Oleh: edratna | Maret 21, 2011

Jalan-jalan: Menikmati “Gonggong” dan kuliner lainnya di Kepri

Jika bepergian ke suatu daerah, tentu kita ingin mendapat kesempatan mencicipi makanan khas daerah tersebut. Saat ada tugas ke luar kota, kita harus pandai menyisihkan waktu untuk bisa mencicipi makanan khas ini, entah di saat makan siang maupun makan malam. Kali ini saya mendampingi atasan melakukan kunjungan ke pulau Bintan, melewati Batam terlebih dahulu. Begitu keluar dari bandara Hang Nadim, teman dari Batam menawarkan untuk makan siang di Batam Centre Mal, tentu saja tawaran ini tak kami tolak, apalagi dia cerita bahwa masakan “Yong Kee Restaurant Istimewa” sangat terkenal, dan telah berpengalaman belasan tahun.

Sup ikan Yong Kee Istimewa di Batam Centre Mal

Cuaca yang tak bersahabat, menyebabkan perjalanan dari Jakarta ke Batam terasa sekali goncangannya, membuat makan di pesawat juga kurang nyaman. Karena perut sebagian telah terisi oleh makanan di pesawat Garuda, kami hanya memesan sup ikan, yang menjadi ciri khas restoran ini. Untuk sayurnya, kami memesan Ca Kailan, ternyata disini Ca Kailan diberi tambahan irisan wortel. Begitu merasakan satu suapan, saya terhenyak… sedaap sekali ….badan langsung terasa hangat setelah selesai menyantap sup ikan ini.

Yong Kee Istimewa

Untuk minum, kembali pada aturan pokok, yaitu harus minum panas agar badan tak masuk angin, jadi saya sendiri memesan hot lemon tea. Selesai makan, saya nyaris tak bisa berdiri karena kekenyangan. Namun waktu terus berlalu, perjalanan masih panjang, kami masih harus naik ferry menyeberang laut untuk menuju Tanjung Pinang, kemudian jalan darat ke arah Lagoi.

Kami langsung menuju pelabuhan Telaga Punggur di Batam, naik ferry “Citra Indah” menuju ke pelabuhan Sri Bintan Pura, di Tanjung Pinang. Sempat mampir sebentar di rumah saudara teman, di dekat Sei Jang untuk ikut sholat, kemudian terus menuju Lagoi. Makan di Nirwana Gardens Hotel, yang diperuntukkan bagi para peserta dan pembicara seminar, tak perlu saya ceritakan, karena makanan hotel terutama yang telah berbintang empat, relatif sudah standar. Selesai temanku menjadi pembicara seminar, kami segera bertolak dari Lagoi kembali ke Tanjung Pinang, langsung ke rumah mertua teman. Di sana sudah ada beberapa saudara yang berkumpul, karena suami temanku memang asli Tanjung Pinang dan berasal dari keluarga besar. Omong-omong, akhirnya disepakati  sebaiknya makan malam bersama di “Nelayan Seafood Restaurant” agar semua keluarga bisa bertemu, karena jika datang dari rumah ke rumah waktunya tak cukup, karena besok pagi-pagi harus kembali ke Batam, kemudian ke Jakarta. Lokasi Nelayan Seafood Restaurant ini di pinggir Sei Jang (sungai Jang) sehingga  bisa menikmati makan malam sambil mendengarkan riak air sungai.

Berbagai sajian khas Nelayan Seafood Restaurant di dekat Sei Jang

Gonggong, enak dimakan dengan sambal kacang

Malam itu, Keluarga Haji Moeh Daud, sekitar 30 orang bisa berkumpul di Nelayan Seafood Restaurant. Saya ikut serta bersama kegembiraan seluruh keluarga besar ini, dan merasa menyatu dengan mereka, karena mereka ramah tamah dan terus mengajak mengobrol sehingga saya tak merasa sendirian. Encik Azwar mengatakan pada saya, bahwa saya belum merasa ke Tanjung Pinang kalau belum merasakan rasa gonggong, makanan daerah khas Tanjung Pinang. Gonggong ini sampai dibuat patungnya, di jalan dari arah pelabuhan Sri Bintan Pura ke arah kota, dan konon banyak orang yang berfoto di dekat patung gonggong tersebut. Saat melihat bentuknya, sebetulnya saya merasa “takut”, namun saya merasa tak enak kalau tak mau mencoba…..perasaan yang sama seperti saat pertama kali mencicipi sasimi (makanan khas Jepang, dari ikan/daging mentah). Mengapa saya agak takut, karena gonggong ini yang sebetulnya sejenis kerang, menurut saya lebih mirip bekicot yang suka jalan-jalan di rerumputan dan makan daun tanaman. Tapi gonggong yang dimakan ini hidup di air laut.

Cara makannya dengan menarik ekor tubuh yang lunak (yang ujung berwarna hitam tak boleh dimakan), kemudian mencocolkannya di sambal. Sambal sebagai teman makan gonggong merupakan sambal kacang, ada rasa asam manisnya, yang saya perkirakan berasal dari campuran nenas dan kacang tanah. Rasanya kenyal-kenyal gurih, dan untuk perkenalan pertama saya cukup memakan dua gonggong saja dulu, karena kadar kolesterol di gonggong sangat tinggi. Makanan lain yang menarik adalah udang, namun saya juga cuma mengambil satu ekor udang saja. Dan makanan yang saya serbu tanpa kenal takut adalah tim ikan kerapu, rasanya segar dan hangat karena tim ikan kerapu ini ditaburi irisan jahe yang masih muda, awalnya saya kira irisan bengkoang, ditambah irisan daun bawang yang diiris tipis panjang dan irisan cabe merah. Wahh…rasanya benar-benar nikmat.

“Kek Pisang Villa” yang terkenal

“Kek Pisang Villa” di Nagoya Center

Malam itu saya benar-benar kekenyangan,  tidur nyenyak di hotel Comfort Tanjung Pinang. Besoknya, setelah makan pagi, kami segera menuju pelabuhan Sri Bintan Pura, untuk melanjutkan perjalanan ke Batam. Sempat mampir ke jalan Sumatra,  saya diberi oleh-oleh otak-otak oleh Encik Azwar. Terimakasih encik…..otak-otaknya sungguh enak. Setelah di rumah, saya mencoba mencicipi otak-otak dari Tanjung Pinang ini, awalnya mencari padanan sambalnya, rupanya otak-otak Tanjung Pinang sudah diberi bumbu dan langsung dimakan begitu saja, yang berbeda dengan otak-otak Makassar dan Palembang, yang cara makannya perlu di cocol sambal lebih dulu. Oleh teman dari Batam, kami diajak ke Nagoya Centre, untuk membeli oleh-oleh khas Batam, yaitu “Kek Pisang Villa” yang letaknya persis di sebelah Hotel Nagoya Plaza.

Selanjutnya kami segera pergi ke Bandara agar tak ketinggalan pesawat. Pengalaman mencicipi makanan di Kepulauan Kepri ini benar-benar tak terlupakan, terutama karena ditemani oleh teman dan keluarga nya yang mengasyikkan.

About these ads

Responses

  1. aduuuuh (kelihatah) enaknya itu sup Ikan. Papa paling suka sup kepala ikan. Tapi krn di Jepang Ikan jarang dibuat sup, Gen tidak begitu suka. Benar ya bu, gonggong itu seperti keong. Seperti escargot dong hihihi. Mau coba kalau ada kesempatan.

    EM

    Betul Imel, rasanya kenyal-kenyal gitu..dicocol sama sambal kacang yang rasanya asam gurih…sedaap.
    Ya betul…seperti escargot (si bungsu kemarin juga tanya ini)…cuma saya belum pernah coba makanan escargot. Maklum saat kesempatan ke Paris, malah jalan-jalan nya yang murah meriah, naik Metro, makan nya di cafe pinggir jalan sambil lihat orang lalu lalang.

  2. Jangan kebanyakan gonggongnya mba… kolesterolnya tinggi lho..
    aku dulu pernah mabok gonggong karena kebanyakan makannya :D

    Tapi tetep kepengin :cry:

    Iya kolesterol nya tinggi…cuma berani makan dua saja.
    Saya pernah keracunan kerang saat di Belawan, Medan…jadi emsti hati-hati dengan makanan sejenis kerang, karena perutnya tak kuat.

  3. Pengen juga mencicipi gonggong. Unik juga ya. Teringat waktu mencicipi sup escargot, enak dan lezat, tp sayangnya pas di suapan ke empat, terbayang bentuk hidupnya, perut langsung bergejolak. Langsung berhenti makan. Tapi itu nggak buatku kapok cicip makanan baru.

    Saya malah belum pernah mencicipi escargot….hehehe…
    Awalnya juga serem mau coba gonggong..tapi mosok kalah sama tantangan. Ternyata enak, kenyal-kenyal gitu.

  4. Sup ikan Yongkee salah satu favorit saya kalau ke Batam. Ikannya segar sekali. Di Jakarta sudah ada beberapa cabangnya, namun tetap tidak bisa mengalahkan kelezatan dan kesegaran ikan/seafood yang di Batam. Jadi lebih baik saya makan sup ikan kalau pas ke Batam saja.

    Kalau di luar Jawa, mungkin karena ikannya segar, sup ikan enak sekali.
    Jika sup ikan di Batam, tidak pedas, tapi jika ke Manado, sup ikan nya pedas. Sup ikan di Medan juga enak…..
    Di Jayapura, bumbu sup nya beda lagi..tapi semuanya enak…..dan yang jelas bagus untuk kesehatan, rendah kolesterol.
    Jadi..makanlah sup ikan jika sedang ke luar Jawa….

  5. Seafood bagi orang Jogja adalah sesuatu yang langka, Bu.
    Jadi, kalo ngeliat foto2 seafood gitu saya jadi lapar heheh!

    Hehehe…di Aussie bagaimana Don? Pasti mahal banget ya?

  6. Wah benar, Bu. Ditambahkan seafood yang dimasak lain juga. Kalau ke daerah yang dekat laut & seafoodnya masih segar, lebih baik sempatkan makan seafood, in a way seafood di Jakarta kebanyakan berasal dari Teluk Jakarta yang tercemar. Kecuali, kalau restorannya memang jelas menyebutkan asal usul seafoodnya misalnya Kepiting dari Tarakan. Slurrp… yummmy :D

    Entah kenapa, di Jakarta, rasanya memang beda ya.
    Rasa ikan di daerah yang masih segar, bahkan ikan hanya dibakar saja sudah enak.

  7. Iya, Bu. Mirip banget ama bekicot. Hiiiii…

    Gak begitu doyan seafood. Kalau yang kek pisang villa itu keknya enak tuh. Nyam nyam :D

    Hahaha..jangan bayangkan bekicot yang suka jalan-jalan di tanaman depan rumah. Enak kok kenyal-kenyal gitu….
    Kek Pisang Villa memang enak…..

  8. itu sop ikannya bener-bener bikin napsu makan saya naik bu… :D
    Gonggong itu juga saya gak pernah makan… apalagi dimakan sama sambel kacang.. :D

    Ntar kapan2 coba gonggong deh..sedaaap

  9. sop ikan itu tampaknya segerrr…kira2 di jkt sndiri ada ga ya?hehe

    Di Jakarta kan segala macam ragam makanan ada..tinggal cari lokasinya…

  10. Sop ikan batam memang terkenal ya.
    Saya pernah cobain yang di Medan. Pernah coba buat juga sendiri tapi rasanya ya ancur hehehee…

    Hehehe…jadi enakan makan di restoran aja ya.

  11. perjalanan dan kuliner yang sangat menyenangkan Bu..

    Yup…betul

  12. Oo..gonggong sejenis kerang ya bu? Saya kaya’nya ga berani nyoba deh, soalnya suka alergi klo makan kerang. tapi sup ikan dan kek-nya kaya’nya bisa dicoba tuuh… Maknyuss kah? :)

    Saya agak takut juga, karena pernah sakit perut saat makan kerang di Belawan..jadi kemarin cuma nyoba makan 2 saja…Alhamdulillah aman, yang penting sudah mencoba.

  13. ngeliat gambar si gonggong, pengen nyobain, apalagi kata ibu idupnya di laut,
    tapi kayaknya bakal susah niy, soalnya begitu gambar si gonggong dipamer ke suami, langsung reaksinya geleng2 kepala dengan kuat hahaha ….

    Hehehe…pasti bayangannya bekicot yang jalan-jalan di halaman atau ladang ya?
    Tapi yang ini bersih, dan enak (walau saya cuma berani makan 2, takut alergi..ternyata nggak apa2)

  14. Wah Tante, ngelihat foto-fotonya dan nama tempat-tempatnya, bikin saya kangen sama Batam. Sudah hampir 2 tahun saya gak menjejakan kaki di Batam.

    Jadi ingat, dulu waktu pertama kali ke Batam, sekitar 7 tahun yang lalu, saya juga diberi tahu mengenai gonggong ini. Pertama kali lihat di Pujasera memang agak horor karena dulu saya tidak terlalu suka seafood apalagi yang agak juicy macam gonggong. Waktu mencicipi, euh, terasa lendirnya dan amisnya. Agak sedikit termuntah-muntah, tapi tak enak dengan rekan semeja, akhirnya saya paksakan telan dengan mata agak berair.

    Setelah berdomisili di Batam, saya jadi sering makan seafood yang jadi ketagihan. Seringnya makan di Harbour Bay (Batu Ampar). Nah gonggong di Harbour Bay ini agak matang merebusnya, sehingga tidak terlalu berlendir. Saya pun jadi suka makan gonggong dan lihat posting Tante, jadi kangen he3x.

    Saat ke Batam, pikiranku melayang ke Syntia….
    Makanan di Batam memang enak ya…sayang saya cuma lewat aja, karena tujuannya pulau Bintan.

  15. yong kee kan sekarang udah ada cabang di jakarta bu…

    saya inget tuh dulu pas pertama kali ke batam, temen kantor sampe nitip dibeliin sup ikan yong kee buat dibawa ke jkt!! saya yang belum pernah makan, sampe mikir seenak apa sih sop nya.
    ternyata gitu doang. huahahaha. enak sih enak, tapi bukan yang sampe luar biasa gimana lah kalo menurut saya… :D

    Katanya Yong Kee memang ada di Jakarta.
    Rasa makanan terkadang terbawa pada situasi, saat itu saya baru mendarat, perut rasa nggak enak…hujan gerimis, jadi makan sup ikan yang panas, langsung terasa cespleng….

  16. Emang betul kalo ikan di luar jawa masih terasa maknyuss. Saya suka banget makan ikan sungai kalo ke Kalimantan. Ayo mmakan ikan, bebas kolesterol.

    Yup..setuju

  17. Gonggong itu kesukaanku, pokoknya yang ada kerang-kerangnya..
    Dulu waktu masih di Padang suka kerang-kerangan danau Maninjau..

    Wahh sayang, pas ke danau Maninjau saya malah nggak makan kerang.
    Saat di danau Solok yang terkenal ikan kecil-kecil, yang di Jawa disebut wader, di Tanjungpinang disebut ikan bilis.

  18. Aduuh…
    Saya nyerah deh, sama sekali nggak pengen makan gonggong ini. Tetap saja penampakannya mirip bekicot dan saya paling geli jijay bajay kalo ngelihat bekicot :(

    Hehehe…mungkin untuk Akin, perlu diolah lagi, sehingga tak perlu lihat bentuk kepompongnya….

  19. Saya tahunya gonggong waktu di Bintan Resort. Tahun berikutnya saya ulangi di Batam. Kalau sup yongkee pertama kali nyoba di AutoMall SCBD, tahun sekitar 2004. Sedap. :)

    Gonggong memang terkenal di pulau Bintan ….teman2 di sana memaksa saya untuk mencoba, katanya rugi kalau belum pernah mencoba.
    Sup Yong Kee ada di SCBD ya….perlu dicoba nih…

  20. Tambahan info Bu, pemilik Villa Kek Batam adalah Denni Delyandri, punya prestasi Young Marketer Champion 2009, APEA 2010, Ismbea 2010, Rebi 2011. Dari bisnis mikro prestasi luar biasa direngkuh. :) websitenya http://www.kekpisangvilla.com/

    Justru yang diawali dari bisnis mikro, jika nanti manajemen juga terus dibenahi..bisa menjadi besar sampai ke usaha korporat


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 220 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: