Oleh: edratna | Februari 16, 2010

Komunikasi orangtua dan anak diperlukan untuk mengurangi “bahaya dunia maya”

Jika kita membaca berita akhir-akhir ini, rasanya sedih sekali. Ada anak remaja yang lari dari rumah bersama orang yang dikenal melalui facebook, bahkan ada yang sudah mahasiswa sebuah Fakultas Kedokteran dari PTN terkenal yang juga pergi bersama dengan teman yang dikenal di face book. Ada juga anak SMA yang dikeluarkan di sekolah karena menghina guru di facebook. Sebetulnya penipuan tak terjadi saat ini saja, bahkan zaman belum dikenal internet pun sudah ada, namun merebaknya dunia maya, memungkinkan anak-anak yang masih dalam kondisi rapuh dan emosional, serta tidak memahami “hukum” terjebak didalamnya.

Apa yang harus kita lakukan? Saya memahami, tak semua orangtua memahami internet. Kondisi saat ini, mau tak mau mengharuskan orangtua belajar internet agar dapat bersama anak-anaknya menjalin komunikasi yang sehat. Memang kelihatannya mudah, bagaimana jika orangtua tak mampu? Dari berita di Kompas hari Sabtu tanggal 13 Februari 2010 halaman 25, saat ini telah ada organisasi nirlaba yang selalu mengkampanyekan cara berinteraksi sehat. Tinggal akses situsnya dan mengunduh gratis program-program yang bisa mengamankan fasilitas internet di rumah maupun di warung internet. Banyak tip yang bisa diperoleh dengan mengakses situs resmi www.internetsehat.org. Salah satu pegiat internet sehat, Donny BU, mengatakan, agar tak salah langkah sebaiknya ortu mengenalkan dunia internet kepada anak-anaknya, terutama yang telah menginjak remaja, dengan beberapa tips sederhana.

Tip yang disarankan oleh Donny, sebagai berikut:

  1. Harus diingat, tidak semua pengguna internet jujur atas informasi tentang dirinya yang diunggah di situs jejaring social, seperti FaceBook, twitter, Friendster dan my space. Saat bertukar informasi dengan mengunggah data pribadi maupun chatting, pengguna internet diharapkan tidak mengumbar data pribadi.
  2. Kalau sudah on line, jangan mudah terpengaruh dengan data-data pribadi orang lain di internet yang menarik perhatian. Data tersebut bisa diniatkan untuk menjahili, menjebak, atau membuat malu orang lain. Waspada saja dengan siapapun yang ingin tahu lebih banyak.
  3. Dianjurkan, internet sebenarnya bukan tempat untuk mencurahkan isi hati, terlebih kepada teman yang baru dikenal di dunia maya. Akan lebih baik kalau orang tua bisa menjaga komunikasi dengan anak. Biasakan mencurahkan perasaan kepada teman atau sahabat di dunia nyata. Kalau berencana ketemu seseorang yang dikenal di internet, disarankan mengajak orang terdekat untuk menjaga hal yang tak diinginkan.
  4. Tak terbatas pada remaja, semua pengguna internet dan anggota situs jejaring social diwajibkan waspada saat menerima kiriman email, file, ataupun gambar dari seseorang tang tak dikenal. Bisa jadi, kiriman tsb untuk memancing kearah jebakan kejahatan atau sekadar merugikan, seperti kiriman file sampah atau spam yang terkadang membawa virus perusak program. Kewaspadaan serupa juga pada URL atau link yang mencurigakan. Jika tak diketahui sumber pasti, diminta untuk tidak mencoba-coba mengklik URL tsb.
  5. Saat berinternet, godaan untuk aktif di chat room atau milis sangat besar. Selalu ada tawaran atau undangan untuk bergabung dengan milis tertentu. Kalau provokatif ataupun berisi hal-hal negative, segera tinggalkan. Pengguna internet, terutama remaja yang masih mudah terbakar emosi, wajib dipandu agar tak terpancing dengan provokasi. Bertengkar dan bertukar kata kasar bisa berujung bui.

Tentu saja kita juga mesti mengingat adanya uuite, yang bisa menyebabkan seseorang terkena hukuman penjara jika salah langkah. Dan mungkin ada baiknya, program sosialisasi hukum perlu diberikan ke sekolah-sekolah, agar anak-anak sadar hukum, serta bertindak sesuai norma yang telah ditetapkan aturannya. Saya sadar, sampai dengan lulus S1, saya hanya memahami hukum secara garis besarnya, padahal kita semua termasuk anggota masyarakat yang harus mengikuti aturan hukum. Setelah bekerja dan memahami risiko hukum, saya mencoba untuk mengajak anak-anak mulai memahami bahasa hukum terutama yang berkaitan dengan kegiatan mereka sehari-hari. Tidak mudah memang, dengan percakapan sehari-hari yang diselipi pesan-pesan, secara tak langsung pemahaman ini akan masuk ke pikiran mereka.

Dan yang tak boleh dilupakan, anak usia remaja sangat dekat dengan teman-temannya. Walau mengusahakan agar anak mandiri, orangtua harus mengenal siapa teman anak-anaknya, dengan siapa mereka bergaul dekat, siapa orangtua teman anak-anaknya, sehingga dengan memahami ini, orangtua bisa memonitor anaknya tanpa merasa anak dibuntuti dan resah. Hubungan orangtua dan guru, serta orang tua dan dosen (biasanya disetiap universitas ada pertemuan antara wali mahasiswa dan orangtua), membuat orangtua bisa mengerti perkembangan anak-anaknya di sekolah/perguruan tinggi, apakah anak-anaknya mempunyai masalah.

Dan yang perlu disadari, sering kali kita melihat seseorang begitu terbuka menulis status nya di facebook. Terkadang  facebook dianggap merupakan tempat untuk mencurahkan pikiran dan perasaannya, padahal apa yang ditulis di facebook dibaca oleh orang lain. Dan ada kemungkinan seseorang akan dinilai dari bagaimana dia menuliskan status di facebooknya. Kita bisa terkaget-kaget, orang yang sehari-hari terlihat pendiam, ternyata komentar di face book nya sangat berani dan mengagetkan. Disini kita memahami, ternyata menjadi orangtua zaman sekarang tidak mudah, diperlukan keinginan untuk terus belajar agar bisa memahami anak-anaknya, dan berkomunikasi yang baik.

Yah, komunikasi yang baik antara orangtua dan anak merupakan sarana agar anak-anak tidak jatuh ke tangan orang yang tidak dikenal, yang dapat berakibat buruk. Saya masih ingat,  si sulung senang membaca segala sesuatu, termasuk majalah Tempo, saat usianya masih kelas 2 SD. Saat itu saya memutuskan untuk menghentikan langganan majalah tersebut, karena kawatir perkembangan anak yang suka membaca berita yang belum sesuai untuk umurnya, namun oleh psikolog, saya diberitahu bahwa sebaiknya tetap berlangganan, dan orangtua harus menyediakan waktu untuk diskusi dengan anak, sehingga kita segera tahu kalau ada masalah dan tak terlambat memperbaikinya, dibandingkan jika anak diskusinya dengan orang lain. Dengan diskusi, kita akan bisa memahami jalan pikiran anak, serta bisa segera meluruskannya, atau meminta bantuan ahli jika permasalahan diluar kemampuan orangtua untuk mengatasinya.

Komunikasi dengan anak tak perlu dilakukan secara serius, bisa sambil melakukan aktivitas sehari-hari, obrolan saat makan, atau bisa juga obrolan saat ayah dan anak melakukan hobby nya. Orangtua yang keduanya sibuk harus tetap menyediakan waktu untuk anak-anaknya, kalau tak bisa secara kuantitas, dapat dilakukan secara kualitas, dan tak ada alasan untuk tidak punya waktu. Orangtua bisa mengajak jalan-jalan ke Mal, ke toko buku, dan sambil makan bisa mengobrol santai yang diselipi pesan pada anak-anak. Bagaimana jika orangtua tak mampu? Kehidupan saya di kota kecil, dengan ayah ibu pendidik, memungkinkan saya dan adik-adik banyak mendapatkan dongeng sebelum tidur, dan setelah besar, obrolan ini dilakukan sambil membantu ibu memasak di dapur.

Orangtua harus memberi contoh perilaku yang banyak, tak hanya ucapan, dan ini bisa dimulai sejak anak kecil sampai dengan mereka dewasa. Kondisi saat ini, harus membuat orangtua memperhatikan perilaku anak sehari-hari, apakah ada yang beda? Perhatikan juga gesture nya dalam percakapan sehari-hari, orangtua yang waspada akan bisa melihat apakah anaknya dalam kondisi “baik-baik saja” atau masih baik, namun sudah perlu diwaspadai. Misalkan anak yang biasanya banyak senyum, terlihat senyumnya terpaksa saat makan bersama orantua,  maka orangtua juga harus mulai  bertanya dalam hati….namun tak harus langsung menanyakan. Pendekatan yang baik, akan membuat anak menjadi lebih terbuka pada orangtua. Semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang baik, sahabat anak tempat mencurahkan perasaannya, sehingga anak tak merasa sendiri jika mempunyai masalah.

Sumber bacaan diambil sebagian dari sini:

http://www.detiknews.com/read/2010/02/14/150608/1299268/10

http://www.detiknews.com/read/2010/02/13/174551/1299008/10

http://hariansib.com/?p=110906

Kejahatan dunia maya: “Tingkatkan kampanye berinternet sehat.” Kompas, 13 Februari 2010 hal 25

About these ads

Responses

  1. bener banget tuh komunikasi intinya ya…
    saya juga masih mesti belajar buaaannnyyyyaaakkk banget nih karena anak saya masih balita. perjalanan masih panjang.

    sering2 sharing disini ya mengenai membesarkan anak… :)

    Untung Andrew masih kecil..masih banyak waktu.
    Dan sulitnya tak ada pendidikan untuk menjadi orangtua…tak ada
    job training pula

  2. saya sama dengan mas arman, harus belajar dari sekarang untuk menyikapi kemajuan modernisasi yg melesat cepat. internet memang dahsyat manfaatnya, namun kita juga harus menyadari bahwa disisi lain internet membawa sejuta konsekuensi bagi kita sebagai pengguna.

    surfing ke internet bagai memasuki dunia lain, nggak slah kalau org mengistilahkan internet = dunia maya. surfing ke internet tanpa prinsip dan kontrol yang kuat ibarat org terhipnotis, menelusuri setiapp lorong tanpa sadar, BAHAYA…!

    nice article
    salam hangat

    Ya, segala sesuatu memang harus disikapi secara bijaksana

  3. kemarin saya sharing dengan ibu saya tentang kekurangan saya, puji Tuhan dia dapat menerima kondisi saya.

    Syukurlah, hubungan yang baik dengan orangtua menenangkan jiwa anak

  4. Setuju sekali.

    Komunikasi dalam keluarga sangat diperlukan untuk antisipasi itu semua, termasuk menanamkan pendidikan sejak dini pada anak.

    Yup…betul

  5. Internet ibarat Pisau,
    Bisa buat ngupas buah (bermanfaat)
    Bisa juga buat membunuh (jahat)

    Yup..betul

  6. Btw,
    Pendidikan untuk ortu ada loh,
    Super Teen – Andre Wongso,
    Atau Super Parent – Tung DW
    aLe merencanakan ikut untuk masa depan Ais kelak.

    Maksudnya, menjadi orangtua sangat kompleks…dan anak-anak adalah unik, bahkan anak yang dilahirkan oleh orangtua yang sama, karakternya bisa berbeda jauh.
    Jika dalam pekerjaan, misalnya untuk menjadi Account Officer ada pendidikan klasikal, job training dan nantinya saat bekerja ada mentor yang selalu membimbing….tak ada pendidikan khusus bagi orangtua yang bisa menjawab semua masalah yang ada..karena permasalahan setiap orangtua dan anaknya berbeda satu sama lain…
    Namun ikut seminar, sharing dengan teman, maupun mel;ihat pengalaman orang lain bisa menjadi masukan untuk lebih memahami anak.

  7. Saya nggak pernah approve orang yang saya nggak kenal di Facebook.
    Facebook saya isinya temen2 lama semua. teman-teman baru hanya para blogger hehe..

    saya setuju, komunikasi orangtua-anak itu sangat penting. Yang memprihatinkan, sekarang banyak orang tua yang menyerahkan segala urusan ke pembantu/babysitter/nenek… jadi anak malah lebih dekat ke babysitternya… :(

    Saya sebetulnya lebih suka mengenal teman dari sebuah blog, karena tulisan menceriminkan karakter penulis blog itu. Jika di facebook, saya juga hanya mau approve teman kantor, teman dari blog, teman anak-anak saya serta keluarga.
    Ya, sesibuk apapun, orangtua harus dekat dengan anaknya, baby sitter dan pembantu hanya menggantikan peran orangtua saat orangtua bekerja. Hari libur, jika jalan-jalan sebaiknya orangtua mengajak anak tanpa baby sitter, sehingga kedekatan bisa dipupuk sejak umur dini.

  8. kemajuan yang sudah mengglobal ini memang ada sisi positif dan negatifnya ya Bu.
    Tinggal bagaimana kita secara bijak menyikapinya .
    lagi2 komunikasilah kuncinya,
    salam.

    Kita memang harus bijak menyikapinya….dan menunjukkan pada anak positif dan negatifnya, serta risikonya…

  9. kalau yg jauh dari ortu gmn Bun? :D

    Bukankah ada hape, email, chatting, FB, FS. MP…hehehe…
    Memang orangtua mesti mengikuti…..seneng juga saat pas istirahat, tahu-tahu ada email dari anak…atau melalui FB menyapa melalui message…
    Jadi, komunikasi tetap harus diupayakan, tidak menggurui, mau mendengar dan belajar bersama anak dan teman2nya…karena anak sekarang jelas pengetahuannya lebih banyak

  10. Semakin mudahnya membuat account di situs jejaring sosial, membuat remaja rentan berada di sana, Banyak informasi menyesatkan dan mereka yang biasanya masih senang coba-coba, mudah ‘kesasar’ ke daerah yang tidak diinginkan.

    Oraang tua juga kesulitan untuk selalu mendampingi, apalagi jika mereka sendiri masih ‘buta’ dengan teknologi. Link sangat mudah di klik, semudah menjentikkan jari. Sayangnya, facebook pun kini iklan-iklannya menampilkan perempuan-perempuan seksi di sidebarnya.

    Makin susah juga ya Bu, jadi orang tua kini…

    Betul Is, zaman anak-anak kecil, masalah hanya bagaimana mengatur agar mereka nonton TV pada jam dan hari tertentu, itupun harus dinegosiasikan dulu, dan benar2 harus disetujui mereka…dan ini bisa (saat itu anak-anakku masih usia SD).
    Sekarang, mau tak mau ortu juga tak boleh terlalu gatek walau saya tetap gatek)…saya belajar ikutan FS, MP, FB dan blog juga diajari anak…pada prinsipnya ortu memang harus mengup date diri agar bisa dekat dengan anak.

  11. Setuju Bunda. Komunikasi LANGSUNG antara anak dan orang tua sepertinya emang perlu digalakkan ya Bunda..

    Terlalu banyak contoh kurang/tidak baik dalam alam kebebasan berekspresi dan domokrasi kita akhir2 ini. Bukan hanya dunia maya yag jelas lebih bebas, Stasiun2 TV pun seperti sekedar berlomba ingin populer tanpa mempertimbangkan aspek moral para penonton yg dibangunnya. Kebiasaan menghukum orang melalui media dan membentuk pendapat publik, entah nantinya itu benar atau salah adalah kebebasan press yangmenurut saya sama sekali tidak bertanggung jawab dan kebablasan. Press bahkan terus menerus memberitakan seakan membenarkan cara2 orang melakukan protes, berdemo yg kurang sopan seakan membakar foto simbol2 kenegaraan itu sah2 saja. Jika bangsa sendiri tidak bisa belajar menghormati para pemimpinnya, jangan harap bangsa lain akan menghormati kita juga. Jika benar (hal mana hingga kini belum terbukti) pemimpin salah turunkan mereka dengan santun dan adili serta hukum mereka jika perlu. Namun kita harus lebih banyak belajar menghormati dan menjaga kesantunan bangsa ini. Disini peran orang tua tampaknya masih sangat penting dan dapat berpengaruh untuk mengarahkan anak2 mereka..

    Lho kok aku malah ngelantur kemana-mana sih… Maaf ya udah nyampah disini, Bunda.. :)

    Nggak apa-apa mas Nug, kita semua prihatin kok..dan TV juga makin nggak mendidik…kita malah disuguhi acara yang berantem…
    Memang menjadi orangtua sekarang makin berat

  12. Mbak Ratna,
    Kasus ini menggambarkan betapa semakin beratnya menjadi orang tua zaman sekarang.

    ‘Dunia’ sudah menjadi kawan terdekat bahkan masuk sampai kedalam kamar seorang anak. Karena batas orang tua bisa jadi terbatas pintu kamar, namun tidak demikian halnya dengan fb, twiter dll yang ada dalam genggaman anak.

    Anak harus dibiasakan bergaul di dunia nyata bersama teman-temannya, orangtua harus rela anak-anaknya mengikuti wisata alam, dan kegiatan outdoor yang lebih banyak berinteraksi dengan oranglain, karena ini nanti juga berguna dalam bidang pekerjaan

  13. ..
    Biasanya pemakai internet pemula yg gampang tertipu, dulu awal-awal mengenal dunia maya saya juga gampang percaya sama orang..
    Sekarang sih udah tau bagaimana untuk mensikapi dunia maya..

    Hmm…mungkin…atau mungkin anaknya intorvert sehingga lebih banyak di depan komputer tak bergaul dengan teman lain di dunia nyata.

  14. Dunia Maya bagai hutan belantara……
    Waspadala………

    Dunia maya sebetulnya menarik, hanya bagaimana kita menyikapinya.
    Anak yang belum dewasa memerlukan bimbingan orangtuanya

  15. yup betul bu, komunikasi itu yang paling penting. Perlu juga ditanamkan kepada anak bahwa komunikasi itu bukan berarti membatasi anak dalam akses dunia maya tetapi sebagai tempat berbagi rasa apa-apa yang telah dilihat dan dirasakan anak dalam dunia maya tersebut. Justru itulah peranorang tua dalam memberi pertimbangan-pertimbangan perkembangan dunia maya.

    Dengan komunikasi, masing-masing saling memahami…dan saling menghargai karena anak juga tahu bahwa orangtua pada dasarnya memberi kebebasan namun ada batas2 yang tak dapat dilanggar, itupun demi kepentingan anak. Dengan kmunikasi yang bak, anak akan bisa memahami dan menghargai orangtuanya

  16. setujuu banget….memang diperlukan komunikasi yang sangat terbuka…tetapi jangan lupa kadang kaget juga dengan undang undang yang baru loh

    Yup..komunikasi memang penting.
    UU mana yang dimaksud ? UUite? Atau RPM? Kan masih dalam taraf pembahasan..pada dasarnya kita harus menjadikan anak sebagai orang bertanggung jawab, baik di duna maya maupun dunia nyata

  17. Salam super-
    Salam hangat dari pulau Bali-
    betul – saya setuju, orangtua memang harus sangat komunikatif , sehingga tahu betul apa yang sedang di alami anak-anaknya…

    Thanks kunjungannya

  18. betul banget,
    orangtua tak boleh lagi
    percaya sepenuhnya pada anak,
    pengawasan melekat harus
    terus dilakukan agar
    anak-anak terhindar
    dari efek negatif dunia maya

    Orangtua memang harus tetap dekat dengan anak, namun tak berarti mengekang….
    Dan ini anak harus memahami, sehingga tak terjadi salah pengertian

  19. Ibu benar sekali. Kita, orang tua bukan sekedar harus memfasilitasi anak secara material. Berani jadi orang tua berarti harus bisa menjadi suri tauladan dan senantiasa jujur dan terbuka bukan hanya kepada suami/istri tetapi juga kepada anak.
    Salam…!

    Yup betul…menjadi orangtua hars tetap menyayangi, memberi contoh nyata, dan menjadi panutan bagi anak. Komunikasi yang terbuka sangat penting, dan keakraban anak dengan orangtua terasa indah

  20. setuju bu, terima kasih infonya, gadis2ku sedang meningkat remaja, hanya hari libur diijinkan ol dg maksud ortunya di rumah dan bisa mengawasi, berita negatif internet jg sudah disampaikan dan bgmn rambu2 pencegahannya, dari majalah remaja ada juga panduan internet sehat, mereka jadi tambah yakin mesti hati2 di dunia maya
    ngeblog ini jg sbg caraku utk lebih dekat dgn dunia anak

    Betul bu, menjadi ibu juga harus mengikuti zaman..ngeblog, Fb dll adalah sarana agar orangtua tetap dekat dan bisa memahami anak-anaknya

  21. SZAya setuju banget dgn apa yang dikulas bunda Ratna disini. Komunikasi & pengawasan ortu, tetap yang utama dlm keluarga.

    Hem, untungnya putraku (10 thn) belum kepingin utk punya face book itu bunda, kalaupun dia mau saya pasti larang krn berbagai faktor. Hanya bbrp waktu lalu sempet menanyakan dan melihat facebook sepupunya yang sudah 14 thn. Saya langsung jelasan kegunaannya. Dan sesekali dia sengaja saya tunjukkan facebook saya yang juga agak jarang di up date.

    Saya coba jelaskan ke putraku bahwa mama & papanya hanya menggunakan situs jaringan tsb hanya utk tujuan komunikasi antar anggota keluarga / family yg kebetulan tdk tinggal berdekatan / satu kota/ wilayah. Kalau utk keperluan yang lain2 saya rasa tetap masih kurang efektif. Dan sepertinya putraku setuju, bahwa dirinya nggak boleh ikut2an temen2nya yang lagi keranjingan punya fb.

    Jadi kita sebagai ortu hanya pandai2 memberikan penjelasan ke anak2 kita terutama yg masih dibawah umur dalam menggunakan sesuatu yang bersifat trend. Bukan apa2 bunda Ratna, sekarang ini di sekolah anak saya pengguna fb memang merebak. Kecil2 (msh SD) sudah pada pegang bb dan sejenisnya. Hem…kadang saya berpikir, utk apa anak seusia mrk di berikan fasilitas yang masih belum mrk perlukan, yach ? (Yach…saya prihatin saja, mungkin ortu mereka mampu memberikan , tapi kalau anaknya keliru menggunakannya apa nggak berabe, wele wele)…

    Ok, dech bunda Ratna thanks alot atas kulasannya yang menarik ini. Semoga keluarga kita senantiasa dlm lindungan NYA. Amien :) :) :)

    Best regard,
    Bintang

    Sekarang menjadi orangtua memang harus ekstra hati-hati..menjaga anak namun tak mengekang, agar anak tetap tmbuh berkembang dan mandiri.
    Saya tak tahu pasti, sebenarnya apakah FB ini cocok dengan anak-anak ya..karena begitu kita ikut di dunia maya, kita juga berarti harus memahami peraturan dan etika internet….dan ada uuite yang tak boleh dilanggar.
    Saya dulu sejak dini mengajarkan tanggung jawab, secara pelan-pelan mengajarkan bahwa orang harus taat hukum, kapan anak dianggap dewasa, apa yang boleh dan tidak. Yang sulit adalah menyadarkan anak, bahwa orangtua melarang bukan berarti tak boleh, tapi nanti ada waktunya sendiri….jadi memang harus diajak diskusi sehingga mereka nggak ada ganjalan…dan bisa menjawab jika diajak teman-temannya.

  22. terima kasih infonya mbak ratna…
    buat bekal saya :)

    Syukurlah jika bermanfaat

  23. hm… saya juga prihatin dengan begitu maraknya fenomena itu.. kita memang gak bisa menyalahkan facebook.

    sekarang ini, tuntutan jaman mengharuskan kita lebih kuat dan pandai dalam menyiasati segala hal… wah, saya jadi sering mikir, gimana nanti jaman anak saya yaaa… ck..ck.. ck…

    anyway, saran yg di postingan, mantap… :)

    Betul Anna, kita tak bisa melarang, namun mengajarkan bagaimana menyikapinya secara benar

  24. tulisan yg menarik, bu. memang kalau jadi ortu itu idealnya hrs bs ngobrol dg anak2nya. tp seringnya kok nggak begitu ya. tp semoga klo saya jd ortu, saya bisa bicara dr hati ke hati dg anak saya

    Kris, saat ini banyak orangtua yang dekat dengan anak…dan ini sangat dianjurkan. Kedekatan ini akan mengurangi bahaya terhadap narkoba dan hal buruk lainnya, karena dengan dekat, orangtua secara langsung mengetahui perubahan tingkah laku anak, walau masih gejala dini, sehingga masih mampu mencegah risiko yang lebih besar.
    Percayalah, Kris pasti bisa, dan dekat dengan anak sungguh menyenangkan…anak-anak saya bagaikan teman, dan saya ngeblog ini juga diajari oleh anak.

  25. Bu, artikel yg dahsyat
    Temanya hampir sama dengan postingan terbaru saya :)

    Iya, saya sudah menengok kesana…kita ikut prihatin atas fenomena akhir-akhir ini

  26. Memang tidak mudah menjadi orang tua baik bagi anak di zaman sekarang. Seperti kata ibu, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak hanya bisa mengurangi dahsyatnya pengaruh buruk dunia maya. Menutup sama sekali akses bagi anak untuk berinteraksi ke dunia maya, tampaknya juga bukan solusi yang tepat.

    Kuncinya memang komunikasi, dan orangtua harus mau terus belajar agar pengetahuannya bisa mengikuti kemajuan anak.
    Kenyataannya, banyak kok orangtua yang akrab dengan anak-anaknya

  27. weww.. gw blm py anak tp ini atikel yg bagus.. kakak gw mesti baca nih spy anaknya gak menjadi korban dunia maya yg memprihatinkan :mrgreen:

    Nggak apa-apa, kan nantinya akan bakal menjadi orangtua..entah kapan

  28. untung anak saya masih kecil..saya juga kurang suka dengan pengunjung blog yang gambar avatarnya bukan gambar muka sebenarnya…ditujukan untuk memancing kunjungan saja..

    Ada juga yang sebetulnya hanya untuk menaikkan trafik….biasanya saya coba melihat, namun tak akan balik lagi jika memang konten blognya bukan termasuk harapan saya.

  29. mendidik anak2 jaman skrg aja ribetnya gini, apalagi tantangan utk mendidik anak2 jaman anak saya nanti ya :D never old to learn :)

    Jangan kawatir, manusia diberi pengetahuan dan akal..pasti bisa kok.
    Dan anak-anak, jika sejak kecil orangtua dekat, memberi contoh yang baik, sampai besarpun tetap akrab dengan orangtua

  30. Betul ibu …
    Kita harus tetap buka mata buka telinga …
    untuk hal seperti ini …

    yang jelas …
    kami meng add anak-anak kami dalam jajaran teman kami …
    Supaya kami bisa memantau ..

    Salam saya

    (BTW eh ada Ibu eNPe lagi … sudah lama saya tidak melihat ibu asal kalimantan itu …)

    Betul pak…saya juga ikutan FS, MP, FB dan ngeblog agar dekat dengan anak-anak.
    Dan sebetulnya..mereka bangga bisa dekat dengan orangtuanya

  31. Persoalan jaman sekarang barangkali memang tantangan menghadapi dunia maya, nanti waktu anak saya udah besar tantangannya pasti lain lagi ya Bu ya…

    Betul, tantangan selalu berubah seiring perubahan zaman.
    Namun orangtua yang memang ingin anaknya maju, juga tak kurang akal, untuk terus berkembangg, mengup date diri, dan mencari cara bagaimana anak-anak terlindungi namun tetap bisa bebas, mandiri dan bertanggung jawab.

  32. Ibu .. adaDapatkan DVD Gratis Perangkat Internet Sehat & Aman untuk Anak Indonesia di acara pameran :

    MEGA BAZAAR COMPUTER
    Jakarta Convention Center
    Selasar Connecting
    Stand IGOS Centre
    3-7 Maret 2010

    Mohon informasi ini dibagikan pada mereka yang peduli dengan masa depan anak Indonesia.
    Info detailnya ada di situs PERISAI Anak

    http://www.PerisaiAnak.com/


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: