Oleh: edratna | Juli 10, 2011

Berkunjung ke Balikpapan-Samarinda yang kedua, apa saja yang sempat saya lihat?

Ini kali kedua saya mengunjungi Samarinda. Penerbangan siang itu berjalan mulus, GA 518 mendarat di Bandara Sepinggan sekitar jam 5 sore waktu Indonesia Tengah, kami bertiga (saya, bu Gayatri dan putrinya) segera meluncur menuju Samarinda. Minggu malam itu jalan arah ke Samarinda padat merayap, mengutip bahasa radio, untuk tidak mengatakan macet. Benar kata teman dari BPD Kaltim, jika Minggu sore banyak yang kembali ke Samarinda, sedang arah sebaliknya saya lihat tak seramai arah ke Samarinda. Melewati hutan Bukit Suharto, jalan semakin meliuk-liuk, di kiri kanan nya hutan terlihat lebih lebat dibanding jika dilihat pada siang hari. Jarak Balikpapan- Samarinda yang rata-rata ditempuh 2,5 jam menjadi molor, sampai Swis Bel Hotel Borneo, Samarinda jam 21.30 wita. Setelah beres-beres, saya sms panitia di BPD Kaltim untuk janjian, jam berapa akan menjemput ke hotel besok pagi, serta acara dibuka jam berapa.

Hari pertama, saya mengajar pada sesi kelima (jam satu wita) sampai jam 17.00 wita, saya tanya pada pak sopir, apakah ada pertokoan yang menjual pernik-pernik untuk beli oleh-oleh yang masih buka. Kata pak sopir, kompleks Citra Niaga masih buka sampai jam 19.00 wita, jadi kami mampir ke kompleks Citra Niaga dulu, pak sopir berbaik hati menemani belanja dan ikut membantu menawar, maklum saya tak pandai menawar….di Jakarta saja kalau belanja memilih harga pas, gara-gara tak pandai menawar ini. Saya berpikir, ini kesempatan saya belanja, karena besoknya sudah ada janji sama Akin, sedang hari ketiga, setelah mengajar langsung berencana pulang ke Balikpapan, agar saat mau kembali pulang ke Jakarta tak terburu-buru. Tahun lalu, kami berangkat pulang ke Jakarta, pada pagi hari dari Samarinda, ternyata di jalan padat sehingga mobil tak bisa berjalan cepat, akibatnya di Balikpapan hanya sempat mampir di Pasar Kebun Sayur setengah jam, langsung ke bandara. Jadi, kali ini kami memutuskan langsung ke Balikpapan malam hari seusai acara, agar besoknya masih bisa santai, kalau sempat masih bisa melihat-lihat kota Balikpapan, karena penerbangan pulang ke Jakarta jam 15.30 wita dari bandara Sepinggan.

Hari kedua, selesai mengajar sudah menjelang Magrib, jadi saya langsung ke hotel, langsung mandi, agar saat Akin tiba di hotel saya sudah siap.  Nyaris setiap pagi hari, selesai makan pagi, dan menunggu dijemput pak sopir,  kami mengambil foto di lobby hotel ini, saat ditanya putrinya, temanku dengan enteng menjawab, kan bajunya berbeda…kemarin pake blazer, sekarang pakai baju hijau…biar fotonya banyak.

Makan pagi di Swiss Bel Hotel Borneo, Samarinda

Rupanya ada ibu-ibu yang memperhatikan kami bertiga asyik berfoto ria, beliau menawarkan diri untuk memotret kami….. beliau ternyata “Beauty Consultant” dari PT Martina Berto yang saat ini sedang bertugas di Samarinda, menjadi pembicara pada acara seminar di Universitas Mulawarman. Kami saling bertukar kartu nama, serta janji untuk ketemu lagi di Jakarta. Hari ketiga acara padat, namun acara hari ketiga ini  lebih menyenangkan, interaksi antara para peserta, maupun antara pengajar dan peserta makin intens, sehingga diskusi lebih ramai. Bahkan menjelang penutupan, diskusi makin seru, apa boleh buat waktu jua yang membatasi. Jam 17.30 wita acara in house training selesai, kami langsung diantar sopir pulang ke Balikpapan, di jalan sempat membeli amplang untuk oleh-oleh. Kami bertanya pada pak sopir apa sarannya, makan dulu di Samarinda, atau di pertengahan jalan, karena sampai Balikpapan diperkirakan sudah lewat waktu makan malam. Pak sopir menyarankan agar berhenti di km.50, dan makan di Rumah Makan Tahu Sumedang.

Kami berhenti di RM Tahu Sumedang, masing-masing pesan ayam goreng serta lalapan, serta tambahan ikan untuk rame-rame. RM Makan Tahu Sumedang ini terlihat ramai, saat berangkat ke Samarinda pada Minggu malam sempat membikin jalanan tersendat, rupanya rumah makan ini memang terketak di tengah-tengah jalur antara jalan yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda. Entah bagaimana nasibnya nanti setelah jalan Tol  antara Balikpapan-Samarinda selesai, apakah seperti halnya rumah makan di jalur Purwakarta-Padalarang dan jalur Puncak, setelah adanya jalan Tol Cipularang,  tidak hanya berimbas pada rumah makan, namun juga hotel. Kami makan dengan tenang, makanannya “miroso” (enak), kata teman saya, dan senang melihat putrinya makan dengan lahap.

Kami sempat tersesat mencari Novotel Hotel di Balikpapan, di pinggir jalan banyak anak muda nongkrong di atas sadel sepeda motor, saya tak jelas daerahnya dimana, kelihatannya daerah yang sepi dan lampunya tak terlalu terang. Setelah berputar kembali, akhirnya ketemu hotel Novotel, di kamar saya lihat jam menunjukkan pukul 22.00 wita. Saya langsung beres-beres koper, mandi dan merebahkan badan. Teman saya masih asyik diskusi dengan putrinya sambil melihat acara Tukul, tak lama kemudian saya terlelap, terbangun karena bunyi alarm. Makan pagi di Novotel lebih banyak pilihannya, tamunya juga banyak, wajar karena Balikpapan kota minyak, banyak para ekspatriat terlihat asyik memilih makanan. Menu makan saya standar, apalagi untuk pagi hari…yang jelas mesti minum susu agar badan tetap segar sepanjang hari.

Pantai Melawai, Balikpapan

Setelah check out dari hotel, kami menyusuri jalanan di kota Balikpapan, keliling di kompleks perumahan Pertamina yang berada di atas bukit agar bisa melihat kota Balikpapan di bawahnya serta latar belakang laut di kejauhan. Kami sempat saling memotret di wilayah ini untuk kenang-kenangan, kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri pelabuhan Semayang,  berhenti sebentar di pantai Melawai dan memotret, pulau Tukung terlihat di kejauhan. Kami diskusi dengan pak sopir, kira-kira bisa kemana saja sambil menunggu waktu untuk ke bandara. Kebetulan, urusan check in sudah dibantu oleh teman, sehingga agak tenang,  saya agak trauma dengan antrean check in di terminal 2 bandara Soetta tempo hari.

Pak sopir menyarankan ke Kebun Sayur, pasar tempat dijual produk khas Kaltim…dulunya saya kira memang ada kebun sayur nya, ternyata merupakan pasar Inpres, dimana para pengusaha kecil (UKM) menjual produk-produk hasil Kaltim. Kami turun di pasar Kebun Sayur, teman saya asyik memilih gelang dan kalung pesanan temannya, saya memutar mencari kaos dan blouse serta hem batik khas Kaltim. “Berapa bu, harga hem batik ini?”, tanya saya. “Harganya Rp.200.000,- bu, ” jawab penjual. Rasanya setahun lalu saya beli hem batik katun lengan pendek hanya Rp.50.000,- apa sudah naik sebegitu mahalnya.

Bersama pemilik toko "Diana", di Pasar Inpres Kebun Sayur, Balikpapan

Karena susah ditawar, saya berjalan kembali ke arah pedagang yang lain, harganya masih tinggi, akhirnya ketemu Toko “Diana”, toko dimana saya beli kain batik, sarung, blouse setahun yang lalu…harganya masih sama pula. Bahkan karena beli banyak, mendapat diskon yang lumayan, beliau malah senang saat saya memotretnya, dan pesan agar kembali ke sini jika ada tugas ke Balikpapan lagi. Saya juga membeli gelang, kalung, hiasan jilbab…..sambil berpikir siapa teman-teman saya yang menyukai pernak-pernik seperti ini. Setelah melihat catatan, terutama oleh-oleh untuk si mbak dan sopir yang telah belasan tahun ikut keluarga kami, oleh-oleh untuk anak buah, saya selesai belanja. Teman saya pun telah selesai memilih barang belanjaan, jadi kami melanjutkan perjalanan ke penangkaran buaya.

Perjalanan ke arah penangkaran buaya cukup panjang, saya lihat teman saya dan putrinya sempat tertidur, saya sendiri sulit tidur di perjalanan, jadi hanya mengamati pemandangan di kiri kanan jalan. Ternyata lokasi penangkaran buaya melewati bandara Sepinggan, saya melihat Hotel Santika terletak persis di sebelah kanan bandara Sepinggan, kata pak sopir, orang-orang dari Samarinda yang mau berangkat pagi-pagi ke Jakarta banyak memilih hotel Santika, dan hotel ini nyaris selalu penuh. Dari hotel Santika ada lorong yang menghubungkan dengan terminal “Lion Air” di bandara Sepinggan, kata pak sopir menjelaskan.

Papan petunjuk jalan masuk ke penangkaran buaya

Tak lama kemudian terlihat papan petunjuk arah ke penangkaran buaya, persis setelah mobil masuk ke jalan lebih kecil, ada dua patung kepala buaya. Bau anyir mulai menyengat begitu masuk ke lokasi penangkaran buaya, masing-masing orang dikenai biaya Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah).

Ridha di depan papan peringatan

Kami memasuki lorong, dimana-mana ada papan petunjuk dan peringatan agar berhati-hati. Agak ngeri juga, namun untuk  bisa memotret buaya, tangan harus agak masuk diatas pagar…serem juga kalau tahu-tahu buayanya bangun dan langsung menyerang…paling-paling risikonya kamera yang dilepaskan.

Patung buaya di jalan masuk arah penangkaran buaya

Di penangkaran milik CV Surya Jaya ini, terdapat +/- 1400 ekor buaya. Dari hasil obrolan dengan penjaga, makanan buaya diberikan seminggu tiga kali, berupa: daging, ikan, ayam. Hasil produksi buaya yang dijual, antara lain: tangkur buaya (yang diambil dari alat vital buaya) yang konon membuat lebih kuat, minyak (untuk luka bakar), empedu (untuk asma), dan telur. Paling banyak diminati adalah minyak ramuan tangkur buaya, yang berasal dari tangkur buaya dengan diberi rempah-rempah. Induk buaya berasal dari buaya berumur 3 tahun, berasal dari alam.

Ramuan dari tangkur buaya, untuk obat kuat

Buaya ini berumur panjang, saat umurnya 30 tahun dikembalikan ke habitatnya. Penangkaran ini dimaksudkan untuk melestarikan buaya, selain juga menghasilkan berbagai macam produk yang bisa dijual. Kegiatan ini dimonitor sepenuhnya oleh Departemen Kehutanan, setiap triwulan diharuskan memberikan laporan kepada Ditjen Sumber Daya Alam, Kehutanan. Setiap ada pemotongan buaya, harus mendapat ijin terlebih dahulu, kemudian harus juga mendapatkan  ijin angkut. Setelah puas melihat-lihat penangkaran buaya di Balikpapan ini, kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke bandara Sepinggan.

Kami mampir dulu ke Rumah Makan Padang untuk makan siang, karena waktu tak memungkinkan lagi untuk berburu makanan khas di Balikpapan.  Makan siang ini, dimaksudkan agar pak sopir bisa ikut makan, karena kami bertiga sebetulnya bisa makan di “Blue Sky Lounge”. Makanan di restoran Padang ini enak, putri temanku makan dengan lahap……setelah itu kami pergi ke bandara. Di Bandara telah menunggu staf dari perusahaan yang akan membantu check in, kami bertiga langsung memasuki “Blue Sky Lounge“, sebelumnya mengucapkan terimakasih pada pak sopir yang telah mengantar kami melihat-lihat kota Balikpapan, dan berpesan jika pak sopir ke Jakarta jangan lupa mampir ke rumah. Kami bergantian sholat, agar nanti tenang dalam perjalanan. Tak lama kemudian ada wanita cantik yang duduk di kursi bersebelahan dengan kami, yang langsung terlibat obrolan menyenangkan tentang perkembangan Kaltim saat ini. Ibu cantik ini dalam perjalanan ke Jakarta, dengan pesawat yang sama, beliau bekerja di Pemda propinsi Kaltim. Kami lebih banyak mendengar lagi tentang upaya pemerintah Daerah Kaltim untuk memajukan daerahnya. Sayang kami tak bisa mengobrol lama karena ada panggilan, bahwa penumpang Garuda nomor tertentu agar segera memasuki ruang tunggu. Kami berpisah, tanpa menanyakan nama dan alamat masing-masing.

Ada hal yang saya perhatikan selama kunjungan singkat ke Balikpapan dan Samarinda ini. Makin banyak kaum perempuan mandiri, bepergian sendiri untuk tugas,  kali ini saya bertemu dan terlibat obrolan menyenangkan dengan 2 (dua) orang ibu yang usianya sudah matang. Mereka asyik dengan kesibukan, membagi ilmunya, ibu Anna dari Martina Berto memberikan ceramah tentang produk yang ramah lingkungan, juga ibu pejabat dari Pemda provinsi Kaltim yang sayang sekali lupa tak ditanyakan namanya….betapa menyenangkan ketemu dengan orang-orang dari berbagai bidang, bisa diskusi walau sebentar, untuk membagikan ilmunya. Sungguh, kadang banyak hal yang harus saya syukuri, dalam setiap perjalanan, selalu menemukan hal-hal yang menarik untuk dicatat.

About these ads

Responses

  1. Senang ya ibu, seperti kata ibu melihat wanita mapan yang bepergian sendiri. Fenomena yang mungkin dulu belum terlihat. Menunjukkan bahwa wanita karir bertambah banyak.

    Saya tersenyum baca RM tahu sumedang…. sampai di sana kok makannya tahu sumedang :D

    Membaca jadwal ibu yang cukup padat, saya rasanya ikut capek deh. Semoga ibu sudah bisa beristirahat setelah melakukan perjalanan lalu.

    EM

    Iya, capek..tapi hati senaang…apalagi sambutan dari peserta meriah, mereka aktif bertanya, sampai detik terakhir mau di tutup…rasanya puas.
    Saya juga senang melihat makin banyak wanita mandiri…..
    RM Tahu Sumedang emang hanya pilihan satu-satunya, letaknya km 50 (jarak Samarinda-Balikpapan sekitar 115 km)…kalau mau menunggu sampai Balikpapan sudah jam 10 lewat, dari Samarinda masih sore…hehehe.Jadi ya ayam lagi..tahu lagi..hahaha…tapi enak kok, bahasa Jawa nya “miroso”

  2. Wah, cukup banyak juga yg bisa ibu lihat dalam waktu yg relatif singkat itu ya bu…dan terima kasih karena telah membaginya disini…serasa ikut jalan2 dengan ibu deh…hehe… Oya, kalau batik kaltim ciri khasnya seperti apa bu?`

    Hehehe…ini namanya aji mumpung…soalnya mumpung di sana….sekalian jalan-jalan, masuk hotel sudah malam, besok bangun pagi-pagi, setelah makan, acara..pulang acara jalan-jalan lagi..masuk kamar malam, begitu seterusnya.
    Capeknya terasa sekarang..tapi lumayan enak setelah dipijat.

  3. wah… mampir di RM tahu Sumedang ya…
    Saya paling suka makan comro-nya, Bu. Soalnya (sepertinya) di Kaltim cuma ada di Tahu Sumedang itu :D
    Ternyata masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di waktu yang sesempit itu ya, Bu.

    Comro….? Omcom di jero?
    Kemarin cuma sempat makan ayam goreng, ikan goreng, lalapan dan sayur asem….itupun sudah kenyang sekali.
    Tapi soal Comro, di catat, siapa tahu ke Samarinda, bisa mampir lagi.

  4. wah baca amplang jadi kepengen jg makan makanan khas itu :)
    saya blum pernah ke kalimantan, kayaknya pulau2 di sana asyik juga ya bu.
    ternyata benar juga obat kuat dari buaya diperjual belikan, kirain hanya cerita-cerita ngasal aja :D

    Pulau Kalimantan menarik Arul…saya juga belum semuanya, baru Banjarmasin, Martapura, Pontianak, Balikpapan dan Samarinda.
    Konon katanya, tangkur buaya ini laris….

  5. Ibu lebih beruntung karena pernah ke Samarinda, sementara saya yang tinggal satu pulau yakni di Banjarmasin belum pernah ke Samarinda. Sementara, kota-kota di Jawa dan sebagian kecil Sumatera telah saya kunjungi….terasa ironi, kan….

    Dari Banjarmasin ke Samarinda harus naik pesawat ya..kalau naik mobil lama sekali….
    Iya, pulau Kalimantan luas sekali, dan kemana-mana masih harus melalui udara atau sungai….

  6. Saya seumur-umur ke Kalimantan baru sekali ke Banjarmasin njaggong teman manten waktu itu…

    Pengen ke Balikpapan dan kota2 lainnya, Bu.

    Saya agak geli dengan obat tangkur buaya itu… saya kok ngga percaya ya bahwa itu adalah obat kuat related to sex activity. Saya lebih percaya bahwa produsen tangkur buaya itu merusak keseimbangan alam dengan membunuh buaya…

    Mengenaskan :)

    Don…berkeliling Indonesia menyenangkan sekali, budaya nya berbeda-beda….satu yang sama, orangnya sama-sama ramah.
    Sayang, saya kalau wisata sekaligus ada tugas, jadi sebetulnya tak puas..kecuali mau tambah sendiri waktunya….namun biasanya, selesai tugas sudah kangen rumah…

  7. seneng juga ya bu kalo pas lagi jalan2 trus jadi ketemu kenalan baru… :)

    bu, mana foto buayanya nih? hehehe

    Arman,
    Foto buayanya lihat di fesbok aja ya…nggak diupload semua, entah kok saya geli ya….

  8. wahh…senangnya, rame pasti ya? hehe

    Maksudnya rame, apa?

  9. Jangankan ke Samarinda atau ke kota lain di Kalimantan, ke luar Pulau Jawa saja belum pernah. Hiks, kapan ya?

    Mudah2an suatu ketika bisa sampai ke kota-kota tersebut.

  10. hihihi … maap bu, ga bisa nahan geli … Ibu perhatian sekali ya, setiap makan yang diperhatikan selera makan anaknya teman Ibu terus …. atau memang putrinya itu susah makan? Tapi ibu juga ikut lahap kan menikmati hidangan yang ada? :D

    RM. tahu sumedang itu jauh amat ya dari Sumedang ke Samarinda :D Pemiliknya orang samarinda atau bener dari Sumedang ya Bu? Soalnya kemarin ke Pasir Mukti, pemiliknya itu orang Minahasa, sehingga suasana rumah di sana dibuat berbau Minahasa. Jauh aja kan dari Sulut ke Jabar? :D Emang deh, semakin berwarna saja.

    Saya ngiri abis niy sama Ibu, kerja sambil jalan2, walau waktunya sempit tapi ‘kan tetap aja bisa menyempatkan waktu. Ahhh … emang deh Indonesia ga ada habisnya klo di-explore, pantes aja suami bilang, ga usah deh mikirin jalan2 ke LN, dalam negeri aja ga kelar2 hehehe

    Tentang perempuan mandiri, saya juga salut kok bu, dan memang sebaiknya begitu ‘kan :) Semakin berkualitas perempuan Indonesia, semoga semakin berkualitas pula generasi penerus bangsa ini :)

    Hehehe…mungkin terbiasa memperhatikan anak-anak, padahal putri temanku sudah ABG….
    Iya, RM Tahu Sumedang ini ramee puol…..kenapa kok malah RM Tahu Sumedang ya…dan ini satu2nya restoran yang besar diantara jalur jalan Balikpapan-Samarinda…lainnya di warung kecil-kecil jadi agak serem , terutama kan kami jalan malam hari….dan hutannya terlihat gelap….hihihi
    Erry…saya suka nyesel, kenapa kenal blog baru sekarang..padahal dulu kerjaanku keliling Indonesia…sambil tugas, tentunya.

  11. Kapan ya bisa ke Kalimantan? Padahal dulu saat masih SMA pengennya keliling Indonesia.

    Tapi Pantai Melawai kelihatannnya asyik ya Bu? (Jadi ingat Jalan Melawai Jakarta)

    Siapa tahu suatu ketika Uda Zul bisa sampai ke Kalimantan.
    Pantai Melawai ini ada dijalur searah dengan pelabuhan Semayang, jadi di kota…yang lebih bagus katanya pantai Manggar, cuma waktunya smepit jadi tak sempat ke sana.

  12. makasih banyak ya, Bu, telah berbagi pengalaman perjalanan yang asyik seperti itu, meski saya belum ke sana, dengan membaca tulisan ini jadi mengetahui banyak hal tentangnya.

    Sama-sama mas…
    Sejak kecil saya suka membaca cerita perjalanan, bermimpi suatu ketika sampai di sana…
    Dari mimpi itu ada sebagian kecil yang terpenuhi.

  13. banyak kaum perempuan mandiri, bepergian sendiri untuk tugas ini dan itu.. sudah selayaknya mereka dapet acungan jempol :)

    Hmm iya….dan mereka tetap santun, menghargai orang lain.
    Beda sekali dengan tahun 80 an dan 90 an, yang waktu itu belum banyak ketemu perempuan yang tugas ke luar dan sendirian.

  14. Mau komplen duluuuuu…
    Kok jauh jauh kesonoh makannya Tahu Sumedang dan masakan padang sih mba…hihihi…*sebenernya sirik ajah*

    Senengnya bisa kerja sembari jalan jalan ya mba…

    *untung gak dipasang poto buayanya…hihihi…*

    Hehehe…itu mah terpaksa…..karena waktu yang mepet….
    Setahun lalu, tiap malam saya keluyuran cari makanan khas Kaltim…tapi kali ini rasanya kok lelah, lebih suka pesan makanan hotel aja, biar cepat istirahat. Usia yang makin bertambah? Sebetulnya saya mau pasang foto buaya…tapi kok jadi mual ya saat mau upload..ya udah nggak usah aja

  15. huhuhu ….Ibuuuuuuuuuuuuuu
    yang komen itu kan niQue bukan Erry hiks …
    kok yang diingat mamanya Kayla …
    huaaaaaaaaaaaaaaa

    Mosok sih…saya baca berulang-ulang kok nggak “ngeh” juga…
    Jelas tak akan melupakan Nique dong…mosok lupa…..

  16. Pertama kali ke Balikpapan bertahun-tahun yang lalu saya menemukan yang perempuan di pesawat hanya saya dan pramugari :)) kebetulan yang lucu.

    Begini Bu setiap ke RM Tahu Sumedang yang di Kalimantan itu, selalu terlintas:

    Cara mereka menemukan lokasi itu adalah dengan menghitung titik lapar baik dari arah Balikpapan maupun Samarinda.

    Sebab itu yang saya rasakan. Dan pintarnya, mereka langsung beli lahan di kiri kanan jalan raya, jadi dua resto mereka berhadap-hadapan, meski awalnya yang dibangun yg disebelah kiri jalan dari arah Balikpapan lebih dulu.

    Oh ya saya lupa ngasih tahu Ibu, di Balikpapan selain makan kepiting, ada shabu-shabu atau steamboat yang enak. Awalnya di hotel Blue Sky kemudian ada di cafe Dapeen “depannya” Novotel, biasa koki yang di Blue Sky pindah ke sana. ;)

    Kuliner Balikpapan banyak. :D

    Wahh mesti dicatat nih…siapa tahu dapat proyek lagi di Kaltim..
    Tapi masalahnya, Balikpapan hanya untuk transit, karena ibu kota Kaltim adalah Samarinda….jadi proyeknya di Samarinda.
    Saya sendiri karena mengajar dari pagi sampai sore, tak sempat mengeksplore kota Samarinda.

  17. oh ya Bu, kalau di Samarinda bisa dicoba makan siang ditepian sungai Mahakam, nama tempatnya Lipan Hill. Kalau dari arah kota Samarinda setelah jembatan Mahakam 1, belok kanan, jaraknya sekitar 1km, letaknya di sisi kanan jalan.

    Sedangkan kalau ibu dari jalan baru tembusan stadion, pas pertigaan terakhir belok kiri, dari situ sekitar 50m saja, di sebelah kanan jalan.

    Nampaknya asyik ya Bu jalan-jalannya. :)

    Mesti makan siang ya? Soalnya waktu yang ada sering nya malam hari..lha siang kan masih ada pekerjaan, dan biasanya makan di perusahaan yang mengundang.

  18. Kapan2 bu mampir kerumah
    Khan bbelum lihat waterpark Balikpapan
    Salam kenal bu ulasannya menarik

  19. Wah…..asyik bu ceritax, kebetulan minggu depan sy mau ke Balikpapan, sangat membantu infox untuk referensi, dulu pernah kesana thn 1981.
    Kapan2 bu kalo ke Makassar aku siap bantu…hehehehehe. nanti sy baca cerita ibu yg lain, ditunggu next tripx, wassalam Dodo Makassar ( http://dodopenman.blogspot.com )

  20. Bu, klo boleh tau, jam buka pasar inpres kebun sayur tuh dr jam berapa sampai jam berapa yah? krn saya ada perjalanan dinas ke balikpapan, tp takut pasarnya udah jam tutup. Makasih


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 222 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: