Oleh: edratna | Januari 14, 2011

Apa arti pekerjaan bagi anda?

Apabila pertanyaan itu ditujukan pada beberapa orang, kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda. Pertanyaan yang hampir sama pernah ditujukan pada para fresh graduate, yang saat itu sedang menjalani proses wawancara untuk masuk ke sebuah perusahaan. Jawaban yang diperoleh sangat beragam. Kadang, kita sendiri juga bingung jika diberi pertanyaan yang sama. Seringkali saya mendengar, orang menjawab, bahwa pekerjaan tersebut membuat dia sangat berarti, dan bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Mungkin sebagian besar kita juga akan menjawab hal yang sama, atau bahkan mungkin pula saya sendiri juga akan menjawab seperti itu.

Dari tulisan Ekuslie Goestiandi, yang dimuat di Majalah Kontan, makna kerja dalam kehidupan manusia, tidak memberikan makna secara signifikan. Hal ini kemungkinan karena di Negara kita, orang menjalankan pekerjaan sebagai sebuah tanggung jawab untuk mempertahankan hidup, bukan sebuah panggilan yang akan memperkaya makna kehidupan seseorang.

Dari statistik yang disampaikan oleh Dave Ulrich, dalam seminar “7 th Dave Ulrich Asia Forum”, awal Desember 2010, sebagai berikut: 50 % dari karyawan mengaku bahwa dalam 6 bulan terakhir mereka berpikir untuk mengundurkan diri dari perusahaan. 72 % dari karyawan yang mundur dari perusahaan, dengan alasan bahwa kontribusinya tidak dihargai secara semestinya, tidak pernah diberi umpan balik oleh atasannya. Hanya 29 % karyawan yang secara aktif terlibat dalam pekerjaannya, 54 % tak terlibat dan 17 % secara aktif mengambil jarak dari pekerjaannya.

Dari pengalaman saya, banyak orang mengeluh tentang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya, namun yang benar-benar mundur hanya sedikit, lainnya hanya sibuk berkeluh kesah. Mungkin karena memang tidak punya kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, atau apa. Justru yang tak terlalu banyak bicara, tahu-tahu sudah mengundurkan diri karena diterima pada pekerjaan lain. Penelitian ini akan berbeda hasilnya jika pertanyaan ditujukan pada perusahaan besar yang mantap, karena turn over pegawai rendah. Di perusahaan ini nyaris tak ada yang mengundurkan diri, yang akhirnya memaksa perusahaan membuat program “golden shake hand” atau pengunduran diri sukarela dengan mendapatkan pesangon yang besar jumlahnya. Pengunduran diri sukarela (PDS) ini banyak terjadi saat habis krisis ekonomi, yang dampaknya berlanjut sampai tahun 2000 an, banyak pegawai yang akhirnya memilih mundur dengan mendapat pesangon. Saat saya menanyakan alasannya, mengapa mereka mundur, sebagian besar mengatakan karena pesangonnya besar (saat itu suku bunga tabungan/deposito sangat tinggi), dan ingin mencoba melakukan pekerjaan lain yang berbeda, ada juga yang ingin berwirausaha.

Sayang saya tak mengadakan survey, hanya dari pengamatan, ada beberapa yang berhasil menjadi pewirausaha, namun sebagian banyak yang kembali bekerja sebagai pegawai, di perusahaan lain. Atau  hal ini merupakan gejala bahwa kita memang kurang dilatih untuk menjadi seorang wirausaha? Saat itu, beberapa teman mengajakku ikut PDS, namun karena saya telah merasa cocok di perusahaan tempat saya bergabung, saya tetap tinggal, walau harus bekerja keras karena sebagian pegawai banyak yang mundur, serta tak ada kenaikan gaji. Pada akhirnya bekerja adalah sesuai tuntutan nurani kita, apakah kita memang sesuai apa tidak, dan apakah kita merasa nyaman dengan lingkungan kerja kita.

Namun di satu sisi, banyak dari kita tak bisa memilih, atau terpaksa memilih  dari pilihan jenis pekerjaan yang ditawarkan pada kita, karena terbatasnya lapangan kerja yang ada. Kadang bahkan seseorang terpaksa bekerja pada bidang yang sebetulnya tak disukai nya, namun terpaksa dilakukan untuk menyambung hidup. Saya bersyukur, betapapun beratnya pada saat awal mulai bekerja, saya berusaha memahami dan menyenangi pekerjaan yang disodorkan pada saya, sehingga tak menemukan kesulitan berarti untuk berusaha memiliki hubungan yang menyenangkan dengan pekerjaan, yang kadang bagi teman yang lain dianggap menyebalkan. Banyak kawan saya, kehidupannya lebih berhasil dibanding saya, namun tetap mengeluh bahwa dia tidak puas atas pencapaiannya selama ini.  Pada akhirnya, saya ingat pesan guru saya “cintai apa yang ada dihadapanmu, dengan cinta semua menjadi lebih mudah.” Pesan yang sederhana, namun sangat bermakna. Bukankah saat kita jatuh cinta, dunia terlihat menjadi lebih indah?

Seperti pesan saya kepada anak/keponakan: “Berusahalah mencintai pekerjaan yang disodorkan dihadapan kita, bersyukur masih bisa bekerja secara halal, ikhlas menjalaninya, berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya, sehingga hasilnya akan memuaskan semua pihak.” Bagi orang yang sibuk, serta menyenangi pekerjaannya, tak ada waktu untuk berkeluh kesah. Dan orang-orang seperti inilah, menurut saya, adalah orang yang bahagia. Semoga saya juga termasuk orang yang berbahagia ini.

Sumber Bacaan:

Ekuslie Goestiandi.Makna Kerja. Kontan, Edisi 10: 16 Januari 2011 halaman 23.

About these ads

Responses

  1. yah idealnya emang kalo bisa bekerja di bidang yang kita senangi ya bu, jadi otomatis kita jadi mencintai pekerjaan kita dan pekerjaan bisa jadi memberi makna bukan sekedar untuk mencari uang.

    sayangnya gak semua orang (malah kebanyakan mungkin ya) gak bisa bekerja dibidang yang disenangi. banyak alasannya. ya kayak yang ibu bilang karena terbatasnya lahan, karena kurang kemampuan/keahlian, kalah saing.

    jadi balik2 harus terbentur realita kalo kita bekerja ya… demi uang! demi menyambung hidup. hehehe.

    walaupun begitu, tetap aja namanya manusia kan juga punya perasaan dan emosi ya. jadi tentu uang bukan satu2nya faktor membuat seseorang betah di tempat kerjanya. kalo hasil kerjanya gak dihargai, lingkungan gak kondusif, ya jadi gak betah dan pengen resign. tapi balik lagi gak segampang itu juga bisa resign.

    apalagi di kondisi ekonomi seperti ini. gak gampang nyari kerjaan baru. belum lagi kendala2 yang lain. saya sendiri belakangan ini udah pengeeen banget nyari kerjaan baru. hehehe. tapi yah banyak kendala yang jadi pertimbangan lagi dan mengharuskan saya untuk sementara ini harus puas dengan kerjaan yang sekarang. eh bagaimanapun, punya pekerjaan juga udah patut sangat2 disyukuri kan… banyak orang lain yang pengen kerja tapi gak bisa dapet kerjaan kan? :D

    tentang yang ibu bilang banyak orang ngeluh tapi gak pindah2… ini bisa 2 hal. pertama bisa karena mereka sebenernya udah nyoba nyari kerjaan lain tapi belum dapet2. tapi yang kedua, bisa karena mereka itu omong doang. hahaha. banyak lho orang yang omdo gitu. emang sukanya cuma ngeluh tapi gak ada action. no action talk only gitu bu. :D

    kesimpulannya ya kayak yang ibu bilang, pada akhirnya kita harus belajar untuk mencintai kerjaan kita. yah kalo gak bisa mencintai paling gak menyukai lah ya… biar kita bisa bekerja dengan semangat dan bukan jadi beban. soalnya kalo kita kerjanya cuma karena terpaksa dan merasa terbeban, akhirnya ntar jadi stres dan sakit lagi… malah repot… ya gak bu… :)

    Arman,
    Saya suka sekali komentarmu….
    Betul sekali….
    Awalnya, saya bekerja di bidang, yang lain sekali dengan bidang pekerjaan teman seangkatanku…
    Dan awalnya nggak betah…mungkin karena merasa inferior…karena saya tak berlatar belakang ekonomi…
    Tapi setelah mikir, males lagi cari kerjaan lain, saya banting setir untuk belajar..pulang kantor ikut kursus di LM FEUI, agar bisa memahami bidang kerjaan….ehh lama-lama keasyikan.
    Bahkan setelah pensiun, bidang kerjaan saya masih berkutat di bidang manajemen dan keuangan…..

  2. Bersyukur saya bekerja di bidang yang saya gemari, Bu :)
    Jadi, setiap hari saya bekerja dengan senang hati. Alhamdulilah…

    Itu pantas bersyukur Don..dan betul-betul karunia Tuhan…
    Tak banyak orang bekerja sesuai bidang dan keinginannya….

  3. Terima kasih Ibu.

    Mau berkomentar panjang, tapi khawatir nanti malah jadi curcol :D

    Hehehe…curcol juga nggak apa-apa kok, namanya kan sharing

  4. Insya Allah mencintai pekerjaan saya, Bun…tapi kadang masih sempat terbersit untuk pindah² :P maklum masih ababil *eaaa

    Ingin pindah itu wajar, namun cintailah pekerjaan mu dimana anda ditempatkan…dengan mencintai kita jadi ingin belajar banyak. Dan ini banyak gunanya jika nanti pindah ke tempat lain.

  5. Wah mantap bu
    Saya dulu bekerja sebagai bagian dari proses pembelajaran dan melayakkan diri
    sembari tentu saja sebagai cara untuk mengumpulkan modal usaha :)

    Dan belajar itu tak ada ruginya, karena kita makin banyak memahami suka dukanya, yang berguna untuk membangun usaha sendiri di kemudian hari.

  6. Suka sekali dengan artikel ini :) :) :)

    Rasanya dalam setiap langkah hidup aku memang harus belajar untuk mencintai. Dengan begitu hati juga terasa lebih ringan dan setiap hari bisa menyambut mentari pagi dengan senyuman :)

    Syukurlah….karena kadang seseorang perlu waktu lama untuk memahami, bahwa dimanapun kita berada kita harus bersyukur dan ikhlas…dengan demikian kita akan mendapat manfaat banyak…yang pasti ada gunanya untuk langkah selanjutnya.

  7. Bunda..
    “Berusahalah mencintai pekerjaan yang disodorkan dihadapan kita, bersyukur masih bisa bekerja secara halal, ikhlas menjalaninya, berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya, sehingga hasilnya akan memuaskan semua pihak.”
    Itu jadi Quote of the Day sayah :)
    Thank u bun!
    Saya tambahin lagi, kerja adalah ibadah, jadinya damai banget hehehe

    Setuju Eka…..bekerja itu ibadah…jabatan itu amanah (jadi ada tanggung jawabnya)

  8. Dari dulu saya memang bercita-cita menjadi guru, Bu. Alhamdulilllah, akhirnya kesampaian. Semoga saya dapat menjalankan pekerjaan ini dengan baik dan menyenangkan.. :)

    Dan saya yakin, Uda pasti jadi guru yang baik, memahami masalah murid-murid nya.
    Dan saya sendiri merasakan, jika dalam mengajar kita menggunakan hati, empati, dan memposisikan sebagai murid, rasanya senang banget dan bisa memahami kesulitan mereka.

  9. Dulu saya gak suka bidang saya ini, tetapi setelah menyadari begitu mudahnya bidang ini untuk melakukan perjalanan ke LN dan hidup disana, jadi sekarang mulai suka.

    Syukurlah…berarti kang Boyin benar-benar telah menemukan pekerjaan yang cocok di hati, karena inilah yang penting. Kalau kita suka, semuanya akan menjadi lebih mudah.

  10. waah, saya masih fresh graduate nih Bu, artikelnya sangat membantu saya! terkadang saya masih idealis, pengennya pekerjaan yang sesuai minat dan bakat, tapi pas dipikir lagi (apalagi setelah baca tulisan Ibu), nggak ada salahnya beda, kan bisa kayak Ibu, banting setir dan belajar. Makasih ya Bu!

    Sebetulnya bekerja sesuai minat dan bakat, ini yang seharusnya dilakukan.
    Namun kadang, kita sendiri tak tahu apa minat dan bakat kita…hahaha…saya sendiri juga bingung….karena kenapa saya meneruskan ke jurusan itu, juga bukan karena pilihan pertama..kayaknya kok hidup saya ikut arus, namun syukurlah akhirnya menemukan kecocokan, jadi saya percaya Tuhan punya rencana baik untuk saya….
    Mudah2an nanti Rizka (panggilannya apa?) bisa menemukan pekerjaan yang pas di hati, sesuai minat dan bakatnya.

  11. selamat siang kk. salam kenal ya kk.
    ini kunjungan pertama ane disini.
    kerja = duit :D

    Salam kenal juga….
    Saya tak sepaham bahwa tujuan kerja = duit.
    Tujuan bekerja adalah bagaimana kita melakukan pekerjaan tsb dengan tulus dan ikhlas, ingin berbuat baik….pada akhirnya memang uang, tapi bukan uang yang jadi tujuan pertama, karena bisa berbahaya, karena kita akan selalu bekerja berdasar kan uang.
    Maaf jika tak sependapat dengan anda

  12. Artinya bekerja,, yaitu untuk mencari uang…
    Salam kenal..

    Salam kenal…jawaban saya seperti sebelumnya…
    menurut saya terlalu enteng jika mendasarkan bekerja hanya karena uang, karena kita bisa salah menyaring karena hanya semata-mata karena uang. Mudah2an saya salah mengartikan komentarmu ini.

  13. cintailah pekerjaan maka pekerjaan itu tidak akan pernah terasa berat dan jangan mengeluh.

    salam hangat dan terima kasih

    Salam kembali….mudah2an kita mencintai pekerjaan kita, mengerjakan dengan hati dan ikhlas menjalaninya…

  14. Menurut saidina Ali juga begitu ya BU,
    Bila kita tidak mencintai kepala pimpinannya, maka cintailah teman-teman sekerja biar meemukan kebahagiaan, bila kita tidak bisa mencintai teman-teman sekerja, cintailah pekerjaannya, juga biar menemukan kesenangan, bila kita bisa menemukan apapun yang kita cintai di tempat kita bekerja, maka kenapa masih di situ. Carilah pekerjaan dimana kita bisa mendapatkan kebahagiaan. Mudah-mudahan saya termasuk orangn yang mencintai pekerjaan,… salam dari pekalongan

    Saya sependapat pak…..
    Quote di atas dari bapak sungguh indah…

  15. Ah untung ga ada yg bertanya ttg arti pekerjaan buat saya..karena saya pasti mikir lama sblm menjawabnya :) tapi, apapun adanya pekerjaan saya saat ini, saya menyukainya, alhamdulillah… “Bekerja itu ibadah & jabatan itu amanah” saya catat yg ini ya Bu..

    Hahaha….Mechta, jika dulu saya ditanya, juga akan bingung.
    Namun semakin direnungkan, pekerjaan ini membentuk karakter kita secara tak langsung….jadi kita harus berhati-hati memilih pekerjaan, dan sebaiknya memilih yang lingkungannya baik, walau mungkin gaji tidak besar.

  16. “Berusahalah mencintai pekerjaan yang disodorkan dihadapan kita, bersyukur masih bisa bekerja secara halal, ikhlas menjalaninya, berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya, sehingga hasilnya akan memuaskan semua pihak.”

    Saya setuju sangat, dan kata2 ini pula yang sering saya bagikan kepada yang masih mencari atau sibuk mengeluh mau cari kerja yang baru.
    Tapi memang, kesadaran untuk mencintai pekerjaan, untuk mensyukuri pekerjaan masih dibawah minus. Ternyata masih banyak yang memilih meninggalkan pekerjaan yang baru didapat dengan alasan jam kerja terlalu panjang bin tidak sesuai gajinya, dan kembali bergerilya mencari pekerjaan yang sesuai harapan. Padahal ‘kan tidak semudah itu??

    Saya dulu kalau mau meninggalkan satu pekerjaan, saya akan pastikan pekerjaan yang baru sudah di tangan, kalau tidak, saya lebih baik bertahan dan meningkatkan kemampuan ketimbang mencari pekerjaan baru dengan predikat pengangguran.

    Alhamdulillah, hampir 10tahun terakhir malah bertahan dengan wiraswasta :)

    Salam kenal ya bu :)

    Yang saya perhatikan, orang yang hanya mengeluh tentang gaji dikaitkan dengan jam lembur, biasanya bukan orang yang performanya bagus. Kalau memang bagus, dia bisa memilih cari pekerjaan lain kan? Teman-teman saya, anak buah saya, yang rajin, tak pernah mengeluh, karena memang telah disibukkan oleh pekerjaannya, sehingga tak sempat mengeluh.

  17. sekarang saya sudah pensiun dan dirumah saja ,Bu Ratna :)

    Alhamdulillah, ketika dulu masih aktif bekerja , saya sangat2 menikmati dan mencintai pekerjaan saya.
    bisa bertemu dgn berbagai macam karakter manusia , dari segala penjuru dunia, sambil menikmati hasil ciptaan Allah swt di berbagai negara, dan juga semua kota diseluruh tanah air.

    dan, saya tdk pernah menginginkan pekerjaan lain, selain pekerjaan saya dulu :)
    begitu nikmatnya, ketika kita bisa mencintai pekerjaan kita, seberat apapun itu ,
    jika dijalani dgn ikhlas dan niat ibadah, maka semua akan terasa indah :)
    salam

    Saya membayangkan pekerjaan bunda dulu pasti menyenangkan, bisa keliling dunia.
    Tapi pekerjaan itu membutuhkan stamina yang kuat, orang yang sabar karena berhubungan langsung dengan berbagai karakter manusia. Juga harus pandai, dan membutuhkan keputusan yang cepat, karena di udara kita dihadapkan pada berbagai situasi yang mendadak.
    Dan saya salut..lha saya sendiri kalau pas jalan saat pesawat terbang, masih pake pegangan kursi karena kawatir jatuh…jadi menurut saya, menjadi pramugari sungguh hebat.

  18. betul, mencintai pekerjaan adalah selain akan dapat menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik, kita juga tidak akan terbebani dengan segala macam perasaan bosan dan kesal atas apa yang kita kerjakan …..

    Setuju…

  19. :)) hanya ini yg bisa ku persembahkan

    ????

  20. setuju dengan, cintai apa yang ada dihadapanmu,.. syukuri setiap pekerjaan yang didapat,.. saya juga sedang menabung buat modal ni , salam kenal :D

    Salam kenal juga…

  21. bu, saya mungkin termasuk yg beruntung. dari dulu saya bekerja sesuai dengan bidang yg saya sukai. tp biarpun begitu, kadang ada bosennya juga. yg diperlukan saat bosan itu melanda, berusaha mengerjakan hal baru lagi yg bisa memperkaya pekerjaan saya sekarang. yg agak repot karena saya kan sekarang kerja sendiri, jadi mesti kreatif…

    Sebetulnya pekerjaan saya sekarang mirip denganmu..
    Harus kreatif, memasang target sendiri dan harus bisa ditepati. Bekerja yang lebih banyak dikerjakan memang sering bosan, gangguan kasur yang melambai-lambai..dengan kemauan yang kuat, baru bisa diselesaikan. Dan yang enak, tak kena macet.
    Saya hutang belum ketemu ya? Padahal udah dua kali dapat sambal pecel dari Menik.

  22. Bener..mari kita syukurin pekerjaan yang kita dapat..bayangkan. jutaan sarjana masih banyak yang nganggur mengharapkan pekerjaan.
    Tapi yang namanya manusia kadang sifatnya selalu kurang puas..udah dapat gaji 9 juta, pengen gaji 15 juta..dia pikir 9 juta kecilkah?

    Tergantung manusianya..kalau nggak pernah puas, dalam batas tertentu merupakan dorongan untuk maju.
    Namun jika terjadi terus menerus, secara tak langsung akan mempengaruhi performance nya.
    Gaji merupakan ikutan….tergantung kita sendiri dalam menilai arti gaji tersebut.

  23. Selamat malam bu,
    kebetulan saya guru junior, baru jadi guru jadi masih perlu lebih banyak bimbingan dan tuntunannya.

    Jika mencintai pekerjaan, menjadi Guru merupakan pekerjaan yang menyenangkan, apalagi kita ikut dalam membina karakter anak bangsa.

  24. alangkah indahnya jika bisa di jalan sejajarkan dengan
    passion kita dan menghasilkan dari hal tersebut (pekerjaan tsb) iia mbak :)

    Itu keinginan sebagian besar dari kita, walau kadang sulit untuk mewujudkannya

  25. Saya juga bakalan bingung kalo mendapatkan pertanyaan ini…
    Mungkin saya akan menjawab : pekerjaan merupakan sarana mengaplikasikan ilmu? Saya sangat bersyukur bisa bekerja sesuai jurusan saya, karena banyak pula teman saya yang malahan kerja kantoran, bukan di klinik/RS/Puskesmas…

    Saya lihat, Akin menyenangi bidang pekerjaan yang ditekuni sekarang. Itu merupakan sebuah modal untuk terus maju.

  26. Halo mbak… Salam kenal sebelumnya. Mau ikut nimbrung nih…
    Kalo menurut saya, pekerjaan itu biasanya dilakukan dengan terpaksa demi mendapatkan jatah kehidupan. Tapi kalo pekerjaan itu sesuai hobi dan bakat, kita jadi seperti mendapat hiburan sambil tetep dapet duit.

    Jadi ya buat orang-orang yang dapet kerjaan yang sesuai dengan hobi dan bakat, beruntunglah orang itu.
    Tapi buat pekerja-pekerja yang lain, kita masih harus tetep bersyukur apapun pekerjaan yang kita dapet. Karena jaman sekarang cari kerja itu susah.

    Memang Pink, saya sependapat…
    Dan waktunya kita untuk membuat pekerjaan, bukan menunggu untuk mencari pekerjaan.
    Karena sebetulnya banyak lapangan kerja yang dapat kita ciptakan.

  27. Saya suka pekerjaan sekarang bu, mau ke mana lagi? Yg jadi masalah hanya jarak dari rumah, tapi inipun bisa dinikmati, sambil blogwalking he..he.. Artikel ini kurekomendasikan ke temanku yang suka mengeluh. Trims bu.

    Hehehe…saya lihat mbak Monda gembira terus…kalau kita bersyukur, maka kita melihat segala sesuatu dengan indah.
    Dan jika berkeluh kesah, kita akan selalu ketemu masalah, dan merasa salah tempat terus…..
    Semoga teman mbak Monda bisa mulai melihat masalahnya dengan jernih, dan menyikapinya dengan sudut pandang berbeda, pasti hasilnya akan lebih menyenangkan.

  28. Membaca tulisan bunda bisa menambah wawasan nich.. ^^

    jika suatu saat desya bekerja, akan berusaha ikhlas untuk mencintai pekerjaan
    dgn begitu bisa menjalankan pekerjaan dgn mudah tanpa mengeluh.. :)

    Sekarang bisa dimulai dengan menyenangi semua mata kuliah…semua menjalani semua dengan ikhlas dan hasilnya bagus.
    Jika kita kuliah dengan senang, banyak pelajaran yang bisa bermanfaat saat nanti bekerja nanti….dan kita akan merasa..syukurlah saya sempat belajar bidang ini saat kuliah dulu…..(berdasar pengalaman pribadi)

  29. akan selalu menyenangkan jika pekerjaan bisa sejalan dengan hasrat kita (apa yg sebenarnya kita inginkan dalam hidup).. lalu menghasilkan uang dari situ :)

    Yup…setuju..
    Walau tak semuanya bisa memperoleh kemudahan untuk bekerja sesuai keinginannya.

  30. bunda…arti pekerjaan mnrutku bukan hanya sebatas mencari uang atau prestise semata. namun lebih dalam lg pekerjaan adalah sebuah wadah mengaktualisasikan diri. saat kita bs mengerahkan tenaga, fikiran kita utk sebuah hasil yg bermanfaat saat itu pula kita sdh mengaktualisasikan diri & kemampuan yg kita punya kpd suatu hal yg berguna. & muaranya kemanfaatan diri itu terhitung sbg ibadah. shg jk kita berniat mengaktualisasikan diri scr lebih optimal mk hasil pekerjaan yg didapat pun lbh optimal pula & nilai ibadahnya pun lbh tinggi krn hidup kita semakin jauh lbh bermanfaat.

    begitu bunda…salam sy

    Mey,
    Komentarmu sungguh bagus…
    Betul, bekerja tak sekadar mencari uang….uang hanya merupakan suatu bonus tambahan karena kita bekerja.
    Dan makin menyenangkan jika kita bekerja dengan hati lapang dan ikhlas.

  31. Masih mencoba menyukai pekerjaan saya sekarang, Bu. Sembari mematangkan konsep usaha untuk masa depan dan mencari-cari ide usaha lain.

    Harus nekad juga nih keknya buat memulai usaha sendiri dan meninggalkan pekerjaan sekarang.

    Semoga berhasil ya Farijs….memulai usaha sendiri, ..ahh betapa indahnya jika kaum muda banyak yang menciptakan lapangan kerja….

  32. Suka sekali membaca tulisan ini. Dan sangat suka pada hal-hal seputar pembahasan soal ini.

    Ya, harus kita akui, ada begitu banyak orang yang bekerja bukan karena ia menyukai pekerjaan mereka, juga bukan karena ia memilih pekerjaan mereka. Melainkan karena ia memang harus bekerja. Harus memenuhi kebutuhan hidup. Baru sebagian di luar itu berpikir soal makna, eksistensi, serta mengejawantahan diri dari hidup itu sendiri.

    Aku sendiri sejak dulu selalu berusaha memilih pekerjaan yang aku sukai. Bukan mengerjakan sesuatu yang tak aku sukai. Karena aku yakin: pengejawantahan dalam kehidupan sehari-hari akan berbeda mana kala kita mengerjakan sesuatu yang kita cintai dibanding sesuatu yang menjadi rutinitas, tidak begitu kita cintai, tapi harus kita lakukan.

    Aku setuju bahwa hidup memang tidak selalu mudah dan selalu sesuai dengan rencana kita. Tapi bukankah kita, sebagai manusia, juga diberi kelebihan dan kekuatan untuk memilih apa yang kita inginkan.

    Ada begitu banyak contoh kongkrit orang-orang sukses, yang telah menempati posisi atas yang lantas keluar dari pekerjaan demi ingin mengerjakan apa yang sebetulnya ia cintai.

    Wah, kalo ngobrol soal ini jadi panjang ya, Bu. Maaf. Hehe. Habis aku suka topik-topik seperti ini :D

    Ahh Niel, senang engkau bisa meluangkan waktu untuk baca coretan ini.
    Saya melihat Daniel termasuk dari sedikit orang yang bekerja berdasarkan passion…hasilnya luar biasa.
    Banyak yang tidak berani memulai, takut gagal…..tapi salut karena Daniel berani memulai…..
    Betul…banyak orang yang sukses kemudian memulai usaha sendiri..karena sebetulnya niat awalnya memang ingin usaha sendiri..bekerja pada perusahaan/orang lain, karena ingin mengumpulkan modal. Atau memang jenuh, dan ingin berganti suasana….ada banyak aspek disini.
    Andaikata, modal ventura makin banyak dikenal di negara kita, tapi kan seringnya tidak ikut serta dalam awal set up usaha yang masih belum tentu berhasil…jadi mesti dimulai dengan modal sendiri dulu, atau pinjaman keluarga.

  33. Saya rasa mencintai pekerjaan itu relatif tidak sulit. Tapi sepertinya banyak dari kita yang melakukan pekerjaan sekedar untuk bertahan hidup, dan bukan untuk menikmatinya.

    Hmm.. saya mumbling nih… sorry ya hehehehe

  34. Semua orang memang maunya bekerja di bidang yang dia suka dan dia minati. Tapi ya tidak mudah untuk memilih kalau sudah menyangkut bagaimana agar perut bisa tetap makan. Jadi memang banyak orang tetap bekerja di situ daripada harus kehilangan pekerjaan dan memulai lagi dari nol.
    Kalau saya sendiri sekarang ini bisa dibilang mencintai pekerjaan saya. Walaupun tidak sesuai dengan yg saya inginkan tapi saya berusaha mencintainya.

    Zee,
    Saya juga termasuk orang yang tak tahu apa sebetulnya yang saya inginkan…parah ya.Namun saya berusaha menyenangi apa yang ada dihadapan saya, memahaminya, mencintainya….dan ternyata sesuai dengan sifat dan karakter saya.
    Syukurlah jika Zee mencintai pekerjaan yang sekarang, atau minimal berusaha mencintai…siapa tahu nanti benar-benar jatuh cinta, sehingga benar-benar menikmatinya.

  35. Salam Ibu,

    long time no see…mudah2an Ibu sehat selalu.

    Saya sepakat sekali dengan Ibu, bahwa ideal nya bekerja adalah yang sesuai dengan tuntutan nurani kita.

    tidak ada satupun pekerjaan yg lebih baik dari pekerjaan yang lain…… sekalipun itu qt memperbandingkan antara “Pekerjaan” Presiden dengan “pekerjaan” Petugas Kebersihan… jika niatnya sama. Sama-sama untuk menghidupi keluarga, sama-sama untuk membantu orang, sama-sama memberikan kemudahan dan kebaikan bagi orang lain….

    hehehe tapi ada yg suka aga narsis niy Bu. fenomena sebagian temen2 yang bil, kalo menjadi entrepreneur itu lebih “hebat”, hehehe tapi tar kalo semua jadi pengusaha trus ga ada yg jadi Pegawainya ya susah juga….

    saya sendiri setelah lulus kuliah 5 tahun yg lalu, memang niatnya pengen aktulisasi dulu dalam bidang sosial, aga sering juga dapat respon kurang “asyik” dengan temen2, pas ngobrol: “gaji nya disana berapa ra? jawab: xxxxx… hehehehe ko mau sih Ra, sayang Ijazah dan Almamater nya…. ;) tapi ya balik lagi… dulu itu pilihan nurani saya untuk beraktifitas disana….

    sekarang alhamdulillah sedang membangun usaha sendiri bersama suami, sambil sedang menunggu turun SK CPNS “yang kembali lagi” alhamdulillah memang posisi yang saya inginkan dan senangi.

    Sekedar gaji fasilitas munkin tidak akan cukup untuk membuat kita bisa menikamati dan berkarya dalam pekerjaan, balik lagi seperti kata ibu tadi, butuh rasa CINTA yang akan membuat kita lebih ikhlas, lebih kuat, lebih mau berkorban, lebih kreatif, yang ujung-ujung nya insya allah akan membuat kita LEBIH SEJAHTERA…….

    Ira, senang baca qoute nya…tak ada pekerjaan satu yang lebih baik dari yang lain.
    Sayangnya, sering orang hanya melihat dari gaji, padahal itu kan hanya salah satu dari kriteria untuk memilih. Ada gaji cukup tapi pekerjaan menyenangkan…atau gaji kecil, namun pekerjaan nya mulia seperti yang Ira lakukan saat ini (atau malah tanpa gaji ya Ra?)

    Btw, udah berdua to sekarang, kapan? Wahh selamat ya……berarti udah lama nggak ke blognya Ira

  36. alhamdulillah udah lebih 1 tahun bu, mohon maaf ga sempat kasih kabar ya…
    mohon doa nya aja dari Ibu.

    Nggak apa-apa Ira…semoga sukses ya…..dan bisa berkomunikasi dua arah.
    Ingat tulisanku kan? Bahwa kita harus saling belajar memahami, antara dua pasangan, tanpa kenal lelah…..

  37. Memang nggak bisa dipungkiri bu kalau saya bekerja ini lebih didominasi karena untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi seiring dengan waktu, jika kita mencintai pekerjan kita, maka kita akan dengan rela untuk memaksimalkan pekerjaan kita tersebut meski harus belajar dari 0 sekalipun. Saya juga harus belajar bhw tidak mudah mendapatkan pekerjaan pada saat sekarang ini. Banyak dari mereka yang lulusan ternama pun belum juga mendapatkan pekerjaan karena kurangnya lapangan pekerjaan yg tersedia. Kuncinya mungkin terus bersyukur karena masih diberi kesemapatan oleh Allah Taala untuk mengerjakan pekerjaan tsb

    Saya percaya, Tuhan membimbing kita, karena terkadang manusia itu sendiri, tak tahu pasti apa yang sebetulnya diinginkan. Saya sendiri seperti ini, bingung kalau ditanya apa yang diinginkan? Akibatnya, saya berusaha mencintai pekerjaan yang disodorkan pada saya…dengan demikian kita akan selalu menikmati, dimanapun ditempatkan, tanpa memilih-milih ada kerja menyenangkan, dan ada yang tidak.
    Syukurlah, jika Ifan bisa menikmati pekerjaan yang sekarang..dengan menikmati, kita bisa belajar banyak..kalaupun nanti ganti ketrjaan, kita telah punya pengalaman yang benar-benar menyenangkan..sehingga ilmu kita bertambah.

  38. saya 2 kali pindah kerja..pertama di pabrik pengecer minyak punyak negara di cepu..lalu pindah ke sebuah institusi pendidikan di kota kecil di tengah jawa..kerjaannya beda, tapi ketika wawancara, jawaban saya sama..mungkin ini tanda bahwa saya endak kreatip ya…wkwkwkw…saya membalik sebuah pertanyaan yang biasanya orang Amerika tanyakan…”What did you do for living?” Ato harafiahnya “Apa yg anda kerjakan untuk hidup”…na pertanyaan itu saya balik menjadi sebuah pernyataan untuk menjawab alesan kenapa saya mau pekerjaan itu. Saya mau pekerjaan itu untuk menghidupi hidup saya. Dan Babe saya dulu ngajarin saya 1 hal cintai apa yang kamu kerjakan tapi kerjakan apa yang kamu cintai…mbulet.com

    -salam saya ibu-
    —–ndaru—–

    Pewawancara seringkali lebih menyukai jawaban yang lugas dan tepat…bukan kok yang melayang-layang. Dan sebetulnya, kita bekerja adalah karena memang kita harus bekerja…dan bekerja juga merupakan bagian pembelajaran, karena di negara kita ini jarang yang bisa memilih pekerjaan yang benar-benar sesuai passion nya, karena terkadang ada banyak hal yang menjadi tanggung jawab kita untuk segera bekerja.

  39. blajar untuk mencintai sesuatu mang sulit!!! sampai skarang masih juga bekerja dengan terpaksa!!!!


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 223 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: