
Bakiak (diambil dari http://www.guskar.com)
Bakiak sebutan di daerah Jawa untuk sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu yang ringan dengan pengikat kaki terbuat dari ban bekas yang dipaku dikedua sisinya. Sangat populer karena murah terutama dimasa ekonomi susah sedangkan dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air serta suhu panas dan dingin. Bakiak ini umum digunakan di kampung kelahiran saya, untuk digunakan saat pergi ke sumur, ke kamar mandi atau ke tempat-tempat yang basah dan kotor.
Saat masih kecil saya terbiasa memakai bakiak ini kemana-mana agar kaki tidak kotor atau terkena pecahan kaca, dan yang lebih penting lagi ibu sangat kawatir anak-anaknya ketularan lepra karena tetangga kampung kami ada yang kena lepra dan mereka sering lewat jalan di depan rumah. Saat itu memang alas kaki sehari-hari berupa bakiak, hanya kalau ke sekolah atau ke kantor menggunakan sandal. Seingat saya untuk beli sandal atau sepatu, ayah dan ibu harus memesan lebih dulu di toko sandal di samping alun-alun kota kami, karena harganya cukup mahal, apalagi untuk sepatu sandal ukuran kecil yang cocok bagi anak-anak ibu.
Apakah bakiak yang sederhana ini masih sering ditemui sekarang? Ternyata saya menemukan bakiak ini beberapa waktu yang lalu. Suatu ketika, saya ingin sholat di mushola dari hotel yang terletak di daerah Ciloto, di depan mushola berjejer bakiak yang sederhana, seperti saat saya kecil. Hal yang luar biasa karena sudah lama tak melihat bakiak sederhana seperti ini, kalaupun melihat di pasar, biasanya sudah dalam bentuk warna-warna yang indah. Usut punya usut, rupanya bakiak tersebut digunakan untuk mengambil air wudhu, yang letaknya disamping mushola. “Kenapa tidak disediakan sandal jepit?” tanya saya. “Soalnya kalau disediakan sandal jepit, akan sering hilangsedang jika disediakan terompah nyaris tak pernah hilang,” kata petugas yang menemani saya ke mushola.

Terompah (gambar diambil dari http://www.wanitamelayu.com)
Bakiak atau terompah ini, didaerah Parahiangan lebih berwarna warni, biasanya dipakai oleh para mojang Parahiangan.

Payung kertas (gambar diambil dari http://www.rajapolah.blogspot.com)
Para mojang Parahiangan yang cantik-cantik ini biasanya berkain kebaya, memakai terompah cantik, dan berpayung kertas yang indah. Entah, apapun yang berasal dari Parahiangan terlihat menarik, mungkin karena orangnya yang suka pada keindahan. Sebelum ada payung plastik, ibu yang pekerjaannya sebagai guru, setiap hari berangkat kerja membawa payung kertas untuk melindungi dari panas maupun hujan, namun payungnya biasanya hanya dipernis dan berwarna coklat tua. Saya ingat dosen saya saat di IPB, beliau pernah berkata “Jika kita ke pedesaan Jawa, petani memakai kain lurik coklat atau warna gelap lainnya. Ini berbeda dengan di daerah Priangan, petaninya memakai baju berwarna warni…bisa dilihat dari kaum pemetik teh di perkebunan teh Jawa Barat.” Benar juga, entah apa sebabnya, namun ini memang kenyataan.
Setelah saya besar dan kuliah, payung hanya digunakan saat hari hujan, padahal payung ini juga diperlukan saat hari panas terik, untuk melindungi wajah kita agar kulitnya tak kena panas langsung, yang bisa menyebabkan fleg hitam/coklat. Pigmen ini muncul sebenarnya untuk melindungi wajah dari sinar matahari langsung, tapi karena tak merata menjadi bercak-bercak yang menyebabkan wajah tidak mulus. Namun berpayung saat panas terik juga tak memungkinkan jika kita bekerja dilapangan dengan teman-teman atau anak buah yang rata-rata cowok. Apa kata mereka? “Wahh bos kita takut panas..” jadi akhirnya hanya memakai topi….padahal ini tak cukup memadai untuk melindungi wajah kita.
Sekarang kita mengenal berbagai jenis payung, modelnya cantik-cantik. Payung yang bagus adalah payung yang tak dapat dilipat, karena lebih kuat, namun tidak cocok dipakai sehari-hari karena tak bisa dimasukkan ke dalam tas. Cuaca yang kurang bersahabat sekarang, mendorong kita harus siap dengan payung lipat, yang akan dipakai baik untuk cuaca panas ataupun hujan. Kebiasaan hidup di Bogor yang sering terkena hujan, menyebabkan saya tak pernah lupa membawa payung, dan kalau lupa terasa ada yang salah. Bagaimana dengan anda? Selalu siap dengan payung?
Mba…
itu payungnya koq kelihatannya kecil banget ya…
Lha namanya payung fantasi….itu kan payung indah, untuk menaungi saat panas, biar para gadis wajahnya tak kemerahan.
Untuk hujan tentu diperlukan payung yang lebih kokoh.
Oleh: ahsanfile on Oktober 11, 2010
at 9:27 am
jadi inget Tasik.. ah kangen sama kota itu..
Ingat sulamannya ya Chic?
Oleh: Chic on Oktober 11, 2010
at 9:47 am
saya nyebut bakiak itu klompen… hehehe.
btw disini juga harus sama bu, harus selalu siap dengan payung. yang tadinya panas, bisa tau2 ujan. aneh banget dah…
Betul…
Nama lain bakiak, adalah klompen, terompah…mungkin ada yang lain lagi?
Oleh: arman on Oktober 11, 2010
at 10:20 am
Waduh jadi kepengen payungnya nih
beli dimana yah ? kalau ke tasik jauh nian
Oleh: ajengkol on Oktober 11, 2010
at 10:27 am
[...] This post was mentioned on Twitter by mangkum, mangkum. mangkum said: Terompah dan payung cantik: Bakiak (diambil dari http://www.guskar.com) Bakiak sebutan di daerah Jawa untuk sejeni… http://bit.ly/bAtTdM [...]
Oleh: Tweets that mention Terompah dan payung cantik « -- Topsy.com on Oktober 11, 2010
at 10:28 am
saya punya 3 Bu.. 1 payung selalu dibawa di tas kantor, 1 di tas jalan, dan 1 lagi yang bukan payung lipat, untuk saya bawa pergi ke kantor jika hujannya mengerikan.. (anginkencang dan sebagainya)
Memang kuat sekali payung yang terakhir itu, sayang memang karena besar dan tidak bisa dilipat, ga bisa dibawa tiap hari
Terompah? Hmm.. saya belum pernah pakai
Wahh Clara payungnya banyak banget…
Tapi betul, masing-masing payung punya kegunaan sendiri. Yang dilipat, ya hanya sekedar agar tak kehujanan, jika hujan deras bisa patah jerujinya.
Belum pernah pakai bakiak..ehh klompen? Kapan-kapan mesti mencoba …..
Oleh: Clara Croft on Oktober 11, 2010
at 10:35 am
wah… klo rajin berkunjung ke sini pasti dapat payung cantik yach?…
tapi aku mendingan dapat yg punya blognya aja dech… bisa ga yach?…
hehehe
Boleh..silahkan ambil gambar payungnya…
Wahh kalau yang punya blog sudah ada yang punya…hehehe
Oleh: Fir'aun NgebLoG on Oktober 11, 2010
at 10:44 am
Saya punya payung lipat di mana2 di mobil, di locker tempat kerja dan dirumah.
Bakiak? Wuihhhh asek make teklek ato bakiak ini, klo Ada yg brani suit2 tinggal dilempar bakiak….. Eh ga ding
Hihihi kangen make teklek
Ada pepatah ttg bakiak ato teklek :
Teklek kecemplung kalen Timbang balen luwung golek ( hihihi di kaco2 bahasanya)
Wieda..
Itu parikan lama…yang anak-anak sekarang nggak kenal…
Daripada cari pacar baru, mendingan kembali lagi sama yang lama…hehehe
Oleh: Wieda on Oktober 11, 2010
at 11:53 am
Di Australia ini hujan bisa turun sewaktu-waktu (saya tahu karena pengaruh perubahan iklim global, Indonesia pun sekarang demikian) sehingga setiap saat saya harus siapkan payung.. mau tak mau
Di Australia, orang biasa juga pakai payung ya?
Saya ke sana pas musim dingin tapi cuaca cerah….
Oleh: DV on Oktober 11, 2010
at 1:15 pm
Payung.. ini wajib dimasukin tas kalo mo keluar siang hari panas atau cuaca mendung.
Karena alasan praktis dipilihlah payung lipat, pdhl ckp gampang rusak euy
Iya bu, bakiak itu hari gini suka ketemunya kalo di mushola2, baik di resto atau shopping centre. kalo jalan ke tempat wudhu bunyinya klak klok klak klok..
murah dan awet.
Payung lipat..wajib untuk perlengkapan tas cewek.
Bakiak..memang biasanya ada di mushola….dan bunyinya seru…nggak bisa dipakai maling, lha bunyi…hehehe
Oleh: Yu2n on Oktober 11, 2010
at 2:07 pm
Kadang sudah bawa payung ke mana-mana hujan tak turun, eee giliran ditinggal tiba-tiba ujan
Sungguh tak menentu cuaca ini. So, sedia payung selalu
Jadi…payung harus menjadi perlengkapan wajib ya?
Oleh: chocoVanilla on Oktober 11, 2010
at 2:40 pm
karena cuaca sekarang gak bisa diramalkan dgn tepat, maka tiap kali keluar rumah, walaupun matahari mencorong terang, tetap saja si payung lipat dibawa, krn bisa tiba2 hujan deras.
dan, klompen itu bagus2 ya Bu, itukah klompen geulis made in tasikmalaya ?
salam
Iya, apalagi sekarang ini….sering hujan.
Klompen itu memang made in Tasik…bagus-bagus ya?
Oleh: bundadontworry on Oktober 11, 2010
at 4:03 pm
Klo kami menyebut bakiak itu dengan ‘theklek’, nyaman tapi karena agak tinggi, ga berani pake di krikilan, takut ‘kegriul’..hehe…
Tentang payung, kalau lagi ngga naik motor pasti bawa, kebiasaan sih…
Aih…payung parahiyangan memang cantik2 ya bu…
Payung Parahiangan memang cantik-cantik, secantik gadisnya….
Bakiak….hmm kalau yang bagus boleh juga dipakai sehari-hari….
Oleh: Mechta on Oktober 11, 2010
at 7:55 pm
melihat payung itu
teringat semasa menjadi konsultan UKM di Tasikmalaya
Oh ya Bu, semasa lajang, meski saya tinggal di Bogor malah gak punya payung
Wahh ini khas cowok..
Jadi ingat semasa kuliah..walau tempat kost ku hanya diseberang jalan dari Kampus IPB, saya selalu bawa payung. Akibatnya, jika hujan temen cowok berebut mau pinjam payung, syaratnya mengantar saya dulu ke rumah…hehehe
Oleh: achoey on Oktober 12, 2010
at 9:10 am
kalo dulu di tempat saya sendak kayu itu disebut Sendal Teklek, karena kalo buat jalan di tempat yang keras/batu/keramik, akan berbunyi klek, klek, klek hehehe…..
hemm…. kalo saya jarang pake payung. kalo hujan pakenya mantol hehe….
Kalau mengendarai motor lebih cocok pakai mantol..kalau naik bis merepotkan orang lain karena air menetes-netes
Oleh: Bali Property on Oktober 12, 2010
at 10:03 am
pinginnya, buat oleh oleh pulang kampung ntar..
Oleh-oleh? Memang kampungnya dimana?
Oleh: srulz on Oktober 12, 2010
at 1:48 pm
Hahahaa… benar bu, kalo tarok sendal jepit pasti deh suka hilang. Di kantor saya mushollanya jg pake bakiak, baik di kantor Medan dan di Jakarta, sama… bakiak juga. Tp berterompah itu butuh keahlian khusus, kalo enggak bisa terpeleset…
Ternyata…bakiak ini sekarang untuk ke mushola ya..
Tapi jika telah dibuat modern, banyak juga dipakai di Mal…tentu tak sesederhana yang ada di gambar itu.
Oleh: zee on Oktober 12, 2010
at 2:35 pm
payung itu barang yg wajib menghuni tas saya
Yup…sama
Oleh: pinkina on Oktober 12, 2010
at 2:43 pm
kebayang kalo jalan pakai terompah pasti langkah kakinya berisik banget
Hehehe…itu sudah pasti.
Oleh: orange float on Oktober 12, 2010
at 11:37 pm
biasanya yang ada sandal2 seperti itu di pondok-pondok pesantren tempat ngaji,
sendal tradisional yang antik tuh. hehe..
Betul……dan tahan air pula
Oleh: Ikutan Ngeblog on Oktober 13, 2010
at 11:37 am
payungnya buatan mana sobat
Oleh: DikMa on Oktober 13, 2010
at 1:10 pm
Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx
Hmm..kapan2 saya kunjungi
Oleh: Yohan Wibisono on Oktober 13, 2010
at 4:10 pm
Kalau payung lipat selalu ada di tasku. Aku nggak pintar pakai bakiak , rasa2 kayak mau jatuh aja
Mosok sih mbak Monda…mungkin karena agak licin ya…memang perlu keahlian juga pakai bakiak
Oleh: monda on Oktober 13, 2010
at 9:25 pm
Waktu kita kecil dulu, bakiak memang alas kaki yang sangat umum dipakai. Yang khas, pada bulan puasa, sesudah subuhan di masjid anak-anak muda suka jalan-jalan dengan memakai bakiak. Kalau di jalan aspal, suaranya ‘klothak-klothak’ rame banget …
Menurut saya bakiak (bahasa Jawanya ‘theklek’) kurang nyaman dipakai karena kaku. Kalau jalan di permukaan yang nggak rata, gampang jatuh. Tapi memang aman dari pencuri. Sebaliknya, malah berbahaya (kalau ketahuan mau mencuri, dan bakiak dilemparkan ke kepala mereka … hihihi …
)
Hahaha….pencuri sudah pasti nggak mau pakai bakiak…lha nnati pas mengendap-endap bunyi…lha pemilik rumahnya kan malah bangun…hehehe
Oleh: tutinonka on Oktober 14, 2010
at 7:13 am
produk jadul tapi dengan inovasi baru ya mbake?
Ide bakiak, atau klompen ini juga digunakan untuk membuat sandal cantik….dan layak pakai di mal
Oleh: Sang Nanang on Oktober 14, 2010
at 8:10 am
salam semangat bu
Semangat !!!
Oleh: achoey on Oktober 14, 2010
at 11:00 am
..
wah jadi inget parik’an..
” theklek kecemplung kalen, timbang golek mending balen”
hehehehe..
..
saya masih punya tuh bakiak refleksi, yang alasnya ada tonjolan2nya..
..
payung cantiknya lom punya nih..
belinya dimana ya Buk..?
..
Kalau Ata beli atau pakai payung cantik, ntar banyak cewek nempel…tapi pengin dapat payungnya….hehehe
Oleh: septarius on Oktober 14, 2010
at 11:14 am
bakhiak kayanya sedikit terkuras jaman.. dulu orang ttua saya sering pake sendal itu,, tapi sekarang kayanya mereka lebih sering pake swallowww hahaha
Iya memang…tapi untuk jalan berlumpur, tanah, msih banyak digunakan di kampung-kampung. Jelas kalah dengan swallow…
Oleh: hitam on Oktober 14, 2010
at 11:17 am
saya juga punya bakiak versi cantiknya, enteng dan uniq kesannya
selalu sedia payung lipat ditas, untuk hujan,, kalo panas saya termasuk yang anti payung, kesannya gimana gitu
Bakiak versi cantik bisa dipakai jalan-jalan ke mal, tak kalah dengan sandal bikinan LN kenyamanannya
Payung cantik…sesuai dipakai untuk berpanas ria…
Oleh: ysalma on Oktober 14, 2010
at 12:19 pm
bakiak sekarang banyak yang di inovasikan, mengikuti modernisasi.
yang penting, masih di lestarikan. jangan sampai menghilang aja
Sebetulnya, tergantung perubahan selera konsumen..dengan inovasi, dibuat lebih moden, maka ide orisinal bakiak bisa menjadi menarik untuk dijual
Oleh: Danu Akbar on Oktober 14, 2010
at 12:56 pm
saya juga menemukan bakiak ketika di mesjid/mushola, kalo payung tasik lum pernah lihat langsung deh….
Iya, sekarang banyak ditemukan di mesjid atau mushola
Oleh: dina.thea on Oktober 14, 2010
at 3:50 pm
bakiak.. istilah jawa pertama yang sayah dengar dari guru komputer disekolah hihihhi…
Benarkah?
Oleh: almascatie on Oktober 15, 2010
at 2:13 am
Rasanya saya pernah lihat banyak terompah seperti itu di sebuah mesjid
Kalo payung, palingan di rumah saya aja adanya, karena saya pake motor dan selalu siap mantel di jok
Kalau naik motor memang lebih cocok menggunakan mantel
Oleh: Kakaakin on Oktober 15, 2010
at 8:58 am
terompah dan payung sangat lucu sekaali, jenis kerajianan tangan yang perlu dilestaikan…
Yup..setuju
Oleh: kalakay on Oktober 15, 2010
at 10:19 am
hehe… bener juga.. kalo sandal sering hilang.. kalo bakiak ato teklek mana ada yang mau make ya..
pernah suatu kali saya ke rumah sakit,
di depan pintu kamar mandinya pun ditaruh beberapa pasang bakiak.. jadi kalo mo masuk harus ganti alas kaki pake bakiak..
tapi emang bagus juga kok Bunda..
agar kebersihan terjaga..
jadi alas kaki pengunjung nggak basah..
Dan untuk menarik, mungkin ide klompen seperti dipakai gadis dari bumi Parahiangan ini layak digunakan
Oleh: anna on Oktober 15, 2010
at 5:08 pm
jadi inget pepatahnya simbah
teklek kecempulung kalen
tinimbang golek aluwung balen
artinya:
bakiak kecebur di comberan
dari pada diambil, mending balik lagi aja kerumah ganti pake sendal
Jadi ingat parikan zaman dulu…
Waduhh iya, saya juga sudah layak dipanggil simbah, walau belum punya cucu.
Oleh: kelly amareta on Oktober 15, 2010
at 8:44 pm
kalo disini biasanya bakiak ditemukan dimesjid-mesjid untuk dpakai buat kekamar mandi..
Dulu awal kuliah aku suka bawa payung kemana-mana mbak..tapi skg mah udah ga..
Kalau sekarang, pasti mulai bawa payung lagi kan? Minimal payung lipat yang kecil
Oleh: fitrimelinda on Oktober 16, 2010
at 8:46 am
Ngomong2 soal bakiak, saya jadi pengen lomba bakiak panjang lagi…
Yang bertiga ato berlima itu lho…
“Kiri, kanan! Kiri, kanan! Kiri, kanan!”
Betul…bakiak yang muat dua atau tiga orang sering digunakan untuk lomba
Oleh: Asop on Oktober 16, 2010
at 9:35 am
Di pasar2 masih banyak kok bakiak dan payung kuno. Hanya penggemarnya mungkin suah mulai berkurang,apalagi bakiak yg berat2.
Salam hangat dari Surabaya
Salam hangat juga Pakde…
Sekarang banyak bakiak versi baru yang bagus juga klompen menarik yang bisa dipakai jalan-jalan ke mal
Oleh: Pakde Cholik on Oktober 16, 2010
at 3:47 pm
Orang juga pakai bakiak untuk kimononya, cuma memang dilapisi kain/dihias jadi cantik. Tapi untuk prianya tetap bentuk bakiak, namanya Geta.
Kalau saya selalu bawa payung lipat jika prakiraan cuaca mengatakan kemungkinan hujan 50% lebih.
EM
Wahh Imel, kapan-kapan di posting, bakiak pasangan kimono seperti apa.. apakah mirip dengan klompen gadis Parahiangan?
Saya banyak melihat di film, dan foto-foto, orang Jepang suka memakai payung ya…dan warnanya putih terang..kayaknya payungnya asyik deh….terlihat kuat dipakai berhujan-hujan. Payung disini nggak awet, padahal zaman saya mahasiswa rasanya saya tak pernah ganti payung sejak menjadi mahasiswa sampai lulus.
Oleh: Ikkyu_san on Oktober 23, 2010
at 8:49 am
Di daerah saya, Bakiak ini namanya theklek. konon namanya diambil dari suaranya yang klethak-klethek.. dulu orang-orang di kampung saya selalu pakai theklek untuk buang hajat di kali supaya tidak terkena beling. sekarang sepertinya sudah agak jarang orang memaki theklek..
Saya termasuk orang yang sering bawa payung lipat di dalam tas. hanya memang kurang kuat dibanding dengan payung panjang yang tidak bisa dilipat itu..
Dikampungku juga dikenal dengan nama “teklek”..malah ada parikan teklek kecemplung kalen..untuk menyindir teman yang putus cinta terus balik lagi sama pacar lama.
Saya melihat ibu bermetamorfosa dalam membawa payung…dari payung kertas, payung kain, sampai kemudian paung lipat.
Oleh: nanaharmanto on Oktober 23, 2010
at 12:26 pm
salam kenal…”bakiak”..mengingatkan masa lalu…
Oleh: outbound malang on November 5, 2011
at 9:44 am