Oleh: edratna | Desember 4, 2011

3.Menunaikan Rukun Haji: a.Jeddah-Makkah

Sampai di bandara Jeddah, setelah proses imigrasi selesai, kami semua berkumpul, sholat Magrib dan Isya. Kemudian yang ingin mandi dipersilahkan, serta mulai memakai pakaian ihram. Ini pertama kali saya bisa melihat sendiri kamar mandi seperti yang pernah digambarkan teman-teman yang  sudah mengikuti ibadah Haji, kamar mandi sederhana dengan lubang besar di tengah untuk buang air besar, syukurlah air mengalir lancar dan berupa air hangat. Dan tempat berwudhu bersih dengan air mengucur deras, ini sudah cukup bagi saya. Sayangnya karena cuaca panas, dan mandi air hangat, membuat keringat juga mulai bercucuran.

Sekitar jam 10 malam waktu setempat, atau jam 2 dinihari waktu Indonesia (selisih waktu 4 jam, Indonesia lebih cepat), rombongan kami  dipanggil satu per satu  berdasarkan paspor sebelum memasuki bis. Kami mendapat pembagian makanan, sayang saya kurang selera, apalagi di pesawat telah mendapat makanan, terasa seperti mau makan sahur. Selesai makan malam, kami semua mulai miqat, berniat menunaikan umrah.

Makanan dan minuman yang disediakan di Maktab Indonesia, Makkah. Silahkan ambil sepuasnya.

Perjalanan Jeddah-Makkah memerlukan waktu 2 (dua) jam perjalanan, begitu memasuki kota Makkah, setiap kali melalui pos harus melapor dan dibagikan makanan lengkap dengan air zam-zam serta buah-buah an. Kami berombongan sempat lapor ke Maktab Indonesia (yang bertanggung jawab atas semua keperluan Haji dari Indonesia), tak menyangka kantornya begitu bagus. Kami bisa pergi ke toilet, juga dipersilahkan mengambil minuman panas dan makanan sepuasnya, tawaran yang tak disia-siakan, apalagi rasanya badan sudah mulai terasa capek.

Suami berpose di Maktab Indonesia

Dari Maktab Indonesia, kami mulai menuju hotel Hilton, tempat rombongan kami menginap. Ustad mulai memberikan nomor-nomor  penting yang harus dicatat, ada jalur dari hotel Hilton langsung ke halaman masjid Al Haram, jika naik lift tekan *1. Kami semua hanya sempat memasukkan kopor ke kamar masing-masing, berwudhu untuk yang sudah batal, kembali ke lobby untuk memulai Umrah. Ustad memimpin rombongan kecil (rombongan kami dibagi lagi ke dalam 3 rombongan kecil), berjalan meneberangi halaman masjid Al Haram dan langsung memasuki pintu 1, dan memulai perjalanan Umrah.

Jamaah penuh sesak melakukan thawaf mengelilingi Kabah di musim Haji 2011 (foto by Ustad Budi Prayitno)

Begitu melihat Kabah dari dekat, tak terasa air mata mengucur……..

Ya Allah, terimakasih, Engkau telah memperkenankan hamba dan suami datang kesini, melihat dari dekat Kabah dan masjidmu yang indah ini. Kami memulai thawaf mengelilingi Kabah 7 (tujuh) kali, doa-doa dan zikir dilantunkan, bersyukur atas semua nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah swt, memohon ampunan atas semua dosa kami,  berdoa untuk anak, adik dan ipar, serta teman-teman yang menitipkan doa agar mereka semua mendapat kesempatan untuk mengunjungi Kabah dan bisa menerima panggilan untuk ibadah Haji.

Ya, Allah…hamba baru memahami semuanya, sungguh tak bisa saya nyatakan dalam kata-kata. Engkau Maha Besar, sungguh mulia ya Allah….saya bergandengan tangan bersama suami, mengelilingi Kabah……di depan dan belakang saya, teman-teman saling bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing….sungguh karunia yang tiada tara. Tak pernah saya merasakan mendapat karunia sebesar ini, sungguh ya Allah, saya bersyukur di masa hidup saya, Engkau berkenan memanggilku bersama suami. Selesai mengelilingi Kabah tujuh kali, kami sholat 2 rakaat dan berdoa di belakang maqam Ibrahim, bersyukur atas karunia Nya, memohon ampunannya, bertobat atas semua kesalahan yang pernah kami lakukan, semoga doa kami semua dikabulkan oleh Allah swt.

Selesai thawaf tujuh kali, kami melakukan Sai, yaitu perjalanan dari Safa ke Marwah bolak-balik tujuh kali sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Siti Hajar, sebelum akhirnya menemukan air Zam-zam yang diciptakan Allah untuknya. Sepanjang perjalanan Sai, sesekali kami berhenti, untuk untuk meminum air Zam-zam, berdoa menghadap Qiblat memohon kesembuhan dan mengguyurkan air Zam-zam ke bagian tubuh yang dirasakan kurang sehat. Selesai Sai, kami melakukan tahallul, yaitu memotong rambut.

Ibadah Umrah selesai, semoga mabrur, Ustad memberikan kebebasan pada kami untuk memilih, apakah kembali ke hotel, atau langsung menunggu sholat Subuh. Sungguh sayang kalau kembali ke hotel, jadi kami menunggu sholat Subuh,  sempat berfoto bersama teman-teman. Tak lama kemudian adzan berkumandang, kami bersiap melakukan sholat 2 (dua) rakaat, sebelum mengikuti imam melakukan sholat Subuh. Di Masjid Al Haram, tak ada pemisahan untuk tempat sholat laki-laki dan perempuan, kecuali di depan Kabah hanya khusus untuk laki-laki. Pada  saat saya sedang sujud, saya merasa dilangkahi beberapa orang, ternyata orang yang membawa usungan, yang merupakan jenazah orang yang meninggal dari keluarga kerajaan (saya baru tahu hari berikutnya kalau yang meninggal orang penting). Selesai sholat, kami berpencar, ada yang masih ingin menikmati berjalan-jalan di sekitar Masjid Al Haram, ada yang ingin langsung istirahat. Saya dan suami menuju pintu keluar, sampai di halaman terdengar tanda akan dilakukan sholat jenazah…kami berhenti dan langsung mengikuti imam melakukan sholat jenazah. Kondisi ini nanti akan kami temui sehari-hari, setiap sholat fardhu di masjid, sesudahnya nyaris selalu ada sholat jenazah.

Halaman Masjid Al Haram

Halaman masjid Masjid Al Haram penuh manusia, ada yang duduk-duduk, berzikir, kami terdorong arus, saya hanya melihat tanda jam di gedung paling atas, yang terlihat sampai berkilo-kilo meter di sekitar kota Makkah. Rasanya tadi dari Hilton kami keluar di pintu yang ada tanda KFC besar berwarna merah, kok sekarang tak terlihat? Saya tetap yakin, bergandengan tangan agar tak terseret arus lautan manusia menuju arah sebelah kiri dari jam. Agak ragu melihat tanda merah kecil, ada tulisan “La Tahzan Chickens”…akhirnya saya memutuskan menilpon Ustad yang tadi membimbing kami Umrah. Baru saja mengangkat telepon, Ustad Wid menghampiri saya dan bertanya mau nelpon siapa? Ternyata beliau dari tadi memperhatikan…rupanya ini pintu  lainnya yang ada dibalik KFC, yang tandanya lebih kecil. Setelah mengucapkan terimakasih, kami melanjutkan perjalanan, masuk ke hotel dan beristirahat sebentar, membereskan kopor dan mengeluarkan baju kotor agar bisa minta tolong di laundry melalui Muntowif, karena kalau laundry di hotel sangat mahal.

Kami makan pagi dengan menu Indonesia di lantai 7 hotel Hilton, ketemu dengan para jemaah calon Haji lainnya dari Indonesia. Suami ketemu teman seangkatannya waktu kuliah, yang ikut rombongan Safari Suci, yang juga berasal dari Bandung. Ketua rombongan mengumumkan kalau sehabis Ashar, kita berkumpul di lobby untuk program orientasi di sekitar Masjid Al Haram, agar memudahkan koordinasi,  jika salah jalan, jamaah tetap bisa kembali ketemu teman-teman rombongan yang lain.

Sore hari, sesudah sholat Ashar rombongan kami ketemu di lobby dan memulai perjalanan ke sekitar Masjid Al Haram. Pak Rustam, sebagai pemimpin rombongan,  menjelaskan kondisi kota Makkah dari tahun ke tahun, tempat meeting point jika kesasar, sampai program acara selanjutnya. Selesai acara, saya dan suami menunggu sholat Magrib di halaman Masjid Al Haram, kali ini kami sholat di luar masjid agar bisa memotret nuansa sekitar masjid Masjid Al Haram.

Banyak Nafak di Makkah

Pagi hari Rabu, tanggal 26 Oktober 2011, kami berkumpul di lobby Hilton selesai makan pagi untuk memulai perjalanan ziarah. Ustad Wid menjelaskan bahwa di Makkah ini banyak nafak, yang artinya terowongan. Makkah adalah kota metropolis, merupakan meeting point dari berbagai bangsa dan berbagai negara. Makkah juga selalu membangun, agar para tamu Allah, para calon jemaah Haji, semakin mendapat kemudahan. Disini Ustad menjelaskan, bahwa ada 5 (lima) hal syarat orang bepergian: 1) Senang, karena fisik sehat. 2) Silaturahmi, ketemu dengan teman-teman, 3) Ilmu….mendapat tambahan ilmu pengetahuan, lingkungan, budaya yang kita lihat di perjalanan, 4) Berkah rejekinya, 5) Tahu akhlak, tata cara bergaul.

Ziarah kali ini melihat Maulid Nabi, rumah yang menjadi saksi kelahiran Nabi Muhammad saw, masjid Jin, tempat Nabi Mumhammad menerima delegasi jin. Makam  Ma’la, tempat isteri  tercinta dan pertama Nabi Muhammad dimakamkan. Perjalanan dilanjutkan ke Mina, lembah sekitar 7 km sebelah timur kota Makkah, untuk melihat tenda jamaah yang berjejer memenuhi tempat, ke padang Arafah dan melihat pohon Soekarno. Melewati masjid Namirah, tempat sahabat Rasul, disini pertama kali mulai dilakukan bahwa orang yang sudah dikuburkan dapat disholatkan secara gaib. Kemudian diteruskan ke Jabal Tsur,  melihat Gua Tsur dari kejauhan. Gua Tsur, terletak sekitar 6 km dari Makkah ke arah Yaman, merupakan tempat Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar Al-Shidiq bersembunyi sebelum hijrah ke Madinah. Di Gua ini beliau dan Abu Bakar bersembunyi, saat kaum kafir tiba, pintu gua telah tertutup oleh sarang laba-laba, dan didalamnya tampak burung merpati tengah bertelur di sarang nya. Kaum kafir berpikir, tidak mungkin gua ditinggali seseorang yang pintunya ditumbuhi sarang laba-laba.

Berfoto bersama suami di Jabal Nur

Gua Hira, terletak di Jabal Nur, sekitar 5 km dari Makkah. Di gua ini, Nabi Muhammad saw, sebelum diangkat sebagai Rasul, melewatkan waktunya untuk beribadah setiap Ramadhan, menjauhi keramaian hidup, menghindari kemewahan dunia. Di gua ini, pada usia 40 tahun, pada malam 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, beliau menerima wahyu dari Allah. Rombongan sempat berfoto di Jabal Nur, bagi yang sudah berumur di atas 50 tahun tidak disarankan naik ke Gua Hira, karena yang lebih penting adalah menunaikan Rukun Haji, yang masih berada di ujung waktu.

Selesai ziarah, dan kembali ke Makkah belum waktu Dhuhur, kami pergunakan mencari listerin (obat kumur) di toko pharmacy seputar Hilton. Ternyata tidak mudah menemukan listerin di sini, akhirnya kami membeli betadine. Kami melanjutkan belanja ke Bin Dawood, supermarket yang terletak di lantai bawah. Nyaris sebagian besar pengunjung Bin Dawood merupakan jemaah calon Haji, terlihat dari pakaian yang dikenakan, lengkap dengan tanda pengenal rombongan.

Hari Kamis istirahat, bagi yang kesehatan nya cukup, disarankan menunaikan sholat fardhu di Masjidil Haram. Sore hari selesai Ashar kami berkumpul di kamar yang disulap menjadi tempat tausiah, sekaligus membahas rencana persiapan berangkat ke Madinah hari Jumat selesai sholat Jumat. Acara tausiah sore ini adalah bersyukur pada Allah swt menjadi orang yang terpilih menjadi tamunya. Menurut Ustad Wid, untuk datang ke rumah Allah adalah berdasar pilihan Allah. Allah memilih berdasarkan sejauh mana kita membuka hati, yang sering kita sebut sebagai hidayah, atau berdasar longgarnya hati kita. Hidayah tak semata-mata dari Allah, bisa dari Allah, dan juga dari manusia itu sendiri, yang mau membuka diri menerima kebaikan. Sesuai anjuran, jika beramal agama berdoalah agar sehat karena kesehatan itu mahal.

Rukun Haji di Arafah, oleh karena itu nikmati semuanya. Untuk mencari bahan makanan selama Rukun Haji tidak mudah, maka: nikmati, batasi, imani. Mengapa agama diturunkan di dunia? Ada 5 pelajaran dari Rasul yang harus kita yakini:

  1. Menegakkan akidah, dan iman, dari syirik

Ada bermacam-macam syirik: a)Syirik dalam bentuk benda-benda: menyembah artefak, totem dll….simbol-simbol yang dikultuskan. b)Syirik pada sifat. c)Syirik dalam memohon pertolongan (melalui dukun dsb nya). d)Syirik dalam peribadatan, menambah atau mengurangi dalam beribadat. e)Syirik dalam hukum, tak perduli pada hukum

  1. Melindungi akal dan ilmu
  2. Menjaga keturunan
  3. Menjaga harta
  4. Menjaga darah dan kehormatan

Selesai tausiah, diadakan diskusi tentang rencana keberangkatan ke Madinah. Koper besar harus telah ada di depan kamar dalam kondisi terkunci jam 7 pagi hari Jumat, karena koper akan dibawa dengan truk lebih dulu ke Madinah. Sedang jemaah calon Haji membawa sendiri koper kecil (kabin), berkumpul di lobby selesai sholat Jumat dan makan siang, sekitar jam 2 siang waktu Makkah.

Jumat pagi saya terbangun jam 2.30 waktu Makkah. Kami berdua sholat Tahajud berjamaah di kamar nomor 1607 hotel Hilton. Jam 03.40 waktu Makkah saya mulai meneteskan obat mata kiri untuk suami. Ada 4 (empat) macam obat mata (Timmol, Duotrav, Dorzol dan Brimodin), yang harus diteteskan berselang jarak  5 menit,  antara obat satu dan lainnya. Jika siang hari hanya ada satu jenis obat tetes yaitu Dorzol, dan pada malam atau sore hari, 2 macam obat tetes yaitu Dorzol dan Brimodin. Sebelum sholat Jumat, saya dan suami sempat pergi lagi ke Bin Dawood membeli tas tenteng untuk diisi persediaan makanan dan air minum, juga membeli perlengkapan lain.

Sholat Jumat dilakukan di mushola hotel Hilton lantai 5, namun kami mengikuti panduan dari imam masjid Masjid Al Haram yang terdengar jelas. Jamaah penuh sesak, ada ibu penjual pashmina yang dikerubuti pembeli, setelah saya lihat ternyata “made in china”. Banyak sekali barang dagangan di Makkah ini, setelah di teliti merupakan barang produksi China. Selesai sholat Jumat, kami bergegas makan siang di lantai 7, kemudian mengambil kopor dan bertemu di lobby hotel, untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah.

(bersambung)

About these ads

Responses

  1. Bu Enny, selamat kembali ke tanah air ya.. Insya Allah membawa kemabruran dari ibadah hajinya.. Maaf, baru sempat bersilaturrahmi ke sini sekarang..

    Saya selalu merinding setiap kali mendengarkan atau membawa cerita perjalanan haji seseorang.. Jujur, saya sangat ingin haji, namun kesempatan dan kemampuan belum ada.. Semoga Allah segera memberi saya kesempatan dan kemampuan itu ya Bu..

    Saya kurang sepakat dengan istilah “panggilan” haji. Sebenarnya, umat Islam sudah dipanggil Allah untuk beribadah haji sedari awal ibadah ini disyariatkan. Hanya saja, karena ibadah haji ini menuntut kemampuan fisik dan finansial, maka orang seringkali mengistilahkan “panggilan” bagi yang punya kesempatan dan kemampuan..

    Oleh karenanya, menurut saya, lebih tepat menyebutkan bagi yang belum bisa naik haji dengan istilah “belum ada kesempatan atau kemampuan”, bukan “belum ada panggilan”.

    Lanjut baca laporan sebelumnya ah… :)

    Entah Uda, kok istilahnya panggilan….tapi dari penjelasan Ustad, panggilan itu dari dua pihak. Kita sendiri yang telah siap (hati, fisik, dana), dan Tuhan juga memberikan restu Nya. Karena setelah di Makkah, saya banyak mendengar (yang selama ini saya kira hanya cerita sinetron saja), bahwa sesampai di tanah Suci ada yang tak bisa melihat Kabah. Subhanallah….juga banyak hal lain yang aneh-aneh. Dan setiap orang mengalami pengalaman yang berbeda, sehingga tak bisa diperbandingkan. Saya banyak mendapat kemudahan, karena tahun ini suami masuk Rumah Sakit dua kali, biasanya saya sendiri tak kuat menunggu suami terus menerus saat dirawat di RS (malah pernah pingsan di RSCM)…namun saya diberikan kekuatan mendampingi suami naik Haji dalam kondisi kurang sehat, punya glaucoma yang harus ditetesi matanya setiap berapa jam sekali, harus diet (yang terpaksa tak mungkin dilakukan)….namun Allah swt menjaga kami, dan bisa beribadah tanpa halangan berarti.

    Saya sendiri juga baru bisa berangkat di usia yang sudah berbahaya….ada saja halangannya selama ini. Semoga Uda bisa segera mendapat kesempatan ke Tanah Suci, sungguh bahagia rasanya melihat suami isteri bergandengan tangan mengelilingi Kabah untuk thawaf dan kemudian Sai.

  2. “Saya sendiri juga baru bisa berangkat di usia yang sudah berbahaya…”

    berarti sebaiknya berangkat selagi usia masih muda dan kuat ya Bu
    hmm saya termasuk yg mana ya? Yg belum ada kesempatan/kemampuan? Atau blom ada panggilan? Hehehe … masukin ke wishlist aja dulu deh, semoga bisa konsisten nabungnya, soal kesempatan saya kira akan selalu indah pada waktuNya, bukan begitu bu? :)

    alhamdulillah ya Bu, dikasih kekuatan dan kesehatan selama di tanah suci, Ga bisa mbayangin saya medannya yang gersang dan panas begitu. wong sehari2 di sini aja udah ngeluh sedemikian rupa, kira2 kalau di tanah suci akan gimana yaaa … *gamang*

    Masing-masing orang punya pengalaman sendiri Nique…
    Sejak menikah saya sudah ingin berangkat ke Tanah Suci, namun banyak tugas dan kewajiban yang tak bisa ditinggal, terutama saya sendiri tak berani meninggalkan anak-anak. Mungkin karena saya keluarga kecil, adik saya juga sibuk di keluarganya sendiri, sehingga saya merasa siap setelah anak-anak mentas (sudah selesai kuliah). Risikonya usia tak muda lagi, saya bersyukur diberi karunia usia yang cukup panjang, sehingga masih sempat naik Haji.

    Siap tak berarti tabungan sudah cukup, siap menyangkut hati, pikiran, niat…dan jika sudah niat berangkat, kita harus melepaskan seluruh urusan duniawi, artinya dengan berpakaian ihram, kita siap menghadap Tuhan sewaktu-waktu. Dan yakin, bahwa keluarga yang ditinggal di tanah air akan dijaga oleh Allah. Ibadah haji bukan sekedar siap secara uang, rochani, namun fisik harus kuat, walau bisa menyewa kursi roda jika tak mungkin melakukan thawaf dan Sai, ataupun saat melempar jumroh. Jika sudah niat, maka semua menjadi mudah kok….saya sendiri sudah siap apapun yang terjadi, mengingat usia, fisik terbatas, ternyata semua berjalan lancar…

  3. saya sering denger dari tetangga yang naik haji Bu, tapi baru kali ini baca reportase lengkapnya, semua sepotong-sepotong. Sepertinya memang padat dan perlu fisik yang fit ya Bu, kalo ga malah jadi sakit :)

    Acaranya memang padat Clara, karena ibadah Haji sebenarnya ibadah fisik….
    Jadi kita memang harus mempersiapkan diri untuk menjaga kesehatan, walaupun jika sakit juga sudah ditanggung dan ada yang mengurus.

  4. Tentang ‘panggilan’ itu keponakan saya, kelas 3 SD, sempat punya pertanyaan.
    “tante, kapan sih kita harus naik haji?” kemudian ia menjawabnya sendiri, “Kalau sudah ada panggilan, kan?”. Hehe…
    Subhanallah… Bu Enny menggambarkannya dengan sedemikian rinci. Saya jadi sangat berharap bisa melaksanakan ibadah haji juga.
    Salah seorang dokter di puskesmas saya juga berangkat haji, suami istri. Beliau bilang memang lebih indah bila dijalani dengan suami/istri.
    Saya baru tau kalau suami Bu Enny menderita glaukoma. Alhamdulillah semua lancar ya, Bu…
    Oiya, ibu saya alhamdulillah juga baik-baik saja di tanah suci. Sempat juga terserang radang tenggorokan sampai suara beliau serak saat saya telpon. Insya Allah ibu saya tiba di tanah air tanggal 8 nanti :)

    Saya sudah baca postingan Akin…tentang kembalinya ibu dari ibadah Haji.
    Alhamdulillah…semoga menjadi Haji mabrur ya…
    Dan semoga Akin suatu ketika bisa menunaikan ibadah Haji, dan semoga pada usia yang masih cukup muda.

  5. KFC itu kayanya meeting point terbaik di Masjidil Haram ya Bu? :D

    Kayaknya memang banyak yang menggunakan tempat meeting point depan KFC, karena halaman depan KFC yang merupakan halaman hotel Hilton yang berbatasan dengan halaman Masjid Al Haram cukup luas. Juga tanda KFC yang besar dan berwarna merah, memudahkan kita mencari dari kejauhan. Walau begitu, saya sempat “agak keder” juga..karena KFC yang terlihat dari arah sebaliknya tandanya tak terlalu besar dari jauh..dan tulisannya bukan KFC tapi “La Tahzan Chikens“…hehehe

  6. pas ngeliat Kabah pasti terharu banget ya bu…

    Tak bisa dikatakan dengan kata-kata…tak terasa air mata bercucuran..bersyukur pada akhirnya mendapat kesempatan melihat dari dekat.

  7. berdesiran rindu saya membacanya
    sungguh
    semoga saya bersama istri bisa segera ke sana…

    Semoga doanya dikabulkan oleh Allah swt. Amien.

  8. Ya ALLAH, i want to go there

    Semoga suatu ketika bisa sampai ke sana. Amien.

  9. mohon doanya semoga saya berkesempatan ke sana juga

    Semoga doa dan harapannya dikabulkan oleh Allah swt. Amien.

  10. Apa kabar Ibu? semoga bapak & ibu sehat semua ya… Sayang kita tak sempat berpapasan di tanah suci, hehe… Alhamdulillah kita bisa menjalani ibadah dengan lancar ya… Oya, kalau buat kami, meeting pointnya di area bawah Jam besar bu… hehe…

    Iya Mechta..Alhamdulillah, semoga menjadi Haji mabrur ya.
    Tiap kelompok memang punya meeting point yang disepakati bersama, tempat yang terlihat dengan mudah dari kejauhan.

  11. lama tak mampir blognya bunda, smoga selalu diberikan kesehtan ya bunda dan karena sehat dan rezeky bunda bisa berangkat haji, alhamdulillah semoga saya dan keluarga juga bisa ikut berangkat pergi ke mekkah sana bunda. Amiin

    Saya doakan…semoga Auraman juga mendapat kesempatan bisa menunaikan ibadah Haji ke Makkah. Amien.

  12. salam kenal, tadi jalan-jalan menemukan blog ini :))

    Salam kenal juga

  13. ibu, sungguh terharu,,,
    berharap kami berdua bisa juga pergi bersama2 seperti bapak dan ibu

    Saya ikut berdoa, semoga mbak Monda bisa berangkat menunaikan ibadah Haji bersama suami.

  14. ibu saya nyicil bacanya ya, sangat sayang bila melewatkan postingan serial haji ini

    Silahkan mbak Monda


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 217 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: