Siapa yang tak pernah curhat? Entah curhat kepada adik kakak, kepada orangtua, sahabat, teman sekantor…bahkan curhat pada atasan. Baikkah curhat itu, dan seberapa jauh kebebasan kita melakukan curhat? Dan bagaimana jika anda merupakan orang yang selalu menjadi tempat curahan hati teman-teman yang lain? Bahkan karena senang nya teman tersebut mengobrol dengan kita, urusan kita menjadi terbengkalai? Bagaimana menghadapi orang, teman atau tetangga seperti ini?
Curhat atau mengeluarkan uneg-uneg kepada orang lain, dipercaya menjadikan hati kita lebih ringan, apalagi jika bisa cerita apa saja terhadap orang yang kita percaya. Tetapi masalah curhat ini bisa menjadi berisiko, jika keadaan berubah, atau kita ternyata mengganggu pekerjaan, waktu orang lain. Dan lebih parah lagi jika akibat kesalahan kita yang suka curhat, teman tadi terpaksa menyelesaikan pekerjaan di luar jam kantor.
Hati-hati curhat dengan orang lain.
Kelihatannya suatu masalah yang sepele, dua orang sahabat saling cerita uneg-uneg nya. Namun waktu terus berjalan, kehidupan kedua sahabat tadi pada suatu ketika menjadi berhadapan sebagai pesaing. Bisa dibayangkan, jika curhat yang dulu hanya diceritakan kepada sahabat karib, sekarang ganti memukul balik, karena hanya sahabat lah yang memahami kelemahan kita sampai kedalam-dalam nya. Namun, pada saat itu, siapa yang menyangka jika kedua sahabat yang terlihat selalu bersama-sama, ternyata berpisah? Hal ini berlaku juga pada dua orang yang saling memadu kasih, keduanya telah saling membuka diri, baik kelemahan maupun kekuatannya. Entah kenapa, ternyata hubungan mereka kandas di tengah jalan, dan saat salah satunya memulai lagi hubungan dengan pihak lain, sang mantan belum rela, dan ini bisa menimbulkan masalah. Pernah terjadi, karena pacaran, password diberikan kepada sang pacar, baik untuk email, FB dan lain-lain nya. Jika hubungan putus ditengah jalan, untuk mengamankan, segera ganti password anda, agar mengurangi hal-hal yang tak diinginkan.
Selain curhat seperti yang saya kemukakan di atas, bagaimana jika anda merupakan orang yang disukai teman untuk berkeluh kesah? Saya mempunyai teman yang entah kenapa, banyak temannya, yunior nya, bahkan anak buahnya senang curhat kepada nya. Kebetulan teman ini termasuk yang mentalnya kuat, dia menerima semuanya dengan lapang dada, bahkan membantu mencarikan jalan keluar. Dan teman ini, dikenal pula pinter mencomblangkan orang, entah berapa banyak pasangan yang berhasil membina hubungan karena temanku ini. Namun tak semua orang memiliki kemampuan seperti temanku ini, saya sendiri tidak termasuk kategori ini. Mungkin saya termasuk orang yang sangat menghargai privacy, bahkan kepada sahabat terdekat yaitu pasangan hidup, maupun anak-anak ku. Namun saya dengan gembira menerima sahabat anakku, teman-temanku, yunior ku, yang telah saya kenal baik, jika mereka membutuhkan suatu pandangan, namun kembali selalu saya tekankan bahwa ini hanya merupakan sebuah pandangan, mereka lah yang akan mengkaji kembali dan menentukan apa yang paling tepat untuknya.
Sifat saya ini saat si sulung kecil pernah menjadi masalah, dia pernah mengatakan pada psikolog…”Saya kan belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tante. Tapi ibu mengatakan, setelah memberikan beberapa pertimbangan, semua dikembalikan kepada saya untuk memilih.” Saat itu saya sadar, saya terlalu cepat memberikan kewenangan kepada si sulung, pada saat dia belum bisa menentukan pilihan-pilihan nya. Situasi perkembangan anak sekarang mungkin berbeda, karena pada saat seumurnya, ibu dan ayah telah memberikan beban yang jauh lebih banyak, untuk membuat keputusan-keputusan sendiri. Dan saya belajar dari psikolog ini, apa tahapan yang harus dilalui, dan harus saya akui, sebagai orangtua, kita dipaksa untuk belajar memahami masing-masing anak, walau keduanya anak kandung, namun mereka tetap pribadi yang berbeda.
Berani bersikap tegas
Namun ada tahap curhat yang bisa menganggu orang lain, karena menyita waktu. Pernahkah punya teman yang suka mengobrol tanpa henti, dan menyita waktu kita menyelesaikan pekerjaan di kantor? Dan kita akhirnya terpaksa lembur, hanya gara-gara teman tadi letak duduknya di dekat kita, sehingga kita tak bisa menghindar? Pengalaman ini membuat saya menjadi lebih memperhatikan bawahan saat saya mendapat kesempatan menjadi manager. Saya lebih sering jalan-jalan ke luar ruangan untuk melihat anak buah bekerja, mengajak mengobrol mereka, selain menjadi lebih dekat, juga bisa memahami jika ada tugas yang sulit dikerjakan. Kondisi ini mengurangi kemungkinan, jika ada anak buah yang hobi mengobrol, yang dapat mengganggu pekerjaan teman lain.
Pernah tinggal di asrama membuat saya harus bisa menyikapi waktu belajar yang sangat terbatas. Dalam satu kamar yang dihuni 4 (empat) orang, dengan latar belakang berbeda, sangat rawan konflik. Dan untuk mengatasi hal ini diperlukan ketegasan, tanpa membuat yang lain tersinggung. Seorang senior mengajarkan pada saya ” Tidurlah sore-sore, jangan lewat jam 10 malam, tapi bangun pagi jam 2- 3 pagi, dan belajar. Usahakan membuat ringkasan, jadi saat tidur, ringkasan tadi bisa diselipkan di bawah bantal, jika kita tak bisa tidur, maka kita bisa membaca ringkasan tadi, dan jika masih malas bangun pagi dan duduk di kursi, kita bisa membaca singkatan tadi sambil tiduran.” Kebetulan saat itu, saya sekamar dengan berbagai mahasiswi yang berbeda angkatan, dan beda fakultas. Banyak sekali kejadian, yang setelah dipikir saat ini menjadi lucu, tapi saat itu sangat mengganggu.
Pesan ini yang saya sampaikan kepada keponakanku, dia saat ini sedang mengikuti pendidikan di sebuah perusahaan, dan sebagai pegawai baru, sekamar 3-4 orang. Pendidikan ini sangat penting karena sistim gugur, dan menentukan apakah seseorang layak untuk melanjutkan dan diterima bekerja di perusahaan itu apa tidak. Jadi, saya berpesan curhat tidak masalah, jika dilakukan saat yang tepat, saat waktu santai, dan pada jam belajar, hendaknya tidak saling mengganggu. Yang sulit, jika kita mempunyai teman yang kecepatan dan cara belajarnya berbeda. Saya lebih suka belajar sendiri, jika telah selesai membaca, mencoba mengerjakan kasus, baru siap diskusi. Namun ada teman, yang sejak awal mengajak diskusi terus, dan sangat mengganggu…jika kita mempunyai teman yang sifatnya seperti ini, maka kita harus bisa bersikap tegas, mengatakan bahwa kita ingin belajar sendiri dulu. Bersikap tegas seperti ini juga memerlukan pengalaman, saya sendiri dulu tak berani karena merasa tak enak, namun dalam kondisi terpaksa (karena ada risiko kita dikeluarkan jika tak lulus), mau tak mau kita harus bisa tegas.
Menghindari secara halus juga bisa dipertimbangkan, seperti kata senior saya, tidur lebih sore dan bangun pagi-pagi, saat semua orang masih tidur. Tentu saja jika kita penakut, hal ini akan sulit, karena kita akan ter kaget-kaget mendengar suara yang sebetulnya hanya suara cicak, pada saat suasana sunyi senyap. Ini juga membutuhkan keberanian, dan pengalaman batin, yang memerlukan tahapan sendiri. Jika kita sendiri tak ingin diganggu orang, sebaiknya kita juga mempertimbangkan untuk tidak mengganggu orang lain apabila kita melihat mereka sedang sibuk.
Jangan pernah berperan sebagai psikolog, jika kita tak siap.
Saya pernah punya teman dekat, kebetulan suaminya merupakan teman suami juga. Sejak mahasiswa mereka sudah pacaran, yang kemudian menikah setelah lulus kuliah. Saya menilai keduanya orang baik, dan pacaran cukup lama (7 tahun). Anehnya, setelah berumah tangga malah berbeda pendapat terus, yang malah berujung nyaris terjadi perpisahan. Awalnya sang isteri curhat pada saya, entah kenapa suatu saat mereka berdua datang ke rumah, menceritakan masalah dari sudut pandang masing-masing. Dan sebelum saya dan suami sempat menimpali, tahu-tahu mereka bertengkar di depan kami. Sejak itu, saya bersikap tegas, jika menerima curhat seorang teman atau saudara, saran saya hanya satu, hubungi psikolog, karena mereka memang orang yang sudah terlatih, serta dapat memberikan berbagai alternatif jalan keluar.
Saya berusaha menekankan pada diri sendiri, do not play as psychologist!
Hehehe…iya, kecuali anda sendiri seorang psikolog
Oleh: p49it on Desember 17, 2010
at 7:35 am
Memang kita harus menyeleksi dalam persahabatan,karena kadang2 seorang sahabat bisa menjadi musuh…thanks atas artikelnya..
Maaf, terpaksa di edit, lain kali jika komentar jangan pake singkatan ya…soalnya kalau lagi males langsung di delete.
By the way, makasih kunjungannya.
Oleh: peduli pendidikan on Desember 17, 2010
at 7:36 am
Saya punya yg suka curhat, tanpa kenal waktu, awalnya sih saya terima, tapi lama2 mengganggu jam istirahat.
Segan negur, saya suka menghindar kalau dia telepon.
Tapi, nggak enak juga, akhirnya ngomong terus terang, eh malah dimusuhi, dia marah
Kadang terguran kita yang dimaksudkan untuk kebaikan, bukan diterima secara baik.
Memang sulit menyatakan kritik walau niatnya baik.
Akhirnya lebih baik menghindar atau mengurangi ketemu
Oleh: indahjuli on Desember 17, 2010
at 7:36 am
wah kayaknya saya jg termasuk org yg sering di curhati dan mengcurhat pada org lain tidak pada waktu yang tepat… hehe…
biasanya sy langsung ngomong…. *jangan sekarang ya, ada urusan dulu*…
iyah, kadang2 sy juga sudah memikirkan bahwa curhat itu ada waktunya… tak mengganggu aktivitas org
Yahh, mudah2an kita bisa memahami kesibukan orang lain…serta bisa mengatakan dengan santun jika kita sendiri sedang tak berminat ikut dalam percakapan.
Oleh: aRuL on Desember 17, 2010
at 8:07 am
fahami sepenuhnya, tanggapi seperlunya dan semampunya
Yup
Oleh: putri fajar on Desember 17, 2010
at 8:41 am
hahaha…..kalau lagi suntuk memang perlu ada orang yang dengarin curhatan kita yach bun…biar plong….tapi yach itu takut nganggu orang dan khawatirnya bisa juga jadi bumerang (kalau salah curhat ke orang yang tidak tepat).
Saya lebih suka curhat sendiri di mobil, kadang kalau lagi sedih bisa nyetir sambil nangis bun, tapi biasanya saya sambil nyetel lagu intrument yang slow biar emosi teredam. Mungkin kalau orang lain diluar lihat ngira saya lagi nyanyi ikuti musik yah, padahal lagi ngomel sendiri, kadang sempet nagis juga hahaha….kan nggak ada yang dengar hahaha…tapi setelah itu bisanya hati jadi plong (hahaha…buka rahasia cara saya curhat….).
Ok bun, sekian curhatnya hahaha… semoga hari kita senantiasa indah
Best regard,
Bintang
Semoga kita bisa menjadi orang yang bijaksana ya Linda..
Bisa menerima curhat orang yang dekat dengan kita (kalau sembarang orang bisa bahaya)….juga bisa memaintain jika kita sendiri sedang resah..
Oleh: elindasari on Desember 17, 2010
at 8:53 am
Saya dulu paling suka kalau dicurhati terutama kaum hawa, Bu
Normal kupikir untuk orang sepertiku dulu, tapi pernah aku berada di satu titik dimana aku kapok untuk berlaku demikian karena perangai mereka, ketika tahu aku selalu avaliable untuk dicurhati lantas jadi ‘tuman’ dan selalu tanya “Don, cerita lagi dong.. loe kapan ada waktu?”
Apalagi jika kaum hawanya cantik dan menarik ya Don…hehehe..
Betapapun kalau terus-menerus bosen juga ya…
Oleh: DV on Desember 17, 2010
at 11:18 am
saya nggak suka curhat bu… he..he….
tapi yang curhat sama saya banyak… curang ya…
Berarti mbak Monda memang tipe orang, yang membuat orang lain mau terbuka dengan mbak Monda.
Sebetulnya baik, asalkan kita juga tak ikut kepikiran dan larut dalam permasalahan mereka.
Oleh: monda on Desember 17, 2010
at 11:31 am
saya pada dasarnya termasuk orang yang suka dan sering dicurhatin temen. gak tau kenapa tapi banyak temen yang suka minta pendapat saya. dari dulu sejak masih pada masalah ama temen atau pacar, bahkan sampe sekarnag masalah ama suami/istri/mertua/ipar. hahaha.
emang kudu ati2 sih kalo jadi tempat curhat, jangan sampe salah ngomong. kalo gak pasti ama jawabannya kudu ati2 jangan sampe malah bikin keadaan jadi tambah runyam.
untungnya rasanya gak pernah saya ketemu temen yang curhatannya begitu menyebalkan dan sampe menyita waktu banget. walaupun namanya curhat emang rata2 selalu lama, tapi so far sih buat saya masih ok ok aja…
Memang semua ada batasnya ya Arman..
Kalau curhat dari teman dekat, sih Oke…tapi kalau terus menerus juga akan membikin sesak nafas ya..apalagi jika mendominasi percakapan dan waktu kita tentang segala tetek bengek yang tak ada habisnya.
Oleh: arman on Desember 17, 2010
at 12:04 pm
Entah kenapa, saya sering jadi tempat curhat, meskipun saya juga tak selalu kasih solusi, kata mereka cuma menjadi pengengar saja mereka sudah senang… Sebaliknya saya sangat memilih2 teman curhat…jarang curhat keteman, paling sering nulis2 saja…
Kadang…orang hanya ingin didengarkan dan melepaskan curahan hati..
Kadang mereka sebetulnya sudah punya jawaban tapi belum yakin.
Oleh: Mechta on Desember 17, 2010
at 12:38 pm
biasanya cewek-cewek yang suka curhat hehe
?????
Oleh: FOUR DREAMS on Desember 17, 2010
at 2:15 pm
Kebetulan banyak temen saya yang suka curhat pada saya.
biasanya saya ngomong dari awal, “aku bukan penasehat yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik, dan berusaha menjadi penjaga rahasia yang baik”.
Saya sendiri sangat pemilih dalam menentukan orang yang bisa dicurhati, jangan sampai curhat saya merembet ke mana-mana dan tersiar luas.. hehehe…
Betul Nana, kita mesti memilih teman yang membuat kita bisa cerita apa aja….
Dan kita juga memilih, siapa teman yang berani curhat ke kita…..
Oleh: nanaharmanto on Desember 17, 2010
at 3:37 pm
sepakat bu untuk kalimat yang terakhir. klo fety lebih memilih mendiamkan saja. terus selesai deh sesi curhatnya
Iya…akhirnya selesai dengan sendirinya…
Oleh: fety on Desember 17, 2010
at 4:11 pm
saya juga gitu Bu, dari dulu kok ya sering banget dijadiin tempat curhat, sama saudara sendiri atau teman2.
saya malah jd hati2, takut , kalau2 salah bicara.
jadi kalau mereka gak minta saran, ya udah, dengerin aja.
tapi, kalau waktunya gak tepat atau saya lagi gak mood , saya dgn sopan bilang: ‘duh, lain kali aja kali ya kita ngobrolnya, krn aku lg sibuk, drpd dengerinnya gak konsen”
alhamdulilah, selama ini mereka oke oke aja nerimanya
salam
Betul bunda…
Lebih baik kita langsung mengatakan kalau lagi repot dan lain kali saja….soalnya kalau kita sendiri lagi repot, nanti malah terlihat di wajah kita kalau bosan.
Oleh: bundadontworry on Desember 17, 2010
at 5:55 pm
Mbak, saya termasuk orang yang tidak gampang curhat kepada orang lain, apalagi untuk masalah-masalah yang sangat pribadi. Tapi kalau dicurhati orang sering juga. Kalau orang/teman tersebut memang betul-betul membutuhkan bantuan atau saran saya, saya akan berusaha sebisanya. Tapi kalau curhatnya sudah kepanjangan, biasanya saya juga akan membatasi diri …
Satu hal lagi, saya paling tidak suka kalau sedang dalam forum rapat atau pertemuan apa pun, lalu ada teman yang asyik mengobrol sendiri. Kita kan jadi nggak bisa ngikuti rapat atau presentasi yang sedang berlangsung. Ngobrol kan bisa nanti, kalau acara sudah selesai. Biasanya, saya lalu memusatkan pandangan ke pembicara, dan hanya merespon obrolan teman dengan tersenyum atau mengangguk. Lama-lama dia akan berhenti sendiri
Ha! Itu juga…ada orang yang suka ngajak ngomong padahal kita sedang mendengarkan rapat.
Biasanya saya mencatat rapat tsb, untuk bisa konsentrasi, walau ini sering jadi gurauan, bahwa saya rajin banget (padahal agar tak mendengarkan bisik-bisik ngrumpi di kanan kiri).
Oleh: tutinonka on Desember 17, 2010
at 7:25 pm
nice info…..
http://dewataspeedblog.wordpress.com/2010/12/17/loncin-dmx250-dirt-bike-yang-statusnya-tak-pasti/
Hmm….apa ini termasuk sebuah info?
Oleh: j4na on Desember 17, 2010
at 8:39 pm
Setuju, kadang memang ada orang seperti yang ibu tulis. Bahkan waktu jumatan saja ada khotib sedang khotbah, selalu saja ngajak bicara. yang saya tidak habis pikir ada saja yang dibicarakan. Tapi anehnya kalau dia lagi diam, kelihatan kasihan gitu, hehe…..salam dari pekalongan
Memang orang berbeda sifatnya ya…justru itu yang menarik, dan bagaimana kita menyiasatinya
Oleh: teguhsasmitosdp1 on Desember 18, 2010
at 3:30 pm
Kalau saya malah seringnya “bicara sendiri” dan memarahi diri kalau ada sesuatu masalah. tapi setelah itu juga kalau ada perstasi yang dicapai maka saya membelikan hadiah buat diri sendiri sehingga menjalin ke-akraban dengan diri sendiri…
Mudah2an pas bicara sendiri tak ada orang lain yang lihat ya
Oleh: andry sianipar on Desember 19, 2010
at 12:27 am
saat ada yang curhat dengan kita, kita memang harus peduli
Tentu, asal waktunya tepat, dan memang dekat dengan kita.
Oleh: ario saja on Desember 19, 2010
at 9:19 am
Kadang kala …
Orang curhat itu hanya membutuhkan … Ears to listen …
Kadang mereka tidak (begitu) butuh saran dari kita …
so … siap-siap saja menjadi pendengar yang baik …
dan sering kali … justru mendengarkan itu jauh lebih baik dari pada memberi saran …
karena yang bisa menanggulangi permasalahan adalah diri mereka sendiri
Salam saya Bu
Oleh: nh18 on Desember 19, 2010
at 11:40 am
Biasanya sih curhat itu hanya sekedar mencari orang lain yang mau mendengarkan, tapi kebanyakan tidak berharap dinasihati, nanti malah marah pula kalau dinasihati. Kalau teman saya ada yang curhat, ya saya dengarkan, tapi hanya sebatas pendengar, kecuali dia tanya pendapat saya baru saya ungkapkan. Karena saya sendiri sadar bahwa inti dari curhat itu hanyalah cari teman utk mendengar hehe… Tp untunglah curhatnya juga selalu lihat2 waktu, biasanya kita cari waktu yang pas…
Betul. waktu curhat yang tepat dan dengan orang yang tepat, sehingga juga bermanfaat hasilnya.
Oleh: zee on Desember 21, 2010
at 10:26 am
..
Gak tau kenapa saya kok sering banget dicurhatin orang ya Buk..
gak abg sampek emak-emak, kadang yg baru kenal di bus, dikereta atau pas sama2 antri di bank..
Kadang saya suka heran sendiri..
..
Sama orang yang baru kenal? Mungkin itu keluhan hidup sehari-hari ya…
Sekedar obrolan selama diperjalanan, seperti saya mengobrol dengan sopir taksi. Obrolan yang akan berhenti jika kita sampai di tujuan.
Bagaimana jika obrolan mereka pada Ata di tulis? Siapa tahu banyak hal menarik bisa digali.
Oleh: septarius on Desember 21, 2010
at 12:04 pm
Terhadap sahabat yang curhat tanpa kenal waktu kadang kita sungkan untuk menyudahinya. Dan biasanya “tugas” kita adalah cukup mendengarkannya. Butuh trik untuk menyudahinya; mengalihkan perhatian ke topik lain, atau pura2 ada keperluan lain kadang bisa jadi jalan keluar, meskipun tak selalu sukses.
Hehehe…kalau di kantor mudah, ada anak buah atau teman yang menelpon dan kita bisa pura-pura ada rapat.
Kalau hidup sekamar …itu yang sulit….
Oleh: indra kh on Desember 22, 2010
at 1:20 am
Waduh bun.. tengkar di depan ibu?
jadi selamat deh hehehe
weleh…
anw.. pas kemarin Eka diklat bun, eka satu rumah dgn 3 org lain. Total ada 4ord di satu bungalow. Makjan.. bener tuh kayak kata ibu, ada yg dr awal kerjannya ngajak diskusi terus.. tobat deh bun.
Belum lagi ada yg harus laporan sama pacarnya terus, jd telpon dering molo. Doh
awalnya ganggu. Tapi dgn sikap dewasa diomongin baik2 tapi tegas ya mslhnya jd selesai. Untung gak ada yg suka curhat pas diklat kmrn
Ya, masalah curhat ini memang susah-susah gampang..kita bisa menjadi lebih dekat, namun terasa mengganggu jika curhat nya tanpa kenal tempat.
Oleh: Ceritaeka on Desember 22, 2010
at 12:56 pm
Setidaknya semoga bisa mengurangi beban teman kita dan masih dalam hal2 yg positif ya bunda
Iya, asal pada tempat dan waktu yang tepat
Oleh: nitnot on Desember 24, 2010
at 9:27 pm