Oleh: edratna | Februari 7, 2012

Yang lucu-lucu dari sebuah perjalanan

Pada setiap perjalanan, kita sering menemukan hal aneh maupun lucu. Kadang menggelikan kalau kita tak terlalu lelah, namun juga menyebalkan, terutama kalau kondisi kita lelah, stres, sehingga mudah menjadi tersinggung. Namun karena perjalanan kali ini beserta teman, apalagi didampingi putrinya, yang kebetulan berlibur, maka perjalanan menjadi lebih menyenangkan, banyak sendau gurau, bahkan hal kecilpun sering menjadi bahan tertawaan.

Tusuk satenya kurang satu

Suatu ketika kami  menginap di sebuah hotel berbintang. Hotelnya cukup bersih, menyenangkan, bahkan setahun lalu kami dapat bonus pemandangan sungai  yang indah, dengan kapal yang lalu lalang sepanjang hari. Kali ini kami kurang beruntung, dari jendela kamar memang masih bisa melihat pemandangan sungai, tapi hanya diujung sebelah kanan.

Kami sampai di hotel sudah malam, rasanya hari itu lelah sekali, setelah berdiri sepanjang hari, memimpin diskusi kelompok, berjalan dari meja ke meja, menjelaskan hal-hal yang belum di mengerti. Kadang pertanyaan yang diajukan saat tidak di depan kelas, malah lebih jujur sehingga saya memang senang mengajar dalam bentuk diskusi ini. Akibatnya sampai hotel, sudah tak ada tenaga lagi untuk makan di luar, jadi kami memutuskan untuk pesan makan di dalam kamar saja. Karena kemarin malam sudah sempat pesan nasi goreng dan mie goreng, kali ini kami pesan sate ayam, beserta tambahan nasi. Makanan di hotel ini disajikan dalam porsi besar, jadi kami hanya pesan satu porsi dan untuk jaga-jaga ditambah nasi, apalagi disitu dikatakan tusuk satenya berjumlah sembilan.

Saat pramusaji yang masih merupakan trainee mengantarkan makanan, ternyata satenya hanya 8 (delapan tusuk), sebetulnya bukan masalah satenya sih, tapi karena di buku jelas diberi catatan yang berbunyi sembilan tusuk, maka kami minta penjelasan. Pramusaji meminta maaf, kemudian balik lagi dengan membawa menu yang sebenarnya, ditambah permintaan maaf dari kitchen berupa apel merah dua buah dan jeruk. Kami tertawa bersama, gara-gara kurang satu tusuk dapat tambahan buah. Namun bagaimanapun, kami mengapresiasi permintaan maaf ini.

Nyaris kena tipu lewat telepon

Hari terakhir mengajar, sekitar jam 17.30 wita kami segera kembali ke Balikpapan, agar masih ada waktu istirahat di Balikpapan, sehingga tak terburu-buru saat pergi ke bandara. Setahun yang lalu kami berangkat dari Samarinda, dan ternyata jalan antara Samarinda-Balikpapan padat sekali, sehingga membuat kami berlari-lari untuk mengejar pesawat. Malam itu kami sampai Novotel Hotel di Balikpapan sekitar jam 10 malam waktu setempat.

Paginya, karena bertiga, saat memilih makanan, tas tangan saya tinggal di kursi, menjelang selesai makan saya lihat ada missed calls, pasti pak sopir sudah menunggu. Saya lupa, bahwa sopir dari perusahaan ini tak mungkin menelepon tamu, paling-paling hanya mengirim sms kalau sudah siap di lobby atau di tempat parkir. Selesai makan saya ke toilet, hape saya berdering…..selesai dari toilet saya menelpon ke nomor yang sebelumnya menelpon saya. Dan..inilah kesalahan yang saya lakukan, entah mungkin karena saya sudah terlalu lelah.

“Hallo?” suara diujung sana menjawab.

” Ini pak Budi ya, dari perusahaan X ya”, tanya saya.

“Betul bu,” jawabnya.

“Posisi bapak dimana, kami sudah siap di lobby,” kata saya.

” Sebentar lagi bu,” katanya.

Setelah check out, kami mencoba mengabadikan beberapa foto di lobby hotel ini. Kemudian saya melihat, ternyata koper-koper kami sudah siap diantar porter, jadi saya minta tolong porter untuk mendorong kereta, serta keluar ruangan untuk minta dipanggilkan pak Budi. Saya menganggap hal biasa, kami menunggu cukup lama, sambil berfoto ria, di depan papan nama hotel Novotel. Ternyata saya pengin ke toilet lagi, maklum sudah usia, teman saya hanya tertawa. Selesai dari toilet, saya lihat kok koper masih tetap, saya akhirnya menelpon lagi…..dan pak Budi menjawab sedang dalam perjalanan. Saya tak enak untuk memburu-buru, berpikir nanti malah bisa celaka, jangan-jangan dia ketiduran (ini lagi kesalahan…karena jam kerja perusahaan X adalah jam 7.30 wita).

Tak lama lagi telepon masuk, setelah mengobrol (sambil dalam hati heran, kok pak Budi lama sekali sampainya ke hotel), padahal kantor perusahaan X terlihat logonya dari depan hotel, pak Budi mohon maaf, karena dia lagi ada masalah, apakah saya bisa membantu. Saya bengong, lha ini sopir yang dikirim untuk melayani tamu kok malah minta tolong, tapi saya masih mencoba mendengarkan baik-baik. Pak Budi bertanya apa saya bisa membantu menyediakan dana sejumlah Rp. 5 juta,  nanti dia akan kirim nomor rekening ke hape saya. Saya mulai merasa ada yang tak beres, jadi saya katakan kalau saya akan konfirmasi dulu ke pak A (atasan pak Budi). Dia menjawab, akan menelpon balik.

 Rupanya pak Budi (yang asli) melihat  saya, saat saya keluar dari lobby hotel kemudian berbalik masuk lagi…karena setelah saya melihat keluar pintu kaca, kok koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh porter hotel, saya bergegas menghampiri, dan benar pak Budi yang telah saya kenal setahun yang lalu saat saya berkunjung ke Balikpapan, kebetulan pak Budi yang mengantar dari bandara Sepinggan ke Samarinda. Rupanya pak Budi ini tak mendengar dipanggil lewat speaker, karena berada dalam mobil, namun dia melihat saat saya keluar yang kedua kalinya dan bergegas memajukan mobilnya ke depan lobby.

Begitu masuk mobil saya membuka percakapan..”Pak Budi, tadi nelpon saya?”, tanya saya.

“Nggak bu, saya tak sekalipun menelpon, tadi saya keluar mobil dan melihat ibu di luar pintu,”jawabnya.

“Apa tadi tak mendengar panggilan (car call)?”, tanya saya.

“Tidak bu, tadi saya di dalam mobil, jadi setelah lama saya keluar dari mobil dan lihat ibu di luar sebentar,”jawab pak Budi lagi.

“Kalau begitu yang saya ajak mengobrol lewat telepon tadi pak Budi palsu ya,” tanya saya. Pak Budi bingung, kemudian saya menjelaskan hasil pembicaraan saya per telepon dengan orang yang mengaku bernama Budi dari perusahaan X. Teman saya tertawa, tapi juga mengingatkan, bahwa saat kita menunggu seseorang dan mendapat telepon dari nomor yang tak ada di inbox kita, sebaiknya tetap menanyakan ini siapa. Tak lama kemudian hape saya berdering, saya lihat nomor yang tadi, yang mengaku bernama Budi.

“Haloo,” jawab saya. “Ini siapa?”

“Ini Budi bu, dari perusahaan X, bagaimana dengan uangnya bu, “tanya suara di ujung sana.

“Pak Budi dari perusahaan X yang mana, karena perusahaan X punya cabang dimana-mana,” kata saya. Rupanya pertanyaan saya tak diantisipasi, dipikirnya saya mulai percaya. Dia menjawab, “saya dari perusahaan X, yang tadi menelpon ibu.” Saya mulai tak sabar, langsung saya bilang, bahwa saya sudah ketemu dengan pak Budi yang asli, yang memang saya kenal, karena setahun yang lalu juga menjemput saya.'”Jadi, bapak ini penipu ya, jangan telepon lagi,” kata saya, langsung menutup telepon. Teman saya tertawa, putrinya bingung. “Ada apa bude, kok langsung mengatakan yang nelpon penipu”, tanya putri temanku. Saya hanya menjawab,  kalau orang yang mengaku Budi tadi berani menelpon lagi, akan lebih diomeli. Ternyata sampai saya berangkat ke bandara tak ada telepon lagi dari orang tadi…nomornya 0812xxxx…sebetulnya saya catat lengkap di hape saya, dengan tanda xx, siapa tahu berani telepon lagi.

Pembelajarannya, saat menerima telepon, kita tetap harus menunggu atau menanyakan siapa dia. Dan karena lelah, kewaspadaan saya berkurang, syukurlah begitu orang yang menelpon bicara tentang uang, insting saya langsung jalan…lha kok bisa-bisanya minta tolong menyediakan dana, jelas tak masuk akal.

About these ads

Responses

  1. memang banyak yang bisa dicatat dari sebuah perjalanan ya bu…
    dari yang lucu sampai njengkelin :D

  2. Seneng aja baca ceritanya mbak Enny…….

  3. Wah, enak tuh Bu dikasih tambah apel. Kalau saya mah minta didobelin porsi satenya ada sebagai penerimaan maafnya. Hwehe. :D

    Wah, musti waspada memang, Bu. Apalagi kalau melihat sesuatu yang mencurigakan, harus pikir masak-masak dulu.

  4. Pak Budi asli untungnya cepat ketemu ya bu, dapat pelajaran jangan main tebak penelpon tak dikenal ya bu

  5. alhamdulillah, masih dilindungi Allah ya bu… tentang tusuk sate yg kurang satu itu, kalau pelanggang ga komplen (entah takut / malu untuk menanyakan haknya) mungkin jadi keuntungan mereka ya bu, hehe…

  6. waduh iya mesti ati2, banyak penipuan ya bu sekarang ini…

    tentang pengalaman di hotel yang paling aneh sepanjang saya nginep di hotel tuh waktu perjalanan dinas ke medan dan nginep di hotel polonia. saya berdua ama temen saya satu kamar waktu itu.

    tiba2 ada orang ngetok. perempuan. dia nanya ada pak chandra gak. kok kebetulan emang bos saya namanya pak chandra. entah itu orang dapet nama dari siapa atau sekedar nebak ya. kita bilang kalo pak chandra gak ikut ke medan. trus perempuan itu bilang bisa minjem toilet gak. akhirnya temen saya kasih. dan untungnya temen saya pinter juga jadi pintu kamar tetep terbuka. keluar dari kamar mandi, perempuan itu udah ngelepas kancing kemejanya bagian atas dan dia bilang dia perlu uang, 200rb aja, dan dia rela mau diapain aja.

    gila gak sih bu??

    langsung kita usir dah….

  7. Hahaha…baca pengalaman bu enny soal tusuk sate, jadi ingat pengalaman saya di sebuah hotel di Medan. Saya komplain ke laundry servicenya karena celana ‘Nike’ saya yang dilaundry ketarik benang dibagian pinggangnya jadi keriput gak karuan. Itu satu-satunya celana pendek yang saya bawa dalam kunjungan itu, jadi saya ngomel-ngomel ke petugas hotelnya.

    Eh, sorenya pihak hotel datang bawa celana Nike yang masih ada tag original Sport Station-nya!!! Hehehe, lumayaaan… Karena celana ‘Nike’ saya yang rusak tadi dibeli seharga Rp 10.000 di emperan mesjid sehabis jumatan di Jakarta. Atau barangkali karena waktu itu bukan hari Jumat sehingga pihak hotel kesulitan mencari celana ‘Nike’ yang setara dengan punya saya itu…

  8. Hehehe sebenernya ga ada hubungannya antara sate dengan buah, tapi sepakat denganmu, Bu… usahanya layak diapresiasi hehehe… mungkin ketimbang bakar sate lagi mending nyomot dari kranjang buah :)

  9. Alhamdulillah bisa ikutan baca cerita bu Enny…. Jadi ingat waktu bu Enny telepon salah orang… kadung nyerocos ternyata bukan yang dimaksud.

  10. Oh untung lah P Budi yg penipu gak begitu cerdas ya Bu. Lah statusnya yang akan menolong mengantarkan tahu-tahu berubah jadi minta tolong, sudah begitu uang tunai lagi..Gak tahu dia, orang asing atau yg tak begitu dikenal yang dikaitkan dengan cerita uang sdh mengandung kecurigaan besar :)

  11. Senang sekali membaca tulisan bu En yang menikmati setiap tugas sehingga bisa menangkap kelucuan, keindahan pemandangan alam, keunikan kuliner dll. Berusaha melakukan hal yang sama ibu, Salam

  12. hehehe 1 tusuk sate digantinya dobel2 tuh bu

    oleh2 perjalanan yang paling abadi kan salah satunya cerita2 kayak gini bu, selain gambar2 tentunya :)


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 221 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: