Sms masuk ke hapeku menjelang Magrib….”Ibu, bagaimana ya cara menguatkan hati untuk meninggalkan anak di rumah. Saya nggak tega begitu tahu Ara nggak bisa tidur sesiangan ini, belum lagi dia susah minum susu.” Ara selama ini minum asi dari mama nya, jika sesekali ibu harus keluar rumah, meninggalkan botol asi yang sudah disimpan di lemari es, sehingga neneknya tinggal menghangatkan. Saya tersenyum membacanya, kenanganku kembali berputar sekitar awal 80 an, saat anak-anak masih kecil. Aturan cuti melahirkan di kantorku adalah 3 (tiga) bulan, dengan aturan 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Bayangkan harus meninggalkan anak setelah umur 6 minggu untuk kembali bekerja, benar-benar perjuangan yang harus dilalui, ditambah saya tak punya siapa pun untuk membantu momong anak, kecuali bibi, karena ibu saya saat itu masih bekerja sebagai Kepala Sekolah yang cukup sibuk, sedang ibu mertua wafat saat saya masih hamil muda.
Semua harus dilalui dan tak bisa mundur, saat itu saya baru saja mulai merintis karir di Perbankan, pada posisi sebagai pegawai sementara. Karena ayah ibu bekerja, tak ada sedikitpun dalam pikiranku untuk berhenti bekerja dan hanya tinggal di rumah, ditambah saya tak punya kemampuan menambah penghasilan jika hanya bekerja di rumah. Sebuah dilema, namun harus diatasi. Saya banyak bertanya pada seniorku yang menghadapi dilema seperti saya, apa yang harus dilakukan, kapan menambah susu formula (sufor) selain asi….sungguh sayang asi saya lancar, sehingga si sulung saat itu tak rewel sama sekali. Seniorku mengatakan, agar bayi diberi asi terus, jangan dicampur, hanya dua hari sebelum masuk kerja, baru diberikan latihan untuk minum susu formula. Saat itu, masuk kerja, berarti juga pemberian asi terputus saat siang hari, karena saya tak punya garis belakang yang mengantarkan asi ke kantor, di samping itu kantor masih sederhana dan tak ada lemari es di ruangan tempat saya bekerja untuk menyimpan botol asi.
Saya menjalankan saran seniorku, membeli botol susu 15 buah, kawatir jika bibi kurang bersih. Botol susu setelah dibersihkan, saya rebus dalam panci yang khusus untuk merebus botol susu, nanti dikeringkan, ditutup serbet bersih, jadi bayi diberi minum susu dari botol yang telah dipanaskan dengan air mendidih. Saat itu, Jakarta belum semacet saat ini, rumah kontrakanku di daerah Rawamangun, hanya sekitar setengah jam sampai kantor. Saya dan para senior yang tinggal di daerah Rawamangun, Pondok Bambu, Klender, iuran untuk langganan jemputan. Jadi pagi hari saya memandikan si sulung jam 5 pagi, kemudian sebelum dijemput, saya masih sempat memberikan asi, sehingga si sulung sudah kenyang saat ditinggal. Dan saya beruntung mendapatkan bos yang baik hati, yang membolehkan saya pulang cepat, dengan catatan, pekerjaan harus selesai jam 8 pagi di meja beliau.
Begitulah hari-hariku, di rumah hanya ada adik suami yang masih sekolah di SLA, sehingga saya tak berharap banyak, agar aman, saya mempunyai dua orang garis belakang, bibi yang khusus momong anak dan pembantu laki-laki yang bertugas membereskan rumah. Memasak gantian, saya atau adik suami, karena bibi benar-benar khusus hanya momong, dan nantinya memasak makanan bayi saat bayi telah waktunya memperoleh makanan tambahan. Saat itu juga belum musim menggunakan baby sitter dan biaya baby sitter bisa mencekik leher karena saya baru mulai bekerja dengan gaji yang sangat kecil.
Begitulah hari-hariku, sepulang kantor segera mandi, kemudian memegang si sulung sampai waktu dia tidur, jadi bibi hanya berperan momong saat saya bekerja. Botol susu yang telah dipakai dan dicuci, saya rebus dalam air mendidih, untuk persiapan malam harinya. Jika malam hari, si sulung sudah tidur, selesai mengobrol dengan suami, saya mengeluarkan mesin ketik tua dan mulai mengerjakan tugas dari kantor….jika lelah sekali atau si sulung rewel, tulisan salah melulu, padahal jika salah dan di tipp ex lebih dari tiga kata dalam satu lembar tulisan, maka semua tulisan harus diulang lagi. Ketak..ketik..tok..tok…suara yang selalu menemaniku malam hari sepanjang anak-anak kecil. Saya bersyukur si sulung tak rewel, dan mau minum asi sampai usianya 2 (dua) tahun….. saya kemudian baru tahu, saat si sulung tak mau lagi minum asi, ternyata saya hamil anak kedua. Pagi hari, saya kembali merebus botol susu yang sudah dicuci bersih, untuk persiapan bibi membuat susu untuk anak, siang harinya.
Jika saat hamil si sulung, saya masih tinggal di rumah kontrakan, saat hamil si bungsu (anak kedua), saya telah mendapatkan jatah rumah dinas di daerah Jakarta Selatan. Saya makin pengalaman, walau masa-masa sulit kadang terjadi, saat pembantu ingin pulang mendadak padahal saya sedang sibuk di kantor sehingga tak boleh cuti. Anak kecil sering rewel jika ditinggal pemomongnya, dan tidak mudah kenal orang baru. Jika sudah pulang ke rumah, kedua anak saya momong sendiri, saat sudah bisa diajak mengobrol, saya mendongeng setiap malam. Dengan demikian, peran ibu tetap penting dan bisa dekat anak-anak terus, walau rata-rata jam tidurku hanya sekitar 2-3 jam sampai anak umur 5 tahun, kecuali saat hari libur akhir pekan atau tanggal merah. Namun saya masih bersyukur, suami selalu menolong, dia tak segan menggendong anak ke dokter atau membantu momong jika saya sibuk.
Yang perlu diperhatikan lagi, anak dipersiapkan untuk melihat ibu bekerja. Sejak awal, si sulung memberikan lambaian tangan jika ibu mau berangkat ke kantor, jadi tidak rewel. Dia akan senang sekali saat ibu datang, bahkan sudah hafal suara jemputan. Begitu mobil jemputan datang, si sulung (yang kemudian diikuti adiknya, berlarian ke halaman sambil bernyanyi…”ibu datang…ibu datang…ibu datang”. Rasanya lelah di kantor dan capek di jalan hilang semua….rasa bangga dan bersyukur membuncah di dada, saya memeluk kedua anakku yang masih kecil itu.

Dan biasanya anak yang ibunya juga bekerja lebih cepat mandiri ya bu?
Saya sudah terbiasa mengerjakan segalanya sendiri, tapi khusus di saat anak sakit, saya amat ingin mempunyai baby sitter/astisten rt.
EM
Betul Imelda..dan anak akan bangga pada orangtuanya, karena kita merasa kurang waktu, maka biasanya kita memberikan perhatian pada waktu yang ada, dengan efisien.
Membaca bersama, diskusi, mendongeng, merupakan kegiatan yang mengasyikkan.
Dan saya tak tahu, kok saya dulu kuat ya…mungkin Tuhan memberi kekuatan pada kita, para ibu..herannya pusing, lelah, lemas saat di kantor hilang begitu ketemu anak. Paling sedih jika anak sakit, tapi tetap pergi ke kantor karena tak mungkin cuti…semakin tinggi tanggung jawab juga membuat kita harus memberi banyak back up tenaga kerja di rumah, agar anak tak kesepian. Si mbak berperan sebagai pengganti saat orangtua di kantor, dia juga ikut menemani piknik, ke bioskop….tentu bersama ortu anak jika pas week end. Ini bentuk penghargaan saya pada si mbak, sehingga mereka merasa seperti di rumah sendiri.
Saya tak membayangkan, bagaimana rasanya membesarkan anak di negara orang….jika di Indonesia, walau mandiri, tanpa orangtua, masih ada tenaga kerja yang membantu.
Oleh: Imelda on Mei 29, 2011
at 7:45 am
Jadi terkenang saat masih kerja dulu, kehebohan dan keruwetannya.
Harus dibaca para ibu bekerja nih, nice posting
Thanks Yuli…..memang pusing tapi menyenangkan, dan ternyata bisa kok me manage semuanya engan waktu terbatas, dan anak-anak tetap dekat dengan orangtuanya.
Postingan ini memang saya dedikasikan pada keluarga muda, anak menantuku, keponakanku, teman anakku, juga teman-teman blogger yang banyak mengirim email agar saya banyak cerita tentang memanage waktu sebagai ibu bekerja.
Oleh: IndahJuli on Mei 29, 2011
at 8:00 am
ny termasuk yang “gak lulus’ dalam hal menguatkan hati untuk bekerja dan meninggalkan anak2 di rumah nih bunda…hehehe…jadinya diem aja di rumah njagain anak2…
Mbak, saya memaksa diri untuk kuat, karena ingat, betapa susahnya ayah ibu yang hidup pas-pas dan berhemat agar saya bisa lulus S1. Dan rasanya untuk lulus S1 kok susah sekali ya, penelitiannya berat….benar-benar dilapangan, dan bertempur melawan cuaca yang sulit diprediksi, bergulat dengan lumpur, tetap harus mengukur walau ada ular melingkar di batang pohon yang akan diukur..inilah yang membuatku berpikir: “kenapa harus berhenti? dan orang lain bisa, bahkan anak-anaknya tetap menjadi anak yang berprestasi.”
Taruhannya memang berat, capek sekali, kurang tidur, agar semua senang, suami maupun anak-anak happy…..hasilnya betul2 menakjubkan, kalau ingat sekarang, kok saya dulu tegar ya menghadapi semuanya.
Oleh: rhainy on Mei 29, 2011
at 10:29 am
wah, cerita yang kaya. saya adalah anak dari ortu yg bekerja. dulu saya pengen ibu saya tidak bekerja. tapi lama2 ya terbiasa jg tidak ada ibu di rumah. memang sih di rumah saya dulu masih banyak saudara, jadi ibu mungkin tidak khawatir meninggalkan saya di rumah. dulu saya ada yg momong. tapi waktu yg momong saya meninggal, saya jadi kehilangan sekali.
Iya Kris, perasaan bersalah awalnya pasti ada, juga perasaan berat di hati…
Tapi kita juga mesti pakai logika, bekerja untuk apa, bukankah juga demi masa depan anak-anak dan keluarga juga. Mengapa tak kerja di rumah?…pasti ada yang bertanya begitu. Jawabannya, tak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah….di satu sisi saya percaya, ibu yang bahagia, juga akan membuat keluarganya bahagia.
Oleh: krismariana on Mei 29, 2011
at 11:56 am
Aku juga punya pengalaman kurang lebih sama, aku bekerja. Berat memang awal-awalnya saat2 pertama meninggalkan anakku yang masih sangat kecil dengan pengasuhan orang lain. Tapi mau tidak mau. Aku pasrah saja, Aku serahkan sama Tuhan, saat aku bekerja, aku yakin Tuhan menjaga anak-anakku. Dengan begitu hatiku sedikit ringan dan bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Aku sungguh tidak setuju ada yang bilang Ibu bekerja Ibu yang egois kasihan anak-anaknya kurang kasih sayang, dan lain-lain, banyak juga Ibu-ibu yang tidak bekerja tidak bisa mendidik anaknya dengan baik dan memberikan kasih sayang sepenuhnya. Semua ada kekurangan dan kelebihannya. Aku selalu memberi pengertian pada mereka kalau aku bekerja bukan bersenang-senang, anakku mengerti. Saat-saat pulang ke rumah itulah saat yang membahagiakan bertemu dengan anak-anakku lagi, disaat tubuh lelah melihat mereka menyambutku dengan antusias hilang semua lelah itu
Saya sepakat….dan kalau kita bekerja baik, kita percaya Allah swt menjaga anak-anak kita. Dan setelah anak memahami, anak-anak diajak ke kantor untuk melihat bagaimana ibu bekerja. Kebetulan saya tinggal di kompleks rumah dinas, jadi anak-anak lebih mudah memahami.
Oleh: Misfah on Mei 29, 2011
at 4:47 pm
Istriku sudah hamil mau 5 bulan. Untung dia kerja di rumah.
Tapi jika kelak harus bekerja di luar rumah, moga buah hati titap terawat penuh kasih
Makasih bu artikelnya
Sama-sama
Oleh: achoey el haris on Mei 29, 2011
at 7:24 pm
bacaan yang menarik bagi bujangan seperti saya
Hm….makasih
Oleh: Kurnia Septa on Mei 29, 2011
at 8:12 pm
Memang serba salah kalau ibu bekerja apalagi pada saat anak-anak kecil. Kalau dekat dengan nenek atau kakeknya masih mendingan, sedangkan kalau ada baby sitter, ya terkadang masih harus disupervisi juga pada awal2nya walaupun referensinya juga bagus. Kita sering khawatir kalau ditinggal apakah nanti si sitter akan terus mengawasi si anak, sebab kalau lengah apalagi sering, bisa berakibat sesuatu yang tidak kita inginkan mulai hal-hal kecil yang remeh temeh seperti memasukkan benda kecil ke mulut, selain benda itu kotor mungkin juga dapat pula menyebabkan tersedak hingga hal-hal lain seperti bermain di dekat benda-benda berbahaya dsb. Yah namanya juga anak kecil jadinya memang harus terus diawasi.
Tapi jangan salah juga, banyak juga ibu2 (dan bapak2) yang “kurang bisa” mengawasi/menjaga/merawat anak2nya sendiri, mulai dari pemberian sufor dengan takaran yang asal2an sampai dengan lengah mengawasi anak2nya sehingga terjadi hal2 yg tidak diinginkan. Banyaknya berita2 di TV tentang anak-anak yang tertimpa musibah yang diakibatkan kelengahan orang tua dalam mengawasi merupakan bukti masih cukup banyak juga orang tua yang “kurang becus” dalam mengawasi/merawat buah2 hatinya, kebanyakan dari mereka karena si ibu sibuk bekerja di dapur/rumah jadinya si anak tidak terawasi. Namun begitu sesibuk apapun bukan alasan yang bagus untuk tidak mengawasi si buah hati. Ya sudah resiko jadi orang tua walau tentu saja takdir juga berperan jikalau berbicara masalah kemalangan.
Memang semua ada risikonya, tapi apapun pilihan yang diambil harus bertanggung jawab.
Oleh: Yari NK on Mei 30, 2011
at 6:27 am
Wah, Ibu ini sosok wanita karier yang juga berhasil sebagai ibu. Saya salut dengan Ibu. Kerjaan bisa diselesaikan, keluarga juga tidak terlantar.
Tinggal menunggu masa bagi saya … dan seorang pendamping, tentu saja. Hwehe.
Banyak kok sosok wanita karir yang baik…saya tak seberapa…
Mudah2an ketemu calon yang memang bisa saling melengkapi dan bisa diajak mengobrol dengan enak…
Oleh: Farijs van Java on Mei 30, 2011
at 8:33 am
Hebat ya bu… terbukti sebagai mana kodrat wanita yang mempunyaii kelebihan untuk melakukan multitasking dalam sebuah pekerjaan
Menurut saya, jika ada kemauan dan tanggung jawab, tidak ada yang terasa berat, karena semua dilakukan dengan senang dan penuh rasa sayang.
Oleh: sibair on Mei 30, 2011
at 10:39 am
adek kecilnya imut sekali..
Hehehe
Oleh: amirul on Mei 30, 2011
at 12:31 pm
Meski lebih beruntung karena Joyce punya hak cuti sampai 2 tahun, tapi besok september, saat dia balik kerja juga jadi waktu yang mendebarkan karena Odi mesti ditinggal, Bu
Postingan ini menguatkan saya hehehe
Saya yakin Joyce mampu Don, apalagi didukung oleh suami seperti Donny
Oleh: DV on Mei 30, 2011
at 12:55 pm
Wah, aku jadi berkaca dan belajar dari tulisan ini, Bu. Bagaimana pun hal-hal seperti ini akan dihadapi oleh setiap orangtua ya. Dengan berbagai ragam versi pekerjaannya. Kelak tetap harus pintar membagi dan menyiasati waktu yang ada. Terima kasih.
Salut, Ibu tetap bisa membagi antara pekerjaan dan urusan rumah tangga. Dan keduanya bisa berjalan sesuai porsinya. Dan melihat kedua anak ibu saat ini, semua bisa berangkat dengan lancar. Meski tentunya bukan tanpa kendala ya, Bu. Salut.
Niel, setiap ibu yang baik, pasti bisa menyiasati waktunya, untuk suami, sebagai ibu dan sebagai wanita karir…entah kenapa, saya yang termasuk ringkih saat remaja dan mahasiswa, bisa melalui semuanya….ini mungkin karena kekuatan hati, untuk orang-orang yang kita sayangi.
Oleh: DM on Mei 30, 2011
at 5:11 pm
pasti susah ya harus ninggalin bayi demi pergi bekerja.. tapi ya kalo kondisinya harus begitu ya mau gak mau ya bu…
saya juga kalo di kantor sampe sekarang aja masih suka terkangen2 ama andrew. hahaha. padahal anaknya udah gede begitu.
jadi suka ngeliat2in foto2nya…
Tapi kadang justru karena anak, kita bisa berkarir dengan baik, karena waktu kerja dibuat efisien sekali agar bisa ketemu anak. Dan karena waktu terbatas, kita juga berusaha membuat agar waktu yang terbatas tsb berkualitas saat bersama anak.
Oleh: arman on Mei 31, 2011
at 3:14 am
Waduh mba…
sayangnya aku tidak setegar mba dan teman teman yang lain…
Ketika Kayla lahir, aku ambil cuti 3 bulan dengan niatan bekerja lagi…
Tapi langsung gak kuat ketika melihat matanya Kayla, sehingga memutuskan untuk resign ditengah tengah cuti melahirkan…hihihi…impulsive memang…
Untungnya sebelum cuti, aku udah punya pegawai temporer yang udah aku didik untuk mengerjakan kerjaan ku…dan udah serah terima pula…jadi gak ada masalah soal kerjaan…
Tapi boss ku sempet rada ngambek dikit…hihihi…
Dan nelfon lagi ketika Kayla umur 2 tahun an…teuteup nawarin kerja lagi…*waktu itu aku janjinya mungkin mau kerja lagi kalo Kayla udah agak gede*
Tapi waktu itu udah planning untuk hamil anak ke 2…hihihi…
Ya sudahlah aku pasrah sajah….jadi emak emak yang nonkrong di rumah
Erie, jangan kuatir, dirumah pun banyak manfaatnya kan….
dan jika mau, setelah mereka bisa ditinggal dan mandiri, kerja bisa dipikirkan lagi. Pekerjaan kan tidak harus keluar rumah….
Oleh: Bibi Titi Teliti on Mei 31, 2011
at 9:45 am
Aku udah pernah merasakan itu, bu. Kayaknya sedih banget ninggalin bayi dirumah, meskipun ada mamaku dirumah.
Tapi setelah anakku bisa diajak bicara dan ngerti, lama-lama kebal sendiri.
Tahu deh, kalau punya bayi lagi.. hehehe…
Puak,
Rasa sedih itu ada….namun saya melihat banyak anak-anak yang justru lebih cepat mandiri karena ditinggal orangtuanya kerja.
Asal kita bisa menyiasati, dan meluangkan waktu setiap menitnya jika ada di rumah.
Oleh: Puak Cullen on Mei 31, 2011
at 11:13 am
kalau kami sih, sedari sekarang anak udah dipersiapkan untuk yg seperti itu Bu.. ketika aldi dan istri berangkat hanya berdua pun, kadang anak senyum2 sambil dadah2.. hehehe walo kadang juga merengek minta ikut
Kalau anak dipersiapakn sejak dini, mereka juga akan tenang saja…dan mereka dadah saat ortu berangkat kerja dan menyambutnya dengan pelukan (bukan tangisan) saat orangtua pulang.
Oleh: aldi on Mei 31, 2011
at 9:15 pm
wah mbak tulisannya bs bwt gambaranku seandainya babyku nanti dah lahir. makasih ya sharingnya. cucunya cubie mbak pipinya
met kenal yach..
Makasih…semoga berhasil
Oleh: nita on Juni 3, 2011
at 12:56 pm
Ibu yang punya putra balita dan harus bekerja memang wanita yang kuat ya Mbak. Juga pasti harus disiplin dengan waktu, dan bisa bekerja secara cepat dan efisien. Saya setuju dengan Mbak Imel, bahwa anak-anak dari seorang ibu yang bekerja lebih cepat mandiri, tentu saja kalau dia diasuh secara benar. Tapi kalau diasuh oleh nenek, seringkali malah jadi manja, karena nenek memang cenderung memanjakan cucu.
Semoga Ara bisa tumbuh menjadi anak yang pintar dan mandiri seperti ayahnya (si sulung) dan juga tantenya (si bungsu). Ohya, apa kabar Narpen? Semoga studinya lancar ya … Salam buat si cantik ini
Sebelum punya anak saya juga deg2an mbak Tuti, mampukan jadi isteri, ibu dan wanita karir? Alhamdulillah, walau mungkin mletat mletot..akhirnya lewat juga.
Narpen masih di Toyohasi, nyaris dua kali saya telepon ke sana (kalau dari Jepang, teleponnya lebih mahal). Kapan mbak Tuti ke Jakarta lagi?
Oleh: tutinonka on Juni 15, 2011
at 9:56 am
Ibu terima kasih untuk ceritanya. InsyaAllah berguna sekali untuk fety
gimana kabarnya, bu? semoga senantiasa sehat.
Alahmdulilah…sehat-sehat aja..memang mesti hati-hati, usia tak muda memang mudah capek. Fety sendiri sehat-sehat aja kan?
Oleh: fety on Juni 15, 2011
at 1:45 pm
Gak kebayang repotnya bunda waktu itu
*berkaca2* masih dilema bun untuk memiliki momongan atau tidak.. takut macem2 hehehe
Repot tapi menyenangkan…
Aduhh Eka..jangan takut, tak seberat yang dibayangkan..karena ada rasa sayang, bahagia….dan inilah yang memberikan kekuatan.
Dan capek pulang kerja langsung hilang, melihat si kecil.….
Oleh: Ceritaeka on Juni 23, 2011
at 3:35 pm
Jadi inget dulu pas lahiran anak pertama, udah bertekad tetap akan bekerja. Sambil googling pengalaman ibu2 lain yang tetep ingin bekerja setelah anak lahir, lucunya malah setelah membaca2 semua referensi yg tujuan awalnya menguatkan hati, kog malah hati cenderung untuk resign hehehehe… saat anak pertama umur 7 bulan, gag ragu2 untuk brenti kerja. Tapi saya tetap mengagumi orang2 yang memilih untuk bekerja
. Dan berharap nanti bisa mendidik anak2 seperti ibu Enny
. Pengennya setelah mereka dewasa, peran utama kita yg tadinya sebagai pelindung dan pengasuh bisa berubah jadi temen curhat
Jihan,
Semoga sukses ya….kasih sayang ibu dan kedisiplinan sangat mempengaruhi dalam menyiapakan pendidikan untuk buah hati kita.
Oleh: Jihan on Juni 29, 2011
at 4:58 pm
ibu enny, perjuangan yang luar biasa, dan saya baru merintisnya, sekarang. jarak anak kita sama2 sedikit, jika tidak ada asisten akan terasa sekali pontang pantingnya. tapi bu, seperti ibu saya juga masih berat untuk resign, jadi gantinya adalah terus menguatkan hati. terimakasih sharingnya bu
Oleh: Puteriamirillis on September 28, 2011
at 10:22 am
very nice story…
saya saat ini seorang ibu rumah tangga yang hanya tgal dirumah setelah memutuskan untuk resign saat hamil 2bulan. sebelum melahirkan, saya memang berniat untuk kembali bekerja. tapi ada kejadian yang juga membuat saya berubah fikiran untuk menunda kembali keinginan itu. Anak saya terlahir prematur di usia kandungan 7bln. ia terlahir dengan BB 1,5kg saja dan harus di NICU (inkubator) selama +- 30 hari.dengan kondisi seperti itu, saya sungguh tidak tega meninggalkannya. hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, dia tumbuh menjadi anak yang menggemaskan (walau kadang bikin kesel) dia sehat dan cerdas (menurut kami). saat ini usianya sudah 3 tahun. waktu umur 2tahunan, saya sempat meninggalkan dia bekerja. tapi kondisi badannya DROP..dia kurus dan ga mau makan.akhirnya saya hanya bekerja sampai 2bulan saja dan resign(lagi). sekarang, kalo ditanya “boleh ya bunda kerja lagi?” dia selalu bilang “ga boleh/ ga mau”…aduuh…rasanya beraaat sekali Bu…padahal kalau dirumah saja sayang juga dengan gelar S1 saya..mohon pencerahan ya bu…:)
Oleh: bundaaira on Oktober 25, 2011
at 8:33 pm
Terimakasih artikelnya ya..
ibu bekerja harus baca artikel ini
supaya tepat
Oleh: Zahra Baby Shop on Februari 14, 2012
at 3:34 pm