggar seni sebagai tempat pertunjukkan seni, laboratorium pendidikan sekaligus sebagai obyek wisata budaya khas Jawa Barat, dengan mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga.

Generasi kedua, putra-putri mang Udjo, berusaha membawa SAU untuk mewujudkan cita-cita dan harapan Abah Udjo (alm) yang atas kiprahnya dijuluki sebagai legenda Angklung, yaitu Angklung sebagai seni dan identitas budaya yang membanggakan. Pada awalnya SAU merupakan usaha keluarga, baru setelah tahun 1995, diadakan penataan dan berorientasi pada profit. Badan Hukum SAU telah berbentuk Perusahaan Terbatas, yang setelah pak Udjo almarhum, diteruskan oleh putra-putrinya (ada ada 10 orang). Kondisi lokasi SAU dapat diibaratkan oase kebudayaan di tengah perkampungan padat, di atas tanah seluas 1,2 hektar. SAU masih berusaha melebarkan lokasinya, membeli rumah disekitarnya untuk dijadikan lahan hijau. Di lokasi ini berdasar penelitian ada sekitar 16 jenis burung, dan setiap Senin-Selasa diadakan pertemuan klub pencinta burung. SAU juga meneliti, ternyata telah ada 42 negara yang mengenal permainan angklung. Permintaan yang banyak sekali dari negara Belanda, juga Korea Selatan, bahkan di Korea Selatan angklung telah dikenalkan sejak masih Sekolah Dasar.

Selain berbentuk Badan Hukum, SAU juga mendirikan Yayasan, untuk menjembatani pemberian beasiswa bagi anak-anak di sekitar lokasi SAU, sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility.

Anak-anak penerima beasiswa sedang belajar bahasa Inggris sepulang sekolah, di kompleks SAU

Anak-anak penerima beasiswa sedang belajar bahasa Inggris sepulang sekolah, di kompleks SAU

SAU memberikan beasiswa untuk sekolah melalui orangtuanya, setelah anak-anak pulang sekolah, sekitar jam 2 siang, mereka mulai belajar bahasa Inggris (penjelasan dalam pertunjukan yang juga dihadiri wisatawan asing menggunakan bahasa Inggris), latihan menari/angklung, dan setiap jam 15.30 s/d jam 17.30 wib anak-anak dan remaja melakukan pertunjukkan, sebagai bagian usaha untuk mendorong mereka tampil berani. Terdapat sekitar 528 orang anak yang mendapatkan beasiswa dari SAU agar terus sekolah.

Manajemen dan Teknik Produksi: Saat ini SAU telah menunjuk Sdr. Satria, yang bukan putra pak Udjo, sebagai Direktur Operasional, yang merupakan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan, dan mengelola manajemen SAU secara profesional.

Satria (Direktur Operasional) tertawa gembira mendengar antusias pengunjung. Di lt belakang yang mengetest angklung, dengan pengalaman 33 tahun

Satria (Direktur Operasional) tertawa gembira mendengar antusias pengunjung. Di lt belakang, yang mengetest angklung, dengan pengalaman 33 tahun

Selain itu juga menunjuk Konsultan Marketing, dan sejak dua tahun terakhir, SAU mendapat pembiayaan dan kerjasama dengan Bank Jabar. Pada saat ini SAU mempunyai 5 (lima) Bisnis Unit yang semuanya berorientasi profit. SAU merupakan holding company, dan cash cow nya adalah bisnis pertunjukan dan production. Oleh karena itu SAU harus selalu mempunyai ide-ide segar, bagaimana membuat sebuah pertunjukan tidak monoton, dan menggarap ide-ide kreatif. Di satu sisi para pemain angklung dan penari yang sebagian besar masih anak-anak, bisa terlihat menyenangkan walau pelatihan nya tidak mudah. Penonton juga tidak kecewa jika mereka keliru saat tampil, karena malah terlihat lucu, jika melakukan beberapa kesalahan kecil.

Produksi Angklung sebagian diperoleh dari kemitraan, sekitar 80% berasal dari hasil produksi mitranya, dan nantinya SAU menambahkan sekitar 20% untuk teknologinya.

Membuat angklung
Membuat angklung

SAU sudah menerapkan standarisasi mutu, bekerja sama dengan Sucofindo, sejak dari penanaman (saat lingkar batang tertentu telah di capai, pohon bambu di potong, pada saat musim kering, karena pada saat kemarau, kelembabannya rendah dan akan menghasilkan suara yang bagus). Satria sebagai Direktur Operasional, juga mempunyai hobi menari, sehingga selama wawancara terlihat sekali bagaimana Sdr. Satri sangat menjiwai peran nya.

Pemasaran: Selain disiapkan toko cnderamata di lokasi SAU, maka pemasaran dilakukan melalui web (www.angklung.udjo.co.id), bekerjasama dengan 3 (tiga) Kementerian (Deplu, Dep Pariwisata dan Dep Koperasi).

Souvenir
Souvenir

Promosi juga dilakukan melalui mulut ke mulut, dari para pengunjung yang puas. Saat ini SAU sedang mengembangkan bisnis ritel, bekerjasama dengan sebuah Mal di Jakarta.

Para pengunjung, selain diberi kesempatan untuk melakukan wawancara dan peninjauan ke seluruh lokasi SAU, yang terdiri dari: beberapa saung, lokasi terbuka untuk pertunjukan angklung dan musik, tempat produksi, Guest House yang disediakan bagi orang yang ingin belajar angklung (sebagaian besar dari mancanegara), pengolahan air, pengolahan sampah, tempat penerima beasiswa kursus bahasa Inggris dan lain2nya. Selesai berkeliling lokasi, kami menikmati suguhan bandrek, dan kacang rebus, sambil diskusi dengan Kang Satria tentang berbagai hal. Kami mendengarkan uraian Satria, yang saat itu didampingi Kondultan Marketing (pak Kris) dan dua staf dari Bank Jabar. Diskusi berlangsung santai, sambil mendengarkan kicauan burung, dan melihat beberapa wisatawan sedang berkeliling didampingi guide.

Pengunjung dari negeri Belanda sedang meninjau lokasi
Pengunjung dari negeri Belanda sedang meninjau lokasi

Pada saat jam 15.30 wib, pengunjung dipersilahkan memasuki arena terbuka untuk melihat pementasan yang merupakan bagian pelatihan dari anak-anak yang menerima beasiswa. Pertunjukan yang kami nikmati di sore hari yang mendung itu, antara lain: 1) Demonstrasi wayang golek khas Sunda, 2) Helaran, yang sering dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan, maupun pada saat upacara panen padi. 3) Tari tradisional, yaitu tari Topeng yang merupakan cuplikan dari pola tarian klasik topeng Kandaga, 4) Calung. 5) Arumba, yang merupakan alat musik tradisional terbuat dari bambu bertangga nada diatonis, menghasilkan nada yang harmonis. 6) Angklung Mini, tidak hanya dipakai sebagai hiasan, namun dapat untuk memainkan lagu sederhana, misalkan lagu anak-anak yang populer.

Acara yang meriah dan indah
Acara yang meriah dan indah

7) Angklung Padaeng, yang di sebut juga angklung do re mi, angklung dengan laras nada diatonis yang diciptakan oleh bapak Daeng Soetigna alm pada tahun 1938. Sejak saat itu, angklung tidak hanya digunakan untuk membawakan lagu-lagu daerah, namun juga nasional dan internasional. 8) Bermain angklung bersama. Ini acara yang paling menarik. Setiap pengunjung diberi sebuah angklung yang telah di tulis nadanya.

Penonton diajak ikut serta main angklung
Penonton diajak ikut serta main angklung

Dan sore itu, pak Yanyan (putra pak Udjo alm) mengajak para pengunjung memainkan angklung.

Mengajarkan para penonton untuk bermain angklung bersama-sama
Mengajarkan para penonton untuk bermain angklung bersama-sama

Terlihat sekali antusias dari semua pengunjung, bahkan salah satu pengunjung maju kedepan dan bernyanyi yang diringi oleh pemain angklung amatir ini. 9)Angklung orkestra. Permainan angklung dikombinasikan dengan permainan alat musik lain, seperti gitar, perkusi dll. 10) Angklung jaipong, merupakan perpaduan antara tari jaipong dengan angklung orkestra. 11) Menari bersama. Sebagai akhir acara, putra putri yang masih kecil-kecil itu mengajak penonton menari bersama. Betapa meriahnya suasana, sebelum acara ditutup dengan menyanyikan lagu “auld lang syne“.

Menari bersama pengunjung
Menari bersama pengunjung

Ada yang menarik dalam sesi pertunjukan, setelah pengunjung diajak main angklung bersama, maka pertujukan dihentikan sekitar 15 menit. Jeda waktu ini, para pengunjung diharapkan dapat berjalan-jalan, meninjau dan membeli souvenir yang di tata di ruang bersebelahan dengan arena pertunjukan, sambil disediakan minuman bandrek.

Batik motif angklung
Batik motif angklung

Saat saya tanya pendapat Satria, hal ini pernah menjadi perdebatan antara bagian produksi dan bagian pertunjukan. Bagian produksi, mengharapkan jeda waktu tsb dapat membuat pengunjung membeli berbagai souvenir untuk menambah pendapatan, namun bagian pertunjukkan kawatir “mood” penonton yang sudah terbangun, akan sulit lagi untuk meningkatkannya, dan kawatirnya penonton tidak meneruskan melihat pertunjukan, namun langsung pulang sebelum pertunjukkan selesai.

Hal yang menarik adalah saat penonton (yang sebagian besar wisatawan asing dari Belanda) diajak menari bersama, sangat menyenangkan untuk melihat bagaimana para pemain angklung/penari kecil berkomunikasi dengan penonton. Pada saat kami mau pulang, kami berdiskusi hangat dengan pak Yanyan (putra pak Udjo alm), dan Pak Satria, bagaimana mereka menjaga kelangsungan SAU, bagaimana mereka membuat seni pertunjukkan yang menyatu dengan pembuatan produksi, dan bagaimana agar generasi pak Udjo ini bisa berlanjut. Walau sudah dilakukan secara profesional, namun tetap perlu pengembangan secara terus menerus, agar SAU dapat tetap berjalan secara kontinyu.

Masalah lain adalah “Hak paten”, agar kesenian angklung ini tidak tahu-tahu menjadi milik bangsa lain. Mungkin paten angklung ini bukan atas nama Udjo, tetapi menjadi angklung milik Sunda. Saya juga baru mendengar dari penjelasan Kang Satria, ternyata ada juga angklung Banyumasan. Risiko yang lain adalah bagaimana hubungan antara PT dan Yayasan, agar kedua hal ini bisa sejalan. Saya bersyukur, SAU telah menjalin kemitraan dengan Bank yang juga milik Pemda Jabar, karena berhubungan dengan Bank akan memaksa SAU membuat administrasi keuangan dan manajemennya lebih tertata.

Yang jelas saya mendapatkan aura yang positif, yang menyenangkan, karena para putra pak Udjo alm (generasi kedua) menyenangi dan bisa melanjutkan apa yang telah dirintis oleh ayahnya, dan terlihat sekali wajah-wajah yang bahagia dan menatap ke depan dengan penuh harapan. Rasanya, kami semua ikut terkena aura positif ini, dan sekilas lupa masalah krisis finansial yang menghantui.

Sumber tulisan:

  1. Gayatri R. A. Strategi Bank Dalam Pengembangan Bisnis Usaha Kecil dan Menengah (lanjutan). Lembang, 31 Maret- 3 April 2009.
  2. Hasil peninjauan ke lokasi SAU wawancara dengan Satria, Direktur Operasional SAU, bersama jajarannya.

Catatan:

Bagi yang berminat, dan ingin mengunjungi Saung Angklung Udjo, alamatnya sbb:

Jl. Padasuka no.118 Bandung 40192, Jawa Barat. Telepon (o22) 727 1714, 710 1736.

Web: http://www.angklung-udjo.co.id.

Email: info@ angklung-udjo.co.id; marketing@angklung-udjo.co.id


About these ads

Responses

  1. wah lengkap sekali ulasannya bu… sayang waktu ke bandung belum sempat ke sana.
    Saya sih sudah pernah jadi anggota grup angklung waktu SD, dan selalu pegang sedikitnya 2 not/angklung melodi hehehe.

    EM

    Ikkyu-san,
    Saya bolak-balik ke Bandung, baru kemarin ke Saung Udjo.
    Itupun karena menemani para peserta pelatihan, karena sambil melihat dan menilai faktor ekonominya. Besoknya dilakukan diskusi dari berbagai segi, yang sayangnya tak mungkin diungkapkan disini.

  2. aduh bundaku satu ini memang hebat sekali…semua yang ditulis terpapar sesuai dengan kronologisnya…(he..he..saya cuma inget sepotong2 aja bu)

    setahun yang lalu saya sempat mengunjungi Saung Mang Udjo…dan semua pertunjukan disana memang menarik…anak kecil kalau tidak salah yang terkecil umur 3 tahun sudah pandai menari dan ikut pagelaran tersebut..

    kegiatan2 di SUA merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia…

    Tini,
    Kan memang kesana untuk menganalisis, dan kemudian didiskusikan di kelas (tentu hasil diskusi tak dituangkan di blog). Dan saya udah janji sama kang Satria (Direktur Operasionalnya) untuk menulis di blog, agar saung Udjo juga makin dikenal oleh masyarakat kita, bukan hanya wisatawan mancanegara

  3. jadi pengen liat daku…

    Almascatie,
    Silahkan…

  4. Hebat juga ya SAU sudah memikirkan semacam CSR segala … Padahal di LN kegiatan serupa bisa saja berhak atas subsidi pemda karena relatif langka (seperti teater, orkes philharmoni dll) dan bisa mempromosikan kota/daerah … Salut, juga buat ulasan Bu Enny !

    Oemar Bakri
    ,
    Sebetulnya ulasannya belum lengkap, tapi jika tulisan di blog terlalu panjang, orang bosan membaca..
    SAU sudah bekerjasama dengan Deplu, bahkan kegiatan untuk di LN berlanjut terus. Disamping itu juga menjalin kemitraan dengan petani bambu, dengan pembuat angklung dan hal-hal lainnya. Dan anak-anak kecil itu, juga diajarkan berbagai hal, SAU menganut pendidikan terbuka, sehingga anak-anak saat mengadakan pertunjukan merupakan bagian dari pelatihan, mereka melakukan dengan senang. Untuk yang profesional memang dibayar, sebagaimana pembayaran berdasar saat tampil…biasanya untuk keluar manggung di tempat yang sudah profesional, dan di luar negeri. SAU juga punya kemitraan untuk menjual barang produksinya (berupa souvenir) dengan Mal di Jakarta.

  5. Iya, ulasannya lengkap sekali. Emang sekali ada yang menarik gitu, langsung ditulis ya bun.. hehehe.. ada bakat reporter..

    Puak,
    Berarti saya salah masuk ya….Saat masih kerja, sehabis kunjungan ke lapangan kan memang harus buat laporan lengkap, dan setelah punya blog, hasilnya ditulis di blog (tapi tak selengkap jika berupa bahan laporan).
    Dan semoga cerita di blog ini juga memberikan sharing pada orang lain, ada beberapa tempat yang menyenangkan juga untuk dikunjungi.
    Tulisanku di blog ini tentang sebuah hotel di Bandung, membuatku dikunjungi GM hotel tsb, malah beliau mengajak diskusi dan minta saran-saran bagaimana mengembangkan hotelnya agar tamu kerasan. Hahaha….

  6. Dulu sering bertanya-tanya, bagaimana SAU membiayai usahanya, apakah SAU benar-benar industri kecil sederhana yang tak bersentuhan dengan bank untuk pemodalan, ternyata nggak ya Bu. Pertanyaan berikutnya, bagaimana mengevaluasi bisnis serupa SAU yang tidak ada “kembarannya” ini? Barangkali indikatornya lebih ke indikasi ekonomi saja? Wah saya belum mudeng.

    Lebih tertarik lagi waktu Ibu cerita, ternyata ada 5 SBU dibawah naungan SAU. Apa saja ya Bu?

    Wah saya senang sekali dengan cerita sukses industri yang merakyat seperti ini Bu, apalagi, SAU merangkul anak-anak. Mungkin ada suara nyinyir yang melihatnya sebagai bentuk eksploitasi anak, tapi saya sama sekali tak melihatnya demikian.

    Yoga,
    Pertanyaanmu konsumsi untuk diskusi tatap muka, karena lebih detail, dan saya tak bisa menjawabnya disini.
    Eksploitasi anak jelas bukan, karena anak-anak itu menari di depan tamu, untuk latihan agar mereka berani tampil di depan umum, sebagai bagian dari latihan. Dan acaranya juga dipandu presenter, yang memberi aba-aba pada anak kecil tersebut. Kesalahan juga terjadi berali-kali, tapi karena lucu, orang malah ketawa…jadi memang bukan eksploitasi anak. Bukankah ortunya senang, mereka sekolah dibiayai, dilatih main angklung dan menari? Jika lulus SMA dan tak berminat jadi penari, juga bebas kok keluar dari SAU…jadi hubungannya tak mengikat. SBU nya mirip SBU perusahaan, dari prosesawal sam sampai jaringan bisnis ritel. Dan yang menyenangkan, SAU juga punya kemitraan, dengan petani bambu maupun pembuat angklung (sebagaian angklung diproduksi mitranya, tapi nanti distandarisasi lagi di SAU…ada ahlinya yang telah punya pengalaman kerja 33 tahun). Harus diingat, SAU adalah holdingnya, dibawahnya ada yayasan (untuk CSR), dan badan hukum PT.

  7. Wow … kayaknya industri macam begini, …kreatif begitu … solusi buat masalah ekonomi bangsa

    Ersis Warmansyah Abbas,
    SAU telah dikelola profesional. Dan jika melihat definisi tentang industri kreatif, maka SAU dapat digolongkan sebagai industri kreatif. Daya tariknya pada kreatifitas manusia, untuk menemukan jenis tarian baru, lagu baru yang dapat dimainkan, dipadu dengan teknik prodyuksinya, dan dikemas sebagai bagian pertunjukan.
    Bahkan latihan menari dan main angklung anak-anak bisa dikemas menjadi bagian pertunjukan, bisa dinikmati orang. Memang terkadang terjadi kesalahan, tapi karena lucu, tamu senang saja, apalagi tamunya juga dilibatkan dalam pertunjukan tsb…main angklung, diajak menari dll.

  8. Hehe jadi inget waktu TK jadi anggota angklung :)
    Kesenian begini ini kalo ga dilestarikan bisa punah sangat cepat.
    Anak-anak jaman sekarang lebih suka mainan synth dan loop music :)
    Adalah tugas blogger juga untuk menyiarkannya ke media yg kebetulan juga digandrungi anak-anak muda itu, internet…

    DV,
    Masing-masing industri ada segmen pasarnya, dan kita perlu tahu kemana segmen pasar yang dituju. SAU jelas lebih banyak untuk wisatawan asing…walau saya lihat kemarin rombongan pengunjung Indonesia juga ada sekitar 50 an orang, padahal hari Selasa, bukan hari libur. Dan pasarnya memang beragam, kalau udah dewasa mereka profesional, banyak juga ke luar negeri untuk pertunjukkan, disini yang diperlukan adalah proses kreatif yang terus menerus.

  9. informasinya berguna sekali bun
    saya ingin juga bisa mengembangkan budaya sumatera utara seperti itu

    Reallylife,
    Kebetulan kemarin ada teman dari Papua dan Riau, yang juga langsung mendapat inspirasi untuk mengembangkan budaya kreatif di wilayahnya.

  10. blum pernah ke sana.. :(

    Zam,
    Coba deh kalau di Bandung…atau kita bikin acara blogger kesana..kan bisa pulang pergi…

  11. [...] 4. Bunda Edratna ” fabulous in inspiring for ordinary parents life “ [...]

  12. sekalian mampir ke blog saya bun
    ada award buat bunda
    makasih

    Reallylife</em>,
    Makasih awardnya….segera meluncur

  13. Waktu saya SMP, saya membuat semacam karya tulis yang membahas saung angklung Mang Udjo. Alhamdulillah, masih sempat bertemu dengan Pak Udjo sendiri waktu itu.

    Yang disayangkan, walaupun dikelola secara apik, gaungnya di dalam negeri masih kalah dengan industri kreatif lainnya. Coba tanya sih anak muda, berapa banyak yang familiar dengan Pak Udjo Ngalagena?

    Herru,
    Kita tak bisa memaksa orang…namun bagaimana kita membuat suatu industri yang bisa menarik segmen pasar tertentu. Dari pengamatan saya, banyak juga pengunjung sukarela (tak dalam kelompok) yang dari usia muda. Dan memang pasar luar negeri lebih banyak tergarap…di satu sisi ini juga bagus untuk mengenalkan budaya Indonesia. Menurut saya, SAU pasarnya memang segmented, hanya pada kelompok tertentu yang mencintai kesenian dan industri kreatif….dan tak bisa diperbandingkan dengan pasar anak muda yang lebih menyukai musik masa kini.
    Apapun saya salut, karena mereka berjuang untuk membuat budaya Indonesia tak hilang

  14. andai saja banyak orang yang mau menekuni industri kreatif seperti SAU, bisa jadi indonesia tak gampang dihantam krisis, ya, bu. kreatif sendiri mengandung makna adanya upaya yang dilakukan secara hterus-menerus sehingga mampu menghasilkan karya di tengah tumpukan masalah. SAU perlu direkomendasikan sebagai salah satu contoh industri yang layak dapat penghargaan.

    Sawali Tuhusetya,
    Kebetulan kemarin ada teman-teman dari Papua dan Riau yang langsung tertarik, dan mendapat inspirasi bagaimana membuat budaya masyarakat Papua mampu menyedot wisatawan. Terus saya menjelaskan, bahwa saya pernah ke Wamena, yang kalau siang hari mereka berdasi sebagai staf hotel…dan malam harinya menghibur tamu dengan tarian dan mengenalkan adat Papua, seperti “Bakar Batu” dsb nya. Tentu saja ini menjadi nilai tambah untuk hotel tsb, selain ada pemasukan di luar pendapatan kamar dan makanan.

  15. Nah…. itu dia…. terkadang memang kreativitas dapat menjadi sebuah competitive advantage yang tak ternilai harganya. Namun competitive advantage ini harus terjadi secara kontinyu kalau bisa terutama untuk mengantisipasi inovasi dari produk-produk yang ikut-ikutan/copycat.

    Sementara mereka yang copycat saja, yang hanya meniru tanpa inovasi lebih jauh dan tanpa adaptasi yang kreatif seringkali hasilnya juga sangat mengecewakan……….

    Yari NK
    ,
    Kalau cuma copy cat memang sulit berkembang, karena industri kreatif memaksa pemiliknya dan atau manajemennya berpikir kreatif terus menerus…jadi disini tak bisa hanya mengandalakan modal. Key succes Factornya dari pemikiran kreatif yang terus menerus itu.

  16. salam kenal aja bu, saya blogger baru

    mampir
    Mp3 Lagu Indonesia

    Mbah google,
    Salam kenal juga

  17. wow, saya membayangkan adegan pas menari bersama pengunjung. pasti seru dan menyenangkan

    Utaminingtyazzzz,
    Acara forkom ke Bandung aja..terus kesana rame-rame….asyik kok.

  18. Waktu acara TIME 2004 dan 2005 aku ikutan bunda, yang di jogja itu…dan Jawa Barat memperkenalkan kesenian angklung nya…

    penonton di ajak bermain dengan membunyikan angklung berdasarkan nama2 pulau…seru banget deh…

    semoga tetap lestari kesenian ini ya

    Ria,
    Sesuai definisi industri kreatif, SAU termasuk dalam industri kreatif…keberhasilannya ditentukan oleh kreativitas manusia di dalamnya.

  19. Ibu memang mesti ke SAU. Takkan terlupakan.
    Yang menarik, kini banyak perusahaan yang mulai mengalihkan event-event perusahaannya ke SAU. Tidak melulu d hotel-hotel atau gedung pertemuan.

    Betul kata Ibu, dengan menggelar acara perusahaan di SAU, tak hanya event-nya saja yang lancar, namun juga aura posiif yang mengalir demi menikmati sajian yang tak mungkin ada di tempat lain. Banyak perusahaan kini lebih membumi soal tempat serta atmosfir suguhan.

    Daniel Mahendra,
    Wahh SAU benar-benar menyenangkan, suasananya membawa aura positif…ini seperti mengunjungi Salihara, suasana yang sepi makin sore makin rame, dan pengunjung restoran makin cair, antara meja satu dan lainnya bisa saling tersenyum dan lama-lama kenalan. Malah ada anak yang nempel ke Putri terus (salah satau teman blogger yang saat itu ketemuan di Salihara).

  20. Ada contact numbernya segalaaaa… :) Makasih yaaa… Mudah-mudahan sempet ke sana minggu depan :)

    Neng Keke,
    Temui juga Kang Satria, supaya mendapatkan informasi secara menyeluruh…..dan tak hanya melihat pertunjukannya

  21. Wuih, ulasannya detil dan ciamik. Saya gak nyangka aja ternyata SAU itu “perusahaan besar” juga ya. Saya mengenalnya ya pas main Angklung Bersama di kantor dengan mendatangkan SAU, dalam salah satu acara di kantor. Jadi pengin main lagi, soalnya amazing banget, sekumpulan orang yang “buta angklung” dapat memainkan alat musik itu secara bersamaan dan menghasilkan irama lagu yang indah dan kompak :-)

    Bundanya Dita,
    Hmm..bagiku SAU dan aura nya memang membuat hati nyaman

  22. Wah tulisannya lengkap dan terstruktur macem laporan kunjungan, Bu.

    Setelah baca tulisan ini, jadi pengen ke sana euy, sekalian jalan2 ke gedung yang diteliti sama Pak Grandis…

    Eh iya, pas Public Expose Sukuk Ritel beberapa bulan lalu, souvenirnya angklung, dapet nada apa saya waktu itu…?? Lupa… Hehehe..

    Mangkum,
    Saya udah janji sama Kang Satria, kalau akan menulis hasil kunjungan ke SAU, apalagi kami benar-benar merecoki, selama hampir 3 (tiga) tanya macam-macam sampai detail, dan kang Satria menjawab dengan senyum yang terus tersungging diwajahnya. Aura positif inilah yang membuat saya benar-benar menuliskannya dengan lengkap (walau masih ada yang kurang, tapi itu tidak untuk publik…tapi akan lebih baik saya sampaikan untuk kang Satria langsung)

  23. [...] Hasil kunjungan nantinya akan dipresentasikan oleh kelompok, yang membahas dari berbagai hal, disini para peserta bebas beradu argumentasi agar lebih memahami bagaimana menilai sebuah usaha. Kali ini yang dikunjungi pertama kali adalah usaha peternakan sapi perah, di desa Cibogo, Kecamatan Lembang. Kunjungan kedua dilakukan setelah makan siang, adalah untuk yang kedua kalinya (bagi saya), namun pertama kalinya bagi peserta angkatan pelatihan kali ini, yaitu Saung Angklung Udjo. [...]

  24. sudah sekitar 3 th yang lalu saya bersama tmn2 guru MGMP Seni Budaya dari Kab.Bekasi berkunjung k saung udjo tapi sampai skrg msh berkesan,hanya saya masih ingin tau kode dirigen angklung untuk notasinya karena sudah lupa.Kalau boleh tau tlg dikirim k alamat email saya kode – kode dirigen notasi angklung.terima kasih.

  25. ……ternyata,,,
    saung udjo nie bagus banget…..
    di sana kita bisa mengetahui bebrapa alat msik yg ada,,,,
    & juga bias memperluas wawasan kita…
    tentunya saya sbg pelajar!!!!!!

  26. Alhamdulillah….ada juga yang sempat dan mau menuangkan ide menulisnya selengkap ini.Pernah ada yang menanyakan bagaimana cara membuat angklung,tapi karena belum ketemu situsnya,maka saya belum bisa jawab.Nanti mudah-mudahan ada yang menanyakan lagi.Insya Allah akan saya tunjukkan di sini.Terima kasih ya ,,,tulisan Ibu bermanfat untuk orang banyak.

    Syukurlah bila bermanfaat

  27. Kami dari smpn 10 mau mengunjungi saung ujo …insya Allagh April 2010

    Semoga kunjungannya lancar dan mengesankan.

  28. luar biasa cara memenej ala saung angklung mang udjo,kami salah satu peserta pelatihan dari SDN Negeri jeruk kec.Pancur Kab,Rembang jateng.merasa terkesima dg keberadaan saung angklung Mang Udjo Bandung.jg ucapan TERIMA KASIH kpd GN-OTA Jakarta yang telah memfasilitasi.shngga Kami dpt mengetahui dari dekat ttg angklung.

  29. saya suka dengan angklung dengan suara dan bunyinya yang sangat enak, merdu, juga mudah di gunakan, maka nya itu saya dari kecil suka memainkan angklung

  30. sangat bagus dan menarik semua kalangan.ada unsur mendidik disana melatih kekompakan dan tentunya tercipta suara yang harmonis.inilah yang saya cari .pertanyaan saya:bisakah menerima kelompok kecil seperti keluarga ?thanks infonya?

    Ada web sitenya…anda bisa langsung bertanya, bisa lewat email atau telepon kok.

  31. salam kenal bu… saya bloger baru… tertarik sekali maen keu saung udjo… punya kode nada angklung yg pake isyarat tangannya ngak… kebetulan saya pendamping warga lanjut usia disebuah yayasan… salah satu kegiatannya belajar angklung tapi saya lupa kodenya… dulu pernah sekali keu- SAU…

    Maaf, saya juga cuma dua kali ke sana..ada web site nya kok kalau ingin tanya langsung.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: