Oleh: edratna | Oktober 29, 2010

Mengajar, adalah juga memberi motivasi

Entah, sejak kapan tepatnya saya mulai mengajar. Awalnya tak sengaja, karena  atasan yang seharusnya mengajar berhalangan. Agak kawatir juga, apakah bisa mengajar dengan baik, walau atasan yakin, karena saya yang menyiapkan bahan ajar itu. Ternyata akhirnya pekerjaan mengajar ini menjadi keterusan. Mengajar adalah tak sekedar menyampaikan ilmu, namun bagaimana memotivasi para peserta agar bisa menyerap ilmu dan menerapkannya dilapangan. Apalagi  bidang yang saya ajarkan sebagian besar  adalah ilmu yang memang harus bisa dilaksanakan di lapangan, dan bisa diukur kinerjanya setelah mendapat ilmu ini.

Sejak  awal tahun 2007 saya mulai aktif mengajar ke berbagai tempat di Indonesia, dan banyak sekali hal yang saya peroleh dengan mengajar ke berbagai tempat ini. Saya merasakan betapa luasnya wilayah Indonesia, betapa beragam budaya masyarakat nya, serta kebiasaan-kebiasaan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang selama ini saya lakukan dilingkungan saya. Saya memahami, betapa sulitnya, terutama bagi para peserta yang  berada di daerah, yang transportasi nya sangat tergantung kondisi alam. Tak jarang, kedatangan mereka di tempat pelatihan terlambat, walau sudah diberitahu dua minggu sebelumnya. Keterlambatan ini seringkali disebabkan oleh cuaca, sehingga pesawat tak bisa mendarat, atau jika melalui transportasi sungai, air sedang meluap sehingga kapal tak dapat melayari sungai tersebut. Jika musim kemarau, lain lagi ceritanya, karena seringkali terpaksa bermalam di sungai karena kapal kandas dan mesti menunggu air sungai pasang.

Dengan kondisi seperti ini, jangan mengharapkan mereka sama kemajuannya seperti teman-teman yang berasa di pulau yang jalan-jalan nya mudah di capai. Bahkan listrikpun sering padam, kadang dalam sehari padam beberapa kali. Pengalaman mengajar pada pertengahan tahun 2007, listrik padam beberapa kali, syukurlah saat itu lokasi mengajar di gedung sekolah, sehingga banyak jendela yang dapat di buka. Terpaksa pelatihan diteruskan dalam suasana gelap, serta hanya dari bahan yang ada di tangan, dan menjelaskan melalui papan tulis yang juga sulit dilihat dari tempat duduk nomor dua di depan karena gelapnya. Saat mengajar di Banda Aceh, dua tahun dua bulan setelah tsunami, air bahkan tak ada karena PDAM belum diperbaiki. Jadi saya harus menyiapkan diri sejak meninggalkan hotel tempat menginap, agar saat di tempat pelatihan jangan sampai ingin buang air kecil, sampai kembali lagi ke hotel tempat saya menginap.

 

Diskusi kelompok, membahas studi kasus

Syukurlah, beberapa kali mengajar di Papua, situasi makin membaik, karena listrik juga makin jarang padam. Dan saya makin merasa, Jayapura seperti rumah sendiri karena sering ke sana. Saya sangat menikmatinya, dan yang menyenangkan bisa melihat perkembangan ilmu yang saya ajarkan, karena ketemu dengan para peserta yang beberapa tahun sebelumnya telah pernah ketemu. Posisi sebagai Account Officer memang merupakan posisi kunci di Bank, sehingga pada umumnya pelatihan ditekankan pada para karyawan yang bekerja di bidang ini. Jika sebelumnya saya mengajar pada saat mereka masih fresh graduate, baru lulus dari kuliah, maka berikutnya adalah saat mereka telah diterjunkan di lapangan. Senang melihat perkembangan mereka, namun juga sedih karena beberapa yang ditempatkan di daerah yang jauh dari ibu kota propinsi menemui kendala untuk menerapkan ilmunya. Namun kendala itu harus dianggap sebagai tantangan agar mereka tetap belajar, karena sebagaimana diketahui, bekerja di Perbankan adalah harus rela juga setiap kali dimutasikan ke berbagai unit kerja Bank tersebut. Bank Pembangunan Daerah, rata-rata mempunyai Kantor Cabang di Jakarta, karena Jakarta memang dikenal sebagai tempatnya dana, dan lebih dari 60% uang beredar di Jakarta.

Kota Jayapura sendiri berkembang pesat, dan perkembangannya lebih ke arah Abepura, yang wilayahnya lebih datar. Sedang Jayapura sendiri karena letaknya di teluk dan dibatasi oleh bukit tinggi, sulit untuk mengembangkan kotanya, kecuali harus menggempur bukit-bukit yang mengelilingi nya. Melewati Abepura, dari bandara Sentani menuju kota Jayapura, terlihat makin banyak pertokoan, umumnya berbentuk ruko, serta ada tambahan beberapa supermarket dan Mal, yang pada kunjungan saya setahun sebelumnya belum dibangun.

 

Setelah diadakan pre test di awal pelatihan, pada akhir pelatihan diadakan post test, hasilnya bermanfaat bagi instruktur untuk melihat apakah peserta telah memahami apa yang diajarkan

Dengan latar belakang peserta yang beragam, baik dari pendidikan maupun daerah asalnya, maka saya harus lebih pandai-pandai dalam menyampaikan materinya. Apalagi, mereka sangat diharapkan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di kelas langsung ke lapangan, sebagaimana pengarahan Direktur Bisnis Bank tersebut, Bank perlu untuk meningkatkan LDR (Loan to Deposit Ratio) minimal 78% pada tahun depan. Account Officer merupakan ujung tombak Bank dalam mencari dana maupun menyalurkan pembiayaan, serta merupakan posisi kunci dalam mencapai kinerja Bank. Di tangan para Account Officer inilah pertumbuhan pinjaman di harapkan, serta pinjaman harus diberikan pada pelaku usaha yang benar-benar membutuhkan, agar perekonomian daerah tersebut meningkat. Bank di Indonesia, sebagian besar pendapatannya masih sangat tergantung dari pemberian pinjaman, sedangkan risiko kredit merupakan risiko yang paling besar untuk Bank, sehingga Bank harus benar-benar menerapkan asas Prudential Banking dan GCG (Good Corporate Governance).

Posisi Account Officer (AO) juga merupakan posisi yang rawan, oleh karena itu seorang AO harus memiliki integritas yang tinggi,  independen, dan jujur. Disadari posisi Account Officer mempunyai godaan yang berat, karena peran Account Officer ini sangat penting dalam proses pemberian pinjaman. Di satu sisi, peran Account Officer, juga diharapkan dapat sebagai konsultan dari klien. Pekerjaan AO sebagian besar adalah pekerjaan lapangan, mencari pelaku usaha yang layak dibiayai, dan ini hanya bisa dilakukan apabila para AO ini banyak dilapangan, melihat usaha di wilayah tersebut. Berdasar pengalaman, perkembangan usaha nasabah, besar bersama Bank yang memberikan pinjaman, karena saat nasabah tersebut usahanya masih kecil, maka pinjaman yang diperolehnya juga kecil. Makin besar usahanya, kebutuhan makin meningkat dan AO juga harus belajar banyak, membimbing nasabah serta belajar agar AO juga memahami jenis pembiayaan atau fasilitas apa yang dapat diberikan Bank untuk mendukung usaha nasabah tersebut. Jika sebelumnya, nasabah tadi mendapatkan kredit untuk usaha mikro, maka selanjutnya besar kredit meningkat….pada gilirannya usaha nasabah berkembang sampai menggeluti ekspor impor. Disini, Bank perlu menawarkan kredit impor dan kredit ekspor, dan mengajarkan pada nasabah tersebut bagaimana caranya membuka L/C ( Letter of Credit), mengapalkan barang, membaca L/C yang diterima dari Bank di LN yang dibuka oleh rekanannya di luar negeri, memahami isi L/C agar dapat memenuhi pesanan sebagaimana digariskan dalam L/C tersebut. Dalam kaitan dengan L/C ini, Bank hanya berhubungan dengan dokumen, sehingga dalam negosiasi wesel ekspor, Bank hanya melakukan pengecekan dokumen apakah telah sesuai dengan yang tertera dalam L/C, dan apa barang telah benar dikapalkan.

Disadari, posisi AO juga memerlukan keberanian, karena diperlukan kecepatan dan ketepatan dalam menentukan apakah suatu usaha layak dibiayai, serta keberanian memutuskan dalam waktu cepat. Kesalahan dalam keputusan akan berakibat fatal, baik bagi AO sendiri maupun bagi Bank nya. Banyak sekali pendidikan yang tak berhasil, karena pada akhirnya peserta yang pernah di latih tak berani untuk mengambil risiko, dan lebih memlih kredit yang risikonya kecil, seperti kredit kepada karyawan. Kredit karyawan sendiri memang menguntungkan bagi Bank, dan juga bisa meningkatkan perekonomian daerah tersebut, apabila kredit karyawan tersebut misalnya, dibelikan sepeda motor yang akan digunakan untuk menambah penghasilan, atau digunakan sebagai kendaraan untuk mengambil pasokan barang dagangan. Namun perkembangan pinjaman karyawan ini tak bisa berkembang pesat karena sangat tergantung pada besarnya gaji, serta jumlah karyawan yang berada di wilayah tersebut.

Berbeda dengan pinjaman komersial, yang dapat diberikan sejak nasabah masih menggeluti usahanya secara mikro, berkembang menjadi ritel sampai akhirnya menjadi nasabah korporasi, Bank masih tetap dapat membiayai…..dan nasabah seperti ini akan loyal pada Bank yang pertama kali membiayai. AO juga harus memiliki strategi, mengetahui potensi wilayah, mengetahui profil bisnis nasabah yang dibiayai, sehingga pembiayaan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Dengan mengetahui potensi wilayah dan kondisi makro, seorang AO bisa mengatur strateginya agar target bisnis yang dibebankan kepadanya dapat tercapai. Dan harus menguasai manajemen portofolio, agar bisa mengelola keragaman usaha yang dibiayai, serta dapat memitigasi risiko agar segera mengantisipasinya jika terjadi sesuatu yang kurang diharapkan.

Pada akhirnya, mengajarkan ilmu terapan, memang sarat dengan pemberian motivasi, agar peserta lebih memahami, baik risikonya maupun posisi penting mereka sebagai ujung tombak Bank untuk meraih target bisnis yang telah ditetapkan. Dalam pelatihan seperti ini, diperlukan pembahasan studi kasus yang sesuai dengan kondisi riil dilapangan, sehingga diharapkan peserta tidak bingung lagi jika menemukan masalah  yang sama dilapangan. Dan yang menyenangkan, hubungan instruktur dan peserta akan terus berlangsung walaupun pelatihan telah selesai. Betapa senangnya saya, saat telah kembali ke Jakarta, menerima sms dari salah satu peserta, yang menanyakan pasal apa dalam peraturan restrukturisasi untuk kondisi tertentu, yang dapat dipilih agar restrukturisasi berjalan lancar. Pembahasan melalui  sms ini akhirnya berlanjut dengan saling berkirim email, berkabar melalui FB…….komunikasi seperti inilah yang membahagiakan saya sebagai pengajar, karena saya bisa terus belajar apa sebetulnya yang diharapkan dari mereka. Semakin banyak pertanyaan akan membuat saya semakin memahami kebutuhan mereka, sehingga bahan ajar bisa diperbaiki, disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Mudah-mudahan sharing saya dalam memberikan pelajaran dapat berguna sebagai panduan mereka di lapangan.

About these ads

Responses

  1. salut sama orang2 yang jadi pengajar! karena ternyata mengajar orang itu perlu kesabaran tingkat tinggi!

    saya paling gak sabaran kalo disuruh ngajarin orang. hahaha. inget2 dulu kalo ada murid2 les mama saya yang bandelnya setengah mati, bisa saya marah2in. sementara saya juga suka gemes ngeliat mama saya kok bisa sabar gitu.

    gitu juga waktu saya ngajar musik. duh suka kesel sendiri ama murid2 yang males2. :P

    eh sekarang juga nih kalo lagi ngajarin andrew pun suka gak sabaran banget, sampe marah2 jatohnya. akhirnya si andrew nya jadi gak mau kalo saya yang ngajarin. huahaha kaco ya…. kudu belajar lebih sabar nih…

    bagi2 tips dong bu, gimana supaya jadi orang sabar… :D

    Kesabaran bisa dilatih kok Arman, apalagi jika mengajar anak sendiri.
    Memang kadang gemes, tapi kalau kita nggak sabar, anak akan stres…bayangkan saja saat kita seumuran mereka apakah kita juga lebih mudah menangkap pelajaran?

  2. Saya kira saya setuju Bu.. mengajar juga memberi motivasi.. karena saat saya sekolah, guru2 saya selalu memberi semangat pada kami dan kami sadari itu yang membuat kami jadi anak2 yang optimis.. Pak guru selalu bilang kalo kami pasti bisa melakukannya kalo mau berusaha..

    Dan ada kasus seorang teman di sekolahnya, yang jadi bulan2an guru, anak itu dianggap tidak bisa apa2.. Anak itu benar2 akhirnya jadi tidak bisa apa2 selama sekolah.. tapi setelah dia lulus, bertemu dengan orang2 lain yang lebih percaya pada kemampuannya.. dia sekarang terbukti bisa.. bekerja pada perusahaan yang baik, koneksi luas, kepribadiannya beda sekali dengan dia saat sekolah.. hanya karena dia bertemu orang2 yang tepat.. kekuatan motivasi itu memang besar.. :)

    Benar Clara….saya mengalami sendiri…
    Si sulung ada aja kenakalannya, namun begitu kepala sekolah ganti..dia langsung melejit dan dari tak pernah ranking langsung jadi nomor tiga.
    Ini karena ibu kepala sekolah yang baru memahami murid-murid nya, tak hanya minta didengar tapi juga mau mendengarkan

  3. Wah, saya kpengen mengajar murid yang beda2, mungkin akan menghadapi suasana berbeda. Jadi seorang pendidik sangat menyenangkan. .

    Bukankah setiap mengajar pasti muridnya beda-beda…karena kemampuan mereka juga berbeda

  4. Bunda…buatku mengajar juga memberikan motivasi, aku jadi inget mahasiswa2ku dengan segala keterbatas sarana dan informasi *dibanding dulu waktu aku kuliah di jakarta*

    Walaupun begitu mereka adalah orang2 yang ingin maju, aku suka banget sama semangatnya. Makanya biasanya ketika ngajar aku selingi dengan berbagi pengalaman dengan mereka.

    Betul Ria…jika kita mengajar di daerah, sangat terasa bedanya. Namun semangat juang mereka tak kalah…..dan kita juga banyak mendapat manfaat dan masukan dari mereka

  5. Senang deh membaca pengalaman ibu ini mengajar…. terus terang mengajar itu tidak semua orang bisa. Apalagi model yang gak sabaran kayak saya. Bisa stress kalau ketemu murid yang bandel hehee…

    Sebetulnya saya juga nggak sabar-sabar amat. Namun semakin pengalaman, kita juga bisa belajar, untuk lebih memahami orang lain, dan memahami bagaimana cara transfer knowledge yang tepat

  6. Hampir sama dg awal2 menjadi penyuluh, rasanya grogi apalagi karena tak semua materi yg harus disampaikan sdh kupraktekkan alias modal teori doang… Tapi alhamdulillah akhirnya malah ‘numan’ dan sekarang suka kangen setelah lama tdk jadi penyuluh lagi… Mendapati apa yg kita sampaikan benar2 dipahami apalgi bisa dipraktekkan dg baik, sungguh suatu hal yg tak ternilai!

    Sebetulnya kita belajar banyak saat menjadi pengajar..bukankah kita hanya sendiri sedangkan kita akan mendapat tambahan ilmu dilapangan dari peserta yang banyak?
    Jika bisa memanfaatkan, maka kita akan ebih banyak belajar dari mereka secara langsung.

  7. Betul Bu …
    Di banyak kesempatan …
    Materi tekhnis menjadi sebagian kecil saja …
    namun demikian …
    Materi yang soft skill kadang menjadi sangat perlu untuk kita bawakan juga

    Salam saya Bu

    Materi hard dan soft kompetensi memang sebaiknya dikemas agar bisa menjadi satu kesatuan..karena akan lebih mudah diterima oleh peserta.
    Dan ada banyak cara untuk mengajar, yang masing-masing pengajar mempunyai ciri khas masing-masing…yang penting kita bisa menyampaikan pada mereka dan bisa dipahami.

  8. Saya salut dengan Ibu
    mengajar dengan hati tanpa seolah kolot menggurui

    Saya juga pernah menjadi seorang pengajar di kelas pelajaran sekolah. Tapi saat ini, saya hanya sesekali ngajar di kelas motivasi :)

    Mengajar bisa berarti melayani..melayani kebutuhan akan pengetahuan peserta, menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dan kita harus mengenal maisng-masing orang agar pelajaran yang disampaikan bisa dipahami dan bisa diterapkan dilapangan

  9. kunjungan pagi s..
    bis giliran ronda nich :D hehehe….

    seorang guru adalah motivator bagi murid-muridnya,
    met sukses ya Bu :D

    Yup..guru juga sebagai motivator

  10. selalu mendapat satu pencerahan dan nasihat setiap membaca hehe
    jarang sekali mendapat pengajar atau traineer yang mampu memotivasi anak didiknya
    tapi saya sangat setuju bahwa ibu adalah sang motivator dalam mengajarkan apapun terlihat hampir setiaptulisan tulisan ibu selalu memiliki motivasi untuk pembaca terutama saya
    salam hormat dari kami

    Mas Totok, terimakasih jika tulisan saya bisa bermanfaat bagi orang lain.
    Mudah2an saya bisa terus menulis yang bermanfaat

  11. Bu, saya paling suka mengajar.
    Nenek dan Kakek saya dulu guru dan dulu waktu internet masih awal2 tahun 2000an sementara saya sudah cukup lama mendalaminya, sering saya diundang untuk memberikan training singkat tentang web development.

    Rasanya nyaman sekali karena selain bisa memberi motivasi ke orang lain, kita juga termotivasi untuk menggali lebih dalam ilmu yang kita pelajari dan tularkan ke orang lain itu.

    Saya pernah membaca blog DV di awal-awal kenal dulu…dan kelihatannya Donny memang punya bakat mengajar.
    Memang tak semua orang punya bakat mengajar, walau sebenarnya kita bisa belajar melalui trainers for training(TOT).

  12. motivator? bener banget.. dan sang guru akan sangat bangga jika anak didiknya berhasil dalam hidupnya..

    sungguh mulia seorang guru..

    Pengajar selalu ingin apa yang disampaikan dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan

  13. Jadi pengajar itu perlu kesabaran tingkat tinggi ya bu. Sy ngajarin anak sendiri aja masih nggak bisa. Mereka nggak nangkap apa yg sy omongkan, akhirnya saya ajak aja ke tante yg memang guru. Eh langsung ngerti lho. Tidak semua orang bisa mengajar ya bu.

    Hehehe…betul.
    Mosok sih mbak Monda nggak sabar? mengajar anak sendiri memang lebih sulit mbak…tapi kalau udah ketemu triknya akan menyenangkan sekali, dan mengakrabkan hubungan orangtua dan anak.

  14. Salam,
    dulu malah bercita-cita jadi pengajar, cuma sayang tidak kesampaian. Sekarang, saya hanya bisa berbagi apabila ada undangan untuk memberikan materi pembelajaran pada institusi tertentu.

    Sebetulnya, dimanapun bidang pekerjaan kita, juga membuat kita berfungsi sebagai pengajar. Mengajar anak buah untuk bekerja sesuai yang diharapkan, mengadakan presentasi pada sekelompok orang di perusahaan…ini semua bagian dari mengajar dan mentransfer ilmu.

  15. Subhanallah…
    Seru banget pengalaman mengajar di daerah ya, Bu… penuh suka dan (mudahan bukan) duka :D
    Sudah bisa saya bayangkan saat Ibu lagi di depan kelas… pasti baik banget :mrgreen:

    Hehehe…mengajar itu menyenangkan kok Akin..
    Ntar baru terasa pegalnya kalau udah malam hari…pas di kelas tak terasa karena semangat, apalagi jika pesertanya juga semangat

  16. salam
    benar, mengajar juga memberikan motifasi.
    agar lebih semangat dan merasa senang belajar.

    Mengajar memang harus senang, dan menikmati…tanpa rasa itu maka penyampaian kurang bagus

  17. iya bu… emang nih, saya lagi melatih diri sendiri untuk lebih sabar ke anak… walaupun kadang masih suka kelupaan. haha.

    Nggak apa-apa..kan memang menjadi ayah itu tak ada job trainingnya….nanti akan ketemu ramuan yang pas…dan Andrew akan ikut gembira

  18. Dengan mengajar berarti kita harus bisa menjadi contoh pertama apa yang kita ajarkan. Inilah yang membuat kita tetap termotivasi.

    Mengajar memang harus bisa memberikan contoh penerapannya

  19. Bunda..
    saya selalu kagum dengan mereka yang berprofesi mengajar. dari guru TK maupun perguruan tinggi, atopun semua pengajar.

    mereka termasuk bunda.. punya kemampuan men-transfer ilmu kepada orang lain.
    dan itu tidak mudah.. saya sendiri.. susaaaah sekali untuk mengajari apa yang saya bisa ke orang lain. bukan karena saya pelit informasi bun… tp emang nggak gampang. harus sistematis.. harus runtut..

    ah.. makanya saya nggak kepengen jadi pengajar.. hehe.

    salut untuk bunda. :)

    Anna,
    Ada jenis-jenis cara mengajar.
    Karena bekerja di Perbankan lebih dari 25 tahun, saya juga tak pernah membayangkan akan mengajar. Kenyataan nya, sehari-hari kita dihadapkan pada mencari data, melakukan wawancara, kemudian menganalisis… hasilnya dipresentasikan kepada komite pemutus. Sehari-hari seperti ini, menjadi biasa untuk melakukan wawancara, menilai kelayakan, juga akhirnya menjadi terlatih untuk bicara dihadapan orang. Tentu gaya bahasa yang digunakan akan berbeda, saat menghadapi klien, menghadapi junior, dan menghadapi atasan…..dan latihan inilah yang akhirnya bisa membuat kita membawakan materi, melatih adik-adik kita untuk bisa bekerja dengan baik.

    Dan senior memang punya kewajiban untuk mengajarkan pada juniornya, jika junior belum siap, dia tak akan dipindahkan ke jabatan baru yang lebih tinggi.

  20. nggak kepengen karena gak bisa.. hehe

    Sebaiknya tak memberi vonis dulu..lihat tanggapanku di atas….saya sebelumnya juga tak pernah membayangkan mengajar.

  21. Ini namanya mengajar dari hati nurani serta panggilan jiwa. Kalau sudah begini tidak akan ada kata menyerah dan bosan :lol:
    Tidak seperti saya yang mengajar saat ada pelatihan saja, itupun cuma sebatas kulit arinya saja.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Sebetulnya mengajar itu menyenangkan, sama seperti bidang pekerjaan lain, seperti melakukan presentasi kepada pihak lain. Namun dengan audience yang berbeda

  22. Bu Eni,

    Saya juga bisa lebih mengenal negeri kita (walau sekilas-sekilas) setelah join di kantor saya sekarang, dan mempunyai kesempatan utk travelling ke sana sini

    Negeri kita sungguh kaya!! Indah luar biasa! Tapi memang pembangunan belum merata. Sangat terasa bedanya Jawa dan luar Jawa, apalagi kawasan Timur Indonesia

    Semoga kedepan pembangunan bisa lebih merata.

    Salah satunya tentu dengan pelajaran atau pelatihan dari Ibu Eni :-)

    salam,

    Justru itulah bro, mengapa saya mau berlelah-lelah bepergian untuk mengajar saudara kita di kota terpencil. Saya merasa beruntung mendapat pendidikan di pulau Jawa, beruntung melanjutkan kuliah, bahkan sempat beberapa kali seminar ke LN, inilah waktunya memberikan sharing…berbagi pengalaman dan keahlian pada mereka.

  23. terkadang kita lupa…mengajar ya udah mengajar aja…padahal ada makna tersirat yg harus juga mau gamau masuk dalam ranah mengajar…ya itu tadi sekalian memberi motivasi ataupun memotivasi..krn motivasi berbeda dengan mengajar. itu yg harus dimiliki oleh guru2 di sekolah

    Iya, harus ada komunikasi dua arah, dan menempatkan diri sebagai mereka, apa sebetulnya yang dibutuhkan..karena kepuasan itu menyenangkan dan menenteramkan hati.

  24. mungkin saya & putri mesti privat dulu nih ke Ibu kalo jadi ke bisnis hehehe

    … iya Bu, saya juga kangen ngajar lagi
    mengajar itu asyik, waktu di kuliah waktu jadi aslab .
    dan waktu di tempat yg sekarang juga, tantangan tuh, ngajar teknologi sama kebanyakan orang yg ga gitu paham teknologi hehehe tapi sekarang sih udah pada moncer2

    Boleh..silahkan aja…
    Bisa juga kok menghubungi Diklat, ntar pinjam ruangannya seesai jam kerja…gratis…berbagi pengalaman kan bermanfaat.

  25. salut buat Ibu

    Ya, itu karena sharing Achoy…berbagi pengalaman karena telah mendapat keberuntungan selama ini.

  26. mengajar itu indah..

    Yup

  27. Terima kasih informasinya,
    Mengajar memang mengasikan tapi juga menyebalkan karena terkadang murid nurut terkadang juga tidak.
    Salam kenal bu

  28. iya bunda..
    sekarang ini saya malah diminta bantuin mengisi seminar *kecil2an..hehe* di kantor saya ttg Pengadaan Barang Jasa..

    haduh.. nggak kebayang saya..
    secara di bidang itu saya juga masih baru..
    pesertanya juga byk yang lebih senior..

    Wahh senang sekali Anna..dengan mengajar, memaksa kita belajar lagi tentang materi apa yang pernah kita belajari dan up date ilmu terus

  29. saya juga suka mengajar bu, tapi di profesi saya sekarang agaknya kalo udah mau pensiun kayaknya, ingin mengabdikan diri menjadi pengajar, kalo sekarang cukup menjadi mentor dan trainer untuk anak buah di perusahaan saja.

    Menjadi mentor juga bagus…sebagai bekal nantinya…
    Mengajar di usia seperti saya menyenangkan, membagi imu, pengalaman, meng up date ilmu, sehingga otak berpikir terus agar tak mudah pikun

  30. Saya juga suka mengajar, Bu,
    jadi kangen ngajar lagi deh…
    keluarga saya keluarga guru, jadi bagi saya, mengajar sudah seperti alamiah saja.. *wuuu…sombong..

    Mengajar itu indah, membagi pengetahuan itu sangaaattt…. indah…

    Salam hangat selalu, Bu..

    Betul Nana..ada kepuasan batin, mengetahui yang diajar memahami bahkan nanti ilmunya melampaui kita…itulah keberhasilan kita mengajar.

  31. bu, sejak dulu pgn jadi dosen. tp blm keterima :) mg suatu saat bisa mengajar,

    Kalau nanti Fety balik ke tanah air, bisa mengajarkan ilmu yang diperoleh Fety sekarang…agar teman-teman di Indonesia juga belajar banyak, belajar bagaimana cara riset yang baik (Jepang terkenal dengan risetnya), juga budaya kerja keras dan tak pernah puas atas hasil yang kita capai, sehingga ingin lebih baik dan lebih baik lagi

  32. Saya selalu kagum dengan seorang pengajar, karena katanya dengan mengajar ilmu yang kita punya akan semakin mumpuni, makin nempel di otak.

    Dua keuntungan sekaligus: mendapat pahala kebaikan dengan mengajar orang lain, dan ilmu yang dimiliki semakin mahir karena banyak diulang

    Betul Indra..mengajar adalah belajar, karena kita berusaha memahami ilmu secara benar, dan mencoba menjawab semua pertanyaan dengan memuaskan. Semakin sering mengajar kita juga makin pintar, apalagi mau tak mau kita terpaksa meng up date ilmu terus…

  33. kapan ngajar di ambon nih bu :D

    Wahh mau juga…sayangnya saat ngajar di Sulsel..teman Ambon sudah gabung sekaligus ke Sulsel..
    Padahal pengin ke Ambon…baru sempat transit aja di bandaranya…

  34. Wah jalan-jalan terus nih Bu. Mengajar memang menyenangkan :-) *lama tak berkunjung*

    Jalan-jalan sambil kerja….
    Iya, Za sibuk banget ya

  35. Wah bener mengajar itu bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga gimana memotivasi itulah tantangannya, klo materi disampaikan mudah saja, tapi bagaimana membangkitkan motivasi seseorang adalah hal yang membutuhkan bakat-bakat tersendiri hehehe :-)

    Betul…tapi menyenangkan sekali, mengajak para peserta aktif dan berperan serta dalam kegiatan belajar mengajar

  36. Saya juga dulu punya keinginan untuk menjadi guru. Namun apa daya, semuanya berubah haluan 180 derajat. Menjadi seorang pengajar tentu diperlukan keahlian khusus agar mereka yang diajari tersebut merasa nyaman dengan materi yang disajikan dan mereka belajar dengan penuh rasa senang tanpa ada rasa keterpaksaan.

    Mengajar kan tak harus jadi guru..mengjar ke anak kita, mengajar atau membagi pengalaman ke teman, saya juga sebelumnya bukan guru…namun posisi saya setiap kali harus mentranfer ilmu ke Yunior, ke anak buah agar pekerjaan berjalan lancar. Kegiatan ini memudahkan jika suatu ketika menjadi instruktur

  37. Saya ingin mengajar juga, tapi belum pede :D
    Baca tulisan Bu Enny, jadi kembali semangat untuk mencoba belajar mengajar.

    Kenapa nggak pede? Padahal nanti di depan kelas langsung bisa kok…
    Yang penting menyiapkan materinya dulu..kan kita pasti lebih tahu dari yang diajarkan..apalagi cara mengajar sekarang kan seperti sharing, malah senang kalau ada murid yang pintar, dia diajak untuk berbagi ilmu ke teman-temannya. Dengan menyimak kan kita ikut belajar…hehehe..pengalaman pribadi nih

  38. dulu waktu kecil jika menulis di album kenangan pasti tulis : Dokter, insinyur, atau guru. Ternyata setelah kuliah, di tingkat 3 sudah mengajar bahasa Indonesia pada orang Jepang. Sampai di Tokyo pun langsung mengajar, padahal bukan bercita-cita jadi guru/dosen, hanya menjalani kehidupan saja. Meskipun saya juga translator dan DJ radio, saya tetap merasa bahwa profesi saya yang sebenarnya adalah guru/dosen.

    Aftercare sesudah pengajaran itu memang lebih mendalam dan personal ya bu.

    Semoga saya bisa memberi motivasi pada orang Jepang di sini deh bu.

    EM

    Saya merasa, EM menjiwai dalam hal mengajar ini. Di blogmu saja, walau dikemas dalam cerita sehari-hari penuh dengan unsur pembelajaran.
    Benar EM, mengajar membahagiakan hati kita, ikut senang jika muridnya memahami..dan senang jika melihat mereka berhasil di masyarakat.
    Sekrang saya sudah merasakan seperti itu, murid2ku, yang pertama kali saya ajar, banyak yang menduduki posisi tinggi, jauh melebihi saya…rasanya senang dan bangga.

  39. Saya pernah mendapatkan sebuah cerita dari seorang teman saya. Beliau adalah seorang pengajar di sebuah TK yang sangat sederhana. Bila dilihat dari gedung, tentu akan sangat jauh bila dibandingkan dengan gedung-gedung sekolah yang ada di kota. Teman saya bercerita bahwa, dia memiliki seorang siswa yang selalu diantar dengan menggunakan BMW saat ke sekolah. Saat mengantar ke sekolah, orang tua anak ini tidak pernah menghentikan mobilnya di depan sekolah. Mereka selalu menghentikan mobilnya di jalan raya, sebelum masuk gang sekolah. Teman saya memang belum pernah menanyakan kepada orang tua anak ini, mengapa mereka lebih memilih menyekolahkan di sekolah teman saya apalagi bertanya mengapa mereka selalu menghentikan mobilnya di jalan raya, sebelum masuk gang sekolah. Satu hal yang saya tahu, TK tempat teman saya bekerja ini memang bukanlah sekolah yang mahal pada umumnya. Namun TK ini memang sangat menonjolkan moralitas dan keagamaan mereka, selain sisi akademisnya. Guru-guru yang mengajarkan terlihat sangat sederhana, namun memiliki hati untuk benar-benar menyayagi anak didik mereka. Sehingga anak didik pun menjadi lebih nyaman dan damai baik dalam belajar maupun bersosialisasi dengan teman dan guru mereka. Semua menjadi lebih baik lagi, karena sekolah tersebut juga memiliki pendidikan agama yang baik pula.
    Sumber: http://lagu2anak.blogspot.com/2010/11/cara-paud-dan-tk-sederhana-mensiasati.html

    Pendidikan memang sebaiknya tak sekedar memberi ilmu, tapi juga mengajarkan etika, perilaku dan iman

  40. Bunda Ennyyyyyyyyyyyyyyyyyyy :)
    kangen! Apa kabar?

    Ah bunda, soal mengajar itu, benar spt kata ibu, harus juga memberi motivasi serta contoh2 nyata di lapangan ketika itu merupakan ilmu terapan.

    Salam,
    Eka

    Eka masih suka mengajar kan?
    Mengajar itu menyenangkan…

  41. Ohiya bunda, seperti kata Ria..

    Mengajar murid2 yang berasal dari daerah memang nuansanya lain. Spirit mereka beda…

    Benar sekali…kita harus banyak memberikan motivasi..kadang justru motivasi ini mengambil porsi sampai 50 persen, tapi selanjutnya lancar

  42. kalau mengajar tapi gak sabaran bisa gak ya bu? hehe

    saya pernah mau ngajarin orang nyetir mobil,tapi karena gak bisa2 saya jadi galak dan kesel,kok gampang gitu gak bisa ya? hehe (padahal dulu saya juga begitu kali :P )

    Hahaha..untung nggak ngajari saya, dijamin pasti stres…dan akhirnya saya memilih naik taksi atau kendaraan umum lain jika tak ada yang mengantar.

  43. Saya senang sekali membaca tulisan Ibu terutama berkaitan dengan pendidikan, proses pembelajaran di kelas memang sangat menyenangkan, juga menghilangkan stress. Dalam pendidikan dikenal dengan istilah KSA (knowlage, Skill, Attitude) tapi umumnya yang tersampaikan hanyalah pengetahuan dan/atau mungkin juga keterampilan. Hanya, apakah sikap tersampaikan juga? lalu bagaimanakah moralitas bangsa kita saat ini? Pintar dan terampil dalam segla hal tanpa sikap dan moralitas baik!!! menurut saya itulah tugas pendidik yang paling berat….


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: