<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title> &#187; motivasi</title>
	<atom:link href="http://edratna.wordpress.com/category/motivasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edratna.wordpress.com</link>
	<description>Kenangan, pengalaman, dan perjalanan hidup seorang ibu..</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Dec 2009 03:51:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='edratna.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a5b4bd50f43c4b7f96c99134e7b550f0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title> &#187; motivasi</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Doa dan kasih sayang seorang ibu penting dalam mengantar kedewasaan anak-anaknya</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/12/22/doa-dan-kasih-sayang-seorang-ibu-penting-dalam-mengantar-kedewasaan-anak-anaknya/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2008/12/22/doa-dan-kasih-sayang-seorang-ibu-penting-dalam-mengantar-kedewasaan-anak-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 23:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=1376</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kita bayangkan pada saat akan menjadi seorang ibu? Mempunyai anak yang baik, yang pinter dan segala macam hal baik lainnya. Tapi, apa persiapan kita untuk menjadi seorang ibu yang baik? Menjadi seorang ibu, bukan sekedar kita menikah dan mempunyai anak, namun diperlukan kesiapan mental, juga fisik. Karena sekali menjadi seorang ibu, maka seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=1376&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Apa yang kita bayangkan pada saat akan menjadi seorang ibu? Mempunyai anak yang baik, yang pinter dan segala macam hal baik lainnya. Tapi, apa persiapan kita untuk menjadi seorang ibu yang baik? Menjadi seorang ibu, bukan sekedar kita menikah dan mempunyai anak, namun diperlukan kesiapan mental, juga fisik. Karena sekali menjadi seorang ibu, maka seorang ibu akan selamanya menjadi seorang ibu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1376"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang disampaikan Mario Teguh dalam acara, dengan judul &#8220;<em>A mother&#8217;s prayer</em>&#8221; di Metro TV tanggal 21 Desember 2008, Mario Teguh menyatakan &#8220;Ibu tak pernah cuti, tak ada lembur. Keberhasilan ibu adalah keberhasilan anak-anaknya, serta kesedihan anak-anaknya adalah kesedihan ibunya.&#8221; Selanjutnya Mario Teguh juga mengatakan, bahwa &#8220;ibu menjadi tempat bersandar banyak orang. Ibu menginginkan anaknya berdiri tegak, berjalan dan mempunyai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, sebaiknya kita sesedikit mungkin bercerita pada beliau, karena begitu masalah yang kita hadapi telah selesai, ibu masih kepikiran&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakan Mario Teguh tadi benar adanya, apalagi setelah saya merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang ibu sejak 26 tahun yang lalu. Peran seorang ibu sangat penting dalam meletakkan dasar-dasar pondasi pendidikan anak-anaknya, pada sikap dan perilaku, serta menjaga agar rumah tangga aman tenteram sedahsyat apapun badai cobaan menggulungnya. Ada pancaran kasih,  doa serta pengorbanan seorang ibu, apapun yang menjadi profesi ibu tadi. Kondisi yang semakin berubah, semakin banyaknya wanita karir, diikuti semakin dahsyatnya pengaruh globalisasi yang juga sangat berpengaruh pada perilaku anak-anak kita, semakin menunjukkan betapa peran ibu harus semakin kuat. Sebagaimana sms yang saya terima pagi ini, dari sahabat saya, yang juga seorang ibu, agar kita dapat menjadi ibu yang mampu menciptakan suasana kesejukan, sehingga ada surga di bawah telapak kaki ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat si anak masih dalam kandungan, ibu harus telah mempersiapkan diri, mendisiplinkan diri, agar anak telah menjadi disiplin sejak masih di dalam kandungan. Seorang anak tidak ingin dilahirkan, namun orangtua lah yang menginginkan kelahiran anak-anaknya, sebagai penyambung keturunan nya. Ibu yang telah mempersiapkan diri, akan lebih tenang dalam menghadapi kesulitan, baik dalam masa kehamilan, proses kelahiran, maupun merawat bayinya dengan penuh kasih sayang setelah anak lahir dengan selamat.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkembangan kepribadian dan perilaku anak, sangat ditentukan oleh bagaimana orangtua mendidiknya,   disini peran ibu sangat penting. Ibu lah yang mengandung selama 9 bulan, kemudian menyusui, serta menimang anaknya&#8230;.. selain itu juga mengajarkan anak-anaknya sejak anak bisa mengerti. Mengajarkan etika, agama, dan pelajaran lain yang akan mengembangkan pola pikir dan perilaku anak ke arah yang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Semakin anak besar, tentu saja ibu tak selalu bisa mendampingi anak-anaknya, tapi ibu yakin jalinan yang ada antara ibu dan anaknya. Ibu akan terus berdoa, dan menyerahkan anak pada Allah swt, dan semoga dijauhkan dari segala marabahaya. Dan ibu percaya, doa-doa ibu yang dipanjatkan akan menyertai perjalanan anaknya kemanapun dia berada, dan selalu menjadi penerang atas kehidupannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu akan tahu dan merasa, apakah anaknya sedang resah, dan sedang mempunyai masalah yang belum dapat diselesaikan. Ibu akan menunggu, apakah anak akan datang untuk memohon doa ibu, atau anak akan berusaha menyelesaikan sendiri. Ibu tetap akan mendoakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ibu, tolong doakan, aku mau test,&#8221; sms si bungsu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ibu, makasih doanya, tadi semua berjalan lancar,&#8221; kembali sms si bungsu. Ibu tersenyum, dan sangat senang anaknya bisa menyelesaikan pekerjaan dan tugasnya dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Semakin anak menjadi dewasa, ibu juga akan mendudukkan dirinya, untuk membuat anak mandiri, dan tidak mencampuri persoalannya tanpa diminta. Kadang anak bisa berbuat salah, tapi seorang ibu, harus bisa mengarahkan anaknya, untuk menerima akibat atas segala kesalahan yang dilakukan, dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa beratnya peran ibu, oleh karena itu menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kedewasaan, kematangan, agar ibu dapat menjalankan perannya, dan membuat keluarga bahagia atas peran ibu yang bisa menaungi seluruh anggota keluarga, dengan kelembutan, ketegasan dan kebijaksanaan nya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<strong>Selamat Hari Ibu</strong>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Semoga kita semua menjadi ibu yang baik, bijaksana, dan membuat keluarga bahagia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/1376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=1376&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2008/12/22/doa-dan-kasih-sayang-seorang-ibu-penting-dalam-mengantar-kedewasaan-anak-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktunya kita melayani dengan hati</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/06/02/waktunya-kita-melayani-dengan-hati/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2008/06/02/waktunya-kita-melayani-dengan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 05:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini kita dipusingkan oleh situasi yang tak menguntungkan, bahkan kadang membuat banyak orang memikirkan diri sendiri. Namun kalau kita percaya dan yakin, bahwa kalau kita berpikir positif, maka kita akan banyak mendapatkan manfaatnya.
 Apakah yang harus kita lakukan, agar kita memperoleh energi positif ini?
a.    Dalam keadaan terdesak atau terpaksa, maka umumnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=450&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Akhir-akhir ini kita dipusingkan oleh situasi yang tak menguntungkan, bahkan kadang membuat banyak orang memikirkan diri sendiri. Namun kalau kita percaya dan yakin, bahwa kalau kita berpikir positif, maka kita akan banyak mendapatkan manfaatnya.</p>
<p><strong> Apakah yang harus kita lakukan, agar kita memperoleh energi positif ini?</strong></p>
<p>a.    Dalam keadaan terdesak atau terpaksa, maka umumnya kreatifitas kita akan muncul</p>
<p style="text-align:justify;">Kita bisa melihat berapa banyak perusahaan yang tetap bertahan pada saat krisis ekonomi dan berapa yang gugur. Dari pengalaman di bidang restrukturisasi, ternyata yang paling menentukan apakah suatu usaha berhasil diselamatkan atau tidak adalah unsur manusianya. Apabila manajemen, pemilik dan karyawan perusahaan masih ingin berusaha, bersatu padu menyatukan langkah, berani ambil risiko, maka perusahaan akan mampu bangkit kembali. Dan untuk ini memang diperlukan pengorbanan yang besar, bahkan ada perusahaan yang karyawan dan manajemennya rela dipotong gaji, pemilik tak menerima deviden, agar uang yang ada dapat dipergunakan untuk meningkatkan modal kerjanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-450"></span>b.    Selalu berusaha mencapai yang terbaik</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita selalu berpkir untuk berusaha mendapatkan yang terbaik, seperti bekerja keras karena ingin memperoleh uang yang cukup untuk mengangsur mobil, untuk mencicil KPR, maka biasanya kita seperti memperoleh energi positif yang membuat kita kuat dan tabah untuk menghadapi segalanya. Hal inipun pernah saya alami, betapa saat anak-anak masih balita, saya bisa hanya tidur 3-4 jam, karena sepulang kantor saya harus mengurus mereka tanpa bantuan si mbak, mendongeng, dan saat anak-anak tidur barulah saya menyelesaikan tugas kantor. Jam 4 pagi sudah bangun, menyiapkan makan pagi untuk anak-anak, karena saya menginginkan mereka mendapat makanan yang sehat, sehingga nanti si mbak tinggal masak untuk masakan siangnya. Kalau saya pikir kembali, saya juga heran kenapa saya kuat menghadapi hal tersebut. Pernahkah saya pusing? Sering sekali, sepulang kantor pengin tiduran, tapi hati ini tak tega kalau tak bermain dengan anak, sehingga selalu berusaha memberikan waktu yang ada bersama mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">c.    Bersyukur atas hasil yang telah kita peroleh</p>
<p style="text-align:justify;">Kita harus selalu bersyukur atas setiap tahapan yang kita peroleh. Kita bersyukur, walaupun naik angkot, karena kita tak terpaksa menjadi penjual asongan yang kepanasan dengan hasil yang tak pasti. Namun untuk membangkitkan semangat, pandanglah orang-orang yang menikmati mobil bagus, dan ini membuat kita bekerja keras dengan harapan suatu ketika akan hidup lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">d.    Bersifat pemberi</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya kita hanya bisa menuntut hak, tapi pernahkan kita berpikir sumbangan  apa yang telah kita berikan pada perusahaan.<br />
Oleh karena itu mulailah berpikir, dengan apa ruginya kita melakukan sesuatu, karena dengan berani melakukan sesuatu maka kita akan mendapat pengalaman berharga, walaupun hasilnya tak seberapa. Namun jika kita mulai dengan apa untungnya melakukan sesuatu, maka kita tak berorientasi keluar, dan kita malah akan terkungkung karena menilai segala sesuatu dari diri kita sendiri. Kita harus mulai berpikir dari pihak orang lain yang menilai diri kita, agar kita mempunyai nilai jual yang layak.</p>
<p style="text-align:justify;">e.    Berorientasi pada keluarga</p>
<p style="text-align:justify;">Ini bukan segala sesuatu untuk mementingkan keluarga, tapi dibalik, apapun yang kita lakukan ingatlah apa akibatnya untuk keluarga kita. Kalau kita salah langkah maka rasa malu juga akan mengenai seluruh keluarga, demikian juga jika kita berbuat baik, maka keluarga akan ikut merasa senang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana kita dapat melayani dengan hati?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Coba anda bayangkan, anda berada di suatu perusahaan. Anda akan melihat ada orang yang bekerja dengan rajin, tak sekedar hanya pergi pagi pulang sore, namun dia tak sungkan atau tak pelit menyumbangkan ide pada atasan, tanpa memikirkan atasan akan menggunakan ide tadi untuk mendapatkan nilai dari atasannya lagi. Apa akibatnya, pada saat situasi tak menguntungkan dan perusahaan harus memangkas karyawannya agar bertahan hidup, maka karywan yang rajin tadi akan tetap dipakai oleh perusahaannya, karena atasan merasa bahwa karyawan tsb banyak memberikan sumbangan pada perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika anda sebagai bos? Jika sebagai bos, maka anda harus berani bertindak dan jangan takut gagal, karena jika takut gagal sama saja tak akan melakukan apa-apa. Bagaimana kita tahu akan mengalami kegagalan, jika belum pernah mencoba, tentu saja, sebelum melakukan tindakan, semua harus telah diperhitungkan dulu, dan seberapa jauh kita berani mengambil risiko.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/450/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/450/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/450/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=450&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2008/06/02/waktunya-kita-melayani-dengan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah anda puas dengan pekerjaan yang ada sekarang?</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/05/22/apakah-anda-puas-dengan-pekerjaan-yang-ada-sekarang/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2008/05/22/apakah-anda-puas-dengan-pekerjaan-yang-ada-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 00:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Seringkah kita menanyakan pada diri sendiri, apakah sebetulnya kita telah cukup puas dengan pekerjaan dan karir yang telah kita capai sekarang? Dan dukungan apakah yang diperlukan agar dapat mencapai kinerja yang lebih baik? Apakah sebenarnya yang kita inginkan?
Apa yang diinginkan oleh seorang pekerja?
Pada umumnya, yang diinginkan oleh seorang pekerja, adalah:
a.  Gaji bagus
b.  Keamanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=431&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Seringkah kita menanyakan pada diri sendiri, apakah sebetulnya kita telah cukup puas dengan pekerjaan dan karir yang telah kita capai sekarang? Dan dukungan apakah yang diperlukan agar dapat mencapai kinerja yang lebih baik? Apakah sebenarnya yang kita inginkan?</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-431"></span><strong>Apa yang diinginkan oleh seorang pekerja?</strong><br />
Pada umumnya, yang diinginkan oleh seorang pekerja, adalah:<br />
a.  Gaji bagus<br />
b.  Keamanan daam bekerja<br />
c.  Promosi terjamin<br />
d.  Kondisi/lingkungan kerja yang bagus<br />
e.  Pekerjaan menarik<br />
f.   Manajemen yang loyal<br />
g.  Disiplin yang tegas<br />
h.  Apresiasi yang cukup<br />
i.   Memperoleh bantuan jika mendapat masalah pribadi<br />
j.   Perasaan dilibatkan</p>
<p>Apakah yang anda rasakan dalam melakukan pekerjaan sekarang? <em>Rewards</em> apakah yang telah anda terima terkait dengan pekerjaan anda? Apakah <em>reward </em>yang anda peroleh mendorong anda untuk meningkatkan kinerja?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ada perbedaan persepsi antara Manajer dan pekerja</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Ternyata dari hasil survey yang pernah dilakukan pada salah satu perusahaan, terdapat persepsi yang berbeda antara manajer dan pekerja, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://edratna.files.wordpress.com/2008/05/tabel-persepsi-manajer-dan-pekerja1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-433" src="http://edratna.files.wordpress.com/2008/05/tabel-persepsi-manajer-dan-pekerja1.jpg?w=300&#038;h=107" alt="Tabel persepsi manajer dan pekerja" width="300" height="107" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kemungkinan hasil survei ini akan berbeda terhadap perusahaan berbeda, dan sebetulnya sangat menarik untuk mengetahui perbedaan persepsi tersebut.Tentu saja anda tak dapat mengharapkan orang lain untuk memahami anda, tanpa anda sendiri berusaha untuk mengembangkan diri anda. Dari data di atas terlihat tak ada satupun yang <em>match</em> antara persepsi pekerja dan persepsi manajer, padahal para manajer adalah sebetulnya juga seorang pekerja pada perusahaan yang sama, hanya berbeda posisinya. Hal ini pernah saya rasakan sendiri, saat hanya sebagai seorang pekerja, yang hanya bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri, maka hasil kerja saya hanya dipengaruhi oleh kualitas saya sendiri, namun hal ini berbeda pada saat saya telah menjadi seorang manajer, bahkan pada saat memimpin jabatan yang lebih tinggi. Komentar seorang teman.”Iya mbak, saat saya menjadi instruktur, saya bisa mendapatkan kinerja istimewa, namun begitu saya masuk jenjang struktural, membawahi anak buah, maka kinerja saya sangat ditentukan oleh gabungan dari kinerja bawahanku,” kata temanku. Inilah mestinya yang harus disadari oleh kita semua, bahwa sebetulnya antara atasan, dan bawahan harus bekerja sama…..karena target ditentukan oleh bagaimana kerjasama dari unit tersebut untuk mencapai sasaran yang telah di<em> break down</em> dari strategi bisnis perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana cara memotivasi diri sendiri?</strong></p>
<p>Ada beberapa cara untuk memotivasi diri sendiri, antara lain:<br />
-    Kembangkan pekerjaan anda<br />
-    Cari cara yang dapat membantu anda mencapai target<br />
-    Minta<em> feed back </em>secara regular<br />
-    Apresiasi dan pujian tergantung apa yang kita kerjakan<br />
-    Tumbuhkan rasa saling memiliki dan sinergi dalam tim<br />
-    Aspirasikan keinginan anda<br />
-    Pengakuan kinerja tidak selalu harus dalam bentuk finansial<br />
-    Cari contoh yang baik untuk meningkatkan motivasi anda<br />
-    Libatkan diri anda dalam suatu pekerjaan yang meaningful<br />
-    Tunjukkan kepercayaan dan keterbukaan</p>
<p><em>Empower your self</em>, bisa dilakukan dengan: a)    Berpikir, b) Mengambil keputusan, c) dan     Bertindak,yang berguna bagi diri sendiri dan organisasi. Sedangkan elemen dari <em>empowerment</em>, antara lain: a) Laksanakan tanggung jawab, b) Ciptakan kepercayaan, c) Terus belajar dan berlatih, d) Kembangkan dukungan</p>
<p>Untuk melaksanakan tanggung jawab, maka anda harus melakukan:<br />
-    Susun rencana dan jadual kerja<br />
-    Lakukan presentasi<br />
-    Tetapkan jadual liburan<br />
-    Tetapkan tahap dan langkah kerja<br />
-    Atur target</p>
<p>Untuk menciptakan kepercayaan, antara lain bisa dilakukan dengan:</p>
<ul>
<li> Kredibel, konsisten, dapat diandalkan</li>
<li> Mau mengakui kesalahan</li>
<li> Terbuka dan mau mendengar</li>
<li> Mau berbagi informasi</li>
<li> Minta <em>feed back</em></li>
</ul>
<p>Mengembangkan dukungan dapat dilakukan, antara lain dengan: 1)    Bertanya dan mendengar, 2)    Berpikir menantang dan ide yang <em>stretching</em>, 3) Minta <em>feed back</em> yang membangun, 4)    Capai tujuan yang <em>stretching</em>, 4) Lakukan konsultasi</p>
<p><strong>Komitmen pada tujuan dan standar</strong></p>
<p>Agar tujuan anda terarah, maka anda perlu menetapkan tujuan, standar pencapaian, serta langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan.</p>
<p>Manfaat <em>goal setting</em><br />
-    Mengetahui apa yang diperlukan untuk mencapai<em> goals</em><br />
-    Meningkatkan tanggung jawab dan rasa memiliki<br />
-    Cepat mendapat <em>feed back</em><br />
-    Memberi kepuasan personal jika tercapai<br />
-    Lebih fokus sehingga meminimalisir penyimpangan target</p>
<p><em>Goals</em> harus selaras dengan organisasi<br />
Tujuan strategis&#8212;&#8212;Rencana organisasi&#8212;&#8211;Tujuan Departemen&#8212;&#8212;-<em>Goal </em>individu</p>
<p>Karakteristik <em>goals </em>yang efektif, antara lain:<br />
-    Terkait dengan prioritas organisasi<br />
-    Terkait dengan hasil, bukan kegiatan<br />
-    Dapat diukur dan spesifik<br />
-    Menantang tapi dapat dicapai<br />
-    Berdasar pengalaman dan kemampuan<br />
-    <em>Updated</em><br />
-    Terbatas pada hal penting</p>
<p>Sedangkan<em> goals </em>Pengembangan Diri Sendiri, adalah:<br />
Tujuan yang fokus pada pengembangan ketrampilan untuk persiapan tugas dan kesempatan mendatang<br />
-    Proyek pelatihan<br />
-    Penugasan pengembangan ketrampilan dan kemampuan<br />
-    Kursus dari internal atau eksternal perusahaan<br />
-    Kegiatan di luar kerja yang membantu pengembangan<br />
-    Kegiatan belajar sendiri</p>
<p>Dari paparan di atas sudah sewajarnya para pekerja membuat rencana pengembangan diri, agar sesuai dengan tujuan perusahaan, dan pada akhirnya akan meningkatkan apresiasi pada diri sendiri. Bagaimana jika anda benar-benar tidak puas dan merasa tidak krasan? Jika anda masih bekerja di perusahaan tersebut, lupakan keluh kesah anda, dan mulailah kerja keras, karena keluhan anda akan menambah situasi menjadi makin tidak nyaman. Bila memang anda dapat diandalkan dan mempunyai kemampuan, serta tidak krasan, jalan terbaik adalah keluar dari perusahaan dan mulai bekerja ditempat lain, atau mulai berpikir untuk mulai berusaha sendiri.</p>
<p><strong>Sumber data:</strong></p>
<p>Disusun dari berbagai sumber, dan dari bahan pelatihan</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/431/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/431/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/431/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=431&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2008/05/22/apakah-anda-puas-dengan-pekerjaan-yang-ada-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://edratna.files.wordpress.com/2008/05/tabel-persepsi-manajer-dan-pekerja1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tabel persepsi manajer dan pekerja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlu &#8220;konsep yang matang&#8221; dalam suatu lomba</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/04/27/perlu-konsep-yang-matang-dalam-suatu-lomba/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2008/04/27/perlu-konsep-yang-matang-dalam-suatu-lomba/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 06:37:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu yang lalu, temanku dari luar kota sms, dia lagi mengantar putranya ikut lomba debat bahasa Inggris yang diadakan oleh ALSA di Fakultas Hukum UI. Lomba debat ini diikuti oleh pelajar SMA sampai dengan mahasiswa. Wahh menarik nih&#8230;..jadi saya dan anak sulungku berencana mengikuti acara pada hari Sabtu, untuk melihat dari dekat seperti apa lomba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=409&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seminggu yang lalu, temanku dari luar kota sms, dia lagi mengantar putranya ikut lomba debat bahasa Inggris yang diadakan oleh ALSA di Fakultas Hukum UI. Lomba debat ini diikuti oleh pelajar SMA sampai dengan mahasiswa. Wahh menarik nih&#8230;..jadi saya dan anak sulungku berencana mengikuti acara pada hari Sabtu, untuk melihat dari dekat seperti apa lomba tersebut diadakan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-409"></span>Peserta lomba dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Mereka telah dibekali panduan secara umum, apa yang area yang akan ditanyakan, meliputi berbagai bidang, antara lain: Biologi, <em>science,</em> politik, kesehatan, masalah sosial dan ilmu-ilmu lain.  Kelompok dibagi dua, ada kelompok yang menyajikan secara <em>affirmative</em> (kelompok yang mempresentasikan topik dari sisi positifnya, artinya setuju dengan pendapat yang dikemukakan dalam topik tersebut), dan kelompok satunya berperan sebagai penyanggah. Saya datang sudah siang, sehingga hanya sempat datang di auditorium Prof. Djoko Sutono SH, melihat kesimpulan diskusi yang telah berjalan, melihat berapa kali sebuah kelompok menang dan berapa kali kalah, serta marginnya berapa. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti debat tentang ”apakah kaum <em>minority</em> perlu diberikan <em>quota</em>”&#8230;kebetulan kelompok putra temanku mendapat giliran yang bersikap sebagai negatif. Topik ini baru diberikan 15 menit sebelum acara debat dimulai, masing-masing orang dalam kelompok harus memberikan presentasinya, dan setelah kedua kelompok selesai presentasi, masing-masing juru bicara menanggapai presentasi kelompok lawan. Dalam setiap presentasi diberikan kebebasan apakah bersedia menjawab pertanyaan kelompok lawan atau tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari perdebatan ini saya melihat, bahwa untuk bisa berhasil dalam lomba debat bahasa Inggris, tak sekedar harus pandai berbahasa Inggris, tetapi harus bisa menuliskan pendapatnya dalam konsep yang jelas, berwawasan luas (karena topiknya luas), bisa mempresentasikan dengan meyakinkan, tidak emosional serta dapat menjawab sanggahan kelompok lawan dengan baik. Hasil kompetisi ini, kelompok putra temanku menang, kemudian  akan dilanjutkan besok pagi. Kami bersama-sama makan di cafe, sekaligus mendiskusikan apa yang harus dipersiapkan malam itu, karena temanku beserta putranya tidur di wisma Makara (wisma milik UI), maka kami mengantarkan untuk melihat tempat-tempat dimana bisa mengunjungi warnet dari lokasi terdekat. Mereka harus mencari bahan dari internet, mempersiapkannya, karena yang diberikan panitia hanya panduan umum, dan topik yang akan diperdebatkan, baru diberikan sesaat sebelum dilakukan debat, dengan demikian wawasan harus luas, dan saya salut pada anak-anak muda ini, yang umurnya masih 15 tahun, tapi semangatnya sangat tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami juga membahas penyebab kekalahan kelompok lain, yang sesuai penjelasn juri, karena konsepnya kurang tepat, sehingga saat dipresentasikan banyak celahnya. Keesokan harinya, saya tak bisa ikut mendampingi, dan saat malam hari teman saya sms bahwa mereka gagal untuk masuk final, karena lawannya memang canggih, dan dalam setiap presentasi sejak 3 hari berturut-turut tak pernah kalah. Saya menanggapi, bahwa putranya sudah berjuang, masih ada kesempatan lain kali, dengan persiapan yang lebih matang. Saya ingat yang diucapkan salah seorang panitia&#8230;”Bu, anak-anak sekarang hebat, saya baru berani berdebat saat mahasiswa, tapi anak-anak ini dengan umur yang masih muda, sudah melakukan hal yang dulu tak berani saya lakukan” Melihat lomba debat ini, juga kegiatan anak-anak muda lain, saya masih berharap, bahwa sebetulnya anak Indonesia banyak yang cerdas dan berwawasan luas, tinggal bagaimana para pendidik, instansi terkait serta orangtua mempersiapkan mereka agar menjadi orang-orang yang berguna bagi nusa bangsa nantinya.Buat temanku, terimakasih telah mengajakku melihat acara ini, sehingga saya mempunyai pengalaman yang mencerahkan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/409/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/409/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/409/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=409&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2008/04/27/perlu-konsep-yang-matang-dalam-suatu-lomba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pernahkan merasa kawatir disaingi junior?</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2008/03/10/pernahkan-merasa-kawatir-disaingi-junior/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2008/03/10/pernahkan-merasa-kawatir-disaingi-junior/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Mar 2008 22:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan ini jika ditanyakan langsung kepada orang yang dituju, jawabannya pasti &#8220;tidak&#8221;. Namun jika kita telah mengenal dekat dengan orang tersebut, dan ngomongnya sambil berbisik-bisik, jawabannya bisa berubah&#8230;&#8221;Iya, saya kawatir&#8221;&#8230;jawaban yang masuk akal. Mungkin sayapun akan merasa seperti itu, jika ada junior yang begitu hebat, begitu pandai, dan pintar menampilkan citra diri yang bagus dihadapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=366&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pertanyaan ini jika ditanyakan langsung kepada orang yang dituju, jawabannya pasti &#8220;tidak&#8221;. Namun jika kita telah mengenal dekat dengan orang tersebut, dan ngomongnya sambil berbisik-bisik, jawabannya bisa berubah&#8230;&#8221;Iya, saya kawatir&#8221;&#8230;jawaban yang masuk akal. Mungkin sayapun akan merasa seperti itu, jika ada <i>junior</i> yang begitu hebat, begitu pandai, dan pintar menampilkan citra diri yang bagus dihadapan bos.</p>
<p><span id="more-366"></span>Mestikah kita punya kekawatiran seperti itu? Dan jika ya, apa  yang akan kita perbuat? Berusaha menekan <i>junior</i>, agar dia tak krasan dan tak bisa memunculkan kreativitasnya? Sebelum berpikir yang tidak-tidak, marilah kita kaji baik buruknya langkah yang akan kita ambil.</p>
<p><b>1. Buatlah sebagai tantangan</b></p>
<p>Adalah wajar, karena tingkat persaingan yang tinggi, perusahaan akan memilih orang berdasarkan kompetensi dan bukan berdasarkan senioritas. Wajah baru, dengan tingkat pendidikan yang baik, memancarkan energi baru, penuh semangat, tak terlalu memikirkan besarnya gaji karena rata-rata masih bujangan. Karyawan baru juga belum mempunyai stres yang tinggi, sanggup bekerja 15 jam per hari, melembur tanpa mengeluh, karena mereka juga ingin menyerap ilmu di dunia kerja sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Kondisi ini akan menarik minat atasan, karena mereka lebih muda, energik, tak pernah menolak disuruh apapun, apalagi jika mereka pandai berkomunikasi karena selama masa kuliah juga aktif diberbagai organisasi. Lengkaplah sudah, kemampuan para tenaga baru ini dibandingkan dengan para <i>senior</i>, yang sudah merasa jenuh, kadang ide pun buntu, dan telah digandoli anak-anak yang pada saat-saat tertentu juga merepotkan. Namun sebaiknya karyawan <i>senior</i>  jangan menganggap karyawan baru sebagai saingan, karena akan membuat kesan dimata bos makin buruk. Sebaiknya karyawan <i>senior</i> harus tetap aktif, semakin kreatif, berinisiatif, karena tanpa disadari energi positif yang dibawa karyawan baru akan mudah menular, jika kita mau menerima mereka dengan sepenuh hati.</p>
<p><b>2.Karyawan<i> senior</i> tetap mempunyai kelebihan</b></p>
<p>Apakah kinerja karyawan <i>senior</i> selalu lebih rendah dibanding karyawan baru? Jawabannya &#8220;tidak&#8221;. Mengapa? Karyawan yang sudah <i>senior</i> mempunyai kemampuan lebih dibidang tertentu, antara lain: manajemen,<i> leadership</i>, lebih fokus, dan lebih bijaksana. Sedangkan dibalik kelebihan yang dimiliki, karyawan baru memiliki kelemahan, antara lain;<i> net working</i>, belum bisa melakukan solusi yang tepat jika terjadi masalah, serta emosi yang belum stabil. Jadi, sebaiknya tak terjadi pertentangan, sebagai karyawan yang lebih <i>senior</i>, saatnya untuk menunjukkan pada atasan bahwa mereka bisa diandalkan, dan mempunyai nilai untuk perusahaan.</p>
<p>Seorang atasan yang baik, akan menggunakan karyawan <i>senior </i>sebagai mentor untuk melatih <i>junior</i> agar segera menyesuaikan diri  bekerja mengejar  target perusahaan. <i>Senior</i> dapat digunakan untuk membantu <i>junior</i> menggali potensinya, membentuk karakter dan kepribadian, sehingga sesuai dengan budaya perusahaan. Saat menjadi mentor, karyawan <i>senior</i> dapat menunjukkan pengalaman dan keahliannya, sehingga <i>junior</i> nantinya akan menilai karyawan <i>senior</i> tadi sebagai salah satu panutan dalam menggapai karir yang lebih baik.</p>
<p><b>3. Tujuan utama adalah meningkatkan kreativitas </b></p>
<p><b></b>Yang perlu disadari adalah, masing-masing karyawan mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Bagaimana caranya, agar manajemen membuat situasi dan kondisi lingkungan yang kondusif, agar baik karyawan <i>senior</i> maupun <i>junior</i>,  bisa bekerjasama dengan baik, untuk mencapai tujuan perusahaan jangka panjang.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/366/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/366/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/366/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=366&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2008/03/10/pernahkan-merasa-kawatir-disaingi-junior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan sungkan memberi ide pada atasan</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2007/12/14/jangan-sungkan-memberi-ide-pada-atasan/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2007/12/14/jangan-sungkan-memberi-ide-pada-atasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 23:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/2007/12/14/jangan-sungkan-memberi-ide-pada-atasan/</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat masih menjadi bawahan, sering seseorang takut memberi ide atau masukan kepada atasan, kawatir kalau masukannya tidak atau kurang berkualitas, dan atasan tak bisa menerima ide bawahan tersebut.
Perubahan kondisi saat ini, yang hubungan antara atasan dan bawahan tak dipisahkan oleh gap yang lebar, ide bawahan sangat bermanfaat untuk didengarkan. Tingkat pendidikan rata-rata staf yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=317&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada saat masih menjadi bawahan, sering seseorang takut memberi ide atau masukan kepada atasan, kawatir kalau masukannya tidak atau kurang berkualitas, dan atasan tak bisa menerima ide bawahan tersebut.</p>
<p><span id="more-317"></span>Perubahan kondisi saat ini, yang hubungan antara atasan dan bawahan tak dipisahkan oleh <em>gap</em> yang lebar, ide bawahan sangat bermanfaat untuk didengarkan. Tingkat pendidikan rata-rata staf yang tinggi saat masuk perusahaan, serta budaya ewuh pakewuh mulai berkurang, maka staf lebih berani menyatakan pendapat. Kadang-kadang ide seorang staf tak terduga, dan tak terpikirkan sebelumnya. Bagaimana agar para atasan atau bawahan membuat situasi yang kondusif, agar ide-ide yang bernas bermunculan, tanpa ada keraguan sedikitpun bagi pemilik ide untuk mengucapkannya, saya akan mencoba <em>sharing</em> pengalaman di bawah ini.</p>
<p>Saat saya masih seorang staf, saya mempunyai atasan (<em>General Manager</em>) yang  seminggu sekali mengadakan acara <em>brainstorming</em> di ruang rapat. Disini para staf, <em>asisten</em> <em>manager</em>, dan <em>manager</em> bebas mengemukakan ide apa saja. Karena situasi yang mendukung, secara tak sadar, saya menjadi berani melontarkan ide. Ide yang dilontarkan, kadang diserang oleh teman lainnya, dan pemilik ide tentu saja akan mempertahankan dengan berbagai argumentasi.</p>
<p>Bagaimana dengan pak GM sendiri? Beliau hanya mendengarkan berbagai debat kusir, yang kadang kemana-mana, tapi pada akhir acara, beliau dengan tenangnya mengambil kesimpulan hasil diskusi tadi, serta mencatat ada beberapa ide yang dilontarkan. Disitu beliau juga meminta, ide yang masih banyak pertanyaan, agar di <em>explore</em> lebih lanjut, siapa tahu nantinya akan berguna.</p>
<p>Begitulah hari-hari di awal karirku&#8230;.dan perdebatan di ruang rapat sering terlupakan begitu saja. Suatu ketika bos mendekati saya, dan mengatakan&#8230;&#8221;Idemu tentang X bagus, bagaimana jika anda buat <em>paper </em>tentang hal tersebut, serta langkah-langkah apa yang harus kita buat, agar ide itu dapat dilaksanakan,&#8221; kata beliau. Saya pucat pasi, obrolan yang membuat saya dengan mudah melontarkan ide, ternyata menjadi pemikiran beliau. Terpaksa saya mencari referensi, bertanya kiri kanan, ke unit kerja lain, juga mencari bahan-bahan di perpustakaan. Setelah <em>paper</em> selesai dibuat dan saya serahkan kepada beliau, saya menunggu dengan hati berdebar&#8230;.rasanya malu sekali, dan ingin kepala ini disembunyikan kemana.</p>
<p>Malamnya saya tak bisa tidur, besok pagi-pagi sekali saya sudah dipanggil  ke ruang kerja beliau, diajak diskusi tentang <em>paper</em> saya. Saya melongo, ternyata ide saya yang begitu sederhana, dan diperbaiki beliau, akhirnya menjadi dasar untuk perbaikan kebijakan yang selama ini telah berjalan. Beliau sendiri mendapatkan apresiasi dari <em>Board of Director</em>.</p>
<p>Bagaimana dengan teman-teman lain? Sejalan dengan pengetahuan saya yang makin berkembang, ternyata teman-teman mendapatkan kesempatan yang sama, dan dari perkembangannya saya melihat bos melakukan pendekatan secara <em>personal</em> pada masing-masing orang. Ada orang yang akhirnya dipindahkan ke bidang operasional karena beliau menganggap teman tersebut memang cocok di operasional, ada juga yang terus di bagian kebijakan, serta tetap di kantor Pusat.</p>
<p>Pelajaran dari bos tadi, akhirnya saya kembangkan setelah saya mendapat kesempatan memimpin unit kerja, dan ternyata pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Jadi, berbahagia lah mempunyai staf yang pandai-pandai, tapi anda harus siap juga bahwa staf tersebut juga pandai mengkritik anda. Kritikan akan menjadi makanan sehari-hari, justru inilah yang membuat situasi menjadi dinamis, hidup, dan orang bebas ber argumentasi, tapi memang ada etikanya&#8230;argumentasinya dilakukan di ruang rapat, dan apapun perdebatan yang telah dilakukan di ruang rapat, tak boleh dimasukkan ke hati, dan harus tetap menjadi teman yang baik setelah keluar dari ruang rapat.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/317/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/317/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=317&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2007/12/14/jangan-sungkan-memberi-ide-pada-atasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlunya menjadi seorang pemimpin yang bersifat melayani</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2007/10/13/perlunya-menjadi-seorang-pemimpin-yang-bersifat-melayani/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2007/10/13/perlunya-menjadi-seorang-pemimpin-yang-bersifat-melayani/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Oct 2007 06:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/2007/10/13/perlunya-menjadi-seorang-pemimpin-yang-bersifat-melayani/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak pelatihan tentang service excellence yang diberikan kepada para karyawan perusahaan, namun mengapa budaya melayani belum juga memuaskan? Dimana letak kesalahannya? Kita menyadari perlunya budaya melayani ini, karena jika karyawan bisa melakukan pelayanan melebihi ekspektasi pelanggan, kemungkinan pindahnya pelanggan ke perusahaan lain bisa ditekan. Anda bisa melihat, bagaimana pelanggan tetap memilih penerbangan menggunakan Singapore Airlines [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=262&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Banyak pelatihan tentang <em>service excellence</em> yang diberikan kepada para karyawan perusahaan, namun mengapa budaya melayani belum juga memuaskan? Dimana letak kesalahannya? Kita menyadari perlunya budaya melayani ini, karena jika karyawan bisa melakukan pelayanan melebihi ekspektasi pelanggan, kemungkinan pindahnya pelanggan ke perusahaan lain bisa ditekan. Anda bisa melihat, bagaimana pelanggan tetap memilih penerbangan menggunakan <em>Singapore Airlines</em> (SA), walaupun tiketnya lebih mahal serta tak ada diskon, antara lain adalah karena SA sangat dikenal dengan profesionalisme nya serta pelayanannya.</p>
<p><span id="more-262"></span>Persaingan bisnis membuat pemimpin perusahaan harus membuat rencana atau bahkan me <em>review</em> rencana bisnis nya, agar sesuai dengan tuntutan eksternal, yang akan membawa perusahaan dapat bertahan, dan tumbuh serta berkembang. Agar bisa menggerakkan karyawan, diperlukan kepemimpinan yang kuat, yang mampu memberi contoh perilaku, agar karyawan mempunyai panutan untuk bertindak.</p>
<p>Lantu, D.C (2007) pada tulisannya di Bisnis Indonesia, menjelaskan bahwa <em>Peter Drucker</em> dan <em>Jack Welch</em> meyakini , faktor utama daya saing perusahaan agar dapat bertahan hidup dan unggul adalah pada pengembangan modal insani (<em>human capital</em>). Perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu melipatgandakan kompetensinya melalui sinergi dengan dukungan teknologi, sistem dan organisasi, sesuai dengan perkembangan lingkungan bisnis global maupun lokal.</p>
<p><strong>Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan yang melayani?</strong></p>
<p>Lantu selanjutnya menjelaskan bahwa kepemimpinan yang melayani fokus pada pengembangan para pengikutnya. Pemimpin menjadikan hal itu sebagai prioritas utama dihidupnya dalam mencapai makna dan panggilan hidupnya. Dengan begitu pemimpin secara tidak langsung akan membantu perusahaan menjadi sukses dan berkelanjutan. Mengapa? Dengan mengembangkan karyawan, akan membantu mereka menjadi individu yang dewasa dan profesional, sehingga mampu menjalankan pekerjaannya secara lebih baik.</p>
<p>Akibatnya perusahaan dapat memperoleh hati karyawan, yang selanjutnya akan memberikan upaya terbaik dan melayani konsumen dengan sepenuh hati, seolah-olah mereka adalah pemilik perusahaan. Karyawan berusaha memajukan perusahaan karena telah tercipta ikatan yang kuat antara karyawan dan pimpinan perusahaan sehingga terbentuk budaya kerja yang mengutamakan pada pelayanan. Nilai tambah tercipta melalui hadirnya produk-produk yang inovatif, efisiensi kerja, produktivitas, dan keramahan dalam memberikan solusi pemecahan masalah pelanggan.</p>
<p>Selanjutnya Lantu menjelaskan, kaderisasi puncak akan terus tercipta melalui promosi yang dilakukan secara vertikal, dari sumber internal. Hal ini selanjutnya sesuai dengan yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantoro, bahwa seorang pemimpin harus mendorong, mendukung, dan memberikan kesempatan kepada para pengikutnya, agar dapat menjadi individu yang lebih baik (Tut Wuri Handayani).</p>
<p><strong>Apakah kepemimpinan  yang melayani dapat diterapkan di Indonesia?</strong></p>
<p>Bagi bangsa Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dan umumnya bersifat <em>patriarchal</em>, maka contoh perilaku yang diberikan oleh Pemimpin akan langsung diikuti oleh bawahannya. Kondisi ini memudahkan dorongan untuk menggalakkan budaya melayani, namun dalam praktek sehari-hari perlu contoh pelaksanaan terutama dimulai oleh para pemimpin, dan di monitor.</p>
<p>Agar  budaya melayani bisa berlangsung terus menerus, pada awalnya diperlukan untuk membentuk <em>change agent</em>, yang terdiri dari para wakil karyawan di unit kerjanya masing-masing. Penggalakan budaya melayani dilakukan secara terus menerus, disepakati garis besarnya secara tertulis, dilakukan dalam bentuk contoh nyata dalam sikap dan perilaku, dan dimonitor pelaksanaannya setiap hari. <em>Change agent</em> mencatat apa yang masih kurang, apa kendalanya, serta mencoba mencari akar permasalahannya dari karyawan di unit kerja tersebut. Pemimpin berusaha memahami perilaku karyawan, mengenal baik karakter masing-masing individu yang merupakan tanggung jawabnya langsung, mendorong mereka menjadi orang yang mengutamakan pelayanan kepada pelanggan, yang akan memberikan kesan positif bagi perusahaan maupun bagi karyawan itu sendiri sebagai individu.</p>
<p>Monitoring budaya melayani bisa dilakukan melalui kuestioner, <em>mistery calls</em>, untuk melakukan pengecekan apakah budaya melayani pelanggan telah dilakukan secara benar dilapangan.</p>
<p>Bagaimana cara pemimpin melayani? Pemimpin yang melayani akan berusaha memahami kebutuhan karyawan dibawahnya, mendorongnya untuk bekerja agar target bisnis perusahaan tercapai, memberikan solusi jika terdapat permasalahan yang tak dapat diselesaikan oleh karyawan dibawahnya, memberi tambahan kemampuan/pengetahuan melalui pelatihan, mempromosikan bilamana telah sesuai dengan kompetensinya, dan pada saatnya nanti karyawan yang telah menjadi pemimpin, akan meneruskan budaya melayani, dan menjadi pemimpin yang melayani di organisasi dan perusahaan.</p>
<p><strong>Bahan bacaan:</strong></p>
<ol>
<li>Lantu, Donald Crestofel. &#8220;Kepemimpinan yang melayani&#8221;. Dosen, Peneliti, Penulis buku Kepemimpinan SBM-ITB. Bisnis Indonesia, Jakarta, 8 Oktober 2007 hal.7</li>
<li>Dari berbagai sumber, dan pengalaman pribadi penulis.</li>
</ol>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/262/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/262/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=262&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2007/10/13/perlunya-menjadi-seorang-pemimpin-yang-bersifat-melayani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana agar tak kehabisan energi?</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2007/08/16/bagaimana-agar-tak-kehabisan-energi/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2007/08/16/bagaimana-agar-tak-kehabisan-energi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 23:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/2007/08/16/bagaimana-agar-tak-kehabisan-energi/</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkan anda memperhatikan lingkungan kita sehari-hari, ada orang yang rasanya tak kenal lelah, ada orang yang dapat menimbulkan motivasi bagi orang disekelilingnya, namun juga ada orang yang selalu tenang, bahkan dalam kondisi panik sekalipun. Manusia memang unik, dan tak ada satupun yang mempunyai sifat sama.
Orang yang penuh energi akan selalu bergerak, dan energi orang tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=163&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pernahkan anda memperhatikan lingkungan kita sehari-hari, ada orang yang rasanya tak kenal lelah, ada orang yang dapat menimbulkan motivasi bagi orang disekelilingnya, namun juga ada orang yang selalu tenang, bahkan dalam kondisi panik sekalipun. Manusia memang unik, dan tak ada satupun yang mempunyai sifat sama.</p>
<p><span id="more-163"></span>Orang yang penuh energi akan selalu bergerak, dan energi orang tersebut ibarat mata air yang memancar deras. Pada tulisan ini saya ingin membahas, bagaimana agar kita tak kehabisan energi, selalu bahagia, penuh semangat juang, yang saya peroleh dari pengamatan sehari-hari, serta obrolan ringan dengan teman.</p>
<p>a. Bahagia harus di buat.</p>
<p>Sering kita merasa sendiri, tidak nyaman, dan gamang. Bahagiakah saya? Mengapa teman-teman kelihatannya lebih enak? Mengapa sih kok kamu kayaknya senang terus, dan tak pernah terlihat stres? Begitulah sering pertanyaan-pertanyaan ditujukan pada orang-orang yang terlihat selalu bahagia.</p>
<p>Padahal sebenarnya kebahagiaan itu ada pada diri sendiri. Jika kita hari ini baru melangkah sedikit, maka sebenarnya kita telah melakukan sesuatu. Dan bukankah setiap kali naik tangga harus diawali dari tangga terbawah? Maka sebenarnya kehidupan berjenjang, dan kadang kita harus berhenti mengatur nafas, menata kembali nafas dan langkah kita, untuk kemudian meneruskan perjalanan. Sampaikah kita di ujung tangga paling atas? Tentu jawaban ada pada diri kita sendiri. Bayangkan anda naik tangga makin tinggi, tentu angin makin kencang, dan kemungkinan anda akan lelah sebelum sampai di ujung tangga paling atas. Yang paling baik adalah nikmati setiap langkah, resapi apa yang kita temukan pada setiap langkah tersebut, nanti akan terlihat betapa menariknya apa yang telah kita lakukan.</p>
<p>Saya pernah mendapat pelatihan, dan diantara pelatihan tersebut antara lain mendapat ceramah dari seorang psikiater. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya kita bisa mengetahui potensi diri, kelemahan kita, dan apa langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan, yang berbeda antara satu dan lain orang. Beliau juga mengatakan, bahwa diskusi dengan seorang psikiater, bukan karena kita sakit, tetapi seorang psikiater adalah seorang dokter yang kemudian melanjutkan keahlian di bidang kejiwaan manusia, jadi tak ada salahnya berdiskusi dengan seorang psikiater, agar dapat memahami diri sendiri, untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.</p>
<p>Akhirnya saya dan seorang teman sesama wanita mengunjungi &#8220;psikiater&#8221; tersebut di tempat prakteknya, kebetulan saat itu kami lagi berada di ujung kejenuhan, maklum sebagai wanita karir, kadang kita merasa lelah, dan pada saat di ujung persimpangan bingung mau memilih ke arah mana jalan yang akan ditempuh. Saya ikut juga testnya (saya lupa alamatnya, tapi disekitar jl. Kelapa Gading). Beliau menjelaskan bahwa manusia tidak selalu mempunyai kemampuan untuk menilai diri sendiri. Test ini untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan diri kita masing-masing, kami diminta mengisi test yang kemudian dinilai.</p>
<p>Apa yang paling berkesan pada saya? Dokter tersebut mengatakan: &#8220;Anda sudah benar dalam melangkah, tapi coba berikan waktu untuk merenung sebelum tidur. Pusatkan pikiran apa yang telah anda lakukan hari ini, bagaimana sikap anda pada suami, anak, juga anak buah? Dengan demikian anda akan introspeksi dan tak mngulangi kesalahan yang sama keesokan harinya. Jika anda secara rutin melakukan hal ini, saya yakin anda akan dapat menyeimbangkan kehidupan berumah tangga dan karir.&#8221;</p>
<p>Sederhana kan? Tapi setelah dijalankan efeknya sangat besar. Saya merasa berkaca pada diri sendiri, dan terlihat betapa seringnya saya melakukan kesalahan. Dan sering niat untuk tak mengulangi kesalahan, terjadi lagi keesokan harinya, begitu berulang-ulang, dan sempat membuat saya agak stres juga. Namun kemudian saya teringat pada ucapan mantan Dirut saya, beliau mengatakan:&#8221; Sebagai muslim, kita mempunyai kewajiban untuk sholat 5 kali sehari. Sebenarnya sholat Subuh adalah sekaligus memohon agar kita dilindungi dari kesalahan kita selama bekerja. Namun karena kita manusia, kita bisa melakukan kesalahan, maka pada saat sholat Dhuhur, kita bisa bertobat untuk memohon ampunan. Jika kita mengulangi lagi kesalahan, masih ada sholat Asar dst nya. Dan sebelum tidur, kita sholat Isya, sekaligus memohon ampun apa yang telah kita lakukan hari ini&#8230;..kemudian pasrah dan tidur&#8230;..lupakan apa yang telah terjadi&#8230;maka kita akan bahagia.&#8221;</p>
<p>b. Bersyukur atas apa yang telah kita peroleh</p>
<p>Kata &#8220;syukur&#8221; adalah kata yang sangat mujarab. Karena dengan mensyukuri apa yang telah kita peroleh, kita bisa menikmati pencapaian yang telah kita lalui, dan menambah semangat untuk mencapai yang lebih baik lagi. Dengan bersyukur, maka kita tidak juga terlalu menggebu-nggebu menginginkan hal di luar kemampuan kita, hanya karena orang lain memperoleh pencapaian yang lebih dari kita.</p>
<p>Saya ingat waktu masih kecil, sering diajak ibu naik becak. Saat itu di kota kecil kami, kendaraan umum adalah becak dan andong. Orang yang mempunyai mobil bisa dihitung dengan jari tangan. Karena seringnya naik becak, saya hafal ongkos naik becak dari alun-alun ke rumah saya. Suatu ketika saya dan teman-teman ada acara di alun-alun dan pulangnya naik becak. Abang becak menawarkan dengan harga tinggi, dan setelah berputar-putar, tetapi tak mendapatkan harga yang lebih rendah, saya terpaksa naik becak yang menurut saya ongkosnya mahal tersebut. Sesampai di rumah saya mengeluh pada ibu. Apa jawaban ibu? &#8220;Nduk, jika kamu membayar lebih mahal, itu merupakan keuntungan bagi tukang becak, kita harus bersyukur bahwa kehidupan kita lebih baik dibanding mereka. Jika kamu membayar mahal, maka tukang becak mempunyai kelebihan uang yang dibawa pulang, dan bisa membelikan beras dan lauk pauk untuk anak isterinya. Berdoalah kita mendapat rejeki yang lebih baik, Nduk&#8221;</p>
<p>Begitulah ibu saya, jika saya membeli sayur terlalu mahal (dan ternyata memang saya tak bakat tawar menawar), ibu selalu mengatakan&#8230;.&#8221;Nggak apa-apa, daripada menanam sendiri. Mudah-mudahan kita punya rejeki yang lebih baik besok, agar uang belanja cukup satu bulan&#8221;. Maklumlah dibesarkan dari ayah ibu seorang guru, maka kehidupan saya masa kecil sangatlah sederhana, tetapi ibu mengajari kami selalu bersyukur, dan jangan selalu memandang ke atas.</p>
<p>c. Harus mempunyai tujuan hidup</p>
<p>Kita tentunya mempunyai tujuan hidup, walaupun kemungkinan tujuan hidup kita berubah-ubah sesuai perkembangan umur. Saat kecil, mungkin kita ingin menjadi dokter, ingin punya rumah yang kebunnya luas. Atau ingin menjadi ibu guru Taman Kanak-kanak yang setiap hari bisa bergaul dengan anak kecil, mengajarkan menulis, menggambar dan menyanyi. Dengan semakin dewasa, tujuan hidup kita semakin mengerucut, apa yang ingin kita capai. Dengan tujuan hidup yang semakin mengerucut, segala kemampuan, energi, doa-doa, mimpi adalah ditujukan kepada keinginan yang akan diraih tersebut. Percayakah anda bahwa mimpi yang terus diulang, usaha yang diarahkan ke satu tujuan, merupakan energi yang membuat kita kuat, membuat tak kenal lelah untuk mencapai tujuan tersebut?</p>
<p>Saya ingat, saat remaja dan waktu masih kuliah, saya  sering sekali merasa pusing dan <em>migrain</em>. Begitu mulai memasuki dunia kerja, pulang kerja rasanya capai sekali. Saat itu terbayang, bagaimana ya nanti kalau menikah dan punya anak, kuatkah saya? Ternyata tambahan beban kewajiban, kebahagiaan mempunyai anak, membuat energi kita terasa tak ada habis-habisnya. Sepulang kantor, masih bisa momong anak, menyuapi, mendongeng, bahkan mempersiapkan kebutuhan untuk esok hari. Selama anak-anak balita, nyaris waktu tidur saya hanya 3-4 jam per hari, kecuali hari libur. Padahal, kalau ingat masa remaja, hal ini pasti tak terbayangkan. Bahkan di suatu pertemuan alumni, teman sekamar saya terheran-heran, kok saya bisa berubah sedemikian rupa. Tentu dia masih membayangkan saya yang gampang sakit, migrain, dan sering merasa kelelahan.</p>
<p>Siapa yang berperan merubah diri kita? Tentu lingkungan terdekat. Suami saya selalu memompakan semangat, bahwa &#8230;kamu pasti bisa&#8230;Entahlah ternyata memang bisa. Bahkan setelah anak-anak besar, mereka sering ikut mendorong ibunya, demikian pula sebaliknya, sehingga kami saling menguatkan.</p>
<p>d. Mempunyai keberanian untuk menjalankan sesuatu</p>
<p>Banyak orang yang seharusnya bisa berbuat lebih baik, tetapi tak berani mengambil keputusan. Bagaimanapun tak mengambil keputusan adalah suatu keputusan (keputusan untuk tak melakukan apa-apa), serta menanggung risiko untuk itu. Jadi, mengapa kita tak berani menjalankan sesuatu? Kadangkala kita harus mengambil keputusan yang sulit, seperti:merekrut orang, mempromosikan atau bahkan memecat. Kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita terpaksa memperhentikan sopir yang telah bertahun-tahun melayani kita, karena kita akan menjalankan pensiun. Betapapun beratnya, keputusan tetap harus diambil. Atau harus berani memecat pegawai, karena pelanggaran yang telah dilakukan. Hal ini memang sering menghantui pikiran, karena orang tersebut bisa melawan, dan berbalik menyerang kita secara pribadi. Namun, jika kita seorang pimpinan maka kita harus berani melakukan keputusan tersebut.</p>
<p>Juga apabila anak kita melakukan kesalahan, bagaimana cara menghukum secara mendidik? Membiarkan anak berbuat kesalahan, berarti menghancurkan perkembangan anak, karena pada dasarnya anak belum tentu tahu bahwa apa yang dilakukan adalah salah.</p>
<p>Orang yang melakukan keputusan secara efektif, adalah yang pandai menggabungkan energi dan keberanian untuk melakukan sesuatu, kedalam suatu tindakan dan menghasilkan sesuatu yang produktif. Namun tanpa hasil yang terukur, maka hasilnya tak terlalu berarti. Oleh karena itu energi yang ada harus disalurkan ke arah yang positif, dapat diukur, dan mencapai suatu tujuan, yang diarahkan agar berguna untuk memperbaiki kualitas hidup.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/163/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/163/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=163&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2007/08/16/bagaimana-agar-tak-kehabisan-energi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meniti tangga karir</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2007/02/25/meniti-tangga-karir/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2007/02/25/meniti-tangga-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Feb 2007 03:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/2007/02/25/meniti-tangga-karir/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang bertanya, pekerjaan apa yang cocok untuk saya? Mencari pekerjaan yang cocok sama seperti mencari jodoh, dan kita sering tidak tahu apa sebetulnya yang menjadi kekuatan dan kemampuan kita. Pada kondisi sekarang ini, kita bisa mengikuti tes psikologi, untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan kita, setelah itu baru kita mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=66&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Banyak orang bertanya, pekerjaan apa yang cocok untuk saya? Mencari pekerjaan yang cocok sama seperti mencari jodoh, dan kita sering tidak tahu apa sebetulnya yang menjadi kekuatan dan kemampuan kita. Pada kondisi sekarang ini, kita bisa mengikuti tes psikologi, untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan kita, setelah itu baru kita mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat kita.</p>
<p>Setelah kita mendapatkan pekerjaan, bagaimana agar kita bisa meniti tangga karir sampai ke puncak? Di bawah ini saya kutipkan tulisan, yang dimuat di harian Kompas tgl. 25 Februari 2007, hal 37.</p>
<p><span id="more-66"></span>Langkah-langkah yang dapat membantu melancarkan strategi mencapai puncak karir, sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mengenal diri sendiri dengan mencari tahu kekuatan dan kelemahan. Dari sini akan diketahui bidang-bidang pekerjaan mana saja yang pas untuk digeluti sehingga kompetensi yang dimiliki bisa ditunjukkan secara optimal.</li>
<li>Buat semacam target atau pencapaian-pencapaian yang hendak diraih dalam karir, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Cobalah untuk selalu menanamkan motivasi serta semangat untuk mencapai target tersebut.</li>
<li>Membuka dan menjaga hubungan dengan rekan kerja, menjadi langkah lain yang membantu seseorang mengenal diri dan lingkungannya. Langkah ini juga akan membuat sikap dan kemampuan seseorang dikenal secara luas dan otomatis membuka peluang yang lebih besar bagi peningkatan karir.</li>
<li>Manfaatkan waktu luang untuk  belajar mengenai banyak hal. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca, <em>browsing</em> di internet, atau belajar keahlian dari rekan-rekan kerja, misalkan keahlian komputer. Perkembangan yang terjadi disekitar pun tak boleh luput dari perhatian, apalagi kalau itu menyangkut keahlian dan pekerjaan yang dimiliki.</li>
<li>Terakhir, beranikan diri untuk mengambil tantangan yang datang. Ini adalah ajang yang sesungguhnya untuk menguji sampai sejauh mana kemampuan dan keahlian yang dimiliki.</li>
</ol>
<p>Dari pengalaman saya dalam meniti karir, ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan, bahwa adakalanya karir tak berjalan seperti garis lurus. Kadangkala berhenti, kadang menurun, kemudian naik kembali. Dengan demikian kita juga harus selalu berpikir jernih, bahwa manusia hanya berusaha, namun di ujung usaha ada nasib yang sangat menentukan. Dengan demikian, kemandegan karir tak membuat kita stres atau bahkan menurunkan motivasi. Bahkan disinilah kita diuji, untuk tetap bekerja keras, karena kita masih memperoleh gaji dari perusahaan, selayaknya kita bekerja keras sesuai dengan target yang ditentukan. Apabila kita bekerja keras, maka atasan dan rekan-rekan sekerja lain akan mempunyai pandangan yang sama, bahwa kita memang layak untuk mendapatkan kenaikan jabatan tersebut.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti:</p>
<p>a) Apabila kita mendapatkan kenaikan pangkat/jabatan, orang disekeliling kita (baik <em>peers</em>, <em>subordinates</em>, atasan) sebaiknya mempunyai pandangan yang sama bahwa kita memang layak mendapatkan kenaikan tersebut. Dengan demikian maka kita akan mendapatkan dukungan dari teman-teman, bawahan, serta atasan.</p>
<p>b) Jagalah agar kita loyal pada perusahaan/organisasi, serta tidak hanya loyal pada atasan. Banyak dari orang-orang yang karirnya berhenti atau mengalami kemunduran, setelah penggantian atasan, disebabkan adanya stigma bahwa &#8221; dia meningkat karirnya karena didukung oleh atasan tertentu&#8221; . Apabila hubungan kita dengan atasan baik, orang-orang disekitar kita akan melihat bahwa hubungan baik tersebut atas dasar hubungan pekerjaan, dan kita bekerja secara profesional.</p>
<p>c) Mempunyai akses dengan orang lain, baik dilingkungan kerja atau lingkungan luar yang berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari sangat menentukan untuk membuat kita banyak belajar atau mengasah kemampuan. Dan pada akhirnya justru orang-orang tersebut yang secara tidak langsung akan merekomendasikan kita kepada atasan, bahwa kita mempunyai kompetensi untuk memegang jabatan tertentu.</p>
<p>d) Berani menghadapi tantangan. Bersyukurlah jika kita mempunyai atasan yang berani menempatkan kita pada jabatan baru dengan tantangan lebih berat. Jangan ragu untuk bertanya, agar kita dapat segera menyesuaikan diri dengan tantangan yang ada.</p>
<p>e) Jangan hindari tantangan untuk jabatan yang risikonya tinggi . Karena risiko tinggi, jabatan tersebut akan mendapat sorotan terus menerus, baik dari atasan, bawahan maupun rekan sekerja. Memang melelahkan, tapi di satu sisi kemampuan kita teruji, dan kompetensi kita akan lebih terlihat, sehingga kalau kita berhasil dengan baik, jabatan yang lebih bagus akan menunggu kita.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/66/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/66/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=66&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2007/02/25/meniti-tangga-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menapak karir di dunia perbankan</title>
		<link>http://edratna.wordpress.com/2007/02/07/menapak-karir-di-dunia-perbankan/</link>
		<comments>http://edratna.wordpress.com/2007/02/07/menapak-karir-di-dunia-perbankan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 14:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edratna.wordpress.com/2007/02/07/menapak-karir-di-dunia-perbankan/</guid>
		<description><![CDATA[ 
&#160;
 
Akhir tahun 70 an
Saya bergabung dengan Bank pada akhir tahun 70 an, saat itu staf perbankan yang wanita masih sangat sedikit. Latar belakang pendidikan yang diutamakan adalah Sarjana Ekonomi dan Hukum, serta sebagian kecil Sarjana dengan latar belakang ilmu pertanian.
Sebagai pegawai baru, maka saya harus melalui pendidikan on the job training, yang dilakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=52&subd=edratna&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Akhir tahun 70 an</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya bergabung dengan Bank pada akhir tahun 70 an, saat itu staf perbankan yang wanita masih sangat sedikit. <span>Latar belakang pendidikan yang diutamakan adalah Sarjana Ekonomi dan Hukum, serta sebagian kecil Sarjana dengan latar belakang ilmu pertanian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span></span>Sebagai pegawai baru, maka saya harus melalui pendidikan <em>on the job training</em>, yang dilakukan di kantor2 cabang Bank. Pada saat pertama kali melapor ke Pemimpin Cabang di daerah Jawa Timur, hampir seluruh pegawai memandang saya dengan keingintahuan yang sangat tinggi, yang semula kurang saya perhatikan. Ternyata saya adalah wanita pertama yang melakukan <em>job training</em> di kantor cabang tersebut. Saya amati, saat itu pegawai wanita ditempatkan di bagian <em>teller</em> (<em>customer service</em>) dan bagian administrasi. Sebagai calon analis kredit, saya harus menilai kelayakan usaha dari pemohon pinjaman, meninjau usaha2 kreditur, melakukan pembinaan agar jika terjadi permasalahan bisa segera diatasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-52"></span><strong><span>Akhir tahun 1980</span></strong><br />
<span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Akhir tahun 1980, saya ditempatkan di Biro Kredit Kantor Pusat sebagai Analis Kredit. Disini saya banyak mempunyai teman dengan berbagai macam latar belakang S1, sehingga lebih mudah berinteraksi. Saat ini baru saya sadari bahwa perlakuan antara pegawai wanita dan pria berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saat saya pindah dari daerah ke Kantor Pusat, bagi pegawai pria akan mendapat lumpsum 10 hari kerja untuk pegawai langsung, 75% untuk isteri dan 50% untuk anak, serta mendapat biaya transportasi untuk satu pembantu. Sedangkan staf wanita hanya memperoleh lumpsum 5 hari kerja, berarti sama dengan anak sang pegawai pria yang tak ada kontribusinya bagi perusahaan. Kemudian kami mendiskusikan masalah tersebut, dan mempertanyakan hal tsb kepada Kepala Kepala Biro Personalia. Ternyata langkah kami mendapat sorotan, karena pada saat itu Kepala Biro Personalia sangat berkuasa dalam mutasi pegawai. Namun karena karyawati baru, belum berkeluarga, kami mengambil risiko itu, dan dapat diperkirakan diskusi tak berjalan mulus. Walaupun masalah ini berlarut-larut syukurlah kami para staf wanita akhirnya mendapat lumpsum yang sama dengan pegawai pria. Kami juga komitmen untuk menunjukkan bahwa kinerja staf wanita tidak berbeda dengan pria, apalagi pada saat ujian (saat pendidikan diakhiri dengan ujian) ternyata yang mendapat ranking 1 dan 2 adalah staf wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Deregulasi Perbankan;<span>  </span>1 Juni 1983</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada saat itu Bank-bank BUMN, yang pemegang sahamnya 100% dipegang pemerintah cq Departemen Keuangan, terdiri atas 8 (delapan) Bank, termasuk Bank Indonesia sebagai Bank Sentral. Bank-bank BUMN (di luar BI) tersebut adalah: Bank BNI 1946, Bank Bumi Daya, Bank Dagang negara, Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), Bank Ekspor Impor, Bank Rakyat Indonesia dan Bank Tabungan negara. Pada akhir tahun anggaran, Bank BUMN membuat rencana anggaran untuk satu tahun kedepan, kemudian mengajukan kepada Bank Indonesia berapa besarnya pagu kredit masing2 Bank yang diperlukan. Setiap penyaluran pinjaman maupun dana diatur oleh bank Indonesia, dengan bunga pinjaman yang fixed (Kredit Investasi 12% dan Kredit Eksploitasi 13,5%). Setiap Bank BUMN mempunyai segmen bisnis yang telah ditentukan, misalnya bank Bumi Daya bergerak disektor perkebunan besar, sedangkan BRI di sektor perkebunan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada saat Deregulasi perbankan diberlakukan, Bank2 BUMN yang terbiasa mendapatkan dana dari BI menjadi sementara melakukan <em>standfast</em>, dan kami berhari-hari melakukan <em>meeting</em> untuk membuat strategi yang terpaksa harus diubah dengan adanya peraturan baru tersebut. Pada saat itu saya telah menjadi asisten manager, dan bersama teman2 yang lain mengikuti <em>meeting</em> berhari-hari sampai malam, untuk segera menentukan langkah2 ke depan. Syukurlah, keadaan ini menyebabkan Direksi dan <em>General Manager</em> (Kepala Biro) melihat bahwa peranan staf wanita tidak beda dengan pria, dan kami bisa bekerja bersama-sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Waktu berlalu, perbaikan sedikit demi sedikit mulai terlihat. Pada saat itu masih terjadi perbedaan dalam biaya penggantian berobat jika sakit, pegawai pria dibiayai berikut isteri dan anaknya (tanpa batas) bila sakit. Sedangkan pegawai wanita hanya dibiayai jika yang sakit pegawai sendiri, sedang bila ingin suami dan anak dibiayai harus ada surat keterangan tidak mampu/tidak bekerja. Memang aneh, kalau pegawai wanita melahirkan, biaya melahirkan ditanggung, namun bayi<span>  </span>tidak ditanggung. </span><span>Namun apa boleh buat, para staf wanita masih sangat sedikit (tak ada 5% dari total pegawai pria), sehingga perlu waktu untuk membuktikan kinerja pegawai wanita. Syukurlah teman2 wanita banyak yang kinerjanya bagus, bahkan kami mau melakukan hal-hal yang bagi pria ”agak” dihindari, seperti: pekerjaan administrasi, melakukan pemantauan dan penagihan pada debitur yang membandel dsb nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kondisi ini akhirnya menjadi perhatian Direksi, kalau sebelumnya wanita yang menjadi Kepala Biro adalah untuk bidang di luar bisnis, yaitu: bidang Perencanaan, Dana, Hukum, maka beberapa dari angkatan kami dipercaya memangku jabatan sebagai asisten manager bidang Kredit, bidang yang sebelumnya dianggap wilayah kekuasaan laki-laki. Masih banyak yang mencemooh dan meragukan keberhasilan para pejabat wanita ini, tapi kami bekerja ekstra keras, dan selalu ingat pesan senior wanita kami yang sempat sampai jenjang Kepala Biro (General Manager), bahwa: wanita akan terlihat kinerjanya jika dia bekerja dua kali lipat hasil kinerja pria. Karena bila hanya sama, maka pimpinan cenderung akan memilih tenaga pria karena dianggap lebih<span>  </span>fleksibel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Pertengahan tahun 1985.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kondisi bisnis yang selalu berubah, membuat manajemen berpikir bahwa perlu memberikan kesempatan bagi para pimpinan dan calon pimpinan untuk melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri.<span>  </span>Kesempatan ini tak saya sia-siakan, dan betapa kecewanya saat saya dipanggil 3 (tiga) hari berturut2 hanya untuk dinasehati oleh pimpinan saya, bahwa walaupun saya bekerja tetapi fungsi saya tetap sebagai ibu, dan kebahagiaan rumah tangga adalah ditentukan oleh keberadaan seorang ibu disamping suami dan anak2nya. Syukurlah akhirnya pada pertengahan tahun 85 ada junior saya<span>  </span>yang dapat melanjutkan kuliah S2 keluar negeri dibiayai dinas, saat itu dia belum berkeluarga. Kesuksesan ini membuat teman2 wanita lain berjuang agar para wanita diberi kesempatan yang sama, dan sesudah itu baik pria maupun wanita diberi kesempatan melanjutkan keluar negeri sepanjang memang memenuhi syarat dan lulus test yang diadakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Tahun 1990 an</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Semakin banyak sarjana wanita yang bekerja di Perbankan, dengan jabatan yang bervariasi. Jenis tugas pun tidak ada perbedaan lagi, Wanita bisa menjabat sebagai manager kredit, manager dana, <em>treasury </em>dan Pemimpin Cabang. Yang masih terjadi perbedaan adalah perbedaan gaji, pegawai pria memperoleh tambahan tunjangan anak dan isteri, sedangkan wanita dianggap bujangan. Secara umum lingkungan lebih kondusif, semangat kerja semakin tinggi untuk membuktikan bahwa wanita juga bisa bekerja sebaik para pria. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kondisi Perbankan di Indonesia mengalami persaingan yang makin ketat, sebagai akibat Pakto (Paket peraturan bulan Oktober) 1988, yang mempermudah pendirian Bank-bank di Indonesia. Sektor properti makin tumbuh dan Bank mulai berlomba-lomba menyalurkannya. Akibat persaingan ketat, banyak terjadi bajak membajak tenaga Perbankan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada pertengahan tahun 1994, Direktur Bidang Korporasi memandang perlu membuat Desk Penyehatan Kredit Korporasi, karena saat itu telah terpikir bahwa bilamana perusahaan besar mengalami problem, masalahnya tak semudah melakukan perbaikan pada nasabah/ perusahaan kecil. Bidang ini bukannya bidang yang menarik, ibaratnya seperti orang mencuci piring, tapi bidang ini memerlukan perhatian serius karena kalau tidak segera ditangani akan berakibat <em>Non Performing Loan</em> (NPL) membengkak yang dapat mengurangi modal Bank. Desk Penyehatan Kredit Korporasi (atau disingkat Desk PKK) dikepalai oleh seorang wanita, bergelar MBA. Disini mulai dilakukan perbaikan-perbaikan, diawali dengan meneliti aspek legalnya, kemudian mempelajari barkas (file). Apabila kita telah mengetahui posisi masing-masing, baik dari aspek legal, aspek keuangan dll maka diakukan pertemuan. Pertemuan ini dilanjutkan dengan kunjungan kelokasi usaha. Para staf Desk PKK ibaratnya seorang dokter, harus bisa mendiagnosis secara tepat apa sebetulnya permasalahan yang dihadapi masing-masing perusahaan tersebut, kemudian dibuat <em>mapping</em> nya. Untuk mendapatkan diagnosa yang tepat, diperlukan kerjasama kedua belah pihak, debitur maupun kreditur. Apabila masalah sangat berat, dibuat tahapan-tahapan prosesnya, terutama untuk memperkuat aspek pemasaran agar usaha dapat berjalan yang nantinya akan bisa mendapatkan laba operasional. Kadang-kadang diperlukan perubahan manajemen perusahaan, dan digantikan dengan profesional, serta pemilik perusahaan hanya berfungsi sebagai komisaris. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Direktur utama bersama jajaran Direksi memandang bahwa ternyata wanita juga bisa bekerja sama baiknya dengan pria. </span><span>Saat ini beberapa teman wanita mulai menjadi Pimpinan Cabang, atau memimpin unit bisnis. Kemudian setelah diuji, beberapa teman bisa meningkat karirnya menjadi setingkat Deputy General Manager (ekselon 1). </span><span>Disadari, peningkatan karir juga meningkatkan besarnya tanggung jawab, yang berakibat pengelolaan rumah tangga harus ditata ulang, agar suami dan anak2 tetap mendapat perhatian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Krisis ekonomi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada pertengahan tahun 1997 terjadi krisis ekonomi, yang dipicu oleh tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah. Pada saat ini Kepala Desk PKK telah berganti ke 3 kalinya, dan ketiganya wanita. Entahlah apa yang menjadi pertimbangan Direksi perusahaan, mungkin wanita dianggap lebih telaten menghadapi nasabah bermasalah. Krisis ekonomi ini mengakibatkan banyak bank gulung tikar, menimbulkan efek pengangguran, serta situasi yang sangat berat. Pada tahun 1998 mulailah dibentuk Badan Penyehatan Perbankan Indonesia, yang berfungsi untuk menyehatkan perbankan Indonesia. Desk PKK bergabung dengan Unit penyelesaian kredit menengah yang lain, serta Ritel, dan kemudian dibentuk unit baru, Divisi Restrukturisasi Kredit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sebagai akibat krisis ekonomi, banyak Bank di Indonesia terpaksa mengalami likuidasi, beberapa di merger, serta yang masih mempunyai CAR (<em>Capital Adequacy Ratio</em>) minimal 4 (empat) ikut dalam program rekapitalisasi.<span>  </span>Bank BUMN<span>  </span>di luar Bank Indonesia yang semula 7 (tujuh) Bank, sebagian dimerger sehingga menjadi 4 (empat) Bank<span>  </span>dan harus lebih fokus pada bidangnya masing-masing. Bank BTN yang semula juga ikut membiayai perhotelan, <em>building</em>, harus kembali fokus ke sektor perumahan. Sedangkan Bank BRI harus fokus ke segmen kredit mikro, ritel dan menengah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pemerintah menunjuk IMF untuk ikut membantu memperbaiki ekonomi, termasuk di antaranya perbaikan sektor Perbankan. Masing-masing Bank peserta rekap harus membuat <em>Business Plan</em> untuk 5 (lima) tahun ke depan, yang di-<em>breakdown</em> dalam rencana tahunan, dan <em>milestone</em> harian. Setiap bulan tim IMF berkunjung ke Bank peserta rekap untuk memonitor apakah telah dilakukan perbaikan-perbaikan sesuai <em>milestones</em> dan apa kendala yang dihadapi. Disini tim IMF juga menekankan perlunya Bank-bank BUMN untuk mempersiapkan <em>go public</em>, karena dengan <em>go public</em> akan membuat Bank lebih transparan, serta prosedur lebih terawasi. Dengan <em>go public</em>, perusahaan harus menyerahkan laporan keuangan bulanan, kepada Kementrian BUMN dan Bapepam. Bank juga harus membuat acara <em>investor meeting</em> secara periodik, untuk menjelaskan strategi perusahaan, apa yang telah dilaksanakan, dan apa kendalanya. Di sini <em>investor</em> (yang memiliki saham Bank) juga akan menanyakan dengan kritis bila ada target yang tidak terpenuhi. Dengan kondisi ini, siapapun yang duduk dalam jajaran Direksi dan Senior Manager akan berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. Bank BNI mengawali <em>go public</em> pada tahun 1997.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Tahun 2000-an</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bank BNI telah <em>go public</em> dan Bank BUMN lainnya mulai mempersiapkan diri untuk menyusul. Dari pengalaman beberapa perusahaan yang melakukan <em>go public</em>, selain persiapan yang matang, <em>timing</em> juga merupakan hal yang perlu diperhatikan agar harga saham perdana bisa memuaskan bagi para <em>investor</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bank BUMN yang menyusul <em>go public</em> adalah Bank BRI pada bulan Nopember 2003, dengan harga saham perdana Rp.875,-. Pada saat mau <em>go public</em> telah diatur bahwa para karyawan mendapatkan ESOP <em>(Employee Stock Option</em> ) dan para manager mendapatkan MSOP (<em>Management Stock Option</em>), sehingga setiap karyawan sekaligus menjadi investor. Hal ini untuk memotivasi karyawan berkinerja baik, dan mendorong <span> </span>agar mempunyai rasa memiliki, sehingga berkeinginan mencapai target yang telah ditentukan. Dengan tercapainya target laba, serta target2 lainnya sesuai dengan rencana anggaran, <em>investor</em> mempunyai sentimen positif, yang membuat harga saham bergerak naik, yang membuat karyawan melepas sebagian saham miliknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa <em>go public</em> membuat ekonomi karyawan meningkat, yang berasal dari keuntungan hasil penjualan saham, dan membuat rata-rata karyawan memiliki rumah tinggal pada usia yang lebih muda dibanding sebelumnya. <em>Go public</em> juga membuat karyawan rajin membaca laporan keuangan, <em>sense of crisis</em> meningkat, yang pada gilirannya membuat kinerja perusahaan semakin baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kondisi perusahaan semakin baik, lingkungan semakin kondusif, membuat para karyawan, baik pria atau wanita bekerja bahu membahu untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Peraturan pemerintah dari Departemen Tenaga Kerja, meminta agar setiap perusahaan membentuk SP (Serikat Pekerja), yang akan bersama-sama dengan Manajemen memperbaiki taraf hidup para karyawan. Sejak ini maka istilah karyawan atau pegawai diubah menjadi pekerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada pergantian pimpinan SP yang ketiga kali, salah satu SP Bank BUMN dipimpin oleh seorang wanita. </span><span>Disini perjuangan dimulai untuk membuat wanita<span>  </span>dihargai sama dengan pria. Karena situasi telah kondusif, maka pada tahun 2003 Perjanjian Kerja bersama (PKB) antara Serikat Pekerja dan Manajemen Perusahaan ditandatangani. Dan pada awal tahun 2004, keluar peraturan bahwa<span>  </span>perbedaan jender dihapus, akibatnya gaji para pegawai wanita sama dengan gaji para pegawai pria termasuk fasilitas yang diberikan. Sejak saat ini, para pegawai wanita bisa mengajukan klaim pengobatan, dan biaya rumah sakit, jika ada anggota keluarga (suami dan anak) yang sakit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Perubahan peraturan tersebut menggembirakan, tapi di satu sisi juga tidak ada lagi perbedaan dalam menentukan target pekerjaan untuk wanita dan pria. Sebelumnya, Direksi akan berhati-hati dalam memindahkan para wanita, tapi sejak keluar peraturan yang menyamakan jender, para wanita bisa dipindahkan sewaktu-waktu kemanapun untuk kepentingan organisasi. Risiko ini yang harus diantisipasi oleh para wanita, karena sejak saat itu banyak suami isteri yang berbeda kota tempat tinggal untuk berkarir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dari pengalaman saya selama ini, perbedaan tempat tinggal tidak menjadi masalah asalkan ada komunikasi yang baik. Dari para jajaran wanita yang pernah menjadi Senior Manager (ekselon 1), rasanya tidak pernah mendengar bahwa anak-anaknya berantakan. Seorang ibu, akan selalu memantau dimanapun anaknya berada, apalagi dengan era komunikasi yang makin baik saat ini, hubungan anak2 dengan orang tua menjadi semakin mudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dari pemaparan di atas, saya akan mencoba merangkum hal-hal yang diperlukan bagi seorang wanita untuk berkarir di perbankan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Jangan pernah berhenti belajar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Belajar disini bisa diartikan secara formal ataupun secara informal. Secara formal bisa dilakukan melalui lembaga internal di Bank itu sendiri (pendidikan dinas terkait dengan jabatan), ataupun melanjutkan jenjang kuliah ke tingkat yang lebih tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Sedangkan secara informal, adalah bagaimana <span> </span>belajar mengerjakan pekerjaan sehari-hari, dan bagaimana memperbaiki kelemahan sistem (bila ada), dan belajar dari orang sekitar agar hasil kinerja kita lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Buat lingkungan yang mendukung</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Keberhasilan<span>  </span>karir seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung, dan apabila lingkungan belum mendukung, kita harus mencoba memperbaiki sehingga kita akan betah dilingkungan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Lingkaran terdalam<span>  </span>(a) adalah kondisi lingkungan rumah tangga. Keberhasilan seseorang dalam berkarir harus didukung oleh kebahagiaan dalam rumah tangga. Agar seorang wanita bisa berkarir dengan tenang, dia perlu mendelegasikan sebagian tugas-tugas dalam rumah tangganya kepada seorang asisten (pembantu), seperti: tugas memasak, membersihkan rumah, mengasuh anak pada saat jam kerja. Disini juga diperlukan manajemen waktu yang baik, serta dukungan suami yang kuat, agar penyelenggaraan rumah tangga dapat berjalan lancar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Lingkaran luar (b) adalah lingkungan kerja. Jika kehidupan dalam rumah tangga bisa tertata dengan baik, pada saat jam kantor, wanita dapat memusatkan tenaga dan pikirannya untuk bekerja keras, mencapai target perusahaan. Kadang-kadang diperlukan untuk bekerja/tugas dinas keluar kota, apabila hal ini telah dipersiapkan dengan baik, serta kondisi lingkungan rumah tangga telah tertata, maka tidak ada hambatan lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Apabila kita telah menjadi seorang manager, maka perlu memperhatikan kondisi lingkungan kerja yang merupakan tanggung jawab kita. Kita harus dapat membuat agar karyawan yang bekerja pada unit kerja di bawah kita merasa nyaman, merasa dihargai, merasa diperhatikan. Dengan kondisi anak buah yang merasa bahagia, maka mereka akan bekerja dengan sepenuh hati, dan membantu kita dalam mencapai target yang ditentukan perusahaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Lingkaran terluar (c) adalah lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi jalannya perusahaan. Hal ini juga harus dipelajari, dipantau karena lingkungan bisnis sangat cepat berubah. </span><span>Apabila perusahaan tidak bisa mengikuti perubahan lingkungan bisnis, maka perusahaan tidak dapat bertahan hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Selalu berpikir positif dan bersyukur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Berpikir positif akan membuat kita mengeluarkan energi yang positif pula, yang akan mendorong orang disekitar kita untuk berbuat baik. Dengan berpikir positif, kita akan jernih melihat kemampuan/kompetensi rekan2, dan anak buah di bawah kita, yang dapat dipergunakan untuk menjalin kerjasama secara efektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Bersyukur akan membuat kita rendah hati, karena kita menyadari bahwa keberhasilan <span> </span>kita adalah karena atas dukungan orang-orang disekitar kita.<span>  </span></span><span>Dengan rendah hati, dan bersifat transparan, membuat orang disekitar kita merasa nyaman, serta terhindar dari fitnah. Bersyukur kepada sang Pencipta juga akan membuat kita selalu sadar diri, dan akan selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa bekerja adalah ibadah, serta jabatan adalah amanah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Hati-hati dalam membuat kebijakan</span></strong><strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Dalam bidang pekerjaan apapun, kita akan membuat suatu kebijakan atau harus bertanggung jawab menentukan sebuah keputusan. Hati-hati dalam membuat kebijakan, karena kesalahan akibat kebijakan ini memerlukan perbaikan dalam jangka panjang. Dan karena kita bekerja pada Perbankan, kesalahan dalam membuat kebijakan, akan berakibat pada uang, demikian pula halnya menentukan sebuah keputusan. Keputusan yang dibuat oleh seorang atasan, menyebabkan ada kemungkinan anak buah tidak berani menegur, walaupun keputusan ini salah. Dalam kondisi ini dapat mengakibatkan kerugian perusahaan, dan sesuai undang2 Perbankan kelalaian yang berakibat pada kerugian uang, dapat dikenakan unsur pidana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><em><span>Check</span></em></strong><strong><span> dan <em>re check</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Manusia adalah tempatnya lupa, dan selalu harus di test kejujurannya setiap saat. Bekerja di Perbankan, yang segala sesuatunya dapat berakibat kerugian pada uang, segala sesuatu harus dijalankan dengan teliti, hati-hati dan sesuai prosedur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Oleh karena itu dikenal istilah <em>maker</em>, <em>checker</em>, dan <em>signer</em>. Setiap keputusan yang membuat dikeluarkannya peraturan, dan uang, minimal harus melibatkan 3 (tiga) orang secara terpisah, yang selalu harus <em>check</em> dan <em>re check</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Bekerja ekstra keras</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Sebagai pekerja wanita, kita harus bekerja ekstra keras, bahkan diusahakan dua kali lipat pekerja pria, baru akan terlihat. Pada era sekarang ini, pimpinan masih cenderung memilih pria untuk menjabat sebuah pimpinan, kecuali wanita menunjukkan kelebihan yang dua kali lipat melebihi calon lainnya. Apabila hanya mempunyai kualitas yang sama dengan pekerja pria, maka pimpinan cenderung memilih pria karena dianggap lebih fleksibel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>7.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><strong><span>Kenali dan pahami bidang tugas yang sedang diemban</span></strong><span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Masing-masing bidang tugas mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, sehingga setiap kali kita harus mempelajari dengan benar, dimana titik kritisnya, serta apakah ilmu yang kita miliki telah mampu menjabat bidang tugas baru tersebut. Jangan pernah malu bertanya, terutama kepada senior yang akan kita gantikan, karena pendapat mereka akan menolong kita dalam memetakan bidang tugas baru tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span>Setiap menjabat bidang baru, kita harus membuat <em>mapping</em>, terutama dari sisi SDM karena sebaik apapun sistem dan prosedur yang telah ada, kebocoran dapat terjadi karena adanya orang dalam yang berperilaku kurang baik. Kenali orang-orang yang akan melakukan tugas tersebut, kemampuan/kompetensi nya, jenis tugasnya, dan risiko-risikonya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edratna.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edratna.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edratna.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edratna.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edratna.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edratna.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edratna.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edratna.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edratna.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edratna.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edratna.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edratna.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edratna.wordpress.com&blog=507041&post=52&subd=edratna&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edratna.wordpress.com/2007/02/07/menapak-karir-di-dunia-perbankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9ef606da24840e5f03d866c2c98e31d2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">edratna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>