Saat anak pertamaku masuk TK umurnya 4 (empat) tahun, si bungsu sekolah TK sejak berumur 2,5 tahun. Ternyata telah berlalu 23,5 tahun sejak si bungsu pertama kali masuk TK, dan sekarangpun masih terus sekolah. Jadi, kapan ya berhenti sekolahnya? Zaman saya dulu, namanya sekolah Froebel, letaknya di dekat kantor polisi di kota kami. Saya masih ingat, jika jam istirahat, ibu guru akan bertanya, “siapa yang mau ke kamar kecil?” Kami yang ingin ke kamar kecil, dikumpulkan, dipisahkan antara yang perempuan dan laki-laki, dan diantar ibu guru sampai ke dalam kamar kecil. Dulu, kamar kecil biasanya menjadi satu kesatuan dengan kamar mandi, yang luas sekali, sehingga muat untuk 5 (lima) anak sekolah Froebel untuk buang air kecil dipandu ibu guru. Dan tugas ibu guru pula untuk membersihkannya. Sepulang sekolah, karena sekolah Froebel letaknya jauh dari rumah, sering kaki-kaki kecil saya tak cukup kuat untuk berjalan sampai rumah, jadi biasanya langsung digendong memakai kain panjang oleh simbok dan tertidur, bangun-bangun sudah di atas kasur. Sekolah Froebel ini awalnya dikenalkan oleh Friederich Wilhelm August Fröbel, yang lahir di Jerman, merupakan salah satu tokoh pendidikan, yang karya dan pemikirannya masih dijadikan acuan bagi dunia pendidikan modern hingga saat ini (Wikipedia).
Kali ini, saya akan menceritakan tentang cucu saya, yang sekarang berumur 13 bulan. Ara makin lucu, mulai bisa berjalan sejak dua minggu yang lalu. Masalahnya, Ara tidak mudah kenal dengan orang baru. Awalnya kami tak pernah berpikir untuk menyekolahkan Ara pada usia dini. Saat itu saya menelpon teman yang tinggal di Yogya, siapa tahu dia punya orang yang mau momong anak untuk tinggal di Jakarta, tanpa saya duga teman saya bilang “dititipkan ke Day Care saja mbak. Cucu pertama saya setiap hari dititipkan di day care, sejak jam 7 pagi diantar oleh ibunya, kemudian ibunya kuliah S2 di UGM. Pulangnya saya yang mengambil sekitar jam 3 sore.” Wahh bagus juga idenya, jadi ibunda Ara mulai browsing di internet, apakah ada alamat day care di Jakarta Selatan. Kami tak berhasil menemukan alamat day care, namun yang ada adalah berbagai jenis pendidikan anak sejak usia dini, dan bisa mulai sekolah sejak umur 1 tahun.
Setelah menelpon dan mendatangi berbagai tempat pelatihan, kami sepakat untuk memilih Twinkle Stars ECC (Early Childhood Education Center), yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Setelah melalui telepon, kami dipersilahkan untuk melihat dulu, apakah cocok dengan anaknya. Hari Selasa pagi, saya, ibunda Ara dan Ara naik bajaj ke tempat sekolah. Awalnya hanya sekedar ingin tahu, kami dipersilahkan untuk melihat dari balik pintu kaca. Rupanya Ara ingin masuk, jadilah tanpa direncanakan, hari itu juga Ara mulai masuk sekolah.
Ada sekitar delapan ibu yang anaknya ikut dalam program Brain Integrated Mom & Baby, yang ditujukan untuk anak usia 6-12 bulan. Kami berpikir lebih baik ikut yang awal dulu, serta ikut untuk yang seminggu sekali agar anaknya tak terlalu lelah. Para ibu atau baby sitter, memangku bayi nya masing-masing, duduk di atas karpet. Ibu gurunya masih muda, memperkenalkan diri, menyapa anak-anak …. saya hanya boleh mengintip dari pintu kaca, jadi fotonya tak terlalu bagus. Anak-anak diajari menyanyi, juga latihan keseimbangan. Diajar main bola, diikat dengan tali rafia, serta ditendang ke depan, lucu sekali gaya anak-anak tersebut.
Saat ibu guru menyanyi, tentu saja tingkah para bayi itu lucu-lucu, lha mereka kan belum bisa berbicara, apalagi menyanyi. Bayi digandeng ibunda masing-masing, diajak berjalan atau merangkak (bagi yang belum bisa jalan), mengelilingi arena, memasuki lingkaran besar, serta lorong rumah-rumah an. Ada yang tenang mengikuti ibundanya, termasuk Ara yang suka bermain asalkan dipegang oleh ibunda, tapi ada juga yang cuek saja sambil minum susu dari botol.
Saya mencoba memotret dari celah pintu kaca, sayang sulit menangkap ekspresi anak-anak kecil, karena tertutup oleh para ibunda yang memangkunya. Pendidikan anak usia dini ini sebenarnya hanya berlangsung satu jam, namun sangat efektif, dan menurut saya sebetulnya juga merupakan latihan bagi para ibu, untuk diteruskan di rumah masing-masing. Sebetulnya untuk seumur Ara bisa masuk dua kali seminggu, hari Selasa pendidikan lebih pada pelatihan motorik, sedang hari Kamis lebih ke arah musikal. Kami memilih hari Selasa agar Ara tak terlalu lelah, serta yang penting justru latihan motoriknya, karena Ara sering tak bisa ngerem kalau sudah berjalan.
Sedangkan untuk musikal, karena babe (panggilan Ara untuk ayah) bisa main piano, maka akan dipertimbangkan lagi jika usia Ara makin bertambah, serta dia menyenangi sekolahnya.
Selesai sekolah, sambil menunggu ibunda Ara membereskan uang administrasi (kami mengambil satu paket dulu), saya mengajak Ara bermain jungkat-jungkit, serta perosotan di halaman. Ara terkekeh-kekeh dan terlihat gembira, saya terharu, betapa saya dulu tak sempat mempunyai waktu yang banyak saat anak-anak saya masih kecil. “Maafkan ibu ya nak, dulu ibu harus membagi waktu yang sempit, antara bekerja dan memperhatikan kalian berdua.”
Keluar dari Twinkle Stars (nama sekolah nya Ara), pak bajaj sudah menunggu. Kami kemudian pergi ke Carrefour Lebak Bulus, membeli karpet bermain, yang berwarna-warni, agar anak bisa melepas kotak-kotak yang ada pada karpet tersebut seperti melepas puzzle.
Betapa senangnya Ara, sekarang dia bisa bermain, melepas huruf atau puzzle yang ada di dalam karpet, tapi untuk anak seumurnya belum bisa menempelkan lagi. Jadi masa ini, sesuai yang ditulis dalam majalah “Ayah Bunda”, untuk anak seumur Ara, sedang bersifat unpacking …. bisa melepas, namun belum bisa mengembalikannya lagi.




foto aranya manaa..?
hehehe. ga masalah kok. anak kecil sih udah lupa (aku malah ga inget klo waktu kecil diajak piknik kemana2, jadi sia2 :p)
yaa.. sebenernya trade off sih ya (sama seperti hal2 lain dalam hidup ini).
tapi yang pasti aku selalu bersyukur kok, punya ibu yang bisa diajak diskusi dan selalu menenangkan
that means a lot.
Foto Ara pas sekolah nggak ada, tertutup badan ibundanya…lha motretnya kan dari celah sempit pintu kaca…hehehe
Oleh: narp on Februari 27, 2012
at 5:07 pm
Vio dulu saya masukin sekolah bayi waktu umur 20 bulan, Bu
awalnya banyak yang protes, apaan sih bayi umur 20 buan udah sekolah. Padahal ya yang protes itu ngga liat proses sekolahnya kayak apa. wong di sekolahnya main kok, bukan belajar yang aneh-aneh
Dulu masukin Vio di sekolah toddler juga karena pengen memperkenalkan pada Vio bahwa banyak anak bayi lain di luar sana
di lingkungan rumah anak kecilnya sedikit soalnya, dan karena motor suka seliwar seliwer ga jelas di depan rumah saya, Vio ngga pernah saya bolehin main di luar rumah.
Memang sih, pada umur segitu bukan tahapan bayi untuk bersosialisasi, tapi ngga ada salahnya juga sih buat dia mengenal dunia lain di luar rumah. Sangat membantu untuk ibu bekerja kayak saya yang jarang bisa nemenin anak main
Oleh: Chic on Februari 27, 2012
at 5:08 pm
Solusi yang bagus juga untuk ibu bekerja ya Bu… kalo di sana kan pasti si anak diasuh orang yang memang sudah berpengalaman untuk itu, jadi bisa tenang. Yang repot kan anak kecil suka bosenan ya? Mudah2an Ara bisa suka terus di sana
Oleh: Clara Croft on Februari 27, 2012
at 7:55 pm
moga2 ara betah di sekolah ya…
Oleh: Arman on Februari 28, 2012
at 1:55 am
kalo untuk kita2 gini yang sibuk rasanya ada rasa bersalah kalo si baby kita juga gak disekolahin padahal pas udah gede juga di baby sudah gak inget lagi experience dia dulu…tapi kalo akhirnya si baby kita bisa bermain main dengan sesamanya senang juga ngelihatnya…
Oleh: boyin on Februari 28, 2012
at 11:22 am
betul bu…saat ini banyak sekolah2 PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) baik yg diselenggarakan pemerintah, swasta maupun lembaga2 non profit…semua tahapan sekolah disesuaikan dengan perkembangan anak bukan? Nah utk warga yg kurang mampu dari segi ekonomi utk memasukkan anak balitanya ke sekolah2 ini, juga ada kelompok2 Bina Keluarga Balita (BKB) di masyarakat, bukan?
Oleh: mechta on Februari 28, 2012
at 5:35 pm
Beda generasi ya bu En, ada saat mengantar anak mengenal dunia sekolah dan sekarang saat antar Ara. Selamat bermain sambil belajar bersosialisasi tuk Ara. salam
Oleh: prih on Februari 28, 2012
at 7:28 pm
saya juga menyekolahkan anak saya di usia 1,5 tahun.. menarik.. anaknya jadi aktif dan suka sekali menari dan menyanyi..
Oleh: Applaus Romanus on Februari 29, 2012
at 12:39 pm
Wah….tak terasa waktu berjln begitu cepat yah bunda hehehe….sekarang sdh momong cucu, malah mau mulai sekolah hehehe
Best regard,
Bintang
Oleh: elindasari on Februari 29, 2012
at 6:19 pm
Waduh, kebayang semakin panjang rentang masa ‘sekolah’ anak-anak jaman sekarang… Mulai dari usia 1 tahun (toddler) sampai dengan, katakanlah, 25 tahun kalau lanjut terus sampai S2… Woow… Tapi emang tuntutannya sekarang begitu ya bu…
Salam buat Ara, Bu… semoga betah ‘sekolah’ nya…
Oleh: soyjoy76 on Maret 1, 2012
at 4:34 pm
dulu saya malah ga masuk TK, bu. soalnya masih pedalaman gitu. tapi sekarang udah mending. beruntung bagi anak-anak yang tinggal di tempat yg fasilitasnya lengkap, semoga waktu ke depan, Indonesia semakin baik
salam.
Oleh: len on Maret 1, 2012
at 11:47 pm
waaaa…..
pasti lucu sekali ya bu
besok, mau dong Ara difoto dulu sebelum berangkat sekolah hehehe
jadi kan bisa mbayangin wajah Ara kalau ibu ceritain
jadi nanti, klo ibunya Ara kerja, Ara ditinggal disana ya bu?
Emang susah ya bu ndapetin rewang,
kirain kami doang yang mengalami hiks
Oleh: nique on Maret 2, 2012
at 12:26 am
good job ara kecil
senang-senang yah nak.
Oleh: fety on Maret 2, 2012
at 9:02 pm
Waahh… saya baru tau ada pendidikan dini hingga anak minimal berusia 1 tahun gitu, Bu… di kota saya yang banyak cuma PAUD (playgroup).
Sepertinya bagus banget ya, Bu. Pelajarannya sesuai dengan tahapan perkembangan si anak
Oleh: kakaakin on Maret 2, 2012
at 11:13 pm
jadi ingat masa masa kecil dech bluenya……hahaha
salam untuk si kecilnya y
salam hangat dari blue
Oleh: bluethunderheart on Maret 3, 2012
at 6:44 pm
waaah, sekolah Ara asyik bangeeet…..
[hiks..hiks..., jadi teringat kalo dulu saya ga pernah sekolah TK]
Oleh: Akhmad Muhaimin Azzet on Maret 6, 2012
at 10:53 am
Karena tinggal dikota kecil, dua anak saya juga nggak mengenal sekolah usia dini. Memulai sekolah umur 4 tahun di TK…
Mudah2an cucu saya nanti bisa dapat kesempatan masuk disekolah usia dini atau pra sekolah…
Oleh: marsudiyanto on Maret 13, 2012
at 11:24 am
Kok saya malah nangis baca kalimat : “Maafkan ibu ya nak, dulu ibu harus membagi waktu yang sempit, antara bekerja dan memperhatikan kalian berdua.”
hiks….hiks….nyesek rasanyaaaa……
Anak-anak saya juga jadi penghuni penitipan anak yang tersedia di kantor sejak bayi bu…adanya penitipan anak ini sungguh membantu bagi karyawati seperti saya ini.
Meski tiap pagi dan sore hari harus ‘ubyang-ubyung’ bawa rombongan….
Oleh: Devi Yudhistira on Maret 14, 2012
at 8:46 am