Oleh: edratna | Mei 27, 2011

Telepon

Terimakasih buat yang menemukan benda bernama telepon ini, karena benar-benar sangat berguna. Teknologi telepon telah maju pesat, tentu kita masih ingat zaman telepon masih pakai ontel, yang setiap kali bicara nyaris setiap orang dari dari jarak 10 meter bisa mendengar. Saya masih ingat, jika mau menelpon, apalagi cuaca gerimis, maka harus berteriak agar yang di ujung sana bisa mendengar, itupun kadang terputus-putus.  Biaya telepon cukup mahal, dikotaku tak semua rumah tangga punya telepon. Saat saya dan adik-adik  sudah bekerja  dan tinggal di kota lain,  saya dan adik-adik ingin memasang telepon di rumah agar mudah menghubungi ibu, ternyata tak semudah itu, karena jaringannya terbatas.

Telepon (gambar diambil dari http://www.google.com)

Waktu  tinggal di rumah dinas, sekitar akhir tahun 80 an,  hanya satu rumah yang saat itu punya sambungan telepon. Setelah tahun 1990 mulai dibuka tambahan jaringan sehingga ada beberapa rumah yang bisa diberi jaringan telepon. Dan sayangnya, saat itu saya sedang tugas di luar kota, jadi lagi-lagi rumah saya tak ada telepon. Akhirnya suami berlangganan pager, agar bisa memberi kabar sewaktu-waktu jika diperlukan. Namun, banyak kejadian lucu sejak berlangganan pager ini, mungkin operator salah dengar, sering berita yang disampaikan berbeda sekali.

Rasanya lelah sekali bolak-balik ke kantor telepon untuk bisa mendapatkan jaringan, baru sekitar tahun 1995 telepon bisa masuk ke lingkungan rumah dinas kami, dan sejak itu masing-masing rumah dinas ada telepon. Sejak itu komunikasi lebih lancar, dan tahukah siapa yang paling senang dengan telepon ini?

Suatu ketika seorang teman datang ke ruanganku di kantor..”Bu, pernah nggak,  tagihan biaya telepon lebih dari satu juta?” Saya menjawab tidak, paling-paling sekitar Rp.500.000,- Rupanya bapak tadi putrinya sedang ABG, jadi diskusi dengan teman, atau mengerjakan PR melalui telepon.  Saya menggodanya, dengan mengatakan jika penelepon cowok masih lebih dari satu, artinya masih aman. Yang harus mulai di monitor jika yang menelepon hanya itu-itu saja. Adanya telepon di masing-masing rumah dinas, ada susah dan senangnya. Suatu ketika saya digedor tetangga, rupanya bos mau nelepon tak bisa….rupanya anakku yang  saat itu berusia  remaja asyik ketawa-ketawa di telepon membahas PR dan gosip lainnya. Apa boleh buat, saya akhirnya ke rumah tetangga, untuk mendengarkan ceramah bos di hari Minggu….hahaha. Handphone baru saya miliki sekitar tahun 97,  menggunakan pasca bayar. Rasanya senang sekali, kalau tugas ke luar kota bisa tetap mengontrol kesibukan anak-anak, sehingga rasa bersalah “agak berkurang.”

Adanya hape pra bayar setelah tahun 2000 an  sangat menolong, terutama untuk anak-anak, sekarang justru telepon kabel nyaris tak tersentuh. Biasanya hanya untuk menelepon Bakmie GM agar mengirim pesanan mie ke rumah, telepon Pizza Hut, telepon taksi BB jika mau pergi ke Bandara atau tempat lain. Anak-anak yang saat itu mulai mahasiswa diberi jatah pulsa, dan sekarang makin mudah karena teman si mbak jualan pulsa, jadi kalau pulsa kurang tinggal order pada si mbak. Dari hape pra bayar ini juga bisa menelpon si bungsu dan si sulung yang keduanya sudah di luar Jakarta. Telepon ini juga mengobati rasa kangen, atau kadang malah diskusi hebat lewat telepon..tahu-tahu…bret..hape mati….ternyata pulsanya habis. Kenapa kalau telepon keluar kota malah enakan lewat hape pra bayar? Selain lebih murah, juga mudah mengelolanya, kalau hape pasca bayar nanti tahu-tahu keasyikan bicara, tagihannya membengkak. Dan kebetulan hape anakku juga pake pra bayar, menggunakan provider yang sama, jadi lebih murah.

Pagi-pagi telepon berdering, rupanya dari anakku. Saya segera mengangkat telepon, kemudian mengatakan, ibu saja ya yang menelpon. Maklum kalau telepon ke luar negeri, lebih murah jika telepon nya dari  Indonesia. Jika mendengar suaranya lagi riang, artinya baik-baik saja. Namun sebagai ibu, saya  akan tahu jika anak-anak sedang dalam kondisi tak nyaman, walau mereka tak  mengatakannya. Obrolan yang ngalor ngidul pun terjadi, dari mulai cerita kemajuan riset nya, cerita ingin pindah rumah agar bisa lebih mandiri, dan sebagainya. Saya akui, telepon tetap diperlukan, walau sekarang bisa saling cerita lewat email, atau saling tahu kegiatan masing-masing lewat gambar-gambar di fesbuk. Bagaimanapun, mendengarkan percakapan, tetap tak ternilai. Saya juga menanyakan kondisi di sana, juga berita teman-teman nya yang banyak  liburan ke Indonesia. “Apa ibu ingin saya balik  sebentar ke Indo?”, katanya. Langsung hati ini terasa deg…wahh ini anak lagi kangen rumah, jadi langsung saya katakan, “Wahh nggak usah, lebih baik waktumu digunakan sebaik-baik nya, belajar mengenai kebudayaan negara lain.

Setelah itu telepon kembali berdering, rupanya dari si sulung, yang tinggal di bagian Indonesia Tengah. ” Ibu, katanya ibu sakit?” Saya agak bingung, karena merasa sehat-sehat saja.  Rupanya si sulung kawatir, agak lama ibu tak menelepon, apakah kabarnya baik-baik saja. Yahh telepon tentu sangat bermanfaat, saling  berkabar melalui telepon membuat orangtua dan anak saling terhubung. Saya ingat pendapat seniorku, bahwa sebetulnya kita sangat terhubung pada orang-orang yang dekat dengan kita. Bagaimanapun, bicara lewat telepon dengan keluarga dekat, lebih baik dibanding lewat surat, karena kita akan bisa memahami bagaimana perasaan keluarga yang diajak mengobrol tadi. Di satu sisi, telepon juga membuat terganggu, dengan banyaknya penawaran-penawaran melalui sms, juga melalui telepon, yang entah dari siapa. Entah kenapa, telepon menawarkan sesuatu, jika ditanya asal usul tahu nomor telepon kita jawabnya selalu sama, dari manajemen. Siapakah yang dimaksud dengan manajemen?

About these ads

Responses

  1. iya bener… gak kepikir kalo gak ada telpon gimana ya bu. hahaha. dan sekarang juga teknologi HP ini bener2 hebat dan sangat membantu sekali… :)

    dulu kita pas masih SMP-SMA juga tagihan telepon selalu jadi masalah di rumah. papa saya suka marah2 soalnya tagihan telpon yang terlalu tinggi (lupa sih nyampe 1 juta apa gak hehe). dan tiap bulan selalu diprint tuh detil tagihannya trus dicek ama papa saya, telpon ke nomor mana yang lama, ntar yang nelpon (yah siapa lagi biang keladinya kalo bukan saya atau kakak saya… :P) bakal diomelin, atau disuruh bayar pake duit sendiri. huahahaha. tapi emang pas remaja, rasanya gak bisa lepas dari telpon ya. kerjaannya di rumah ya main telpon mulu. :P

    btw tentang telpon dari indo lebih murah, bener banget tuh. sekarang juga kalo saya telpon ke ortu, ortu saya yang suka nelpon balik. huahaha.
    padahal dulu jaman saya masih di indo dan masih LDR ama esther, malah telpon international dari indo mahal. jadinya esther yang seringnya nelpon ke indo. giliran saya pindah ke sini, malah telpon dari indo yang murah. gimana coba… huahahaha

    Iya, sekarang telpon dari Indonesia lebih murah…apalagi jam-jam tertentu.
    Remaja memang sinonim dengan telepon..zaman remajaku, rumah di kampung tak semua ada telepon…jadi kalau kencan masih pakai surat…hahaha…
    Terus pesan lagu, disiarkan oleh pembawa acara RRI….hehehe

  2. Jadi ingat waktu SMP dulu rajin pake telpon rumah dan tagihan telpon rumah pun membengkak sampe satu juta lebih (kalo ga salah). Aku pun langsung dimarahi Papa. Hihihi…

    Memang risiko jika punya anak remaja,,,pulsa telpon membengkak.

  3. Pernah punya prt yang gaul banget. Telpon masuk ke rumah itu untuk dia semua. Padahal udah ditegur, telpon rumah itu hanya boleh dikasih tau ke keluarganya saja., kan dia juga punya hp.

    Saya juga pernah mengalami masa-masa seperti ini…akhirnya telpon dibiarkan biar berdering-dering..atau kabel dicabut aja, toh ada hape.
    Ada juga saat-saat, malam-malam ada telepon, ortu dikampung nelpon, karena saat itu si mbak udah punya anak, tapi masih ikut di rumahku….waduhh pusing deh…

  4. Ternyata nggak jauh beda ya, Bu. Setelah hp jadi andalan komunikasi utama, telpon rumah nyaris nggak tersentuh. Penggunaannya betul-betul seperlunya saja. Kegiatan rutin lebih banyak menggunakan hp.

    Tetapi karena hp jadi andalan komunikasi utama, maka hp pun kerap tak mau berhenti berhenti. Akhirnya aku menerapkan cara sederhana: pakai 2 nomor. Satu untuk penggunaan umum, satu untuk penggunaan kalangan pribadi. Sehingga yang menelpon ke nomor pribadi betul-betul lingkaran terdekat untuk hal-hal yang bersifat penting dan personal. Maka dering telpon yang terus menerus bisa diperkecil kuantitasnya.

    Aku malah sudah lupa di mana letak telpon rumah. Sek ta’ inget-inget dulu ya, Bu… :D

    Telpon rumahku masih dipergunakan kok…untuk pesan taksi, pesan makanan antar, klaim kalau internet lelet dll. Tapi memang biayanya nggak gila-gila an seperti saat anak masih remaja/ABG

  5. Wah, sekarang telepon udah semakin canggih, kemajuan zaman. :lol:

    Yup….hape banyak menolong, terutama yang pra bayar.

  6. telepon itu sekarang benar_benar telah membantu kita…

    Yup…

  7. Telepon rumah, ya? Sampai sekarang di rumah di kampung tidak dipasang telepon. Kalau dulu, memang telepon itu dirasa merupakan layanan dan barang mewah, tidak terlalu penting pula. Kalau sekarang, karena lebih fleksibel pakai ponsel, jadilah pakai ponsel.

    Dulu waktu SMA sempat minder pula, karena termasuk satu dari sedikit murid yang tidak punya telepon di rumahnya. Kawan-kawan yang lain enak bisa mendapat kabar terbaru atau sekadar berbagi gosip. Saya sih pasrah saja. Kemudian berpikir, memang saat itu tidak butuh telepon, jadi tidak perlu minder juga.

    Baru setelah lulus SMA dan hendak kuliah di luar kota, Abah membeli dua ponsel. Satu untuk di rumah, satu lagi untuk saya bawa. Kalau saat itu memang sudah butuh telepon agar komunikasi tetap lancar, ada kabar apa-apa tinggal telepon. Salah satunya kalau kepepet butuh uang, minta ditransfer. Hwehe. :D

    Kebetulan teman mahasiswaku sebagian besar berasal dari kampung, karena rata-rata hanya satu orang tiap kota (kecuali kota besar yang telah dikenal potensi sekolahnya), jadi tak punya telepon hal biasa.
    Dan masa-masa itu, biasa belajar bersama, janjian nya saat istirahat, di kantin, atau lewat surat.

  8. telpon, seperti halnya media sosial internet sekarang ini, semakin jauh semakin canggih alat komunikasi yang memisahkan jauh manusia satu dengan manusia lain, adanya skype, dan berbagai chatting conference dg video call lebih menarik lagi saat ini.
    tapi ada juga pameo, semua itu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat ;) semoga tidak berlaku prase terakhir :D

    Saya suka kalimatmu..semoga telepon memang mendekatkan yang jauh…bukan sebaliknya.

  9. Semenjak adanya hp, saya jadi jarang pake telepon lagi. Tapi sampe sekarang telepon tetep terpasang. Buat pasang internet itu juga :p

    Iya…telepon kabel dulu untuk pasang internet (speedy)..sekarang karena pake First Media, tak harus melalui telepon…tapi teteup, jika klaim, yang ditanya telepon rumah, bukan hape.

  10. Kalo dari Australia, lebih murah kalau telp ke telp rumah di Indo, Bu…
    Kebetulan orang tua saya nggak kebagian nomer telp rumah jadi kalau telp ke ortu harus ke mobile yang jauh lebih mahal dan terkadang.. terputus-putus…

    Tapi setuju, teknologi komunikasi memang berperan baik sekali mendekatkan jarak.

    Don, coba deh pakai provider tertentu (japri ya)..soalnya saya pakai itu jika teleponan sama si bungsu.

  11. Memang beda kalau bicara langsung, penasaran kita lbh terjawab drpd sms. Base on survey, kaum pekerja atau wirausahawan prefer call drpd sms, bu. Indosat mengeluarkan paket baru Bu, Indosat Mobile. 1 paket utk semuanya, lengkap dan murah.
    Oh ya, klo saya lebih suka teleponan pk telp pstn sebenarnya, krn ga bikin telinga panas klo bercakap lama2. Kalau telepon anak ke rumah jg langsung ke pstn saja, krn kalau ke HP takutnya terjatuh dr tangannya.

    Memang lebih suka telepon langsung, bisa mendengarkan suaranya, apakah lagi senang atau sakit, atau sedih…semua terdengar dari nada jawabannya.

  12. Betul itu, gak kebayang kalo zaman sekarang masih pake surat atau telegram. Thanx juga buat yang nemu telpon.

    Telpon rumah hanya sesekali berdering, sudah jarang dipake. Semua komunikasi dilakukan via handphone

    Surat juga menyenangkan lho…bisa dibaca berulang-ulang…dan bisa disimpan. Saya menyesal tak menyimpan surat-surat ayah dan ibu almarhum saat saya masih kuliah dulu sampai beliau meninggal dunia.

  13. Telepon pake HP memang banyak spamnya. Dalam sehari tak kurang dari 5 sms penawaran masuk ke inbox. Sedangkan kalo telepon rumah lebih bersih dari spam.

    Telepon rumah juga saat ini banyak gangguan, biasanya untuk pasang speedy, padahal udah berulang-ulang ditolak karena saya sudah pakai First Media…mosok dobel.
    Atau juga menawarkan paket wisata, dan kalau ditanya tahu nomor telepon rumah dari mana, alasannya selalau sama…dar manajemen. Siapakah manajemen itu?
    Jadi, saya agak malas mengangkat telepon rumah, sering dibiarkan mati sendiri.

  14. saya ingat dulu waktu di rumah, ortu saya mulai pasang telepon rumah. rasanya seneng banget. lalu mulai deh telepon2 teman2 sekolah. dikit-dikit telepon, tanya PR. lalu cerita ngalor ngidul. hehehehe… tapi saya lupa dulu pernah tagihannya sampai membengkak atau tidak. rasanya sih tidak. oiya, sebelum membayar tagihan, biasanya ortu saya menelepon telkom (atau bank ya? lupa saya) untuk menanyakan berapa kira2 tagihannnya. jadi waktu bayar, sudah bawa uang secukupnya.

    Jangan-jangan dulu tagihannya juga membengkak….tapi orangtua tak heboh..
    Saya memilih mengajak ngobrol baik-baik, karena bagi saya lebih baik anakku telpon teman-teman nya daripada main keluar rumah.

  15. Salam Takzim
    Boleh dong minta nomornya, maap
    Salam Takzim Batavusqu

    Maaf……hanya untuk keluarga…hehehe

  16. Dulu, waktu blom ada telpon di rumah, saya termasuk pelanggan TU (Telpon Umum), sampai punya tuh kartunya segala :D Pilihan pakai TU Kartu biasanya karena diletakkan di ruang ber-AC, mayan sambil ngadem, sekaliankeren ga keliatan suara koin masuk, ga ketauan klo nelpon dari telpon kartu hahahaha

    Sejak ada telp di rumah, ya itu, rame pas mbayar, karena sudah pasti bengkak, namanya di rumah ABG semua hihihihi

    Nah, pas udah ada HP tanggung jawab pulsa masing2 dweeeeeeeeh :P
    Tapi sekarang, balik ke telp rumah, soalnya hampir selalu ada di tempat, jadi klo nyari saya paling gampang ya telpon rumah hehehe

    Banyak pahalanya tuh yang menemukan telpon :D Karena semakin banyak silaturahmi yang tersambungkan, mendekatkan jarak yang jauh, hanya dengan menekan sekian angka ….. Haloooo ……… ada Bu Enny? Hehehehe

    Hehehe..saya juga masih ingat telepon kartu…lebih keren daripada pakai koin…dan bisa lama ngobrolnya.
    Hallo..Nique ada?

  17. Dulu inget waktu saya SD, pertama kali pasang telpon, rasanya pengen nelpon tiap hari :)

    Hmm biasanya memang begitu

  18. Postingan Bu Enny, membuat saya teringat jaman SMP dan SMA, yang menyusahkan orangtua karena doyan menelepon, malah pernah nelepon dua jam :D
    Kalau anak sekarang beda ya Bu, anak-anak saya suka nggak tahu waktu kalau main internet :(
    Makanya dibatasi kalau liburan sekolah saja.

    Hehehe…pengalaman ortu mirip ya….jika punya anak ABG..pulsa bengkak.
    Internet memang perlu dibatasi, agar anak juga punya kegiatan lain, terutama kegiatan sosialisasi dengan teman.

  19. saya juga sekarang jarang pakai telepon rumah, karena jatah telepon gratis (pasca bayar) di HP pun tidak habis-habis. Tapi tetap harus punya telepon rumah untuk langganan internetnya. Wah aku mau telepon jakarta dulu deh bu….mumpung ingat.

    EM

    Telepon rumah (pakai kabel) memang tetap diperlukan…karena jika perlu apa-apa, pasang internet, pesan makanan, yang ditanya telepon rumah, mungkin karena dianggap lebih dipercaya.

  20. Pertama kali merasakan keuntungan adanya telpon wkt mulai ngekost, seminggu sekali telpon collectcall (eh bener ga ya itu istilah utk telp yg dibayar oleh penerima?) dan yg jadi lawan bicara orang serumah gantian! wuih senangnyaa…
    Pengalaman berkesan berikutnya ketika kecanduan suara seorang penyiar radio, hampir tiap malam telp lama ke dia, offair tentunya, hehe…

    Kayaknya zaman dulu, kita kecanduan suara penyiar ya….hehehe….

  21. Di rumah orang tua, telepon rumah masih sering digunakan, terutama untuk urusan RT/RW. Tagihannya per bulan kurang dari 100ribu. Padahal jaman dulu, untuk memiliki telpon rumah susahnya setengah hidup, mesti indent berbulan-bulan. Untuk telpon ke nomor tertentu yang masih satu kota juga mesti lewat operator dan menunggu berjam-jam agar tersambung, betapa kecepatan jaman baheula itu sangat tidak bersahabat dengan kehidupan masa kini. :)

    Saya juga merasakan susahnya pasang telepon..benar-benar hape sangat menguntungkan….

  22. iya, saya juga masih inget lho Bunda..
    dulu kalo punya telpon.. gimana gitu.. hanya orang2 tertentu saja :)

    tapi sekarang.. wah… siapa aja juga bisa punya hape .. :)

    dulu saya pas SMA, orangtua beli hape satu biji.. itu dipake sbagai telpon ‘rumah’. mau bikin sambungan telpon agak ribet.. ya udah hape itu di-panjer di rumah,

    lucunya.. ketika semua anggota keluarga pergi beraktivitas masing2.. nah yang kebagian bawa hape itu.. berasa sebagai penjaga telpon gitu .. hehe
    krang kring mulu… hihi

    Gara-gara pasang telepon kabel susah, kami dulu beli telepon yang harganya Rp.7 juta (gila ya…mahal banget) yang bisa ditenteng dalam tas…ini yang dipakai seperti telepon rumah.

  23. Bunda dulu jaman aku pacaran LDR tagihan telpon di rumah pernah sampe hitungan jut jut ahahaha
    Tlp memang bermanfaat banget untuk komunikasi. Btw klo ada penawaran nelpon, aku sih curiga ada pihak ketiga yg membocorkan nomer tlp kita bun.. mungkin pernah nulis absen dimana, atau pas daftar sesuatu gitu bun…

    Tak terbayangkan ya, kalau saat ini tiba-tiba tak ada telepon..pasti deh semua kebingungan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 217 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: