Oleh: edratna | April 25, 2011

Pindah kost, pindah rumah, apa saja yang harus dipertimbangkan?

Dalam kehidupan kita, sebagian besar dari kita banyak yang mengalami pindah kost saat masih mahasiswa, pindah rumah saat masih mengontrak rumah, atau bisa juga pindah ke rumah sendiri setelah bertahun-tahun kontrak rumah. Setiap perpindahan, akan merasakan bagaimana rasa berat di hati kita, apalagi jika kita telah mengenal kondisi lingkungan kontrak rumah dengan baik, lingkungan yang nyaman, namun karena sesuatu hal, harus pindah rumah atau pindah kost. Dan apa yang saya sarankan, saat anak-anakku kuliah di luar kota, kemudian kuliah di luar negeri? Tentu setiap orang memiliki pertimbangan yang berbeda, tak bisa disamakan antara satu dan lainnya, tergantung kepentingannya, juga prioritas hidupnya.

Nahh, soal prioritas,  ini yang penting untuk dikaji lebih lanjut. Jika prioritasnya adalah kuliah agar bisa lulus tepat waktu, syukur bisa  lulus  jauh sebelum tenggat waktunya, maka mencari tempat kost haruslah pada lokasi yang mudah dijangkau dari kampus, ada kendaraan umum, atau kita bisa cepat mencapai kesana,  bila sakit atau membutuhkan pertolongan dapat segera mendapatkan pertolongan.  Atau kita mempunyai kendaraan sendiri, apakah sepeda motor atau kendaraan roda empat untuk mencapai lokasi tujuan. Apakah kita mau tinggal di kost-kost an, atau serumah bersama teman lain. yang rumah tersebut punya beberapa kamar, atau apartemen, pertimbangannya adalah berujung agar kuliah lancar. Saat saya masih mahasiswa, dan berasal dari keluarga sederhana, biaya kost sangat mahal, namun ayah ibu memaksa saya kost di rumah dosen. Dengan kiriman uang sebulan Rp.6.000,- (saat itu), biaya kost Rp.5.000,- sendiri, jadi uang yang tersisa hanya cukup untuk beli sabun, odol dan shampo. Untungnya kampus  saya bisa dicapai dengan jalan kaki, dan jika ada praktikum di daerah lain, Kampus menyediakan bis untuk mahasiswa, sehingga praktis tak keluar uang lagi. Namun dengan berjalannya waktu, akhirnya ayah ibu membolehkan saya tinggal di asrama saat sudah tingkat Sarjana Muda. Tinggal di asrama dengan berbagai teman yang berasal dari segala penjuru Indonesia, awalnya sangat sulit beradaptasi, apalagi satu kamar 4 (empat) orang dengan karakter yang berbeda-beda, tapi itu harus dilalui. Sebelumnya, sempat mempertimbangkan mau kontrak rumah yang dipakai ramai-ramai, namun seniorku melarang, karena jika satu rumah  tanpa ada ibu kost, maka teman bisa datang berkunjung dan pergi sesukanya dan kita sulit menolak, yang bisa berakibat gagal pada kuliah.

Saat si sulung harus melanjutkan kuliah ke Bne, walau kondisi keuangan kami tidak berlebihan, saya menyarankan agar dia ikut tinggal di homestay. Sayangnya homestay ini jauh dari kampus, tanpa ada kendaraan umum setelah lewat jam 5 sore. Akhirnya si sulung pindah ke rumah kost-kost an, satu rumah tinggal dengan bermacam orang, namun satu kamar sendiri. Disini diperlukan tenggang rasa yang besar, karena hanya ada satu kulkas besar, sehingga dalam memasakpun harus saling sharing. Syukurlah tak ada kesulitan yang berarti, sampai si sulung kembali ke Indonesia, dan melanjutkan kuliah di UI.

Saat ini ganti si bungsu yang tinggal di LN untuk melanjutkan kuliah nya, tahun pertama bisa tinggal di dormitory, yang biayanya relatif ringan dibanding dengan beasiswa yang diterimanya. Namun tahun kedua, harus cari apartemen (apato), disinilah mulai ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan. Jika cari lebih murah (tapi tetap lebih mahal dibanding dengan dormitory yang mendapat subsidi pemerintah), risikonya letaknya jauh, dan sebagai orangtua saya kawatir apalagi untuk anak perempuan. Jadi akhirnya dia tinggal di apato, yang relatif dekat dengan kampus, namun biayanya mencapai 30% dari beasiswa nya, belum untuk biaya lain. Kebetulan ada teman dari negara yang dia tinggali  mengajak untuk sharing kontrak rumah, saya mengajaknya berpikir dan membuat list apa plus dan minusnya. Tentu saja harus dibuat pengaturan, pembagian tugas untuk mengelola rumah itu, mengingat di sana tak ada yang membantu membersihkan rumah, sehingga tugas harus dibagi. Masalah lain adalah jarak yang cukup jauh dari kampus, kecuali dia segera membuat SIM sepeda motor atau mobil, sehingga jarak itu tak menjadi masalah. Ada perbedaan budaya yang bisa menimbulkan masalah, namun di satu sisi, jika berhasil mengatasi, anakku akan mendapatkan sparring partner untuk memperlancar bahasa, yang memudahkan dia untuk bergaul dengan orang lain, mengingat dia masih harus menyelesaikan tugasnya dua tahun lagi. Waktu yang relatif sempit, jika  serius mengerjakan tugas riset, namun juga terasa lama jika tak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.  Yang penting adalah, jika terjadi risiko, sakit atau membutuhkan pertolongan, apakah mudah untuk memanggil taksi? Dan tentu yang jadi tujuan utama adalah kuliahnya berhasil dan lulus tepat waktu.

Jika tadi saya telah menuliskan pengalaman saya saat mencari tempat kost, bagaimana dengan mencari rumah kontrakan?  Saat menikah, dengan pertimbangan nanti akan mempunyai anak, rumah kontrakan yang memenuhi syarat  bagi saya, adalah sebagai berikut:  a) lingkungan rumah kontrakan  dekat dengan dokter anak, mudah mencapai rumah sakit jika terjadi keadaan darurat, b) setiap penghuni rumah mudah mendapat kendaraan umum jika diperlukan, c) dekat dengan pasar karena si mbak harus bisa berbelanja di pasar yang sayur dan buah-buahnya segar, d) dekat dengan sekolah anak-anak sehingga anak-anak cukup ditemani si mbak pergi sekolah saat masih kecil, dan secara bertahap harus bisa pergi ke sekolah sendiri tanpa diantar. e) Ayah ibu  bisa bekerja dengan tenang,  misalkan ada kendaraan untuk mengantar jemput dari dan ke kantor, atau ada kendaraan jemputan rame-rame bersama teman sekantor, juga ada kendaraan umum yang sampai malam hari masih ada jika sewaktu-waktu kerja lembur.  Memang  pilihan ini menyebabkan saya harus mengeluarkan biaya lebih banyak, risikonya hanya ada sedikit tabungan, namun semua pihak tenang.

Dari obrolan dengan adik yang pernah mengambil gelar Master di Amerika, dia cerita bahwa sehari-hari tinggal di luar dormitory….tapi saat musim dingin dia pindah ke dormitory agar dekat dengan kampus, perjalanan dari rumah ke kampus tidak terlalu berat dan lebih konsentrasi belajar. Di musim lainnya, lebih bebas tinggal di luar, karena lebih banyak tempat untuk cari makan, lebih bebas keluar masuk tanpa sungkan. Saya tak bisa membayangkan juga, apa keluar masuk seperti itu tak repot ya, tapi itulah cerita adik bungsuku.

Untuk memudahkan mengambil keputusan,  ada baiknya dibuat list, antara lain sebagai berikut:

  1. Berapa jarak antara rumah/kost dengan kantor atau tempat kuliah?
  2. Kendaraan apakah yang digunakan?  Bisa kendaraan sendiri: sepeda, sepeda motor, mobil, atau kendaraan umum: taksi, bis, kereta api dll. Berapa biaya untuk transportasi dari rumah ke tempat kerja/kuliah?
  3. Apakah rumah dekat dengan tempat cari makanan? Misal: ada kantin, toko jual makanan, pasar.
  4. Luas rumah/kost, ini untuk mempertimbangkan kita bisa melakukan apa saja di hari libur di rumah tersebut. Apakah ruangnya cukup lus, sedang, atau sempit? Jika berupa rumah dan pekarangan, bagaimana membersihkannya, dan pertimbangkan kapan waktunya, jangan sampai menjadi semak belukar yang bisa didatangi hewan melata.
  5. Apa perlengkapan yang ada di rumah sudah memadai (gas, listrik, kompor, air minum/leideng)?
  6. Jika tinggal bersama teman, pertimbangkan: a) karakter teman, b) pembagian tugas: membersihkan rumah, memasak, c) pertimbangkan juga apakah bebas menerima tamu atau harus membuat  aturan waktu menerima tamu. d) Pengaturan menonton TV, radio..karena ada yang suka suasana tenang, namun ada yang senang rame (ini akan berlawanan).
  7. Jika terjadi keadaan darurat (ada yang sakit, kran macet dll), apakah mudah mencari pertolongan?
  8. Yang paling utama adalah kepuasan batin…..ini yang penting, karena betapapun sederhananya tempat tinggal, yang utama adalah masing-masing penghuni harus merasa nyaman, dan saling menghormati.

Ada lagi yang mau menambahkan list nya? Pada akhirnya tidak hanya sekedar list, namun ada unsur emosionalnya, ada unsur kenyamanan, ketenangan, yang tak bisa diukur dari nilai dan bobotnya. Diantara semuanya, saya akan lebih mempertimbangkan kepuasan batin. Manakah yang akan dipilih? Tentu dengan pertimbangan yang matang, diendapkan dulu, dan pada akhirnya nurani kita akan menentukan mana pilihan kita yang terbaik.  Jika semua pertimbangan telah dinilai secara matang, biasanya saya punya perasaan nyaman saat memasuki rumah atau tempat kost tersebut, maka saya akan memutuskan bahwa tempat itulah yang dipilih. Dan yang penting, adalah unsur keberadaan teman, karena teman yang cocok membuat suasana menyenangkan.

About these ads

Responses

  1. Sejak kami pindah dari Medan ke Jakarta, sempat pindah2 rumah beberapa kali sampai kemudian mamak sanggup beli rumah :D
    Paaaaaaliiiiiiiiing sebel klo harus pindah2 rumah, apalagi tanpa pertimbangan2 seperti Ibu listed di atas. Masih untung klo pas nyari rumah kontrakan yang baru dengan waktu yang cukup, jadi bisa agak leluasa nyari rumah kontrakan idaman, tapi jika waktunya mepet? Hehehe … yah pernah dapat rumah yang ‘engga banget’ deh untuk ditinggali :(

    Pernah ngerasain kos juga sih, dan list yang Ibu buat itu kurang lebih menjadi pertimbangan saya, dekat ke kantor, ruang ber-AC, kamar mandi di dalam, ada parkir khusus buat mobil, ada satpam 24jam, ada koneksi internet, sediain cuci gosok – kumplit dah pokoknya, jadi klo udah pulang kerja, bener2 bisa istirahat dengan nyaman dan aman, tentu saja tenang, karena yang nge-kos rata2 orang yang bekerja, jadi ga ada tuh yang berisik2 :D

    Hmm..memang ketenangan rumah atau kost itu menentukan kebahagiaan. Saya juga pernah salah ambil rumah kontrakan di pojok jalan, mikirnya udaranya lebih bagus..ehh kalau malam suka banyak anak muda main gitar di pojok jalan itu..jadilah nggak saya perpanjang lagi, dan pindah ke tempat lain.

  2. Ha??? Saya pertamaX??? wah! Tumben!
    hihihi … dapet hadiah ga bu yang pertamax? *ngarep* hahaha

    Pertamaxx….selamat.
    Hadiahnya..peluk-peluk:))

  3. salah satu pertimbangan kami untuk pindah ke rumah kontrakan yg sekarang adalah dekat dengan terminal rawamangun. suami saya naik bus patas sekali dari situ untuk ke kantornya. turun langsung di samping kantornya. jadi dia tak terlalu capek. kemacetannya juga tidak terlalu parah.

    kalau saya sendiri, sebenarnya yg jadi pertimbangan salah satunya adalah dekat nggak dengan pasar, lingkungan sekitar masih segar, banyak kendaraan umum, trus tetangga juga nggak terlalu rumpi hehe.

    Saran teman saya juga seperti itu..
    Cari rumah kontrakan yang untuk pergi ke kantor akomodasinya mudah, diprioritaskan untuk ibu….atau pasangan yang harus berangkat pagi-pagi.

  4. waktu nyari kos dulu, yang penting ada kamar mandi di dalam bu, airnya lancar
    begitupun waktu cari rumah, lihat air tanahnya bagus nggak,
    tapi alhamdulillah aliran PAM sekarang sudah masuk dan lancar sekali air tanah tak perlu dipakai lagi

    Sekarang banyak rumah tangga yang kamar mandi nya di dalam, hal ini beda dengan tahun 70 an, yang rumahnya mirip rumah Belanja, dengan paviliun dan kamar mandi diujung belakang paviliun.

  5. Hoho. Di ruangan saya juga sedang ramai membicarakan rumah kontrakan. Ada rekan kerja yang akan menikah dan ingin mencari rumah kontrakan untuk dia tinggali nanti. Ada satu kriteria yang diharuskannya, yaitu rumah kontrakan itu harus ada pagarnya. Benar juga, ya?

    Setuju…kalau tinggal di kota besar harus ada pagarnya, maklum tetangga sibuk jadi justru yang bahaya siang hari….padahal siang hari yang di rumah hanya pembantu, isteri (kalau tak bekerja di luar rumah) dan anak-anak kecil. Ini beda dengan saat saya masih kecil, rumah hanya berpagar tanaman, tetangga saling mendukung dan masing-masing rumah tetap ada orangtua yang tinggal walaupun siang…maklum saat itu rata-rata masih umum keluarga batih.

  6. semua list diatas itu juga menjadi pertimbangan saya bu, dan pindahan itu adalah sesuatu yg beraaattt banget….badan pegel dan aduh pokoknya rasanya setengah hati deh….

    Pindahan memang capek..apalagi mesti mengurus kartu identitas agar sesuai alamat rumah yang baru.

  7. kalo disini tambah lagi kriteria nya harus di area yang public school nya nilainya bagus. soalnya kita gak bisa masuk ke public school di area lain. sementara kalo mau masuk private school mahal banget. hehe.

    Hehehe…betul Arman…mungkin seperti saya cari rumah yang dekat dengan sekolah anak, dan sekolah yang termasuk bagus.

  8. Memang sih semua pasti ada untung ruginya. Dan dibuat list seperti di atas memang bagus, lebih bagus lagi kalau diberi bobot (weight), yang paling penting diberi bobot paling besar. Belum lagi juga sub-sub poin seperti poin 6 juga sebaiknya diberi bobot atau prioritas mana pertimbangan yang paling penting. Kalau nomer 8 sih sepertinya sulit diprediksi karena baru diketahui dengan pasti dan ketahuan karakter aslinya setelah tinggal bersama. Sudah cukup kok poin2nya saya bilang sih. Terlalu banyak poin juga kurang bagus menurut saya, apalagi yang kurang relevan, nanti malah beresiko ‘menutupi’ poin-poin yang justru penting…

    Hmm..pemberian bobot itu memang penting…tulisan di atas memang belum diberi bobot, karena yang memberi bobot adalah masing-masing, karena sesuai prioritas utama nya.

  9. Bu, mungkin kalau bisa aksesnya nggak rusak2 amat. Karena pernah ada teman tante saya yang tinggal di gang dengan kondisi jalan yang rusak dan berbatu2. Istrinya yang sedang hamil muda sampai keguguran gara2 selalu terguncang-guncang…

    Waa…kasihan amat, pasti suaminya sedih sekali. Betul Akin, harus akses jalannya bagus, karena jalan rusak memang bisa membuat keguguran.

  10. Semua pertanyaan yang Ibu buat relatif bisa dijadikan panduan umum untuk menentukan tempat tinggal. Saya pernah kos dan kontrak setiap kali membuat rencana pindah/mencari tempat tinggal selalu saya buat untuk menjawab dua hal penting (menurut saya) yaitu apakah kenyamanan menurut versi saya sudah terpenuhi (termasuk masalah security & privacy), apakah tempat tinggal tersebut memungkinkan saya melakukan segala hal dengan mandiri, sebab ada kalanya kita harus melakukan segala sesuatunya dengan mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Dalam membuat rencana saya selalu mempertimbangkan the worst case tanpa menjadikan perencanaan tersebut pesimis.

    Oh ya mengenai jarak dengan tempat kerja/kuliah itu relatif. Untuk keperluan kuliah kalau tak punya “kaki” akan berasa sekali, kecuali kalau tinggal di dormitory yang relatif masih di dalam kawasan kampus. Ini bedanya dengan orang kerja. :)

    Terakhir apakah bujetnya sudah sesuai dengan kemampuan? Jika sudah sampai sekitar 30% dari pemasukan sebenarnya agak sayang, teorinya lebih baik jika digunakan untuk mengangsur property milik sendiri. Namun lagi-lagi dikembalikan untuk menjawab pertanyaan mengenai kenyamanan dan kemandirian tadi, jika memang cost itu yang paling memungkinkan untuk mendapatkan kedua hal tersebut di atas? Mengapa tidak, anggap saja sebagai opportunity cost yang mesti dikeluarkan untuk meraih kesuksesan yang lebih besar dibanding kesuksesan finansial semata.

    Demikian urun pendapat saya. Semoga bermanfaat. :)

    Hehehe…setuju Yoga…
    Saya juga selalu berpikir keamanan, kenyamanan dan privacy…terutama bagi orang yang memperhatikan privacy seperti kita.

  11. Oh ya Bu, nyaman itu juga berarti jalan di depan rumah bisa dilalui mobil dan gak bikin mumet yang nyari, lebih-lebih sopir taksi yang kerap dibutuhkan di jam-jam nggak umum, misalnya dini hari. :D

    Dan jalan di depan rumahku hanya nyaman jika dilalui mobil kecil…:((
    Tapi saat mau beli dulu, saya masih punya mobil dinas Camry….kalau Alphard memang gede banget sih Yoga….jadi ingat saya terpaksa turun diujung jalan, karena mobil teman Yoga besaaar banget.

  12. Saya pribadi …
    Nomer Enam itu adalah prioritas yang pertama …
    Saya harus lihat lingkungan sekitar dulu …

    So prioritas pertama adalah Secure-ness

    selanjutnya …
    itu prioritas yang nomer sekian …

    Salam saya

    Aman….betul om, karena kita bisa bekerja dengan tenang, karena meninggalkan anak-anak dalam lingkungan aman.

  13. Benar sekali, makasih, Bu. :D

    Tapi…. buat saya yang penting untuk pindahan adalah…. harus ada truk yang muat untuk memindahkan seluruh perabotan! :mrgreen:

    Hahaha…Truk?
    Barangnya Asop perlu berapa truk?

  14. Benar Bu, saya pilih yang dekat dengan kampus/ kantor, karena pada saat semepet2nya nanti tidak punya ongkos transpor, masih tetap bisa ngampus jalan kaki, hehe..

    Sama Clara, sayangnya setelah tinggal di Jakarta tak bisa punya tempat kost atau rumah yang dekat kantor…terpaksa deh pilih yang paling tidak 30 menit bisa sampai kantor…dan dengan kemacetan sekarang ini, yang dulu 30 menit, sekarang bisa lebih dari 2 jam jika macet parah.

  15. waktu saya datang pertama kali di Tokyo, saya tinggal homestay dengan keluarga Jepang. Jauh sekali dari kampus universitas, butuh waktu 1.5 jam. Yang akhirnya saya tinggal 4,5 th sampai lulus. Pertimbangannya saat itu hanya supaya saya bisa tetap merasa tinggal bersama keluarga. Bagusnya ya bahasa Jepangnya jadi maju sekali :) Saya sendiri menolak tinggal di dorm krn banyak yang tidak bisa maju bhs Jepangnya.

    EM

    Betul Imel, andai si bungsu bisa tinggal bersama keluarga….
    Tapi kalau rame-rame dengan teman, harus dipikirkan pembagian tugasnya…dan saya lebih menyarankan cari yang dekat kampus, atau lokasi yang mudah terjangkau jika terjadi keadaan darurat.

  16. [...] Sosok kartini ini hadir meninggalkan jejak 2 tahun lalu, itupun karena batavusqu yang memulai mengunjungi blognya, karena beliau selalu berkunjung balik kepada sahabat yang sudah meninggalkan jejak di blognya. Beliau bernama lengkap Enny Dyah Ratnawati. [...]

  17. Salam Takzim
    Mohon izin memperbaiki Sarjana Pertanian dan izin mengomentari tulisan ini
    9x pindah rumah alasan yang klasik pengen mandiri setelah berkeluarga, namun belum pernah mempertimbangkan nomor 1,2 dan 7 dari tips yang diberikan
    Terima kasih sudah memperbaiki yang keliru dan atas kunjungannya ke blog saya diucapkan terimakasih banyak
    Salam takzim Batavusqu

    Silahkan…terimakasih telah mereview blog saya.

  18. Cari tempat kos yang ibu kosnya gak galak.Huehehehe….

  19. makasih bu untuk sharing tips memilih rumahnya. dulu saat pindah dari asrama ke apato sekarang pertimbangnnya adalah yang dekat dengan kampus dan murah :)

    Hehehe…itu juga yang saya sarankan pada si bungsu.
    Namun jika tak ada yang murah, tak apa agak mahal asal beasiswa cukup, namun yang penting lokasi mudah dilalui, mudah untuk melakukan panggilan darurat dsb nya.

  20. wah… dari jaman kuliah hingga sekarang berkeluarga,
    saya biasanya memang pake prioritas no.1,2,3 dan keamanan, kebersihan tentunya.

    Yup….kemanan memang sekarang jadi prioritas, terutama jika punya anak kecil.

  21. buat mahasiswa perlu baca posting ini. yang jelas pindah kost harus itung2 modal berapa.

    Yang jelas pindah-pindah kost memerlukan tenaga yang tak sedikit…

  22. Buat saya, penting sekali suasana nyaman. Jadi,itu yg jadi pertimbangan utama saat milih2 tempat tinggal, apakah suasana nyaman akan saya dapat disana? Dan rasa nyaman itu relatif memang, pernah kost ditempat yg relatif bising (belakang terminal baranangsiang… ) hingga membuat ortu agak sewot, tapi saya merasa nyaman dengan teman2 disana jadi tetep betah, hehe…

    Adik saya dulu kost di belakang terminal Baranangsiang (jl. Riau)..tapi tenang-tenang aja..malah senang, karena jika pulang kampung, berhenti di terminal hanya tinggal jalan kaki, cari makanan mudah dan murah.

  23. Kalo saya menterjemahkan ‘kepuasan batin’ dengan sreg tidaknya hati, Bu…
    terutama kalo tempatnya serem dan nggak memberikan kedamaian, biasanya saya emoh :)

    Betul Don…kadang kita bisa merasakan apakah tempat kost ini akan terasa nyaman nggak…kita akan merasakannya.

  24. waktu kuliah dulu sekali aja pindah kost itupun di awal banget, setelahnya itu udah betah :D Alasan awalnya sih tuh hari lagi bokek, dan si ibu kost ngak bisa ngasih toleransi, ya akhirnya mlipir deh cari yg lebih murah dan ternyata lebih nyaman :D

    Entah kalo sudah merasa cocok dg bapak-ibu kost sepertinya tak pengen pindah-pindah aja, sekarang ini sudah ngekost di kota lain, tapi niat utk pindahpun ngak ada udah merasa nyaman, walaupun ajakan teman2 silih berganti utk ngekost bareng.

    Alasannya simple banget, ngak pengen repot mikirkan ini itu seperti ibu jelaskan di atas hehe maklum lah, mungkin cowok kali bu ya :D

    Memang kalau udah ketemu tempat yang nyaman rasanya males pindah ya.

  25. Hmm…
    Saya belum pernah kost dan belum pernah juga mencari kontrakan, ya alhamdulillah juga tentu saja.
    Kalau dengar cerita teman-teman yang ngekost dengan cerita ini itu, kadang ya penasaran juga….

    Berarti Zee langsung punya rumah? Wahh senang sekali….

  26. bila pindah kost tentunya semuanya serba baru.. tempat baru,suasana baru, teman dan tetangga baru pokoknya jangan istri baru aje..he.he
    senang berkunjung di sini dan salam kenal

    Betul…dan perlu penyesuaian yang lumayan juga…

  27. seperti kata Ibu, biar kecil yg penting rumah sendiri.. dari tempat kerja tentu lauh jauh ketimbang waktu ngekos, lokasi juga ga serame waktu ngekos di benhil

    tapi seperti yg Ibu bilang, yg penting rumah sendiri.. dan tenang sekali sekarang hehehe (walau bangun jadi lebih pagi)

    Betul Aldi, jadi rumahmu di lokasi mana? Biar kecil pasti nyaman, kita bisa memberi tambahan tanaman biar lebih segar.

  28. Faktor keamanan dan kenyamanan tetap yang utama bagi saya..

    Keamanan dan kenyamanan memang prioritas utama

  29. kalo saya, prioritas utama itu aksesnya, ada angkotnya/transportasi umum, soalnya saya tidak bisa naek motor :D yang lain2 yha sama bu, deket RS, pasar, sekolah, gak terlalu jauh dg tempat kerja suami :)

    Sama dengan saya Vivink..jadi pilih yang mudah akses naik kendaraan umum

  30. Aku pernah beberapa kali kost dan kontrak. Dan dari semua list yang Ibu buat, aku biasanya justru lebih mendahulukan nomor delapan. Karena jika semua hal lain dalam list terpenuhi, tetapi tidak dengan nomor delapan, biasanya masih kurang sreg. Hati belum bisa menerima. Namun sebaliknya, jika sudah sreg, nomor-nomor/pertimbangan lain bisanya malah bisa mengikuti atau menyesuaikan :D

    Nomor delapan itu juga menurutku yang penting…karena perasaan tak bisa dibohongi.
    Saya pernah kost di daerah Tanah Abang yang kata orang keamanan nya diragukan, tapi nyaman aja, karena ibu bapak kost masih budenya teman dan menganggapku saudara.

  31. Wah sharing infonya benar benar membantu saya, sebagai pemilik kost untuk melihat, menganalisa, dan menyediakan yg terbaik untuk anak anak kost di tempat saya.
    Kesimpulan ‘Key point’ dari sharing teman teman tersebut di atas keliatannya seputar:
    -Jarak yang dekat baik dari kampus, kendaraan umum, kantor, maupun akses2 penting seperti tempat makan, supermarket, dsb-nya
    -Kenyamanan Kost
    -Keamanan Kost

    Karena sharing blog anda yang sangat berguna untuk orang orang yg berniat untuk nge-kost, saya mohon ijin-nya yah utk mempublish tips dari anda di facebook kost saya “Pondok Maranatha” (http://www.facebook.com/find-friends/#!/profile.php?id=100000670940532)

    Kost Pondok Maranatha (dekat Universitas Maranatha) sebelumnya mengucapkan terima kasih banyak, atas saran saran dan masukan dari banyak teman teman yg memberikan tips yg berguna seputar kost.

    Salam Sejahtera
    Kost Pondok Maranatha

    http://www.pondokmaranatha.com

    Silahkan…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 226 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: