Pertama kalinya menonton ketoprak, saat di kota kecilku sedang diadakan pasar malam, menggunakan lokasi alun-alun, yang terletak di depan gedung Kabupaten. Di sekeliling alun-alun ditutup dengan pagar gedek (anyaman bambu), hanya menyisakan jalan masuk untuk pintu-pintu, dimana orang bisa masuk melalui pintu tersebut setelah membeli karcis. Saat masih kecil sekali, ibu hanya membolehkan kami (saya dan adik-adik) menonton pasar malam sampai jam 9 malam…karena rumah kami jaraknya lumayan jauh dari pusat kota, harus naik becak dulu, diteruskan jalan kaki melewati lapangan di depan stadion, yang saat itu masih gelap dan remang-remang karena penerangan listrik belum memadai. Setelah umur kami beranjak naik, pada suatu malam minggu, ibu mengajak kami menonton ketoprak, saya lupa apa lakonnya malam itu, namun saya benar-benar terpukau, dan sejak itu saya senang menonton ketoprak.
Pada saat televisi di Indonesia hanya TVRI, TVRI Yogya siarannya masih bisa ditangkap dari kota saya, walau tak terlalu jernih. Saya selalu sudah siap-siap nonton ketoprak, yang saat itu seminggu disiarkan dua kali. Ketoprak, lakon yang dibuat pada umumnya mengambil setting latar belakang sejarah, benar-benar memukauku. Apalagi setelah saya sempat tinggal di Yogya selama setahun, di awal karirku, acara ketoprak di TVRI Yogya benar-benar tak dapat dilupakan. Apalagi salah satu pemain utamanya, suami karyawati di kantor tempatku bekerja. Rasanya lucu, setiap kali kami rame-rame tanya pada si mbak, lanjutan ceritanya apa? Penasaran sekali, karena saat itu lanjutan cerita sempat disayembarakan, dan yang ikut menebak banyak sekali.
Setelah menikah dan tinggal di Jakarta, hanya di awal pernikahan kami rajin mengunjungi acara kesenian di TIM. Pekerjaan yang makin banyak, anak-anak yang membutuhkan perhatian, membuat saya harus bisa memilih prioritas. Hari Jumat kemarin, tanggal 26 Maret 2010, suami mengajakku menonton ketoprak Guyonan Campur Tokoh Paguyuban Puspo Budoyo, pimpinan H. Luluk Sumiarso. Lakon ketoprak malam itu “Penyatuan Dipantara” khusus diadakan untuk merayakan reuni alumni ITB 75 yang ke-35 tahun, sekaligus acara pagelaran Puspo Budoyo yang ke-40. Belum-belum saya tersenyum membayangkan para alumni bermain bersama, pasti sulit sekali mengumpulkan mereka yang rata-rata sudah menjadi pejabat, dosen senior, atau pengusaha. Dan ini diakui ibu Lies Luluk Sumiarso, yang dalam sambuatannya, mengatakan sutradaranya sempat stres, karena para pemain sulit diatur dan kreativitasnya tingkat tinggi. Akibatnya bu Lies memilih tak melihat mereka latihan.
Sebetulnya suami saya bukan angkatan 75, namun mendapat sms dari mbak Yayuk (Yuliarti Merati), yang saat ini Dirut PT Indofarma, Tbk, apakah mau hadir di acara tersebut. Mbak Yayuk ini dulu sempat menjadi Putri Indonesia tahun 1975, kemudian menjadi penari dan pesinden di PSTK (Persatuan Seni Tari dan Karawitan) ITB, dimana suami saya pernah menjabat ketuanya. Beberapa pemain, selain mbak Yayuk (yang bermain sebagai Prameswari Dyah Bajradewi, isteri raja Kertanegara) yang telah kami kenal, ada beberapa teman lain, seperti Ninok Leksono (Redaktur Senior Kompas), Ati Wasiati (dosen Politeknik UI, isteri pak Abimanyu, mantan Dirut Indonesia Power) dan teman-teman lain yang tak dapat disebutkan satu persatu. Malam Sabtu itu, saya dan suami ke TIM, sampai di sana masih jam 18.50 menit.
Rasanya lama sekali saya tidak menonton di TIM, terakhir kali saya menonton teaternya Rendra (alm), menemani ketua STSI Bandung saat itu. TIM yang terang benderang, dan warung makan yang berjejer di sebelah kiri setelah jalan masuk, sungguh menggoda iman untuk mampir sejenak. Namun kami berjalan terus, dan mendapatkan tempat parkir merupakan perjuangan sendiri. Syukurlah kami tak mampir di warung makan, ternyata setelah menyerahkan tiket, ada sajian makan lengkap, dan juga ada mie bakso……. tentu saja kan ini acara reuni.
Tak lama kami memasuki gedung Graha Bhakti Budaya, syukurlah kursi tempat kami duduk, tak tertutup oleh seperangkat gong besar, sehingga bisa menikmati pertunjukan dengan jelas. Diawal permainan suara kurang jelas, saya pikir sound system nya yang kurang bagus….namun begitu salah satu pemain bisa terdengar jelas suaranya, maka saya menarik kesimpulan bahwa mungkin teman-teman belum terbiasa bermain ketoprak sehingga suara kurang keras. Pada adegan I di kerajaan Singosari masih terasa lamban, selain gangguan suara yang kurang keras, para pemain belum bisa bermain lepas. Adegan selanjutnya yang kemudian menampilkan Kirun, langsung bisa menghangatkan suasana, sehingga saat adegan raja Kertanegara datang, ternyata suara raja (yang dimainkan Yogo Pratomo, PLN) bisa terdengar jelas. Disini permainan terlihat mulai menarik, karena pemain bisa makin lepas…atau tadi demam panggung ya.
Adegan selanjutnya makin memancing tawa, apalagi Eko DJ yang jadi bintang tamu, diselipkan dalam acara pertemuan di keraton. Pada saat seorang pemain terlihat agak lupa…Eko langsung nyeletuk..”Buka krepekannya…” Penonton langsung gerrr…juga saat ada pemain (yang memang dulunya aktif sebagai penari PSTK)…berjalan dengan langkah seorang penari..Eko DJ juga langsung komentar…. Akhirnya Raja Suwarna Bhumi, yang dimainkan oleh Ramles Silalahi, dan teman-teman lainnya, bisa mengikuti permainan Eko DJ yang menggelitik dan memancing tawa. Menyegarkan sekali, walau tak bisa dibandingkan dengan pemain profesional.
Acara reuni sambil main ketoprak ini terasa menarik, ibu yang disebelah kiri saya (alumni UI, yang bersuami kan seorang arsitek ITB 75) mengatakan, dengan reuni seperti ini, para pasangan (suami atau isteri alumni) bisa mengikuti acara, dan tetap bisa menemani pasangan bernostalgia dengan teman-temannya. Setelah selesai acara, saya dan suami ikut antri naik panggung untuk menyalami teman-teman pemain…..bersalaman dengan mbak Yayuk yang telah memberikan undangan kepada kami, kepada mas Ninok Leksono dan lain-lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.


Bu, waktu kecil dulu, selama Ramadhan, di alun-alun Klaten diadakan pasar malam. Dan stand yang paling rame dan bergensi adalah panggung ketoprak.
Saya dibesarkan dalam salah satunya adalah budaya nonton ketoprak hehehe…
Jadi..kapan kita mau nonton ketoprak bareng Don….?
Sayang agak sulit cari ini sekarang..di Yogya apa masih ada ya?
Oleh: DV on Maret 29, 2010
at 7:00 am
ketoprak emang lucu ya… saya gak pernah nonton live sih. tapi kalo di tv dulu suka nonton pas kecil. walaupun kadang ada yang gak ngerti sih kalo bahasa Jawanya kelewat tingkat tinggi. haha.
Hehehe iya ya..ketoprak memang enaknya pake bahasa Jawa..tapi kalau ketoprak guyonan di Jakarta dan ditayangkan di TV sudah menggunakan bahasa Indonesia campur-campur…
Oleh: arman on Maret 29, 2010
at 9:29 am
Salut bu
mencintai budaya bangsa
Wahh iya dong..harus cinta budaya sendiri dan mau memeliharanya
Oleh: achoey on Maret 29, 2010
at 10:03 am
wah, kapan-kapan saya diajak bu eny. secara live saya belum pernah menyaksikannya.
Kalau wayang, di TMII selalu ada pertunjukan wayang, bahkan ada yang menggunakan bahasa Indonesia….sayang saya juga belum sempat..sibuk urusan lainnya.
Ketoprak sebetulnya sering ditayangkan di TIM, entah kenapa saya juga baru kemarin melihat, gara-gara dapat undangan dan yang mengundang teman dekat…ternyata mengasyikkan sekali..udah lama nggak nonton ketoprak
Oleh: Zulmasri on Maret 29, 2010
at 11:27 am
sudah lama sekali saya tidak menonton ketoprakk
ayooo cintai budaya indonesia,,
berkunjung
salam blogger
makasih
Ya, kita harus mencintai budaya bangsa sendiri
Oleh: darahbiroe on Maret 29, 2010
at 11:29 am
saya belum pernah menyaksikan acara ketoprak secara live gitu, salut utk Bu Ratna yg mencintai kebudayaan asli kita.
salam
Sebetulnya menarik menonton secara live…lebih bisa merasakan suasananya…
Seringnya terkendala waktu, lokasi dan juga kesehatan
Oleh: bundadontworry on Maret 29, 2010
at 11:30 am
Menarik sekali ya Bu.. Keknya tema ‘budaya bangsa’ ini harus digalakan pada Pesta Blogger 2010 nih…
Sok, kang Asep bisa usul ke Ketua nya nanti….siapa ya ketua PB 10?
Oleh: asepsaiba on Maret 29, 2010
at 11:38 am
dulu suka nonton juga di TVRI bu,
Iya..dulu ada di TVRI..
Walau..kalau boleh memilih, saya lebih suka ketoprak gaya Yogya dulu…guyonannya hanya pas ditengah acara…namun ceritanya menarik sehingga ditunggu penonton
Oleh: monda on Maret 29, 2010
at 1:55 pm
sekarang tiap hari bisa nonton ketoprak..
ketoprak van java…
Sebetulnya saya lebih suka ketoprak yang asli, yang ceritanya berlatar belakang sejarah…
Dan guyonan hanya di tengah dan tak merusak suasana….
Saya malah nggak suka ketoprak guyonan ala van Java
Oleh: Hari Mulya on Maret 29, 2010
at 2:21 pm
karena kecilnya di semarang, tiap malam minggu pasti ada acara ketoprak di TV bu. malah saya baru ngeh setelah pindah ke jakarta ada makanan yang namanya ketoprak.
Hehehe…di Semarang memang ada paguyuban ketoprak yang terkenal.
Makanan ketoprak? Kayaknya dikenal di Jawa Barat ya, termasuk Jakarta.
Oleh: boyin on Maret 29, 2010
at 2:21 pm
…
Ayah saya penggemar ketoprak, jadi sejak kecil udah sering diajak nonton..
Apalagi kalo yang maen siswo budoyo, meski laen daerah pun bakal tetep berangkat nonton..
..
Waktu kecil saya nggak ngerti jalan ceritanya, cuman suka kalo adegan berantem dan lawakan..
Dulu yang terkenal jorono,jogelo,joisin terus topan,lesus juga..
…
Lakon favorit saya sih Damarwulan, jalan ceritanya masih inget sampai sekarang..
..
Siswo Budoyo memang oke..sekarang bagaimana ya kabarnya…mungkin jika ada VCD/CD nya bisa dijual….
Oleh: septarius on Maret 29, 2010
at 2:26 pm
Setelah berpuluh-puluh tahun, reuni terasa menyenangkan saat banyak teman menjadi “orang”. Meski tak begitu suka ketoprak, terkadang saya juga ikut tertawa saat melihat banyolan pemain ketoprak.
Reuni kali ini menarik..karena biasanya kan hanya hanya acara ramah tamah..dan yang bukan alumni merasa agak kurang mantap..maklum saya dan suami berbeda alumni
Oleh: racheedus on Maret 29, 2010
at 3:25 pm
saya nonton ketoprak hanya melalui tv
kalau makan ketoprak malah sering
Di Makassar ada makananketoprak?
Oleh: Abu Ghalib on Maret 29, 2010
at 4:38 pm
Saya suka nonton ketoprak di TV dulu…seru waktu adegan perang, suara musiknya yang khas….trothok…trothok…thok…thok…thok..
Saya ingat, di kampung saya dulu, kalau ada keluarga berada mengadakan hajatan, pasti digelar deh pertunjukan ketoprak atau wayang. penontonnya dari desa-desa sekitar, rame sekali. Tapi, karena ketoprak mulai selepas Isya, biasanya belum selesai ceritanya, kami sudah disuruh pulang, karena sudah jam 22, dan anak-anak seperti kami sudah harus tidur.
Saya dulu juga suka nonton wayang orang, terutama adegan buta cakil, karena si pelakonnya lincah dan atraktif sekali….setelah buta cakil mati, saya tidur hihi…
Hehehe…betul…trotok..trotok..tok..tok ini memang khas sekali.
Adegan yang menunjukkan pergantian suasana..ada orang datang atau mau pergi…
Oleh: nanaharmanto on Maret 29, 2010
at 6:26 pm
Setuju Kita harus lestarikan Budaya bangsa Kita
Dengan nonton ketoprak dan makan ketoprak
Jendela Alam
Mari kita lestarikan lingkungan
Lestarikan budaya bangsa dan lingkungan ya?
Oleh: Venezs on Maret 29, 2010
at 9:55 pm
hehehehe saya dulu sering nonton wayang orang….dan juga ketoprak ….
sampai2 saya dulu hapal dengan tokoh2 pewayangan.
Mbayangkan ketoprak yg dimainkan oleh alumni ITB pasti ger2 an…
Wah salutt…pak Luluk memang pecinta seni sejati…semoga usaha beliau melestarikan seni tradisionil Indonesia akan berkembang
Hayo kapan mudik? Kalau di Jakarta ntar dicarikan acara ketoprak atau wayang orang Bharata….
Kalau yang main ketoprak alumni ITB, jelas adegan konyolnya banyak…lupa baca naskah…dan gayanya kreatifitas masing-masing…membayangkan sutradaranya pusing.
Oleh: wieda on Maret 29, 2010
at 11:12 pm
Ketoprak itu enak dimakan dan enak ditonton. He he…Bedanya apa sama ludruk ya Bu?
Ludruk itu dagelan khas Suroboyo an..pemainnya semua laki-laki, baik yang berperan sebagai laki-laki maupun wanita.
Ketorak..lakonnya berlatar belakang sejarah, biasanya adalah sejarah kerajaan, atau kebangkitan nasional (melawan penjajah)….
Keduanya punya ciri khas masing-masing….
Makanan ketoprak? Jelas enak dan rendah kolesterol
Oleh: Hery Azwan on Maret 30, 2010
at 8:41 am
wah kalo ketoprak yang seneng bapak ibu saya…. saya sebenernya juga seneng lho bu, tapi sekarang ini mau nonton dimana? hihihihi…
Ayah ibu Dilla pasti seumuran saya…dan wajar jika suka ketoprak?
Mau nonton di Jakarta?
Seringnya diadakan di TIM atau Gedung Kesenian Jakarta
Oleh: dilla on Maret 30, 2010
at 10:22 am
wah berhubung bukan orang jawa, jadi gak familiar ama ketoprak…kecuali ketoprak humor ditipi2 itu
Ketoprak humor memang dimofidifikasi agar sesuai selera nasional.
Ketoprak aslinya berbahasa Jawa, latar belakang cerita dari sejarah di Indonesia
Oleh: AFDHAL on Maret 30, 2010
at 11:17 am
Wah salut ini …
para tokoh mencoba untuk bermain ketoprak …
sampai-sampai sutradaranya tidak ingin melihat mereka latihan …
hahahahaha …
salam saya Ibu
Sutradaranya stres duluan..karena kreatifitasnya tak terbendung..syukurlah pas acara berjalan lancar
Oleh: nh18 on Maret 30, 2010
at 12:46 pm
menonton ketoprak? belum pernah, bu hiks…
pengen mencoba nonton juga ah.
Ntar kalau Fety pulang ke Indoesia……nonton ketoprak dulu di Jakarta..
Oleh: fety on Maret 30, 2010
at 2:35 pm
Reunian yang seru, bu…
Tapi para pelakon itu pada sempat2 latihan, ya, bu…secara mereka khan pada sibuk2 semua..
Latihan cuma beberapa kali…dan setiap kali nggak semua bisa hadir..udah gitu…katanya mereka nggak ngikuti sutradara..tapi kreativitas sendiri…membayangkan pusingnya sutradara…syukurlah pas acara berjalan lancar
Oleh: syelviapoe3 on Maret 30, 2010
at 10:20 pm
wahh salut buat ibu ratna..
jujur bu saya nggak pernah nonton ketoprak..krn didaerah saya nggak pernah ada..
dan waktu ke jakarta juga gk pernah ada yg ngajakin kesana
…
semoga budaya indonesia tetap terjaga ya bu
Kalau dulu, dibeberapa tempat ada paguyuban ketoprak, sekarang memang kalah dengan film dan TV…tapi di Jakarta masih ada..biasanya main di TIM atau GKJ
Oleh: delia4ever on Maret 30, 2010
at 10:38 pm
dulu pas kecil, saya tinggal di sby. jadi nonton ketopraknya ya berbahasa jawa.
cuma ya itu, secara kemampuan berbahasa jawa saya cuma tingkat dasar, jadilah kadang suka ada yang gak ngerti. hahaha.
Memabayangkan sulitnya ya…tapi kalau nonton ludruk ngerti nggak?
Oleh: arman on Maret 31, 2010
at 2:02 am
kapan – kapan nonton wayang golek rame – rame yuk…
salam hijau
Dimana nontonnya?
Oleh: banny on Maret 31, 2010
at 9:48 pm
Kesenian rakyat, seperti ketoprak memang perlu terus dilestarikan. Siapa pun yang melestarikan perlu diapresiasi positif karena jelas pertunjukan ketoprak memerlukan banyak anggaran.
Saya berpikir, karena anggaran pertunjukan yang demikian besar, maka tepatlah jika para pejabat, dosen senior, direktur, dan segmen elite lainnya terus mau berprakarsa. Sebab, siapa lagi yang dapat nguri-nguri kabudayaan kalau bukan pewaris sendiri yang memiliki kemampuan? Salam kekerabatan>
Ya, semoga makin banyak orang yang seperti pak Luluk Sumiarso
Oleh: Sungkowoastro on Maret 31, 2010
at 9:55 pm
Alo salam kenal dari Malang ya….Seru ya bisa lihat ketoprak kalo sekarang di TV sudah gak ada ketropak, adapun cuma di TVRI kalo ketoprak yang gaul ya OPJ itu di Yrans 7 hehehe
Hmm memang sayang sekali..karena TV berkaitan dengan rating….
Oleh: Dian on Maret 31, 2010
at 10:38 pm
Jaman kita kecil, kethoprak memang masih menjadi pilihan utama nonton hiburan, karena belum banyak grup musik, film, apalagi sinetron. Saya juga suka nonton (tapi cuma di TV). Nonton secara live pernah juga, kethoprak Siswo Budoyo yang membuka gedung pertunjukan di Alun-Alun Yogya.
Beberapa tahun lalu, Kethoprak Humor yang dimotori Srimulat pernah berjaya di televisi, tapi nampaknya memang tak mampu menahan gempuran perubahan selera jaman.
Akhir-akhir ini memang muncul kesadaran baru di kalangan pejabat dan orang-orang ‘sukses’ untuk menghidupkan kethoprak. Bisa jadi main kethoprak juga merupakan ajang hiburan dan ekspresi diri dari mereka yang secara ekonomi dan sosial sudah tidak bermasalah.
Betul mbak Tuti…apalagi main ketoprak bisa mengurangi stres dan lebih banyak menggunakan otak kanan.
Oleh: tutinonka on April 1, 2010
at 7:12 am
wow … acara yang bagus dan menarik banget, bu, reuni sambil nonton ketoprak. pasti akan menimbulkan semangat kekerabatan yang makin kental dan menguat.
Nahh pak Sawali, kalau di Semarang sekarang paguyuban ketoprak masih ada nggak? Kalau baca bukunya NH Dini, kan dulu beliau suka nonton wayang dan ketoprak.
Oleh: sawali tuhusetya on April 1, 2010
at 6:55 pm
bunga senang nonton ketoprak, penuh nilai2 kebajikan yang bisa diambil
Betul…dalam cerita ketoprak banyak diselipkan nilai kebajikan….
Oleh: Bunga on April 1, 2010
at 9:09 pm
dulu yang sangat saya sukai adalah acara ketoprak humor yang ada di TV,,, grup srimulat yang main,,,
Versi ketoprak memang bermacam-macam..ketoprak humor dimaksudkan agar sesuai selera umum
Oleh: RizqySultanAlfaroby on April 2, 2010
at 8:45 am
saya ga suka nonton ketoprak, tapi suka makan ketoprak
Kenapa ga suka? Nggak ngerti bahasanya?
Oleh: start@2010 on April 2, 2010
at 1:51 pm
ketoprak..?? lucu
Pernh nonton?
Oleh: jabon on April 4, 2010
at 9:15 pm
saya suka ketoprak kalo acara di tv doank,, hehe
Hmm…nggak apa2 kan?
Oleh: cahsiji on April 4, 2010
at 9:16 pm
saya cuma tahu ketoprak yang bisa dimakan…dan kangen sekali makan itu. Buat sendiri kurang enak tuh hihihi
EM
Saya juga pilih beli….entah kenapa bikin sendiri kurang pas
Oleh: ikkyu_san on April 6, 2010
at 10:10 am
di solo ada sebuah tempat yang namanya Taman Bale Kambang yang tidak lain adalah tempatnya rombongan Ketoprak yang namanya sama dengan tempatnya : ketoprak balekambang
setelah sekian tahun terlantar (taman dan ketopraknya) kini taman telah dibangun dengan megahnya, tinggal kita yang diminta ururn untuk melestarikan ketopraknya
Oleh: soero on April 18, 2010
at 2:29 pm
@soero
Jadi sekarnag aktif ada ketoprak di sana mas?
berapa kali pertunjukan dalam 1 minggu?
atau apakah tiap hari bisa dinikmati?
Oleh: Jabon on Juli 14, 2010
at 6:53 pm
asyik kok lihat ketoprak
Oleh: anty on Juli 15, 2010
at 10:38 am
banyak yang suka dan merasa terhibur dengan melihat ketoprak, namun tak sedikit yang berpura-pura dan menganggap ketoprak adalah norak atow gimana…? dan yang merasa seperti itu justru sangat menikmati ketika disajikan dihadapanya…
Oleh: jabon on Juli 15, 2010
at 10:39 am
Budaya kita perlu dilestarikan…. jangan sampai diaku jadi milik negara lain…
Oleh: masmuh on Juli 15, 2010
at 11:23 am